Saya bersyukur sekali bisa mendapatkan bingkisan dari GPU buku bagus ini. Saya rasa buku ini adalah kumcer dengan judul terpanjang selama sejarah penebritan GPU, Hanya Kamu Yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu (red: HKYTBLLAHM). Mendengar judul dan nama pengarangnya langsung kumasukkan daftar wishlist 2014.
Mengapa saat membaca cerpen-cerpen di buku ini, saya mengingat Pak Yudhis di Saras 008. Masih ingat? Dia profesor yang pandai tetapi "rempong" dengan urusan tetek bengeknya sendiri. Dan di cerpen ini pencerita baik itu penulis atau tokoh dalam cerpen terlalu riuh ngomongin macam-macam. Sedang bicara tentang seorang laki-laki di taman tiba-tiba di tengah muncul tentag kopi, buku, dan macam-macam. Membicarakan bantal tiba-tiba ke apa. Jelek? Kuakui tidak. Ya meski setiap pembacaan tidak bisa langsung melanjut ke cerpen selanjutnya, tetap berjeda mikir maksudnya apa.
Penulis sepertinya tidak hendak mengisahkan detail siapa sebenarnya tokoh. Kebanyakan cerpen selalu ingin menjelaskan bentuk fisik tokoh. Rambutnya bagaimana? Pipi? Hidung? Jenis pakaian, dan macam2? Tetapi di buku ini hampir semua cerita tidak membutuhkan bagaimana deskripsi fisik tokoh (bahkan nama, umur, jenis kelamin tidak dibutuhkan). Penulis mengembalikan cerpen ke bentuk cerita. Story ya story.... Saya butuh waktu jeda agak alama dan sampai bingung mengerti ini tokohnya siapa atau apa?
Misal di cerpen pertama Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal, saya menafsirkan tokoh "aku" adalah bantal yang biasa berwarna ungu menjadi merah. Meski kehadiran bantal juga bisa menjadi makna terselubung. Mengapa harus bantal? Sedekat apapun bantal, sesayang apapun kita kepada bantal, tetap dia hanya kita timpa dengan kepala dan ikhlas rida menerima keringat, liur, ketombe, dan aroma shampo kita. Apa begini sedihnya kasih tak sampai?
Penulis ini cerdas banget! Makan apa sih? Bahasanya seperti bahasa terjemahan dan meski rumit tapi asyik. Tetapi ada beberapa kalimat yang aku mengernyitkan dahi. Sebagai contoh: ...telur mata sapi, hampir dalam artian harfiah -karena digoreng dengan minyak goreng bekas yang sudah menghitam. (h.28 dari cerpen "Paskah"). Arti harfiah telur mata sapi? Telur mata sapi menjadi frasa yang berubah arti dari arti sebenarnya. Lalu apa maksud arti harfiah? Telur dari mata sapi? "telur'-nya mata sapi? Air mata? Air mata sebagai hasil ekskresi mata karena telur dadar dengan bentuk sunny-side up yang dijadikan bekal digoreng dengan minyak goreng curah. Initafsiranku.
Lalu metafora di cerpen Garpu adalah keren. Empat mata garpu menjadi simbol tiga manusia (dua perempuan dan satu laki-laki). Seharusnya empat dua permepuan dan dua laki-laki dalam kehidupan normal. Tapi? Entahlah karena penulis tidak terlalu suka menyebut siapa dengan jelas, maka kita tidak tahu (sebelum tuntas) maka tidak diketahu siapa dengan siapa yang menikah, hingga meninggalkan "aku" untuk sendiri. Apakah kombinasinya perempuan-laki-laki atau laki-laki perempuan. Dan ternyata adalah.... lihat ending! Aku googling siapa Vera Wang dan Roberto Cavalli.
Sebenarnya sungguh aku hanya ingin keluarga darurat ini tetap serupa garpu makan, tiga cabang; bukan garpu kue yang dua cabang dan satu tusukan sate Great!
