Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
PERATURAN BAPAK

Orangtua berhak membunuhmu.

Perempuan tidak usah banyak membaca karena ilmu selain dari Bapak itu sia-sia.

Jika tidak patuh, pukuli sampai sekarat atau kubur sekalian.

240 pages, Paperback

Published December 1, 2018

16 people are currently reading
155 people want to read

About the author

Vinca Callista

12 books52 followers
Published Novels:

1. Sang Panglima Laskar Onyx (fantasylit, GagasMedia 2007)

2. Semburat Senyum Sore (teenlit, Grasindo 2011)

3. Lima Mata Manusia (short stories, nulisbuku.com 2011)

4. Dunsa (fantasylit, Atria 2011)

5. SERUAK (psychothriller novel, Grasindo 2014)

6. Nyawa (psychothriller novel, Bentang Pustaka 2015)

7. Kilah (psychothriller novel, Grasindo 2015)

8. Daddy's Little Girl (psychothriller novel, coming soon)

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
66 (22%)
4 stars
97 (32%)
3 stars
108 (36%)
2 stars
17 (5%)
1 star
7 (2%)
Displaying 1 - 30 of 101 reviews
Profile Image for Harumichi Mizuki.
2,469 reviews73 followers
April 8, 2020
Buku ini sudah membakar rasa amarah bahkan sejak membaca tulisan di kover dan BLURBnya. Isu yang dibawakan pun relevan, bikin inget novel yang setingnya di Afghanistan haaah. Dan sepertinya memang ada kritik sosial terhadap bagaimana perempuan diperlakukan dan ditekan oleh masyarakat patriarkal yang menyebalkan.

Sebenarnya cara penulisannya cukup memukau dan membangkitkan emosi tapi ada setidaknya tiga cacat logika parah menurutku.

1. Kenapa wanita secanggih Wineu bisa-bisanya mau nikah sama orang macam Doni dari keluarga yang seperti itu? Meskipun ya di bagian akhir pengarang berusaha menyelamatkan logika cerita dengan (akhirnya) menjelaskan alasan Wineu menikahi Doni, still buatku ga meyakinkan. Karena tingkah Nenek Unung jelas sudah pasti semenyebalkan itu sejak Doni memperkenalkan Wineu sebagai calon istrinya, kan? Tapi kenapa Wineu mau mengambil risiko itu? Aku aja nggak bakal mau, dih amit-amit naudzubillah.

2. Akar kok ceroboh amat waktu berusaha menyelamatkan Ve seorang diri? Apa dia meremehkan situasi Ve? Tapi mengingat dia bahkan pernah dipukuli Pepep bareng gerombolannya pada kunjungan pertama, logisnya dia bakal bawa bolo sebatalion untuk mencegah hal yang sama terulang. DUH. Kurasa orang secerdas Akar harusnya melakukan itu.

3. Ketika Ve akhirnya dapat kesempatan untuk menyelinap keluar dari rumah, bukannya berusaha kabur, dia malah membahayakan dirinya dengan mencangkul kebun anggur neneknya sendirian di tengah hujan lebat? Ga masuk akal. Menunggu dan mengunci diri di kamar sampai bantuan datang jauh lebih masuk akal daripada tindakan seimpulsif ini. Memang orang bisa saja mengambil tindakan bodoh, tapi buat hal itu terasa masuk akal dalam plot.

Yang paling kusesalkan adalah keberadaan Eyang Erlas yang sangat mubazir dalam cerita. I mean come on, dia fisiknya kuat meski udah tua, pensiunan polisi yang pastinya punya banyak koneksi dan Akar nggak kepikiran blas buat melibatkan dia ke dalam misi penyelamatan gitu??? Jadi apa fungsi Eyang Erlas dalam cerita? Aku bahkan berharap dia ada "chemistry" tertentu dengan Oma Teti (wahahaha). But no. Dia hanya tokoh ornamen yang potensinya terabaikan di sepanjang cerita. Sigh...
Profile Image for Lan Reynilda.
156 reviews1 follower
March 23, 2019
0/5⭐
sorry, tapi terpaksa banget DNF buku nya di halaman 105.
ga ngerti sama cara pikir Ve. dialog nya Ve juga banyak yg berlebihan. Dan si "Bapak" yang sampai pertengahan buku keliatan kaya sekte agama terlarang itu juga aneh. Ga ada berasa thriller nya sampe pertengahan buku. yang ada malah tikus.
(tikus?)yeaaahh tikus gede yang tiba" muncul dirumah oma dan bikin ayah bisa "culik" ve dari rumah oma. weird.
padahal berharap bisa suka sama buku ini *sigh*.
Profile Image for Ayesa.
69 reviews3 followers
November 20, 2021
.
.
.
Ibu bilang, cukup tau jawaban orang lain, tetapi tidak perlu kamu terseret oleh beban untuk menganut kesamaan dengannya. Jika ada yang menggunggah seleramu untuk mengetahui lebih lanjut, pelajari dengan caramu sendiri.
*
Tidak pernah mempelajari sendiri makna hidup yang sesungguhnya? Sejak dulu hanya berkutat pada satu sudut pandang, satu-satunya yang mereka tahu karena dijejali, tetapi tidak pernah mau mencari tahu paradigma lain yang berbeda.
*
Beberapa kalimat diatas merupakan pandangan atas paradigma lain yang ditampilkan dari sisi Ve, sang cucu. Kisah ini dibuka dengan kepergian ibu Ve dari rumah. Kehilangan sosok ibu Ve menjadi jalan pembuka sekelumit kisah yang akan membawa Ve pada masalah yang cukup kompleks. Nenek merupakan sosok paling krusial dalam buku ini. Hampir semua recokan dan kata-kata yang diucapkan olehnya merupakan titah yang ditulis oleh bapak (kakek buyut Ve) serta pengalaman yang didasarkan oleh lamanya hidup di dunia. Diskriminasi usia yang dominan pada tokoh Bapak yang meski perintahnya hanya lewat tuturan nenek. Hal inilah yang membuat nenek seperti menjadi panutan di gang bapak. Diskriminasi usia (Ageism) jelas terlihat pada novel ini, nenek seolah memiliki kuasa atas warisan yang diterima dari bapaknya.
Ayah yang merupakan anak dari nenek juga menjadi korban atas tindakan dan pemikiran dari bapak yang kemudian diwariskan kepada nenek (ibu dari ayah).
*
Endingnya sesuai ekspektasi sih... Kalo bener-bener baca ibunya Ve merupakan sosok yang egois. Ia percaya bahwa Suaminya (aka Ayah Ve) selalu setuju dengan keputusan yang dibuat olehnya. Namun, ibu Ve terkejut ketika Suaminya dihadapkan dengan pilihan dan hasutan sang ibu (nenek Ve). Ibu Ve terkejut ketika Amah (Nenek Ve dari pihak ayah) menolak rencana Wineu (Ibu Ve) yang ingin melanjutkan kuliah di London. Ada kata-kata yang merongrong yang terucap oleh Amah kepada Wineu. Kata-kata inilah yang menjadi pemantik Ayah yang merasa seolah-olah harga dirinya sebagai laki-laki dilangkahi oleh istrinya yang ingin kuliah S3 di London. Aneh memang, padahal jika ditilik lebih jauh lagi Wineu juga menyampaikan bahwa jika Doni (Ayah Ve) pun bisa melanjutkan studinya bersama Wineu di London.
*
Baca ini emang diwanti-wanti oleh mutualan di Twitter. Ternyata emang bikin emosi bacanya.
*
*
*
Oh iya sekalian promosi ✨ follow Twitter ku di @/ruang_19
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nur Reti Jiwani.
111 reviews27 followers
March 22, 2024
BUKU YANG BIKIN KAMU MARAH!

Baca buku ini akan bikin kamu emosi, muntab, dan enggak habis pikir rasanya. Novel berjudul Ve ini sarat nilai banget sampai bingung mau mengulik yang mana. Bicara soal kesetaraan gender, trauma masa kecil, pengaruh besar pola asuh, lingkungan, dan peran orangtua pada perkembangan fisik dan mental anak, pentingnya pendidikan, keterbukaan dalam rumah tangga, dan banyak lagi yang lain. Tentu seperti judulnya, dibalut dalam cerita Urban Thriller yang menggigit!

