Kemesraan kita adalah nama lain Bagi laut yang menggulung ombaknya Memanjakan sudut-sudut karang Mungkin seperti aku membelai runcing rambutmu Yang lengkung itu * 20 Februari 1966 Adalah peristiwa kehilangan ribuan nyawa Ketika PKI adalah stigma Yang tak boleh ada di bumi Indonesia Sebuah pembunuhan atas nama negara Rezim yang dikonsolidasi lautan darah * Kata akan tetap menjadi kata Entah ia menari dalam retorika Atau berdiam dalam refleksi Karena pada akhirnya kata Membahasai segala tubuh segala roh Sejak sebelum Adam dan sesudahnya Kata * Saat aku menangis Kau memetik air mataku Dan menyerap gemanya Jauh ke dalam bunga-bunga luka Di telapak tangan dan sisi lambungmu Lalu di hadapan salib Aku tak kuasa memetik air matamu Karena kau memikul rasa sakitku Dan doa-doaku tersangkut di mahkota duri Di kepalamu yang perih * Aku tak menemukan lagi jejak kakimu Di sebuah gurun yang tak berembun Hanya semilir angin dan sabda memulangkanku Dari lapar kekuasaan harta dan kesenangan [sementara] Setelah aku menukik lebih dalam Dalam keringnya kering Lalu kutemukan mutiara terpendam Yang luput dari seorang pedagang Dalam sebuah perumpamaan kerajaan surga * Kau dan aku adalah sepasang biji apel Yang ditanam Tuhan untuk berbuah Semoga tak ada ular melingkar di pohon silsilah Agar kepalanya tak remuk dan tumitmu tak dipagut