Jump to ratings and reviews
Rate this book

فتاة السجائر

Rate this book
"فتاة السجائر" قصة حب سرية تنكشف بموت الأب، رواية ملحمية تقدم تاريخ اندونيسيا عبر ثلاثة عقود من خلال مصنع وعاملاته وقصص الحب المجهضة.

296 pages, Paperback

First published February 23, 2012

396 people are currently reading
5413 people want to read

About the author

Ratih Kumala

19 books215 followers
Ratih Kumala, lahir di Jakarta, tahun 1980. Buku pertamanya, novel berjudul Tabula Rasa (Grasindo 2004, GPU 2014), memenangkan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003. Novel keduanya, Genesis (Insist Press, 2005). Kumpulan cerita pendeknya, Larutan Senja (Gramedia Pustaka Utama, 2006). Buku keempat berjudul Kronik Betawi (novel/GPU, 2009) yang sebelum terbit sebagai buku juga terbit sebagi cerita bersambung di harian Republika 2008. Buku kelimanya berjudul Gadis Kretek (GPU, 2012) dan buku keenamnya adalah Bastian dan Jamur Ajaib (GPU, 2015). Novelnya Gadis Kretek (GPU, 2012) masuk dalam Top 5 kategori prosa Khatulistiwa Literary Award 2012, dan telah diterjemahkan ke Bahasa Inggris –Cigarette Girl (GPU, 2015), bahasa Jerman – Das Zigarettenmadchen (culturbooks publishing, 2015), dan tengah diterjemahkan ke Bahasa Arab untuk diterbitkan di Mesir.

Selain menulis fiksi, Ratih juga menulis skenario untuk televisi dan film layar lebar. Saat ini ia tinggal di Jakarta.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2,458 (35%)
4 stars
3,160 (45%)
3 stars
1,171 (16%)
2 stars
132 (1%)
1 star
28 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 1,505 reviews
Profile Image for Sawsan.
1,000 reviews
September 18, 2021
رواية لطيفة محكية بأسلوب جميل للكاتبة الإندونيسية راتيه كومالا
تبدأ برغبة رجل مريض برؤية حبيبته الأولى قبل موته
يسافر أولاده الثلاثة للبحث عنها, ويتناوب الحكي بين رحلة السفر وأحداث الماضي
تفاصيل صناعة السجائر خلال ثلاثة أجيال والتنافس في العمل والحب أيضا
تمر الكاتبة بمهارة على تاريخ اندونيسيا بدءا من الاستعمار الهولندي وحتى العصر الحديث
سرد سلس لتفاصيل الشخصيات والأحداث والأماكن.. تفوح منه رائحة التبغ ونكهات السجائر


Profile Image for Eka Sari.
3 reviews16 followers
January 31, 2015
Awalnya saya antusias mendapatkan buku ini. Buku ini sudah sejak lama saya incar. tapi setelah membacanya, kok saya merasa buku ini biasa saja ya. Tak ada yang "wow". Alih-alih ingin menceritakan kehidupan pengusaha kretek dengan latar sejarah tapi malah unsur sejarahnya kering kerontang. Padahal judul bukunya punya potensi untuk mengupas sejarah budaya kretek yang mendalam. Gaya bahasanya standar. Isi cerita lebih condong memaparkan persaingan pengusaha kretek yakni Soeradja dan Idroes Moeria. Mungkin ekspektasi saya terlalu tinggi terhadap buku ini. Saya berpikir bahwa buku ini mengupas sejarah dan budaya secara mendalam tapi ternyata tidak. Jeng Yah, tokoh yang menjadi gadis kretek dalam buku ini diibaratkan titisan Rara Mendut yang air liurnya membuat gurih kretek lintingannya. Saya cukup senang Babad legenda Rara mendut sedikit disinggung. Mungkin saja penulis mengilhami kisah Nitisemito dan menjadikan tokoh buta huruf dan pengusaha kretek menjadi karakter tokoh Idroes Moeria dalam buku ini. Tapi saya greget bukan main mengapa penulis tidak mengupas sejarah kretek dan budayanya secara dalam dan tuntas. Andai saja penulis menjelaskan rokok telah menjadi kebutuhan hidup kaum pribumi Indonesia khususnya di Jawa sejak tahun 1600 saat Raffles berkuasa. Meskipun tembakau bukan tanaman asli di Jawa tapi ternyata dikenalkan oleh Portugis dan dikembangkan Belanda. Andai penulis menceritakan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa bersama wafatnya Panembahan Senapati, berdasarkan naskah Jawa, Babad Ing Sangkala (1601-1602). dan banyak lagi. Saya rasa buku ini akan jauh lebih baik. Sekian.
Profile Image for yun with books.
717 reviews243 followers
September 15, 2022
Kayaknya gue terlalu berekspektasi tinggi dengan buku ini. Gak dipungkiri kalo gue tertarik baca buku ini karena mau diadaptasi menjadi serial Netflix. Plus, buku ini juga bergenre fiksi sejarah. Tapi buat gue, buku ini SERBA NANGGUNG. Hal tersebut yang bikin gue jadi ga "terikat" dengan cerita maupun karakternya.

Gadis Kretek berawal dari cerita tiga bersaudara, yaitu Tegar, Karim dan Lebas yang memiliki tujuan untuk mencari Jeng Yah karena ayahnya yang sekarat selalu memanggil nama tersebut. Lalu, ketika mulai mencari sosok cinta pertama ayahnya tersebut, terkuak misteri sejarah cinta dan kretek (rokok) di Kota M yang tidak diketahui semua orang.

