"Ashley terlahir dengan sebelah tangan berkulit merah, dengan urat-urat yang menonjol dan kuku-kuku hitam yang menakutkan. Setelah dua puluh dua tahun ia dan keluarganya menutup diri dari dunia yang menolaknya, Ashley berkali-kali menyaksikan penampakan yang datang seperti mimpi buruk. Suatu hari ia bertemu Christine, gadis yang hampir identik dengannya. Ia terusik ketika mengetahui Christine terobsesi melukis hal-hal yang sering dilihatnya dalam mimpi. Terlebih lagi saat ia melihat foto mendiang ibu Christine yang memiliki tato misterius di leher, dan sebuah buku bertuliskan kata-kata yang juga sering ia dengar dalam mimpi. Ashley yakin ada sesuatu yang bisa menjawab tanda tanya besar di benaknya selama ini. Dan Christine bisa jadi jawabannya."
Sebenernya ide buku ini cukup bagus tp pengeksekusian ceritanya menurutku terlalu cepat. Penjelasan latar belakang mengenai orang tua christine dan chrystal bisa dibuat mendetail lagi. Rasa emosi yang ada di buku ini jg nggak terlalu terasa.
3 bintang. i picked this book because of 1) the cover 2) the blurb 3) the price haha
but really, the cover is very very simple yet speaks a lot about what the story inside is all about. judulnya juga sangat straightforward, ngga neko-neko. kayaknya Bhuana Sastra emang cover novelnya bagus-bagus ya? minimalis tapi cakep gitu. ini ilustrasi tangannya juga bagus, sangat menggambarkan tangan yang diceritakan. entah kenapa di tengah tumpukan novel lain, novel ini jadi stand out di mata saya gara-gara cover-nya. warnanya yang kalem juga enak dipandang. suka banget, deh, serius. mana pas dibalik, blurb-nya juga minimalis, singkat, tapi mewakili isi cerita.
naaah soal isi cerita itu sendiri, emang ditulisnya sengaja dengan narasi-narasi pendek, ya? saya ngerti sih kalau kayak gitu. mungkin penulis emang pengen nyeritain kisah Ashley dengan gaya yang seperti ini. rasanya kayak missing out so many details sih, tapi narasi-narasinya itu sendiri walau pendek-pendek alhamdulillah tetep menggambarkan banyak hal dengan cukup baik, jadi efektif dan tetep ngalir gitu.
ide ceritanya ngga baru-baru amat ya terutama buat penikmat horor/thriller, tapi saya menikmati banget kisah Ashley dan keluarganya. misterinya lumayan page turning walau mungkin di beberapa titik mudah ketebak. saya lebih ke menikmati dinamika interpersonal tokoh-tokohnya sih, jadi ngga terlalu keberatan dengan alurnya (i kind of like the characters a bit too much?? mereka yang paling berkesan buat saya dari cerita ini, nomor dua setelah lika-liku kisah tangan Ashley. mereka mengajarkan penerimaan dan pengertian yang tulus). cuma emang mestinya banyak yang bisa dikembangin lagi terutama tentang Ashley yang membintangi film adaptasi novelnya sendiri. i mean itu film setingkat Hollywood dan Ashley gaada latar belakang apa-apa di bidang akting. mestinya setidaknya disebutin lah Ashley latihan akting, ngga cuma sekadar latihan adegan dan ngafalin skenario :')
terus ada bagian yang kayaknya di-delete tapi luput dari revisi, yaitu pas Ashley ngusir Chris dan Chrys dengan tangannya yang keluar apinya. itu disebutin di halaman 136, tapi di scene pengusiran itu sendiri Ashley cuma marah-marah lalu nangis tersedu-sedan. selain itu tata kalimat penulis juga mungkin perlu dilatih lagi. ada yang subjeknya ngga jelas, kayak lompat dari kalimat sebelumnya. ini ada lumayan banyak tapi buat saya ngga terlalu mengganggu. cuma ya itu tadi ini tetep jadi catatan buat penulis.
overall, di tengah lautan novel rompis anak muda jebolan wattpad yang membuat saya jenuh lihat display toko buku, novel ini jadi pembeda suasana dengan warnanya sendiri yang membuat saya tidak menyesal udah membawanya pulang. seriously, ketika capek lihat cerita-cerita romens unyu dan serba manis, lihat sesuatu yang terlihat pahit dan getir kayak novel ini saya jadi merasa sedikit terhibur. kayak, "oh, masih ada yang berbeda. mau coba baca, ah." dan meskipun novel ini belum mencapai level outstanding (buat saya), saya benar-benar menikmati ceritanya dan pengen berterima kasih sama penulis (mbak Sinta Susanti) dan penerbit (Bhuana Sastra) karena telah berani mengeluarkan karya yang berbeda dari yang lagi digandrungi pasar. serius, saya sangat menghargai dan mengapresiasi keberanian itu. apalagi novel ini ngga membuat saya merasa dia terlalu kesastra-sastraan untuk selera saya atau terlalu ala-ala drama (?) atau terlalu ke-young adult young adult-an (??). just right, pas in the middle. suka, deh.
saya rekomendasikan novel ini untuk kalian-kalian yang lagi cari bacaan yang konfliknya lumayan rumit tapi bobotnya terbilang ringan (lumayan tipis pula), bisa dibeli dengan selembar uang lima puluh ribu + selembar uang lima ribu (hehe saya lagi suka banget novel-novel yang harganya sekitar lima puluh ribuan), dan bisa dibaca sebagai teman perjalanan di pesawat atau kereta.
sekian dan terima kasih.
tambahan: ini ratingnya U15+ tapi ada adegan yang imo terlalu gore dan graphic bangettttttt :'))) gatau sih itu mestinya boleh lolos sensor atau ngga untuk ukuran U15+ tapi buat saya itu terlalu graphic dan dengan review ini saya sekalian ngasih trigger warning buat yang ngga kuat baca sesuatu yang sadis :') lewatin aja bagian itu :') cuma satu atau dua paragraf singkat sih jadi gapapa lah ya tinggal dilompatin aja jangan dibaca :')
This entire review has been hidden because of spoilers.
Selama ini baru sedikit sekali buku bertema horor yang menarik perhatian saya dari sampulnya. Sebelumnya ada Mayat yang diterbitkan penerbit yang sama, tapi saya tidak bisa menemukannya. Yang kedua adalah buku ini yang syukurnya sudah bisa saya baca di iPusnas.
Seperti kovernya, premis dan unsur horor-fantasi di dalamnya menarik sekali. Buku ini juga punya tatanan alur yang pas dengan flashback penting dan pergantian cerita antara Ashley dan Catherine yang bikin penasaran. Buat saya, kisahnya pun cukup kaya, dilihat dari adanya subtle context, latar Belandanya, dan subplotnya. Unik dan segar! Saya nggak pernah dibuat bosan selama membacanya.
Saya setuju dengan resensator lain, bahwa semua unsur yang menarik itu harus cepat berakhir karena pace-nya yang kilat. Padahal masih ada ruang untuk berkembang, terutama hubungan Ashley dan Lucas. Mana saya juga suka penokohan karakter-karakternya, jadi rasanya nggak rela kalau harus berakhir karena pengin mengenal mereka lebih dalam lagi. Saya pun ingin pertarungan di dimensi lain seheboh dan se-graphic bab-bab awal, karena itu penentuan takdir Ashley dan Catherine.
Mungkin karena alurnya yang cepat pula, beberapa hal jadi terasa digampangkan, seperti Ashley yang menulis buku dan membintangi adaptasi novelnya sendiri di film sekelas Hollywood. Padahal jadi film mahasiswa juga nggak pa-pa, masih kerasa impact-nya. Atau bukunya jadi bahan book club terkenal dan dibahas lalu diunggah dan jadi viral (?) dengan adanya kepopuleran itu sebetulnya pasti berdampak sesuatu yang besar ke Ashley, tapi ini langsung diinterupsi konflik lain.
Saya paling suka bab Kemurkaan Ashley karena di situ benar-benar terlihat konflik batin dan eksternalnya. Bagaimana Ashley dan Catherine sama-sama menghadapi fakta tentang mereka berdua dan akhirnya kembali pada diri masing-masing. Oh ya, biasanya saya kurang impressed dengan sampul berlatar polos (terutama warna putih, kecuali memang intentional karena ngaruh ke ceritanya) tapi karena kover yang ini ada teksturnya, terus ilustrasinya juga simpel tapi detail, saya jadi suka hehe. Pemilihan font-nya juga familier, nggak neko-neko, tapi nggak pasaran.
Buat bacaan sekali duduk dan bahan untuk 'menjelajahi' genre baru seperti saya yang kurang suka horor, tampaknya The Cursed Hand bisa memberikan pengalaman itu padamu. Oh ya, perasaan blurb-nya bukan begini, lebih bagus, singkat dan padat, tapi ya sudahlah...
The Cursed Hand merupakan novel pertama Kak Sinta Susanti yang kubaca. Kesan pertama melihat covernya, seram sekaligus mengundang rasa penasaran. Apalagi blurbnya singkat, tapi benar-benar menarik
Setelah membaca, aku benar-benar dibuat penasaran dengan kisah Ashley. Ashley yang berbeda dari gadis seusianya. Ashley yang harus dikucilkan dan mendapatkan segala hinaan, bahkan dari keluarga besarnya.
Benar-benar bisa merasakan apa yang dirasakan Ashley. Semakin membaca semakin penasaran dengan apa yang sesungguhnya terjadi, apalagi ketika sosok Christine dan Crystal hadir dan Ashley mulai sering bermimpi hal-hal aneh yang mengundang tanya.
Jujur awalnya bingung membacanya, karena alurnya campuran, maju dan beberapa kilas balik. Apalagi pergantian kisah antara Ashley kemudian Christine seakan berdiri sendiri, padahal mereka saling berkaitan.
Namun, semakin lama membaca aku semakin semangat mengumpulkan keping puzzle yang bertebaran untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.
Novel yang tidak terlalu tebal, tapi memiliki konflik yang padat dan rumit. Menggabungkan kisah keluarga, misteri, fantasi hingga horor.
Walaupun aku merasa eksekusinya terlalu cepat dan terkesan diselesaikan begitu saja, tapi aku suka ide ceritanya.
Membaca kisah ini kita akan belajar memahami bahwa setiap orang terlahir berbeda dan alangkah baiknya jika kita menghargai perbedaan yang ada. .
awal lihat sih agak bingung ya antara cover dan blurb. covernya horor tapi blurb kayak sendu gitu. tapi gak tahu kenapa malah antusias yg akhirnya aku cari sendiri di google. ternyata lumayan ok lah cuman kok gak ada profil tercantum di buku.
secara keseluruhan sih lumayan. Sayang, bukunya tipis. harusnya lebih eksplor lagi karena aku yakin si penulis bisa melakukan yg lebih baik. untuk ending beberapa review di tempat lain bilang kurang greget. sebenarnya pada kenyataan kalau berhadapan di dimensi lain setahu aku ya memang begitu. gak yg berkelahi gimana-gimana. tapi karena fiksi pembaca pasti berharap lebih.
terima kasih pada mbak Sinta karena buat buku tema begini. bukan hal baru sih. tapi cara penyampaian yang ringan terus unsur kekeluargaan dan sisi dua agama di sini aku suka banget. malah berharap mbak Sinta keluarin nelurin karya mirip gini lagi. yang lebih tebal, lebih eksplor, dan lebih-lebih pokoknya.
Untuk pengemasannya sih oke. Meski di bagian Ashley kecil ada sesuatu yang mengganggu. Si ashley jadi terlalu tua terlalu dewasa. Padahal dia anak biasa. Maksudnya dibuat biasa aja pun ga masalah. Terus penggalian alasan si pemuja setannya ini kurang dalam. Jadi kaya cuma bongkar misteri kenapa dia mimpi ini itu aja. Jadi alesan si ibunya membuat keputusan besar kaya datar aja gjtu.
Untuk alur dan gaya ceritanya cukup oke. Teka tekinya udah lumayan. Bisa dibaca di ipusnas
3.5 stars, menurutku ini kesan serem nya kerasa banget, apalagi kalo bacanya sendirian, jadi merinding.
konflik yang tertera cukup buat bertanya tanya sih, tapi menurutku penulis terlalu cepat menyampaikan resolusi, jadi di tengah tengah udah dapet kebenarannya gitu.
buku ini cukup bagus buat yang suka horror tapi menurutku mungkin sama dengan review yang lain kalau buku ini kurang tebal, harusnya penulis bisa menambah lebih banyak. overall bagus.