“Nama kau Nurmas, itu nama yang indah sekali. Nur itu cahaya, mas atau emas itu logam mulia yang berharga. Aku harap, suatu saat cahaya dan kemuliaan kau akan menyatu, berkilauan."
***
Buku ini tentang Nurmas, si anak cahaya yang memiliki petualangan masa kecil yang penuh keceriaan dan menakjubkan. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Nurmas hingga penduduk seluruh kampung selalu mengingat kejadian yang membuatnya resmi dipanggil si anak cahaya?
Dari puluhan buku Tere Liye, serial buku ini adalah mahkotanya.
"Jangan mau jadi kritikus buku, tapi TIDAK pernah menulis buku."
"1000 komentar yang kita buat di dunia maya, tidak akan membuat kita naik pangkat menjadi penulis buku. Mulailah menulis buku, jangan habiskan waktu jadi komentator, mulailah jadi pelaku."
*bisa pinjam di bookabuku.com .. pakai referal code "nining2228" bwt dpt diskon 20%, saat pembayaran yaa.. =)
"hanya ada dua alasan yg menyebabkan seseorang memutuskan untuk pergi. pertama karena rasa cinta yg sedemikian besar, yg kedua karena rasa benci yg jg sedemikian besar." hal 110
ketawa ngakak pas di bagian cerita Nek Beriah Mencari Murid.. XD
dari awal tahu ada lanjutan Serial Mamak, entah kenapa firasat q sedih, takut buruk aja ending cerita'y.. tapiiii, ternyata Nurmas ituuu.. :O
ending'y bikin mengejutkan & bikin senyum" sendiri, kenapa ga kepikiran dari awal yaach.. :D
"Cerita tentang mengarungi dan mendaki keterbatasan. Stau dua dengan semangat dan ketekunan. Tiga empat dengan kegigihan dan kejujuran. Lima enam dengan keberanian dan ketulusan.... Berapapun dalam dan terjal keterbatasan yang harus di atasi, pastikan yang ketujuh adalah dengan keceriaan." (Hal. 1)
Membaca si Anak cahaya akan mengantarkn kita kembali ke ingatan masa-masa ketika kecil, khususnya sih diri sy sendiri. Seperti ketika Nurmas & teman2nya bermain, brtengkar, lalu kembali berbaikan, mandi di sungai, dan petualangan-petualangan ala anak kampung. Di tengah suasana negeri yg sedang berduka tp begitu banyak modus dr para politikus, maka buku ini hadir dgn jalan cerita sederhana tp sangat bermakna. Di tengah gempuran penggunaan gadget yg sangat sulit untuk dibatasi, buku ini hadir untuk mengajak pembaca agar mengajarkn kpd anaknya untuk menikmati masa kecilnya bersama teman-temannya melalui interaksi langsung.
Sy jg suka sekali dgn interaksi yg ditampilkan oleh keluarga Nurmas saat makan malam. Bapak, Mamak, Unus, & Nurmas selalu saling bercerita mengenai kegiatan masing-masing di hari tersebut, terlihat sederhana tp kebiasaan ini justru sangat bagus, salah satu kontrol keluarga terhadap kegiatan anaknya. Salut banget sih sm keikhlasan, kesabaran, & ketulusan yg ditampilkan oleh Bapak & Mamak dlm merawat anaknya, pantas saja Nurmas pun kemudian tumbuh menjadi orangtua yg dpt menghasilkan anak-anak brkarakter kuat (Eliana, Pukat, Burlian, dan Amalia).
Membaca buku ini harus sabar lhoo yaa, kalau tdk sabar nanti tdk sampai akhir. Tere Liye menyiapkn plot twist dibagian akhir, pembaca akan diajak cemas, takut, sedih, & gregetan. 😅
Setelah membaca empat buku serial anak mamak (Pukat, Burlian, Eliana, Amelia) tibalah di seri kelima yaitu tentang Mamak. Mamak yang bernama asli Nurmas seusai namanya benar-benar menjadi anak cahaya. Buku ini menceritakan masa kecil mamak. Banyak petuah baik di dalamnya dan cerita masa kecil yang bagi saya, beberapa mengingatkan pada pengalaman waktu masih SD. Plus ada satu bab yang bikin nangis, cerita apalagi kalau bukan tentang orang tua. Buat yang mungkin baru pertama baca seri buku Tere Liye yang serial anak ini, saya malahan menyarankan baca ini dulu, baru lanjut ke buku yang anak-anak mamak. Pokoknya, ngga nyese mengawali tantangan baca tahun ini dengan buku ini. Sangat menyenangkan.
Si Anak Cahaya adalah buku terbaru dari serial anak-anak mamak, serial ini sangat saya rekomendasikan untuk semua umur, di buku ini Tere Liye seperti biasanya selalu saja meninggalkan pesan yang sama seperti novel-novel sebelumnya, kesederhanaan, rendah hati, persahabatan, cinta orang tua, dan pesan lainnya.
Serial ini selalu saja membuat saya rindu suasana kampung halaman saya, beberapa karakter tokoh yang membuat saya teringat orang-orang di sekitar saya, ah rindu sekali.
