Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kata: Tentang Senja Yang Kehilangan Langitnya

Rate this book
Nugraha

Andai bisa sesederhana itu, aku tidak akan pernah mencintaimu sejak awal. Aku tidak akan mengambil risiko, mengorbankan perasaanku. Namun, semua ini di luar kendaliku.

Biru
Banda Neira adalah hari-hari terakhirku bersamamu. Kutitipkan segala rindu, cerita, dan perasaan yang tak lagi kubawa, lewat sebuah ciuman perpisahan. Berjanjilah kau akan melanjutkan hidupmu bersama laki-laki yang bisa menjaga dan menyayangimu lebih baik dariku.

Binta
Cinta pertama seorang perempuan yang didapat dari laki-laki adalah dari ayahnya. Dan cinta pertama itu, telah mematahkan hatiku. Ayahku sendiri membuatku berhenti percaya dengan yang namanya cinta.

Nugraha, Biru, dan Binta saling membelakangi dan saling pergi. Mereka butuh kata-kata untuk menjelaskan perasaan. Mereka harus bicara dan berhenti menyembunyikan kata hati serta mencari jawaban dari sebuah perasaan.

404 pages, Paperback

First published January 1, 2018

217 people are currently reading
2412 people want to read

About the author

Rintik Sedu

10 books214 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
801 (40%)
4 stars
625 (31%)
3 stars
339 (16%)
2 stars
151 (7%)
1 star
79 (3%)
Displaying 1 - 30 of 237 reviews
Profile Image for Al-Al Malagoar.
Author 1 book51 followers
March 31, 2019
Dnf di halaman 60an

Ketidakkonsistenan paling haqiqi dari karakter Binta sama sekali gk bisa saya toleransi sih sejauh ini. Baru 60halaman pdhal, tp ketidakkonsistenan itu mencolok mata saya banget 🙄🙄🙄

Dan perasaan jatuh cinta mendadak yang sama sekali tidak bisa dinalar akal sehat dari tokoh Nug, serta sifatnya yang supermenjengkelkan, tidak punya sopan santun, suka memaksakan kehendak, tidak mengindahkan suara bahkan protes ketidaknyamanan Binta, dan lagi MEMBENTAK perempuan hanya untuk meloloskan keinginannya sama sekali tidak terampuni.

Ngeri banget sih ini. Kemistrinya dibangun dari pemaksaan laki2 terhadap perempuan. Mungkin di mata banyak orang apa yang dilakukan Nug itu membuat dengkul meleleh seperti jenang, sayangnya tidak pernah ada hubungan sehat dari aksi "pemaksaan kehendak"
Profile Image for Utha.
824 reviews401 followers
May 4, 2022
DNF di halaman 160. Lumayanlah.

Sejak baca beberapa paragraf pembuka, aku udah mengernyit tentang penjelasan mamanya Binta yang mengidap skizofrenia. Selain kayak "disembur" sama latar tokoh, semburannya juga terasa kayak bukan air saringan yang jernih. Alias... kok nggak jelas? Belum lagi penyakit skizo si nyokap juga kayak ya udah diceritain doang, ditempel dari hasil nge-googling. Maksudku, ya nggak mesti detail, tapi seenggaknya penulis kasih hint dari tindakan mamanya. Tapi di sepanjang yang aku baca, mamanya cuma bengong. Ada dokter saat nyokapnya Binta jatuh juga kayak... wakwaw gitu lho.

Kisahnya memang tentang Binta, dan pembukanya tuh saat Cahyo (yang kemunculannya figuran banget) pengin Binta punya teman (waw, baik banget). Dia ngerasa Binta terlalu ansos. Dia udah coba kenalin Binta ke temen-temennya. Tapi ada yang beneran tertarik sama Binta, yaitu Nug. Yah, biasalah, cerita novel TeenLit premisnya mirip-mirip: cewek biasa ditaksir cowok ganteng dan si cewek nggak sadar seberapa pengaruhnya cowok itu. Tapi yang aku bingung tuh... karakter Binta nggak konsisten. Katanya, dia suka sendiri, lebih suka nggak keliatan. Tapi dideketin Nug beberapa kali aja "lemah" banget. Katanya dia suka pulang, tapi kehadiran Nug kayak "nggak papa deh". Atau sebenernya ya Binta memang senormal itu ngeliat cowok cakep terus hayuk mau diajak jalan. Atau yah, mungkin aku belum pernah dalam posisi kayak gitu kali ya.

Soal penulisan, banyak "perpindahan" adegan yang nggak mulus di awal. Kayak beneran dicaplok dari Wattpad kali yah? Jadi sekadar copy edit aja? Belum lagi nih ya, di awal udah ber-lo-gue-lo-gue, lalu tiba-tiba aku-kamu-tidak. Iya, tidak. Wkwkwkw. Aku nggak masalah sama penulisan baku, tapi ini tuh... berlebihan. Bayangin anak Jakarta bilang, "Aku tidak seperti itu. Tidakkah kamu paham?" Kalau iya, aku ngira tuh orang lagi belajar audisi Biskuat, hehe. Eh, tapi apa aku skip ya bacanya? Ternyata latarnya bukan di Jakarta, haha. Maaf ya kalau iya.

Terus lagi nih... bahasanya dibuat puitis. Aku kan dapet bukunya "lungsuran" ya. Jadi, kata yang punya sebelumnya tentang novel, "Gila, nggak kuat apa-apa puitis gini. DNF di halaman 60-an." Aku kira puitis tuh narasinya, yah semacam novel Esti Kinasih yang masih enak diikutin gitu. Eh taunya dialognya yang kebanyakan kayak gitu. Terus aku yang ngebayangin masa kuliah pun kayak... oh ya udah. Akhirnya aku nggak terusin baca di halaman 160. Terlalu random. Semestanya nggak ke-build sebagaimana realita semestinya.

Terus kemunculan Biru, penyebutan nama Binta jadi Jani... entahlah.

Ada kalimat lucu sebelum aku DNF: Kadang ia berpikir, yang membangun bandara itu sama sekali tidak punya hati. Bayangkan betapa indahnya bumi kalau tidak ada bandara? Tidak akan ada yang namanya perpisahan.

Pas baca tuh aku beneran memutar bola mataku, mau ketawa tapi kok nggak lucu. Ampun deh. Yah, pokoknya menurutku tuh semestanya Kata kayak baca skrip dari bocah yang lagi main mamah-mamahan di lapangan pas zaman SD sambil bawa Barbie. Punya imajinasi tapi belum fasih dengan dunia luar.
3 reviews1 follower
March 8, 2019
Beli buku ini di november 2018 karena banyak temen yang baca dan merekomendasikan. Enggak tahu kenapa mungkin aku nggak baca buku yang tepat buat aku. But this book doesn't fit me. Ceritanya sederhana tetapi terlalu bertele-tele buatku. Tokohnya tidak related to life. Aku biasa baca buku sehari selesai kalau aku benar benar menikmati buku itu, tapi untuk buku ini, dari november 2018 aku baru menyelesaikannya maret 2019 itupun perlu paksaan because i didnt get inside the story. Way too cringe for me. I repeat, for me.
Profile Image for hvmaniora.
45 reviews5 followers
October 8, 2021
Jujur, membaca Kata—buatku—rasanya sangat melelahkan. Kabar buruknya, ini bukan rasa lelah yang kudapat karena aku bisa sangat masuk ke dalam kisah dan dunia yang dibangunnya. Sama sekali bukan. Lelahku ini tipe lelah yang, “Apa, sih, yang lagi kubaca?!” Begitu sepanjang jalannya.

Masalah terbesar dari buku ini adalah inkonsistensi Rintik Sedu sebagai penulisnya.

