Ada 99 esai pendek dalam buku ini. Jika boleh menirukan karya Roestam Effendi yang terbit tahun 1925, Pertjikan Permenoengan, ke 99 esai itu adalah semacam percikan. Mereka terkadang bisa dibaca sebagai bagian yang saling mendukung atau saling membantah, terkadang bisa dibaca sebagai tulisan yang berdiri sendiri-sendiri.
Semuanya ditulis di masa yang seperti kita alami sekarang, ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tetapi juga membingungkan dan menakutkan.
Ia seorang jurnalis dan sastrawan yang kritis dan berwawasan luas. Tanpa lelah, ia memperjuangkan kebebasan berbicara dan berpikir melalui berbagai tulisan dan organisasi yang didirikan-nya. Tulisannya banyak mengangkat tema HAM, agama, demokrasi, korupsi, dan sebagainya. Seminggu sekali menulis kolom “Catatan Pinggir” di Majalah Tempo.
Pendiri dan mantan Pemimpin Redaksi Majalah Berita Tempo kelahiran Karangasem Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, ini pada masa mudanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Ia ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan 1964 yang mengakibatkannya dilarang menulis di berbagai media umum.
Ia juga pernah menjadi Nieman fellow di Universitas Harvard dan menerima penghargaan Louis Lyons Award untuk kategori Consience in Journalism dari Nieman Foundation, 1997. Secara teratur, selain menulis kolom Catatan Pinggir, ia juga menulis kolom untuk harian Mainichi Shimbun (Tokyo).
Ia menulis sejak berusia 17 tahun, dan dua tahun kemudian menerjemahkan puisi penyair wanita Amerika, Emily Dickinson. Sejak di kelas VI SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Kemudian, kakaknya yang dokter (Kartono Mohamad, mantan Ketua Umum PB IDI) ketika itu berlangganan majalah Kisah, asuhan H.B. Jassin. “Mbakyu saya juga ada yang menulis, entah di harian apa, di zaman Jepang,” tutur Goenawan.
Pada 1971, Goenawan bersama rekan-rekannya mendirikan Majalah Mingguan Tempo, sebuah majalah yang mengusung karakter jurnalisme majalah Time. Di sana ia banyak menulis kolom tentang agenda-agenda politik di Indonesia. Jiwa kritisnya membawanya untuk mengkritik rezim Soeharto yang pada waktu itu menekan pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Tempo dianggap sebagai oposisi yang merugikan kepentingan pemerintah sehingga dihentikan penerbitannya pada 1994.
Goenawan Mohamad kemudian mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), asosiasi jurnalis independen pertama di Indonesia. Ia juga turut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) yang bekerja mendokumentasikan kekerasan terhadap dunia pers Indonesia. ISAI juga memberikan pelatihan bagi para jurnalis tentang bagaimana membuat surat kabar yang profesional dan berbobot. Goenawan juga melakukan reorientasi terhadap majalah mingguan D&R, dari tabloid menjadi majalah politik.
Ketika Majalah Tempo kembali terbit setelah Pak Harto diturunkan pada 1998, berbagai perubahan dilakukan seperti perubahan jumlah halaman namun tetap mempertahankan mutunya. Tidak lama kemudian, Tempo memperluas usahanya dengan menerbitkan surat kabar harian bernama Koran Tempo.
Setelah terbit beberapa tahun, Koran Tempo menuai masalah. Pertengahan bulan Mei 2004, Pengadilan Negeri Jakarta Timur menghukum Goenawan Mohamad dan Koran Tempo untuk meminta maaf kepada Tomy Winata, (17/5/2004). Pernyataan Goenawan yang dimuat Koran Tempo pada 12-13 Maret 2003 dinilai telah melakukan pencemaran nama baik bos Arta Graha itu.
Goenawan yang biasa dipanggil Goen, mempelajari psikologi di Universitas Indonesia, mempelajari ilmu politik di Belgia dan menjadi Nieman Fellow di Harvard University, Amerika Serikat. Goenawan menikah dengan Widarti Djajadisastra dan memiliki dua anak.
Selama kurang lebih 30 tahun menekuni dunia pers, Goenawan menghasilkan berbagai karya yang sudah diterbitkan di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian eseinya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), dan Catatan Pinggir (1982).
Hingga kini, Goenawan Mohamad banyak menghadiri konferensi baik sebagai pembicara, narasumber maupun peserta. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 dimana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumah.
di sebuah siang, saya dan beberapa rekan sedang khusyuk menggelar diskusi. forum diskusi ini rutin kami adakan sepekan sekali setiap hari jumat pagi di sebelah musholla kampus. -sudah bisa menebak kan, mengapa kami melakukan diskusi di sebelah rumah ibadah. hehe.- oh ya, forum diskusi ini kami namakan forum sandal jepit. entah apa alasannya.
siang itu, kami sedang berdiskusi tentang tuhan. mhh. tentu diskusinya berjalan menarik dan gayeng. masing-masing dari kami berargumen dengan mengutip tokoh-tokoh filsafat. perdebatan yang seru. ada yang menyanggah keberadaan tuhan. ada yang masih ragu-ragu. tapi banyak juga yang mengakui keberadaannya tapi pura-pura cuek. salah satunya adalah saya. tapi tentu saja, kami tidak berbicara tentang tuhan saja. karena pada dasarnya, kami pelaku politik praktis waktu itu -tukang demo, maksudnya- tetap ada perbincangan tentang kondisi fatsoen politikus.
suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan-Nya.
malaikat pun bertanya, “apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?”
“lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama Bumi,” kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon.
Tuhan melanjutkan, “ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara seimbang.”
lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa.
di eropa sebelah utara, Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan seperti inggris, skotlandia dan perancis. tetapi di daerah itu, tuhan juga menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.
di eropa bagian selatan, Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin, seperti spanyol dan partugal, tetapi banyak sinar matahari dan hangat serta pemandangan eksotis di selat gibraltar.
lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan sambil berseru, “lalu daerah apakah itu Tuhan?"
“o, itu,” kata Tuhan, “itu indonesia. negara yang sangat kaya dan sangat cantik di planet bumi. ada jutaan flora dan fauna yang telah Aku ciptakan di sana. ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. banyak sinar matahari dan hujan. penduduknya Ku ciptakan ramah tamah, suka menolong dan berkebudayaan yang beraneka warna. mereka pekerja keras, siap hidup sederhana dan bersahaja serta mencintai seni.”
dengan terheran-heran, malaikat pun protes, “lho, katanya tadi setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. kok indonesia baik-baik semua. lalu di mana letak keseimbangannya?”
Tuhan pun menjawab dalam bahasa inggris, “wait, until you see the idiots I put in the government.”
di tengah-tengah akrabnya kami menuntut ilmu, musholla di sebelah kami mengumandangkan adzan. spontan reaksi saya adalah mengambil megaphone dan berteriak. "tolong, kecilkan suaranya," kata saya. langsung kawan-kawan yang sedang diskusi mengecilkan suaranya untuk menghormati adzan. "bukan suara kalian yang dikecilkan, tapi suara adzannya," teriak saya. otomatis kami terpingkal-pingkal. hingga akhirnya salah seorang pengurus musholla mendatangi kami dan menegur. jawab saya, "diskusi itu menuntut ilmu. dan anda tahu, menuntut ilmu itu hukumnya wajib. sedang mendengarkan adzan itu hukumnya sunnah. jadi, dahulukan yang wajib, dong!" pengurus musholla ini diam tertunduk lesu karena 'kesesatan' saya. saya sendiri semakin tertawa. dasar setan kali ya.
nah, secuil cerita ini, semoga bisa menjadi pengantar untuk membaca buku GM yang satu ini. bahwa bicara tentang tuhan tak perlu seserius yang dibayangkan. meski tulisan dalam buku ini berpotensi mengajak kita untuk berkontemplatif, tapi sungguh. tak usah berpikir. nikmatilah diksinya. seperti anda menikmati bakmi GM yang lezat.
saran saya: beli dan bacalah buku ini saat anda mulai bosan pergi ke masjid atau gereja. jika anda masih rajin pergi ke sana, koleksi kitab suci saja. hehe.
