"Jika aku bisa memutar waktu, aku ingin menyadari kehadiranmu lebih cepat..."
Tawa Deeka itu menular. Kalian tidak mungkin bisa menahan tawa juga. Begitupun Nara, si cewek pintar penyuka kucing. Dunianya mendadak penuh tawa, sejak Deeka masuk ke dalam hidupnya.
Nara berani menghadapi trauma masa lalunya, hingga kemudian mengejar cita-citanya lagi sebagai penulis. Diam-diam Nara mulai melihat Deeka dengan cara berbeda.
Yang tidak Nara tahu, ada sebuah rahasia pahit yang tersembunyi di balik senyum hangat cowok itu. Rahasia pahit yang awalnya tak mampu Deeka ungkapkan, lantaran cowok itu tak ingin Nara sedih karenanya.
Tapi ... Serapat apapun sesuatu hal disembunyikan, pasti akan ketahuan juga, kan?
Cinta SMA? Nara tidak butuh hal semacam itu. Nara sudah sering membaca semua itu di novel, dan ia sadar sekali... realita tidak akan seindah novel.
Kalau teman-teman sekolah sangat menyukai Deeka yang periang dan tampan sepeti aktor Jepang, berkebalikan dengan Nara. Pertemuan mereka terbilang tidak baik, Deeka tiba-tiba saja marah karena ditabrak Nara, lalu menanyakan namanya, padahal dengan jelas kalau cowok tersebut sengaja. Niat awalnya hanya ingin berkenalan, minimnya pengalaman berhubungan dengan lawan jenis, membuat Deeka malah melakukan hal bodoh untuk menarik perhatian Nara, sehingga bukannya terpesona, Nara sebal dengan keberadaan Deeka karena sering mengganggunya, dia menjadi ketus dan menjaga jarak.
Bukannya tanpa hasil, Deeka yang penuh semangat setiap hari, tidak lelah mendekati Nara, lama kelamaan kehadirannya membekas di hati cewek pendiam dan pandai tersebut. Kadang hal konyol yang dilakukan Deeka membuatnya tersenyum, hal yang jarang dilakukannya sejak kepergian sang ayah. Bahkan di saat Deeka membuatnya sangat marah ketika membicarakan impian yang sudah dia lupakan, justru Deeka membukankan harapan baru, bahwa impiannya dahulu bukannya sekadar mimpi belaka.
Ketika Nara ingin menyambut uluran hati Deeka, cowok tersebut malah menjauh, gantian dia yang menjaga jarak, tersenyum palsu. Sebuah rahasia yang tidak ingin Deeka bagi, kepada siapapun. "Kita nggak boleh melupakan masa lalu karena hal itu akan jadi pelajaran hidup di masa depan. bodoh." "Gue kira, cewek akan merasa tersanjung kalau dikejar?" "Ibaratnya tuh kayak layangan. Kalau ditarik terlalu kuat, layangan itu akan putus. Tapi, kalau terlalu banyak diulur, layangan itu akan lepas dan jatuh. Jadi, tarik ulur seperlunya aja." "Mengembuskan napas itu sama aja kayak melepas seribu kebahagiaan. Sayang banget, kan?" Ternyata, tidak ada orang jahat ataupun baik. Semuanya sama, tergantung dengan keadaan lingkungannya saja. Cukup lama saya tidak mendapati cerita remaja bertema sick lit, sejak mental illness menjadi primadona akhir-akhir ini. Regretful bisa menjadi penyegar, melihat tema yang diusung, dipastikan ada bagian yang emosional, menguras pundi-pundi kantong air mata. Memang ada beberapa formula cerita remaja yang biasa kita temui, misalkan saja dari yang paling pokok, tokoh Deeka yang menjadi idola, cukup badung dan dari segi fisik, digilai lawan jenis. Ada pula si pemeran antoganis, cewek bitch yang tidak ingin disaingi, kemudian melancarkan serangan bully.