Mulai dari karakter tokoh Binta yang enggak jelas; di awal narasinya begini, tapi kemudian kok begitu? Bagiku, penjabaran karakter Binta di awal lebih masuk akal daripada cerita yang kemudian mendominasi di dalam buku ini. Dengan keadaan keluarga yang tidak utuh dan kondisi mamanya yang “katanya” mengidap skizofrenia—ini pun enggak jelas seperti tempelan semata untuk mendramatisir ceritanya, akan lebih logis ketika Binta menjadi pribadi yang lebih dewasa dari kawan seusianya sebab “dipaksa keadaan” untuk berlaku demikian. Namun, tidak. Binta yang kemudian tampak di sini seperti seorang anak yang hidupnya sangat sempurna dan selalu bahagia karena seluruh kemauannya dapat terpenuhi dengan sekali jentikan jari, tapi tiba-tiba dijatuhi kemalangan yang membuatnya kaget dan kewalahan. Jadinya apa? Manja, egois, nirempati.

Lalu, penggunaan kata ganti orang. Ada bagian di mana Binta ngobrol dengan sang mama dan menyebut dirinya “Binta”, tapi selang berapa kalimat berubah jadi “aku”. Begitu pun dengan caranya berbicara dengan Nug, katanya bukan teman kok tiba-tiba ngomong pakai aku-kamu tanpa latar belakang yang jelas seperti perubahan kata ganti yang digunakannya ketika bersama Biru?

Bicara soal Biru, Biru ini sebetulnya nama asli atau bukan? Sewaktu Nug bertanya, Binta bilang nama aslinya memang Biru. Sementara dinarasikan kemudian bahwa Biru adalah nama yang diberikan oleh Binta sebagai semacam “panggilan sayang”. Dan, kembali ke karakter tokoh ya. Biru dideskripsikan di awal enggak menunjukkan perasaan apa pun pada Binta, tapi setelah Biru masuk ke dalam cerita dan mengisahkan ceritanya sendiri rasanya jelas banget kalau sejak dulunya memang sudah punya rasa.

Geser sebentar ke Nugraha, ya. Sebagai pembaca, aku sama sekali enggak bisa menangkap motivasi yang jelas kenapa Nug bisa tiba-tiba jatuh cinta pada Binta? Laki-laki populer yang disukai banyak perempuan, katanya. Sedang Binta hanya sebagai mahasiswi invisible yang enggak ditonjolkan kelebihannya selain menggambar—ini pun hanya di awal, tapi dibilang lain daripada yang lain karena jutek di mula perkenalan dan akhirnya membuat Nug mengejarnya tanpa menghargai Binta yang “katanya” terganggu? Hubungan Nug dengan Sinta juga aneh. Kukira memang mereka sebelumnya putus karena Sinta selingkuh, tapi kemudian Nug bilang kalau Sinta memang perempuan yang enggak benar dan tukang mabuk. Yap, tanpa menceritakan sedikit pun hal baik dari Sinta. Kenapa laki-laki “jenius” bisa pacaran dengan yang begitu? Aduh, mohon maaf, enggak berterima banget ceritanya di kepalaku.

Inkonsistensi yang ada di dalam Kata bukan hanya soal karakter, tapi juga narasi keadaannya. Aku menemukan dua bagian yang sangat mengganggu buatku. Yang pertama, di halaman 252 dibilang sedang hujan, tapi selanjutnya dibilang baru akan turun hujan. Sudah hujan atau belum, nih? Lalu, aku lupa di halaman berapa—sewaktu Binta dan Nug berpelukan, katanya mereka memutuskan untuk saling melepaskan pelukan. Namun, beberapa paragraf berikutnya digambarkan masih berpelukan.

Hal mengganggu lainnya adalah banyaknya kesalahan ketik yang membuatku enggak nyaman saat membaca. Pun dengan bias yang timbul antara narasi dan suara hati. Biasanya, yang kutau, kata hati tokoh dalam buku-buku lain yang kubaca tuh dicetak miring sementara narasinya ya tegak lurus biasa. Nah di Kata, seringkali kata hati dicetak tegak lurus dan ada pula narasi yang ikut dicetak miring. Jadi membingungkan, sebab buku ini bercerita menggunakan sudut pandang orang ketiga. Hm???

Semesta yang dibangun oleh penulis sangat tidak kokoh. Seperti enggak ada kerangkanya sama sekali. Background cerita, karakter, dan banyak detail lainnya yang begitu blur. Yang jelas hanya satu: soal hati yang mempertanyakan kejelasan. Sudah. Ya, sekali lagi mohon maaf, mingkin memang buku ini kurang cocok denganku.
6 reviews1 follower
September 23, 2020
Ga bisa berkata apa2 lagi. Intinya,

ini novel ter-bikin ngelus dada yang pernah gue baca:')
Profile Image for Stiva Yulianti Azhar.
6 reviews1 follower
April 13, 2019
DNF di halaman 7.

Dari sampul dan taglinenya, saya sudah bisa membayangkan kalau diksinya bakal luar biasa. Ternyata cuma ekspektasi.

Baru membaca halaman pertama saya sudah mengerutkan kening. Apalagi di bagian Binta meluk ibu penjual nasi uduk. Padahal di awal diceritakan kalau Binta itu susah berkomunikasi dengan teman-temannya. Iya sih dijelasin kalau Binta akrab banget sama penjual nasi uduk itu, tapi menurut saya alangkah baiknya kalau ditunjukkan lebih detail lagi.

Semangat untuk cerita-cerita berikutnya. Kritik bukan berarti mencela ya 😊
Profile Image for Rizky Ayu Nabila.
242 reviews30 followers
April 23, 2019
FULL REVIEW BACA DI https://www.rizkyayunabila.com/2019/0...

🌟3.8/5

Kata merupakan novel romance yang terdapat banyak kata puitis dan gombal layaknya Novel Dilan.

Kata menceritakan tentang Binta, Nugraha dan Biru. Binta atau Senjani memiliki kisah masa lalu bersama Biru. Sayangnya, Biru tak pernah mengungkapkan atau memberi tahu tentang perasaannya pada Binta. Setamat SMA, Biru pergi dan menghilang entah kemana. Membuat Binta semakin tak percaya akan cinta sejati.

Semenjak kejadian itu, ditambah lagi dengan keadaan keluarganya sekarang, Binta menjadi sosok yang pendiam dan penyendiri. Binta dikenal sebagai invisible woman di kampusnya.

Saat kuliah, Binta bertemu dengan Nugraha atau yang kerap disapa Nug. Nugraha ini merupakan teman dari temannya Binta di kampus, Cahyo namanya.

Awalnya, Binta selalu cuek dan ketus pada Nug. Binta mengira Nug hanya kebetulan saja mendekatinya. Binta takut apabila Nug meninggalkan ia layaknya Biru. Tapi, Nug tak pernah menyerah walau telah ditolak oleh Binta berkali kali. Nug tetap berusaha untuk meluluhkan hati Binta. Nug juga ingin membuat Binta mengerti bahwa semesta membutuhkan senyumannya.

Hingga akhirnya, terjadi suatu peristiwa dimana Binta bertemu dengan Biru. Disisi lain, Nug tidak rela bila harus berpisah dengan Binta.

Bagaimana kelanjutan kisahnya? Nah, baca langsung novelnya ya :p

Novel ini sangat aku rekomendasikan untuk dibaca oleh orang yang saat ini sedang terjebak dalam masa lalunya. Orang orang yang sampai saat ini sedang menunggu kepastian akan masa lalunya. Orang orang yang bingung untuk memilih; bertahan pada masa lalu atau bangkit dan mencoba dengan yang baru.

Meski novel ini adalah novel tentang kisah percintaan dan banyak adegan seperti ftv, aku tetap suka. Novel ini secara tak langsung mengajariku untuk bangkit dari masa lalu dan beranjak menatap masa depan dengan orang yang baru.

Aku bulatkan ratenya menjadi 4 karena bahasanya yang mudah dipahami, ringan dan cukup puitis. Serta pesan dalam novel ini disampaikan dengan baik.
37 reviews9 followers
January 24, 2021
Semesta, semesta, dan semesta. Kalau selalu mempertanyakan bagaimana semesta bekerja, seharusnya saya menyalahkan semesta saja karena membiarkan saya membaca buku ini. Nyatanya, membaca Kata sepenuhnya ada di tangan saya.

