Caritanya menarik, tentang hilangnya 4 anak perempuan di sebuah desa kecil. Bila biasanya sebuah kasus akan dipecahkan oleh polisi atau detektif. Dalam novel ini justru kasus hilangnya 4 anak perempuan itu dapat terpecahkan karena kegabutan seorang cucu dan nenek. Meskipun agak kurang puas sama endingnya tapi akupun tak tahu harus mengharapkan ending yang seperti apa saat membaca kisah mereka. Sedih dan harunya terasa. Tapi ada bumbu komedi dari interaksi nenek dan cucunya.
Menggunakan sudut pandang orang pertama. Jadi kalimatnya cenderung blak-blakan dan apa adanya. Untuk ceritanya menarik dan membuat penasaran. Tapi sayang banyak sekali typo dalam buku ini. Seperti kata ‘diam’ yang di seluruh buku berubah menjadi ‘iam’ begitu juga di beberapa kata lain. Sangat kecewa dengan typo-nya. Apalagi kata sayang jadi akung kan jauh sekali 🤕
Hilangnya keempat anak pada hari yang sama adalah sebuah kebetulan, kemudian berkembang menjadi masalah yang rumit. Karena semua sibuk menutup-nutupi fakta, meninggalkan dugaan yang terkubur selama bertahun-tahun. Rahasia itu terus berpilin dan tumpang tindih seiring waktu.
Kasus atau rahasia besar itu pada akhirnya terpecahkan karena penemuan yang tidak disengaja karena sebuah peta buatan Mu Soon saat dia masih kecil. Kemudian Mu Soon dibantu beberapa orang untuk memecahkan kasus tersebut.
Dari aku sendiri rating 4/5. Karena beberapa typo yang bertebaran sampai halaman terakhir, cukup membuat distraksi ketika membacanya. Untuk ceritanya merupakan genre yang aku suka, jadi enjoy selama membaca. Terlebih beberapa interaksi dan percakapan antar karakter yang cukup membuat geli dan geleng-geleng kepala.
Selepas kematian kakeknya, Mu Soon seperti mendapatkan "titah" untuk menemani neneknya yang kini hidup sendirian di Desa Duwang-ri. Karena bangun kesiangan, Mu Soon pun tak punya pilihan saat ayah dan ibu serta keluarga yang lain pergi. Selama libur musim panas, Mu Soon mengira akan memhabiskannya dengan bermalas-malas, namun ternyata ia menemukan sebuah peta harta karun yang membawanya kepada kasus hilangnya 4 perempuan di Desa Duwang-ri 15 tahun yang lalu. Mu Soon pun seperti mengemban "titah" untuk menjadi [ala-ala] detektif—tentu tanpa sengaja.
Premisnya terlihat sederhana. Seperti cozy mystery pada umumnya, tetapi ternyata semakin dibaca, semakin kompleks, semakin banyak layer misterinya. Narasi yang dibawakan oleh Mu Soon sebagai narator yang bercerita dari sudut pandangnya sungguh segar, sering sarkas, sinis, dan bickering dengan Nyonya Hong Gan Nan—neneknya [iya, Mu Soon dinarasinya manggil neneknya dengan Nyonya Hong]. Dinamika cucu perempuan dan neneknya ini lucu dan menghibur. Apalagi adegan ia dan sang nenek jadi penguntit, itu peak comedy banget.
ps. aku curiga jangan-jangan neneknya memang punya bakat jadi detektif 👀
Selain dinamika Mu Soon dan Nyonya Hong, Mu Soon pun menjalin "kerja sama" dengan Si Tampan, Yoo Chang Hee, anak SMP yang kakaknya jadi salah satu korban hilang 15 tahun lalu. Ya, Mu Soon menjuluki Chang Hee dengan Si Tampan—pada dasarnya Mu Soon menjuluki semua orang di desa itu: Si Naga Bodoh, Si Wanita Muntah, Nyonya Pendeta, Si Pengganggu, dan masih banyak lagi. Mu Soon sama Si Tampan ini berasa kayak kakak-adik zone yang si Mu Soon kadang tetiba naksir padahal umurnya beda 6 tahun dari Si Tampan.
ps. mereka jadi tetiba bikin skuad detektif—tentu saja tidak disengaja—antara Mu Soon, Si Tampan, dan Nyonya Hong.
Plot twist, penceritaan, sub-plot, karakter, dan sampul bukunya bagus dan apik, tapi akung seribu akung [aku ikutin tulisan terjemahannya], typo-nya kebangetan. Aku nggak tahu ini editornya dikejar deadline atau dari penerjemahnya, tapi huruf "d" kayaknya alergi kalau ketemu huruf "i" di buku ini. Alias semua kata: diam, pemandian, kejadian, kejadiannya, kediamannya, dst menjadi iam, pemanian, kejaian, kejaiannya. Huft, hadeuh. Seperti replace all semua karena semua kata di atas berubah di keseluruhan buku. Termasuk kata sayang menjadi "akung". Jujur, aneh banget. Apa nggak di-proofread dulu ya? Jadi, bikin bukunya kureengg padahal ceritanya udah bagus, huhu.
Akhir kata, jika menyukai cerita yang summer vibe yang dibalut dengan cozy mystery, buku ini direkomendasikan. Tapi, harus kuat aja sama ke-typo-annya.
Mlle Alice, pouvez-vous nous raconter votre rencontre avec Été, Quelque Part, des Cadavres ? "Il fait partie des policiers sortis chez Matin Calme dont j'avais vraiment entendu de bons retours et je suis ravie d'avoir pu le trouver et le lire malgré la fermeture de la maison d'édition."
Dites-nous en un peu plus sur son histoire... "Musun a été désignée par sa famille pour tenir compagnie à sa grand-mère quelques temps. Alors qu'elle s'ennuie à la campagne, elle part sur la trace de ses souvenirs d'enfance et va découvrir que l'été de ses 5 ans, quatre jeunes filles de son entourage ont disparu..."
Mais que s'est-il exactement passé entre vous ? "Très honnêtement, ça partait plutôt mal. J'ai trouvé le début long et comme l'héroïne, je me suis ennuyée ferme. En plus, cette Musun, qui s'adresse directement à nous comme si on était amis, n'est pas forcément très sympathique et il n'y a pas non plus d'enquête à proprement parler. Oui, ça fait beaucoup. Et pourtant, au fil des pages, j'ai fini par m'immerger dans cette ambiance léthargique, sous un soleil de plomb, par apprécier le cadre et la vie étrange de ce petit village touché par le drame. Et puis, bien sûr, je voulais savoir. Contre toute attente, j'ai donc aimé ma lecture. J'ai même aimé que Munsun n'enquête pas vraiment, qu'elle soit consciente que ce n'est pas son rôle mais qu'elle veuille juste élucider un mystère qui la concerne et que cela soulève un à un tous les voiles qui s'étaient déposés sur le passé. Les différentes révélations nous remuent et nous bousculent, je me doutais de certaines et je me suis laissée surprendre par d'autres. J'aurais juste préféré que deux d'entre elles ne soient pas si similaires."
Et comment cela s'est-il fini ? "Étrangement, la seule chose qui reste un peu floue, c'est pourquoi la boîte au trésor de Munsun contenait-elle des objets qui ne lui appartenaient pas, c'était pourtant le fil rouge de toute cette histoire..."
buku remaja (young adult) yg berbau misteri. aku baca buku ini pure karena cover dan blurb-nya menarik. waktu dibaca awalnya memang agak slow paced karena alurnya kemana-mana.
POV pertama dari sisi Musoon si remaja usia 21th yg dapat "amanah" dari orang tua dan paman bibinya untuk jaga neneknya sepeninggal kakek. cerita berawal karena kegabutan Musoon yg tinggal di pelosok desa tanpa internet dan priviledge kota lainnya yg menemukan time capsule-nya dulu waktu umur 6th.
dalam time cpsule itu ternyata ada peta harta karun dan ternyata ada hubungannya sama 4 anak yg hilang 15th lalu. dari situlah Musoon mulai petualangan mencari 4 anak yg hilang dibantu nenek dan adik salah satu korbannya.
meski awalnya agak membosankan dan bikin males nerusin, tp bab-bab akhir waktu satu per satu misteri terungkap itu mulai menarik. ada sedikit hal yg bikin aku sebagai pembaca gak nyaman tp karena gak eksplisit, jd masih oke aja.
dan karena penulis pun merupakan script-writer drama, jadi twist dan endingnya pun mengikuti alur drama kebanyakan. cuma yg menarik adalah setiap bab ada tambahan kaleidoskop yg ternyata POV dari karakter lain yg gak tau siapa dan ambigu.
tp mungkin buat yg nyari buku ringan tp cukup menghibur bisa banget baca ini sih, soalnya baru diterjemahkan jg kan, ada unsur komedinya jg. bikin kangen nenek dan liburan sekolah, meski latar di Korea tp merasa ada beberapa hal yg relate.
