Sebenarnya kapan kiamat akan tiba? Tak ada yang benar-benar tahu, tetapi menghabiskan waktu takut akan kedatangannya merupakan kekonyolan absolut. Songsong saja, bung, sembari berpesta!
Tak perlu ada momen spesial sebagai latar belakang. Hidupmu yang medioker—selalu selamat dari belokan palsu ke jalan buntu, walaupun sering gagal putar balik di cinta satu arah—sah-sah saja untuk dirayakan, sebab masih bernapas saja mungkin sudah istimewa bagimu.
Tak kudu ada dentum menggelegar sebagai syarat. Sekumpulan sajak modern, puisi membingungkan, dan diksi sembrono pun sah-sah saja disebut pesta, sebab tiap kepala punya jenis keriuhannya sendiri.
Menyelesaikan baca seri yang disebut seri pujangga, tapi kenapa ya kayaknya gak pas aja puisi dalam seri ini buat saya.
Puisi dalam buku ini beberapa masih bisa saya nikmati, tapi lebih banyak gak ngerti apa yang sebenarnya mau disampaikan penulisnya. Apalagi ditulis dengan gaya kekinian, memasukkan kata-kata yang memang zaman ini, contohnya ada macam-macam marketplace masuk dalam puisi. Ya gak apa sih, tapi kok gak pas gitu ya.
Bisa dibilang karya eksperimental yang paling mengesankan di antara pujangga series Comma Books. Bacanya berasa ikutan pesta di bawah gemerlap lampu dan ingar-bingar musik. Ngefly daa baca ini. Tapi kalau lu nyari puisi yang normal, yang sastra banget kayak Sapardi, Joko Pinurbo, Calzoum Bachri, ya, saya sih kurang menyarankan Anda baca buku ini. Kecuali jika Anda ingin ikut menikmati seiprit keriaan sebelum kiamat.
Maaf bintangnya ga ful, karena tetap saja ini bukan puisi yang sesuai seleraku. Tapi saya applause karena bisa memberikan sensasi baca yang berbeda.
Membaca edo wallad seperti melihat pemuda yang kelelahan menghadapi kehidupan kota dengan pekerjaan yang tidak memuaskan: yang kadang sesuai passion kadang tidak, kadang ada bonus kadang disuruh lembur tanpa bayaran. Dan uniknya di tengah kelelahan-kelelahan itu ada puisi gadog yang jadi semacam oase menenangkan. Bahwa sesekali bolos dari rutinitas dan tuntutan pekerjaan sambil melihat (mengobservasi) orang-orang sekitar bisa jadi secercah inspirasi, untuk (sekali lagi mencoba) menorobos belantara petualangan mencari nafkah yang kita kadang merasa gamang ini untuk apa dan sampai kapan.
Tidak ada pesta dalam buku ini. Yang ada hanyalah ketakutan-ketakutan akan kehilangan dan kematian, malam-malam yang hampa dan kebahagiaan yang dikumpulkan dari remah-remah serpihan rengginang. Di dalam puisi-puisi yang melankolis ini, hidup dirayakan dari momen-momen kecil dan kenangan tentang orang-orang yang dicintai. Setelah baca bukunya, lalu coba kejar performance puisinya dijamin hacep.
Saya cenderung menyukai puisinya yang menggunakan materi-materi seperti hulk, epub, top collection, earphone, tas di depan dad, dsb. Terasa seperti bermain-main soalnya, semacam pembangkangan yang menyenangkan.
haruskah kita definisikan masalah syaraf yang tak lagi terhubung? sementara ada rasa terus menggedor minta dibesuk. esok hari kita akan tentukan titik kumpul. sembari kembali menghapus katakata yang tadinya mulai jelas. sementara ini hanya sebaris, mungkin lusa bisa jadi alinea, sebelum bertahun jadi cerita.