Saat membaca buku ini, ingatan saya melayang kenangan saat tinggal di Bali dan saat tahun lalu menghabiskan liburan di Ubud. Buat saya, Bali adalah rumah diantara perasaan rumah lainnya.
Buku pertama yang saya baca dari penulis ini memang mengisahkan cerita kehidupan penulis di studio yang dibangun di atas tanah sewaan seluas 5 are di Ubud. Hobinya yang blusukan membawa banyak cerita. Selain itu juga bagaimana hubungan penulis dengan penduduk asli di sekitar, tidak lupa juga dengan Ikoh, si anjing hitam yang berubah ketika mengenal keluarga penulis. Beruntungnya penulis karena banyak dipertemukan dengan orang-orang baik. Bahkan kontraktor studionya saja luar biasa baik. Mungkin karena menemukan sesuatu yang berkarakter, dan berbeda dengan projek minimalis yang sering ditanganinya.
Yang saya suka, ceritanya yang mengalir, sampai perasaan saya pun ikut serta dibawanya. Tanpa terasa, saya sudah sampai di halaman terakhir. Mungkin juga karena bukunya mirip buku cerita jaman dulu yang tulisannya tidak rapat-rapat. Selain itu diberi juga tambahan ilustrasi, sehingga kita bisa membayangkan.
Mungkin juga saya menyukai ini karena pernah tinggal di Bali, dan sedikit banyak mengenal keramahan dan kebaikan orang-orangnya.
Pelajaran yang terpenting setelah membaca buku ini adalah sekeliling kita bisa jadi sesuatu yang sangat menarik jika kita flow dan "present at the moment".
Favorite quote:
"Tapi bagi mereka, memberi adalah memberi. Bukan sekedar basa-basi" (Halaman 61)
18/2021