Mengapa hingga saat ini orang-orang terus menulis dan mempelajari sejarah? Padahal, selama ini sejarah tidak pernah dianggap sesuatu yang sophisticated, tidak lebih bergengsi dibandingkan bidang ilmu lain. Pun, buku-buku sejarah bukanlah genre yang diminati luas yang kemudian menjadi bestseller seperti novel, misalnya. Jawabannya, karena mempelajari sejarah itu penting.
Dua per tiga isi Al-Qur`an bercerita tentang masa lalu. Kalau tidak begitu penting, mana mungkin kitab suci berisi kisah-kisah yang amat banyak? Masa depan kita akan menjadi lebih baik bila kita sanggup mengambil pelajaran kebajikan dan kebijaksanaan dari masa lalu. Tanpa sejarah, kita akan kesulitan mengkhayalkan (baca: merumuskan) masa depan. Inilah yang diajarkan Al-Qur`an, Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, hendaklah seseorang melihat apa yang telah berlalu untuk (merencanakan) hari esok. (Q.s. al-Hasyr [59]: 18). Simak penegasan Al-Qur`an seusai bercerita, Mereka itu umat-umat (terdahulu) yang sudah lewat. Bagi mereka apa yang telah mereka perbuat dan bagi kalian apa yang telah kalian perbuat. Kalian tidak akan ditanya tentang apa yang telah mereka lakukan. (Q.s. al-Baqarah [2]: 141).
Buku ini adalah sebentuk ikhtiar penulis dalam menyampaikan urgensi sejarah tersebut, sebagai upaya mengeja (kembali) Indonesia. Di dalamnya terbagi menjadi lima bagian; sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, sejarah dan peran pesantren, sejarah gerakan dakwah di Indonesia, sejarah tokoh umat yang sekaligus tokoh bangsa, hingga strategi islamisasi penulisan dan pengajaran sejarah.
Selamat menikmati lembar demi lembar sajian sejarah dari Dr. Tiar Anwar Bachtiar, sejarawan muda yang concern dalam penulisan sejarah Islam di Indonesia.
Menyelesaikan pendidikan SD tahun 1991. Lalu menjadi santri di Persantren Persatuan Islam 19 Bentar Garut hingga lulus tahun 1997. Setelah itu ia diterima di Jurusan Sejarah Universitas Padjajaran hingga selesai tahun 2002. Melanjutkan program pascasarjana di Universitas Indonesia dan saat ini merupakan kandidat doktor di bidang dan Universitas yang sama.
Suami dari Reni Kurniasih ini semasa mahasiswa, pernah menjadi Pemimpin Redaksi Jurnal Mahasiswa Pyramid (1999-2000), Direktur Konsorium Jatinangor Peduli (2000-2002), dan Ketua Umum HMI Cabang Jatinangor (2002-2003). Kini Selain mengajar di pesantren almamaternya dan mengelola STAI Persis Garut, tercatat juga sebagai Ketua I PP. Pemuda Persatuan Islam sejak Muktamar di Jakarta tahun 2005 dan Penasihat Forum Lingkar Pena Cabang Garut.
Berbagai tulisannya tersebar di berbagai media massa nasional maupun lokal seperti Kompas, Republika, Hikmah, Risalah, Al-Muslimun, Pikiran Rakyat dan yang lainnya. Di samping itu, ayah satu putri ini juga menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab. Di antara buku yang sudah diterjemahkannya antara lain: Qaradhawi Bicara Soal Wanita (2003), Menaklukkan 7 Penyakit Jiwa (2004), Tafsir Surat Al-Fatihah (2003), Jalan Kebahagiaan (2006), dll. Selain menulis juga menyunting banyak buku. Buku yang pernah ditulis adalah Pergulatan Pemikiran Kaum Muda Persis (2005), Hamas Kenapa Dibenci Amerika?, yang kemudian direvisi menjadi Hamas Kenapa Dibenci Israel? (2009) dll.