Tidak ingin mengatakan kata yang mungkin terdengar overused, tetapi cerita ini cringe. Ingin saya screenshot rasanya kumpulan dialognya yang ewhhh trus dimasukin ke txtcringe yang ada di Twitter. Reaksi saya sama persis ketika membaca Dilan.

Dilan.

Satu kata itu terlintas saat membaca Kata dalam beberapa halaman. Alias banyak banget dialognya! Nggak capai apa ya ngetik tanda petik dua terus? Ini kira-kira waktu penulis ngetik dialog tuh mungkin berasa, “Ah, gilak! Nyastra banget gue,” atau mungkin, “Anjir, ini pembaca pasti pada klepek-klepek.”

Narasinya juga yang bikin saya garuk-garuk kepala. Masa iya di dalam fiksi bertebaran omongan di dalam hati atau dalam pikiran? Ya maksudnya biarkan saja lah ya pembaca yang mengira-mengira. Masa iya semuanya harus ditunjukkan plek dalam narasi dan dialog. Penokohannya juga, Binta nggak suka begini, Binta tuh orangnya begitu. Akan tetapi, yang ditunjukkan dalam cerita tuh berbanding terbalik. Sejak halaman 20-an mungkin yang dialognya menggunakan gue-lo berubah jadi aku-kamu. Tolong jelaskan, bagaimana seorang Binta yang introver nan judes dan tidak suka berteman bisa secepat itu akrab dengan orang baru? Dengan Nug si pemaksa pula! Haduh, pengen nangis rasanya.

Setelah membaca halaman kesekian, mungkin 100-an. Saya baru tahu kalau Nug ini genius (katanya), IP semester empat Nug ini 3,8 (paling tinggi di antara teman-temannya), dan asisten dosen. Namun, kalau bucin tuh emang segitunya, ya? Bolos demi melihat orang yang dicintai dan kabur dari rumah sakit karena kangen, like WTF?!?!?!? Kesibukan Anda sebagai asdos jurusan arsitektur dipertanyakan loh ini Mas Nugraha....

Saya pernah membaca buku dengan penjabaran tokoh serupa, seperti Better Than This dan Interlude. Dua buku itu tentu lebih baik. Akan tetapi, Kata... saya sudah kehabisan kata-kata.
Profile Image for Riz.
1,262 reviews140 followers
Read
February 7, 2022
Gua mau agak beda ah dari yang lain, dengan nggak ngasih rating (meskipun DNF juga) 😂

Ngapa pula gua mutusin baca ini di saat kepala gua lagi rada pening 😵😂

Dari halaman pertama gempurannya udah melelahkan euy. Nggak kuat gua 😂
Profile Image for Rahmaditya Eka  Putri.
8 reviews1 follower
February 16, 2021
Cuma berhasil baca sampai halaman 150/396. Duuuh gak kuat bacanya!!! Gue kira bakalan dapet bucin experience dengan kualitas narasi Sapardi Djoko Damono (karena emang penulisnya pernah collabs buat puisi bareng penyair senior Indonesia ini, dan di IG, buku ini pun sempat ramai). Tapi selama baca, yang kepikiran sama gue cuma adegan-adegan FTV hiks. Meskipun agak merasa bersalah juga sudah buat review sebelum menuntaskan bukunya, ya gapapa deh soalnya emang gue ga nemu titik terang bukunya bakalan bagus sampai titik ini. Sorry Tsana, this is overrated.
Profile Image for WA.  Prakosa.
107 reviews2 followers
July 12, 2023
Bolehkah saya mengganti judulnya menjadi "Kata : Tentang Pembaca Yang Kehilangan Minatnya".
Profile Image for Wahyu Firmansyah.
14 reviews9 followers
August 2, 2019
Entah kapan terakhir kalinya saya dengan khusyuk membaca sebuah karya fiksi dengan plot roman, ingatan tersebut hanya berujung pada potongan-potongan aktivitas tatkala menghentikannya semata, seperti saat menyadari bahwa dunia ini tidak sedang dibangun dengan bercarik-carik puisi, himpunan kisah-kisah fiksi, maupun gelegar imajinasi yang seringnya bermuara pada hal-hal philanthropy. Alasan tersebutlah yang akhirnya membuat saya meneguhkan iman untuk mengakhiri aktivitas membaca buku-buku fiksi, dengan tanpa mendiskreditkan bagusnya karya-karya mereka tentunya.

Baru pada awal-awal bulan Juli lalu memutuskan untuk kembali membaca buku fiksi, dengan pretensi penasaran belaka dengan karya tulis pemilik akun Rintik Sedu yang notabene podcast-nya sering menduduki peringkat 10 besar di platform musik streaming Spotify tersebut. Siapa yang mengira bahwa sepasang kornea ini rela dibuat begadang sampai beberapa hari, hanya untuk mengikuti alur yang dibuat oleh perempuan berumur 21 tahun yang memiliki nama lengkap Nadhifa Allya Tsana ini. Kata merupakan buku ke-4 do’i, setelah sebelumnya merilis buku trilogi Geez pada rentang tahun 2017-2018.

Cinta Buta Tak Mengenal Mengapa

Ada tiga karakter utama yang coba ditonjolkan oleh Tsana, yaitu Nugraha, Biru, dan Binta. Ketiga sosok inilah yang mengisi lembar-lembar kertas ini akan dibuat hidup karenanya, meski sosok Biru dihadirkan oleh Tsana secara tiba-tiba tanpa pra-duga. Novel ini juga dipenuhi perspektif unik Tsana dalam menyikapi berbagai hal/situasi, yang ia tiup-kan melalui dialektika karakter-karakternya. Seperti ketika sosok Nugraha yang baru dipertemukan dengan Binta; seorang perempuan penyendiri, aneh, yang suka menggambar absurd di potongan kertas koran. Yang pada akhirnya membuat Nugraha jatuh hati karenanya, kerap beradu argumen yang sarat estetika.

"Kalau kamu, Ta? Kenapa pilih komunikasi?"
"Biar bisa belajar cara berkomunikasi dengan baik ... Mungkin?"
"Hasilnya belum juga kelihatan ya, Ta?"
Binta tertawa kecil.
"Mungkin aku enggak akan bisa lulus dari jurusan ini."
"Enggak bisa sama enggak mau beda lo, Ta."


Nugraha digambarkan sebagai pemuda tangguh yang tak kenal lelah untuk terus mencoba mengambil hati seorang Binta, tak sedikit pula yang setelah membaca novel ini—bahkan tidak sampai habis—kecewa dengan sosok perempuan yang digambarkan oleh Tsana ini, pasalnya Binta merupakan perempuan yang cukup acuh dengan kondisi sekitarnya. Hal inilah yang membuat beberapa pembaca novel Kata merasa tidak terima dengan sikap Binta, yang kurang menghargai sesamanya, terlebih Nugraha. Terlepas dari itu Nugraha memang cukup buta terhadap perasaannya, atau kalian boleh menyikapi-nya dengan si Nugraha memang telah menemukan cinta sejatinya, sehingga harus diperjuangkan hingga semangat yang telah kehabisan titik didih-nya sendiri. Apapun respon yang telah dilakukan oleh Binta, Nugraha selalu memiliki sifat positifnya tersendiri.

Nug bergumam dalam hati sambil tersenyum, aku suka Binta yang tidak banyak bicara, tapi ketika satu kalimat keluar dari mulutnya, seakan semesta ini malu karena kalah indah dengan ucapannya.


Mungkin ini juga menjadi salah satu upaya Tsana untuk membuat para pembaca baru maupun lamanya semakin mencandui diksi-diksi buatannya yang sarat metafora, atau malah jijik karenanya? Itu pilihan pembaca.

