Seperti aku padamu sebelum langit hitam habis Kutaruh percaya, kauberi telinga berbincang kita pada cinta dan tangis dalam ruang kekhawatiran jiwa
Layaknya kamu padaku sebelum malam usai Lupa cara memutar alunan musik Berbicara kita dari perangkap andai tidak tahu jalan lepas ingatan-ingatan tetapi
Lantas kenangan bagai radio terbatuk-batuk, memuntahkan frekuensi sampai kita tahu mematikannya lebih baik ganti saluran, siaran esok
kemudian kita adalah kemarin lalu : hilang, pergi, lesap.
Novel ini berkisah tentang sepasang manusia yang kehilangan, menemukan, lalu berhadapan dengan masa lalu dan masa depan.
Impresi pertama ketika lihat novel ini di instagram adalah kover-nya cantik banget. Suka perpaduan warna dan sketsa gambarnya. Lalu, berkat beberapa revuew yang berseliweran di bookstagram, aku pun memutuskan untuk beli novel ini.
Enggak hanya kover-nya saja yang keren, tapi ide ceritanya juga. Entah mengapa, gaya tulisan Veronica Gabriella ini mengingatkanku dengan Winna Efendi. Begitu pula dengan tema ceritanya; dua orang yang kehilangan saling bertemu untuk memahami.
Jujur, aku suka tema ceritanya. Suka juga sama suasana yang terbentuk. Hal pertama yang terpikirkan olehku setelah menyelesaikan novel ini adalah...
Kover dan tema ceritanya bagus, tapi eksekusinya kurang.
Novel ini tipis; 240 halaman. Tipisnya novel ini bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan terhadap jalan ceritanya.
kelebihannya • Novel ini fast-paced. Dengan tulisannya yang mengalir dan santai, serta didukung dengan tipisnya halaman, novel ini bisa menjadi pilihan jika butuh bacaan cepat.
• Jalan ceritanya tidak bertele-tele. Aku suka bagaimana penulis menuturkan segalanya dalam novel ini. Benar-benar mengalir!
• romansanya manis dan enggak begitu drama. Kalau ada drama-drama dikit, yaudahlah ya. Namanya juga jatuh cinta.
• suka sama cara penulis menggambarkan keadaan yang terjadi di sekitar lingkungan tokoh. Cukup membuatku seperti berada di daerah mereka.
kekurangannya • karena fast-paced dan tipisnya novel ini, alur ceritanya terasa dipercepat. Untuk novel yang temanya seperti ini, aku rasa 240 halaman masih kurang sih. Soalnya, sampai sekarang, masih cukup banyak hal yang belum terjawab. Mungkin masalah antara Mikel dan Khanza selesai, tapi bagaimana dengan tokoh-tokoh sampingan yang juga andil dalam terbentuknya konflik itu?
Sampai aku menutup buku ini, aku masih berpikir hal itu. Seperti plot hole, karena cerita ini hanya terfokuskan pada MCs saja tanpa peduli konflik yang 'sebenarnya'. Kalau ditanya apa konflik yang sebenarnya, baca aja. Hehehe.
• perkembangan karakternya terkesan buru-buru. Enggak cuma perkembangan perasaan Mikel dan Khanza, tapi juga perkembangan karakter atau sifat para tokoh itu sendiri. Secara superfisial, aku bisa tahu bahwa Khanza itu 'kelam' dan Mikel itu dapat memahami keadaan. Tapi, hanya sebatas itu saja. Selebihnya, aku kurang mendapat sifat khas mereka.
• konfliknya selesai dengan sedikit agak dipaksakan. Ini berhubungan dengan point atas. Padahal aku suka konfliknya, bikin deg-deg-an dan cukup mengejutkan. Sayangnya, kurang dieksekusi jadi—menurutku—hilang feel-nya.
Sekiranya itu saja yang bisa kusampaikan perihal novel ini. Meskipun memiliki kekurangan, aku tetap menikmati kisah Mikel dan Khanza yang mencoba saling memahami.