Sedikit kekurangan saya temui di awal-awal, selain belum terlalu lancar mengikuti gaya tulisan Asyifashi, jenis tulisan yang menurut saya sedikit manja secara gaya bahasa. Saya agak terganggu ketika Deeka baru tahu nama Nara setelah satu minggu sekolah, padahal mereka satu kelas, bukan hal yang sulit sebenarnya untuk mencari tahu, melihat Deeka sangat ingin mengetahui nama gebetannya. Ada beberapa typo juga di bagian awal, selebihnya tidak ada kesalahan yang fatal. Namun, semakin kebelakang setelah saya terbiasa dan menemukan ritme yang pas, setelah menu utama terungkap, saya menikmati membaca Regretful.
Kelebihan utama, penulis memfokuskan cerita pada proses alih-alih kisah cinta. Proses di sini dimaksudkan berhubungan tema sick lit tadi, saya tidak akan menyebutkan secara rinci karena akan lebih enak kalian membaca sendiri, serius, kalian akan penasaran seperti saya apa yang sebenarnya terjadi, sehingga tidak sabar untuk segera menamatkan. Penulis fokus akan perjalanan penyakit, dampak penyakit tersebut secara psikologis dan fisik, tidak hanya bagi si pengidap, tetapi keluarga, sahabat, teman dan lingkungan sekolah. Penulis memasukkan emosi kepada karakternya dengan sangat baik sekali, bahkan ada beberapa bagian yang membuat saya sesak sampai menangis.
Karakternya cukup kuat, di awal saya kurang menyukai Nara, pun dengan Deeka karena mereka jenis tokoh yang mudah kita dapati di cerita remaja lainnya. Hal yang membuat saya sedikit tersendat, menunggu apa yang berbeda dari tulisan Asyifashi, sampai akhirnya terbiasa dan karakter ciptaanya konsisten sampai akhir, sampai melebur dengan cerita, sampai akhirnya bisa menghidupkan cerita.
Walau pendiam dan langganan juara umum, Nara bukan gadis yang lemah, terbukti dia tidak takut dengan ancaman Siska yang menyuruhnya menjauh dari Deeka, dari omongannya yang sinis, yang sebenarnya mengandung pesan yang dalam. Deeka bagi saya tokoh utama yang sebenarnya, pondasi cerita, dia sangat manusiawi, ada kalanya dia ingin selalu menjadi kuat, ada kalanya dia menjadi pesimis. Bahwa kalau kita tersenyum maka semua penyakit akan lenyap.
Saya sangat menyukai para peran pembantu, orang-orang terdekat, bahwa mereka lah yang sangat dibutuhkan ketika kita tanpa daya. Saya sangat menyukai karakter Indra, walau tegas dan tidak banyak omong, dia sangat menyayangi keluarganya, khususnya Deeka. Pun dengan Andra, lewat sosok yang lebih humoris, dia menggambarkan kedekatan kakak adik, brotherhood goals kalau saya bilang. Semua orang pasti ingin memiliki sahabat seperti Roni, percaya deh. Karakter Sandra cukup mainstream, tapi dia sahabat pertama yang Nara temukan di sekolah. Bahkan Siska yang menjadi antagonis, tak sejahat yang kelihatan, justru dia yang sangat paham dengan keadaan.
Kalau ditanya pesan apa yang ingin disampaikan buku ini, saya melihatnya bahwa ketika seseorang ada di titik terendah, jangan jauhi, tapi rangkul lah, peluk, beri dia kekuatan, dia tidak sendirian menghadapi beban hidup. Akan ada orang-orang yang tulus dan tanpa lelah menyokong dari belakang, walau lebih banyak yang akan lepas tangan dan menjauh, menghindar, memandang rendah. Dukungan dari orang terdekat, keluarga dan sahabat, orang yang menyayangi dengan tulus, akan menjadi kekuatan besar. Ada kisah cinta, bukan hanya tentang sepasang remaja, tapi jauh lebih besar.
Saya sangat suka covernya, kalau kalian sudah membaca buku ini, kalian akan paham maknanya, sangat meaningful. Walau masih ada kekurangan, dan berharap di karya selanjutnya lebih bagus lagi, setidaknya penulis berhasil menanamkan hal yang paling krusial bagi saya, ceritanya syarat emosi. Regretful boleh saja bermakna penyesalan, tapi kalian tidak akan menyesal membaca buku ini.