J'ai adoré ! Le ton, quelque peu désinvolte, nature, brut, familier, de façon très assumée, et par conséquent assez drôle, la franchise des propos, que ce soit de la part de la narratrice ou de la grand-mère (sacré personnage !), la narration qui sonne un peu comme certains mangas cocasses, ce que j'ai trouvé assez savoureux, un style qui ne se prétend pas littéraire mais qui a du caractère - l'intrigue, plus complexe qu'il n'y paraît au premier abord, à l'issue plus surprenante qu'on ne s'y attendrait, menée de main de maître, je ne m'attendais vraiment pas à ce développement tellement on a l'impression d'une intrigue autour de disparues assez classique (que nenni) au départ - les personnages, tous haut en couleur - la découverte de la vie de campagne coréenne, ça change vraiment des romans se déroulant à Séoul ou dans les villes. Un roman coréen bien dépaysant, au charme atypique, quelque peu déroutant mais de façon extrêmement plaisante, qui m'a fait passer un excellent moment de lecture ! J'aime ce genre de romans qui montrent d'autres facettes très surprenantes des Coréens et de la littérature coréenne, loin de l'image de gens bien rangés qu'on pourrait en avoir.
Ceritanya cukup seru, tentang Mu Soon, seorang gadis usia 20an, yang 'ditinggal' keluarganya di desa Duwang-ri untuk 'menjaga' neneknya yang sedang berduka karena kematian kakeknya Mu Soon. Alih-alih menjaga neneknya, Mu Soon malah hidup santai, bangun siang, dan merasa bosan.
Kebosanan Mu Soon lalu mengantarkannya pada sebuah petualangan. Suatu hari ia menemukan gambarnya di rak di rumah neneknya. Peta harta karun? Ia mencoba mencari apa yang ditanam di tanah sesuai peta itu. Lalu ia mencoba mengingat kembali siapa saja orang yang ia kenal saat ia masih kecil dulu, ketika ia liburan di Duwang-ri.
Ternyata ada peristiwa hilangnya 4 anak di desa Duwang-ri. Mu Soon bertemu dengan seorang anak SMP yang ia juluki Si Tampan. Ia adalah adik dari salah satu anak yang hilang 15 tahun lalu. Mereka berusaha mengungkapkan misteri yang terjadi pada waktu itu.
Buku bergenre misteri ini lumayan asyik ceritanya. Ada banyak kejutan yang muncul satu per satu. Sayangnya banyak banget typo di buku.
Suka banget dengan buku ini. Tipe-tipe narator yang polos, jujur, dan lucuuu. Beberapa bagian ada yang membuat saya tertawa. Pas baca, jadi keinget buku The Biscuits, sama-sama bikin tertawa dengan kejujurannya.
Hal yang disukai: 1. Tipe misteri yang slice of life, gak nambahin stress wkwk 2. Penyampaian resolusinya seolah dikembalikan kembali ke pembaca, seperti apa pembaca menyimpulkan. Tapi, dengan smooth. Keren sih ini 3. Semua tokoh terlibat dengan konfliknya, gak ada yang cuma 'numpang lewat' aja 4. Latarnya di desa
Hal yang tidak disukai: Banyak typo sepertinya pas ngedit pakai 'replace all' jadi huruf 'd' hilang. Contoh iam-iam (seharusnya diam-diam). Ada juga replace all 'pukul'. Contoh 'menunggu 2 pukul' (seharusnya menunggu 2 jam).
Sympa mais sans plus, le rythme manquait vraiment de punch à mes yeux, les longueurs etaient nombreuses. La traduction m'a aussi semblé un peu faible, les différents niveaux de langage étaient peu marqués ce qui amenait souvent à des personnages réagissant brutalement à des variations inexistantes pour le lecteur francophone. J'ai apprécié l'intrigue et ses divers rebondissements, et le ton général etait très agréable.
L'ennui de la campagne et une carte au trésor ressurgi du passé pousse une jeune fille de la ville à se changer en détective. Accompagné de sa grand-mère et d'Apollon, elle va mettre son nez dans des secrets enfouis depuis quinze ans et peut-être résoudre le plus grand mystère de cette bourgade isolée du monde : la disparition de quatre jeunes filles.
This entire review has been hidden because of spoilers.
di translate indo bykk bgt typonya trs kyknya jg ada translation yg masih perlu diperbaiki lg, jadinya aku gak ngerti tentang ending buku ini :")
overall bagus sih, aku suka world buildingnya, interaksi antara karekternya (walaupun mcnya agak nyebelin di awal) lucu jg komedinya ada byk, banyak plus nya deh cuma ya itu masih ada yg butuh di fix 👍👍
Beau voyage dans la campagne correenne, avec pour guide une adolescente moderne. Dépaysant et immersif, joli malgré la différence de langue et de ton. Simplement légèrement long avec fin abrupte. Beau voyage tout de même!
Excellent premier roman de cette autrice sud-coréenne, qui traite d'une enquête originale et imprévisible ayant lieu dans un petit village perdu de la Corée. La protagoniste de 20 ans séjourne chez sa grand-mère et n'a pas grand-chose d'intéressant à faire, jusqu'à ce qu'elle découvre une petite boîte aux trésors qu'elle avait elle-même caché à l'âge de cinq ans. Les objets de cette boîte ouvriront la porte sur un mystère plus grand, celui de la disparition simultanée de quatre jeunes filles il y a déjà plusieurs années de cela. Et comment cette fainéante, qui aime dormir le matin, qui ne réussit toujours pas à entrer à l'Université, réussira-t-elle à retrouver, du moins en partie, la trace de ces jeunes filles? Sa grand-mère, ainsi qu'un ami au village (héritier d'une famille riche et en apparence parfaite), lui viendront en aide dans cette histoire improbable mais ô combien attachante. C'est l'originalité de la trame ainsi que son décor de campagne coréenne qui ajoutent un intérêt soutenu à l'histoire. Ne vous laissez pas décourager par la similarité dans les prénoms, car plus le récit avance, plus des personnages se rajoutent, ce qui peut amener de la confusion dans la lecture... Été, quelque part, des cadavres, publié en Corée en 2016, ne s'est rendu chez nous en version française qu'en 2021, mais profitez de cette opportunité pour séjourner au village de Duwang-ri et laissez-vous porter par le mystère...
Drop di halaman 70-an. Aku drop bukan karena terjemahannya jelek (udah normal itu mah) tapi karena MC nya nyebelin. Dia tu tipikal anak kota yang manja, yang pengen sesuatu tapi nggak mau berusaha, terus nanti kalo kena kondisi yang nggak dia inginkan malah jadi si paling tersiksa, paling jadi korban. Padahal mah dia memang pantas mendapatkan itu. Bahkan meski sesama cewek pun pas baca kelakuan dan latar belakang nya dia, aku ngerasa kayak; "apaan banget sih, pick me banget ni orang". Aku tahu aku harus bersabar karena mungkin nanti ada character development, tapi dari awal aja aku udah ngerasa ilfil banget. Konfliknya bagus padahal, tentang mengungkap misteri sekelompok anak yang hilang. Jujur, yang bikin aku nerusin baca itu cuma konfliknya. Tapi MC nya memang sejelek itu 😫 Belum lagi cara dia menyebut neneknya, dih, nggak sopan banget >:( udah nggak sopan, cara nyebutnya belibet lagi. Bikin bingung aja. Apa ya? Rasanya tu kayak baca Mushoku Tensei versi novel Korea. Konfliknya, world building nya, tata bahasanya, semua sudah bagus dan menarik, tapi itu semua dihancurkan dengan MC yang nggak punya kualitas apapun selain bakat alami menjadi pengangguran! Benar-benar deh, bahkan Denis dari Adit Sopo Jarwo aja lebih baik daripada dia. Udah ah, males lanjutin, cukup sampai sini aja review-nya. Bye
This was a really fun and interesting read. Mixing the tragedy of its subject matter with comedy through the snappy and quirky narration of its young protagonist, it stands as an original thriller whose mystery peels off little by little as Musun, whose only interest is to figure out the content of the time capsule she buried as a child to soothe her boredom in the countryside, leads her to (albeit unwillingly) investigate the mysteries surrounding the tragedy that struck her grandmother’s town 15 years ago. The main trio is very charming and funny, and bring an unexpected lightness to the otherwise heavy subject matter. I will say that I was a bit weirded out by the main 20 year old character’s crush on the 14 year old boy she hangs out with but it stays innocent so… okay?
Ini lebih ke kaya baca naskah novel yg belum di revisi :" Translate nya sangat buruk, typo bertebaran. Untung masih terselamatkan sama alur yg lumayan menarik. Udh cape cape baca teks typo dan berusaha memahami alurnya eh ending ny ga bisa dimengerti karena penulisan nya yg aneh.