Dua hari menjelang pernikahannya, Donna kehilangan calon suaminya. Wahyu meninggal dunia karena kecelakaan. Dunia Donna seakan hancur. Apalagi setelah kakak tiri Wahyu, Andrez, datang dari Papua dan menyalahkan Donna atas kematian adiknya.
Donna tidak menyukai sikap Andrez yang arogan. Tetapi ketika Andrez menawarkan diri untuk menikahinya dan memboyongnya ke Papua, Donna menerimanya tanpa pertimbangan, karena hati Donna sudah tertambat pada keindahan Papua.
Dan soal cinta? Donna tahu tidak ada yang bisa menggantikan posisi Wahyu di hatinya. Tidak seorang pun, termasuk Andrez.
Agnes Jessica adalah mantan guru matematika SMUK I BPK Penabur Jakarta. Karena ingin mengembangkan bakat seni, walau ia suka mengajar dan murid-muridnya juga suka diajar olehnya, ia keluar dan memilih berkarya sebagai penulis novel. Selain menulis, ia juga suka menggubah lagu, main gitar, keyboard, dan menyanyi. Ia sudah melahirkan sebelas novel yang berjudul Jejak Kupu-Kupu, Rumah Beratap Bougenvil, Dua Bayang-Bayang, Satu Abad Sekajap Mata, Peluang Kedua, Dongeng Sebelum Tidur, Bunga Yang Terbuang, Angan Sang Cinderella, Jakarta An Undercover Life, Noda Tak Kasamata dan Maharani. Selain memakai nama Agnes Jessica, ia kerap menulis dengan nama samaran Yoshiko Agunesu. Keiginan utamanya adalah bisa berkarya terus; keinginan kedua: bisa diterima di hati pembaca; dan keinginan terakhir: happily ever after. Bila ada yang ingin berkomunikasi melalui surat, silakan kirim ke PO BOX 1410 Jkb 11014, atau ke alamat e-mail: agnesjessi@yahoo.com.
"Uang itu bisa diibaratkan kuda. Dia tidak bisa kautahan di kantong. Suruh dia bekerja, maka dia akan berlipat ganda. Jika kaudiamkan saja, uang itu dengan cepat akan menemukan pemiliknya yang baru."
This book has been on my TBR for WAY TOO LONG 😂 This was such a fun read! Stuck me from beginning to end. A tip: Start reading this book when u have free time, because the way it holds u makes u spend the night reading without thinking about tomorrow 😅
Sama seperti buku penulis yang satu ini (yang selalu auto-buy buatku), kisahnya adem dari awal sampai akhir, bahkan konflik yang disuguhkan pun terkesan adem. Apa karena aku belakangan ini banyak membaca kisah dari luar sana ya? Hmm. Tetapi ada kalanya, apa yang terkesan adem kaya begini justru bagus buat jadi selingan. Ohoho. Apalagi dari penulis fave. Hanya satu saja sayangnya, kurang banyak! :P
Akhirnya setelah sekian lama bisa baca buku penulis ini lagi, langsung ngebut bacanya. Setuju sama review2 yang sudah ada, menurutku novel ini memang terlalu "adem". Ga ada konflik yang nampol jadinya ya bagus tapi flat aja gitu. Bagi yang pernah baca buku penulis sebelumnya pasti tau kalau alur cerita ga diragukan mengalirnya bagus banget. Ini salah satu yang aku suka dari penulis yang udah berkarir bertahun2 karena menurutku banyak sekali novelis zaman sekarang yang tiba2 debut dan menulis buku, terutama yang disadur dari halaman website menulis w***pad. Ceritanya kali ini ringan tentang seorang wanita bernama Donna yang ditinggal mati tunangannya Wahyu padahal keesokan harinya adalah acara pernikahannya. Sang kakak tiri Andrez yang tinggal di Papua datang untuk menghadiri pemakaman adiknya dan tiba2 mengusulkan untuk menikahi Donna mengingat keluarganya sudah sangat menerima Donna dan dia juga merupakan seorang yatim piatu. Awalny Donna tidak menyetujui rencana ini, namun akhirnya dia setuju untuk menikah karena ini termasuk dalam salah satu pesan Wahyu sebelum meninggal. Cerita berlanjut mengenai kehidupan Donna setelah pindah ke Papua dan juga masa lalu Andrez yang kelam. Premis cerita ini sesungguhnya menarik, namun konflik yang diberikan sangat sedikit bahkan hampir tidak ada sehingga terasa hambar. Namun jika kalian membutuhkan bacaan yang ringan untuk mengisi waktu luang, buku ini bisa dijadikan salah satu pilihan.