Jujur, saya sudah menyukai novel ini sedari awal kisah Nara dan Deeka dimulai. Prolog yang merupakan jeritan hati seorang Nara menjadi salah satu kunci utama dari keseluruhan kisah ini. Sang penulis berusaha mengantarkan kita untuk kembali ke masa lalu, untuk memahami arti dari sebuah kata Regretful.
Sesungguhnya aku ingin memberi rating 4.5/5 mengingat ending dari epilog yang sangat aku tidak suka, benar2 membuat hatiku menjadi lebih hancur. Tapi sebenarnya dari awal sampai akhir cerita ini begitu indah, mengharukan. Hatiku penuh dengan emosi yang campur aduk. Bodohnya masih berharap akan berakhir happy ending, padahal dari prolog saja sudah ketahuan endingnya bagaimana. Membaca masa lalu seseorang membuat saya semakin tersiksa karena tidak mungkin juga alurnya bisa berubah, 10 tahun yang lalu bayangkan.
Aku benar2 takut jika endingnya Nara berakhir dengan ****, dan ternyata benar. :)
Hubungan kedekatan Nara dengan Deeka juga lama banget perkembangannya, bikin aku gregettt. Momen kebersamaan mereka juga kurang banyak dan romantis. Aku juga kurang suka dengan sikap Nara yang ga peka-an, polos, mudah tertipu, padahal dia pintar di bidang akademik.
Oke aku masih tidak terima dengan endingnya :"") apalagi berbahas mengenai Deeka. Ah sudahlah, pokoknya kalian harus baca. Tapi jangan terlarut dengan humor di awal-pertengahan cerita, karena itu semua hanyalah masa lalu, dan orang yg membuat kalian tertawa sudah........ hhh,, Baca saja sendiri
Ini buku gemessss bgt sumpaaaah. Bahasanya ringan, kukira bakal biasa aja BUT NO! Justru bahasanya yg ringan itu yg bikin buku ini page turner. Plotnya gampang-gampang susah ditebak. Apa yg bikin gemes? Sikap si mc cowo dan cewenya, momen² mereka, konflik mereka, dan rumitnya kisah cinta mereka yg berkembangnya pelaaan banget. Buku ini cukup nge php in si, meskipun dari blurb di belakang bukunya udh ketahuan gmn ceritanya. Nge php in nya tu, di awal² dibikin haha hihi, tapi pas bab 8 an gitu, siap² aja gabisa ketawa lagi. Bisa sih, tapi dikiiiit banget. Buku ini banyak typonya, tapi masih worth to read si kalo menurut aku.
Saya lebih suka Roni, kakak²nya Deeka, dan Siska. Ketimbang 2 tokoh utamanya.
Alurnya lumayan menarik, jalan ceritanya cukup bisa dinikmati. Walaupun udah bisa ketebak endingnya, cuma seru aja buat cepet-cepet ngehabisin ceritanya. Yang kurang, pengembangan tokoh nya kurang konsisten tapi lumayan tertutupi oleh gaya penulisannya sehingga masih bisa dinikmati.
Jujur... Awalnya Nara & Deeka gemes banget walaupun kesel sama sikap Nara yang niatnya ngejauh, sikap Deeka yang plin plan pesimis. N the ending, uda ketebak sih tapi tetep aja nangis. Nangis terus baca ini
This entire review has been hidden because of spoilers.
Seneng banget sama ceritanya. Gemesin trus bikin greget karna Nara yg sempet mau ngejauh. Deeka ini bener-bener cowok idamanku wkwkw. Kurang suka sama endingnya karna gantung (?) Pokoknya kurang memuaskan aja.
Buku yang cukup sulit ku selesaikan. Sebagai orang yang mudah menangis, membaca buku ini membutuhkan banyak energi. Bahkan saat ingin menamatkannya, aku harus berjuang dengan mata yang sudah terasa memanas dan pedih karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.
Saya suka alur ceritanya, tapi tidak dengan style penulisannya. Entah kenapa saya malah suka sama tokoh Siska dari pada Nara.
Tokoh Declan sedikit tidak jelas, pada suatu waktu ia bisa naik kelas karena tidak pernah absen dikelas, dan suatu waktu lagi guru privat Declan berkata bahwa ia anak yang pintar. Penekanan karakter masing2 tokoh kurang kuat, sedikit tergeser2.
Over All, saya enjoy aja. Endingnya lumayan nyesek.