Waraney Herald Rawung Ada Propaganda Cinta yang Harus Selesai Sore Ini Kepustakaan Populer Gramedia 104 pages 7.0
Ada Propaganda Cinta yang Harus Selesai Sore Ini is a poetry collection for horny middle-class Jakarta Selatan dudes who wear something from bobobobo.com and hang out in Senopati that, in theory, should not resonate with me, but Waraney Herald Rawung's bold choice of words and vulgarity make me ponder, after all, if I have transformed to a horny Jakarta Selatan dude.
Membaca antologi puisi Ada Propaganda Cinta yang Harus Selesai Sore Ini yang ditulis oleh Waraney, apalagi yang berbahasa Indonesia, mengingatkan saya pada bentuk-bentuk puisi kontemporer yang dua pekan lalu dijelaskan oleh dosen saya.
Bahasa yang digunakan ceplas-ceplos, satir, bentuk puisinya bebas dan tidak terikat aturan konvensional. Di beberapa puisi, gairahnya terasa berani, menggebu-gebu, namun di akhirnya seperti dijatuhkan begitu saja. Seketika saya merasa kosong.
Puisi-puisi di dalamnya menggunakan dwibahasa, English dan bahasa Indonesia. Untuk puisi yang berbahasa Inggris, saya kurang menangkap rasa dan imaji yang coba digambarkan penulis, jadi saya tidak bisa berkomentar banyak.
Obviously, Ada Propaganda Cinta yang Harus Selesai Sore Ini is not my cup of tea. It reads like something written by those posh-y "anak Jaksel" whose hang out places included but not limited to aksara Kemang, if you know what I mean.
You may ask, "What makes you think like that?" Well, my reason is there, printed on the pages of this poetry book, by mixing English and Bahasa Indonesia in some of his poems.
Also, I can't help myself laughing at the poem: "change your belongings and step carefully, thank you". I am not sure whether this is intentional or a pure innocent mistake. If you ride TransJakarta bus quite often, you'd notice the electronic voice didn't say "change". I mean, even the sentence, "Change your belongings", doesn't make sense at all.
Sorry, Waraney Herald Rawung. This is not something I would recommend to my friends.
Waraney Rawung’s Ada Propaganda Cinta Yang Harus Selesai Sore Ini captures the essence of life at the everchanging jungle of concrete and modern-day dragged daydreams, and the materialistic weekend escapism that entails. How so very kemehe of him (as am I, he he).
The poetry collection is divided into three parts: propaganda, jarak, and karena — with each part subtly growing more reflective than the last one, and finally reaching a crescendo on the last piece of the book: karena. A classic tale of being alone in the city, and navigating the fleeting feelings and memories that builds one’s universe.
Granted, not every proses and phrases in the book makes sense. But then again, does it have to?
Kali pertama baca karya Waraney, saya harus bilang 'maaf, saya kurang suka buku ini'. Puisi di dalamnya separuh berbahasa Indonesia, separuh bahasa Inggris dan malah ada yang dicampur Indonesia-Inggris di satu judul, buat saya ini kayak bahasa anak milenials saja ketimbang penyair.
Saya kurang bisa memahami apa yang mau disampaikan penulis lewat puisi-puisi dalam buku ini, sungguh random. Belum lagi ada kata makian yang kurang pas aja gitu untuk puisi dalam bahasa Indonesia. Tapi ya, itu kan suka-sukanya penulis ya mau gimana. Intinya saya kurang bisa menikmati aja puisi dalam buku ini.
Terlalu banyak diksi yang terkesan 'dijejalkan' Puisi-puisi Paris namun masih menyenangkan untuk dinikmati. Bagi saya, Paris adalah karya-karya Bung Waraney yang terasa 'jujur' Bagi saya.
Memang lebih baik selesai sore ini saja soalnya isinya kayak orang yang gagal mengendalikan berahi.
Tentu, banyak penyair yang berhasil mengangkat erotisme menjadi sajian utama yang indah atau kadang hanya sekadar menjadi latar untuk pikiran-pikiran gusar, tapi Waraney cuma mentok di bagian joroknya saja.