Di zaman yang sangat modern sekarang, ketika anak-anak memilih untuk bermain game daripada bermain dan berlarian di gang-gang kecil, ketika remaja hanya sibuk menghabiskan waktu meminta gadget baru ke orang tuanya, ketika mahasiswa lebih memilih untuk tidak makan demi membeli barang online, ketika orang tua mulai tidak menggubris pertanyaan anak-anaknya demi sibuk membalas WA, maka kita butuh sekali membaca cerita sederhana di buku ini, cerita tentang anak-anak yang karakternya terbentuk karena didikan hebat mamak dan bapaknya, karakter yang terbentuk karena didikan guru sekolah dan guru mengajinya, karakter yang terbentuk oleh kejadian-kejadian yang mereka lewati saat masa kanak-kanak, maka butuh sekali kita membacanya.
bisabisanya gue ga tau kalo bang Tere nerbitin buku ini setengah tahun yg lalu wqwwqwqwq.
kisah khas "anakanak mamak", kehidupan kampung yg menyenangkan, ada segelintir cerita cinta pertama juga, persahabatan adalah tema utama yg ga akan pernah bisa dilepaskan dari kehidupan masa kecil. pas baca epilog nya rasanya syahdu banget.
akhirnya cerita si Mamak hadir juga. si Mamak yang membuat kampung bercahaya. secara alur tidak jauh beda dari cerita anak-anaknya. masih tetap enak dibaca dan memberi nasihat2 bagus
Novel ini menceritakan seorang anak perempuan bernama Nurmas. Ia merupakan anak pertama yang memiliki sifat tangguh. Dalam novel ini sangat mencerminkan bagaimana pentingnya pola pengasuhan orang tua pada anak. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dan banyak cerita jenaka yang dapat kita nikmati. Novel ini dapat menarik kita ke masa lalu untuk mengenang masa kanak kanak kita.
Bagian dari Serial Anak-Anak Mamak, hanya saja ini cerita tentang Mamak-nya. Nurmas. Kisah masa kecil Nurmas. Menurutku ceritanya lumayan, hanya saja dari segi konflik dan penggambaran karakter menurutku masih lebih bagus yang novel tentang anak-anaknya. Kisah sehari-harinya juga terlalu datar buatku, terlalu biasa. Karakter Nurmas sebagai kanak-kanak, ya seperti anak-anaknya juga kelak XD Aku bahkan lebih suka karakter Nurmas sebagai Mamak. Tapi ya... Itu tidak terlalu memengaruhi rating yang kuberikan sih.
Yang aku kurang suka dari novel serial yang dibuat Tere Liye, aku sering menemukan ketidak-konsistenan pada karakter, waktu, dan kejadian. Serial Bumi. Pulang-Pergi. Lalu Serial Anak-Anak Mamak. Hanya Negeri Para Bedebah dan sekuelnya yang tidak terlalu. Seringkali ini bikin aku geregetan, karena jadi membingungkan. Fakta-faktanya bertabrakan. Awalnya kupikir aku saja yang kurang paham. Tapi setelah kucermati, hmm, ternyata memang ada yang salah. Di novel ini kejadiannya paling parah, mungkin karena ada selang waktu cukup lama dengan novel Amelia-Burlian-Pukat-Eliana-nya. Itu saja sih. Semoga kedepannya kalau Tere Liye melanjutkan serial-serialnya, khususnya tentang kejadian dan waktunya yang terjadi di masa lalu diperhatikan lebih baik.
Overall, buku ini khas banget Tere Liye, bagus, dan recommended buat pembaca terutama anak-anak/ABG.
IT IS SO AMAZING BYE BYE BYE I LOVE JAMILAH THE MOST LIKE WHY IS SHE SO FUNNY???? I CRIED ALOT ALOT WHILE READING IT, ESPECIALLY ONCE I REACHED THE ENDING. HUHU 5 STARS FROM ME. yall must read this masterpiece at least once in a lifetime 😗
Jatuh cinta sama buku yg satu ini Tere liye membawa pembaca bermain ke zaman tahun 50 an, dijelaskan kondisinya seperti kalau belajar nulisnya masih pake sabak terus tere liye menyematkan keterkaitan sejarah yg sesuai dengan waktunya, seperti cerita komunisme yg memang sedang berkembang di era 50 an Saya pun tertarik dengan cerita 'kesehatan'nya yg kebetulan saya jg berlatar belakang kesehatan Dengan runutnya tere liye menjelaskan bahwa seorang dokter tidak bisa sembarangan mendiagnosa sebuah penyakit jika tidak dilakukan pemeriksaan secara lengkap, dan menggambarkan nurmas sebagai masyarakat awam yg menduga bahwa dapat mengobati hanya dengan cerita penyakitnya saja saya berharap banget bang tere nanti buat satu novel tentang dunia medis
ada satu hal yg bisa saya tebak saat membaca novel ini dulikas akan kembali mencari yahid ya, namun tidak berpikir dengan cara seperti itu menemukannya sedikit catatan, di bagian perjalanan nurmas mencari bantuan ke kota itu saya ngos ngos an bacanya, karena ga ada sekat untuk berhenti seperti dikejar kejar untuk kisah endingny saya ikut merasakan atmosfir penyelamatan kampung nurma
"menurutku dari semua bukunya Tere Liye yang ini adalah masterpiece nya" . 𝑰𝒅𝒆𝒏𝒕𝒊𝒕𝒂𝒔🌾
Judul: Si Anak Cahaya Penulis: Tere Liye Tebal: 421 halaman
𝑹𝒆𝒗𝒊𝒆𝒘🌾
Memang tidak banyak buku karya beliau yg aku baca, tapi aku bisa menyimpulkan bahwa ini yg paling keren. jadi buku ini bercerita tentang kesehariannya Nurmas dan kawan kawannya di Kampung, jadi bab babnya itu kayak kumpulan cerpen dengan orang yg sama, masalahnya berbeda beda. awalnya aku baca ini sampai separuh buku aku gk tahu cerita ini bakal dibawa kemana karena, seperti yg tadi aku bilang ini kayak kumpulan cerpen. tapi setelah 3 bab sebelum menuju ending barulah, 𝐵𝑜𝑜𝑚, terlihatlah benang merah ini semua. jadi cerita sebelumnya itu ternyata berkaitan dengan endingnya. aku cuman bisa menjelaskan sedikit tentang deskripsi buku ini karena yg tadi aku bilang, inti ceritanya ada di 3 bab menuju ending.
𝒀𝒂𝒏𝒈 𝑨𝒌𝒖 𝑺𝒖𝒌𝒂🌾
Narasi yang digunakan itu ringan banget, jadi kita bacanya ngalir terus, jadi gak perlu berhenti buat mikir apa maksudnya. Kita juga sebagai pembaca jadi seperti ada di cerita itu. Jujur aku waktu baca buku ini ngerasa kayak nonton film, karena narasinya yang enak banget.
Tokoh di sini kerasa hidup, jadi sama penulis kita diposisikan sebagai sang tokoh.
Latar disini dijelaskan dengan sangat baik. Cerita ini kan berlatarkan di tahun 1950-an, nah sama penulis itu di jelaskan dengan baik bagaimna suasana pada zaman itu, fasilitas saat itu.
dan satu lagi yang paling buat aku jatuh cinta, "endingnya". Mungkin ini bisa disebut plot twist kali ya, karena kita bener bener gak tahu ap yg bakal terjadi di ending. Dan 3 bab terakhir itu, kita bener bener gak dikasih waktu buat napas, tegang banget. dan pas ending itu bener bener plong kayak udah gak ada beban🤣
𝒀𝒂𝒏𝒈 𝑨𝒌𝒖 𝑲𝒖𝒓𝒂𝒏𝒈 𝑺𝒖𝒌𝒂🌾
kalau ngomongin yg kurang suka, mungkin aku bakal bilang ada beberapa bab yang gk ada kaitan sama inti cerita, tapi itu sebenrnya gk masalh malahan buat kita kangen kampung, wkwk
Cerita tentang bekerja keras dan berani mencoba hal-hal baru. Cerita ini benar-benar mengajarkan kami untuk selalu berani dalam menyikapi segala resiko yang kemungkinan akan datang untuk memberi pelajaran baru kepada kita. Ada banyak sekali hal-hal yang menarik dari cerita ini yang bisa dipetik. Hal-hal menarik dapat dilihat dari perspektif sejarah yang ada di cerita ini. Karena cerita ini mempunyai latar waktu di tahun 1950an, ada banyak sekali hal baru yang dapat kami ketahui seperti nilai uang di zaman dahulu yang mungkin kalau di lihat sekarang adalah nilai yang cukup murah tapi di zaman dulu, nilai tersebut mahal. Hal menarik yang lain adalah bagaimana karakter-karakter orang yang berbeda seperti mempercayai takhayul, membunyikan kentongan untuk memperingati jika ada sesuatu yang salah.
Tetapi di lain sisi, cerita ini juga mengajarkan kami bagaimana cara kita bersyukur atas kehidupan yang telah kita miliki. Kehidupan itu benar-benar indah jika kami mempunyai banyak orang baik dan juga orang-orang yang benar di sekitar kita. Contohnya seperti lingkungan sosial Nurmas sangatlah sehat karena teman-temannya baik. Ada juga temannya yaitu Jamilah yang mempercayai Takhayul dan akhirnya ditegor oleh Nurmas dan setelah itu Jamilah dapat menghasilkan perspektif baru terhadap apa yang ia percaya. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam hidup karena ada banyak sekali hiburan. Hiburan-hiburan tersebut lah yang dapat kita luangkan selama hidup. Buku ini overall sangatlah bagus dan bermanfaat.
“Buku-buku yang kita baca, orang-orang yang kita dengarkan, perkumpulan yang kita ikuti, akan membentuk perangai kita hingga tega melakukan apa pun.” - Bapak
First of all, I have no regret buying this book. The cover got my attention the most so basically this book was chosen based on its skin. It is my first literature from Tere Liye and I gotta admit that his writing is beautiful. Nothing drives me mad except trying to understand certain words that I don't familiar with. But that ain't really a big deal since I can google up the meaning of the words or simply ask my Indonesian squads. Everything else is just fine.
I finish the book with a content heart! The story truly reminds me of my childhood and my best friends. Except that I am no heroic like Nurmas and my best friends and I never go to farms together. Their friendship is what I would say to-die-for cause they stick together like glue and always there for each other through thick and thin. My favourite scenes in the book are definitely when four of them do things together because I can imagine the exciting moments they had especially when they are all silly and funny. Their traits are way so similar to my best friends and I can relate to each one of them!
I love that the content of the book is load with moral values and it all starts with Nurmas. From honesty to loyalty to braveness to being grateful for little things and more. It's what I currently need in my life right now. Not saying I'm lack of those traits but I am in need of something to knock me so I can appreciate life better. Not everyone sees the little things as something to be cherished and some only focus only the huge and grand things thus this book will make you realize that living a moderate life is also a blessing.
Impressive enough how the author trying to connect the wise point to each scene which automatically making Nurmas as the best girl in town. Yeah, it seems overrated but it has to be her since the book is about her journey. Everyone admires her and it's hilarious when her best friends' parents keep on saying "apa pun yang dilakukan anak gadisnya Yahid, ikuti. biar kalian bisa belajar" every single time when they want to follow whatever Nurmas is doing. They even willingly to accompany Nurmas in everything.
When it comes to family issue, I gotta say there are few parts that literally makes me shed tears. Her family bonding is strong enough that it could break a stone. The moment when her parents said she will always be the special daughter in the house despite the newborn of her little brother really touched me. Well we all know parents who only love 4 out of their 5 children. I really dont understand when someone has to be a black sheep in a family. Why cant they love their children equally?
Reading this book feels like reading 5 books at the same time. The plot is still moving on the same track but you get to experience a myriad journey with Nurmas which finally build her character up until she is deserved and entitled to be called as Si Anak Cahaya. Hilarious, meaningful and such a page turner. When I say hilarious, I really mean it. Tere really knows how to joke around and tickle his reader!
Awalnya, Penulis mengira novel ini akan sedikit lebih baik dari Si Anak Badai. Ternyata tidak. Novel ini sama mengecewakannya. Ada beberapa hal yang menjadi alasannya.
Pertama, latar tempat dan waktunya kurang terlalu kuat. Selama membaca, sama sekali tidak terasa kesan tahun 50-annya kecuali ketika ada istilah-istilah jadul yang disisipkan dan adanya orang-orang Belanda yang bertahan di Indonesia.
Selain itu, suasana kampung yang terpencil juga sangat lemah. Masa anak-anak SD sudah mengenal Chairil Anwar dan tujuh keajaiban dunia? Diajari oleh gurunya yang cuma satu orang itu?
Omong-omong soal anak SD, entah mengapa anak SD di serial anak Tere Liye ini terlihat sangat intelek. Tata bahasanya sangat bagus, pengetahuan luas, pemilihan kosa katanya cukup luas.
Adanya bagian kurang penting (seperti filler di serial anime) juga kembali muncul. Jika bab-bab tersebut dihilangkan, niscaya sama sekali tidak berpengaruh ke alur cerita.
Bagian akhirnya? Konsepnya tetap sama, anak SD melakukan hal luar biasa hingga muncul keajaiban. Perjalanan melalui hutan di malam hari, lantas tanpa sengaja bertemu dengan kenalan yang masuk tentara, klise sekali.
Di sini, Tere Liye juga menggambarkan kebrutalan Komunisme. Penulis sama sekali tidak keberatan, mengingat Penulis juga membaca novel-novel yang memperlihatkan kebrutalan Orde Baru dalam memberantas Komunisme.
Hanya saja, Tere Liye menggambarkan mereka sebagai orang yang haus darah dan tidak berpikir panjang (baca: tolol). Padahal, kenyataannya mereka bisa bergerak secara sistematik dan halus sehingga mampu meraih popularitas tinggi.
Jujur, Penulis kesulitan untuk menemukan kelebihan novel ini. Mungkin sama seperti serial anak lainnya, ada banyak pesan moral (yang sedikit basi) dari novel ini.
Setelah membaca novel ini, Penulis mulai mempertimbangkan untuk berhenti membeli novel-novel karangan Tere Liye.
Note: Kenyataannya, Penulis tetap membeli novel terbaru Tere Liye, yakni Selena dan Nebula. Untungnya, kedua novel tersebut memiliki alur cerita yang jauh lebih baik.
Setelah cukup lama bersabar untuk khilaf buku ini, akhirnya kebeli juga. Si Anak Cahaya, salah satu dari serial Anak-anak Nusantara yang ditulis Tere Liye, kembali mengulas tentang kehidupan seorang anak kecil yang polos, lugu, namun memiliki prinsip hidup yang mengagumkan. Setelah sebelumnya mengulas dari sudut pandang keempat anak-anaknya (Amelia, Burlian, Pukat, dan Eliana), kali ini Tere Liye mengambil sudut pandang Ibunya semasa kecil, Nurmas.
Kalo kalian sudah membaca Pukat (sekarang berjudul si Anak Pintar) atau Eliana (juga ganti jadi si Anak Pemberani), kalian pasti bisa menebak ke mana arah buku ini. Yep, tentang potongan lengkap mengapa Mamak membuat seisi kampungnya bercahaya.
Berlatar belakang pada awal kemerdekaan, buku ini kembali mengulas tentang prinsip-prinsip baik yang dibalut dengan kepolosan khas anak-anak. Tentang bagaimana orang dulu percaya takhayul. Juga sedikit mengulas tentang gerakan bersejarah, Jong Sumatera atau semacamnya.
Namun, ada beberapa hal yang sangat disayangkan dari buku ini. Terlepas dari beberapa Typo—salah satu yang krusial adalah salah menyebut Pak Zen dengan Pak Bin di bab "Menghitung Karung Goni"—terdapat beberapa detail yang berlawanan dengan seri sebelumnya.
Namun, detil di atas tidak terlalu berpengaruh terhadap jalan cerita. Karena memang, meskipun kelima buku ini merupakan serial, setiap buku berdiri sendiri, bisa dibaca yang mana saja tanpa perlu membaca buku lain.
Terlepas dari kekurangan tadi, Buku ini tetap sangat seru dan cocok dibaca. Sekali-kali, bisalah, kita berkontemplasi lewat bacaan ringan seperti ini.
Buku ini adalah buku yang sangat membuat saya terinspirasi. dari kehidupan Nurmas yang sangat mencerminkan kehidupan yang dipandang sebelah mata awalnya tetapi berujung dengan anak yang dipandang lebih dan lebih. Nurmas dipandang sangat pintar dan sangat berwibawa dia menjadi anak yang sangat dipercaya. Buku ini menjadi buku yang mendukung saya untuk bisa melihat orang dari sudut pandang yang lain. Buku ini memberi saya inspirasi yang lebih tentang wanita atau pahlawan wanita. Tidak bisa di pungkiri bahwa Nurmas menjadi orang yang selalu di padang dan juga di percaya dengan segala kekuatannya Nurmas menjadi anak yang bercahaya. Walaupun Nurmas dihina dan di maki oleh si Badrun S Nurmas menjadi anak yang lebih kuat dan tangguh. semua tantangan dihadapi dengan sangat tangguh. Nurmas menjadi sangat kuat dan tidak takut untuk mengambil risiko yang tinggi.
Semua rintangan yang dihadapi oleh Nurmas selalu menjadi rintangan yang beresiko tinggi dan tidak mudah untuk dilewatkan. Seperti di bagian dimana ia menantang untuk menenangkan Kibo yang berontak di kota dan menghancurkan semua dagangan. Nurmas dengan beraninya ia menantang dan menenangkan Kibo. Buku ini juga berbicara tentang makna yang tersirat. Dengan berjalannya cerita sampai akhir menjadi cerita yang memiliki banyak makna yang tersirat. makna itu menjadi salah satu hal yang cukup membuat kita sadar. seperti dimana kita harus bisa menantang risiko apa pun itu dan juga jangan pandang orang dari jenis kelaminnya tetapi padang lah mereka dari kekuatan mereka yang mereka miliki. mereka adalah orang yang memiliki kekuatannya masing masing. Nurmas menjadi salah satu contoh yang paling kuat dalam cerita dimana ia menjadi anak yang pantang menyerah dan berani menghadapi risiko yang berat buat dirinya. seperti kisah saat ia berinisiatif untuk menjaga ladang dan tetap mau menjaga ladang. bahkan merek Nurmas melihat harimau buas dan juga babi hutan yang sangar.
Si Anak Cahaya merupakan sebuah novel anak yang terdiri dari beberapa judul dengan potongan cerita yang saling berkaitan. Cerita yang tersaji berupa aktivitas masyarakat dalam kehidupan sehari-hari yaitu bekerja di ladang, menganyam daun pandan, sekolah, berdagang, menarik gerobak kerbau, dan masa paceklik.
Penulis juga menyajikan permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat yaitu pemberontakan dari orang-orang yang mengingkari keberadaan Tuhan dan janji manis pemerintah terhadap masyarakat di kampung. Tentang masyarakat yang menyekutukan Tuhan dengan percaya kepada dukun dan jimat.
Permasalahan dibidang pendidikan yaitu hanya memiliki satu guru yang mengajar semua kelas (1-6) secara bergantian, sedangkan dibidang kesehatan yaitu tidak adanya bidan dan dokter di kampung tersebut. Sehingga persalinan dibantu oleh Nek Beriah si dukun beranak dan Datuk Sunyan yang dianggap dapat memberikan kesembuhan melalui jimat.
Mamak dan Bapak yang selalu berusaha memberikan rasa cinta dan kasih sayang kepada kedua anaknya, Nurmas dan Unus. Segala cara dilakukan oleh beliau, demi melindungi dan melihat anaknya bahagia. Mamak membalurkan bawang merah yang telah dihaluskan pada tubuh Unus. Ramuan tradisional ini sering dipakai Ibu saya ketika anak-anaknya demam. Biasanya bawang merah diiris atau dihaluskan lalu dicampur dengan minyak kelapa. Apakah kalian juga menggunakan ramuan ini saat demam?
Novel yang sangat menarik. Terdapat pantun dan peribahasa yang dapat menambah wawasan pembaca, serta pesan moral yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Sangat direkomendasikan dibaca oleh anak-anak mulai usia enam tahun dan masih sangat cocok dibaca semua kalangan (remaja, dewasa, orangtua).
"... Yang aku tahu persis, bila dua teman sedang marahan, salah paham, jika besok lusa mereka berbaikan, mereka akan menjadi semakin dekat dan saling memahami..." - Dokter Van Arken.
Ini kata-kata yang paling membekas, dari segalanya, dari buku Si Anak Cahaya. Dan aku secara yakin bisa kasih 4.9/5 untuk buku ini🌟🌟🌟🌟❗
Sebelumnya—
Siapa yang ngira ini buku Mamaknya Si Amel, Pukat, Burlian, sama Eli? Siapa heh??? 🙂🙂🙂
Tapi wajar sih, anak-anaknya saja semuanya brilian, pasti mamaknya juga tak kalah hebat. Lalu pantas saja Pak Zen, guru sekolah Nung, sangat amat mengingatkan pada guru sekolahnya Amelia. Kalau dipikir-pikir dan diingat-ingat, Unus itu pamannya Amel yang suka ngajak ke hutan itu kan ya? Ya ampun, di sini masih bocah😭😭😭 Lupa banget, serius. Oke, oke cukup flashbacknya. Kita mulai ya reviewnya.
Si Anak Cahaya menceritakan tentang seorang anak bernama Nurmas, biasa dipanggil Nung, dan kesehariannya. Nung ini anaknya cerdas, pemberani, kuat, dan selalu ingin tahu—kalau sudah ingin tahu, nggak ada yang bisa menghalangi tekadnya untuk mencari tahu. (Ini persis menggambarkan empat anaknya woi😭😭). Banyak hal yang terjadi di hidupnya Nung, kesan pertama aku itu, rame kali lah hidup Si Nung ini. Ada Kibo si Kerbau, ada Datuk Sunyan si dukun sakti, 3 orang teman yang seneng banget ngolok-ngolok Nung, harimau, bahkan babi hutan. Eh tambahan, ada Si Dulikas juga di akhir cerita. Dia itu kayak cherry on topnya cerita Nung, hal yang bikin Nung bersinar tapi juga pahit di saat yang bersamaan soalnya dia nyebelin laaah.
