Alya benci banget sama yang namanya sambal. Lidahnya nggak bisa menerima sensasi pedas panas yang dibawa sambal, perutnya apalagi. Meskipun ketidaksukaannya ini selalu membuatnya jadi bahan bercanda teman-temannya, Alya tidak peduli.
Ternyata sambal yang membawa Alya harus berurusan dengan Kenzo, si berandal sekolah. Awalnya, Alya tidak ingin dekat-dekat dengan cowok berandal tukang tawuran yang nilai-nilainya jeblok itu. Namun, akhirnya gigitan pedas mulai memberi sensasi ketika perlahan Alya mengenal keunikan Kenzo.
Di antara lab kimia, ribetnya kepengurusan OSIS, bahkan tindak kriminal, hubungan Alya dan Kenzo bagaikan sambal yang diracik dengan cabai rawit, bawang putih, bawang merah, garam, dan tomat—ketika telah diulek rata menciptakan sensasi yang tiada duanya!
Namaku unik, terdiri atas: Luna, dan Torashyngu. Tentunya itu bukan nama asliku. nama asliku adalah (hee..hee..hee.. masih rahasia. tebak sendiri yaa...) Dalam bahasa Spanyol, Luna berarti "bulan". Sedang Torashyngu,walau kayak nama Jepang, aq produk lokal loh. Aq pilih nama Torashyngu gw doyan banget segala hal berbau Jepang, dari mulai masakan Jepang, musik, hingga dorama. Penyanyi favoritku Ayumi Hamasaki, BoA, dan sedikit Laruku. Sedang film Jepang kesukaanku : YOMIGAERI (bagi penggemar J-movie wajib nonton nih film. Ceritanya bagus banget! Touching dan romantis!), sedang dorama banyak yang aq suka, tapi paling terkesan waktu nonton LOVE GENERATION-nya Takuya Kimura dan Takako Matsu. Ceritanya berupa cerita cinta sederhana, tapi bagus banget. Beberapa ceritaku bahkan terinspirasi dari J-Movie dan dorama yang pernah aq tonton, walau aq gak bakal jiplak abis-abisan, gak kayak sinetron kita yang doyan banget ngejiplak punya orang (Udah gitu gak mau ngaku lagi...)
Anjir sih, akhirnya aku menemukan bacaan remaja yang bener-bener 'remaja'. Bukan hanya cinta-cintaannya doang yang dibahas, melainkan persahabatan dan keluarga juga.
Awalnya aku agak underestimate sama hubungan Alya-Kenzo, tapi ternyata daku salah. Hubungan keduanya memiliki chemistry kuat tanpa harus ada ikatan, realistis banget. Dunia remaja tidak harus diisi pacaran melulu.
Terus ini lagi, Alya bener-bener contoh cewek independent untuk seusianya. Dia bener-bener tau apa yg dia inginkan dan apa yg dia cita-citakan. Aku suka sama cewek yg kayak gini.
Walau endingnya udah ketebak banget, tapi ini novel tetep manis aja gitu.
Bonus resep sambal di halaman belakang menambah nilai keunikan novel ini.
Pokoknya ini karya novel non action Kak Luna yg terbaik menurutku
26-2019 3.67 jadi kubulatkan. Tersebutlah kusuka sekali covernya. Palagi mangkuk ayam yang lagi hits kembali itu. . Life begins with spices berkisah tentang Alya, anak SMA nan rajin yang gak doyan pedas. Misteri sambal kantin dan serangkaian kejadian membawanya pada Kenzo. Babang Kenzo ini ternyata diam-diam adalah pembuat sambal yang ia racik dengan menggunakan rumus-rumus kimia. Ia sering pinjam lab untuk percobaan sambalnya. . Novel ini gak cuma soal sambalnya Babang Kenzo, ada perpolitikan OSIS dan kasus pengedaran Narkoba yang sempat membawa-bawa Kenzo segala. . Kumenikmati membaca ini. Meski agak kesal karena membacanya tengah malam dan jadi lapar bayangin soto ibu kantin. Soalnya soto kantin waktu SMP dan soto Bu Meto tuh terbayang-bayang, apalah kalau pedas. Kurekomendasikan buat pecinta pedas tuk membacanya sebab ada serangkaian resep sambal di akhir cerita. Sukses untuk kakak penulis!
Oke, well, sebenernya aku nggak pengen ngomong banyak-banyak sih, tapi kalo dikit tuh ya gimana, banyak yang bisa dibahas, wkwkwk.