Lalu apa semuanya benar-benar absurd dan butuh kening berkerut? Dalam cerpen Membersihkan Rumah di Hari Libur (dulu baca di Horison), ini jelas sekali. Meski memang masih tidak dijelaskan apa aku perempuan dan yang dirindukan laki-laki (normal)? aku laki-laki dan yang dirindukan laki-laki? tetapi jelas ini masalah adat Batak tentang marga. Semua kesamaan, di dunia ini, cocok untuk percintaan, kecuali jenis kelamin dan nama belakang (h.59). How menurut anda?
lebih tidak absurd adalah di cerpen Mendaki Bersama Xingjian. Meski ceritanya agak surealis yang bertemu dengan Gao Xingjian (meski tidak diceritakan secara eksplisit). Tapi bahasanya tidak "mblulet". Tapi saya masih menanyakan dari mana angka-angka rasa asli naskah akan turun menajdi 25% di penerjemahan pertama? Lalu kurang 57,8125%? Ya memang ini fiksi, tapi dari kebiasaan penulis menyajikan catatan kaki, mungkin saya harus nyari data ini. (Kelihatan si pembaca ini tidak baca banyak buku, makane kalau penulis hebat sering nggak nyampe. Otak akika buntu)
Perihal catatan kaki, sepertinya catatan kaki juga bagian dari cerita. Kadang kalau kita sedang ngobrol sesuatu dengan sahabat, kita kadang menyela dan menghentikan untuk menambahkan keterangan yang panajngnya terserah. Yaa penulis pun demikian. Bahkan dicatatan kaki bukan sekadar penjelas data, kata, atau sebuah idiom, tetapi juga bercerita kepada pembaca. Bahkan di cerpen KUK (Horison, April 2014) catatan kakinya sederet seperti tambang. Jadi catatan kaki bukan hanya penjelas tapi juga cerita.
Saya ingin tertawa keras saat membaca Pesta Bonnie. Jadi ingat saat orang yang kukasihi dinikahi lelaki lain. Kublok nomornya, unflollow twitter, WA, unfriend FB. Tapi diam-diam masih saja nyari-nyari kabar dia di sos-med. Haahaa seru.
Lalu ada kisah seorang KONDEKTUR bus dengan perasaan tidak dibutuhkan lingkungan, penumpang, sopir. Tapi ada satu kebiasaan yang luput ditulis penulis, bahwa kondektur juga sering menggantikan sopir sebagai serep. Jadi sebenarnya ada peran penting juga... Karena dia iri dengan orang-orang yang diperhatiakan bahkan oleh pengamen tak penting: "Terimakasih pada bapak sopir dan penumpang..." Di manakah keberadaanku dan untuk apa? Setiap hari aku hanya sanggup menonton mereka melakukan itu (h.99). Kondektur yang melankoli dan perasa sekali..... Heehee
Dan yang membuat saya selalu ingat sang penulis adalah cerpen Sepasang Sosok Yang Menunggu. Tokoh boneka barbie dan babi milik Mary gadis cilik anak Jane dan Jack. Membaca ini teringat film Toys Story. Bedanya di film itu boneka dan mainan bisa mengerti maksud dan menerka perasaan manusia. Sedang di cerpen ini, meski diceritakan ada cakap-cakap manusia tapi si sepsang sosok itu tidak mengerti bahasa manusia. Ini logis....
Selanjutnya ada kisah-kisah penulis Ruhut Manuhuruk yang dibenci para tetangga hingga dikasih kamper di kamarnya, lalu ada tetangga seorang gay yang menerima nobel sastra, ada penulis yang diminta presiden bikin buku puisi. Dan saya suka Buku Puisi di Kamar Mandi. Meski kisah ini mengingatkan saya pada cerpen Oka Rusmini Esensi Nobelia. Kehidupan penyair dan tuntutan kehidupan. Tetapi ending di cerpen ini saya menyukainya. Tidak mendakwa buruk penyair juga tidak memuluk-mulukkan hidup penyair. Tetapi realistis kehidupan. Kalau nggak kompeten nggak usah nimbrung. Juga ada adegan lucu...
Overall, aku suka. Kukasih empat bintang. Lalu apa yang unik dari buku ini, hingga di cover belakang tertulis Tak berlebihan juga Penerbit menyebut Norman sebagai salah seorang penulis yang akan memberi warna cerah pada masa depan sastra Indonesia. Ini menurut saya, cara bertutur Norman yang tidak memedulikan tokoh, setting tempat dan sibuk dengan diskripsi yang panjang, tetapi fokus pada cerita. Cerita ya cerita... Sedang setting dan diskripsi tokoh adalah keterangan. Asal Subjek (S), Predikat(P), dan Objek(O) ada. Maka keterangan (K) tidak mutlak harus ada. Lalu saya menyimpulkan, kalau basa bisa belibet maka tidak perlu dibuat terang. Karena belibet ini memungkinkan penafsiran lain, hingga pembaca bisa mikir tidak hanya membaca. selesai masuk rak begitu saja.
Satu pertanyaan lagi: Adakah judul kumpulan cerpen yang melebihi panjang judul buku ini?
So im proud of him and his book!! Marvelous!! Buku cerpen yang tidak hanya bagus untuk teman menghabiskan waktu luang, tapi juga belajar!