Keseluruhan ceritanya mungkin bisa sedikit-sedikit tertebak, tapi tidak mengurangi keseruan dan kekesalan selama proses membacanya. Aku baru pertama kali membaca tulisan seorang Vinca Callista and I think I'm in love!
Profile Image for Jioo.
29 reviews2 followers
October 11, 2020
Aku ga mengira akan suka dan dapat sensasi seintens ini dari novel Ve.
Sebuah novel thriller lokal yang mengusung tema patriarki dan kebodohan rakyat desa di Indonesia. Apa yang dilakuin karakter-karakter di novel ini sayangnya memang masih beneran ada aja nyatanya di kehidupan nyata Indonesia (I faced some indirectly). Maaf saja, tapi rasanya masih kebayang rasa marah yang aku dapetin waktu baca buku ini. Bener-bener thrilling dan bikin emosi!! Salah satu novel yang hampir tiap lembarnya gue pisuhin sumpah serapah ga jelas :"))
.
Buku ini bikin aku rela tidur subuh demi ngetahuin gimana nasib si Ve dalam keluarga toxic si ayah yang MASYAALLAH minta dibakar, diinjek2, dimutilasi terus dibuang ke rawa-rawa!! Semua apa yang dirasain Ve rasanya beneran kita rasain juga sebagai pembaca, jadi kesel, annoyed dan marahnya Ve ya nyampek juga ke kitanya. Apalagi POVnya pake orang pertama. Semuanya dari sudut pandang "aku" yang ngebuat kita seakan-akan beneran ada di adegan itu menjadi si Ve dan merasakan apa yang dirasakannya.
.
Novel ini harusnya dibaca bagi para perempuan-perempuan muda Indonesia yang ingin atau punya mimpi tinggi tapi takut menggapainya karena "adat istiadat mindset kuno" yang LITERALLY GA COCOK DAN KETINGGALAN JAMAN padahal sekarang udah revolusi industri 4.0, society 5.0, serba digital dan buat survive butuh kepandaian otak. Dari novel ini kalian pasti nanti paham, kenapa Indonesia masih aja jadi negara berkembang dan susah buat jadi negara maju bahkan di saat generasi kita udah punya cicit. Maunya sih masih berharap tapi buku ini kayak nampar kita tentang rakyat kita yang masih berpikiran sempit, konyol, dan ga mau beradaptasi dengan perubahan dunia yang selalu abadi berubah-ubah terus tanpa henti.
Profile Image for Gabriella Halim.
194 reviews13 followers
July 22, 2019
more on : https://whatsgabyread.blogspot.com/20...

Jujur aja, aku suka banget sama novel ini. Karena apa ya? Membuka pengetahuan kita. Seringkali kita denger, bahwa orangtua pasti benar, tanpa cela, tanpa salah. Padahal nggak. Orangtua juga bisa salah, orangtua juga perlu belajar dari yang lebih muda, karena yang muda pasti lebih update daripada yang tua. Dan lagi, jaman ini pun sudah modern, perempuan tidak lagi hanya duduk manis di rumah. Para perempuan juga berhak mendapatkan kesetaraan gender dan meraih mimpinya.

Sudut pandang cerita ini cukup unik ya, karena biasanya kebanyakan penulis novel menggunakan sudut pandang pertama atau aku, atau sudut pandang ketiga serba tahu. Tapi kak Vinca di sini, pake sudut pandang kedua, yaitu kamu. Unik, tapi tidak membingungkan.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
February 7, 2019
"Kegelapan tidak membuatmu takut, sebab yang paling berbahaya tetaplah manusia." (hlm 59)

Kebaikan itu universal, tetapi kebenaran tidak selalu begitu adanya. Kadang, kebenaran bahkan bisa menjadi sangat subjektif, terutama ketika suatu kebenaran dianggap yang paling paling benar sementara yang selain dari itu adalah salah. Inilah tampaknya tema besar yang hendak diangkat penulis lewat novel urban thriller berjudul sangat pendek ini, Ve. Dalam novel setebal 200 halaman ini, Vinca Calista menunjukkan dengan gamblang betapa sebuah opini pribadi yang terus menerus ditanamkan secara paksa lama kelamaan akan menjadi sebuah kebenaran. Awalnya mungkin sekadar pendapat pribadi yang belum tentu baik adanya, tetapi pendapat itu selalu didoktrinkan sehingga diterima mentah-mentah sebagai sebuah kebenaran mutlak. Dalam hal ini, ucapkan selamat tinggal kepada kebebasan memilih, penghargaan pada opini pribadi, dan akal sehat.

Ulasan lengkap dan bukunya gratis di Baca Biar Beken hanya sampai 10 Februari 2019.
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews301 followers
February 21, 2019
Review lengkap: https://www.kubikelromance.com/2019/0...




Cerissa Vermilion terakhir melihat ibunya ketika mereka ke salon bersama untuk mengecat rambut, merah ombre untuk Ve, sedangkan ibunya warna ungu ombre. Kemudian mengantarkan ke perayaan satu tahun library cafe milik teman Ve, Akar. Esoknya setiba di apartemen, ayah Ve mengatakan kalau ibunya pergi dengan selingkuhannya, meninggalkan mereka berdua. Dan untuk sementara mereka akan pindah ke rumah Nenek Unung, ibu dari ayah Ve untuk menenangkan diri.

Ve masih belum bisa menerima kenyataan yang menimpa keluarganya, yang mulanya harmonis dan tidak ada masalah apapun, hubungan dengan ibunya sangat akrab, bahkan Ve belum memutuskan untuk kuliah di mana karena ibunya akan mengambil Ph.D. di London dan ingin Ve, serta ayahnya ikut pindah ke sana.

Berbagai kejanggalan mulai bermunculan ketika Ve tinggal di rumah Nenek Unung. Banyak larangan dan pemaksaan kehendak, mulai peraturan bahwa perempuan baik-baik tidak boleh melawan orang tua, tidak boleh banyak membaca, sekolah tinggi-tinggi dan lebih pintar dari laki-laki. Tidak boleh keluar rumah sampai malam, tidak boleh macam-macam seperti mewarnai rambut. Dan yang paling penting, perempuan baik-baik selalu menurut kepada Bapak. Berbagai dogma coba dijejalkan kepada Ve. Puncaknya ketika Ve harus melakukan sebuah ritual yang tak pernah dia sangka adanya. Dia benar-benar ingin ibunya kembali, hidup seperti dulu.
"Istilah 'kepinteran' itu maknanya menyempitkan. Merendahkan inteligensia manusia. Justru hakikat manusia itu terus belajar, cari tahu apa-apa saja yang terjadi di dunia ini, lalu mempelajarinya supaya mampu memahami. Pengetahuan itu nggak ada batasnya, jadi nggak perlu dibatasi dengan label apakah kita sudah 'kepinteran' atau belum. That's ridiculous!"
Budaya patriarki dan feminisme cukup kental dalam Ve, novel ke-13 Vinca Callista ini. Pemikiran primitif bahwa laki-laki lebih berkuasa dari perempuan, lebih dominan dan punya hak untuk mengontrol, harus segalanya dari perempuan tercermin dari bagian Nenek Unung, atau lebih tepatnya sosok Bapak yang membuat Nenek Unung memiliki pedoman sama dalam hidupnya, membawa aturan-aturan yang pernah dia enyam untuk diwariskan kepada Ve.

Hanya saja, Ve diajarkan oleh ibunya tentang self-empowerment, menghargai kemerdekaan seorang atas tubuhnya sendiri, menghargai setiap pilihan, seorang feminis sejati, seorang alfa female. Ve berada di tengah dua idealisme yang berbeda, satu dijejalkan kepada dirinya dan satunya yang sudah ditanamkan sejak kecil.

Selain tema yang menarik tersebut, buku ini memakai sudut pandang orang kedua, di mana cukup jarang saya temukan. Awalnya agak aneh ketika membaca karena bisa dihitung jari buku yang memakai sudut pandang seperti ini, jadi kurang familier, tapi lama kelamaan saya bisa mengikuti dan asik juga. Sayangnya, di bagian penyelesaian penulis berpindah haluan ke sudut pandang pertama dan ketiga. Memang lebih nyaman dipakai untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, rahasia yang sedari awal penulis simpan rapat-rapat, hanya saja sedikit menghilangkan keistimewaan yang sudah tercetak sejak awal, pemilihan sudut pandang orang kedua.

Saya juga suka penulis memberikan porsi untuk latar belakang masalah, sebab-akibat yang biasa muncul dalam psikologis tokohnya, salah satu hal penting menurut saya kalau berhubungan dengan domestic noir atau psychological thriller. Tentang sosok Bapak, bagaimana dia menjadikan Nenek Unung menjunjung tinggi budaya patriarki cukup tergambarkan walau tidak terlalu detail atau hanya sepintas saja.

Sedikit kekurangan, efek kejut dan misterinya tidak terlalu terasa, bikin penasarannya dapat, tapi mudah tertebak. Selain itu ada beberapa karakter dan adegan yang bagi saya kurang menyenangkan. Ritual yang dilakukan cukup aneh, ya memang di luar nalar, bisa dimaklumi, terlalu didramatisir saja. Saya nggak suka Pepep, kalau tujuannya membuat pembaca sebal, penulis berhasil. Saya berharap Eyang Erlas punya porsi yang lebih, tidak hanya sebagai pahlawan kesiangan.

Secara keselurahan, Ve cukup unik untuk genre domestic noir atau urban thriller seperti label yang tertera di cover buku. Pemilihan sudut pandang orang kedua dan mengemban kesetaraan gender untuk selalu ditegakkan adalah jualan yang menarik, terlebih tokoh utama difokuskan dari sang anak, seorang remaja melihat masalah pada orang tuanya, konflik di keluarga, sedangkan biasanya kita melihat masalah dari sang istri.
Profile Image for Resaldi.
8 reviews
January 13, 2020
Isu feminisme yang sakit

Cerita bermula ketika Cerissa Vermillion (Ve) balik ke apartemen melihat ayahnya yang frustasi karena kepergian istrinya. Alasannya bahwa ibu Ve meninggalkan mereka karena lebih memilih Henry (teman ibu ve) yang tinggal di London. Ve tidak percaya bahwa ibunya meninggalkan mereka, sebab ibunya sangat terbuka dalam hal apa saja. Untuk sementara Ve dan Ayahnya tinggal di rumah Nenek Unung (ibu dari ayah ve).

Ketika di rumah Nenek Unung, Ve sadar ada yang aneh dari Neneknya itu. Mulai dari sosok 'Bapak' yang di ceritakan oleh Nenek Unung. Kata 'Bapak' seorang perempuan tidak boleh membaca, perempuan tidak boleh keluar malam, perempuan tidak boleh belajar, perempuan tidak boleh warnain rambut, perempuan dilarang ini itu dan hanya boleh tinggal di rumah. Seketika Ve kaget dengan peraturan tersebut dan tidak mau patuh. Akhirnya Ve di hukum dengan cara di murnikan. Jika gagal, maka Ve harus di bunuh.

Saat menjalani hukuman Ve menemukan kejanggalan tentang dimana ibunya berada dan harus keluar dari tempat tersebut.

Kesimpulan :

Isu yang di angkat dalam novel ini, sangat dekat dengan kita yang ada di indonesia. Tetapi di kemas dengan cara yang sakit. Dengan cerita yang mudah di cerna sehingga pembaca dapat gambaran tentang sistem patriarki. Sosok bapak yang di gambarkan membuat saya betah untuk baca novel ini, meskipun akhir ceritanya tidak sesuai ekspektasi yaitu terkejut. Dan terakhir agak sulit untuk menempatkan diri sebagai Ve karena novel ini menggunakan sudut pandang orang kedua.
Profile Image for Ade Putri.
216 reviews
February 17, 2019
Suraaaam. Huhu hati saya tercabik-cabik baca novel ini 😭 Merasakan jadi Ve yang hidup dengan seorang nenek yang keras dan masih termakan budaya patriarki. Ya, tema yang diangkat novel ini adalah diskriminatif perempuan. Di mana perempuan tidak boleh melebihi laki-laki dan laki-laki adalah pemegang kekuasaan tertinggi. Sehingga perempuanlah yang harus patuh pada laki-laki.

Perempuan tak boleh sekolah tinggi-tinggi. Perempuan tak boleh banyak baca buku. Perempuan harus jadi penurut tanpa membantah. Perempuan tak boleh keluar malam. Jika membangkang, laki-laki bebas menggunakan kekerasan 😭

Selengkapnya di Delina Books
Profile Image for Dewanti Anggit.
2 reviews
January 21, 2024
Urban thriller yang menceritakan tentang Ve yang dilahirkan dari seorang ayah yg mendapat didikan patriarki dan seorang ibu yang sangat demokratis dan open minded.

Ve dan ibunya mendapat perlakuan yang sangat kejam dari tindakan primitif Nenek dan ayah yang sama2 sudah terdoktrin "wanita dan anak tidak patuh = boleh memukul sampai mati".

Membaca ini membuat tegang dan menguras energi. Sungguh sangat menjengkelkan dengan ayah dan neneknya.

Namun di satu sisi neneknya seperti itu karena dia hidup dari pola asuh ayah yg sangat otoriter di keluarga dan bermasyarakat, dan juga goncangan psikis yang telah dilakukannya terhadap sang adik, nenek berteguh untuk meneruskan pola ajar - way of life bapak.

Untungnya Ve masih memiliki support sistem dari oma pihak ibu yg siap berkorban dan juga sahabat sedari kecilnya, Akar.

Tidak ada yg salah dengan wanita karir maupun berpendidikan tinggi!

*Untuk sebagian orang, novel ini dapat memicu trigger trauma kekerasan fisik dan verbal.
Profile Image for Rie.
26 reviews1 follower
March 10, 2025
Buku ini bikin marah banget. Ga pernah ga capek kalo ngikutin cerita yang patriarki nya berat banget kayak ini. Aku berhasil dibuat ikut putus asa dan marah sama keadaannya si ve. Aku suka sih penulisan dialog karakternya, imo sangat menggambarkan gimana sifatnya. Nyai unung yang kalo ngomong isinya selalu "kata bapak saya kata bapak saya" bikin kita tahu kalau dia ini emang ga dapet ajaran lain selain doktrin bapaknya. Karakter ve yang emang kerasa banget mirip sama ibunya. Ayah ve, pepep, oma yang dari dialognya aja udah bisa kebayang gimana pola pikir dan sifat mereka.

Aku masih menyayangkan endingnya aja sih, kayak.. apa ga ada jalan lain? 😭
Profile Image for Fathiyah.
128 reviews4 followers
April 12, 2021
Aku jatuh cinta sama gaya bahasanya yg elegan dan kalem. Ngalir dan enak banget dibaca. This is the best urban thriller that give me another shoot prefect story..... Aaaa pokoknga sukaaa. Tapi aku kasih 4,9 karena ending nya yg bikin kurang. puas. Setelah di hajar dengan konflik yg bikin gregetan secara bertubi2, denfan ending begitu aku kuranggg sreg dan ga pengen endingx kyk gtuu... But overall, the hole story is so perfect
Profile Image for Peter.
4 reviews
March 25, 2020
Untuk sebuah novel thriller, novel ini ngangkat isu yang nggak biasa. Tapi beberapa poin di novel ini tuh nggak masuk akal menurutku, seperti tokoh wineu yang notabene dalam novel dikisahkan sebagai perempuan yang cerdas mau aja nikah sama Doni yang gampang banget kemakan sama omongan ibunya. Tapi novel ini recommended buat kalian yang masih terjebak sama pikiran kolot orang tua
Profile Image for Aurora.
90 reviews4 followers
October 31, 2025
Gila sih gilaa!! Bacanya ini emosi parahh, definisi ga kepikiran ada yang se-patriarki ini.. Bukti kalau cuci otak sejak kecil bisa berbahaya, segitu berbahayanya sehingga orang itu ga sadar kalau yang dia lakukan itu salah a.k.a GILA!!

Dan gongnya, YANG GILA TUH SEKAMPUNG ITU!! Kacau sihhh, aku kalau di situasi itu stressnya ga karuan..

Pokoknya bagus bagus bagusss
Profile Image for Ira Madan.
32 reviews1 follower
November 9, 2025
Novel Ve memberikanku pengalaman membaca yang unik karena menggunakan Sudut Pandang Orang Kedua (POV "Kamu"). Ini adalah kali pertamaku mendapat pengalaman membaca seperti ini.
Ceritanya juga unik, mengangkat isu diskriminasi perempuan dan patriarki keras yang datang dari keluarga terdekat: Bapak dan Nenek Ve. Duh, jika saya di posisi Ibu Ve, mungkin sudah lama berpisah dengan suami. Sulit membayangkan bagaimana harus mengabaikan konflik paham berkepanjangan dengan mertua.
Membaca bagian tentang "tikus-tikus" membuatku mendelik—ah, ada-ada saja!
Intinya, menurut saya, pesan utama penulis di cerita ini adalah: wanita wajib punya self-improvement agar bisa menjadi tameng dari segala bentuk diskriminasi dan aturan patriarki yang mengekang. Stok untuk ini banyak di iPusnas. Hajar!
Profile Image for Michihako.
135 reviews
April 19, 2020
Aku berharap lebih sama buku ini karena direkomendasikan teman grup membaca.

Unik sih, menggunakan sudut pandang orang kedua. Mengharapkan plot twist tapi ternyata ketebak banget. Tokoh-tokohnya juga menyebalkan dan menguras emosi.
Profile Image for Tsunn.
235 reviews6 followers
January 29, 2023
Satu hal yg bikin gua gemes waktu baca buku ini adalah ngelihat gimana patriarki menjamur dan menggerogoti tokoh-tokoh dalam buku ini. Orang-orang yang sengaja membuat lingkaran setan dan enggak segan buat menghancurkan / menyingkirkan apa-apa yg 'berbeda' dengan kebiasaan mereka. Bener-bener buat gua ngilu selama bacanya.
Profile Image for M. Fadli.
Author 8 books24 followers
January 10, 2019
Ketika doktrin turun temurun dari pemikiran tradisional sudah dikultuskan tentunya akan menjadi berbahaya. Apalagi bila hal itu berujung pada tindakan pembunuhan. Dan dalam kasus kali ini adalah pemahaman tentang wanita. Di mana wanita harus terus di bawah bayang-bayang para pria, terbelenggu dan tidak berhak berekspresi, berpendidikan tinggi, serta mengutarakan pendapatnya. Hal ini yang coba digambarkan oleh sang penulis dalam buku ini, tentunya ke titik yang paling ekstrim, yaitu kekerasan sampai terjadi pembunuhan. Hal ini tentu menjadi nilai tersendiri. Novel ini didominasi dengan sudut pandang orang kedua dengan mengunakan 'kamu' untuk menunjukkan tokoh Ve, seorang gadis yang kehilangan ibunya, dan kemudian dikekang oleh ayah dan neneknya dalam rangka untuk memenuhi ritual tradisi bahwa wanita harus di bawah laki.
Hanya saja ada beberapa hal yang terdengar klise dan terbaca alurnya akan seperti apa. Selain itu, saya belum bisa diyakinkan dengan apakah masih ada orang seperti nenek dan ayah Doni di kehidupan saat ini? Apalagi dengan pikiran sebebal itu. Terlepas dari itu, novel ini menarik untuk dibaca. 3.5/5 bintang
Profile Image for miru.
38 reviews2 followers
September 23, 2021
Habis ulangan terus ketemu ini di antrian iPusnas, pliss ngantuknya hilang wkwkwk

Vermillion atau Ve, memiliki hidup normal anak remaja pada umumnya. Hanya saja, sesuatu terjadi terlalu tiba-tiba hingga rasanya mencurigakan. Tak disangka-sangka kejadian itu menuntunnya menguak tabir kegelapan yang selama ini ada di sekitarnya. Ayah, nenek, tetangganya yang terobsesi dengan "kata Bapak" Ratusan kata, peraturan, atau sugesti yang benar-benar menyengsarakan kaum hawa.

Seru banget ceritanya, menyayat bikin sedih, marah dan takut kalau si Ve kenapa-napa.
Gak habis pikir sama nenek terlebih ayahnya, yang setega itu sama Ve cuman gara-gara she is a well tought girl.

Overall aku suka jalan cerita dan lumayan puas sama endingnya 4,3/5 ✨
Profile Image for Andreiya Eliata.
76 reviews1 follower
October 15, 2021
Tema nya memang cukup menarik karena memadukan paham patriarki, dogma di suatu kelompok, dan sedikit bumbu thriller.

Tapi sayangnya, aku sangat tidak menikmati novel ini. Ceritanya terlalu terburu-buru. Harusnya bisa lebih dijabarkan lagi beberapa hal menyangkut Bapak dan Nenek Unung. Alhasil kurang dapat feel nya. Dialognya juga klise dan ada beberapa hal yang kurang masuk akal. Aku juga kurang suka pemakaian sudut pandang yang tidak konsisten. Ada karakter yang kehadirannya sia-sia dan gak berperan penting dalam cerita. Dan itu cukup disayangkan. Esekusi ceritanya juga kurang menarik menurutku.

Mungkin novel ini lebih cocok dibaca untuk pembaca yang suka alur cepat dan to the point.
2 reviews
June 15, 2023
Oke, jadi awalnya aku pertama kalinya baca novel yg dibranding urban thriller oleh penulis lokal, jadi aku ga punya ekspektasi apa2 di novel ini. Biarpun begitu, novel ini ternyata sangat jelek sampe2 aku ngasih 2 bintang aja ke novel ini. Aku bakal berusaha buat nulis review ini dengan seterbebas dari spoiler yg aku bisa, tapi nggak janji ya jadi bacalah review ini dengan resiko yg ada.

Novel ini dibuka dengan kalimat sederhana, "Ibu pergi", diucapkan oleh ayahmu di kamar yg gelap penuh dengan pakaian & koper yg berserakan. Kemudian sesudah baca 2 paragraf, kita tahu kalo novel ini ditulis dg sudut pandang orang kedua di mana novel menunjuk ke karakter utama dari novel dengan "kamu" dan kata ganti orang kedua lainnya. Ini sebenarnya sudah merupakan kesalahan buatku, soalnya kan... sebagai pembaca aku belum tahu siapa aku (atau "kamu") di novel ini. Nama, umur, gender, tinggi badan, berat badan, dsb. Aku juga nggak tahu seperti apa sosok ibu dan ayah di cerita ini, jadi gimana caranya aku bisa relate dgn karakter utama yg baru aja ditinggal pergi ibunya?

Lebih parah lagi, begitu di paragraf kedua SETTINGNYA UDAH GANTI AJA DONG! kita mendadak lagi party di rumah temen, terus diceritakan kita baru aja pulang terus masuk ruang tamu sebelum kemudian ngeliat ayah lgi sedih di kamarnya.

...
...

KENAPA NGGAK GINI AJA FLOW CERITANYA DARI AWAL??

percuma dong aku udah bayangin suasana kamar yg gelap dan sedih di theater of mind-ku klo kemudian ganti ke tempat lain, terus dalam sekejap KEMBALI LAGI KE SCENE DI AWAL

haah...

sesudah itu masih ada scene flashback yg terjadi sebelum ibu kita pergi, sekali lagi ini membuat aku bertanya2 apa bakal terus ada flashback di cerita? Kalo iya berarti mungkin emang gaya menulisnya begini dan aku bakal terbiasa lagi nanti.

ternyata enggak dong!

sesudah kita sampai di rumah nenek, jalan ceritanya diceritakan lurus dengan 2nd person POV (dengan beberapa pengecualian ya). Gaya bercerita yg nggak konsisten ini bikin kesel buatku

Sejak Kita sampai di rumah nenek, mulai kelihatan kalo tema utama cerita ini adalah tradisi vs modernitas. Ve, karakter utama yg masih muda melambangkan modernitas dan nenek kita (dari sisi ayah) yg melambangkan tradisi. Di buku ini ada banyak perdebatan antara modernitas vs tradisi sampe tengah buku, tapi aku cuma bakal soroti yg menurutku paling penting: sewaktu Ve pergi dari rumah ga pamit dan kemudian nginep di rumah cowok.

aku ulangi sekali lagi.

Seorang anak perempuan baru lulus SMA udah pergi dari rumah ga pamit ke ayahnya, dan menginap di rumah lelaki. Status laki2 itu juga bukan pacar, bukan tunangan, bukan pula keluarga. Temen doang.

...

Ve apakah open minded itu membuatmu jadi cewek gampangan??

Udah gitu ga ngerasa bersalah lagi. Pake alasan "Ayah harusnya udah tahu aku pergi ke mana". Biarpun ayahmu mungkin tau kamu pergi ke mana, itu bukan berarti kamu bisa langsung pergi dari rumah ga pamit dan nginep di rumah cowok. Karena yg paling dikuatirin itu bukan apa yg terjadi di rumah temen cowokmu, tapi apa yg terjadi di perjalanannya.

