Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mata yang Enak Dipandang

Rate this book
Buku ini merupakan kumpulan lima belas cerita pendek Ahmad Tohari yang tersebar di sejumlah media cetak antara tahun 1983 dan 1997. Seperti novel-novelnya, cerita-cerita pendeknya pun memiliki ciri khas. Ia selalu mengangkat kehidupan orang-orang kecil atau kalangan bawah dengan segala lika-likunya.

Ahmad Tohari sangat mengenal kehidupan mereka dengan baik. Oleh karena itu, ia dapat melukiskannya dengan simpati dan empati sehingga kisah-kisah itu memperkaya batin pembaca.

216 pages, Paperback

First published December 1, 2013

124 people are currently reading
1474 people want to read

About the author

Ahmad Tohari

47 books506 followers
Ahmad Tohari is Indonesia well-knowned writer who can picture a typical village scenery very well in his writings. He has been everywhere, writings for magazines. He attended Fellowship International Writers Program at Iowa, United State on 1990 and received Southeast Asian Writers Award on 1995.

His famous works are trilogy of Srintil, a traditional dancer (ronggeng) of Paruk Village: "Ronggeng Dukuh Paruk", "Lintang Kemukus Dini Hari", and "Jantera Bianglala"

On 2007, he releases again "Ronggeng Dukuh Paruk" in Java-Banyumasan language which is claimed to be the first novel using Java-Banyumasan. Toward his effort, he receives Rancage Award 2007. The book is only printed 1,500 editions and sold out directly in the book launch.

Bibliography:
* Kubah (novel, 1980)
* Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982)
* Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985)
* Jantera Bianglala (novel, 1986)
* Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986)
* Senyum Karyamin (short stories, 1989)
* Bekisar Merah (novel, 1993)
* Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995)
* Nyanyian Malam (short stories, 2000)
* Belantik (novel, 2001)
* Orang Orang Proyek (novel, 2002)
* Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004)
* Mata yang Enak Dipandang (short stories, 2013)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
448 (31%)
4 stars
715 (50%)
3 stars
204 (14%)
2 stars
32 (2%)
1 star
6 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 275 reviews
Profile Image for Missy J.
629 reviews107 followers
April 24, 2022
4.5*

Usually I am not a fan of short story collections. I like short stories individually, but when reading an entire collection, I often find that there are maybe one or two stories that are really good and the rest is often "meh." However, I was pleasantly surprised by this short story collection. The majority of the stories were a solid 4 stars each! Ahmad Tohari, mostly known for his Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak stories, is an author that I have been meaning to read again. But I was intimidated by the lengths of his other novels, so when I came across this short story collection and saw all the positive ratings, I thought I would give it a chance and it did not disappoint! The language was well-written and if it included dialect, there was always an explanation given or the characters would clarify what was meant. Most of the stories were written in the 90s, one in 2003 and one in the 80s, but this short story collection was compiled and published in 2013. What I loved the best about this short story collection is that each story was unique and had its own atmosphere and tone, and most of the stories were suspenseful! So many aspects of Indonesian culture are shown in these stories, poverty is addressed and indirectly a lot of questions are posed to the reader, which I found refreshing. These stories made me think and that is why I highly recommend this short story collection.

1.) Mata Yang Enak Dipandang: a blind beggar and his guide at a train station. *****
2.) Bila Jebris Ada Di Rumah Kami: village shunning a divorcee who becomes a prostitute. Why doesn't anybody (especially her friends) help? *****
3.) Penipu Yang Keempat: when the scammer gets scammed by the person he scammed. ** 1/2
4.) Daruan: he wrote a book, but can't make money. *** 1/2
5.) Warung Penajem: a farmer who works hard to provide everything his wife wants, but success always entails so much sacrifice. ****
6.) Paman Doblo Merobek Layang-Layang: Uncle Doblo personifies the sad reality when industry becomes more important than village community. ****
7.) Kang Sarpin Minta Dikebiri: Kang Sarpin dies in a traffic accident and his funeral becomes a place of gossip. ***
8.) Akhirnya Karsim Meyeberang Jalan: Another traffic accident victim who leaves his body and can observe the whole world now. ***
9.) Sayur Bleketupuk: Household drama when a husband returns home too late and the kids are already asleep. ***
10.) Rusmi Ingin Pulang: Another village gossip story with an unexpected twist. ****
11.) Dawir, Turah, dan Totol: extremely sad story of urban poverty. ***
12.) Harta Gantungan: a touching and inspiring story of family wealth & inheritance, transmigrasi and village community. *****
13.) Pemandangan Perut: a creative and magical story of a man who can see through people's bodies and what is inside their belly. *** 1/2
14.) Salam dari Penyangga Langit: the only short story that I really didn't get * 1/2
15.) Bulan Kuning Sudah Tenggelam: the longest short story of this collection. Marital trouble, filial piety and femininity are discussed here! ****
Profile Image for Ayesa.
69 reviews3 followers
August 30, 2023
Ahmad Tohari berhasil menuangkan gagasan konstruksi sosial masyarakat kedalam kumpulan cerpen "Mata yang Enak Dipandang".

Kisah tentang kehidupan masyarakat populis.

Realitas kemiskinan struktural yang ditunjukkan dalam beberapa cerpen ini membuka mata kita akan kesengsaraan yang dialami oleh tiap tokoh. Meski fiksi rasanya sudah menggambarkan dengan realitas yang ada.