Saya baca buku ini karna ada embel2 Papua. Kebetulan saya 5 tahun tugas di Papua barat, jadi sedikit banyak paham gaya hidup masyarakat di sana. Tapi ekspektasi dengan realita isi ceritanya saya kecewa, karena setting cerita ini seharusnya tidak usah sebut Papua ya, pakai aja Bogor karena penulis sendiri tidak paham Papua itu seperti apa, tidak mampu mendeskripsikan papua dalam ceritanya, atau mungkin penulis melakukan risetnya kurang, atau kurang lama pergi ke Timika sehingga hasil tulisannya kurang greget? Yang dominan di ceritanya hanya konflik hubungan antara Donna dan Andres, padahal mereka di cerita sedang di Papua, makanya kenapa saya bilang pakai saja setting tempat di Bandung atau Jakarta. Hiks. Salah satu yg mennyebalkan adalah panggilan mace yang dilakukan Andres kepada mama kandungnya, orang Papua tidak bilang mace dengan cara seperti itu. Mereka panggil ibunya dengan sebutan mama, sama saja dengan kita yg orang Jakarta. Orang Papua panggil mace itu kalo mereka membicarakan ibunya dengan orang lain, atau suami yang dalam situasi tertentu, misalnya begini "Woe mace, ko tra masak nasi kah, sa pulang begini su lapar ini?", "Eh anak, ko pi bantu ko pu mace sana, de ada ramas tu sagu di hutan", atau orang luar yang datang di Papua lalu panggil bapak ibu dengan kontekstual baru pakai pace mace, "Selamat pagi mace pace tete nene adik-adik dorang,". Jadi begitu ya gaes.
Kayaknya walaupun se-sinetron, se-FTV, se-dangdut apapun itu, selama Agnes Jessica yang nulis, gue bakal baca deh AHAHAHAHA. Terus kelar bacanya cepet pula. (Ibarat makanan, novelnya Agnes Jessica tuh kayak nasi goreng buat gue. Kalo ke restoran baru, bingung mau nentuin makan apa, pasti milihnya nasi goreng, soalnya ya rasa pokoknya begitu-gitu aja. Sama seumpamanya ke Gramedia, ibarat ada novel dari penulis yang ga gue kenal terus disandingin sama novel Agnes Jessica, pasti gue milihnya novel Agnes Jessica walaupun tanpa baca sinopsis dulu tapi ini kalo kondisi dalem banyak uang ya, kalo lagi miskin mah ga gue beli dua2nya #hiks)
Oke lanjut bahas bukunya ya. Gue kira ceritanya bakal mirip Bukan Pengantin Terpilih. Ye dari sinopsisnya mirip2lah. Ternyata engga sih, ceritanya lebih dalam dari itu dan bukan nyeritain cerita cinta tokoh utamanya doang, tapi cerita tokoh sampingannya juga (malah porsinya lebih besar pula).
Gaya penulisan sih udah ga usah diragukan lagi ya Agnes Jessica ini. Kurangnya mungkin cuma bukunya ketipisan jadi konflik yaaaa cenderung gitu aja. Ga ada yang kayak petir ngegelegar gitu #paansihlu.
Dari sekian novel2 Agnes Jessica, ini yang "minim" konflik.
Ceritanya ringan dan mengalir, dan menggambarkan kehidupan sehari - hari jaman sekarang, seperti cinta uang, punya rahasia, menipu, dan sebagainya. Dan, menurut saya klimaks nya agak2 di awal.
Donna, seorang wanita yatim piatu, yang hidup seorang diri, harus kehilangan Wahyu, calon suaminya saat H-1 hari pernikahan mereka, akhirnya ia menikah dengan Andrez, kakak tiri Wahyu. Dan Andrez membopong Donna ke Papua, tanah tempatnya mengejar sukses, untuk memahami sisi kehidupan keluarganya yang lain.
Andrez dan Wahyu sangat berbeda, Wahyu yang baik hati, dan tenang, dibanding Andrez yang blak - blakan dan kasar, tapi rasional. Tapi, Donna menyukai keduanya, dan memutuskan mengenang Wahyu dalam hatinya.
Tidak hanya masalah mengenai mereka, yang cukup dominan juga masalah Inez (ibu Andrez), Emanuel (suami tidak sah Inez), Guntur dan Naura ("orang tua" tiri Andrez, yang pada akhirnya diketahui mereka bukan siapa - siapa.).
Pertama kalinya berkenalan dengan penulis Agnes Jessica melalui karyanya ini. Latar belakangnya Papua, uwu banget jarang2 nemuin latar tempat Papua. Ceritanya cenderung FTV buat ku dan ya ternyata memang beliau penulis skenario FTV. Konfliknya pelik tapi rasanya semua peran berubah menjadi orang baik, mungkin memang itu pesan yg mau disampaikan ya? Dan sangat mudah dibaca, sehari kelar~ Oke lah, nice to meet youuu