Sebelum baca lebih lanjut, aku kasih warning bahwa review ini nggakspoiler free ya. Jadi yang nggak mau tahu ada apa di dalemnya, silakan baca novelnya lebih dulu baru ngepoin review, wkwkwk. :D
Singkatnya sih, cerita ini nanggung abis. Mulai dari plot, karakter tokoh, sampe eksekusi adegannya tuh banyak yang kayak cuma sepintas lalu.
Jadi, let me get this [SUPER DUPER] straight firstkarena di ceritanya semua serba heteronormatif **yHa Nas yHa cerita lokal mana yang nggak heteronormatif/gendernormatif apalagi yang teenlit atau YA yeeeet berhenti ngarep pls.** ಥ◡ಥ
Dari keseluruhan cerita, aku menyimpulkan bahwa tujuan ceritanya cuma satu: supaya Kenzo sama Alia jadian di akhir. Udah, itu doang.
Nah, untuk mencapainya gimana?
Ya dibikin lah pertemuan demi pertemuan mereka di sekolah, mulai dari buku Chemistry in the Kitchen punya Kenzo yang jatuh, bikin Alya penasaran, sampe tuh cewek tau tentang sambel enak di kantin dan bikin dia deket sama Kenzo.
Dari awal sampe pertengahan, aku ngerasa alurnya lumayan scattered sih, lompat dari satu masalah ke masalah lain. Banyak banget yang pengen dibahas, mulai dari Kenzo yang terlibat tawuran (sampe bikin aku mikir ini bakal jadi pembahasan utama tapi enggak lmao), Alya dan politik di OSIS yang ditinggal kentang gitu aja, sampe revelation di akhir yang kesannya tiba-tiba (meski udah dikasih petunjuk) dan buru-buru banget. Sama ending-nya lmaooooo, ending macem apa sih ini. (ಥ_ʖಥ)
Menurutku, perkembangan hubungan Alya sama Kenzo tuh kurang digali. Meski ada sedikit rasa penasaran, perjalanan sampe situnya tuh datar banget. Aku mengharapkan bakal ada proses mutual pining dari keduanya, yang bikin tahap jatuh cinta mereka kerasa lebih nyess. Aku juga berharap bakal ada, apa ya, kayak yang di AO3 gitu pokoknya.
Mungkin ini karena mereka tokoh original ya, jadi perkenalannya butuh usaha ekstra. Tapi aku tuh nggak peduli mereka mau ngapain, fellas. Buatku, percintaan mereka amat-sangat nggak believable banget. Maksa lah intinya.
Urusan di OSIS, Randy, sama Sherly sebenernya juga potensial. Emang sih pas rapat tuh kesannya kayak "duh apa banget bosen ga penting". Trus pas dana sekolahnya disebut-sebut, aku pikir ini bakal dibahas lagi dong. Apalagi Sherly sama Randy terlibat konspirasi di pemilihan ketua sebelumnya. Lah ternyata enggak, fellaaaaaas. Dibiarin ngentang gitu aja, gemes dong aku. (ㆆᴗㆆ)
Kayak, ngapain gitu lho, dibahas, tapi ujung-ujungnya ditinggal gantung gitu aja? [insert lagu Melly Goeslaw di sini lol]
Trus pas Sherly mau kudeta, dia tanya pendapat Alya kan. Pas sama Alya dijawab asal, Sherly iya-iya aja dong, dan langsung nurut gitu. Padahal, dia digambarin mumpuni buat jadi ketua, pinter pula. Trus, tujuan awalnya buat menggulingkan kekuasaan hilang gitu aja?? Hello??? Kenapa Sherly tiba-tiba OOC banget di sini? (ಥ_ʖಥ)
Pas Randy dibilangin Sherly buat bilang terima kasih ke Alya pun, cowok itu iya-iya aja doooong, awokwokwokwo. Ini semua tokohnya pada ngelawak apa gimana sih. (ಥ_ʖಥ)
Ini sih yang bikin aku mikir bahwa eksekusi plotnya sengaja dibuat untuk menguntungkan Alya sama Kenzo doang. Ada banyak masalah yang dijejalin, mereka datang silih berganti, tapi muncul cuma sebentar dan penyelesaiannya termasuk gampang banget. Karena kebanyakan masalah ini juga, screentime(??) buat membangun chemistry mereka jadi berkurang. Dan, hasilnya maksa parah.
