Herman Willem Daendels diposisikan sebagai musuh besar dalam sejarah Indonesia. Dia disebut mendatangkan kehancuran, pembunuhan, dan mengobarkan permusuhan di kalangan kerajaan di Jawa.
Kedatangannya ke Jawa memikul beban dari Raja Belanda Louis Napoleon, adik Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte, yaitu mereformasi sistem hukum dan mempertahankan Jawa dari serangan Inggris.
Atas nama titah itu, dia membangun jalan dari Anyer ke Panarukan untuk mempercepat gerak militer dan informasi serta distribusi ekonomi, dari ujung barat ke ujung timur Jawa. Ribuan orang tewas dalam proses pembuatan jalan sekitar 1.000 kilometer itu.
Reformasi hukum yang dilakukan Daendels berhasil memperbaiki sistem peradilan di Jawa yang selama VOC dikenal korup dan tak efisien. Dia menghapus sistem feodalisme yang dianut kerajaan-kerajaan di Jawa dengan memasukkan para bangsawan jadi hamba kerajaan Belanda yang hidup dari gaji bulanan.
Herman Willem Daendels menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda selama tiga tahun (1808-1811). Umumnya masyarakat Indonesia mengenal dia dari kebijakan Jalan Raya Pos, jalan yang membentang sepanjang 1.000 km dari Anyer ke Panarukan, untuk kepentingan ekonomi dan militer. Ia ditunjuk oleh Raja Louis Napoleon, Raja Belanda yang juga adik dari Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte, untuk mempertahankan Pulau Jawa selama mungkin dari serangan Inggris dan membenahi sistem administrasi di Pulau Jawa.
Ia sangat terinspirasi oleh ide-ide Revolusi Prancis, yang ia terapkan sejak masa muda hingga masa menjadi gubernur jenderal. Ketika muda, ia tergabung dengan kaum patriot Belanda yang sedang gencar melakukan upaya mengubah sistem ketatanegaraan yang terinspirasi oleh gerakan kaum republiken yang menentang sistem monarki Prancis. Ia, bersama kaum patriot Belanda, turut tergabung dalam pasukan Prancis yang menyerbu Belanda yang kemudian melahirkan Republik Bataf, pemerintahan baru di Belanda pada tahun 1795. Namun, masa mudanya juga diwarnai dengan peristiwa kelam, ketika militer Prancis-Bataf di Belanda kalah oleh serbuan pasukan gabungan Inggris-Rusia, yang membuatnya memutuskan untuk cuti sejenak dari dunia kemiliteran sebelum di kemudian hari dilirik oleh Louis Napoleon, pemimpin baru Belanda yang sistem pemerintahannya telah disesuaikan dari sistem republik kembali ke sistem kerajaan.
Semangat Revolusi Prancis juga ia terapkan ketika ia menjabat posisi gubernur jenderal. Pertama, ketika ia mereformasi total administrasi di Pulau Jawa dengan menghapus pemerintahan Pantai Timur Laut Jawa, dan memecahnya menjadi sembilan prefektur yang dipimpin masing-masing oleh seorang prefek agar pengelolaan wilayah luas itu lebih efisien. Kedua, ketika ia mereformasi sistem hukum Hindia-Belanda, terutama sistem peradilannya. Ia menambah jumlah pengadilan di Pulau Jawa dengan mendirikan pengadilan khusus (vredegericht) di tingkat kabupaten dan pengadilan negeri (landgericht) di tingkat prefektur. Langkah ini membuat penanganan perkara jauh lebih ringkas dan mudah ketimbang masa-masa sebelum Daendels. Perkara-perkara kecil bisa langsung segera diproses, seperti proses pengadilan di wilayah Batavia pedalaman (Ommelanden) yang bisa langsung dilakukan tanpa harus menunggu pengadilan di dalam kota Batavia.