❝Bicara tentang masalah, kadang ia hadir bukan untuk diselesaikan secepatnya, tapi diterima jadi bagian hidup agar hidup lebih berwarna.❞ ―Lesap, Veronica Gabriella
Akhirnya selesai baca Lesap! Wah, gila, rasanya udah lama banget saya ga baca novel yang berhasil buat saya senyam-senyum gemes sendiri. 😂
Lesap bercerita tentang kehilangan Khanza dan Mikel terhadap orang-orang yang mereka sayangi. Lesap sendiri, dalam KBBI 5 (iya, saya sampai ngecek sendiri saking keponya), memiliki arti "hilang; lenyap; lucut". Jadi, judulnya emang sesuai banget sama isinya.
Hal pertama yang saya suka dari Lesap ga lain dan ga bukan adalah KOVERNYA! Yup, saya sampe pake kapital saking gregetannya. Abisnya, kover Lesap benar-benar estetik dan bagus dan... ARGH, AUTO-BUY LAH POKOKNYA! ILUSTRASINYA ITU LHOOO KECE BANGET! Saya yakin novel ini juga bisa jadi cover-buy kalian.
Lalu, ceritanya ternyata ga kalah kece dong! Saya bilang gini bukan karena saya kenal penulisnya, tapi karena ceritanya murni kece beneran! Saya suka permainan diksi Vero yang cukup puitis, membuat saya kepengin baca halaman selanjutnya lagi dan lagi. Udah gitu, Lesap ini juga agak kelam karena menyinggung isu self-harm. Aura kovernya emang rada menipu, ya.
OH, SAYA JUGA SUKA TOKOH UTAMANYA―Khanza dan Mikel. Waktu baru baca, saya suka banget sama karakter Khanza dan Mikel yang konsisten. Khanza konsisten sulit memercayai orang baru, Mikel konsisten ingin menjadi teman Khanza. Jadi kerasa banget gigihnya perjuangan Mikel dan enggannya Khanza percaya sama orang baru. Saya sering senyum-senyum kalo mereka lagi berdua. DAN PLOT TWISTNYA SEDIKIT DI LUAR EKSPEKTASI YA.
Namun, saya masih agak sering nemu saltik. Ga begitu ganggu sih untungnya, hehe. Selain itu, saya berharap endingnya bisa lebih dari 'itu' karena masih ada pertanyaan dalam benak saya yang ga kejawab. Bukan berarti endingnya jelek lho ya, soalnya saya suka juga kok. Namun secara keseluruhan, saya tetap puas baca Lesap.
Kalo kalian penyuka novel romansa yang bikin emosi kalian nano-nano, novel ini saya rekomendasikan buat kalian!
"Lo tahu, Za? Hal-hal besar memang membuat kita mengingat sesuatu, tapi hanya bagian-bagian kecil dan sederhana yang bisa menjadikan seseorang merindukan sesuatu. Dan, itu yang terjadi pada gue sekarang."
Setelah sekian lama gak baca novel remaja yang memang remaja banget, novel ini bikin saya kangen berat sama masa-masa SMP, masa saya lagi gila-gilanya sama teenlit dan metropop. Novel ini sendiri berkisah tentang Khanza, yang karena kehilangan kedua orang tuanya, harus merantau ke Jakarta untuk tinggal bersama bibinya. Hal itu pun membawanya pada pertemuan dengan Mikel, seorang penyiar radio Sky FM yang sukses dengan acara curhat tengah malamnya.
Penggambaran karakter-karakter di buku ini menurut saya sudah cukup kuat. Pembaca bisa benar-benar terbawa dengan emosi dan perasaan Khanza yang bisa dibilang cukup ekstrim (ada kasus self harm dan depresi yang diangkat di novel ini). Sedangkan pembawaan Mikel cenderung lebih santai dan terkesan fun. Sebagai penyiar radio, porsi kebawelan Mikel menurut saya sudah pas banget.