Di beberapa bab terakhir, langsung ada time skip ke sepuluh tahun kemudian. Aku bener-bener ngakak parah pas bagian ini sih. Udah chemistry mereka maksa, sepuluh tahun tuh waktu yang cukup buat lupa, kali. Alya bisa aja galau milih univ mana, sibuk SNMPTN/SBMPTN, sibuk koas, sibuk skripsi, dan lain-lain. Tapi kalo emang mau mengesampingkan semua aspek itu, ya harusnya waktu buat Alya sama Kenzo buat emotionally bonded diperkuat dong. Biar keputusasaan mereka tuh bisa dipercaya.
Ini? Boro-boro. ( ´థ౪థ)
Oh ya, satu lagi. Ini sedikit personal sih ya. Dari awal ditunjukin Alya bakal nikah sama Andi (another random dude lmao), aku udah waswas dia bakal dijadiin orang brengsek supaya Alya bisa pisah dari dia. Nah, ternyata enggak sih, tapi tetep aja doi ngalah pas tau Alya masih ada rasa sama Kenzo.
Trus, Kenzo juga akhirnya nikah sama Dhita, gengs. Tapi Dhita **tiba-tiba** dibikin kena kanker terus tinggal enam bulanan gitu udah nggak ada.
Ini semakin nunjukin betapa ngaco eksekusi plot novel ini, cuma demi dua orang itu bisa bareng. Dan ini belum termasuk adegan-adegan nggak penting yang ngelibatin Wina sama Ratna nanya-nanya hal yang udah jelas banget, atau percakapan Alya sama Kenzo yang kerasa garing dan ugh antara penting-nggak penting tuh beda tipis pokoknya.
Yah, mungkin cerita ini bukan tipeku aja kali ya kebanyakan baca cerita bagus di AO3 juga sih #eh. Dan setelah baca profil penulis di belakang, mungkin cerita ini diupayakan jadi "beda" (kayak Golden Bird series) gitu ya, tapi agak fail sih jadinya. Kebanyakan masalah, selesainya gampang, munculnya pun kayak pas Alya butuh konflik doang trus udah, kayak dibiarin kentang dan nggak dibahas lagi. Wkwkwk.
Jadi cukup dua bintang aja sih. (´-ω-`)
P.S.: Typo-nya bejibun sangat. Melanggar jadi melangar, Kenzo berkali-kali nggak pake huruf kapital, Ratna jadi Alya, wuh pokoknya nggak kalah parah sama eksekusinya lah, wkwkwk. Just adding my pieces. =w=
Ternyata gue bisa baca cepat juga! Setelah sekian purnama!
Novel khas Luna Torashyngu. Hmm... gimana ya deskripsiinnya? Saat gue SMP atau SMA, ada tuh cerita-cerita yang nggak bakalan mungkin terjadi di kehidupan sekolah gue. Dan yang nggak mungkin itu yang sering kali diceritain sama Luna. Jadinya bakalan heboh, "Anjay, keren banget." Pokoknya gitu deh. (Maaf ya gue nggak jago ngedeskripsiinnya haha.)
Tentang Alya si pintar yang nggak doyan pedas, ketemu Kenzo yang bad boy manis manja jago ngulek. Terus biasa deh, suka-sukaan.
Gaya nulisnya emang khas Luna (masih inget dong gue). Tapi yang bikin gue nggak suka sebenarnya lompatan ceritanya dan gue nggak bisa "masuk" ke cerita. Apalagi akhirnya kek gitu. Ya udah, gampang aja gitu.
Kalo gue bacanya zaman SMA mungkin bakalan suka kali ya sama cerita ini, tapi ini ya biasa aja. Ada yang hilang. Mungkin bukan hilang, gue-nya aja udah ketuaan baca ginian. Dulu gue suka banget baca Victory HAHAHA, sampe berkaca-kaca anjirrrr.
Udah ah.
Catatan: ini kayaknya ada yang nggak suka sama Kenzo karena nama dia SERING banget ditulis pakai huruf kecil semua (kenzo, bukan Kenzo). Kacian.
Entah kenapa ya aku suka novel ini. Mulai dari cara berceritanya yang ngalir dan nggak kaku, sifat tokoh utamanya yang sebenernya hampir sama semua, tapi suka aja gitu nggak lebay kelakuan mereka. Padahal biasanya anak sma di teenlit kan menggebu2 banget. Dan di beberapa part mereka juga terlihat realistis.
