Jump to ratings and reviews

Semangat Muda

Paperback

Loading...
Loading...

About the author

Tan Malaka

67 books349 followers
Tan Malaka (1894 - February 21, 1949) was an Indonesian nationalist activist and communist leader. A staunch critic of both the colonial Dutch East Indies government and the republican Sukarno administration that governed the country after the Indonesian National Revolution, he was also frequently in conflict with the leadership of the Communist Party of Indonesia (PKI), Indonesia's primary radical political party in the 1920s and again in the 1940s.

A political outsider for most of his life, Tan Malaka spent a large part of his life in exile from Indonesia, and was constantly threatened with arrest by the Dutch authorities and their allies. Despite this apparent marginalization, however, he played a key intellectual role in linking the international communist movement to Southeast Asia's anti-colonial movements. He was declared a "hero of the national revolution" by act of Indonesia's parliament in 1963.

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
14 (41%)
4 stars
13 (38%)
3 stars
5 (14%)
2 stars
1 (2%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books128 followers
September 3, 2025
Semangat Muda merupakan salah satu tulisan penting Tan Malaka yang menegaskan peran generasi muda dalam perjuangan kebangsaan. Melalui gaya bahasa yang lugas, Tan Malaka menyampaikan gagasan tentang pentingnya pendidikan, organisasi, dan kesadaran politik sebagai fondasi untuk melawan penjajahan pada masa itu—1926, pra-kemerdekaan Indonesia. Ia menekankan bahwa kemerdekaan tidak hanya berarti terbebas dari kolonialisme, tetapi juga terwujudnya masyarakat yang adil dan berpengetahuan.

Tan mengatakan bahwa suatu pergerakan revolusioner yang tidak mempunyai basis teori, atau lantai yang berdiri atas teori akan mati dengan sendirinya. Ia mencontohkan tiga organisasi besar saat itu, yakni Boedi Oetomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij yang pada mulanya revolusioner, akan tetapi tidak dapat menggambarkan visinya dengan terang. Maka, menurut Tan, penyebab jatuhnya ketiga partai tersebut bukan hanya karena tak punya disiplin, tetapi utamanya karena mereka tak bisa membuat program yang kokoh.

“Tetapi kalau PKI dan SR (Sarekat Rakyat) yang merebut kekuasaan, ia bisa menaikan derajat si Kecil karena lebih dulu mereka menghapuskan hak milik pada perusahaan besar-besar dan menghapuskan kasta hartawan,” ungkap Tan. Meskipun kita tahu kemudian ia memutuskan hubungan dengan PKI karena perbedaan ideologis fundamental, terutama mengenai strategi pemberontakan anti-Belanda, yang dianggap Tan terlalu tergesa-gesa (1927).

“Inilah senjata kita Kaum Revolusioner yang terutama sekali: Otak, Pena, dan Mulut.”

Poin penting buku ini terletak pada semangat visioner Tan Malaka yang mendorong anak muda agar tidak sekadar menjadi penonton sejarah, melainkan pelaku perubahan. Meski ditulis hampir seabad lalu, gagasannya tetap relevan—menginspirasi pembaca untuk melihat bahwa energi dan idealisme kaum muda adalah kunci bagi transformasi sosial dan politik.

Kemudian, pada halaman terakhir, Tan Malaka menutup dengan pesan:
“Janganlah segan belajar dan membaca! Pengetahuan itulah perkakasnya Kaum Hartawan menindas kamu. Dengan pengetahuan itulah kelak kamu bisa merebut hakmu dan hak Rakyat. Tuntutlah pelajaran dan asahlah otakmu di mana juga, dalam pekerjaanmu, dalam bui ataupun buangan! Janganlah kamu sangka, bahwa kamu sudah cukup pandai dan takabur mengira sudah kelebihan kepandaian buat memimpin dan menyelamatkan 55 juta manusia, yang beribu-ribu tahun terhimpit itu. Insaflah bahwa pengetahuan itu kekuasaan. Ada kalanya kelak dari kamu, Rakyat melarat itu akan menuntut segala macam pengetahuan, seperti dari satu perigi yang tak boleh kering. Bersiaplah!”
Profile Image for Sigma Sang Reader.
32 reviews
January 16, 2025
Inti dari buku ini adalah penjelasan tentang revolusi, khususnya mengenai ideologi komunisme, yang diartikan bahwa sejarah dari semua bangsa adalah pertarungan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang tertindas dan yang menindas, antara yang terhimpit dan yang menghimpit. Selain itu, dibahas pula nilai-nilai yang mungkin muncul apabila ideologi ini diterapkan, termasuk anarkisme dan kapitalisme.

Masih tentang kapitalisme, khususnya di Indonesia dan negara lain. Membahas kapitalisme di Indonesia rasanya tidak akan pernah sehat; he nailed it, bahkan dengan menambahkan contoh bahwa terkadang kita harus mengimpor beras dari luar. Yang lebih mengejutkan, ini ditulis hampir 100 tahun yang lalu — in fact, we grow, namun sulit membayangkan (kalau aku ada di posisi mereka) bagaimana kapitalisme diterapkan di negara kita 100 tahun yang lalu, atau bahkan 200 tahun lalu.

Keuntungan di negara lain biasanya tetap berada di dalam negeri, tetapi di Indonesia, beban keuangan justru menimpa rakyat miskin yang semakin hari semakin terhimpit; semua keuntungan mengalir ke kantong Lintah Darat yang hidup nyaman tanpa usaha.

Jika dahulu Indonesia dijajah oleh Lintah Darat Belanda yang tidak peduli dengan nasib rakyat Indonesia, di masa sekarang, lintah darat mana yang tidak peduli pada rakyat ini? 🙏🏻 (takut)

Buku ini juga menjelaskan bahwa senjata kaum revolusioner hanya ada tiga: otak, pena, dan mulut. Disebutkan pula dampak revolusi dan bagaimana cara menghadapinya, disertai contoh kasus dari negara lain (terutama Filipina, karena memiliki karakteristik yang mirip dengan kita).

Negara kita memang berbentuk demokrasi, dan biarkanlah tetap seperti itu.
Mempelajari ideologi lain tidak serta-merta mengubah keyakinan kita. Perjuangan Tan Malaka dalam memperjuangkan ideologi ini penuh dengan keringat, pengorbanan, dan semangat, menjelaskan anarkisme dan imperialisme yang turut memengaruhi perjalanan masuknya ideologi tersebut ke Indonesia (the fact this is written in Tokyo in 1926).

🦅merdeka🦅
158 reviews1 follower
January 28, 2023
Ditulis di Tokyo, Jepang, tahun 1926, Tan Malaka kembali menegaskan ikatan erat ekonomi dan politik serta betapa perlunya bagi kaum proletariat/proletar untuk berserikat. Sebagai seorang Marxis, di jaman sebelum PD I dan II, dapat dimengerti optimisme dan semangat kaumnya akan kekuatan kaum proletar yang bersatu. Sayangnya, mengenyampingkan atau meminimilasir aspek perasaan bisa jadi menjadi titik buta para Marxis seperti Malaka. Karena logika kapitalisme dalam hal meritokrasi dan janji kesejahteraan jelas diinternalisasi oleh para kaum pekerja. Perasaan dan alam bawah sadar kita dijajah kapitalisme juga, sehingga bahkan ketika momen sudah berkali-kali tepat untuk revolusi melawan kapitalisme tiba, persatuan kaum proletar yang divisualisasikan dengan yakin oleh Malaka dan kaum Marxis lainnya tak kunjung tiba. :(
Profile Image for Geral.
74 reviews2 followers
August 21, 2025
Perjuangan revolusioner yang digambarkan Tan Malaka menekankan pentingnya pondasi dan adaptasi terhadap keadaan sosial-budaya. Ia menjelaskan pentingnya hal tersebut agar revolusi yang dilancarkan dapat berhasil dan tidak lekang karena kehilangan esensinya di dalam masyarakat.

Walaupun pada akhirnya perjuangan yang dicita-citakan oleh Tan Malaka tidak tercapai, tetapi buku ini menjadi gambaran bagaimana sebuah perjuangan yang diidam-idamkan olehnya.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews