Sketsa-sketsa-4 Kembangmanggis “Jangan Sisakan Nasi dalam Piring” berisi 23 kisah ringan tentang Ubud, Bali.
Disentuh seperti tarikan cepat garis-garis sketsa melukiskan kehidupan Ubud biru langitnya, burung-burung kokokannya, keindahan alamnya, petani-petaninya, bebek-bebeknya, bentangan sawahnya, jajanan balinya, kehangatan dan kebaikan hati orang-orangnya, dan penggalan-penggalan peristiwa kesehariannya.
Dari “Petani Tua dan Bebeknya” hingga ke “Selamat Natal!” dapat dibaca sambil tertawa dinikmati dengan secangkir kopi mengisi waktu santai atau sambil menunggu.
Lezat dibaca dan perlu.
*Kembangmanggis adalah penulis era 80-an yang kembali meluncur dengan seri sketsa-sketsanya
Nama Kembang Manggis sekarang ini barangkali tidak banyak yang mengenal. Namun, pada kisaran tahun 80-an, nama itu lumayan beken sebagai penulis novel.
Mungkin Anda yang gemar membaca fiksi atau berlangganan majalah Hai, ingat sebuah cerita bersambung di majalah remaja itu yang berjudul TIA. Oleh Gramedia Pustaka Utama, cerbung tersebut kemudian diterbitkan dalam bentuk novel. Nah, pengarangnya adalah Kembang Manggis.
Ini cerita tentang Bali, terutama Ubud. Tentang orang orangnya, alamnya, kesahajaannya, dan banyak hal lain yang membuat daya srbagai pembaca kadang terharu kadang cengengesan sendiri waktu baca ceritanya. :')
Ditulis dengan sederhana dengan dialog-dialog yang akrab dengan keseharian kita. Meski saya kurang bisa mengikuti karena kurang sesuai dengan selera baca saya, namun, melalui buku ini Kembangmanggis berhasil mengajak pembaca untuk menikmati keindahan Ubud dari kacamata yang berbeda, begitu alami, sederhana, dan bersahaja.
Memiliki studio di Ubud adalah life goals saya selanjutnya. Asyik sekali menjadi entrepreneur perempuan yang bisa bolak-balik Bogor-Ubud seperti Bu Kembangmanggis.
Cerita-ceritanya juga heartwarming. Cocok untuk menyambut tahun baru. Hehe.
Buku ini cocok dimiliki bagi orang-orang yang tidak punya waktu banyak untuk membaca. Bahasanya ringan relate dengan kehidupan sehari-hari, budaya yang diangkat dijelaskan secara sederhana sehingga pembaca seperti saya memahami arti demi arti kata di setiap lembar buku ini.
Kisah ini diangkat berdasarkan kondisi dan situasi yang terjadi di sekitar kita sehingga pembaca bisa mudah memahami dan memaknai moral of story di dalam buku ini.
Kalimat yang bagus yang menohok di buku ini "Jangan menyisakan nasi dalam piring. Sebutir sekalipun. Banyak keringat tercucur di balik sebutir nasi."
Kembangmanggis adalah nama pena penulis. Buku ini menceritakan kehidupan sehari-hari penulis ketika pindah dan memutuskan bangun studio di Ubud.
Cerita-cerita Pak Jumu si peternak bebek, Bu Klengis si penjual klengis, sate pusut di pasar ubud, babi guling murah meriah dan sumber air yang kurang bikin aku pengen ke Ubud sebulan aja huhu🥹🥹
suka banget sama cerita cerita pendek Kembang Manggis ini, penuh kesederhanaan, even mungkin kalau mereka ketemu dengan orangorang yg ga menyenangkan ga diceritakan, tapi kisahkisahnya beneran menenangkan, bikin pengen jalanjalan ke Ubud juga.
Aah.. ringan & menyegarkan sehabis baca buku ini. Mengisi pikiran selain oleh keruwetan yg bikin sumpek, bacaan karya Bu Baby Ahnan ini serasa membawa diri liburan ke Ubud sana. Segar.. Terima kasih, Bu!
heartwarming dan jenaka seperti biasanya. saya baca JSNDP di gramedia digital sebagaimana buku-buku bu kembangmanggis yang lainnya, tapi suatu saat ingin sekali mengoleksi semua judul dalam bentuk fisiknyaaaa!
I read this book a week before going to Bali. Strangely the description of jajanan Bali in the book was more appetising (for me) than the real-life sight. The author should write restaurant reviews.
Saat membaca buku ini, ingatan saya melayang kenangan saat tinggal di Bali dan saat tahun lalu menghabiskan liburan di Ubud. Buat saya, Bali adalah rumah diantara perasaan rumah lainnya.
Buku pertama yang saya baca dari penulis ini memang mengisahkan cerita kehidupan penulis di studio yang dibangun di atas tanah sewaan seluas 5 are di Ubud. Hobinya yang blusukan membawa banyak cerita. Selain itu juga bagaimana hubungan penulis dengan penduduk asli di sekitar, tidak lupa juga dengan Ikoh, si anjing hitam yang berubah ketika mengenal keluarga penulis. Beruntungnya penulis karena banyak dipertemukan dengan orang-orang baik. Bahkan kontraktor studionya saja luar biasa baik. Mungkin karena menemukan sesuatu yang berkarakter, dan berbeda dengan projek minimalis yang sering ditanganinya.
Yang saya suka, ceritanya yang mengalir, sampai perasaan saya pun ikut serta dibawanya. Tanpa terasa, saya sudah sampai di halaman terakhir. Mungkin juga karena bukunya mirip buku cerita jaman dulu yang tulisannya tidak rapat-rapat. Selain itu diberi juga tambahan ilustrasi, sehingga kita bisa membayangkan.
Mungkin juga saya menyukai ini karena pernah tinggal di Bali, dan sedikit banyak mengenal keramahan dan kebaikan orang-orangnya.
Pelajaran yang terpenting setelah membaca buku ini adalah sekeliling kita bisa jadi sesuatu yang sangat menarik jika kita flow dan "present at the moment".
Favorite quote: "Tapi bagi mereka, memberi adalah memberi. Bukan sekedar basa-basi" (Halaman 61)