Gini lho Ve. Alasan perempuan baik2 gak boleh keluar rumah malam2 itu karena ada banyak pria gak baik2 yg keluar rumah malam2. Masa hal gini aja ga ngerti? Padahal anak cewek udah lulus SMA lho, apa dia sama sekali ga pernah disuit2in cowo random? ato diliatin cowo random dari atas sampe bawah?

kalo terjadi apa2 gimana?

Ekspektasi Ve:
Ve: Eh denger ya, my body my rules. Kalian ga boleh sentuh2 tubuhku tanpa ijinku
Pemerkosa: Oh iya ya, makasih udah ngingetin, sori udah mau merkosa kamu

Yang bakal terjadi sebenarnya:
Ve: Eh denger ya, my body my rules. Kalian ga boleh sentuh2 tubuhku tanpa ijinku
Pemerkosa: Peduli amat! *lanjut peroksa*

masa soal hal menjaga diri aja Ve ga ngerti, udah gitu gak ngerasa bersalah lagi. Sebagai pembaca yg dicecoki cerita dari sudut pandang orang kedua, tindakan Ve gak masuk akal buatku.

Kejadian kyk gini terjadi berulang2 karena seperti yg aku bilang tadi, sampe pertengahan buku ini tema ceritanya adalah modernitas vs tradisi. Yang disayangkan adalah sikap Ve dalam menanggapi neneknya, because this girl has no chill. Ve sering marah2 sama neneknya setiap kali neneknya melakukan sesuatu yg gak Ve suka. Mulai dari pulang dari rumah cowok yg bukan siapa2nya, sampe ke hal2 lain di tengah buku.

(iya sih Ve pernah menolak dg sopan, tpi buatku kalimat sopannya itu masih pasif agresif jadi masih gak sopan)

Kalo Ve mau kesetaraan hak antara pria dan wanita sih aku setuju
Kalo Ve mau perempuan punya kesempatan buat belajar aku juga setuju
tapi apa semua kemajuan itu harus dibayar dengan hilangnya sopan santun ke orang tua?

kalo kalian bilang "Kan neneknya yang kolot", ya kan tadi aku udah bilang klo tema buku ini memang modernitas vs tradisi, jadi pasti ada karakter yg ketinggalan jaman. Pertanyaannya adalah apa kita harus marah2 dan bersikap ga sopan ke orang lain tiap kali ada sesuatu yg kita gak setuju?

Kemudian aku jga mau ngomongin soal flashback di cerita ini. Karena karakter si ibu yg udah hilang dari paragraf pertama, otomatis ibunya Ve cuma muncul di flashback. Ibunya Ve digambarkan sebagai sosok perempuan yg sempurna, cerdas, sabar, baik hati dan open minded. Ve juga sudah diajari sejak kecil tentang hal2 yg open minded (kayak omongan orang bule di Twitter lah, istilahnya)

Tunggu dulu, memang ibunya Ve gak ngerasa ada yg salah dg ini?
Memang mengajari soal ilmu pengetahuan dan menggapai cita2 tinggi itu hal yg bagus, yg aku khawatirkan adalah ibunya Ve ngajari soal hal open minded tanpa batasan, padahal Ve masih kecil untuk bisa memutuskan sesuatu sendiri. Di bukunya gak dijelaskan secara spesifik mulai sejak umur berapa Ve diajari soal open mindedness, tapi aku ada masalah dg ini

masalahnya di mana? Rebel phase anak2.

Jadi kan semua anak pada saatnya akan mengalami rebel phase, kira2 waktu umur 12/13 tahun, masa2 SMP gitu. Bayangin klo Ve ngomong kyk gini di umur 13 tahun

Ve: Mah, ini tuh hidup aku! Aku bisa bebas nentuin apa yg aku mau lakuin. Lagian aku juga gak merugikan mama sama sekali kan? Mama gak usah sok2 ngatur hidup aku
Ve, a few seconds later: *lanjut ngerokok, minum bir, dan ngesex di kamar sama cowo negro lebih tua 10 tahun yg baru dikenal kemarin*

Okay, that may be an exaggeration but you get the point.

Intinya adalah, anak yg belum dewasa masih perlu diajari yg mana yg benar dan yg mana yg salah. Biarpun udah remaja pun masih perlu bimbingan orang tua (biarpun sedikit2 volumenya dikurangi). Karena anak remaja pun masih melakukan hal2 kenakalan remaja kyk ngerokok, tawuran, minum2, sabu2 dan sebagainya. Masa kita harus ngajak anak duduk dan diskusi sewaktu mereka melakukan hal yg jelas2 salah?

Diskusi soal hal2 open minded bisa dimulai ketika anak sudah cukup dewasa untuk membentuk pola pikirnya dan tahu yg mana yg benar dan salah.

Bicara soal flashback, ayahnya Ve hampir ga pernah disebut dalam flashback. Pernah sih disebut tpi dari yg diceritakan di flashback, ayahnya Ve ini kayaknya bertolak belakang banget sama istrinya. Saya jadi heran gimana ceritanya mereka bisa bertemu, pacaran, dan nikah.

Intinya ayahnya Ve ini pendiam banget, jarang ngomong. Entah itu ngomong soal hal2 yg cerdas ataupun sekedar ngobrol casual. Ini yg bikin aku bingung, masa selama masa pernikahannya, ayahnya Ve selalu jarang ngobrol?

Ga usah yg penting2 lah, sekedar "Ve, ayo main catur" juga boleh kok. Tapi di sini diceritakan klo ayahnya Ve gak pernah melakukan itu.

remember that part about Ve's dad, because it will be important later.

menginjak bagian tengah buku, tema cerita mulai berubah menjadi Ve vs religious cult. Nenek sudah bukan lagi mewakili nilai2 tradisi, tapi ajaran dogmatis seperti agama sesat yg diwariskan dari bapaknya nenek. Dan keliatannya ini dituruti dg patuh dan taat oleh penduduk kampung.

And this change of theme is... weird. Karena rasanya hal2 yg dibicarakan oleh Ve dan ibunya jadi ga berguna. Kalo kita ngobrol soal tradisi mungkin kita bisa nyari jalan tengah dari orang2 yg menjunjung modernitas dan orang2 yg menjaga tradisi, sehingga jadinya gak saling ngotot (kyk yg dilakukan Ve dan neneknya), tapi klo ngomongnya udah soal agama/cult sih ya udah ga ada diskusi lagi. Buat para anggota cult, orang2 yg berbeda dg cult adalah salah dan harus dimurnikan. Ini juga kejadian sama Ve.

Ngomong2 soal hal yg terjadi pada Ve, di sini juga ada hal yg aneh banget. Sebagai karakter utama di buku yg mengangkat topik kesetaraan hak antar gender dan kebebasan wanita, Ve malah selalu gak bisa melakukan sesuatu ke plot yg berjalan.

Ibunya ternyata cerai dan kabur dari rumah. Can she do something about that? No.
Dia diajak ayahnya ke rumah neneknya. Can she do something about that? No.
Dia terancam gak bisa kuliah. Can she do something about that? No.
Ayahnya mau ngejual apartemen mereka. Can she do something about that? No.
Dia dikurung di rumah neneknya. Can she do something about that? No.
Dia pindah ke rumah nenek dari sisi ibunya. Can she continue to stay at her house? No.
DIa dipukuli ayahnya. Can she do something about that? Well... yes, but actually no.
Dia dipaksa nikah. Can she do something about that? No.

Dari awal buku sampe akhir, Ve selalu gagal untuk menyelamatkan diri ataupun mengubah nasibnya. Klo cuma di awal2 sih ga masalah, harapannya kan Ve bisa melawan nasibnya mendekati akhir buku, TAPI INI NGGAK LHO. Dari awal sampe akhir buku, Ve selalu bergantung pada nasib. Bahkan yg menyelamatkan Ve pun bukan dirinya sendiri, tapi nenek dari sisi ibunya.

VE INI BENER2 PROTAGONIS DARI BUKU KESETARAAN GENDER GAK SIH?

benernya sy mulai bosen nulis review panjang gini, tapi di atas tadi sy udah nyuruh kalian buat inget2 klo ayahnya Ve diceritakan sedikit banget di flashback, kalopun diceritakan sifatnya pendiam dan gak banyak bicara.

Kalian tahu nggak apa yg dipikirkan Ve sewaktu dia dipukuli ayahnya?

"Dulu ayah orang yang penyayang! Ayah bisa ngomong baik-baik sama aku! Kenapa sekarang jadi begini?"

DI MANA DICERITAKAN KALO AYAHNYA VE BISA NGOMONG BAIK2?? Udah dijelasin secara implisit lewat flashback klo ayahnya Ve itu bertolak belakang sama ibunya. Gak pernah ngobrol sama Ve, KENAPA SEKARANG VE BILANG KLO AYAHNYA BISA NGOMONG BAIK2??

haaah...

Kenapa ayah dan ibunya Ve bisa nikah sih?

yang bikin saya lebih kesel lagi adalah sebuah revelation kalo ternyata ibunya Ve dibunuh sama ayahnya Ve (no, not surprising, wait a little more) dan motif utamanya adalah karena ayahnya Ve gak suka klo si ibu belajar S3 di London. Karena takut ga bisa punya pekerjaan di London dan jadi pengangguran, akhirnya dia ngebunuh istrinya sendiri.

..
...
....

WAIT A SECOND

KENAPA GAK NGOMONG BAIK2 SIH? BILANG AJA KLO GAK NGIJININ ISTRINYA PERGI KE LONDON ATO BIARIN ISTRINYA PERGI KE LONDON TAPI SI AYAH BISA NETAP DI INDONESIA DAN KERJA DI INDO, NANTI KETEMU SAMA SI ISTRI TIAP LIBURAN!

KALOPUN ITU NGGAK BISA KARENA PENGARUH AJARAN CULT-NYA SI BAPAK, KAN MASIH ADA OPSI BUAT CERAIIN ISTRINYA!? KENAPA JUGA HARUS LEMPAR ELPIJI 3KG KE KEPALANYA SI ISTRI??

saya bener2 ga paham.

Seluruh cerita dari novel ini bisa dibatalkan klo aja si ayah lebih mikir dulu, ato minmal cerai lah.

Oke, akhirnya selese juga review saya ini. Premis soal perempuan vs tradisi atau modernitas vs tradisi sebenarnya bisa jadi jalan cerita yg bagus... kalo aja diolah dengan lebih pintar.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nai DDepressant Reader.
27 reviews2 followers
January 7, 2023
∆ 𝙈𝙞𝙣𝙤𝙧 𝙎𝙥𝙤𝙞𝙡𝙚𝙧!!! ∆
(𝘗𝘭𝘰𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘴𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘨𝘢𝘮𝘣lang, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘨𝘶. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯, 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘰𝘵𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘰𝘤𝘰𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘭𝘰𝘵 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢).

Buku ini mengangkat tema feminisme dan sindirian untuk budaya patriarki. Ve adalah tokoh dengan pandangan progresif, sementara sang Nenek dan orang-orang di gang adalah pihak dengan pandangan terdoktrin. Penulis juga mengangkat poin lewat tokoh Nenek, bahwa perempuan juga bisa menjadi pendukung vokal budaya patriarki dan laki-laki sendiri juga dapat dirugikan dengan pandangan ini. Dapat terlihat dari beban ekspektasi yang besarnya tidak realistis bagi laki-laki akhirnya memengaruhi tokoh Ayah Ve. Sehingga, Ayah Ve tidak puas dengan dirinya sendiri dan terjadilah tragedi yang memulai cerita ini.

Untuk gaya bahasa, Penulis menggunakan sudut pandang orang ke-2 ('kamu') pada sebagian besar buku hingga akhir bab 14 berubah menjadi sudut pandang orang pertama dan orang ketiga untuk 1 bab saja. Hal ini yang sebenarnya merusak gaya bahasa dalam novel, sehingga terkesan tidak konsisten.
Jika ujung-ujungnya memang mengubah sudut pandang, sejak awal seharusnya tidak memakai sudut pandang orang ke-2. Saya tahu tujuan artistik maupun tematis yang ingin disampaikan dengan memakai 'kamu', tapi novel jadi memiliki 3 jenis pov dan terkesan berantakan.
Tidak ada penggunaan prosa yang terlalu wah atau majas yang terlalu wih, sah-sah saja sebenarnya untuk novel thriller.

Tokoh-tokoh di novel ini sebenarnya tidak perlu dinilai terlalu dalam. Penulis cenderung menggambarkan para tokoh sebagai ‘karikatur’ dari pihak argumen yang ingin beliau bantah, sehingga Penulis dapat menyampaikan pesannya.
Apakah boleh begitu? Boleh. Teknik sejenis dapat dilihat di novel "Candide", ketika Voltaire menyindir pihak-pihak yang tidak ia suka secara langsung dalam tulisannya.

Jadi, tidak ada tanggapan lebih dari saya soal tokoh-tokohnya. Meskipun, jujur saja sifat Ve bisa terbilang 'angkuh' (?) dan dialognya dia agak lebay. Lebih tepatnya, penulisan dialog tersebut membuatnya terkesan tidak natural (contoh ada di bab awal saat dia mendengar kabar dari Ayah. Itu krinjj gilak).

Ve (yang digerakkan Penulis) terlalu cepat meng-judge ayahnya serta-merta ketika kita, pembaca, tengah mencari clue. Dialognya yang membandingkan dengan Henry lebih mengarah menjadi pernyataan, sehingga saya jadi curiga bahwa 'itulah' yang betul-betul terjadi. Dari kecurigaan berubah jadi kepastian, twist sudah dapat saya tebak berkilo-kilo jauhnya.

Di sini sebenarnya ketegangan yang saya dapat sudah menurun. Belum lagi build-up dari keseluruhan tension dalam buku agak terburu-buru, sebelum dan setelah klimaks. Di ending 'pun penyelesaiannya terjadi begitu cepat, saya sekarang bahkan masih memproses bagaimana Akar bisa mendapatkan kunci rumah.

Beralih dari itu, saya ingin memuji kemampuan Penulis yang dapat menulis tokoh-tokoh menyebalkan. Saya salut dengan kemampuan Penulis yang berhasil menuliskan tokoh yang membuat saya ingin masuk ke dunia novel hanya demi menampeleng mereka.

Ve, meskipun bukan intensi penulis, membuat saya kesal. Ve merasa terhina karena ditegur pulang malam sampai jam 9, beralasan bahwa tiap perempuan dan laki-laki dapat menikmati hari mereka sendiri selama apapun. Alasan tersebut valid dan saya menyetujuinya, tapi alasan tersebut pula hanya berlaku pada laki-laki dan perempuan DEWASA, yang telah lepas tanggungan dari orang tua atau wali, serta menghidupi dirinya sendiri. Ve di sini situasinya masih bocah (young adult 'lah) baru lulus SMA yang masih dalam naungan orang tua. Jadi, kekhawatiran Nenek dan Ayah dapat dipahami. Meski, over-reacting si Nenek bikin saya dongkol sedongkol-dongkolnya.

Mungkin banyak yang tidak suka dengan perubahan alur menjadi bernuansa kultus, tapi menurut saya itu jadi alegori tersirat dari penulis untuk menggambarkan orang-orang herd mentality, bahwa seperti itulah mereka sesungguhnya.

Ada 1 scene yang bikin saya hendak menepuk seluruh wajah saya dalam sekali hentakan penuh. Scene tersebut adalah "Invasi Tikus" di rumah Oma. Saking absurd-nya scene itu, saya tidak sabaran menunggu kalimat, "Dan akupun terbangun." muncul di paragraf. Akhirnya saya sadar bahwa itu bukan gambaran mimpi Ve, melainkan scene sungguhan dan betul-betul terjadi. Secara sungguhan.


Sampai di sini saja review-nya.
Semoga review ini dapat seobyektif mungkin,
—Adios.

• 3,5/5 ⭐
Profile Image for Yuan Astika Millafanti.
314 reviews7 followers
June 16, 2023
Ve • Vinca Callista • Jia Effendi, Teguh Afandi, Yuli Pritania (Penyunting) • Noura (buku digital didistribusikan oleh Mizan Digital Printing) • Cetakan pertama, 2018 • 19 bab

Apa-apaan ini? Sejak awal aku sudah kesal dengan Nenek. Apa-apa dihubungkan dengan Kata Bapak Saya yang menjadi panduan hidupnya.