Simbolis Dalam Kata

Untuk ukuran novel remaja, Tsana cukup berhasil menangkap beberapa situasi dalam kondisi sehari-hari melalui kiasan-kiasan simbolis yang cukup relevan. Seperti ketakutan Binta terhadap polusi ketika hendak menaiki sebuah bus; ‘ia takut polusi itu masuk ke paru-parunya, tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak mungkin naik burung gereja yang semakin hari semakin menjauhi kota ini.’

Walkman butut satu-satunya yang Tsana gambarkan sebagai teman setia Binta dalam mengarungi rasa sepi itu, juga ia kaitkan dengan suatu kiasan yang tanpa diduga maknanya.

"Oh ... Jadi Binta yang kuno ini suka mendengar radio juga?"
"Kuno? Kok, aku kuno?"
"Walkman-mu?"
"Itu enggak kuno, Nug. Dengan kita menggunakan sesuatu yang sudah tidak ada lagi di masa yang baru, bukan berarti itu kuno, tapi kita menghargai sejarah."


Tsana mencoba menanamkan rasa percaya diri kepada para pembaca-nya, bahwa untuk menyukai terhadap sesuatu itu tak perlu harus mengikuti arus, meski rasa percaya diri niscaya sangatlah jauh dari sosok Binta sendiri.

Simbol burung merpati sebagai vertebrata yang tak memiliki rasa dendam karena tidak memiliki kantong empedu ini, juga Tsana kaitkan dengan sifat-sifat Binta yang sarat kontradiksi, karena si Binta memang cukup pandai menyimpan rasa benci maupun dendam di dasar hatinya, yang berujung pada tidak bersyukurnya ia terhadap proses apapun yang sedang dan akan terjadi pada hidupnya. Dalam hal ini kerja keras Nugraha lah yang paling kentara untuk meyakinkan pujaan hatinya, agar terus bersemangat menjalani hidupnya sendiri.

Sampai pada simbolis sebuah cermin yang secara diam-diam Nugraha belikan untuk Binta, agar dirinya bisa terus bercermin dengan rasa percaya diri terhadap apapun yang dimiliki. Seperti yang sempat saya bilang diatas, Binta adalah sosok yang niscaya jauh dari rasa percaya diri.

Charles Rumpley, Pulau Hatta & Banda Neira

Tsana cukup cerdik memanggil “arwah lokasi” kedalam ceritanya, ia sadar bahwa Pulau Banda Neira adalah landscape yang tepat untuk dijadikan latarbelakang imajinasi-nya. Menilik dari sub-judul novel ini saja; tentang senja yang kehilangan langitnya, pastilah pikiran kalian akan bermuara pada kutipan tentang senja dan secangkir kopi yang terkenal itu, atau minimal membaca buku ini sembari mendengarkan lagu dari band-band folk lokal agar terkesan relevan.

Banda Neira dihadirkan Tsana secara tiba-tiba, sebuah tempat dimana ada sesosok yang telah sejak lama menempati ruang hati Binta, yaitu Biru. Dari sini perempuan berkaca mata dan bertubuh mungil ini bertemu dengan masa lalunya, alur cerita pun seringnya memuat kilas balik dari kisah mereka berdua. Biru merupakan teman Binta sedari kecil sewaktu masih tinggal di Jakarta, dan memutuskan berpisah sewaktu lulus SMA. Mereka berdua dipertemukan kembali melalui Cahyo, teman satu-satunya Binta ketika pertama kali memasuki universitas.

Berjarak tempuh sekitar 25 kilometer dari timur Banda Neira, kita diajak Tsana sejenak untuk mengunjungi Pulau Hatta, sebuah tempat bersejarah yang memiliki sarat hubungan dengan salah satu tokoh dalam perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan yaitu Bung Hatta, ketika beliau diasingkan gara-gara PNI dianggap membahayakan kolonialisme Belanda. Cerita urban tentang kematian Charles Rumpley melalui catatan kerinduan terhadap keluarganya, yang ter-gores pada kaca jendela Istana Mini juga tak luput dari pantauan-nya. Seakan Tsana berpesan; ayo kawan, kita ke Banda Neira!

Alur Yang Lambat dan Akhir Yang Tergesa

Meski novel ini memiliki ketebalan hampir 400 halaman, namun jangan berharap kalian akan disuguhi eksplorasi cerita yang menarik perhatian. Tsana sebatas berkutat pada pendedahan karakter Binta yang memiliki sifat keras kepala, acuh pada keadaan sekitar, yang merasa hidup dalam ruang imajinasi Biru—dalam ruang imajinasi Biru, Binta berubah nama menjadi Senjani.

Mungkin maksud Tsana ketika memutuskan untuk bermain di plot yang melulu sama, ia berharap karakter Binta bisa merasuk kedalam diri para pembaca-nya. Namun apa daya, karakter Binta yang ia gambarkan mungkin terlampau jauh dari kehidupan nyata, ditambah kesabaran Nugraha yang seakan tak ada batasnya. Hadirnya tokoh ketiga, yaitu Biru adalah representasi atas kutipan yang dibuat oleh Tsana di awal-awal ketika kita membuka buku ini.

Untuk yang terjebak di masa lalu, untuk yang sedang melangkah ragu, buku ini akan membantumu beranjak dari kata yang lalu, ke kata yang baru.


Transisi menuju akhir cerita juga terkesan tergesa, bagaimana ia menutupnya dengan hitungan ‘sepuluh tahun kemudian’ hanya sekian menit ketika kita beralih dari halaman satu ke halaman lainnya, meski hitungan ‘sepuluh tahun kemudian’ tersebut sudah ia prediksi dengan kejadian ‘sepuluh tahun yang lalu’ ketika Binta dan Nugraha menjalani hari-hari bersama.

Saya paham betul apa yang dirasakan kawan-kawan di luaran sana yang bosan dengan rentetan alurnya, pasalnya ketika kita mulai memutuskan untuk membaca buku—dalam hal ini novel—waktu kita juga habis terkuras karenanya, maka terkadang memang membutuhkan kesabaran ekstra apabila hendak menyelesaikan membaca sebuah buku.

Namun seringnya kita kalut dalam ketakutan, bahwa waktu akan terbuang sia-sia apabila kita berkutat dengan buku yang memiliki alur cerita yang kurang menarik perhatian, yang ujungnya berkesimpulan prematur dalam menyikapi berbagai hal. Sederhananya kita menjadi sok tahu, padahal gagal paham.
Profile Image for Sarah.
27 reviews19 followers
March 18, 2019
Novel ringan menurutku, jalan cerita mudah ditebak, seperti kebanyakan teenlit. Rintik Sedu mencoba membuat kata-katanya menjadi puitis dan quotable untuk kids jaman now. Buatku yang udah melewati masa romantis cinta remaja, seharusnya novel ini bisa tamat dalam semalam atau dua malam deh. Tapi apa daya, karena malas dan sudah kutebak jalan ceritanya, jadi berminggu-minggu belum tamat, dan aku memang ingin menamatkannya. Novel cinta remaja yang bagus biasa.
Kebahasaan dalam novel ini sangat remaja kekinian, penggunaan 'aku-kamu' yang dianggap si tokoh romantis dan intim, sementara pergaulan dengan kawan sebaya menggunakan 'lo-gue'. Latar cerita diambil di Jakarta di tahun-tahun ini, namun tidak sedikitpun diceritakan 'macet' ketika si tokoh bepergian ke sekolah ataupun bermain ke tempat lain. Menurut saya, ada beberapa detil yang terlewatkan oleh si pengarang, pasalnya pada novel Geez & Ann, saya menemukan banyak kejanggalan lantaran detil yang tidak rinci dari pengarang, mungkin ini yang membuat saya agak skeptis dan tidak antusias membaca novel ini.
Alur kisahnya klasik, si perempuan tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang berada di pulau berbeda, sementara di sisinya hadir pangeran yang tulus menyayanginya. Si perempuan belum bisa membuka hatinya, bahkan selalu negatif kepada laki-laki lain yang mendekatinya karena dia hanya menunggu ciinta pertamanya kembali. Seperti kebanyakan, si perempuan dipertemukan dengan si cinta pertama, namun ternyata hatinya sudah terpaut pada sang pangeran. Yang memberi janji manis di mulut selalu berhasil dikalahkan oleh yang selalu siap dan sedia. Begitulah.
Menurut saya, konflik terlalu tokoh perempuan-sentris, ia egois, menyalahkan dunia menghukum dirinya dan sebagainya. Saya tidak suka! Jika memang benar ada orang sungguhan seperti si perempuan, tentu saya tidak mau menjadi temannya, si penyendiri, cuek, keras kepala, walaupun imut dan butuh kasih sayang. Konflik lainnya perihal keluarga, biasa lah. Dia membenci ayahnya yang meninggalkan dia dan ibunya, sehingga ibunya sakit dan itu menyiksa perasaannya.
Tsana membangun novel ini dengan nama tokoh yang bagus, dengan permainan kata-kata yang disebutnya puisi yang menurut saya kurang. Dia mengaku mendapat inspirasi dari Pak Sapardi, saran saya dia harus membaca karya penyair yang lain supaya tidak terjebak pada khayalnya sendiri. Novel ini penuh dialog, pendek tapi banyak. Deskripsi tidak terlalu panjang, normal lah. Tapi banyak tulisan yang membuat saya bingung, misalnya perkataan dalam hati yang kiasanya dicetak miring, malah tidak miring. Aneh, ketika tiba-tiba narasi menjadi "aku" padahal menceritakan orang ketiga. Mungkin kesalahan editor?
Intinya ini bagus untuk remaja kekinian! Ringan, simpel, santai, tidak muluk-muluk dan tidak neko-neko! Tidak ada kenakalan remaja di sini, tokoh-tokohnya cerminan remaja milenial yang suka ngopi di kafe, membuat puisi dan naik gunung. Itu saja.
Profile Image for Fauzi Karo Karo.
22 reviews
July 1, 2019
Mungkin buku ini lebih cocok dibaca oleh perempuan karena beberapa gombalannya terasa aneh jika dibaca laki-laki. Tapi overall buku ini bagus begitu juga dengan puisi-puisinya.
Profile Image for Ade Dwi Putra Janata.
2 reviews
July 22, 2019
DNF

Awal beli karna ada embel best seller nya.

Yah, mungkin bukunya kurang cocok sama saya.
Saya berhenti dihalaman 15.
23 reviews
November 9, 2019
Novel ini bercerita tentang kisah Binta Dineshcara, seorang mahasiswi komunikasi yang berparas cantik namun sangat tertutup dan cuek, membuat dirinya tak memiliki banyak teman. Binta lebih senang tenggelam bersama dunianya yang kelam dan hitam itu, menurutnya. Ia hidup dengan mamanya yang mengidap penyakit Skizofrenia, sedangkan papanya entah sekarang ada dimana. Sejak kepergian ayahnya hidup Binta semakin kelam, ditambah permasahan masa lalu Binta yang kini entah akan menggantung sampai berapa lama. Beruntung Binta masih punya Cahyo, satu-satunya teman yang mungkin Binta punya.

Kehidupan Binta di kampus pun tak begitu menyenangkan, ia lebih senang menghabiskan waktunya dengan kesendirian yang ia buat. Sampai suatu ketika ada seorang Nugraha yang muncul mengusik kehidupannya, termasuk perasaan Binta. Nug atau Nugraha digambarkan seseorang yang memiliki seribu kotak kesabaran terlebih dalam menghadapi Binta yang begitu cuek. Selama pendekatan dengan Binta, hanya ada penolakan dan juga usiran untuknya agar menyerah saja, itu yang hanya Nug terima, namun karena itulah Nug masih bertahan dan terus saja memperjuangkan Binta, bahkan hampir saja Binta luluh dengan kegigihan Nug.

Bukan Nugraha jika akhirnya memilih menyerah dan pergi. Sementara Binta, seolah menyerah dengan masa lalu yang kian membelenggunya. Di pertengahan muncul satu nama yang hadirnya begitu jarang diungkap namun inilah yang menjadi latar belakang Binta. Ia bernama Biru, Biru adala satu-satunya alasan Binta untuk melanjutkan hidupnya. Berpisah selama beberapa tahun, hingga pada suatu ketika semesta menyetujui mereka untuk bertemu di suatu tempat bernama Banda Neira. Alih-alih mendapat kepastian akan kisahnya bersama Biru yang selama ini menggantung, Binta justru dihadapkan pada kenyataan yang membuat hidupnya semakin pahit. Tanpa disadari ternyata Binta sudah ada rasa dengan Nug tapi ia masih tidak percaya, ia baru sadar ketika cemburu pada mantan Nug, dan ketika belum selesai konflik itu tiba-tiba Biru datang ke rumah Binta dengan tujuan mengutarakan isi hatinya yang sebenarnya. Ia mengajak Binta hidup bersama dan meninggalkan kuliahnya, namun Binta masih ragu, dan belum yakin, sampai pada saat itu Nug masih belum menyerah ia meyakinkan Binta untuk tetap di Jakarta saja, namun Binta masih bersih kukuh tak menurutinya, pikiran dan hatinya tak sinkron. Selain itu Nug berpamitan padanya akan pergi ke Aussie. Hingga pada akhirnya di bandara ternyata hanya Biru yang ke Banda Neira, Biru menyadari bahwa Binta sudah tak mencintainya lagi. Binta segera menyusul tambatan hatinya, Nug. Namun sudah terlambat, Nug sudah pergi, tapi bukan berarti cintanya terlambat. Ia memutuskan untuk menunggu Nug begitupun Nug mencintai Binta sesalu, dan pada akhirnya mereka hidup bahagia bersama.

pendekatan struktural
Unsur Intrinsik

• Tema : Cinta
• Tokoh dan Penokohan :
a. Binta, dikenal cuek, tertutup, namun sangat rapuh hatinya.
b. Biru, dikenal sosok masa lalu Binta yang sampai kini belum pasti keberadaannya.
c. Nugraha, dikenal bak superhero, sangat sabar, gigih dan juga perhatian.
d. Cahyo, dikenal sebagai satu-satunya teman Binta yang baik dan ramah.
• Alur : Alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju dimana cerita yang ditulis sangatlah runtut dan sinkronis antara kejadian satu dengan yang lainnya.
• Sudut Pandang : Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah sudut pandang orang orang ketiga, karena penulis disini berposisi seolah dia tahu segalanya yang terjadi dan dialami Tokoh.
• Amanat :
Untuk mendapat sesuatu yang benar-benar kita inginkan, perlu perjuangan yang butuh banyak pengorabanan.
Katakan selagi mampu, ungkapkan sebelum semuanya terlambat.
Sejauh apapun jarak dan tantangan, jika Tuhan mentakdirkan bersama dalam suatu ikatan maka apapun akan dilakukan.