Kita mungkin sering mendengar atau bahkan menyaksikan kisah orang-orang kecil di sekitar. Namun, dengan membaca kisah mereka, kita akan lebih mendalami dan turut merasakan perasaan yang ada pada tokoh yang sering terdengar kisahnya. Gaya penyampaian Tohari yang sederhana dan lugas inilah yang menurut saya menarik untuk dibaca.

🌟🌟🌟🌟🌟
Profile Image for raafi.
927 reviews449 followers
January 2, 2018
Membaca ini, aku diajak kembali ke masa-masa kala tinggal di kampung halaman. Hampir semua ceritanya berlatar pedesaan dengan pematang sawah, petani, kerbau, rumah-rumah sederhana, warung di depan rumah, bahkan nama-nama tokohnya.

Yeah, aku menyukainya. Karya pertama Ahmad Tohari yang kubaca. Cerita-ceritanya dekat sekali dengan sayah.

Cerpen favorit: Kang Sarpin Minta Dikebiri.

Honorable mentions: Penipu yang Keempat, Paman Doblo Merobek Layang-Layang, Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan.
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
January 22, 2019
Ahmad Tohari
Mata yang Enak Dipandang
Gramedia Pustaka Utama
216 halaman
8.2 (Best Book)

Ahmad Tohari's collection of short stories in Mata yang Enak Dipandang paints a verisimilar picture of Indonesian marginal people. Even if their stories are not full of twists, their humbleness is what hits you right in the feeling.
Profile Image for hans.
1,158 reviews152 followers
February 3, 2023
Dah lama juga teringin nak cuba baca naskhah Ahmad Tohari jadi beli karya kumpulan 15 cerita pendeknya ini dulu untuk bacaan pertama. Digarap dalam tema sosial, kekeluargaan, moraliti, perhubungan, isu spiritual dan refleksi kehidupan masyarakat dan konflik harian, ceritera Mata Yang Enak Dipandang agak ringan bagi aku namun penuh kiasan yang tersirat dan sinikal. Suka dengan gaya narasi penulis yang bersahaja— babak dan interaksi karakternya berbahas konteks sekitar naratif jadi tak ada adegan yang lewah atau terlalu deskriptif. Pemilihan watak-watak yang marginal dengan karakterisasi dan dinamik yang sederhana dalam alur cerita yang mencengkam dan bermain emosi juga simpati.

Antara cerpen kegemaran— Mata Yang Enak Dipandang (tentang sisi gelap dunia mengemis; “…mata orang yang memberi tidak galak. Mata orang yang suka memberi enak dipandang.”), Daruan (kisah seorang penulis yang menanti wang honor karyanya yang belum terjual), Warung Penajem (apa saja sanggup dilakukan demi melunas hidup; “Peningkatan ekonomi itu ternyata telah menuntut pengorbanan yang luar biasa dan mahal.”), Harta Gantungan (tentang kemiskinan dan perihal kekeluargaan; antara cerpen paling sedih bagi aku) dan Bulan Kuning Sudah Tenggelam (berlegar masalah perhubungan antara suami dan isteri juga ayah dan anak). Beberapa kisahnya bersifat sureal dan mistik (Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan, Pemandangan Perut, Salam Dari Penyangga Langit) namun masih diangkat dalam tema kemasyarakatan dan konflik sosial/domestik yang sama.

Tak ada twist atau klimaks berat, ada intens dan saspens namun pengakhirannya yang masih biasa saja tetap menimbulkan perasaan senang menjamah setiap perinci cerita. Satu naskhah yang agak menarik kalau suka tema gaya hidup dengan kisah jiwa-jiwa yang dihurung runsing, menghadap pengorbanan dan kehilangan; realiti yang barangkali pernah berkait dengan kisah hidup kita sendiri. 4 bintang untuk naskhah ini!
Profile Image for Ann.
87 reviews17 followers
January 23, 2021
Ahmad Tohari dan tulisannya yang bersahaja hadir kembali dalam buku ini. Beragam cerita pendek yang dihadirkan tidaklah neko-neko. Alurnya sederhana saja, namun pesannya selalu menusuk batin.

Cerpen favorit saya:
1. Penipu yang Keempat.
Wow, satirnya menampar saya berkali-kali.

2. Salam dari Penyangga Langit.
Fix ini tulisan Tohari favorit saya. Cara dia membawakan pengalaman spiritualitas dari tokohnya benar-benar cemerlang. The dialogue, the narrative, and the feeling that come up within the story are ✨ chef kiss ✨

3. Bulan Kuning Sudah Tenggelam.
Cerita pendek yang paling membuat hati saya porak-poranda. Hancur berkeping-keping tanpa sisa. Nyesek bacanya. Bener-bener nelangsa. Sedari awal membaca ceritanya dengan pandangan yang blur karena air mata saya tak bisa dibendung. Menjelang akhir dari bagian satu, saya kira nyeseknya juga bakal berakhir. Namun malah menjadi-jadi di bagian kedua. Astaga.
Profile Image for Sophia Mega.
Author 4 books136 followers
July 15, 2019
Menceritakan kisah orang-orang kecil dengan begitu mengalir tapi penuh sekali makna. Bikin terus ingin menyelesaikan kisahnya meski di sini ada 15 kisah yang usai dengan beberapa kata saja. Terima kasih Ibu Yuning yang sudah mengajarkan untuk selalu tenang dan cantik :")
Profile Image for Marina.
2,035 reviews359 followers
January 20, 2019
** Books 08 - 2019 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2019

3,5 dari 5 bintang!


Dari semua karya Ahmad Tohari buku ini salah satunya yang belum aku pernah baca. Makanya ketika tahu Gramedia bekerjasama dengan Sukutangan menerbitkan cover barunya yang menurut saya ciamik akhirnya kecantol untuk membeli buku ini. Buku ini terdiri dari 15 cerpen dari Ahmad Tohari yang sebelumnya pernah di muat di media cetak.

Ini beberapa cerpen favorit saya!

1. Bila Jebris ada di rumah kami
Kekhawatiran Sar yang merupakan tetangga Jebris apabila ia tinggal bersamanya. Dimana Jebris ini digosipkan sebagai wanita bayaran. Di satu sisi Sar merasa risih namun tidak tega juga hatinya melihat sahabat masa kecilnya mengalami kesusahan dalam hidup

2. Warung Penajem
Kisah kepiluan hati Kartawi yang harus memilih antara istrinya memberikan penajem kepada lelaki lain atau hidup didalam kesukaran :(

3. Paman Doblo merobek layang-layang
Betapa jabatan dan kekuasaan bisa merubah segalanya termasuk sikap Paman Doblo yang berbeda dengan dahulu kala

4. Harta Gantungan
Orang yang mengadu peruntungan nasibnya di kota lain belum tentu kehidupannya terlihat membaik dibandingkan yang tinggal di kampung.

5. Bulan Kuning sudah tenggelam
Hahha ini sih yang paling maknyes! Sesungguhnya jangan main-main dengan wanita karena wanita memiliki kekuatan tersembunyi untuk menaklukan hati pria :p

Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
March 23, 2014
Sedikit kecewa dengan kumpulan cerpen Ahmad Tohari yang ini. Sangat berbeda dengan Senyum Karyamin . Cerpen-cerpen dalam buku ini tidak sedahsyat cerpen2 di Senyum Karyamin
Dua cerpen yang bagus Penipu Yang Keempat dan Kang Sarpin Minta Dikebiri . Satu lagi cerpen yang menurutku perlu dibaca hati-hati adalah Salam dari Penyangga Langit , dalam cerpen ini (kadingaren) Ahmad TOhari berbicara agama. Karena sampai saat ini cerpen2 Ahamd Tohari selalu berbicara kemiskinan dan orang bawah.

Tetapi sebagai maestro Ahmad Tohari tetap indah, dalam novelet Bulan Kuning Sudah Tenggelam .

Tetapi maaf kukiash 2 bintang, karena aku lebih suka Senyum Karyamin .


Saya copy-paste-kan esai S Prasetyo Utomo yang dimuat di Suara Merdeka (8 Desember 2013) tentang buku ini.

DUNIA BATIN NARASI TOHARI
S PRASETYO UTOMO(Suara Merdeka, 8 Desember 2013)

Bersahaja, suntuk, Ahmad Tohari mencipta karya sastra dari rumahnya yang rimbun pepohonan di Tinggarjaya, Banyumas, Jateng. Ia tidak tinggal di pesantren. Ia memilih tinggal di perkampungan, tepi jalan raya ke Bandung, dekat pasar, dekat sekolah, dan kantor-kantor yang lain. Ada surau di belakang rumahnya.


Atmosfer sosiokultural yang melingkupi kehidupan keluarganya itu menyebabkan kumpulan cerpen Tohari, Mata yang Enak Dipandang(Gramedia Pustaka Utama, 2013) berbeda dengan cerpen-cerpen Gus Mus dalam Lukisan Kaligrafi. Tohari melarutkan narasi kesufiannya dalam sosok tokoh manusia kebanyakan yang mengalami kenestapaan hidup, sementara Gus Mus cenderung menokohkan ulama sebagai pusat kearifan kisah-kisahnya.


Bukan bertumpu pada eksotisme latar social budaya ketika Ahmad Tohari mencipta narasi yang kemudian diterbitkan dalam kumpulan cerpen keduanya ini setelah Senyum Karyamin. Bukan sekadar anekdot. Bukan sekadar refleksi kehidupan orang-orang kecil yang tersingkir. Tetapi, Tohari tengah mendedahkan dunia batin dalam narasi yang tokoh-tokohnya mengalami konflik internal sangat mendasar. Latar social budaya, kehidupan orang-orang kecil pedesaan, adalah wujud fisik religiositas yang hakiki, pencarian eksistensial mengenai makna hidup.


Banyak kritikus sastra terlampau dangkal menafsir cerpen-cerpen Tohari. Banyak pemerhati sastra yang menyederhanakan arus kesadaran religiositas mahadalam yang memancar dalam cerpen-cerpennya. Sungguh sangat sedikit yang bisa memberi makna transendensi yang terpancar dalam cerpen-cerpen Tohari. Lingkup kehidupannya, atmosfer sosiologisantropologis yang kental memberi warna latar cerpen-cerpennya untuk mengisahkan tokohtokoh yang bergulat dengan dunia batin.


Tohari tidak menulis cerpen mimetik. Ia tidak mencipta cerpen-cerpen realisme sosial. Ia mencipta cerpen-cerpen dengan kegelisahan spiritual. Ia menggugat kesadaran religiositas pembaca, yang telah ditelan arus kapitalisme, hingga kehilangan hati nuraninya. Ia mencipta cerpencerpen bernapas religius, hampir menyentuh sufisme. Hanya saja, Tohari yang telah tenggelam dalam arus realisme, yang tak melambungkan fantasi sebagai arus utama penciptaan cerpen-cerpennya, ditafsir jauh dari mistisisme. Ia mesti berhadapan dengan kekuatan fantasi yang indah Seno Gumira Ajidarma. Ia berhadapan dengan dunia kosmopolitanisme yang mempertanyakan tatanan nilai yang mapan, dengan kelincahan gaya Djenar Maesa Ayu. Ia berhadapan dengan cerpenis yang lincah mencipta dengan naluri interteks, fantasi, dan obsesi realitas sosial seperti Agus Noor.


CERPEN-CERPEN Tohari, yang bermuara pada pergulatan dunia batin tokoh, menampakkan tiga karakter. Pertama, cerpen-cerpen dengan nuansa religiositas yang mempertanyakan hakikat kebenaran, mengajak pembaca dalam solilokui, dialog dengan diri sendiri. Kedua, cerpen-cerpen satire, yang melancarkan kritik terhadap diri sendiri, dengan terselubung humor. Ketiga, cerpen-cerpen yang menyingkap mitos, yang mempertanyakan penyimpanganpenyimpangan moral secara humanis.


Cerpen ‘’Mata yang Enak Dipandang’’, yang kemudian dijadikan judul buku ini, memang bukan cerpen terkuat dalam struktur narasi dan gaya (style). Ini tetaplah narasi yang bersahaja, sebagaimana pribadi penulisnya. Tokoh buta dengan kepekaan batin, memang pernah dieksplorasi Tohari dalam trilog novelnya Ronggeng Dukuh Paruk. Dalam cerpen ini tokoh Mirta, pengemis buta, dengan kekuatan intuisinya, mempertanyakan hakikat kesalehan religius. Mata yang indah merupakan metafora bagi kecemerlangan hati manusia dermawan yang ikhlas memberi sedekah. Religiositas dalam cerpencerpennya seringkali mengambil bentuk pada sosok tokoh papa, hina, tersia-siakan dalam hidup. Kehadiran tokoh yang teraniaya, hanyalah bingkai bagi kecemerlangan dunia batin yang ingin dipancarkannya. Cerpen serupa ini membawa kita pada percakapan batin untuk menemukan kearifan hidup.


Cerpen satire Tohari, yang mencari humanisme dalam pusaran konflik tokoh-tokohnya, terdapat dalam cerpen ‘’Penipu yang Keempat’’. Cerpen ini sungguh sebagai sebuah olok-olok sang sastrawan terhadap perilaku dusta bangsa ini, kebohongan, keculasan, dan perasaan bebal. Tetapi, sesungguhnya Tohari sedang mengolokolok perilaku religiositas manusia yang mencari citra di hadapan Tuhan, karena sedekah yang telah diberikannya. Inilah sesungguhnya cerpen sufisme dalam wajah manusia kebanyakan, lebur dalam realitas sosial, dalam kehidupan keseharian: manusia yang mendarah-daging.

Cerpen ‘’Warung Penajem’’ merupakan cerpen yang mempertanyakan krisis spiritualisme dengan memunculkan tokoh yang tak bisa mengelak dari perangkap materialisme. Kesucian seorang istri, kesetiaan, dan kecintaannya pada suami, bisa dirontokkannya ambisinya untuk memperoleh harta benda, dengan memberikan kehormatannya pada seorang dukun. Dalam cerpen serupa ini, struktur narasi yang sederhana, tokoh-tokoh orang pinggiran, mewakili watak keserakahan bangsa ini, yang menggadaikan kesucian hati nurani untuk memperoleh kesejahteraan material. Kikisnya spiritualisme, menjadi narasi besar kapitalisme, merusak hakikat kebahagiaan manusia.


NAPAS sufisme cerpen-cerpen Tohari dalam kumpulan ini, memang tak sekuat ‘’Pengemis dan Salawat Badar’’ yang termuat dalam buku kumpulan cerpen Senyum Karyamin. Napas sufisme itu dilarutkannya dalam bingkai latar sosiokultural, dengan tokoh-tokoh manusia yang dimarjinalkan. Tak banyak kritikus sastra yang sanggup menyingkap latar batin karya-karya Tohari. Anggapan yang paling dangkal, dan diyakini peminat sastra secara luas, bahwa karya-karya Tohari, termasuk cerpen-cerpennya, kuyup warna lokal. Latar ruang-waktu, konteks sosiokultural, dianggap sebagai ciri khas karyakaryanya. Bahkan cerpen-cerpennya dianggap berobsesi pada kehidupan underdog, sebuah penilaian sekilas, tidak menyentuh ruh penciptaan yang dikonstruksinya selama ini.

Ruh penciptaan cerpen-cerpen Tohari, bukanlah kenestapaan masyarakat marjinal. Tetapi, ia menyingkap kesadaran spiritualisme. Ia mengagungkan dunia transendensi. Cerpen-cerpennya bermula dari obsesi pada dunia batin tokoh-tokohnya. Latar sosiokultural hanyalah salah satu unsur dalam struktur narasi, yang di dalamnya memancar cahaya transendensi. Coba baca cerpen ‘’Kang Sarpin Minta Dikebiri’’. Itu cerpen satire, yang sangat dekat dengan kehidupan manusia saat ini: lelaki setengah baya yang tak bisa mengendalikan nafsu birahinya. Ia lelaki bejat. Semua orang menganggapnya amoral. Di akhir hayatnya, ia ingin bertobat, dengan cara dikebiri. Ketika ia meninggal, tak seorang pun berani menyebutnya bertabiat baik. Cerpen ditutup dengan kesadaran keilahian yang dialogis.


‘’Di mata saya, seorang lelaki yang di ujung hidupnya sempat bercita-cita menjadi wong beneradalah orang baik. Entahlah bagi orang lain, entah pula bagi Tuhan.’’


Ya, metafora menjadi pertaruhan Tohari untuk memunculkan simbol-simbol bahasa yang memerlukan tafsir makna. Ia memang tak mengembangkan imajinasi seliar para cerpenis muda semenjak Seno Gumira Ajidarma bermainmain dengan fantasi-fantasinya untuk mencipta cerita surealisme; atau semenjak Djenar Maesa Ayu mempertaruhkan diksi dan imaji untuk membingkai fantasi feminismenya.


Tohari tetaplah sebagai penulis cerita yang bersahaja, suntuk, intens dengan kesadaran batin. Ia memulai cerita dari dunia batin, yang kemudian menemukan metafora untuk menyingkap dunia makna di dalamnya. Ia memulai dan menutup cerita, seringkali dengan kesadaran batin tokoh-tokohnya. Selesai kita membaca sebuah cerpen, kesadaran batin kita mulai terbuka, mengalami pengembaraan perenungan panjang, untuk mengarungi wilayah transendensi. Tohari menghujat kesadaran batin kita, bukan dengan fantasi, bukan dengan dekonstruksi, tetapi dengan struktur narasi yang menebar metafora kehidupan. (*)


S Prasetyo Utomo, cerpenis, dosen IKIP PGRI Semarang dan kandidat doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes.

Profile Image for teresa .
54 reviews37 followers
July 20, 2024
kumpulan cerpen yang tiap ceritanya fresh bagi aku sendiri✨
Profile Image for Ayu Lestari Gusman.
121 reviews
January 28, 2021
Wah...
Kemana saja si aku? Baru baca kumcer sebagus ini sekarang. Aku jatuh cinta dengan penuturan cerita Ahmad Tohari
Profile Image for Sukmawati ~.
79 reviews34 followers
December 25, 2019
Entah mengapa belakangan saya mulai jatuh hati pada karya-karya Ahmad Tohari. Setelah membaca novel 'Orang-orang Proyek', ketertarikan saya berlanjut pada buku ini. Iya, buku kumpulan cerpen yang satu ini. Mata yang Enak Dipandang.
Memuat lima belas cerita yang diangkat dari kisah hidup wong cilik berlatarkan tanah Jawa.
Saya rasa buku setebal 215 halaman ini bisa menjadi bacaan sekali duduk jika tidak diselingi atau dicampur adukan dengan rutinitas lain. Sebab, gaya bercerita Ahmad Tohari tidak berbelit-belit; mudah dicerna dan sederhana. Dengan kesederhaannya itu juga, maka pesan-pesan (moral) yang ingin disampaikan oleh Ahmad Tohari tidak terkesan menggurui. Saya malah terhanyut dalam renungan panjang setiap selesai menyimak uraian cerita di dalamnya. Apalagi ketika membaca cerita 'Penipu yang Keempat'. Lewat monolog interior tokoh "aku", Ahmad Tohari kuasa sekali mempertontonkan adegan realita tentang modus penipuan yang dilakukan kepada sesama manusia bahkan kepada Sang Pencipta. Satire dan saya menikmati.

Selain 'Penipu yang Keempat', cerita lainnya yang begitu berkesan ialah 'Bulan Kuning Sudah Tenggelam'. Bercerita tentang tokoh wanita bernama Yuning yang mengalami konflik batin dengan kedua orang tua angkatnya. Keputusan Yuning untuk tetap mengikuti kehendak suami dan "menjauh" dari kedua orangtua malah membuat dirinya nelangsa. Keresahan hati pun terjadi ketika Yuning mengingat-ingat kembali derma sang ayah kepadanya sejak kecil hingga dewasa. Pada bagian tersebut Ahmad Tohari seakan mempertontonkan bagaimana perasaan wanita saat mengalami kegamangan yang mencekam. Amat detil.

Saya terkesan dengan pemilihan sudut pandang (poin of view) yang digunakan Ahmad Tohari pada kisah Yuning. Sebagai penulis laki-laki, tidaklah mudah mendeskripsikan jalan cerita dari sudut pandang lawan jenisnya. Apalagi sebagai orang pertama yang bercerita. Tentu, diperlukan daya analitik mendalam terhadap ruang pemikiran dan perasaan kaum hawa sehingga apa yang diceritakan betul-betul sampai kepada pembaca.

...

Beberapa cerita pendek dalam buku 'Mata yang Enak Dipandang' telah dimuat di media cetak seperti Kompas dan Kartini antara tahun 1983 hingga 1997. Pada rentang tahun tersebut isu-isu kemiskinan, penyimpangan sosial, dan hal menggelisahkan lainnya yang terjadi di masyarakat memang menarik untuk disematkan dalam cerita. Tujuannya yaa apalagi kalau bukan untuk dijadikan bahan pembelajaran sepanjang masa.

Oh ya, buku ini layak baca untuk usia 17+ sebagaimana tercantum pada bagian sampul belakang. Meskipun demikian, kumpulan cerpen karya Ahmad Tohari ini sebetulnya masih tergolong santun dalam mendeskripsikan lakon orang dewasa. Tidak begitu vulgar dan tetap santuy. Hehe

Sekian dan terima kasih 😊
Profile Image for Kepo Buku.
60 reviews46 followers
October 26, 2021
Kumpulan cerita pendek yang sederhana, tak berpretensi apa-apa, membuat kami, terutama Rane terkagum akannya. Sedikit banyak Pak Tohari menyemai kisah-kisah darinya kepada pembaca. Terutama cerpen yang menjadi judul buku ini, kami bertiga bercerita kesan yang ditangkap. Dari judul yang puitik, karakter yang berkonflik, hingga kesan nostalgia yang dirasakan Rane ketika membaca "Mata yang Enak Dipandang". Kami merekomendasi buku ini kepada semua kalangan pembaca yang ingin menyelami Indonesia sebenar-benarnya, seindah-indahnya. Episode podcast Kepo Buku. Selengkapnya bisa didengar di https://kepobuku.com/?p=539 atau aplikasi podcast lainnya.

Update: Cerpen audio "Mata yang Enak Dipandang" kolaborasi Podcast Kepo Buku dan Podluck Podcast bisa dinikmati di Spotify Podcast Main Mata. https://open.spotify.com/episode/38AU...
Profile Image for Eva.
Author 24 books121 followers
September 13, 2016
Kumcer ini menjadi salah satu buku favorit saya.
Hampir semua semua cerpen dalam kumcer ini saya sukai.
Setiap menyelesaikan satu cerpen saya akan menghela napas panjang.
Seringkali tertohok, sering pula perasaan seperti teriris.

cerpen-cerpen yang saya sukai:
1. Mata yang Enak Dipandang
2. Penipu yang Keempat
3. Daruan
4. Warung Penajem
5. Kang Sarpin Minta Dikebiri
6. Akhirnya Karsim Menyebrang Jalan
7. Sayur Bleketupuk
8. Harta Gantungan
9. Pemandangan Perut
10. Salam dari Penyangga Langit
Profile Image for Monique Clariza.
31 reviews7 followers
September 24, 2021
36. Mata yang Enak Dipandang - Ahmad Tohari

Lima belas cerpen Ahmad Tohari dalam buku setebal 216 halaman ini selesai saya baca dalam sekali duduk. Baru tuntas dengan dua buku beliau, saya kemudian sadar bahwa tulisan-tulisannya memang khas dengan lika-liku kehidupan kalangan bawah atau boleh dibilang “merakyat”. Kali ini beliau berhasil bikin saya larut dalam suasana pedesaan. Pemilihan kata, alur, dan konflik yang disajikan sederhana dan masih relate dengan kondisi sosial-ekonomi saat ini. Beberapa cerpen ada sedikit bumbu surealisme.

Cerpen favorit
1. Penipu yang Keempat
2. Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan
3. Pemandangan Perut
Profile Image for Nindya Chitra.
Author 1 book22 followers
November 24, 2018
Karya Ahmad Tohari selalu bikin nagih. Terutama cerpen-cerpennya. Nggak ada yang menonjol. Tapi masing-masing cerita sarat makna dan mudah ditangkap. Bacaan bagus yang gampang dicerna dan akrab dengan keseharian. Ide-idenya sederhana, nggak muluk, tapi justru terkesan nyata. Kayak selintas cerita yang kita simak sambil duduk nunggu bus datang.
Profile Image for Fadel.
75 reviews
October 10, 2025
Karya tipikal Ahmad Tohari sederhana dan penuh makna. Buku kumpulan cerita ini mengangkat seputar kehidupan kalangan kelas bawah. Banyak pengetahuan dan pemahaman yang bisa saya dapatkan setelah membaca kumpulan cerpen ini, serta turut meningkatkan empati dan simpati saya.
Profile Image for Meriana.
105 reviews3 followers
February 28, 2016
Karya sastra yang brilian! Berseni, bernilai, dan menyentuh sanubari!

Bagi saya, sebuah cerita bisa dikatakan cerita yg sukses & berkelas, ketika mampu membawa imajinasi saya larut kedalam ceritanya. Bukan hanya itu, bahasa yg digunakan juga harus efektif dan menarik. Terutama untuk sastra murni, diksinya juga harus kreatif dan cerdik. Dan yg paling penting dari semua itu adalah, adanya nilai bermutu dalam cerita yg disampaikan.

And guess what?? Buku kumpulan cerpen ini, berhasil memenuhi semua ekspektasi saya di atas dengan terlalu baik! Ahmad Tohari dengan gaya bahasanya yg lugas, namun tetap mampu menggambarkan sehidup-hidupnya suasana di setiap cerpen, berhasil membuat saya berasa naik rollercoaster!!

Sebut saja cerpen Pemandangan Perut yg begitu ngeri hingga membuat saya nggak berani membaca ulang saking ngerinya. Lalu cerpen Penipu yang Keempat dan Mata yg enak Dipandang dengan pesan moral cerdik yg membuat saya kagum, Kang Sarpin Minta Dikebiri dan Akhirnya Karsim Menyebrang Jalan yg ide ceritanya unik dan nggak biasa, Harta Gantungan dan Rusmi Ingin Pulang yg happy ending, serta cerpen pamnungkas, Bulan Kuning Sudah Tenggelam, yg begitu menguras air mata, intriguing, dan....pokoknya KEREN\^O^/, lah!!!!

Awalnya saya mulai membaca buku ini dengan perasaan pesimis karena meski secara kesusastraan cerpen2nya memang berkualitas, tapi bagi anak muda seperti saya (yg lebih suka diracuni oleh novel2 romantisme penuh bahagia), saya jadi skeptis kalo seluruh cerpen ini bakal gloomy2 terus. Kalo untuk pembaca jaman dulu, mungkin cocok. Tapi untuk pembaca modern, cerita gloomy seperti ini biasanya menimbulkan alergi.

Tapi saya salah. Genre cerpennya macam2 dan kreatif!! Sekreatif yg saya tuliskan di atas. Nggak semua2 mati dan kumuh--meski nggak berarti juga glamor. Tapi yaah,, paslah!! Nggak heran kalo sampe penerbit bela-belain nerjemahin buku ini ke edisi bahasa Inggris untuk dipasarkan di luar negeri :D

Favorit saya: Bulan Kuning Sudah Tenggelam. Bener2 closing yg pas!
Profile Image for Ruth.
15 reviews17 followers
July 15, 2014
Sepertinya ini buku yang pas buat dijadiin introduction bagi para pembaca baru karya-karyanya Ahmad Tohari. Setiap cerita punya konsep serta pesannya masing-masing, gak ngebosenin dan bahasanya gak ribet. Pasti udah pada tahu, lah, ya, kalo ciri khas mas Tohari ini selalu ngambil latar cerita yang "merakyat".

Dari 15 cerita pendek yang ada di "buku kuning", aku paling suka sama cerpen yang berjudul "Dawir, Turah dan Totol". Then, in second place "Paman Doblo Merobek Layang-Layang". Third, yang bikin aku hampir nangis, "Akhirnya Karsim Menyebrang Jalan".

Pada cerita "Dawir, Turah dan Totol" aku ngerasa seperti gak lagi baca tulisan, tapi kaya lagi nonton film. Soalnya filmnya keputar di otak aku sampai setiap penjabaran tentang terminal dan hal-hal detail di sekitarnya terbayang. Kesel juga sama tokoh Paman Doblo. Perubahan sikapnya dalam cerita tersebut memang reasonable tapi tetep aja gak bagus buat dicontoh! Dan, cerita dari bapak Karsim yang bikin aku sadar bahwa sebagai pengendara kendaraan pribadi di jalan, kita GAK BOLEH EGOIS SAMA PEJALAN KAKI!!! Good! 4 of 5 stars.

Ruth.
Profile Image for hllreka.
122 reviews7 followers
November 25, 2020
Menemukan kumcer yang menarik. Sekali lagi saya kagum dengan penulis-penulis lokal yang memiliki ciri khasnya sendiri dalam menulis kumpulan cerita dan salah satunya adalah “Mata yang Enak dipandang” 😍
Profile Image for Clara Utami.
24 reviews13 followers
August 8, 2016
A beautifully written and translated piece; I had a wonderful reading experience that also sharpened my understanding on the beauty of humanity.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
July 22, 2018
Kumpulan cerpen yang sangat indah. Ahmad Tohari kembali menunjukkan spesialisasinya dalam menulis cerpen2 bernuansa pedesaan namun tetap kaya akan petuah2 kemanusiaan universal.
Profile Image for Putri Dewi.
114 reviews1 follower
February 9, 2023
Citra Akar Rumput


Kesetiaan Pak Ahmad Tohari pada tema sosial yang berada di dasar hirarki Indonesia selalu berhasil mengembalikan semua yang berada di langit untuk kembali jatuh ke tanah dan menggamit pengalaman pahit dan keras itu agar tidak lupa realitas.

Lima belas cerpen yang ada di dalam kumcer ini semuanya merupakan citra kehidupan sosial yang ada di Indonesia. Dari cara penceritaannya, terlihat betapa kita bisa sangat dekat dengan kehidupan itu. Entah dari kosa katanya yang mulai asing dan menghilang dari percakapan sehari-hari di antara debu-debu perkotaan, atau dari kenyataan yang sungguh berbeda.

Dari kesemuanya, ada cerpen yang sangat saya suka. Ada pula yang tidak terlalu meninggalkan kesan; meski citra sosialnya sangat lekat dan tidak hilang. Dari kesemuanya, tidak selalu dramatis tapi banyak yang meninggalkan perasaan tidak nyaman tapi juga dengan kesederhanaan penceritaan yang dalam.

Mata yang Enak Dipandang, Penipu yang Keempat, Daruan, Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan, dan Sayur Bleketupuk adalah beberapa yang saya sangat nikmati. Yang membuat tidak nyaman juga yang mempunyai humor getir di dalamnya.
Profile Image for May.
55 reviews3 followers
March 1, 2023
Ada 15 cerita dalam kumpulan cerpen ini, semua ditulis Ahmad Tohari. Saya mengenalnya dari Bekisar Merah, yaitu kisah tentang Lasi dan Kanjat. Saat membaca Mata yang Enak Dipandang, saya tidak menyangka berkenalan dengan tokoh-tokoh yang lucu dan seperti kawan akrab. Kisah mereka hanya sepintas, dan mereka sendiri siapa sih? Tak lebih dari orang-orang desa, orang-orang biasa. Namun kisah mereka yang hanya sepintas memberi kesan mendalam.

Apa pentingnya orang-orang kecil, kalangan bawah, contohnya pelacur atau pengemis buta? Kita sering bertemu orang-orang kecil itu, sembari *menyesal karena telah tertumbuk pada sosok seorang kere picek dan penuntunnya*. Kita berharap tidak bertemu orang-orang kalangan bawah itu, keberadaan mereka diam-diam membuat kita merasa risih. Namun, mereka juga punya cerita tidak kalah kaya dengan kita.

Angkat topi untuk Ahmad Tohari, yang menceritakan kisah orang kalangan bawah agar manusia yang lain tidak serta merta melengos saat bertemu mereka. Untuk mereka yang berpikir, tentunya menyadari kebinalan yang mentah di cerita-cerita novelis ini bertujuan agar manusia menyadari dunia sekitarnya.
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
August 24, 2019
Pasca Kubah, Ronggeng Dukuh Paruk, dan akhirnya membaca Mata yang Enak Dipandang. Ahmad Tohari benar-benar konsisten mengangkat cerita penduduk menengah ke bawah dan segala seluk-beluk kehidupannya. Nggak peduli di mana setting lokasinya, tapi kehidupan sehari-hari bisa dituliskan dengan menarik. Saking menariknya, kadang ada perasaan berkaitan sama cerita yang sedang dibaca. Konflik tidak terlalu ndakik-ndakik, biasa saja, tapi pas.

Belum pernah betul-betul merasa bahagia membaca buku kumpulan cerita pendek, sampai akhirnya membaca buku ini. Termasuk salah satu buku terbaik yang dibaca pada tahun 2019, setidaknya versi diri sendiri.

Amat sangat suka!
Profile Image for Hannah Amaya.
21 reviews
July 24, 2022
Kumpulan cerpen Ahmad Tohari yg dibukukan ini memuat berbagai cerita yang diawali dengan kisah orang-orang kecil.
Kita mungkin akan mendapati beberapa cerita kehidupan yg belum pernah ditemui sebelumnya atau bahkan tidak kita percayai, tetapi keberadaan mereka sungguh nyata.
Beberapa kisah membuat kening mengerut dan membuat saya merasa tidak sanggup membacanya.
Kisah lainnya terkadang membuat saya tersenyum kecil, juga tak sedikit yang menampakkan kesedihan, bahkan mengandung makna yang sangat dalam seolah-seolah menyuruh kita yang membacanya untuk kembali mengoreksi diri.
Profile Image for Nisrina.
48 reviews14 followers
January 25, 2018
Setiap kali selesai membaca satu cerpen di buku ini, saya merasa seperti sedang dinasihati oleh seorang Kakek yang bijaksana. Seperti yang tertulis di belakang blurb-nya, tulisan Ahmad Tohari ini mengisahkan tentang kelompok dengan SES ke bawah.

Cerpen terakhir berhasil membuat saya menangis. Terimakasih untuk nasihat hidup yang indah, Kek.
Profile Image for Truly.
2,763 reviews12 followers
January 13, 2023
Buku terakhir dalam Program Babat Timbunan Ahmad Tohari.

Kenapa ISBN yang saya tulis malah memunculkan buku tentang bisnis. Ya sudahlah.

Kover edisi ini lebih pas dibandingkan yang saya baca. Memang kovernya menarik dan senada dengan karya lain, tapi kurang mengena menurut saya. Apa hubungannya gambar pemandangan dan bulan dengan judul? Ngak nyambung rasanya ^_^.

Terdapat 15 kisah dalam buku ini. Mulai dari Mata yang Enak Dipandang, Warung Panajem, Sayur Bleketupuk, Harta Gantungan, hingga Bulan Kuning Sudah Tenggelam.

Mereka yang disebut generasi Z, disarankan untuk membaca karya Ahmad Tohari. Selain mengangkat kehidupan orang-orang kecil atau kalangan bawah dengan berbagai masalah dan kondisi, juga agar paham bagaimana kondisi dan suasana tanah air pada era tahun 1983-1997 (saat kisah-kisah diterbitkan).
Profile Image for ki.
82 reviews6 followers
Read
July 19, 2025
Mata orang yang suka memberi, kata teman-teman yang melek, enak dipandang.

Buku kumpulan cerita pendek Ahmad Tohari dari 1983-1997, terdapat 15 cerita pendek yang masing-masing mengangkat kehidupan orang-orang kecil, mereka yang berada di lapisan bawah masyarakat, lengkap dengan dinamika, perjuangan, dan kegetiran hidup yang mereka alami. Setiap kisah dalam buku ini tidak hanya menghadirkan potret realitas, tetapi juga memperkaya batin dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Profile Image for sada.
9 reviews2 followers
January 21, 2022
Buku ini merupakan kumpulan cerpen pertama yang saya baca di tahun 2022. membaca buku ini membuat saya merasa tenteram, banyak teringat tentang kematian namun tak membuat saya takut untuk menghadapinya.

Ahmad Tohari selalu tahu bagaimana cara untuk membawa para pembacanya pulang.
Displaying 1 - 30 of 275 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.