Tatkala sedang mempersiapkan pertahanan Pulau Jawa seiring keberhasilan Inggris menguasai wilayah Ambon, tiba-tiba Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte memutuskan untuk menggantinya dengan Jenderal Jan Willem Jansens. Kebijakan-kebijakan yang telah dibuat oleh Daendels tidak dilanjutkan dan bahkan tidak sedikit yang diubah seperti strategi pertahanan. Ketidakmampuannya membendung serangan pasukan Inggris mengakhiri pemerintahannya sekaligus kedudukan Prancis-Bataf di Hindia-Belanda. Di sisi lain, Daendels ditarik ke Eropa untuk memimpin pasukan Prancis menyerbu ke Rusia. Namun, mereka kalah dan tidak lama kemudian kekuasaan Napoleon Bonaparte berakhir seiring kekalahan dalam Pertempuran Waterloo pada tahun 1816. Seiring takhta Raja Willem V kembali, Daendels mengundurkan diri dari dinas militer Prancis dan menawarkan diri bertugas di Belanda dan kemudian diangkat menjadi Gubernur Jenderal Pantai Emas di Afrika. Ia bertugas di sana hingga kematiannya pada tahun 1818.
Gaya penulisan yang ringan dan mudah dipahami. Membaca fakta sejarah yang padat jadi terasa menyenangkan, tidak berlarut-larut, pun tidak membosankan. Sebenarnya buku ini adalah kumpulan artikel di majalah digital Historia yang diterbitkan secara fisik, sehingga terdapat beberapa fakta sejarah yang nampak diulang-ulang di artikel satu dengan artikel lainnya.
Penandatanganan Traktat Den Haag tahun 1795 antara pihak Belanda dan Prancis menandai berdirinya Republik Bataf. Republik Bataf meniru sistem Directoire Prancis yg terdiri atas lima direktur.
Namun pada 5 Juni 1806, Napoleon Bonaparte mengganti pemerintahan bentuk republik menjadi kerajaan kembali dengan menunjuk Louis Napoleon sebagai Raja Belanda.
Selepas penunjukkan ini, Raja Louis menerima banyak laporan buruk tentang koloni di Hindia Timur. Sastu nama muncul untuk mengatasi pelbagai masalah di Hindia Timur, Herman Willem Daendels.
Di Jawa, Daendels tidak hanya membangun jalan yg menghubungkan bagian barat pulau Jawa hingga ujung timur pulau Jawa.
Instruksi khusus Raja Louis kepada Napoleon secara umum terbagi dua, mempertahankan Jawa selama mungkin dari serangan Inggris dan membenahi sistem administrasi di pulau Jawa.
Daendels menghapus sistem feodalisme yang dianur selama berabad-abad di kerajaan di Jawa, memasukkan para bangsawan jadi hamba kerjaan Belanda yg digaji.
Daendels pun mereformasi sistem hukum Hindia Belanda, memperbaiki sistem peradilan namun sekaligus juga mengangkanginya.
Sepak terjang Daendels di Jawa dalam masa karirnya yg pendek dijelaskan cukup apik di buku ini dalam 8 tulisan.
Tentu saja perlu asupan bacaan lain untuk melihat Daendels lebih jauh, namun sebagai sebuah bacaan pengantar, buku ini layak sebagai pilihan awal.
Sisi lain Daendels, tidak hanya melulu soal jalan Daendels yg membentang dari barat ke timur pulau Jawa, tapi kehadiran Daendels banyak mengubah segi2 kehidupan di Pulau Jawa ..
Sayangnya, kekuasaan Daendels di Jawa hanya sebentar, sehingga apa yang telah menjadi visi nya banyak yang tidak terlaksana, apalagi setelah kedatangan Inggris ke Jawa yang tidak mampu dibendung oleh penggantinya.
di buku ini penulis lebih banyak menjelaskan alasan mengenai pembangunan jalan raya pos oleh Daendels, kemudian juga sedikit menyinggung perihal karir militer Daendels yang kemudian menjadi pengikut Napoleon Bonaparte (Prancis), melihat dari kedua sisi penulis baik dari Pramoedya A.T ataupun tim historia masing-masing memiliki sudut pandang sendiri dalam menceritakannya dan keduanya saling melengkapi
Lebih cocok disebut sebagai buku saku mengenal tokoh penjajah, alih alih sebagai rujukan informasi buku ini hanya berisi cuplikan dari beberapa sumber lain utamanya dari buku Pram Jalan Raya Pos Jalan Daendels