Hasrat-hasrat Waraney, setidaknya di sepanjang bagian pertama, ditujukan kepada orang asing, sehingga rasanya lebih pantas ditahan saja di dalam kepala, alih-alih dituangkan sebagai puisi.
Sensasi tidak nyaman tersebut akhirnya terus menjadi hantu bagi bagian kedua dan ketiga yang sebenarnya punya muatan lebih pantas (romantisme, mundanisme (?)), walaupun tidak bagus-bagus amat juga.
Meskipun akhirnya pada bagian kedua dan ketiga cara pandang Waraney terus beranjak semakin dewasa, agaknya kedewasaan itu tidak turut dihadirkan saat memilih untuk memuat puisi-puisi di bagian pertama buku ini.
Buku ini seperti menceritakan kehidupan penulis yang dibagi menjadi tiga fase: propaganda, jarak, dan karena.
"Propaganda" membawa kita pada masa muda penulis yang mungkin akan terkesan wild bagi sebagian orang, tapi sebenarnya masih terkekang oleh hingar bingar kota Jakarta. Selanjutnya terpaksa harus mulai lebih dewasa pada "jarak".
Kemudian lewat "karena" sebagai bagian terakhir pada awalnya kita diajak jalan-jalan ke Paris hingga ke Gili Trawangan. Tapi setelah kembali ke Jakarta penulis mengajak kita melihat ibu kota, orang-orangnya, dan juga diri sendiri dengan sudut pandang baru.
1. Sepertinya saya bukan target bacanya 2. Sulit untuk mengerti maksud penulis disetiap puisinya karna topik yang dimunculkan acap kali ‘random’ dan tidak mengalir, tapi lagi-lagi itu hak penulis. 3. Setidaknya ada satu bait yang saya ‘oke’ if we could live forever would we be so obsessed with legacies and eternal glory? - paris day three 4. Bait dalam buku ini yang menggambarkan saya saat membaca buku ini: kau tahu tak satu pun judul itu akan kau baca tak sebaris kalimat pun akan menempel di kepala tak ada gunanya - karena
This entire review has been hidden because of spoilers.
After a long thought, although I didn't really understand the whole book itself, I found myself really enjoying the last part of the book; karena. The book doesn't really resonate with me as a whole, but 'karena' part really spoke to me somehow.
I do agree that this book is not everyone's cup of tea, but then again, that's just how books are.
Judul bukunya sih keren. Tapi maaf, kurang tertarik sama isinya. Puisi kelas menengah atas, anak jaksel banget pastinya. Campur2 bahasa Inggris dan Indonesia. Dan ga ngikutin aturan bersajak pada umumnya. Tapi penyair biasanya memang bebas berekspresi, termasuk mendobrak pakem.
had this book since May, promised myself to read it each page a day as an effort to completely savour each poem so i can appreciate it fully but ended up re-reading the first 10 pages and finishing it in one sitting this afternoon hugged by the warm breeze of August. whether it's a good thing or not, it's safe to say that i enjoy what i read (assuming from the few passages i managed to re-write in my little notebook). might not be everyone's cup of tea, but definitely included in the range of mine.
reading from one page to another feels like growing older with the author, the exhaustion of the left-out youthful spirit blanketed by vulgarity leads to confrontation towards reality most of us the grown-up mundanes feels, the author guides us through time whilst trying to take charge in the itty bitty of part of city life by the name-droppings of figures and places. i wouldn't claim that i relate to most parts of the book, but it succeeded to fly me off to the feelings the author tries to convey and for me for now, it's good enough.
"Ada Propaganda Cinta yang Harus Selesai Sore Ini" karya Waraney Herald Rawung mengisahkan tentang kisah cinta yang rumit dan penuh konflik. Meskipun ceritanya cukup menarik dan mampu membuat pembaca penasaran dengan alur yang dihadirkan, namun beberapa karakter dalam novel ini terasa kurang tergarap dengan baik.
Beberapa adegan juga terkesan klise dan terlalu dramatis, membuat keseluruhan cerita terasa kurang terkoneksi dengan baik. Meski begitu, karya Waraney Herald Rawung ini tetap layak dibaca bagi mereka yang mencari kisah cinta yang tidak biasa. Dalam keseluruhan, saya memberi rating 3 bintang untuk novel ini.