Banyak, cukup banyak hal yang dapat diambil dari cerita Nung. Cerita ini bikin tegang, sedih, lebih banyak serunya dan bikin ketawa, bikin terharu juga di akhir. Bacaan ringan, dengan ending yang memuaskan. Plotnya juga nggak terduga, apalagi plot armornya. Seperti biasa, andalannya Tere Liye memang
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel tersebut mengambil latar pada tahun 1950an, ketika Indonesia baru meraih kemerdekaannya. Latar tersebut digunakan sebagai basis cerita yang kemudian dikaitkan dengan beberapa peristiwa yang di alami oleh sang karakter utama. Cerita tersebut melandasi konsep sosial yang sangat tinggi. Dimana novel tersebut menjelaskan mengenai kehidupan sosial masyarakat sangatlah berpengaruh terhadap kehidupan diri sendiri. Dalam konsep sosiologi, manusia disebut makhluk sosial yang mana manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari individu selalu melakukan hubungan atau interaksi sosial dengan orang lain atau kelompok-kelompok tertentu yang terdapat di lingkungan yang terdapat dalam novel tersebut. Seperti, novel karya Tere Liye yang lainnya, terdapat beberapa pembelajaran yang bisa dipetik dan diambil dari setiap peristiwa yang dialami tokoh utama. Dalam novel Si anak cahaya karya Tere Liye, dapat dilihat gambaran nilai pendidikan karakter. Tidak hanya nilai peduli sosial, tetapi nilai pendidikan karakter lain juga terdapat dalam novel Si anak cahaya. Seperti, religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, rasa ingin tahu, demokratis, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, , peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Terdapat nilai lain yang terkandung di dalam novel tersebut. Tentu saja, semua pembelajaran tersebut tersirat dari setiap kejadian. Maka dari itu, dapat di simpulkan bahwa sebagai serial anak, buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh anak-anak serta remaja.Serta cerita ini memiliki nilai pendidikan yang sangat relevan. Pembaca pun tidak akan merasa bosan ketika membaca cerita tersebut di karenakan alur yang menarik untuk di ikuti.
si anak cahaya merupakan cerita kehidupan dan seru nya petualangan seorang gadis bernama Nurmas atau yang biasa dipanggil Nung. Mulai dari keasikannya di halaman kampung hingga cobaan-cobaan yang harus dilalui sehari-hari. Setiap buku novel memiliki alur cerita yang berbeda. Ada pula beberapa buku novel yang memiliki alur yang mirip dengan sentuhan khas nya sendiri. Namun, satu hal yang selalu terkandung dalam kisah-kisah cerita pendek maupun novel adalah nilai-nilai moralitas dan amanat yang ingin disampaikan penulis kepada para pembaca secara tidak langsung. Nilai-nilai tersebut menjadi pesan bagi pembaca untuk mengikuti hal-hal positif yang digambarkan dalam cerita. Sama hal nya dengan apa yang ingin diucapkan Tere Liye secara tidak langsung, disalurkan dalam aliran cerita novel-novelnya. Buku “Si Anak Cahaya” merupakan salah satu karya terbaik Tere Liye yang mengandung kisah inspiratif untuk kaum muda seperti saya.
Semua nasib buruk yang dilalui Bang Topa semata-mata untuk mengajarkan kepada kita bahwa amarah besar tidak akan menyelesaikan masalah sekecil dan sebesar apapun.Tak lupa untuk diingat, persahabatan Nung dan ketiga sahabatnya Siti, Rukayah, dan Jamilah merupakan bentuk relasi pertemanan yang baik dan positif. Sifat badrun yang akhirnya mengakui kesalahn-kesalahannya merupakan tamparan agar kita mengikuti sifat bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan dan perbuat. Novel Si Anak Cahaya merupakan kisah yang menarik untuk dibaca, namun, ada beberapa hal yang harus diperbaiki, seperti mengurangi visualisasi yang terlalu banyak karena membuat pembaca sulit mengikuti alur cerita. Namun disamping semua itu, cerita ini menyisihkan moral yang baik, dan sangat saya rekomendasikan untuk dibaca.
Komentar Terhadap Novel “Si Anak Cahaya” Didalam novel ini, terdapat hal yang menarik. Tidak hanya menarik, hal tersebut juga sangat berhubungan erat dengan keseharian kita. “Nama kau Nurmas, itu nama yang indah sekali. Nur itu cahaya, mas atau emas itu logam mulia yang berharga. Aku harap, suatu saat nanti cahaya dan kemilauan kau akan menyatu, berkilau.”, yang terdapat pada bab 1 “Seleksi Tentara” dan halaman 17. Bagi saya, itu sangat menarik karena sebuah nama memiliki arti yang sangat bermakna yang diberikan oleh kedua orang tua kita. Hal tersebut terjadi oleh Bapak dan Mamak yang memberikan nama anaknya Nurmas. Dalam suatu pembacaan novel, terdapat sudut pandang yang berbeda-beda saat menanggapi apa isi bacaan yang diberikan oleh penulis. Kelebihan dan kekurangan pun muncul. Kelebihan dari novel ini adalah menjelaskan latar-per-latar dengan sangat detail. Mulai dari perkenalan antar tokoh, menjelaskan suasana dan kondisi latar, dan konflik atau permasalahan menuju konflik. Tidak hanya itu, penulis novel ini menggunakan kata yang mudah dimengerti dan mudah dipahami sebagai orang awam serta menyertakan sub-bab disetiap pergantian topik. Sedangkan kekurangan dari novel ini adalah cover buku yang kurang menarik untuk membuat pembaca membeli buku ini tetapi memiliki makna yang sangat kental dengan kilauan cahaya. Saat para pembaca membeli buku ini, novel ini memiliki manfaat dan dampak yang baik. Seperti adanya unsur kehidupan, saling berbagi, saling memaafkan, kekeluargaan, pertemanan, dan asih banyak lagi. Terakhir, tanggapan saya terhadap novel “Si Anak Cahaya” ini adalah novel, ini sangat direkomendasikan untuk para pembaca karena terkandung berbagai nilai-nilai kehidupan yang bermakna.
Kembali lagi Tere Liye dengan buku yang amat memuaskan. "Si Anak Cahaya" merupakan buku kelima dari serial anak nusantara, yang kali ini menceritakan tentang petualangan Mamak. Mamak yang ternyata diberi nama asli Nurmas sesungguhnya menyinari cahaya pada kampungnya. Terdapat berbagai macam petualangan Nung yang seru dan membuat pembaca pensaran akan apa yang terjadi selanjutnya. Tere Liye amat mahir dengan pengaturan kata dan diksi yang digunakan oleh beliau. Novel tersebut terdapat juga pesan moral yang tersirat maupun tersurat, seperti kasih sayang kedua orangtua kepada anaknya atau pertanggung jawaban merupakan keterampilan yang penting. Tentunya amanat-amanat tersebut sangatlah dibutuhkan bagi para pemuda penerus bangsa Indoensia selanjutnya.
Cerita ini memiliki berbagai macam skenario dimana latar suasana merupakan tegang maupun menyemangatkan. Novel ini juga mempunyai latar belakang yang cukup unik, yaitu pada tahun 1950. Tere Liye sangatlah cerdas dengan penggunaan katanya, yang membuat pembaca merasa bahwa mereka masih berada di masa lalu. Salah satu contoh penggunaan kalimat beliau yang amat mengenaskan adalah "Bagi negeri yang baru lahir, setelah sekian ratus tahun dijajah, keterbatasan adalah keniscayaan. Beragam bentuk keterbatasan itu ada yang seperti aliran sungai yang deras dan dalam, ada yang seperti gunung yang tunggi dan terjal. Tentu saja, apa pun bentuknya, keterbatasan itu harus diatasi agar tidak menjadi penghambat bagi semua cita-cita anak negeri." (Halaman 1).
Tere Liye berhasil menulis buku yang tentunya memiliki amanat yang berlaku pada generasi muda zaman kini. Tidak Hanya amanat, Tere Liye mengajarkan juga konsep agama dalam novel tersebut, yang membantu menunjukkan jalan yang benar bagi pemuda-pemudi Indonesia, jalan ke arah cahaya.
Buku Si Anak Cahaya ini adalah buku yang menceritakan mengenai kehiduapn seorang anak diperkampungan dengan keluarga dan teman-temannya. buku ini memberikan banyak sekali pelajaran dan juga kisah yang menarik dari cerita "Si Anak Cahaya" ini karya Tere Liye salah satu penulis ternama di Indonesia. Buku ini menampilkan banyak sekali hal-hal yang kita dapat pelajari dan amati karena walaupun cerita ini berada di tahun 1900an kita dapat menghubungi hal-hal yang terjadi dari cerita ini ke hidupan sekarang. Maka dari itu buku ini adalah salah satu buku yang menarik untuk dibaca. Selain dari itu buku ini juga memberikan banyak sekali momen-momen seru saat kita membacanya. Seperti pertualangan si Nurmas dengan teman-temannya, pengalaman Nung saat ingin pergi ke Kabupaten, dan lain lain.
Buku ini juga mempunyai lanjutan dari Nurmas dimana ada empat buku lagi yang dibuat mengenai anak-anaknya Nurmas yaitu Pukat, Berliana, Eliana, Amelia. Cerita ini juga menceritakan bagaimana julukan si Anak Cahaya ini diberikan ke Nurmas. menurut saya buku ini sudah memberikan banyak sekali hal-hal positif yang terpapar dalam cerita sekaligus dapat dihubungkan dengan kehidupan kita. Buku ini juga mengajarkan kita sebagaimana orang-orang pada zaman dahulu bertindak sesudah kemerdekaan, dan juga bagaimana kehidupan orang-orang pada zaman 1900an. hal yang menarik dimana dari perkampungan ke kabupaten menggunakan binatang untuk menarik grobak yang akan dinaiki oleh warga. Cerita ini juga terdapat banyak sekali hal-hal yang sedang beredar di dunia maya seperti beredarnya hoax. Tetapi sayangnya cerita ini terdapat alur yang kurang teratur. Tetapi dari keseluruhan cerita ini sangat menarik untuk dibaca sehingga saya giat untuk membacanya sampai selesai!
1. Mula-mula aku baca buku ni aku ingatkan takde kena mengena dengan 4 buku-buku sebelum ni. Sampai bab kedua aku memang takde idea Nurmas ni budak mana. Baca punya baca baru la aku tahu yang buku ni kisah Mamak kepada 4 orang anak tu.
2. Dalam buku ni, pengorbanan & ketabahan seorang Nurmas ni diketengahkan sebab ada dalam bab-bab yang menceritakan tentang tu. Korang baca la, hehe. Ada juga tentang kepayahan hidup zaman Belanda dulu pun diselitkan dalam ni. Propaganda dekat Indonesia tu macam mana.
3. Selain tu, jalan cerita atau kehidupan Nurmas dengan keluarga dan kawan-kawan tu buat aku tak stress membaca. Kisah yang berlatarkan kehidupan kampung di kawasan pedalaman, ada sungai, bukit-bukau jadi secara tak langsung kita akan terbayang benda tu.
4. Ya, buku ni semestinya guna bahasa Indonesia. Yang tu korang tak payah risau sebab lama-lama nanti dah terbiasa. Mula-mula aku pun sama, struggle nak faham apa maksud sesetengah perkataan tu, masa tu memang kena google. Tapi lepas lebih 10 buku Tere Liye ni aku duk baca, dah jadi terbiasa. Bagus sebenarnya baca buku-buku luar ni sebab kosa kata kita bertambah.
5. Dari buku satu sampai yang ni, penulis memang highlightkan pengorbanan seorang ibu. Buku ni kisah anak, semestinya setiap anak tu akan ada rasa yang tak puas hati dengan ibu bapa sendiri. Bagi aku memang patut pun penulis ni letak satu bab yang macam ni supaya kita dapat sedar & tahu tentang pengorbanan ibu bapa kita. Kadang-kadang kita tak faham kenapa jadi macam tu kenapa macam ni tapi sebenarnya semua berbalik kepada seorang ibu dan bapa tu nak yang terbaik untuk anak mereka.
6. Jadi korang baca la ya siri anak Tere Liye ni. Selamat membaca.
pas tau kalau karakter utama dari buku Si Anak Cahaya ini adalah Nurmas alias mamak dari Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia, aku jadi semangat bacanya. it looks more interesting soalnya beberapa kali juga dimention di buku anak anaknya kalau mamak mereka ini pernah berbuat suatu kebaikan yg sangat baik di kampungnya sehingga kampung terasa bercahaya akan itu. aku kira bakal diceritain di buku anak anaknya but ternyata dijadiin buku tersendiri, and IM SO EXCITED ABOUT IT!!
menurut aku, bukunya lebih lebih seru lagi dari buku anak anaknya, mungkin karena aku lebih penasaran sm kisah hidup mamak yg galak hehehe :D tapi emang serrrruuu, apalagi sesuai cerita yang berlatarbelakang jaman dulu jadi di awal diceritain bahwa masih ada warga kampung yang percaya takhayul. cerita si puyang selalu seru dan bikin tegang.
terus ada kehadiran Badrun S, S nya misterius jadi teman teman Nung—Jamilah, Siti, Rukayah—suka manggilnya “Si Sedih” atau “Si Susah”. sedangkan Badrun ini suka manggil Nung dengan sebutan “Anak Sok”. pokoknya ini jadi bagian terpenting hidup Nung deh xixixixi (aku yg sudah ngeh dari awal be like: ( ´◡‿ゝ◡`))
ga lupa juga di sini diceritain seberapa besar cinta para orang tua untuk anaknya yang selalu buat aku terharu.
terus soal alasan mengapa Nung disebut Si Anak Cahaya. selain karna arti namanya, ternyata karna perbuatan dan perjuangannya Nung sendiri lah yang betul betul betul keren untuk kampung. aku pas baca part itu ikut degdegan and it feels like aku sendiri yang ada di sana. sampe aku merasa terharu karna perjuangan Nung yang besar.
pokoknya semua cerita dalam buku ini seruuu, juga jadi tau darimana kepandaian, keberanian, kespesialan, kekuatan para anak mamak.
Selamat berkenalan dengan Kakek Yahid dan Nenek Qaf—versi muda, yang Nurmas panggil dengan Bapak dan Mamak. Selamat berkenalan dengan Jamilah, Rukayah, dan Siti—empat sahabat Nurmas yang selalu kompak. Selamat berkenalan dengan Pak Zen—guru satu-satunya di Sekolah Rakyat kampung Nurmas, ayah dari pak Bin—yang kelak menjadi guru dari Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia. Dan, selamat berkenalan juga dengan Badrun S—yang tidak mau memberitahukan apa kepanjangan dari S-nya, sampai-sampai Jamilah memanggilnya si Susah dan Siti menyebutnya si Sedih.
Membaca buku Mamak nggak jauh beda seperti membaca buku anak-anaknya. Penjelasan tentang pemahaman-pemahaman baik, yang diceritakan lewat hal-hal yang sederhana. Tentang kebijaksanaan, kebaikan, hati yang teguh, juga tentang keyakinan dan kepercayaan. Apalagi di masa-masa awal kemerdekaan, dimana masa-masa itu kehidupan masih sulit, paceklik, ditambah penyebaran keyakinan seperti komunis sedang gencar-gencarnya.
Lagi-lagi, Tere Liye menceritakan pemahaman-pemahaman baik itu dengan sederhana. Yah, walau harus saya akui, lagi-lagi saya harus cemberut karena beberapa detail yang diceritakan di buku ini beda seperti di buku sebelumnya—nanti-nanti kalian akan tahu kalau sudah baca buku ini dan baca ulang buku sebelumnya. Tapi untuk ukuran buku yang baru saya baca satu tahun setelah saya membelinya (hahaha), buku ini cukup untuk tidak dibilang mengecewakan. Terasa lebih padu alur ceritanya dibanding buku-buku Anak Mamak sebelumnya.
Pssst, spoiler dikit: di Epilog, kalian akan menemukan prosesi pernikahan Mamak Nung dan Bapak :)
Novel Si Anak Cahaya ini ditulis oleh Tere Liye dan diterbitkan pada tahun 2018, punyaku ini cetakan ketiga, Agustus 2019, dan diterbitkan oleh Republika Penerbit. Novel Si Anak Cahaya ini menceritakan seorang anak perempuan bernama Nurmas, julukannya si anak cahaya (Nur artinya cahaya, mas dari emas, logam mulia berharga) dan petualangan masa kecilnya yang keren, mengagumkan, mendebarkan, dan menyenangkan. Novel ini juga menceritakan masa kecil Nurmas hingga menikah.
Alur novel ini maju, tapi ada beberapa bab yang mundur (waktu menceritakan masa lalu Yahid, bapaknya Nurmas. Juga waktu menceritakan bagaimana Bapak dan Mamak Nurmas bertemu hingga menikah dan punya anak). Seperti novel-novel Tere Liye yang lain, tentu saja berkaitan dengan sejarah Indonesia. Oh iya, Nurmas/ Si Anak Cahaya ini adalah Mamak (Ibu) dari 4 anak, yaitu Eliana, Pukat, Burlian, dan Amelia (kalau sekarang judulnya Si Anak Pemberani, Si Anak Pintar, Si Anak Spesial, dan Si Anak Kuat). Jadi, akan lebih terasa nyambung kalau sudah membaca semua buku 4 anak itu. Menurutku ada sedikit typo, seperti kata "edikit" harusnya "sedikit".
Ada beberapa kalimat bagus, seperti: - "Kau tahu, rasa cinta itu adalah perisai yang kuat." Bapak (dalam Liye, T. 2019, hal. 159) - "Rezeki datang bukan hanya dari keuntungan berjualan, Nung. Masih banyak pintu rezeki lain." Mamak (dalam Liye, T. 2019, hal. 286) - "Berdagang adalah cara cepat mendapatkan uang." Kakek Berahim (dalam Liye, T. 2019, hal. 302)
Novel ini kurekomendasikan kepada teman-teman yang menyukai genre slice of life (yang menceritakan tentang kehidupan).