Buku dengan penulis seorang doktor sejarah, Tiar Anwar Bachtiar, selalu membuat saya haus untuk menyelesaikannya. Penyampaian sejarah yang adil dengan menghadirkan berbagai sumber serta pandangan sejarah membuat saya memahami tidak sekedar peristiwa masa lalu namun juga dinamika penulisan sejarah. Untuk saya sebagai awam dengan bacaan mengenai sejarah yang minim sangat terbantu dengan buku ini yang ramah bahasa, dalam artian penulis berusaha menyampaikan penelitaan-penelitannya mengenai sejarah dengan sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat umum tanpa menghilangkan unsur ilmiah dalam penulisannya. Dalam buku dengan judul dan cover yang sangat selaras ini membicarakan beberapa pembahasan mengenai kontribusi Islam dalam sejarah Indonesia. Didalamnya terbagi beberapa bagian: Bagian pertama "Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia," bagian kedua: "Pesantren, Warisan Islam Nusantara," bagian ketiga: "Gerakan Dakwah Islam Di Indonesia," bagian keempat: "Tokoh Umat Tokoh Bangsa," dan bagian kelima: "Islamisasi Penulisan dan Pengajaran Sejarah Di Indonesia."
Diantara kelima bagian tersebut yang cukup membuat saya tertarik adalah pada bagian Gerakan Dakwah Islam Di Indonesia. Pada bagian ini ada sub bagian yang memaparkan mengenai kaitan wahabi dengan gerakan modern Islam Indonesia. Dalam paparan penulis, istilah wahabi sering disamarkan dengan gerakan Abdul Wahab bin Rustum yang seorang khowarij. Hal tersebut sebagai usaha yang dilakukan Barat untuk menyamarkannya dengan gerakan Muhammad bin Abdul Wahab yang merupakan ulama pemberantas praktik takhayul dan khurafat. Akibat kebencian dan ketakutan barat terhadap gerakan wahabi inilah yang pada akhirnya memunculkan stigma negatif terhadap istilah wahabi. Mengenai keterkaitan wahabi dengan gerakan Islam modern di Indonesia seperti Muhammadiyah dan PERSIS pada asalnya tidak secara langsung terpengaruh dengan Muhammad bin Abdul Wahab. Tetapi lebih banyak dipengarung oleh pemikiran Muhammad Abduh dan muridnya, Rasyid Ridho, melalui majalah Al-Manar yang dijadikan rujukan oleh kedua gerakan ini. Diantara Muhammad bin Abdul Wahhab pada abad ke18 dengan Muhammad Abduh serta Rasyid Ridho pada Abd ke 20, ketiganya memiliki kesamaan dalan semangat kembali pada tauhid. Walaupun begitu terdapat juga perbedaan yang sangat signifikan. Mengenai perkembangan dan keterkaitan pemikiran tiga tokoh ini dapat ditemukan secara singkat pada buku ini. Selanjutnya dalam bagiaan ini dipaparkan pula akar gerakan dakwah kampus yang menjadi program Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (gerakan yang didirikan oleh mantan aktivis-aktivis Masyumi setelah partai tersebut dibubarkan oleh pemerintahan orde lama). Keinginan DDII yang ingin melakukan kaderisasi dakwah melalui intelektual mahasiswa sehingga dakwah Islam dapat menyasar seluruh bidang. Dan perlu juga diketahui, bahwa dalam usaha ini, DDII juga mengirim kader-kadaernya untuk belajar di Timur Tengah, yang nantinya dari alumni-alumni Timur Tengah dan aktivis dakwah kampus bersinergi membentuk gerakan tarbiyyah.
Dan masih banyak lagi bahasan menarik yang dapat kita pelajari dari buku ini untuk mengingatkan kita kembali pada usaha-usaha pejuang Islam dam membentuk tanah air Indonesia yang selama ini berusaha dihilangkan dalam penulisan-penulisan sejarah Indonesia.