Cerita dibuka dengan Ve yang tiba-tiba ditinggal ibunya. Kata Ayah, Ibu pergi ke London dengan Henry, selingkuhannya. Namun, Ve tidak percaya. Di mata Ve, Ibu tidak mungkin berselingkuh. Mereka berdua saling memahami. Namun, Ve tidak berhasil mengontak Ibu untuk mengonfirmasi keadaan yang sebenarnya. Setelah kepergian ibunya, Ve diboyong Ayah ke rumah Nenek, ibu ayahnya. Sayangnya, pemikiran Nenek--dan juga Ayah, yang baru diketahuinya kemudian--tidak sejalan dengan pemikiran Ve. Ia tersiksa hidup di rumah Nenek. Mungkinkah Ve dapat terbebas dari siksaan rumah Nenek? Berhasilkah Ve bertemu dengan Ibu?

Sepanjang cerita aku dibuat kesal oleh sikap Nenek, Ayah, dan warga kampung, yang kental dengan budaya patriarki. Seolah perempuan hanya kelas dua, di bawah lelaki. Tidak hanya itu, perempuan tidak berhak memberikan keputusan, meskipun itu soal hidupnya sendiri. Aku merasakan betul betapa frustrasinya Ve hidup di rumah Nenek. Penulis berhasil membangun ketegangan lewat narasi-narasi sikap para tokohnya dan suasana sekitar.

Namun, sayangnya, aku menangkap keganjilan dalam cerita ini. Aku meragukan bagaimana Ayah dan Ibu bisa bertemu dan kemudian sepakat menikah jika terbentang jurang pemisah soal ideologi mereka. Aku meragukan bagaimana Ibu dan Ve tidak menangkap keganjilan Ayah sebelum peristiwa perginya Ibu. Aku menyangsikan perbedaan kebudayaan dan cara hidup antara Gang Bapak dan rumah Oma yang hanya terpisahkan sepuluh blok. Mengapa Gang Bapak digambarkan seolah jauh dari jangkauan teknologi--yang bahkan jalan setapaknya saja hanya diterangi lampu minyak--bertolak belakang dengan rumah Oma? Meskipun alasan-alasan keraguanku sudah dijawab penulis di bab-bab akhir, aku masih tidak puas. Rasanya itu tidak cukup sebagai landasan. Entahlah.

Buku ini digolongkan dalam urban thriller. Alih-alih merasa terkecam oleh ketegangan sisi misteri atau thriller cerita, aku justru kesal tidak tertahan karena pemikiran patriarki yang kental. Ingin rasanya mengumpat lalu menjambak rambut Nenek atau menonjok muka Ayah. Ingin rasanya membanting semua pigura foto Bapak di rumah Nenek. Duh, untung aku bukan Ve. Bisa gila rasanya!

--

Istilah 'kepinteran' itu maknanya menyempitkan. Merendahkan inteligensi manusia. Justru hakikatnya manusia itu terus belajar, cari tahu apa-apa saja yang terjadi di dunia ini, lalu mempelajarinya supaya mampu memahami. Pengetahuan itu nggak ada batasnya, jadi nggak perlu dibatasi dengan label apakah kita sudah 'kepinteran' atau belum. That's ridiculous! - Ve, bab 8

Ibu benar soal generation gap. Jarak pikir yang terlalu jauh dapat menyulitkan generasi dengan kehidupan yang sudah lebih canggih karena generasi yang tertinggal tidak mampu menyamai perkembangan cara pikir dan pola hidup yang mutakhir. Pikiran mentah. Pikiran belum matang. Tapi tidak mau membuka diri pada ilmu-ilmu yang telah diperbarui dan memperbarui zaman. - Bab 9

Perempuan baik-baik selalu menurut kepada Bapak. Jangan pernah melawan perintah orangtua. Orangtua selalu benar, dan kamu paling salah. Orangtua berhak membunuhmu. Perempuan tidak usah banyak membaca karena ilmu selain dari Bapak itu sia-sia. Malah berbahaya karena membuat perempuan iadi bisa melawan. Tidak boleh macam-macam dengan penampilan. Rambut tidak boleh dihias-hias. Kalau dihias, nanti Bapak gunting sampai botak! Perempuan tidak boleh sekolah tinggi-tinggi karena tidak boleh melebihi laki-laki. Perempuan baik-baik harus menurut kepada laki-laki. Kalau tidak patuh, boleh dipukuli sampai sekarat atau dikubur saja. - Bab 11

Jadi setelah semua kejadian mengerikan yang kualami, apa yang paling aku takuti di planet ini? Orang-orang dungu yang bergerombol. Dengan kebiasaan ingin menghancurkan apa-apa yang tidak sama dengan pengetahuan mereka yang sempit dan tidak mau mereka pahami. Mereka betul-betul bisa menghancurkan jalan hidup orang lain tanpa merasa bahwa pilihan sikap mereka salah sepenuhnya. - Bab 19
4 reviews
June 8, 2024
Pengalaman saya pertama kali dengan Vinca Callista adalah ketika saya membaca buku "Seruak" karyanya. Kala itu saya masih SMP, pada suatu sekolah asrama. Masa kala itu adalah ketika pandemi berlangsung, dan semuanya tampak begitu hampa. Di tengah kehampaan itu, saya temukan buku "Seruak", dan dari itu saya terus haus untuk membaca buku karangan Vinca Callista.

Ve diceritakan dalam alur yang lurus, tidak ada subplot maupun narasi lainnya. Semuanya lurus, dari awal hingga akhir. Semua berfokus pada kisah Vermilion, dibuka dengan kabar dari ayahnya mengatakn ibunya pergi menuju London demi selingkuhannya, dan kepindahan mereka ke rumah Nenek (ibu dari Ayah Ve). Dari sini, plot dan konflik berlanjut, memuncak, hingga pecah pada akhir yang saya rasa sedikit ampas dan terlalu diburu. Akan tetapi, saya tidak mempermasalahkan akhir, bukan akhir yang ingin saya sampaikan, melainkan pada sesuatu yang bersifat mendalam dari kisah ini: benci

Sekilas, pembaca yang telah usai membaca kisah ini dapat melihatnya sebagai suatu kritik atas patriarki, dan penindasan yang mereka perbuat. Memang benar, dan saya juga mengetahuinya. Tapi, setelah saya baca lebih dalam, saya temukan suatu kekuatan sesungguhnya yang menggerakkan kisah ini, rasa benci. Rasa benci dan tidak suka inilah yang menggerakkan kisah ini. Seperti ketidaksukaan tokoh Nenek terhadap para "tukang tenung". Saya dapat menceritakan contoh lainnya, namun tidak akan saya sampaikan karena merupakan spoiler. Ya, dan kebencian mereka berdasar pada suatu landasan yang berbeda. Inti pikiran dan juga benak mereka yang menjadi alasan dari kebencian. Tak hanya tokoh semacam Nenek, Ayah, atau Pepep yang memiliki kebencian ini. Ve juga memilikinya, yang mulanya kebenciannya kepada Ibu yang ia kira menelantarkan keluarga mereka, berubah menjadi kebencian kepada Nenek dan Ayah yang merendahkan dirinya. Jujur, siapa yang sudi direndahkan seperti Ve? Tidak ada bukan?

Rasa benci dari mereka juga disajikan oleh sang Penulis dengan cara yang paling brutal. Berbagai adegan yang memuakkan sering terjadi, begitu sering. Kekerasan terlihat begitu gamblang dalam novel ini. Hal yang membuat saya ragu apakah saya tengah membaca karya Frank Miller atau Alan Moore? (Ehehehe...).

Dalam perjalanan saya selama membaca, saya juga menemukan satu hal, yang mungkin saja ditemukan oleh pembaca lainnya. Penulis bukan hendak mengkritisi patriarki. Bukan, ia berusaha mencabiknya, lalu menelanjanginya dalam gambaran paling mengerikan. Ia benci, benci. Masih ingat opini saya mengenai benci yang menggerakkan kisah ini? Rasa benci ini pula yang mungkin mendorong penulis menulis Ve. Penulis begitu benci, murka, dan penulis ledakkan rasa muaknya seperti bom. Suatu emosi yang begitu mencolok dan gamblang. Rasa benci inilah yang ingin ia sampaikan kepada para pembaca. Mulanya, kisah bermula dengan sudut pandang orang kedua, sebelum pada akhirnya beralih kepada sudut pandang orang pertama: dirinya sendiri, dalam hal ini Ve. Ve (mungkin penulis), merasa muak dengan apa yang terjadi, dan mereka pun memilih mengakhirinya dengan cara paling brutal. Api padam, pertunjukan usai.

Kini api itu padam, menyisakan debu belulang dalam kekosongan.
Profile Image for Ella Oktaverina.
292 reviews1 follower
October 25, 2020
"Istilah kepinteran itu maknanya menyempitkan. Merendahkan inteligensi manusia. Justru hakikat manusia itu terus belajar, cari tahu apa saja yang terjadi di dunia ini, lalu mempelajarinya supaya mampu memahami." -- Halaman 85.

Ve kaget bukan main ketika ayahnya berkata bahwa sang ibu minggat dari rumah menuju London untuk menyusul selingkuhannya. Ia bingung karena kemarin ia masih bertemu dengan ibunya, tidak sekedar bertemu, mereka bahkan masih duduk bersebelahan di salon untuk ombre, ibunya pun juga masih sempat mengantarkan dia ke pesta yang diadakan Akar di kafe perpustakaan milik keluarga teman laki-lakinya tersebut. Semuanya terasa janggal bagi Ve. Selepas kepergian sang ibu, ayahnya pun mengajak Ve untuk meninggalkan apartemen yang mereka tempati di kota untuk pindah sementara di rumah Nenek Unung--Ibu dari ayahnya--sebab sang ayah ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Ve sejujurnya keberatan, tetapi ia tak tega melihat ayahnya. Ve tidak pernah akrab dengan Nenek Unung karena perbedaan pandangan. Ve merupakan hasil didikan ibunya, ia percaya bahwa wanita punya kedudukan setara dengan laki-laki, karena itulah ia ingin mengikuti sang ibu untuk melanjutkan studi setinggi-tingginya, sementara sang nenek adalah orang tua yang kolot, konservatif, dia percaya bahwa kedudukan laki-laki harus lebih tinggi dari perempuan sehingga tak perlulah bagi perempuan untuk sekolah tinggi karena itu akan menimbulkan sifat "pembangkang". Sleg mengenai masalah ini tak usai begitu saja, dari rumah sang nenek juga akhirnya Ve menemukan kebenaran tentang perginya ibu yang sangat ia sayangi.

Sudah sekian lama saya nggak baca fiksi thriller dan Ve memuaskan rasa kerinduan itu. Feminisme jadi poin utama dari novel ini. Ceritanya juga menarik, walaupun saya sudah bisa menebak apa yang terjadi pada ibunya Ve. Kalau boleh jujur, saya kesal setengah mati dengan Nenek Unung karena asli, ini orang boomer garis keras. Ada beberapa hal yang miss di akhir dan bikin tanda tanya besar muncul di kepala saya. Hal-hal seperti... kok bisa ya ibunya Ve mau dengan sang ayah padahal tahu keluarganya bermasalah seperti itu, Nenek Ve dari sang ibu rumahnya nggak jauh dari Nenek Unung tapi kok bisa beliau tidak mengendus hal aneh dari besannya, dan tentang apa yang terjadi dengan Nenek Ve dari sang Ibu di akhir cerita (kayanya saya kelewatan bagian ini atau emang nggak diceritakan? 🤷‍♀️).

Anyway, still worth reading. Massive thank you for my sis for borrowing this book to me.

Buku ini dibaca untuk memenuhi Tantangan Baca Goodreads Indonesia Bulan Juli 2020: Buku dengan Harga Kurang dari 75K.
Profile Image for tïmmyrèvuo.
204 reviews2 followers
March 17, 2023
This book has been read several times, becoming the book I read when I want to feel anger that can't be channeled. This book drains the reader's emotions with a narrative that keeps us involved. The use of the word "you" and "i" is a particular point that is the central tension in this book.

This book begins with the mysterious disappearance of the mother of the main character, Ve. This resulted in the sudden move of Ve and her father to the house of "Nenek Unung," the mother of Ve's father. In that house, many illogical things happened, making Ve, who has a thoughtful, vocal, and courageous character, unable to stay silent, especially when she felt her mother's sudden disappearance was very upsetting.

Using a patriarchal theme, this book is one of the best urban thrillers ever. The narration, the characters, the detailed depiction of the setting, and the built atmosphere make the reader angry, scared, disappointed, and trembling. All of them are integrated into this book. Another reason is that this book is very relatable to our lives personally, how children are always wrong in the eyes of their parents, how it seems that parents always know the best about their children, and even how women are considered not worthy of equality with men.

Statements that are continuously repeated and sufficiently triggering are:
"Kata Bapak Saya"
"Perempuan baik - baik harus menurut kepada laki - laki. Kalau tidak patuh, boleh dipukuli sampai sekarat atau dikubur saja."

Unfortunately, I think several things are lacking in this book, namely the question, "Why did Ve's mother want to marry her husband and have the potential to have very old-fashioned in-laws?" But maybe the reason is that love is blind, and the mother's doctrine was only felt in the middle age of her father. That's why it wasn't visible in the beginning.

Overall, this book is very much worth reading. I've read a few of Vinca's books, but it's still "Ve" that leads me to believe he can make a book of the same genre just as perfect as this one.

Lastly, my favorite quote from this book is
"Apa yang paling aku takuti di planet ini? Orang - orang dungu yang bergerombol. Dengan kebiasaan ingin menghancurkan apa - apa yang tidak sama dengan pengetahuan mereka yang sempit dan tidak mau mereka pahami"
Profile Image for Riski Oktavian.
468 reviews
February 6, 2024
"Ketika kamu telah memercayai seseorang sebagai patokan masa depanmu, kamu menaruh terlalu banyak harapan baik dan menanam keyakinan tulus. Namun, kamu tidak terbiasa memandang sisi lain kemungkinan, bahwa ada kenyataan yang tentu saja bisa bertentangan dengan harapan itu." -hlm. 47

Another 5 stars book yang aku baca di tahun ini. Membuka bulan Februari dengan bacaan yang nggak expect akan se-ngaruh itu dengan emosi aku di sepanjang membacanya.

Ini kali kedua aku membaca karyanya Vinca Callista dan lagi-lagi aku memberikan rating 5 dari 5 bintang untuk buku yang ini.

Novel ini bercerita tentang Ve, seorang gadis yang hidup dengan damai bersama keluarga kecilnya. Hingga suatu saat, Ve pulang dari rumah temannya dan Ayahnya mengatakan bahwa ibunya pergi bersama selingkuhannya. Ve yang masih mencoba memproses banyak hal tidak diberi kesempatan dan ayahnya mengajaknya untuk pindah ke rumah nenek (dari pihak ayahnya), yang mana dia sangat nggak suka di sana.

Setelah kepindahan itu, Ve mulai merasa ada yang aneh. Ve merasa tidak bebas. Segala hal harus dilakukan sesuai kemauan tetua di sana. Semua hanya mengarah pada satu orang di zaman lampau. Mengarah pada satu orang yang digadang-gadang dihormati pada saat itu: Bapak.

Lama-lama Ve mulai merasa ada yang nggak beres dan dia pun ingin untuk keluar dari situ.

Well, dibandingkan dengan judul lain dari Vinca Callista yang kubaca yaitu Kilah, aku bisa merasakan adanya persamaan dari tulisan-tulisannya:
1) Vinca Callista selalu membuat nuansa ceritanya terlihat seperti abu-abu. Suram dengan kehidupan tokoh-tokoh di sini yang menurut aku in some how cukup bikin creepy.
2) Setting tempat yang jauh dari ingar-bingar dunia. Aku kurang tahu sih kalau di judul lain seperti apa, namun di novel kilah juga setting tempatnya ada di sebuah rumah di tengah hutan.
3) Tokoh-tokoh dengan pola pikir yang menyeramkan. Ini benar-benar bikin aku traumatizing jadinya setelah mengingat kembali vibe novel Kilah setelah membaca novel ini.

Jika ada kesempatan aku bakalan membahas tuntas di blog atau mungkin lewat video. Yang pastinya, novel ini mengangkat isu sosial yang kayaknya sampai sekarang nih di tahun 2024, masih ada.

Tahun 2024 tapi masih punya pola pikir begini? Yang bener aja, rugi dong!
Displaying 1 - 30 of 101 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.