Jump to ratings and reviews

Mata Penuh Darah: Dua Peristiwa, 1966-2033

Buku ini berisi kumpulan cerpen para pemenang lomba cerpen 1 Dekade Shiramedia. Cerita-cerita di dalamnya memiliki nilai eksplorasi futuristik dan spekulatif. Berisi cerpen-cerpen dari para penulis berbakat dan juga juri yang berkompeten di antaranya adalah Agus Noor, Eko Triono, Bernard Batubara.

1. Mata Penuh Darah: Dua Peristiwa, 1966-2033 (Faisal Oddang)
2. Siasat Jitu Membunuh Mantan Kekasih (Adam Yudhistira)
3. Siapa yang Membawa Lesatan Ingatan Ini Bermuara? (Teguh Dewangga)
4. Venesia (Pringadi Abdi Surya)
5. Mengenang Olea (Wi Noya)
6. Secangkir Kopi Ethanolic (Ahmad Ijazi H)
7. Perempuan dari Jalan Kuno Lingkar (Pilo Poly)
8. Ule Sondok So-Len (Ai El Afif)
9. Budayut (Toni Lesmana)
10. Program Pembaca Nasib (Muhammad Aan)
11. Sembilang yang Kedelapan (Asmi)
12. Perihal Mesin dan Peristiwa Setelahnya (Galeh Pramudianto)
13. Bagaimana Kita Menulis Cerita Pendek 20 Tahun dari Sekarang
(Ardy Kresna Crenata)
14. Nosarara Nosabatutu (Budi Saputra)
15. Adam-Hawa, Iblis, dan Eksperimen Ali Mugeni (Ken Hanggara)
16. Katakombe Santa Fallecia (Agus Noor)
17. Percintaan Terakhir M (Bernard Batubara)
18. Kukirimkan Padamu Sebuah Hari dari Masa Depan
(Eko Triono)

206 pages, Paperback

Published June 22, 2018

Loading...
Loading...

About the author

Faisal Oddang

33 books115 followers


Faisal Oddang was born on 18th September 1994. He finished his study in Universitas Hasanuddin, focusing on Indonesian Literature. His books are: Poetry Collection Perkabungan untuk Cinta (Mourning for Love) and Manurung was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Novels: Tiba Sebelum Berangkat (Arriving Before Departing) was shortlisted for Khatulistiwa Literary Award 2018, Puya ke Puya (From One Heaven to Another) won 4th place in Jakarta Art Council Novel Competition 2014 and was chosen as the best novel in 2015 by Tempo Magazine.

He achieved: Robert Bosh Stiftung and Literary Colloquium Berlin Grants 2018, Iowa International Writing Program 2018, Asean Young Writers Award 2014, Best Short Stories Writers 2014 by Kompas Daily, Prose Writer of The Year 2015 by Tempo Magazine, Best Essayist in Asean Literary Festival 2017. He was invited as a speaker in Ubud Writers and Readers Festival 2014, Salihara International Literary Biennale 2015 and Makassar International Writers Festival 2015, and participated in writer’s residency 2016 in Netherland by Indonesian National Book Committee.

Email: faisaloddang@gmail.com

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (15%)
4 stars
5 (19%)
3 stars
15 (57%)
2 stars
1 (3%)
1 star
1 (3%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Panca Erlangga.
116 reviews2 followers
May 2, 2022
Mata Penuh Darah berisi delapan belas cerita pendek. Lima belas cerpen pertama terdiri dari peserta lomba dan ditutup dengan tiga cerpen terakhir karya ketiga juri. Secara tema memang memuat hal yang sama: futuristik dan masa depan. Tapi tentu saja, dalam penuturan dan pengeksekusian, kita dapat menemukan beragam cara yang berbeda disajikan di dalam kumpulan cerpen ini. Seperti di cerpen Bagaimana Kita Menulis Cerita Pendek 20 Tahun dari Sekarang-nya Ardy Kresna, dimana dengan begitu cermat, penulis menempatkan narator terasa begitu dekat dengan penggambaran karakter, yang, meskipun hanya sekilas tapi terasa padat. Mengingatkan saya dengan cerpennya yang berjudul Dua Cerita karena ada sedikit kesamaan dalam hal penuturan. Begitu juga kita akan menemukan format bentuk penulisan cerpen yang mencoba mencari penyegaran lain dengan cerpen Adam-Hawa, Iblis, dan Eksperimen Ali Mugeni-nya Ken Hanggara, di mana dalam satu cerita pendeknya hanya memakai satu paragraf panjang sebanyak tujuh sampai delapan halaman. Melelahkan. Walaupun di satu sisi kita tidak akan menemukan penuturan seperti ini di media umum lain. Sebagaimana dalam antologi cerpen yang berisikan dari banyak penulis, kita kerap kali mendapati cerpen yang hit dan miss. Tidak aneh, memang. Dan, sebenarnya ketika membaca ini saya benar-benar merasa agak berjarak dengan tema-tema seperti ini. Tidak terasa dekat, walaupun tengah mencoba untuk diyakinkan.
5 reviews1 follower
October 29, 2019
Salah satu novel yang berhasil ditemukan dan dibeli pada saat event BBW 2019 kemarin. Terdapat beberapa novel didalamnya. Tapi menurut saya hanya beberapa saja yang menarik. Seperti milik Faisal Oddang itu sendiri di bagian pembuka dan beberapa cerita lainnya seperti milik Bernard Batubara. Beberapa cerita terlalu futuristik dan scifi sehingga susah dicerna bagi saya yang kurang berminat di hal tersebut. Alur maju mundur dan penggunaan beberapa istilah daerah ditambah dengan hal fantasi membuat beberapa cerita tambah membingungkan.
Profile Image for Ririn.
743 reviews4 followers
February 4, 2019
sebelum lupa mau nandain dulu kalau kemarin (akhirnya) kelar baca ini. tidak semua ceritanya saya suka jadi tidak bisa kasi 4 or 5 bintang. tapi kalau cerpen2 juri2nya (agus noor, bernard batubara) dalam buku ini saya suka banget :)
5 reviews
March 12, 2022
Honestly, beli buku ini karena tertarik dengan cover buku dan nama yang tertera Faisal Oddang. Saya tidak menyesal telah menilai buku dari covernya.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews