• Judul : Perempuan Bersampur Merah
• Penulis : Intan Andaru
• Penyunting : Dwi Ratih
• Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
• Terbit : 7 Januari 2019
• Harga : Rp 70.000
• Tebal : 216 halaman
• Ukuran : 13.5 × 20 cm
• Cover : Softcover
• ISBN : 9786020621951
"𝒀𝒂, 𝒔𝒐𝒂𝒍𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒌𝒖 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒏𝒂𝒌 𝒌𝒆𝒄𝒊𝒍. 𝑨𝒌𝒖 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒑𝒆𝒓𝒋𝒂𝒌𝒂. 𝑳𝒆𝒍𝒂𝒌𝒊 𝒑𝒆𝒓𝒋𝒂𝒌𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒎𝒊𝒍𝒊 𝒈𝒂𝒅𝒊𝒔." (hal. 39)
Tragedi yang terjadi di tahun 1998 tidak akan pernah Sari lupakan. Bagaimana tidak tepat di tahun tersebut bapaknya meninggal dihakimi masa. Bapak Sari dituduh sebagai dukun santet oleh masyarakat sekitar dan diarak keliling desa hingga meregang nyawa. Nyatanya bapak Sari hanya seorang dukun suwuk yang membantu menyembuhkan tetangga-tetangganya yang sedang sakit. Entah ada kabar burung dari mana tuduhan bahwa bapak Sari seorang dukun santet. Tidak hanya menimpa bapak Sari saja, tapi beberapa dukun hingga guru ngaji pun turut menjadi target sasaran "ninja" untuk dilenyapkan. Sari sendiri dihantui trauma atas kematian bapaknya tersebut. Di mana sebelum bapaknya dimakamkan Sari sempat melihat jasadnya yang mengenaskan. Sari bertekad untuk mencari siapa saja pelaku pembunuhan yang mengarak bapaknya. Di antara kerumunan orang-orang itu Sari ingat betul ada beberapa orang tetangga di desanya. Ia pun menuliskan nama-nama tersangka dalam selembar kertas. Sari turut mengajak dua sahabatnya, Ahmad dan Rama, untuk turut serta menyelidiki pembunuh bapaknya.
Nyatanya penyelidikan Sari belum membuahkan hasil. Mau tidak mau Sari harus masuk ke dalam sebuah sanggar tari gandrung yang dimiliki oleh Mak Rebyak. Mak Rebyak merupakan narasumber yang dapat menjadi sumber informasi untuk salah satu tersangka yang Sari curigai. Akan tetapi di sana Sari justru malah mendalami tari gandrung khas Banyuwangi. Sari sendiri harus membayar uang sejumlah dua puluh ribu rupiah setiap bulannya untuk bisa berada di sanggar tari Mak Rebyak. Tari gandrung ternyata menjadi kegiatan yang tak disangka-sangka dinikmati oleh Sari. Sari sendiri dipercaya untuk mengikuti festival tari oleh Mak Rebyak dengan sampur merahnya. Di tengah kegiatan menari dan mencari tersangka pembunuh bapaknya, Sari turut dilanda dilema cinta dengan dua sahabatnya, Ahmad dan Rama. Di satu sisi ada Ahmad yang selalu ada untuk Sari, tapi di sisi lain hati Sari memilih Rama yang pada dasarnya tak mudah dijangkau. Semua intrik tersebut pada akhirnya membawa Sari pada sebuah fakta yang menghubungkan itu semua, yaitu tragedi pembunuhan bapaknya. Siapa pada akhirnya yang akan dipilih oleh Sari? Bisakah Sari menemukan pelaku pembunuhan bapaknya?
"𝑩𝒖𝒌𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒌𝒆𝒉𝒊𝒍𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒕𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒐𝒃𝒂𝒕𝒏𝒚𝒂?" (hal. 94)
Mengenang atau belajar tentang sejarah akan jauh lebih menyenangkan jika diselipkan dalam sebuah fiksi. Contohnya seperti Perempuan Bersampur Merah yang dapat mengeksekusi sejarah dan fiksi dengan baik. Jujur saya sendiri baru mengetahui jika pada tahun 1998 ada sebuah tragedi kejadian pembantaian di Banyuwangi. Pembantaian itu mengincar orang-orang yang dicurigai sebagai "dukun santet". Jika tak membaca Perempuan Bersampur Merah mungkin saya sendiri tidak akan pernah tahu akan sejarah yang sangat kelam ini. Perempuan Bersampur Merah selain memiliki daya pikat dalam segi cerita, cover bukunya pun memiliki daya tariknya sendiri. Ilustrasi hasi dari sukutangan terlihat amat apik dan artistik. Sedikit banyak gambar gadis yang terlilit sampur merah sudah mewakili tokoh Sari dengan baik. Ekspresi yang menutup mata memperlihatkan luka dan beban yang Sari tanggung akibat kematian bapaknya. Sampur merah yang melilit leher Sari dibuat secantik mungkin dengan motif yang indah. Latar berwarna biru semakin menguatkan kesedihan yang dirasakan oleh Sari.
Mungkin pada intinya Perempuan Bersampur Merah menitikbertakan ceritanya pada romansa antara Sari, Rama, dan Ahmad. Namun, latar sejarah tentang pembantaian di Banyuwangi pada tahun 1998 menjadi kekuatan dalam novel ini. Kisah Sari yang menyaksikan secara langsung bapaknya meregang nyawa akibat dituduh sebagai dukun santet membuatnya bertekad untuk mencari tersangka di balik pembunuhan tersebut. Berbekal secarik kertas bertuliskan nama-nama orang yang dicurigai sebagai tersangka, Sari memulai penyelidikannya bersama Ahmad dan Rama. Nyatanya Sari malah terlibat dalam sebuah romansa bersama dua sahabatnya tersebut. Intan Andaru memberikan sebuah cerita yang ringkas dan sederhana dengan kekuatan yang luar biasa. Tragedi pembantaian yang terjadi di Banyuwangi menjadi magnet yang kembali mengingatkan kita akan sebuah moralitas yang patut dipertanyakan. Semua unsur dicatat dengan seimbang seusai porsinya, mulai dari sejarah, romansa, hingga budaya. Sebuah kisah romansa berlatar budaya dan sejarah yang patut diperhitungkan.
Sebagai tokoh sentral Sari mempunyai karakter yang bisa dibilang cukup kuat. Bagaimana di usia yang masih sangat muda Sari dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Tragedi pembantaian bapaknya serta kondisi ekonominya menjadi pemicu utama Sari cepat beranjak dewasa. Sari merupakan gadis yang mandiri, tangguh, dan palamarta. Walaupun berduka dan susah Sari tetap dapat membantu orang-orang di sekitarnya. Sari juga tergolong anak yang amat sangat berbakti pada orangtua. Sari rela mempertaruhkan masa depannya untuk ibunya dan berusaha mencari keadilan bagi bapaknya. Penulis tidak serta merta membuat Sari bertekad kuat mencari pelaku pembunuhan bapaknya. Tapi, terlebih dahulu menunjukkan intensitas kedekatan Sari dengan bapaknya sehingga timbul perasaan kehilangan dan sakit hati. Tak hanya Sari di sini ada juga Ahmad dan Rama yang merupakan dua sosok sahabat bagi Sari. Ahmad yang sering membantu Sari dan memiliki hobi membaca buku. Serta Rama yang cerdas luar biasa dengan karismanya. Perkembangan tokohnya terlihat stabil dan realistis. Saya suka dengan chemistry dan latar belakang tokohnya yang meskipun ditulis dengan ringkas, tapi sudah terasa cukup kuat.
Novel ini memiliki alur yang tidak kronologis. Di setiap babnya penulis menyertakan tahun saat perkara terjadi. Walaupun tidak kronologis, tapi pembaca tetap bisa memahami dan memaklumi apa yang sedang terjadi. Ceritanya bagi saya berjalan dengan cepat dan ringkas, tapi padat di saat yang sama. Materi sejarah tentang tragedi pembantaian di Banyuwangi tersampaikan dengan apik melalui Sari sebagai anak dari salah satu korban. Sudut pandang orang pertama digunakan untuk menunjukkan bagaimana tragedi pembantaian yang terjadu. Tokoh Sari berhasil menyampaikan setiap potongan tragedi dengan jelas dan ringkas. Gaya bahasanya sangat ringan dan sederhana dengan beberapa dialog bahasa Jawa yang ternyata banyak ragamnya. Saya sendiri sangat menyukai penggunaan beberapa kosakata berdialek seperti ndak karena menimbulkan kesan medok khas orang Jawa. Latar tempat Banyuwangi sangat terasa hidup. Bagaimana suku Using yang menjadi sorotan penulis tergambarkan secara hidup melalui deskripsi budaya, kebiasaan, hingga bahasanya.
Tragedi pembantaian di Banyuwangi merupakan cikal bakal dari konflik yang akan dialami oleh Sari. Bagaimana Sari berusaha berdamai dengan kejadian tersebut dengan cara mencari siapa saja yang terlibat dalam pembunuhan bapaknya. Sari mencoba untuk mengingat-ingat siapa saja orang-orang di kampungnya yang terlihat saat kejadian. Beberapa orang yang Sari kenal sebagai tetangganya ia tulis dalam selembar kertas. Lewat beberapa nama tersebut Sari mulai menyelidiki kasus yang merenggut nyawa bapaknya. Selain berusaha berdamai dengan masa lalunya melalui investigasi, Sari pun terbelit konflik romansa dengan dua sahabatnya, Ahmad dan Rama. Konflik romansa ini terjadi pun tak lepas dari benang merah yang sama, yaitu tragedi pembantaian di Banyuwangi. Sari yang sejak dini menyukai Rama harus dihadapkan pada kenyataan jika Rama adalah sosok yang sulit untuk dijangkau. Sementara itu Ahmad justru selalu ada dan siap sedia membantu Sari, tapi hati Sari tidak merasakan apa pun terhadap Ahmad. Kedua konflik ini seakan-akan berjalan masing-masing, tapi tetap menjadi satu kesatuan di saat bersamaan.
Perempuan Bersampur Merah berhasil memukau saya dengan sejarah dan budayanya. Intan Andaru menunjukkan jika sejarah yang dibumbui fiksi dapat mengingatkan kembali pada sebuah tragedi yang penuh dengan anomali. Kebudayaan Banyuwangi pun diekspos dengan amat baik. Contohnya seperti tari gandrung dan geredoan. Tari gandrung sendiri di sini seakan menjadi urat nadi bagi jalan ceritanya. Selain itu bahasa Jawa yang diselipkan di setiap percakapannya pun menambah nuansa lokal yang kuat. Saya sendiri seakan-akan dibawa nostalgia kembali ke zaman sembilan puluhan. Penulis mengingatkan kembali hal-hal seperti es orson, mainan bongkar pasang, hingga buku pelajaran RPAL dan RPUL. Saya sendiri suka dengan cara bercerita penulis yang tidak bertele-tele dan ringkas. Meskipun buku ini tipis, tapi semua aspeknya sudah cukup menguatkan jalan ceritanya. Kekurangan yang saya rasakan mungkin hanya penyelesaian konfliknya yang sedikit terburu-buru. Secara keseluruhan Perempuan Bersampur Merah memperlihatkan bagaimana begitu kuatnya kepercayaan masyarakat Indonesia pada hal-hal berbau klenik. Di mana tanpa mencari tahu terlebih dahulu kita sebagai manusia acap kali lebih memilih percaya pada omong kosong belaka.
"𝒀𝒂 𝑮𝒖𝒔𝒕𝒊, 𝒂𝒑𝒂 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒎𝒂𝒏𝒖𝒔𝒊𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒅𝒊𝒑𝒆𝒓𝒍𝒂𝒌𝒖𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒊𝒍?" (hal. 141)