Eges adalah seorang anak gelandangan yang biasa berkeliaran di lampu-lampu merah Jakarta. Kehidupan lapangan yang keras dan liar membuat Eges punya keberania ekstra namun Eges tetaplah seorang bocah bagi Ibu.
Ibu melihat Eges seperti melihat kehidupan burung-burung kecil yang terbang bebas di udara. Mereka bebas datang dan pergi. Mematuk-matuk remah, melompat-lompat, bercicuit, dan terbang lagi.
Sayap mereka kecil. Kaki mereka kecil. Paruh mereka kecil. Suara mereka jarang terdengar, karena cicuitnya pun kecil.
Nama Kembang Manggis sekarang ini barangkali tidak banyak yang mengenal. Namun, pada kisaran tahun 80-an, nama itu lumayan beken sebagai penulis novel.
Mungkin Anda yang gemar membaca fiksi atau berlangganan majalah Hai, ingat sebuah cerita bersambung di majalah remaja itu yang berjudul TIA. Oleh Gramedia Pustaka Utama, cerbung tersebut kemudian diterbitkan dalam bentuk novel. Nah, pengarangnya adalah Kembang Manggis.
Buku yang cocok dibaca dalam sekali duduk! Awalnya aku iseng aja baca buku ini karena butuh buku yang ringan dan ternyata, aku suka dengan buku karya Bu Baby alias Kembangmanggis. Aku suka narasinya yang mudah dipahami, seakan sedang bercerita dengan teman sendiri. Ceritanya sederhana dan ringan, tapi juga memberi kehangatan tersendiri saat dibaca. Bacaan yang cocok dibaca untuk menemani waktu gabut atau sekedar hiburan di waktu sibuk!
Kembangmanggis Burung-Burung Kecil Gramedia Pustaka Utama 128 halaman 7.3
Di balik kesederhanaan Burung-Burung Kecil, Kembangmanggis berhasil menggambarkan kasih sayang dan kekuatan seorang ibu asuh panti asuhan kepada anak-anak jalanan dengan kalimat yang lugas, mentah, dan jujur.
Bagus banget dan mengharukan.. Keras nya kehidupan anak jalanan yang tidak sepenuhnya kita tahu ada di buku ini. Sedih juga rasanya, ingin memeluk Eges rasanya :')
Saya bukan penyuka buku-buku sastra, apalagi sastra-sastra klasik. Meh...., saya bukannya anti, tetapi kadang sulit memahami saja bacaan pada buku-buku sastra klasik. Hanya beberapa buku sastra tertentu yang pernah saya baca, itu pun ada pula yang tidak tamat saya baca.
Sebentar....
Tapi bukannya hampir semua buku fiksi pun dikategorikan sastra ya? Ah..., kayaknya saya perlu googling lagi definisi tentang sastra. Jangan-jangan, saya hanya nilai isinya berdasarkan genre.
Bicara tentang genre, saya lebih cenderung suka buku-buku bergenre fantasi atau fiksi ilmiah. Itu buku-buku menarik dengan cerita-cerita seru, realistis dan mustahil dalam waktu bersamaan, serta penuh dengan gagasan-gagasan asing, walau memiliki akar masalah yang sama, yaitu tentang kehidupan manusia itu sendiri.
Nah, kemarin, sewaktu ke toko buku, nggak sengaja saya melihat deretan buku dari penulis kembangmanggis ini. Saya baru dengar nama beliau, yhaa...., memang baru kenal sih. Dan saya pertama berkenalan dengan beliau melalui buku ini.
Ceritanya sederhana dengan tema sederhana. Kalimat-kalimat yang digunakan pun sederhana, mengesankan keluguan, tapi di satu sisi justru keluguan tersebut membuat hati yang tersentuh. Tidak ada kemewahan berlebihan dalam kalimat-kalimat beliau, yang justru membuat saya lebih mudah memahami, mengerti, dan menghayati. Kadang ada kan, buku sastra yang kalimatnya terlampau berbunga-bunga atau terlalu mewah hingga sampai di satu titik, diri sendiri mempertanyakan, 'Ini sebenarnya mau nyeritain apa sih?'. Dan cerita sederhana di buku ini sukses membuat saya tertawa sekaligus miris dalam waktu bersamaan.
Saya suka dengan kesederhanaan ini dan kayaknya, saya mau nyari buku-bukunya kembangmanggis yang lain. Btw, nama beliau selalu mengingatkan saya pada kembang mayang.
(Elah..., udah nulis pake keyboard lepi aja masih aja typo... --")
Semakin ke sini, aku makin menyukai cerita-cerita pendek dari penulis pemenang penghargaan, seperti karya Kembangmanggis ini. Hanya butuh waktu sebentarrrr saja — mungkin sambil leyeh-leyeh di tempat tidur atau sore hari ditemani teh dan roti — aku sudah bisa mendapatkan perspektif baru yang ngena banget.
Cerita ini berpusat pada Eges, seorang anak jalanan di Jakarta yang berbadan kecil tapi disegani oleh anak-anak lain, bahkan yang berbadan lebih besar seperti si Gendut. Ia bercita-cita menjadi orang kaya. Baginya, mendapatkan uang itu gampang: cukup menyembunyikan salah satu tangannya di balik baju pinjaman yang kebesaran, lalu berpura-pura bertangan puntung. Dalam waktu singkat, kantong celananya bisa penuh dengan recehan. Jadi kaya, kan?
Ketika uang yang ia kumpulkan terasa sudah banyak, Eges akan memperagakan diri seperti orang super kaya raya. Ia menghamburkan recehan ke arah Gendut sambil berseru, “Nih! Ambil nih! Ambil!” Gendut yang gagap hanya bisa ber-“u-a-u-a” kegirangan.
Kemudian, tanpa menghitung lagi, uang itu ia bagi menjadi dua. Kantong sebelah kiri untuk ibu yang mangkal di Bundaran Kota; kantong sebelah kanan untuk disimpan di rumah ibu di Pangkalan Asem.
Di antara kedua “ibu” itu, Eges lebih menyukai ibu di Pangkalan Asem. Meski cerewet karena selalu menyuruhnya mandi, pelukan dari ibu itu terasa lebih hangat — dan tidak meninggalkan noda gincu merah di pipi seperti ibu di Bundaran Kota.
Ibu di Pangkalan Asem adalah seorang ibu asuh anak-anak jalanan Jakarta. Ia sangat berharap Eges mau menetap di rumah asuhannya, karena ia tahu Eges punya potensi besar untuk tinggal di rumah 5 — rumah yang berisi mantan anak-anak jalanan yang kini sudah bersekolah dan berani mandi setiap hari.
Namun, Eges seperti burung kecil: senang terbang dan bercicit ke sana kemari. Kebebasan jalanan terlalu menggoda untuk ditinggalkan.
Buku ini selesai kubaca dalam waktu beberapa jam saja, karena memang isinya singkat dan tidak terlalu tebal. Dari awal hingga akhir cerita, aku tak henti-hentinya merasa speechless ... tak tahu harus berkata apa. Karakter-karakternya amat menarik, terutama Eges yang begitu polos tetapi harus menghadapi kerasnya dunia Jakarta, serta Ibu yang merupakan sosok pengurus panti/rumah bagi anak-anak terlantar yang penuh kasih.
Gaya penulisannya, walaupun termasuk tulisan yang diterbitkan puluhan tahun lalu, masih sangat sesuai dengan keadaan saat ini. Aku menikmati sekali membaca buku 'Burung-Burung Kecil' karena terasa ringan, serta singkat dan berisi ... rasanya tak ada pemborosan kata. Ditulis apa adanya dan sederhana, tanpa kalimat membuai untuk mempercantik cerita. Setiap percakapan, terutama dialog si Ibu, terasa menyentuh dan hangat. Buku ini membawaku untuk melihat sudut pandang lain dari anak-anak jalanan.
Kendati akhir ceritanya membuatku berkata, 'hah?' karena terasa menggantung, tetapi tetap saja buku ini berkesan sekali dan merupakan salah satu buku terbaik yang kubaca tahun ini. Aku ingin memberi penilaian 4,5 bintang ... tetapi karena tidak ada, kubulatkan jadi 5 bintang.
PS. Cover dan layout di cetakan terbaru ini cantik banget.
Novel ini pendek. Cuma sekitar 128 halaman totalnya. Di awal-awal saya baca itu agak bingung karena pakai pengandaian yang lumayan banyak dan cara penulisannya pun kayak sajak. Tapi semakin ke bawah semakin menarik dan paham sama konteksnya.
Ada beberapa yang bilang novel ini heartwarming. Kalau dibilang heartwarming, mungkin di beberapa momen iya, tapi kata saya novel ini dark banget. Dark karena ceritanya tentang anak-anak terlantar sama anak jalanan yang kehidupannya betulan memprihatinkan.
Novel ini bener-bener kayak bercerita soal keseharian mereka. Nggak ada konflik yang betul-betul serius, tapi balik lagi, bahkan tanpa konflik serius pun ini tetep dark.
Ada beberapa "hal penting" justru yang nggak disebutkan penyebabnya di novel ini. Bahkan ending-nya pun dibuat menggantung. Tapi walaupun gitu, menurut saya novel ini cukup recommended buat dibaca.
Cerita yang ditawarkan tidak begitu spesial namun kesederhanaan yang terjalin bisa kurasakan dengan jelas. Terang saja karena buku ini menceritakan tentang kehidupan anak jalanan bernama Eges yang biasa berkeliaran di sekitar lampu lalu lintas. Eges gak punya ibu kandung, dan memiliki cita-cita menjadi orang Kaya, punya banyak uang adalah salah satu hal yang selalu diinginkan Eges.
Penganalogian kehidupan Eges melalui burung-burung kecil sangat pas, sekuat atau seberani apapun diri Eges, ia tetaplah seorang bocah yang suatu saat pasti membutuhkan pertolongan dan kasih sayang dari orang tua. Ia selalu berkelana, sebebas-bebasnya seperti burung-burung kecil yang terbang.
Diksinya ringan, tema cerita juga menarik. Tapi rasanya ada yang kurang pas dari buku ini, aku gak bisa merasakan emosi yang mendalam, datar saja. But.... this book is worth to read jika kamu menyukai cerita yang mengalir tanpa perlu berpikir keras.
Pertama kali aku ingat nama 'Kembangmanggis', kenapa rasanya sangat familiar? Ternyata aku pernah membaca buku ini, seingatku waktu SD, dan sangat suka ceritanya walau masih belum terlalu mengerti maksudnya saat itu. Buku ini dibelikan oleh Tanteku sebagai hadiah juara kelas, salah satu buku kesayanganku yang selalu kubawa kemana-mana dan kubaca berkali-kali. Saat kuingat lagi, rupanya isi buku ini lumayan berat dan menguras emosi karena menceritakan kehidupan Eges yang keras.
Membaca ini seperti melihat sendiri sosok Eges dan semua mutiara-mutiara ibu yang selalu datang dari segala penjuru tanpa henti.
Cerita yang ringan dengan penyampaian yang sangat sederhana, namun cukup membekas. Tidak mengajak berkhayal muluk-muluk, namun pembaca diajak untuk lebih menyadari lagi bahwa banyak Eges di luar sana yang tengah berjuang untuk hidup di jalanan.
Buku ini menarik, sangat menarik. Bagaimana cerita yang disuguhkan ditambah dengan gaya penulisan yang sederhana namun bermakna. Buku ini bisa dibaca sekali duduk.
Saya sangat suka bagaimana buku ini membawa perasaan hangat saat membacanya. Walaupun dengan akhir yang menurut saya sedikit tidak terduga.
Nemu buku bagus ini di iPusnas pas nyari buku lain, terus liat rekomendasi buku ini. Baca halaman awal ringan, tapi semakin ke belakang, makin kuat ngerasain perasaan sayang Ibu ke Eges. Disini di tulis kehidupan anak-anak di jalanan yang menakutkan, mereka manusia-manusia polos yang kuat dan berani. Untuk 100 halaman emang bisa banget dibaca sekali duduk.