Terus aku suka ada time jump, kayak Nagra dan Aru. Hehehe. Aku tertarik baca novel ini jujur karena kovernya yang bener2 gak bisa ditolak. Aku gak ada ekspektasi apa2, pertama kali juga baca tulisan Luna Torashyngu, kirain bakal nggak suka dan yaudah cuma buat nambahin jumlah buku buat reading challenge. Taunya aku lumayan suka, lumayannya bukan yang basa basi gitu kok. Aku bakal nyobain baca karya beliau lagi yang lainnya.
Meski ya tetep aja ada hal2 yang patut dipertanyakan dan diprotes, serta ada lah adegan dan tokoh yang nggak penting. tetapi secara keseluruhan aku suka buku ini. Apalagi akar cerita ini adalah sambal. Unik aja gitu. Dan sambalnya juga nggak kayak tempelan kok, bener2 berperan. Setelah baca buku ini jd pengen makan sambal. 😫
This entire review has been hidden because of spoilers.
Siapa sangka, dari sambal ternyata bisa mengubah seseorang?
Buku ini menceritakan tentang Alya dan Kenzo yang merupakan teman satu sekolah. Alya adalah gadis yang tidak bisa makan sambal karena pernah sakit radang usus buntu. Disisi lain, Kenzo mampu membuat Alya jadi penasaran terhadap sambal. Ada apa antara Kenzo dan Alya?
Novel renyah, ringan dan juga gurih macem sambal wkwk. Ada bonus resep sambal juga setelah cerita.
Yay, finally aku selesai baca novel ini. Awalnya ku kira ide ceritanya kurang menarik, tahunya baguuusss. Gaya bahasanya ringan dan anak remaja banget. Juga nggak melulu cinta menye2. Cuma agak kurang puas dengan penyelesaian konflik pas SMA nya sih. Eh, ini senengnya ya karena endingnya sampe udah pada dewasa jadi berasa puas gitu hehe
Pendekatan ceritanya sangat unik. Awalnya semua begitu sederhana sampai kukira cerita ini bakal jadi mainstream. Tapi detail-detail yang ditampilkan ternyata memberikan sajian rasa yang lain daripada yang lain.
Alya si murid teladan, bersilang takdir dengan Kenzo, kakak kelasnya yang dikenal bengal, ikut geng yang suka tawuran. Alya ditaksir Rendy, sang ketua OSIS yang baru dilantik. Rendy ngemodusin Alya agar mau jadi sekretarisnya di OSIS. Alya sendiri akhirnya mengiyakan, karena nggak mau ekskul PMR yang diikutinya nggak dapat tunjangan penuh buat anggaran ekskul gara-gara nggak punya perwakilan yang duduk di jajaran OSIS. Motivasi Alya gabung ke OSIS ini saja rasanya udah unik. Kutebak ini semacam sindiran halus buat "sistem pemerintahan" di level mana pun yang lebih memperhatikan kepentingan golongan haha.
Di satu sisi, Kenzo si anak bengal yang akhirnya diskors gara-gara tawuran anehnya seperti mendapatkan perhatian spesial dari Pak Gultom, sang kepala sekolah. Pak Gultom bahkan sampai bela-belain berburu buku langka yang diinginkan Kenzo dengan suatu syarat tertulis di atas kertas yang membuatku sebagai pembaca penasaran.
Alya jadi bersilang takdir dengan Kenzo karena dirinya tak sengaja memungut kertas tugas dari Pak Gultom yang jatuh dari sela-sela buku Kenzo saat mereka berdua bertabrakan (eaaak, tabrakan ala FTV memang mainstream banget lah yaaa di dunia teenlit. Hihihi). Isi kertas itu adalah rumus-rumus kimia. Alya pun harus mengembalikan kertas itu pada Kenzo.
Awalnya Alya sebel karena Kenzo dingin luar biasa. Tapi kemudian dia jadi tahu bahwa sambal legendaris yang sampai bisa menaikkan penjualan warung bakso dan soto ayam di kantint itu ternyata buatan Kenzo! Alya sebenarnya sangat nggak suka sambal. Tapi ibunya kemudian penasaran dari ceritanya, dan memesan soto ayam karena ingin mencicipi sambal legendaris itu. Sialnya, Alya malah kehabisan sambal. Di sinilah Kenzo mulai mencuri perhatian Alya dengan diam-diam mengusahakan agar sambal itu tetap bisa sampai ke rumah Alya.