Konflik yang ada di buku ini pun dapet banget: adegan manis, sedih, dan reka peristiwa masa lalu memegang peran penting dengan porsi yang seimbang. Twist yang terjadi di tengah cerita juga tidak terasa dilebihkan (tapi serius, ngagetin banget). Saya juga suka cara penulis merangkai kalimat, mengalir banget. Hanya saja, coba kalau endingnya sedikit "dilebihkan", pasti akan jadi lebih bagus lagi. Dan jujur deh, covernya cakep banget gak sih? Suka!
Buat kalian yang suka cerita romance, buku ini boleh banget dicoba. Tambahan lagi, ada banyak banget quote yang super ngena, salah satunya kayak yang sudah saya kutip di atas.
Baca Lesap dan langsung pengin ke toko kue. #eh ;p
Yang kusuka dari Lesap adalah betapa di dunia masih ada orang yang mau benar-benar mendengarkan, dengan penuh perhatian, bahkan sampai akhirnya saling jatuh cinta.
Suka dengan dunia yang dibangun sama Kak Vero. Perasaan-perasaan Khanza tergambar dengan baik, dan setiap emosinya diplot dengan apik.
Tapi beneran deh, itu toko kuenya beneran ada nggak sih? Kuingin berkunjung. Wakakak...
Jalan cerita bagus banget. Suasana sedih, tawa dan romantis melengkapi cerita ini, mengisahkan tentang jalan kehidupan Khanza yang sangat tertekan. Bahasa yang dipakai gaul banget. Tetapi ending disini tidak begitu terasa untuk aku, meskipun begitu aku coba memahami dan merasakannya dan akhirnya baru ngerti (mungkin di setiap novel memang endingnya rata - rata begitu ya, karena umumnya ku gak suka novel). Tetapi untuk novel ini aku suka banger, gak bosan baca berulang kali.
"Siapa pun bisa punya masa lalu begitu buruk hingga ia sendiri tidak berani menengok kembali. Namun, selalu ada satu orang yang menerima dirimu dengan baik, menggenggam tanganmu untuk mengajakmu berdamai dan mengatakan kamu tak perlu khawatir. Saat itu terwujud, kamu menyadari bahwa Tuhan sedang mengirim seseorang untuk menemanimu dalam selamanya hidup : dia."
Lesap merupakan novel ketiga Kak Vero yang kubaca. Sebelumnya aku pernah membaca novel hasil kolaborasinya bersama penulis lainnya #timeinabottle dan #lisasdiary namun Lesap ini berbeda.
Awalnya aku pikir kisah Lesap ini ringan dan sederhana tentang seseorang yang pernah kehilangan dan kemudian bertemu dengan seseorang yang membantunya berdamai dengan masa lalu. Nyatanya, kisah ini tak sesederhana yang kubayangkan.
Kalau hanya melihat covernya, novel ini terkesan manis, nyatanya novel ini akan membawamu ke perasaan yang campur aduk, membahagiakan sekaligus mengharukan disaat bersamaan.
Karakter Khanza dan Mikel yang berbeda, membuat mereka saling melengkapi. Chemistrynya dapat banget. Aku benar-benar gak menyangka hubungan mereka begitu rumit sekali, plot twistnya cukup mengejutkan.
Isu yang diangkat juga tidak hanya tentang kehilangan, namun bagaimana pengaruh kehilangan itu terhadap seseorang itu bisa berbeda. Seperti Khanza yang memilih jalan berbeda 😭
Aku benar-benar tak bisa berhenti membaca, saking aku menikmatinya. Endingnya juga terasa realistis, walau aku yakin bisa lebih diperpanjang lagi 😂
Membaca kisah Khanza dan Mikel, sebagai pembaca aku belajar untuk memahami bahwa kehilangan bagi setiap orang itu memiliki porsi yang berbeda-beda dan akan menimbulkan reaksi yang berbeda juga. .