3,5 bintang. Cara cerita kembangmanggis di novelet ini seperti orang nulis diari, walau tokoh naratornya bukan satu orang. Cerita yg simpel tentang kehidupan anak2 jalanan dan seorang ibu pengasuh rumah singgah yang mengayomi mereka. Tapi, tetap gak ada yg simpel saat membiarkan pikiran melaju ke sana sini mengiringi kisah anak2 ini.
Buku ini memiliki daya tarik yang berbeda dari buku-buku lain. Penulisan kalimat dan paragraf dalam buku ini dibentuk seperti bait-bait dan larik-larik pada puisi yang membuat para pembaca menilai buku ini seperti puisi. Kaidah kebahasaan yang dipakai dalam buku ini bercampur. Namun, penggunaan denotatif lebih ditonjolkan dibandingkan puitis dan perumpaan seperti burung-burung kecil yang membuat para pembaca tidak bosan saat membaca buku ini karena terkesan lebih indah.
Bukunya bagus untuk dibaca santai, untuk orang yang ingin memulai kembali membaca, pun cocok. dibaca sambil menunggu dan ngopi cantik juga tidak akan menyesal, karena tulisannya bagus. :)
Selama baca ini perasaan aku campur aduk. Gemas lihat tingkah laku Eges dkk, terharu dengan tulusnya kasih sayang Ibu, hingga tersentuh dengan keseharian mereka.
Membaca buku ini mengingatkan pada sinopsis Rumah Seribu Malaikat yang ditulis oleh Yuli Badawi dan Hermawan Aksan. Walaupun saya sendiri belum membaca buku tersebut, tetapi keduanya memiliki kemiripan, yaitu memiliki ketulusan hati untuk menampung anak-anak yang kehilangan kasih sayang.
Hanya saja, buku ini lebih bersifat fiksi, di mana terdapat tokoh yang dipanggil Ibu, yang bersedia memberikan tempat dan kasih sayangnya untuk anak-anak jalanan atau anak yang dititipkan oleh orang tuanya yang tidak mampu. Ibu yang memiliki lima rumah penampungan berusaha memenuhi segala kebutuhan ‘anak-anak’nya dengan segala keterbatasan dan bantuan donatur. Salah satu ‘anak’ yang teramat disayanginya adalah Eges.
Eges adalah bocah yang bercita-cita menjadi orang kaya yang bisa membuat ‘hujan’ duit. Sosoknya menjadi gambaran kehidupan jalanan dengan karakternya yang terkesan jumawa tapi tetap membutuhkan kasih sayang Ibu. Berbeda dengan bocah yang lain, Eges lebih cenderung memilih untuk tidak menetap di rumah singgah, hanya sekadar mampir ketika merindukan Ibu dan mengisi celengan.
Buku yang ditulis Kembangmanggis, nama pena dari Baby Ahnan ini, banyak berkisah tentang kehidupan jalanan dan rumah penampungan ini juga menunjukkan bagaimana Ibu ketika harus berhadapan dengan kenakalan anak-anak. Seperti ketika Ibu mengadakan sayembara menjaga jambu air tetangga untuk mensiasati kebiasaan mereka mengambil buah tersebut, atau ketika Ibu menunjukkan ketegasannya dalam menghadapi Udin yang kerap bermasalah.
Kisah Burung-burung Kecil merupakan naskah pemenang Sayembara Mengarang Novelet majalah FEMINA, tahun 1990, yang kala itu diketuai oleh Prof. Dr. Umar Kayam dan dikoordinir oleh Soekamto S.A. Sebagai pemenang, kisah dalam buku ini memang menawarkan sesuatu yang spesial di balik kesederhanaan alur cerita. Walaupun ceritanya anak jalanannya tidak segahar Daun di Atas Bantal, saya rasa cerita dalam buku ini sangat layak untuk dijadikan film yang sekiranya akan sangat menarik dan menggugah.
Ya benar.. Manusia terlahir memiliki otak untuk berfikir, memiliki hati agar bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk, dan memiliki tenaga untuk menjalankan keduanya.