[2-2019]
Saat melakukan perjalanan di India bulan September lalu, di perjalanan sebuah kereta dari Jodhpur ke Ahmedabad, saya berusaha menyelesaikan tulisan #TNTEffect. Sebelum berangkat, saya memang sudah menulis 2-3 paragraf, namun tak terselesaikan karena rasanya banyak sekali yang ingin saya ceritakan.
Di atas kereta, menjelang deadline #TNTEffect, saya berusaha menyelesaikan tulisan tersebut. Tulisan itu memang tidak terpilih untuk ditampilkan di TNT 8: Farewell. Nah, alih-alih ingin mengulas buku TNT 8 ini, di halaman goodreads ini, saya ingin menayangkan tulisan itu.
* * *
MBAK T, COBA LIHAT PASPOR SAYA
Saya “mengenal” Mbak T jauh sebelum beliau terkenal seperti sekarang. Saya lupa kapan tepatnya, seingat saya sekitar tahun 2005 saat saya untuk pertama kalinya tersasar di salah satu tulisan beliau. Saat itu, saya tengah mempersiapkan sebuah esai yang topiknya tengah dibahas di blog Naked Traveler.
Merasa masih ada yang perlu digali, saya langsung kontak Mbak T melalui email dan alhamdulillah direspon dengan baik. Satu pelajaran penting yang saya dapatkan dari Mbak T saat komunikasi via email itu ialah, “jika kamu ingin menulis sesuatu, tulislah apa yang dekat dengan kehidupanmu.”
Selanjutnya, saya “sakau” dan membaca semua tulisannya di blog. Saat itu, sosok Trinity yang tulisannya menemani hari-hari saya masih nampak misteri. Saya hanya dapat membayangkan wujud beliau seperti apa dari gambaran sosoknya yang ditulis di buku.
Teka-teki itu terus berlanjut bahkan ketika kemudian tulisan di blog dibukukan. Barulah kemudian, saat The Naked Traveler 2 diluncurkan dan Mbak T hadir ke Palembang, untuk pertama kalinya saya dapat bertemu langsung dengan beliau. Sosok yang saya idolakan dan kagumi pengalaman perjalanannya.
Sejak kecil keinginan menjelajah dunia memang terpatri di hati. Peta dunia & globe hadiah dari ayah adalah sahabat lain saya. Buku-buku bertema perjalanan dan petualangan acap membuat saya berfikir, “saya mau ke sana suatu saat nanti!”
Dan, The Naked Traveler series itu termasuk dalam deretan “kitab suci”perjalanan saya. Bukunya sampai lecek saking seringnya saya baca (terutama saat “setoran” di kamar mandi rrr). Tak heran, dapat dibilang saya hapal tiap-tiap cerita yang dituliskan di sana.
Lalu, ketika kemudian perlahan satu demi satu destinasi yang dituliskan dapat saya datangi, itu pun tak lepas dari peran Mbak T yang senantiasa menebarkan “virus” traveling kepada seluruh pembacanya. Gak melulu destinasi luar negeri, tentu. Kecintaan saya terhadap Indonesia juga kian mencuat saat membaca The Naked Traveler series.
Misalnya saja saat kemudian dapat mendatangi Ternate, melalui tulisan Mbak T, saya tahu tentang spot foto gambar belakang uang pecahan seribu rupiah paling autentik, ya dari buku The Naked Traveler. Ketika saya kemudian berhasil mendatangi Pantai Tifu –tempat yang dimaksud, saya langsung unggah foto tersebut dan menandai khusus Mbak T sebagai rasa terima kasih. (Belakangan, itulah foto dengan like terbanyak di sepanjang tahun!)
The Naked Traveler semakin berkembang. Dari buku, kemudian dijadikan film. Mengenai hal ini pun ada kisah tersendiri. Saya waktu itu mendapatkan tawaran untuk menyaksikan peluncuran filmnya di Lampung. Demi kesempatan itu, saya bela-belain naik kereta (hampir) 12 jam dari Palembang hanya untuk menjadi salah satu bagian peristiwa bersejarah itu.
Bayangkan, saya dapat menonton film tersebut satu studio bersama Mbak T dan jajaran pemainnya. Saya menyaksikan pula momen haru seorang Trinity saat film itu ditayangkan untuk pertama kalinya. Saya, yang hanya seorang pembaca biasa ini saja merasakan kebanggaan yang luar biasa, apalagi beliau.
Bayangkan, semua pencapaian itu didapatkan "hanya" dari menulis! Sejak lama, saya juga menulis di blog. Pun, beberapa tulisan saya tergabung dalam beberapa antologi dan sebagian ceritanya tentang perjalanan.
Namun, cita-cita saya untuk memiliki solo buku bertema traveling masih harus diperjuangkan. Makanya, saat mendapati kabar bahwa buku TNT8 ini adalah seri TNT terakhir, bolehlah saya tetap optimis bahwa Trinity akan terus menulis.
Toh, tidak menutup kemungkinan Mbak T akan mengeluarkan seri buku terbaru, bukan? She is my role model. She is my inspiration. Walau di satu sisi saya paham, idola juga manusia, kan?
Walau harapan saya Mbak T tetap menulis buku itu sangat besar (dan saya yakin pembaca lain juga berharap sama) tentu support yang dapat saya berikan sebagai pembaca dengan mendoakan dan menyokong karya-karya lain yang sudah ada.
Hehe, saya gak akan senekat tokoh yang afa di novel Misery-nya Stephen King yang rela menyandera penulis idolanya agar terus menulis, bukan?
Media tulisan juga sangat banyak. Jika buku TNT 8 dianggap karya terakhir TNT series, sekali lagi, saya berharap Mbak T akan mengeluarkan serial baru, atau catatan perjalanan dengan gaya yang baru namun tetap terasa kekhasan seorang Trinity itu.
Saya harap juga, setidaknya akan tetap ada (atau bahkan lebih banyak) catatan perjalanan yang dibagikan Mbak T melalui blog NakedTraveler.
Ingin rasanya bisa jumpa lagi dengan Mbak T dan memamerkan paspor saya yabg berisi secuil stempel negara yang sudah saya datangi, yang sebagian besar perjalanan itu dilakukan karena inspirasi besar dari seorang Trinity.
SELESAI
* * *
Intinya, ada banyak sekali perubahan yang terjadi di dalam hidup saya pasca mengenal (karya-karya) Mbak T. Buku-buku yang ditulis Mbak T (tak hanya TNT Series) menemani hidup-hidup saya selama ini. Untuk itu, terima kasih ya mbak :)
Kutunggu momen untuk dapat ngopi bareng, in the near future :)