“Hepimiz heyecanla yeni öğretmeni bekliyoruz. Ben resim defterimi açtım, önüne boyalarımı dizdim, hatta dayanamayıp güneşimi de sayfanın sol üst köşesine çizdim. Ben güneşimi boyarken sınıfın kapısı aniden açıldı. İçeriye küçücük biri girdi. Elleri kolları dolu… Kolunun altında yığınla kâğıt var. Elinde de bir teyp… Bize hiç selam vermeden masaya yerleşip kâğıtlarını ve teybini bıraktı, sonra teybi çalıştırmak için priz aramaya başladı. Biz şaşırdık. En azından ben şaşırdım...”
Yeni öğretmen bekleyişi bir kâbusa dönerse Şirin ve arkadaşları neler yapabilir? Belki de her şeyi… ama onlar en kolay ve en acayip yolu seçiyorlar…
Sophie suka makan roti dengan sosis besar dan krim cokelat. Yuck! 🤢 Namun, setelah dia menutup momen cemilannya dengan sebotol besar soda, akhirnya Sophie sakit perut. Tak hanya itu, dia juga sakit cacar. Sakitnya akan memberinya ide gila untuk menghadapi suatu masalah di kemudian hari.
Kelas Sophie kedatangan guru seni baru. Namanya Pak Carbunk. Namun, guru kesenian yang baru ini sangat tidak menyenangkan. Dia memaksa para murid menyukai lukisan-lukisan kubistik Picasso. Lalu dia mencela hasil karya para siswa dan mengatai mereka tidak akan bisa jadi seniman. Aku rasanya ingin bertepuk tangan bersama teman-teman sekelas Sophie ketika anak itu melawan Pak Carbunk dengan mengatakan, "Apakah guru Picasso membentak-bentaknya ketika ia melukis tidak sesuai dengan kemauan gurunya?"
Cerdas.
Mereka mengadukan hal ini pada guru wali kelas. Karena buruknya perlakuan Pak Carbunk, barulah mereka sadar bahwa wali kelas mereka selama ini sungguh seperti malaikat. Dalam keadaan marah pun, sang guru tak pernah melukai mereka. Tidak seperti Pak Carbunk. Memang kadang perlu pembanding yang buruk agar kita mensyukuri hal yang kita punya, ya. Namun, setelah mengatakan akan menyelidiki kejadian itu, guru wali kelas mereka tidak lagi mengatakan apa-apa tentang Pak Carbunk. Anak-anak pun gelisah. Jam pelajaran Kesenian berikutnya akan segera tiba dan mereka tak mau lagi bertemu Pak Carbunk.
Saat itulah Sophie mencetuskan ide gilanya. Dia mengajak teman-temannya untuk sakit perut rame-rame. Caranya? Makan sosis, krim cokelat, dan minum soda seperti yang pernah ia lakukan. Namun, betapa kagetnya Sophie dan teman-temannya karena ternyata guru seni yang datang bukan Pak Carbunk. Mereka sudah kadung sakit perut sampai akhirnya dibawa ke rumah sakit dan nyaris disuntik untuk tes darah! Astaga.... 🤣
Begitulah. Anak-anak pun bisa bereaksi keras jika orang dewasa memperlakukan mereka secara tidak menyenangkan. Jangan berpikir kalau anak-anak itu tidak berdaya, ya. Ulahnya bisa sangat tak terduga!
Namun, menurutku mengherankan sekali soal Sophie yang bisa membuat ibunya membeli setoples besar krim cokelat setelah apa yang terjadi pada putrinya. Tak dijelaskan apa dalih Sophie hingga sang ibu mau menuruti kemauannya.
Lalu, bagian soal Sophie yang bersikeras bikin kata-kata baru itu memang menggambarkan kecerdasan dan kreativitasnya. Namun, nggak terasa nyambung dengan inti cerita utamanya. Berbeda dengan buku Ide Gila yang masih bisa menyambungkan antara cerita Sophie ketika jadi petugas piket dengan cerita inti waktu dia berusaha jadi ketua OSIS.
Namun, buku ini tetap mengasyikkan untuk diikuti. Insyaallah aku akan mengoleksi dua serinya yang lain. Ah.... andai semua serinya diterjemahkan, ya. Hiks.
Ini buku seri Sophie pertama yang dibaca dan langsung suka! Kalau nggak salah sudah ada empat buku yang diterjemahkan oleh Penerbit Rainbow.
Tagline "Sophie, Totto-chan dari Turki"- lah yang membuat saya penasaran pada awalnya. Ketika melihat isi bukunya, saya pun langsung menyukai pemikiran-pemikiran polos Sophie, rasa ingin tahunya yang besar, dan sifat kreatifnya dalam menciptakan baik kata-kata maupun cara-cara baru. Hal-hal yang terasa jujur, lucu, namun tak jarang menimbulkan kemarahan orang dewasa di sekitarnya.
Membaca novel ini akan terasa mengasyikkan, karena selain karakter Sophie yang menghibur, novel ini pun dilengkapi ilustrasi lucu nan cantik yang berwarna. Cocok untuk pembaca usia SD yang baru saja beralih dari kumpulan dongeng. Dan masih cocok juga bagi pembaca dewasa yang butuh hiburan dan ingin kembali ke dunia anak-anak. Hehe.
Total 96 halaman dan terdiri atas 6 bab, Sophie Sakit Perut Rame-Rame menceritakan guru kesenian baru di sekolah Sophie yang hobi marah-marah. Terinspirasi dari pengalamannya sakit perut, Sophie pun mengajak teman-temannya untuk sakit perut rame-rame demi menghindari pelajaran kesenian. Ada-ada aja kan si Sophie ini? Nah, berhasilkah rencana Sophie dan teman-teman?
Sophie menggambarkan pikiran anak² yg polos dan nyeleneh. Tapi kalau dipikir² lagi, sebenarnya memang masuk akal. Karena ya memang begitulah pemikiran anak² yg masih sangat sederhana.
Bacaan ringan yg bisa dibaca oleh segala usia. Kadang, orang dewasa pikir Sophie nakal, padahal dia hanya mengikuti apa yg ada dipikirannya saja. Sebaiknya memang para ortu dan guru membaca buku ini juga, karena karakter Sophie mengingatkan kita bahwa anak² butuh dipahaki dan diberi pengertian.