Apresiasi saya mengenai novel ini, setiap penulis pasti mempunyai keunikannya sendiri, Tsana berhasil mengangkat tema cinta unik yang pada saat ini sedang digemari generasi muda, keunikannya terletak pada konflik yang diciptakan di dalamnya menjadi begitu kompeks sekaligus unik dan juga menarik untuk dinikmati pembacanya. Alur cerita yang diagambarkan sangat rinci sehingga tidak membuat pembaca kebingungan. Desain isi yang rapih dan juga dibubuhi ilustrasi gambar, menambah kesan dan juga suasana cerita di dalamnya, juga imajinasi pengarang menghidupkan tokoh, yang jarang sekali imajinasi tersebut ada pada novel-novel yang mempunyai tema sama, selain itu novel ini banyak kejutan-kejutan yang tak terduga, memang benar pada awalnya pembaca akan bisa menebak cerita akhir Binta akan dengan siapa, tetapi pada saat pertengahan sampai hampir tamat pembaca akan dibuat percaya berbeda dengan tebakan awal. Tsana juga berhasil membuat baper di setiap chapternya, konlik batin yang dirasakan tokoh dapat kita rasakan juga. Baik pada saat tokoh kecewa, marah, sedih, malu, atau baper. Mungkin hal ini juga sering kita alami jadi mudah saja kita rasakan. Singkatnya penulis berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca untuk ikut larut dalam kisah cinta segitiga Binta, Biru, Nugraha. Menurut saya Tsana ingin menghapus pandangan jika tidak selamanya perempuan harus menunggu, perempuan juga harus bisa menyatakan perasaannya agar tidak menimbulkan masalah. Jika cemburu katakan, jangan membohongi diri sendiri. Pada umumnya perempuan gengsi untuk menyatakan perasaannya, apalagi harus memulainya terlebih dahulu.
Judul pada novel ini merupakan cerita akhir dari novel ini kalimat “Tentang senja yang kehilangan langitnya.” itu benar sekali. Binta benar-benar kehilangan langitnya, tapi dia mendapatkan yang lebih baik dari langit, ialah awan dengan segala cerita indah di dalamnya. Novel ini memperjelas bahwa cinta tak melulu butuh sebab. Cinta tak melulu harus ditanya dan dijawab. Acapkali kita lupa bahwa cinta tak selalu tentang yang kita inginkan, melainkan cinta adalah tentang yang kita butuhkan. Rintik Sedu, sudah sangat baik untuk memperjelas ide ceritanya.
Profile Image for Rima.
26 reviews
October 3, 2025
Sejauh ini, Kata adalah novel paling boring dan cringe yang pernah aku baca. Kombinasi antara penulisan yang bikin merinding dan karakter yang menyebalkan bikin aku bolak-balik istighfar dan pengen sesegera mungkin menyelesaikan Kata. Salah satu bagian yang paling fatal adalah banyak banget detail yang terkesan cuma 'tempelan' aja. Sorry to say, tapi kelihatannya Rintik Sedu bener-bener menulis apa yang dia inginkan tanpa riset yang detail ya. Mayoritas bukunya cuma fokus ke percakapan-percakapan cringe antara setiap karakternya dan pola pikir mereka yang nggak jelas. Beberapa hal yang menggangguku sepanjang membaca:

1. percakapannya kaku banget. knowing setting-nya di Jakarta, kok kayaknya orang Jakarta ngomongnya nggak begini yak :( Cara mereka ngobrol tuh rasanya kayak nonton pertunjukan drama anak SMP yang super kaku
2. Terlalu maksa dibikin puitis. SEMESTA… SEMESTA… SEMESTA… (aku sampe muak sama kata itu karena diulang terus-menerus di sini)
3. Banyak hal yang terasa cuma 'tempelan' aja. Kayak penyakit mama Binta (rasanya kayak Rintik Sedu cuma googling tentang 'skizofrenia' lalu ditempel sebagai bagian dari karakter mamahnya untuk menarik simpati pembaca), alesan dia pengen menghilang dari bumi (HADEH), bahkan kehidupan karakternya sebagai anak perkuliahan pun nggak kerasa kayak anak kuliahan.
4. Karakter Binta. Kalau melihat background keluarganya yang nggak harmonis, Papanya kabur sama perempuan lain dan Mamanya skizofrenia, kupikir Binta akan tumbuh menjadi seseorang yang harus 'kuat' karena dipaksa keadaan, apalagi Mamanya udah sakit sejak umurnya 5 tahun. Tapi Binta justru tumbuh jadi seseorang yang self-centered, childish, menyebalkan, dan selalu make things everything about her. Di banyak bagian, aku bolak-balik merasa 'Binta nih gabisa mikir kah???' saking absurd-nya kelakuan dia. Tiba-tiba liburan ke Banda Neira dan ninggalin kuliah gitu aja, langsung berangkat tanpa mikir di sana mau tidur di mana dan ngapain. Terus pas nyampe Banda Neira, dia ngambek sama Biru dan melampiaskan ke Bu Lis (orang yang mau menampung dia selama di sana), lalu ngotot sepedaan malem-malem di TEMPAT YANG ASING, waduhlah kayak nggak punya common sense ni orang.
5. Peran mereka sebagai mahasiswa bener-bener cuma tempelan doang. Apalagi pas Nugraha tiba-tiba keluar dari kelas (lagi ada dosen) dan langsung buka pintu kelas Binta lalu teriak-teriak manggil Binta (pas lagi ada dosennya). FREAK BGT??? Penggambaran kehidupan perkuliahannya tuh kayak anak SMP yang nulis tentang dunia perkuliahan. Apalagi deskripsi tentang Nug yang ini: “pertama, dia anak jenius. Kedua, IP-nya semester empat kemarin 3,8, tertinggi seangkatan. Ketiga, dia asdos. Keempat, dia terkenal di kampus ini. Kelima, semua cewek pasti tau dan pasti naksir sama dia. Keenam, hampir setiap hari ada aja hadiah buat dia.” HADEEEH. Dengan karakter secemerlang itu, Nug justru nggak digambarkan seperti itu sama sekali. Bolak-balik bolos cuma karena pengen ketemu Binta, kabur dari RS dengan infus yang masih nempel di tangannya (ok sangat sinetron indo vibes yak) cuma karena KANGEN. Sebagai pembaca, buatku Nugraha cuma cowok yang lebay, suka maksa, nggak mau dengerin orang, dan sok keren.
6. tiba-tiba bisa melihat isi batin karakter??? BANYAK BANGET 'batinnya' yang sering muncul di tengah narasi. kata hati dicetak tegak lurus dan ada pula narasi yang ikut dicetak miring. Jadi membingungkan, sebab buku ini bercerita menggunakan sudut pandang orang ketiga.
7. Banyak percakapan yang nggak nyambung
8. Binta yang katanya 'mau sendiri dan bisa sendiri' tapi selalu ngambek kalau nggak ditemenin dan gampang banget luluh sama Nug. Binta yang 'nggak suka diatur' ini nyebelin banget. Keras kepala dan cringe. Dia dideskripsikan sebagai karakter yang 'invisible' tapi dalam banyak kesempatan ketara sekali kalau Binta ini MERASA jadi pusat perhatian semua orang.
9. Binta benci bandara, stasiun, dan halte karena semua tempat itu membuat dia merasa kehilangan. ?????? ok tapi manusia butuh ALAT TRANSPORTASI. Kenapa sih semua-muanya harus diromantisasi??????????????????
10. “tentu saja, perempuan mana yang tidak tersenyum mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut Nugraha?” AKUUUUUUU!!!!!!!! Sejujurnya setiap kali dia ngomong tuh aku pengen dia diem aja, soalnya apapun yang keluar dari mulutnya cringe ☺️☺️☺️
11. “baginya, bandara adalah tempat paling menyedihkan yang pernah dibangun di bumi. Kadang ia berpikir, yang membangun bandara itu sama sekali tidak punya hati. Bayangkan betapa indahnya bumi kalau tidak ada bandara? Tidak akan ada yang namanya perpisahan.” ????????????????????? APASIH
12. Nama Binta yang tiba-tiba berubah jadi Senjani. aduhlah bagian ini sungguh freak dan cringe
13. Jani ini semester 3, anggaplah umurnya 20 tahun. Jani dan Biru kenal sejak usia 5 tahun. katanya , Jani nyadar naksir sejak SMA. tapi selalu mention ‘lima belas tahun nggak ngasih jawaban apa-apa’ LAH??? Berarti dia ngitungnya dari mereka masih bocil?? Menurutku, ini salah satu inkonsistensi penulisnya :)
14. Binta yang ngajakin naik bus karena nggak enak dianterin supir Nug mulu, terus ‘ngambek’ dan ngancem mau balik sendiri kalo Nug nggak mau. Eh pas di bus dia malah bilang ‘siapa suruh ikut aku naik bus? Aku bilang aku naik bus sendiri, tapi kamu maksa ikut.” LHA KOCAKKKKK BINTA
15. Kenapa sih ‘masa’ harus ditulis jadi ‘masak’ ??????
16. “Binta memang harus selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.” DIH????
17. Karakter Biru yang nggak jelas
18. Semua karakternya yang nggak mau berkomunikasi, cuma ngebatin dan berdialog dengan SEMESTA ☺️☺️☺️
19. Ada susunan kalimat yang menurutku ngaco dan membingungkan, di halaman 310: hingga kini si supir taksi tetap tak tahu ke mana ia hendak di tujuan, antar. karena tiap kali ditanya. “sudah deh, pak, pokoknya jalan saja!”
20. naik taksi selama dua jam, terus pas nyampe rumah nyelonong aja tanpa bayar??? WKWKWKW KOCAK. aneh banget Binta ini 😩 bener-bener self-centered, apalagi kalo perasaannya lagi nggak oke tuh dia bakalan seenaknya, nggak peduli meski perilakunya mempersulit orang lain 😩
21. Binta ini nggak belajar dari pengalamannya sama Biru yang komunikasinya jelek ya, makanya pas sama Nugraha keulang lagi. Dia cuma percaya sama apa yang dia lihat, nggak membuka ruang untuk perspektif orang lain. Lagian Nug juga aneh dah. Cuma bolak-balik ngomong, “kita perlu bicara dan kamu harus dengerin aku, ini nggak seperti yang kamu pikirkan,” tapi cuma GITU DOANG. Kenapa sih nggak langsung ngasih penjelasan aje??? Toh selama ini juga dia tetep banyak omong meskipun Binta nggak mau denger, kenapa kali ini nggak? BINTA JUGA NIH, pengen dengerin penjelasan Nug tapi takut, terus bertarung sama pikirannya sendiri yang ke mana-mana. Hadeh.
22. “Biru tidak suka menanyakan hal yang sama. Bila sekali tak dijawab, maka baginya selamanya tak akan terjawab.” IYUHHHHHHHH POLA PIKIR ANEH 😭😭😭
23. “Bangku dengan label ‘bangkunya Binta’ jadi nggak ada orang lain yang BERANI mendudukinya.” dia kuliah di mana sih? Mana ada anak kuliah yang mikir begini??? Terus pas dikasih tugas, Binta nggak mau ngerjain, like wtf??? Seisi kelas pun heran karena dia megang pulpen dan buka buku ?????? LU SELAMA INI KULIAH NGAPAIN AJA BINTA??????? Duh, bener-bener identitas sebagai ‘mahasiswa’ cuma tempelan doang yak
24. Makin ke belakang makan banyak typo-nya :( udah mah typo-nya keliatan jelas jadinya aku pasti notice :”)
25. Pas lagi jenguk istri Mang Ujang yang abis melahirkan, Binta malah NANGIS dan ngomong “Binta nggak pernah tau gimana rasanya jadi seorang anak yang disayangi kedua orangtuanya.” HEY 👋 HEY 👋 HEY 👋 nggak semua hal harus tentang KAMU yak 🤗
26. I think I know kenapa Binta merasa nggak pernah bahagia. Soalnya dia udah terlanjur bitter sama kehidupan TAPI menerapkan standar yang tinggi juga, dia berharap sama banyak hal dan banyak orang (meskipun denial). Makanya hatinya nggak pernah merasa ‘cukup’ dan lega, karena dia cuma mau dengerin suara-suara di kepalanya aja. Pas sama Nugraha, dia memperlakukan Nugraha dengan buruk dan tetep ngebahas Biru mulu. Waktu sama Biru, dia kepikiran Nugraha dan memperlakukan Biru dengan buruk. Dia nih… nggak bersyukur :”( somehow aku merasa Binta ini sangat self-centered, cuma mau dengerin dirinya sendiri, cuma mau memahami apa yang dia rasain tanpa truly wants to understand orang lain wkwk. Kerjaannya cuma ngebandingin hidup dia yang ‘sengsara’ sama kehidupan orang lain. Dia nganggep kehidupannya tuh yang PALING SENGSARA dan selalu marah kalau orang lain merasa hidupnya nggak enak, karena cuma dia doang yang boleh merasa sengsara. Duh aneh lah pola pikire bocah iki 😣
27. Binta ini kayak dihipnotis ya. Udah gede tapi nggak bisa mikir sendiri. Cuma ngikut aja cowok mana yang mau ‘ngatur’ dia, terutama Biru. bener-bener bergantung ke orang lain tanpa mau mikir sendiri 😭 kontradiktif sih karakter dia. Selama ini selalu bilang ‘aku bisa sendiri, aku mau sendiri’ tapi ngambek kalo nggak ditemenin + nggak bisa sendiri dan memutuskan hidupnya sendiri. Biru mau ngajak ke Banda Neira tanpa rencana yang jelas dan dia NURUT???
28. mau pindah ke Banda Neira sama mamahnya yang sakit tapi dia nurut pas Biru bilang ‘kamu bahkan tak perlu bawa apa-apa,” GAJELAS FINAL BOSS. kok bisa gampang bgt sih pindah dari Jakarta ke Banda Neira tanpa nyiapin apapun????

Btw, aku iseng baca review di Goodreads yang ngasih bintang 5 dan agak tercengang ada yang nulis gini: “Yang paling buat saya suka, lokasi yang dipilih dalam cerita ini, ‘banda neira’. Jika banyak penulis muda yang lebih tertarik dengan negara lain, tsana dalam tulisannya membawa saya pergi jauh ke surga indah timur Indonesia.”
UHM???? Bahkan tentang Banda Neira pun nggak diceritain segitunya. Cuma di-mention sebagai salah satu lokasi cerita tapi seperti biasa cuma ‘ditempel’ aja. Aku bahkan nggak akan pengen ke Banda Neira kalau source ku tentang wilayah ini cuma dari membaca Kata 😭

Review sepanjang ini sebenernya adalah kekecewaan karena aku nggak expect kualitas novel Rintik Sedu kayak gini :( Aku suka sama postingan instagram Rintik Sedu, suka podcastnya, suka sama konten youtube di akun Rintik Sedu dulu, aku suka tulisan beliau di mana-mana. Ironisnya, aku justru nggak cocok sama novel beliau. Sebelum baca Kata, aku juga baca Geez&Ann dan nggak kuat bacanya. Terlalu cringe.

Untungnya, ending Kata masuk akal dan bisa diterima. Tapi, ya memang buku ini nggak cocok buatku aja. It's definitely not my cup of tea. Setelah ini kayaknya aku mau menikmati karya-karya Rintik Sedu di medium yang lain aja, bukan novel-novelnya.

Aku menghargai pembaca Rintik Sedu yang cocok sama novel ini. Bener kata Tsana, “setiap tulisan akan menemukan pembacanya.”
7 reviews
December 22, 2019
Alurnya menurutku tidak nyambung, tokon binta yang awalnya digambarkan pendiam dan dingin, lama-lama jadi kekanak-kanakan, jelas tidak konsisten sekali. Dan bagaimana bisa diterima nalar nug begitu bisa mati2an t cinta dengan binta secara tiba2. Perihal biru. Kenapaa bisa pula si biru tiba2 datang di bandara Maluku. Saat membaca aku sering banget bergumam "kok bisa gini". tokoh yang di dalam cerita adalah anak kuliahan yang pada umumnya sudah berfikir secara matang malah kesannya seperti anak-anak SMA yang tengah hangat2nya dilanda api asmara. Terlihat dari gombalan-gombalan yang terkesan terlalu berlebihan.
Profile Image for yema.
101 reviews
December 18, 2021
DNF...
Sampe halaman 35, sempet skip sampe halaman 66-80 tidak kuat!

Paus lovers tolong jangan bully aku.

Oke mari kita mulai..

1. Gaya penulisannya yang anehhhhhhhhhh kayak amatiran, bahkan penulis wattpad banyak yang lebih baik
2. Semua karakternya serasa annoying, entah kenapa.
3. Ya Allah aku gak sanggup. Apa apa serasa di lebay-lebayin.
4. Jujur banget aku tipikal orang yang terima aja dengan segala buku teen lit yang tropenya itu itu aja, buku teenlit cringe tapi untuk ini gak kuat banget. Semesta... Semesta... Semesta...
5. TIDAK SANGGUP
2 reviews
September 19, 2020
Awalnya beli buku ini karena penasaran di media sosial banyak yang ngomongin buku ini. Bagus, katanya. Tapi saya kecewa setelah membeli buku ini, ternyata tidak worth it dengan harganya.

Walaupun buku ini saya liat best seller di beberapa tempat, cerita yang di sajikan terasa sangat dipaksakan walaupun saya tahu cerita ini ditujukan kepada remaja yang sedang dalam masa-masa kasmarannya. Atau saya memang kurang suka dengan genre yang demikian.

yaahhh.... this book is definitely not for me
Profile Image for KA.
57 reviews3 followers
December 15, 2021
"Berandai-andai enggak akan menyelamatkan cerita yang sudah selesai. Dia sudah melangkah maju, sedangkan kamu masih saja mengutuk masa lalu."

Menurut saya, Kata merupakan novel yang ringan dengan alurnya yang mudah ditebak. Meski mudah ditebak alurnya, Ntsana yang merupakan penulis dari buku ini juga sangat baik dalam menuangkan kisah sehari-hari yang dialami juga oleh pembaca sehingga pembaca mudah memahami alurnya dan banyak juga kutipan-kutipan yang diselipkan penulis kedalam ceritanya.

Yang disayangkan menurut saya meski karakter Binta, Nug, dan Biru kuat ternyata masih belum mampu memikat saya terlebih dengan Nug yang terlalu over entah overprotective, entah terlalu over dalam memaksakan kehendaknya dan juga karakter Binta yang terlalu merasa dirinya merupakan makhluk yang teramat menyedihkan dibumi yang membuat saya hampir memutuskan untuk tidak menyelesaikan buku ini tapi saya urungkan karena ingin tahu kemana penulis membawa akhir ceritanya. Tapi... sejujurnya saya lebih menyukai karakter Biru yang tenang tapi menjaga walaupun dengan cara yang menurut saya salah. Yang disayangkan berikutnya adalah tentang alur yang terlalu lambat menurut saya yang membuat saya cukup membosankan.
Profile Image for Kayla.
15 reviews
April 19, 2021
Merasa nggak dapet satu hal pun dari buku ini. Tapi, herannya kenapa banyak banget yang suka dengan buku (mau difilm in juga kabarnya) Yah, tentu selera buku setiap orang berbeda tapi yaa.. Inti dari ke-romance-an nya ga jelas menurutku.
11 reviews
December 25, 2024
Nugraha terlalu sempurna, tapi Bayu terlalu pengecut.
Profile Image for parkjunjun.
31 reviews1 follower
Read
October 8, 2021
Dnf. Beneran dnf di halaman 50 an :)

Young adult tapi "memaksakan" biar terlihat seperti buku sastra. Beberapa dialog cringe banget untuk di zaman sekarang
Profile Image for nadia ✯.
33 reviews7 followers
July 19, 2021
Ternyata ngga sebagus yang orang-orang bilang sih... menururku klimaks nya kurang dapet trus endingnya juga terlalu biasa dan entah kenapa kurang berkesan
Profile Image for Rima.
29 reviews
October 2, 2021
Dnf di halaman 90an

Novel ini ternyata bukan selera aku. Mungkin sudah banyak yg mengeluarkan unek"ku trhadap buku ini direview.

Hal yg mengganggu trnyta banyak juga pdhal blm ada 100 hal.

1. Binta yg katanya tertutup trnyta bisa terbuka trhadap Nugraha yg ia kenal hnya bbrpa hari, dgn mudahnya Binta memberi tahu lagu kesukaannya dan anehnya lagi Nugraha ialah org yg prtama yg tau. Sedangkan temannya yaitu Cahyo tidak mendapatkan privilege tersebut.

2. Terlalu cringe, kegiatan yg mrka lakukan layaknya permainan anak SMA yg sedang kasmaran bukan seperti gambaran anak kuliah yg trbilang cukup dewasa. Seperti trllu jauh dari kenyataan. Dan melepaskan burung dilakukan bbrpa hari kenal?? Trllu dini Nugraha!!

3. Nugraha trllu memaksa dan Binta yg trllu labil, netink (?) Dia pernah brkata kalau 'manusia² yg tidak pernah menggap dia ada' itu karena kamu menutup dirimu sendiri trhadap org lain Binta! Harusnya kamu sadar jika sifat kamu yg bkin org seperti itu.

4. Ttg Binta yg trllu labil slah satunya, katanya Binta egk suka ingkar janji tpi knpa di bab awal dia ingkar dgn Nugraha. Binta.. Binta aku pingin marah sama kmu Bin :')

5. Ketidakkonsistenan itu brlanjut di hal 36, ada kalimat yg diucapkan oleh Binta yg berkontradiksi dgn apa yg ia ucapkan di bab awal. Jelas" Harta di bumi yg Binta punya ialah Ibunya sendiri tpi knpa dia bilang 'egk ada'

Mungkin itu saja masih banyak tapi sudahlah, sebenarnya jalan cerita ringan dan novel ini mmg cocok dibaca oleh para remaja yg ingin tahu bagaimana rasanya dipuncak kasmaran. Dan melihat bagaimana untaian kata gombal yg diutarakan oleh Nugraha.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Lia.
515 reviews12 followers
October 12, 2019
Mulai dari saya yang sudah lama tidak baca novel indonesia, hasil dari godaan teman untuk baca buku ini.
Mau nya kasih 3⭐ tapi banyak yang aku sayangkan di buku ini. Meski kata-kata nya di setiap dialohlg manis, indah banget yaa.. aku kurang bisa click .. apalagi yang bicara anak kuliahan semacam Nug 😶 mau nge gombal tapi rada dipaksakan. Cuma di akhir2 buku sudah mulai enak dibaca dan dipahami.
Karakter Binta, heroine yang ga habis pikir. Ada yaa wujud realita cewek kayak begini 😂😂 nyebelin, asli nyebelin. Sayang perkembangan karakter Binta atau kedewasaan di cerita ini belum saya lihat.
Biru apalagi ya yang toko tiba-tiba datang. Anak aneh 😅😅 habis ganti nama anak orang gitu aja. Meski karakternya begitu, menurutku kalau diploes lagi aku lebih suka Biru. Ada rasa tanggungjawab meski ego nya selalu muncul.

Terima kasih penulis sudah menuliskan kisah 3 orang ini dengan bahasa yang cantik, mendayu-dayu 👍 untuk novel 396 halaman, saya salut. Ini bukan hal mudah
7 reviews1 follower
April 25, 2019
Karakter Binta menurutku annoying, ya, aneh banget, jutek parah. Dan di adegan awalnya aku sempat bingung, Binta seseorang yang ansos tapi bisa langsung meluk-meluk Ibu penjual nasi uduk atau Binta yang bisa temenan sama Cahyo padahal doi laki-laki. Karena aku juga introvert dan ansos kali ya, istilahnya? Dan susah banget untuk bisa terbuka, jangankan sama laki-laki, sama perempuan aja jarang gitu. Jadi ini agak miss juga, perlu diperhatikan latar belakang sama konsisten karakternya.

Nug! Dia karakter paling gemesin dan loveable banget. Sejajar sama karakter novel favoritku yang lain, di antara Nathan, Dilan, Ari, dan Aldebaran Risjad, kini bertambah satu: Nugraha.
Diksi penulisnya keren banget, sih, aku acungi jempol. Bikin pembaca tuh ngena banget dengan ceritanya meskipun alurnya pun klise.

Endiingnyaaaa pun sungguh tidak terduga :''')

Displaying 1 - 30 of 237 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.