Membaca Goenawan Mohamad, seakan-akan saya turut membaca puluhan rujukan sumber utama dibaliknya. Kadang saya mengharapkan tulisan GM lebih eksplisit dan panjang. Tapi jika demikian, jadi tidak terasa GM lagi.
Kutipan-kutipan bernas di buku ini sama sekali tidak menutupi orisinalitas ide yang ditawarkan. Saya percaya penuh pada kesahihan kontekstualitas GM dalam mengutip karya-karya besar. Toh saya masih tercengang tercerahkan membaca definisi pornografi dalam buku ini: Ketika kita lebih menghargai detil ketimbang gambaran utuh. Lebih melihat parsialitas ketimbang totalitas.
Buku ini mengajarkan agar kita tidak memutlakkan persepsi kita atas konsep-konsep dasar kehidupan. Bagi GM, Tuhan adalah nama sementara bagi hal-yang-tak-sementara.
Jika menurut GM haiku adalah bentuk puisi pendek, dengan diksi yang indah, dan membutuhkan perenungan panjang pembacanya, maka buku ini menjadi semacam haiku buat saya.
“…, ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tapi juga membingungkan dan menakutkan.” Goenawan Mohammad, Tuhan & Hal-hal yang Tak Selesai, Prakata, hal. 7
Ketika itulah GM—begitu Goenawan biasa disapa—memutuskan untuk menuliskan buku yang diakuinya sendiri terinspirasi oleh Pertjikan Permenungan yang ditulis Roestam Effendi tahun 1925, Tuhan & Hal-hal yang Tak Selesai. Buku itu berisi 99 “tatal” yang lebih sering berupa prosa liris, refleksi filosofis, aforisma, atau kepingan gagasan-gagasan besar dalam Catatan Pinggir yang [terbaca] enggan dituliskan kedalam risalah yang lebih serius. Dengan baik sekali GM menyebut “percik-percik permenungan”-nya itu sebagai tatal–“serpihan kayu yang tersisa dan lapisan yang lepas ketika papan dirampat ketam.” (Hal. 9).
Tuhan & Hal-hal yang Tak Selesai sebenarnya lebih mirip kumpulan esai pendek GM yang—mungkin—terlalu pendek untuk Caping, atau terlalu panjang untuk sebuah puisi. Esai memang jenis tulisan yang sangat lentur. Dalam khazanah sastra dunia, esai memiliki nama yang beragam, namun esai-esai seperti dalam buku ini biasa disebut sebagai “musings”.
Musings adalah jenis tulisan sastra yang lebih mirip sebuah lanturan, ocehan, atau igauan. Sketsa, mungkin kita lebih dekat dengan istilah itu. Seperti sebuah kelebat pikiran yang tiba-tiba muncul dan dituliskan delam bentuk yang seperti tak memiliki bentuk; mungkin berisi hal-hal yang luput dari perhatian banyak orang, tapi penting buat dikaji ulang; atau hal-hal biasa yang dengan sengaja dilihat dan dinilai dari perspektif (sudut pandang) yang berbeda.
Misalnya tatal. Mungkin ada ribuan orang yang pernah melihatnya, mengetahuinya, atau bahkan memilikinya di rumah. Sejenis kayu yang disusun dari [bekas] serpihan-serpihan kayu lain dan dirampat ketam. Tapi GM, dengan cara pandangnya, melihat tatal sebagai sesuatu yang menopang Masjid Agung Demak—yang juga merupakan bentuk Supremasi Islam Jawa—yang agung nan megah. Bila meminjam model hermaneutika penerjemahan Bernhard Kieser, “yang agung itu,” mungkin demikian GM berpikir, “ternyata juga dibangun dari sisa-sisa yang [semestinya] terbuang.”
“Saya bayangkan: sebuah mesjid yang ditopang oleh yang terbuang, yang remeh dan yang tak bisa disusun rata—bukan sebuah rumah Tuhan yang berdiri karena pokok yang lurus dan kukuh, dengan lembing dan tahta.” (Hal. 9)
Kita mungkin sering mengabaikan “yang sisa”, “yang kita anggap jelek”, “yang terbuang”, tapi kita lupa bahwa seringkali “yang agung”, “yang baik”, “yang sempurna” tak akan pernah ada tanpa eksistensi oposisinya. Saya jadi teringat Heath Ledger ketika memerankan Joker dalam The Dark Night (2008). Di hadapannya, Bruce Wayne (Christian Bale) bertanya dengan nada interogatif, “Bukankah kau ingin membunuhku? Lakukanlah, kini aku dihadapanmu!” Lalu, dengan tawa Joker menjawab, “Aku? Ingin Membunuhmu? Kau bercanda…” Inilah puncak filosofi Nolan—sang sutradara—dalam The Dark Night: dalam jeda itu Joker tertawa terpingkal-pingkal, lalu dengan ekspresi seperti pernah diperankan Tom Cruise dalam Jerry Maguire yang terkenal itu, ia berkata, “You complete me…”
Yin dan Yang, kebaikan membutuhkan kejahatan. Begitu pula sebaliknya. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang tak bisa diceraikan. Bila satu tiada, yang lain binasa.
Kembali pada GM, tentang tatal—meskipun tak sempurna, ia adalah penyempurna bagi “yang sempurna”. Mungkin itulah yang ingin disampaikan Sunan Kalijaga di “suatu hari yang mungkin tidak pernah benar-benar terjadi” pada abad ke-16 kepada Dewan Wali yang agung itu, juga pada kita semua.
Begitulah, sebagai “musings”, esai-esai pendek GM yang kadang liris dengan pilihan diksi pendek namun memesona itu, mungkin terlalu berat, “terlalu filosofis”. Misalnya, di beberapa bagian GM bicara Tuhan, atau “Tuhan”, yang baginya selalu layak untuk di[per]tanyakan. Di bagian lain, ada juga tentang kehidupan, waktu, pluralisme, religiusitas, ratu adil, “ada”, juga mitos.
Bagi saya, tak heran jika GM tertarik pada “Tuhan” dan “hal-hal yang tak selesai”. Seperti kata Frans Magniz-Suseno, GM memang terbiasa dengan pemikiran-pemikiran yang cenderung filosofis dan multidimensional. Maka, bila “Tuhan” dan “hal-hal yang tak selesai” itu mustahil didekati dengan pola monodimensionalisme, tentu saja GM menggandrunginya.
Kegandrungan GM pada “Tuhan” ia perlihatkan dengan memilih angka 99 bagi jumlah tatal dalam bukunya ini. Angka 99 tentu saja mengingatkan kita pada 99 nama Tuhan dalam ajaran Islam. Dengan menuliskan pelbagai persoalan yang rumit, absurd, tak selesai, namun selalu menarik itu, dalam jumlah 99, mungkin GM sedang berimajinasi mendekati “Tuhan” yang baginya memang terlalu sempurna untuk dianggap sederhana.
Misalnya, ketika dengan meminjam pemikiran Martin Heidegger dalam Sein und Zeit (1953) GM mencoba mendekati eksistensi (“ada”) Tuhan sebagai cahaya siang—yang misterius itu. “’Ada’ adalah ibarat cahaya siang: ia membuat hal-ihwal tampak, tapi ia sendiri tak tampak.” (Tatal 62, hal. 102). Di sana, jelas terlihat, GM sedang berusaha “mencari” Tuhan, mencoba menemukan “bentuknya”. Tapi di lain tempat, GM kadang justru melepaskannya dari “bentuk” apapun: “…hingga Yang Maha Lain tak dapat dirumuskan, tak dapat dibandingkan, hanya dapat disebut dengan hati-hati. ‘Dan tak suatu pun menyamainya…,’ begitulah kita baca dalam Quran.” (Tatal 13, hal. 27).
Mungkin persoalan “Tuhan” memang rumit, dan juga terlalu banyak “hal-hal yang tak selesai”. Tapi, GM adalah manifestasi ikhtiar untuk mencoba mendekatinya satu per satu. Mungkin kadang-kadang upaya itu gagal, tapi ikhtiar harus tetap dilakukan. Sebab bagi GM, seperti juga bagi Rabindranath Tagore, ikhtiar semacam itu adalah harapan. Sebagaimana mereka berkata, “Engkau bukanlah kepastian, engkau adalah harapan.” (Tatal 15, hal. 30).
Buku ini kadang terlalu abstark, banyak yang belum selesai, atau terlalu berat di beberapa bagian. Tetapi, paling tidak buku ini bisa menjadi katarsis permenungan kita, atau teman berbagi bagi kontemplasi kita yang kadang terlalu sepi. Meski kadang ia memang membuat sebelah alis kita terangkat, atau iman kita menggelegak, memang begitulah “musings” bekerja.
Melalui buku ini, paling tidak GM bisa membuat kita bertanya(-tanya) pada hal-hal yang sering kita lewati tapi kita abaikan, atau justru bisa mengajak kita bertamasya pada kekayaan khazanah intelektual GM untuk membuat kita tertarik “mengejarnya”: sebab di sini, seperti juga bisa kita dapati dalam Caping atau karya-karya GM lainnya, ia mengajak kita ke tempat-tempat yang jauh, membuat kita tahu bahwa teramat banyak buku yang belum kita baca, sambil sesekali membiarkan kita berkenalan dengan tokoh-tokoh seperti Ibnu Arabi, Jean Luc-Marion, Kong Hu Cu, atau Pablo Neruda.
Bila masih enggan mengakrabi pikiran-pikirannya, mungkin kita bisa mempelajari gaya menulisnya. Saya jadi ingat Nirwan Arsuka, katanya, “tak ada satupun esais muda Indonesia yang tak membaca esai-esai GM.” Memang benar begitu. Seperti juga saya. Saya belajar banyak padanya. Bahkan, bila Anda perhatikan, dalam menuliskan risalah ini—baik penyusunan gagasan atau perlakuan saya pada teks yang saya gunakan—sedikit-sedikit saya “meniru” gayanya. Saya belajar sedikit-sedikit, sedikit-sedikit saya belajar.
Di atas semua itu, mari mendekati “Tuhan”, mari mengakrabi “hal-hal yang tak selesai”.
Pernah, walau mungkin jarang, kita menemukan tulisan yang kita tahu tulisan itu bagus hanya saja kita yang tidak/belum mampu mencernanya.
Mungkin bacaan kita yang kurang banyak dan kurang beragam. Mungkin perjalanan kita yang kurang jauh dan kurang ke mana-mana. Mungkin pemikiran kita yang kurang terbuka atau hati kita yang kurang lapang. Mungkin perenungan kita yang kurang mendalam, atau malah nggak pernah sempat merenung.
atau mungkin, kita yang sudah banyak membaca tetapi kurang banyak menulis.
Kumpulan esai Goenawan Mohamad ini ibarat naskah-naskah yang hanya mau bicara kepada para pembaca yang dipilih (yang jelas saya belum terpilih). Isi-isinya sering menyentuh serta membahas hal-hal yang jauh, bacaan-bacaan kelas tinggi, hingga peristiwa sejarah besar dunia. Butuh pembacaan dan pengalaman yang sepertinya lumayan panjang untuk bisa memaknai esai-esai pendek di buku ini.
Dan dari tadi saya nulis panjang lebar tapi sama sekali belum menjelaskan bagaimana isi buku ini wkwkwk.
Goenawan adalah seorang lelaki yang menarik. Disini, Goenawan menawarkan kita 99 tulisan (atau lebih sesuai digunapakai "percikan") yang membawa kita merentasi kontinuum masa dan ruang, dimana beliau bercerita tentang Agama, ekstensial, Demokrasi, kenangan, dan sebagainya dalam bahasa yang indah dan sedikit mengelirukan. Ya, mungkin kerana saya sukar sedikit untuk menghadam prosa-prosa daripada bahasa seberang.
Goenawan menulis dengan cermat, tidak terus menghukumi, dan kadang-kadang, saya kurang tangkap maksud yang disampai. Seperti ada yang tergantung, sengaja dibiarkan tidak berjejak pada tanah. Ada udara misteri yang menyelubungi setiap bait tulisan ini.
Untuk kalian yang sedang meniti proses "mencari", buku ini sangat disyorkan untuk anda baca.
"Puisi dan kematian: dalam keduanyalah keterbatasan dirundung janji. Dalam hal kematian, janji itu tentang kehidupan yang baka. Dalam hal puisi, janji itu tentang sebuah makna" (GM, part 5)
Saya yakin buku ini tak ditulis untuk saya. Ia terlalu deep dan berinfomarsi. Nama-nama tokoh yang disebut pun sedikit sekali yang saya tahu. Mungkin saya perlu perkasakan lagi pengetahuan dalam bidang falsafah dan kembali semula membacanya.
Tajuknya sendiri sudah cukup tepat menceritakan kandungan buku ini. 99 esei pendek, setiap satunya menimbulkan lebih banyak soalan yang boleh dikupas terus-menerus dan rasanya mungkin kita tak akan menemukan jawapan yang tepat untuk setiap persoalan tersebut. Saya jamin, setiap yang membaca buku ini akan merasakan bacaan mereka tak mencukupi.
Kalau ada pembaca yang rasa sebaliknya, saya rasa mungkin anda sudah penat dan sudah mulai memilih untuk settle down di satu point, di mana anda boleh berpuas hati dengan apa yang anda terima/jumpa, seterusnya memilih untuk melupakan/mengabaikan persoalan-persoalan yang lebih dalam.
Selesai membaca buku ini, saya sebenarnya berharap esei esei ini boleh dikupas dengan lebih panjang lebar. Buku ini perlukan bacaan rujukan yang lebih banyak dan seperti tajuk buku ini juga, bacaan tersebut mungkin tak akan selesai.
Goenawan selalunya begitu..Memikat melalui penulisan..Jangan sampai satu hari nanti beliau dibunuh kerana memainkan pena berbahaya.
Buku ini,emm..Aku tidak tahu samada ini puisi,esei,atau cerita kosong Goenawan..Terlalu banyak fragment dan barangkali Goenawan sendiri keliru tentang apa yang difikirkannya..Maksudnya, Goenawan sendiri tidak dapat menyelesaikan apa yang difikirkannya sendiri..
Membaca buku ini ketika di dalam bus yang menempuh perjalanan cukup panjang. Singkatnya begini; isinya mampu membuat saya lupa akan keadaan sekitar, sampai-sampai pedagang permen jahe saja tidak saya hiraukan. Hmm, maaf, Pak.
📚 Judul buku : _Tuhan dan Hal – Hal Yang Tak Selesai_ 🖋 Penulis : Goenawan Muhammad 🗓 Tahun terbit : Januari 2019 🖨 Penerbit : DIVA Press 📑 Jumlah Halaman : 200 halaman 👸 Reviewer : *Fionna Christabella*
📖📖📖📖📖
Di awal kalimat tulisan ini saya harus membuat pengakuan bahwa baru sekali ini saya membaca rampung dari halaman pertama hingga terakhir tulisan Goenawan Muhammad (GM), bukan karena tulisan beliau tidak bagus, tentu saja tidak, karena seperti Catatan Pinggir yang dicetak ulang oleh Gramedia hingga 14 jilid tulisan beliau sangat bernas. Pengalaman beliau sebagai redaktur selama bertahun – tahun membuat semua yang dituliskan beliau layak untuk menjadi pemantik pemikiran selanjutnya. Tidak hanya kaya akan ide tetapi juga sarat akan permenungan. Dan inilah yang membuat saya sendiri kelabakan dalam membaca, seringkali saat membaca di pertengahan saya seperti orang yang kebanyakan minum air, “kelompoken” (= kembung karena terlalu banyak minum air, bahasa jawa). Akan tetapi pada saat saya memilih untuk rehat sejenak, mengendapkan semua yang sudah saya baca, seraya menurunkan aliran informasi yang deras saya terima bukan tidak mungkin fase berhenti tersebut membuat saya terlalu lama vakum akhirnya tak lagi melanjutkan buku yang sudah saya baca sebagian, seperempat bahkan mungkin hanya seperdelapannya.
Awal menentukan akan membaca buku ini pun timbul pemikiran seperti itu, tetapi niat sudah didengungkan jadi ingin atau tidak ingin melanjutkan harus dikalahkan dengan niat menghabiskan seluruh halaman.
Seperti yang diakui oleh GM, buku ini merupakan sebuah risalah tentang kata yang kerap didengungkan oleh manusia beragama, diakui sebagai tokoh sentral dalam hidup dan mati manusia yaitu Tuhan, dengan segala tanda tanya yang mengikuti di balik nama tersebut. Sang penulis berucap bahwa buku ini adalah ikatan meski dengan bentuk lain dari buku _Pertjikan Permenungan_ yang pernah diterbitkan tahun 1925 ditulis oleh Roestam Effendi. 99 risalah ini ditulis kadang secara ringkas, kadang liris seperti puisi juga meditative bagai aforisma tidak jarang juga kita bisa membacanya sebagai tulisan yang sarat akan pesan filsafat yang pernah direnungkan oleh para filsuf sejak ribuan abad lampau.
Pada suatu bab GM membicarakan Tuhan seolah- olah ia sedang menggosipkan kekasih lamanya, dengan mengatakan “Ia tak pernah selesai dengan manusia. Mungkin Ia tak pernah puas. Ia mencintainya tapi harus menyaksikan cacatnya.”(h. 88).
Di lain kesempatan, GM mencoba mengkritisi pemikiran khalayak bahkan mungkin pemikirannya sendiri tentang kata mengapa (alasan di balik segala sesuatu) didengungkan oleh makhluk fana yang mencoba mempertanyakan Nya. “Adalah absurd untuk berfikir tentang Tuhan sebagai sesuatu yang ditentukan oleh mengapa, untuk apa, karena apa. Ia ada...” (h.153) Oleh karena percaya tidak perlu sebuah motivasi atau alasan, percaya adalah percaya dengan kehilangan sejarah mengapa percaya tersebut dibutuhkan, sebuah kepercayaan yang anonym, ia tak membutuhkan nama bahkan pencipta. Jika manusia masih mempertanyakan, “Maka jika Tuhan dipuja, Ia hanya dijunjung sebagai bagian peradaban” (h.161) yang berdiam dalam bangunan kuno yang manusia memberi nama sebagai masjid, gereja, katedral, sinagoge, pura, vihara, candi bahkan mungkin cungkup makam .
Di awal buku, Goenawan Muhamad mengaku bahwa beliau membaca begitu banyak literatur selama menulis esai-esai ini. 99 esai yang kata beliau bisa jadi saling berkaitan atau saling melawan. Aku menjadikan kalimat beliau di awal buku sebagai pegangan selama membaca, untuk mengabaikan esai-esai yang tidak bisa aku mengerti dengan pemakluman sederhana; “Bagaimana bisa aku yang bacaannya baru sedikit ini bisa langsung mengerti isi kepala beliau yang tersusun dari begitu banyak literatur itu?”
Esai-esai yang ditulis di sini, tidak pelak, berhasil membuat aku banyak berpikir. Mengenai peran agama buatku; apakah ia memberi kedamaian atau justru membuatku ketakutan dan kebingungan. Tapi dari semua hal yang dibahas Goenawan Mohamad di buku ini, aku sepakat bahwa agama dan bahasa memiliki keterkaitan yang amat lekat. Buku ini berhasil membuatku membubuhkan enam lembar catatan hasil pemahamanku atas esai-esai yang aku baca.
Goenawan Mohamad barangkali berusaha menuangkan buah pemikirannya menanggapi fenomena masa kini, di mana agama diletakkan sebagai sebuah komoditas. Aku setuju sewaktu beliau berkata bahwa manusia memerangkap Tuhan dalam hal-hal yang manusia ciptakan sendiri. Entah itu bangunan, pemahaman, atau dalam bentuk lainnya yang membatasi Keesaan Tuhan (itu yang berhasil aku pahami, ya).
Ah, tapi barangkali memang buku ini bukan untukku. Atau akunya saja yang belum sampai di level di mana aku bisa menyamai pemahaman Goenawan Mohamad.
P.S. Bahkan temenku baru baca kalimat pertama dan langsung menyerah. Dia bilang capek, karena bahkan kalimat pertamanya saja sudah susah dia pahami, hahaha.
Well. This book got me like 🥴😵💫😵 ahahaha. 99 puisi yang ditulis oleh Goenawan Mohamad ini dalam, kontempelatif, dan bikin kepalaku mau meleduk. Serius.
Jika ada buku puisi yang membuatku merasa butuh untuk membaca buku sebanyak mungkin semendalam yang bisa, adalah ini bukunya. Dalam 99 potongan tulisan yang kadangkala saling bersambung satu dengan yang lain--tapi kadang juga tunggal--ini, aku kayak diajak duduk minum kopi di sore hari yang sejuk sambil ngerem mengendorkan sedikt sekrup-sekrup pekerjaan. Lantas dalam acara ngopi sore sejuk itu aku diajak ngibrolin soal Tuhan, kekuasaan, hidup, dan kematian.
Sudah barang mesti, nggak semua dari potongan puisi ini berhasil kupahami. Realita inilah yang bikin aku merasa harus banyak-banyak lagi baca.
Aku ingin menyematkan dua penggal bait dari puisi yang kusuka, puisi nomor 13:
"...it is just unclear how He came to us and how His name came to stick. Perhaps it is but a sign that thetranscendent has traversedthe immanent, that the divine has pervaded history, too often through twists and turns"
"...We cannot have a single story. Each moment is an unrepeatable interpretation. God speaks not in clichés"
I rarely read poetry books. This is my first Goenawan Mohamad Book. After reading this one, i hope it won’t be my last. It is a truly immersive piece of literature, with lots of tough-to-digest vocabulary but pleasant at the same time. It is a book to accompany readers on a cold Monday night, lifting up all the stresses of the current mind. The author is truly an international and national treasure, and I wish to re-read this book in a few years time.
Esai-esai ini mampu menciptakan keterpukauan saya terhadap GM. Kumpulan esai ini membawa kita kembali merenungi segala hal yang dalam peradaban kita namai modern ini ternyata masih meninggalkan banyak kecacatan dan hal-hal lain yang masih irasional secara fundamental jika kita telaah kembali. Esai-esai ini seakan mengingatkan kita untuk selalu menyadari itu karena sejatinya kita adalah ciptaan, dan kita ini terbatas nan lemah -- GM menyebutnya sebagai Etika Kedhaifan.
Membaca GM seringkali seperti mendengar lagu asing yang kita tidak tahu apa arti sesungguhnya lagu tersebut namun kita dapat menikmati irama dan nada yang dimainkan.
Kita akan tenggelam dalam alunan kata yang indah tapi terjebak dalam kesulitan menemukan makna yang ingin disampaikan dari tulisannya. Dalam satu bab saya membaca GM mengutip Heidegger, Levinas, dll, sekaligus. Sukar.
These essays brought me into a contemplative thought about believes, life and death, between mortal and immortal. It is not the kind of readings to find an answer instead it will triggers you to dig a little deeper. With many personal reference and current event during the writing, these spontaneous essays will introduce you the pious side of the writer.
dibuka dengan tatal, bab pertama yang berisi pesan mendalam. bagi saya bab-bab lainnya seperti membutuhkan banyak dibaca berkali-kali agar mengerti makna cerita tersebut. Seperti pada umumnya tulisan GM akan menemukanmu dengan kata-kata baru.
99 esai pendek Goenawan Mohamad yang berisi macam-macam: Tuhan, demokrasi, revolusi, kitab suci, kota, dan banyak hal lainnya. Saya lumayan lama membaca esai-esai ini, dan itu, saya kira, karena beberapa hal yang diungkapkan di esainya tidak cukup familiar dengan pengetahuan saya.