Enggak perlu pake prolog dulu, intinya sih buku ini bagus dan bahasanya normal (enggak kayak teenlit kebanyakan yang bahasanya campur aduk dan enggak baku). Tapi bagus doang enggak menjadikan sebuah buku bisa dinilai bintang lima. Ada beberapa alasan kenapa aku cuma ngasih bintang tiga.
1. Karakterisasinya kurang kuat karena pake POV orang ketiga serbatahu. Dari awal bab pertama aja udah keliatan. Enggak apa-apa sih, tapi feelnya jadi dangkal banget. Terutama Kenzonya.
2. Ini tuh jelas banget endingnya bakal menjurus jadian atau intinya bersatu, gitu, tapi prosesnya kurang banget feelnya. Terutama waktu mereka SMA itu. Kurasa itu karena walaupun ada POV Kenzo juga, bisa dibilang enggak pernah diceritain tuh gimana perasaan dan pikirannya soal Alya. Terus tahu-tahu jadinya gitu, gimana ceritanya? Ya, di situ jadi plothole sih menurutku.
Intinya sih, menurutku, masalahnya itu karena karakter dan konfliknya kurang didalami lagi. Maaf sebelumnya, tapi seperti yang kusebutkan tadi, feelnya jadi kurang banget. Konflik yang ada kayak cuma numpang lewat. Dialognya kurang membangun karakter tokoh alias agak flat gitu. Susah dijelasin sih, tapi pokoknya aku ngerasa kurang di feel, itu aja.
Aku tetep kasih bintang tiga karena menurutku konflik sambal itu menarik, anti-mainstream sebetulnya, dan gaya bahasanya juga aku suka. Hanya kurang di cara penyampaian :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel ini bagus karena alurnya yang bikin penasaran serta susah ditebak, gaya bercerita Luna yang fresh, penggambaran tokoh yang abu-abu (tidak hitam-putih seperti kebanyakan tokoh di teenlit, meski dengan template yang sama hehe), dan ide cerita yang out of the box!
Tapi, membaca novel ini serasa familiar aja gitu sebenernya. Topik dalam novel mirip-mirip Aruna dan Lidahnya-lah ya, samasama berdasar dari makanan. Kenzo penggambarannya kayak Dilan dicampur Rangga. Beberapa adegan mirip-mirip AADC atau Jingga Dalam Elegi? Apa Dia, Tanpa Aku atau malah Omen Series yang keberapa gitu ya lupa wkwk. Eh, apa Memogana?!
Terus tiba-tiba alurnya jalan cepet banget aja gitu, agak-agak nggak lazim buat teenlit, bikin aku mikir kenapa yang ini nggak dibuat series aja, ya? Toh Luna kan sering bikin series. Aku juga mau baca kok, padahal, kalo ini dibikin series. Tetapi di samping alurnya yang berjalan cepet banget, greget aja, udah dibikin nangis, siap-siap mau nangis lebih kejer, eh malah happy ending, wkwk.
Tapi aneh juga sih, sempet underestimate novel ini, tapi ternyata novel ini bisa bikin aku greget dan nangis juga wkwk. Mantap.
Btw: *Ini novel pertama Luna yang kubaca **Agak risi sama saltik di sana-sini, tapi yaudahla ya wkwk ***Nggak kapok kok buat baca novel Luna yang lain, Mawar Merah the next, maybe? ****Sama seperti kebanyakan yang lain, aku tertarik beli novel ini karena sampulnya!!! Judulnya juga sih, hehe. Unik aja gitu.
Mau kasih tiga bintang, tetapi kurang suka dengan bagian akhir novel ini. Jadi, dua aja, maaf ya.
Hal yang paling bikin penasaran dengan novel ini adalah karena sambal! Ya, sepertinya hampir semua orang Indonesia suka sambal dan merasa makan hampa tanpa sambal, iya nggak sih? (termasuk saya). Nah, ketika sebuah novel teenlit mengangkat tema per-sambal-an, tentu menjadi menarik. ada apa nih dengan sambal?
Awalnya, saya suka dan menikmati kisah Alya dan dua sohibnya, Ratna dan Wina. Alya satu-satunya di antara mereka yang nggak suka sambal, tetapi belakangan malah jadi berurusan dengan sambal. Saya juga suka karakter Kenzo yang ditampilkan rada badboy (sebenarnya saya nggak terlalu suka dengan tipe cowok kayak gini), tetapi di novel ini Kenzo nggak nyebelin-nyebelin banget dan penulis juga berhasil menghadirkan sisi lain Kenzo dengan baik. Jadi, ketika ada chemistry antara Alya dan Kenzo, bisa sangat dipahami.
Di novel ini ada masalah OSIS, tawuran, lomba masak, dll, hal-hal yang khas dengan dunia anak SMA. It's still OK. Sampai menjelang akhir cerita, duh..., kok, malah kayak film romance Hollywood, ya.
Pokoknya, bagian akhir agak mengecewakan bagi saya. Nggak bisa dijelaskan di sini karena takut spoiler. yang jelas, bagi saya, kisah Alya, Kenzo, dkk., cukuplah sampai mereka SMA saja. Sudah bagus, kok. Ketika dipanjangkan lagi malah agak aneh dan ya begitu, agak mengecewakan sih. Huhuhu.
“Lo bebas menjalani hidup lo sendiri, menjalani takdir hidup lo sendiri waktu yang akan menjawab bagaimana kita menjalani hidup.” - page 246
•••
Menurutku ini ceritanya 'lumayan' anti-mainstream. Seenggaknya, aku nemuin cerita yang prolognya bukan dari tabrakan sama kakel pas MOS(´༎ຶ ͜ʖ ༎ຶ `)♡
Aku suka sama cerita ini karena chemistry Kenzo dan Alya yang dibentuk enggak terlalu terburu-buru. Lumayan realistis juga ceritanya.
Aku baca buku ini karena ada masalah sambalnya HAHAHA. Sebagai pecinta sambal, rasanya kayak kaget aja ternyata buku tentang sambal (ಥ ͜ʖಥ)
Oke lanjut.
Jujur, aku selama sebulan kemaren tuh GA MOOD BANGET buat baca buku coz kebanyakan baca apa😭 dan buku ini berhasil ngembaliin mood aku.
And then, sebenarnya banyak masalah yang terjadi di cerita ini. Mulai dari masalah OSIS Alya, perserikatan narkoba. Tapi mereka dibiarkan menggantung dan? Udah gitu aja?
Endingnya sih yang kelihatan maksa. Masa sih 10 tahun mereka masih ada rasa? Apalagi Alya ada tunangan dan sebelumnya Kenzo punya istri. Like ... hello? Are you serious?
Based on true story, aku enggak ketemu doi 8 bulan, enggak inget mukanya, dan cepet move onヾ(❀╹◡╹)ノ゙
MASALAHNYA NAPA ANDI IYA-IYA AJA AMPUNNN NANGIS DAH NANGIS(ಥ ͜ʖಥ)
Genre TeenLit. Sudah lama tidak membaca genre ini, jadi saat membaca buku ini serasa tidak pas untuk selera bacaku. Premis yang diangkat menarik, tentang sambal legend, namun terasa hambar untuk alur ceritanya. Emosi setiap karakternya juga masih lemah. Kenzo yang awalnya diperkenalkan sebagai cowok nakal, tiba-tiba lebih sering ke lab kimia. Meskipun alasan ke lab kimianya jelas, namun transisi karakternya kurang mulus. Jadi serasa serba tiba-tiba. Pembahasan tentang sambal legend itu juga sedikit dilebih-lebihkan, bagiku. Tapi tetap, sebagai pecinta pedas, aku juga penasaran bagaimana rasa sambal legend yang ada rasa tulus didalamnya itu.
karena ini ceritanya luna torashyngu, aku sudah meyakini bahwa ini nggak hanya menjadi cerita teenlit pada umumnya, pasti akan sedikit lebih kompleks. dan ya ternyata bener, walau menurutku nggak kompleks2 banget masalahnya, tapi tema masalahnya unik dan jarang ada. cuma masih liat ada beberapa typo, tapi nggak terlalu banyak. trus juga penasaran bgt sama hubungannya wina sama ratna, soalnya kayak udah keliatan banget mereka nggak bener2 tulus sama alya
Tdnya mau ksi rate 2 tp gak jd, endingnya lumayan ih. Kaget dong waktu bagian Alya (yg sudah dewasa+jd dokter) blg "Aku gak hamil kok," dan wajah Andi terlihat lega. What? Jd Alya yg karakternya kunilai polos selama (baca novel) ini, gak sepolos itu ya? Wkwk
Bukunya manis, ringan dan konfliknya pun gak berat, mudah diselesaikan. Tapi bingung kenapa Alya bisa ngambil keputusan sebesar itu ngelepasin tunangannya buat ngelanjutin kisahnya bareng Kenzo