Menurut gue, sayang sekali buku ini serba nanggung. Serta, dari segi pemaparan dialog dan plot dari sudut pandang Lebas juga tidak terlalu menarik. Tujuan cerita yang tidak fokus, antara penjabaran masa lalu kretek di Kota M beserta sejarah kemerdakaan dengan plot Lebas dan kakak-kakaknya yang mencari Jeng Yah.
Sehingga, 80% cerita berfokus dengan plot masa lalu yang menurut gue juga ga begitu kuat. Cerita masa lalu Soeraja (ayah Lebas dll) dan Jeng Yah juga "KALAH TENAR dan KUAT" dibanding cerita Idroes Moeria dan Roemaisa. Alias cerita Idroes dan Roemaisa lebih dramatis dan menarik perhatian daripada tokoh "Jeng Yah" yang sejak awal sudah menjadi tokoh inti pada awal cerita.

Jadi, sepanjang buku gue bertanya-tanya, ini sebenarnya ceritanya ke mana sih? Apa tujuannya? Apa cuma mau menjabarkan sejarah kretek Indonesia? Itu juga menurut gue ga tersampaikan.
So overall, this book was ok... Yup, just ok.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book265 followers
April 11, 2013
Tegar, Karim dan Lebas adalah tiga bersaudara anak dari saudagar pengusaha kretek ternama, Soeraja. Tegar sebagai anak tertua sejak kecil telah dididik untuk menggantikan posisi Romo-nya nanti. Berbeda dengan Lebas, si bungsu yang menyukai seni, tidaklah dipercaya untuk mengurusi perusahaan Romo-nya. Tetapi sewaktu Romo sakit keras dan menyebut-nyebut nama "Jeng Yah" (nama yang membuat ibu mereka marah karena cemburu), ketiganya bertekad untuk mencari Jeng Yah demi memenuhi permintaan terakhir Romo.

Awalnya hanya Lebas yang pergi untuk mencari Jeng Yah. Tetapi kemudian Tegar menyusul (sebenarnya karena dia tidak percaya pada adiknya yang dianggapnya selalu berulah). Tidak lama kemudian Karim pun menyusul. Di antara ketiganya, Karim lebih banyak mengetahui sejarah keluarga berkat kedekatannya dengan Mbah Djagad, eyang mereka. Siapa yang menyangka di balik kisah keluarga ini tersimpan politik dagang rokok kretek yang menyebabkan persaingan antara dua keluarga.

Pembaca kemudian dibawa ke dalam suatu kisah sejarah yang bukan hanya bercerita tentang usaha kretek rumahan, tetapi juga bagaimana rokok kretek ini membangun ekonomi masyarakat di Kota M. Adalah seorang pemuda bernama Idroes Moeria yang memulai usaha kretek-nya dengan membeli tembakau dari seorang saudagar. Dia mulai membuat klobot, kemudian berkembang menjadi klembak menyan, sampai ke bentuk rokok yang sekarang kita kenal. Diawali dengan hanya melinting sendiri (tingwe - linting dhewe) klobotnya dengan menggunakan kulit jagung, sampai membuat rokok beserta saus-nya dengan memakai kertas papier. Yang menarik adalah ketika Idroes mendapatkan pesaing yang tidak lain adalah sahabatnya dulu, Soedjagad. Ketika Idroes membuat klobot dan membungkusnya dengan kertas payung dan diberi merk dagang dengan tulisan tangannya, tidak lema kemudian muncullah klobot milik Soedjagad dengan kemasan serupa. Atau sewaktu Idroes membuat rokok dengan merk dagang "Merdeka", Soedjagad menirunya dengan membuat rokok "Proklamasi". Persaingan antara Idroes dan Soedjagad awalnya dipicu oleh kecintaan mereka pada seorang gadis, Roemaisa. Roemaisa yang memilih Idroes membuat hati Soedjagad menjadi panas. Bahkan ketika Idroes sempat ditahan oleh Jepang, Soedjagad mencoba mendekati Roemaisa yang dikiranya sudah menjadi janda. Untunglah Roemaisa tidak termakan rayuan Soedjagad. Karena ketika suaminya pulang, Roemaisa bisa menunjukkan kesetiannya.

Idroes dan Roemaisa pun mempunyai dua orang anak, sementara Soedjagad dan istrinya mempunyai lima orang anak. Dasiyah anak pertama Idroes ternyata menyimpan minat yang sama dengan ayahnya terhadap rokok kretek. Ketika Dasiyah mencoba membuat lintingan kretek sendiri, ternyata buatannya jauh lebih nikmat daripada semua kretek yang dihasilkan oleh ayahnya. Dasiyah pun dianggap sebagai titisan Roro Mendut, yang karena ludahnya membuat rokok kretek buatannya menjadi bercita rasa tinggi. Dasiyah dan Idroes kemudian mengeluarkan merk terbaru dari pabrik mereka yang diberi nama "Kretek Gadis".

Dasiyah bertemu dengan seorang pemuda yang rajin dan ulet bernama Soeraja. Atas permintaan Dasiyah, Soeraja tinggal dan bekerja di pabrik milik Idroes. Soeraja kemudian menjadi orang kepercayaan Dasiyah, sehingga Dasiyah mengajak Soeraja untuk membuat campuran saus untuk kretek mereka. Saus disini adalah tobacco flavour yang menjadi kunci cita rasa pada sebuah kretek. Dasiyah jatuh cinta pada Soeraja, tetapi Soeraja tidak mau meminang Dasiyah sebelum memiliki usahanya sendiri. Ketika PKI mau memberikan modal usaha bagi Soeraja, Soeraja pun memulai usahanya membuat Kretek Tjap Arit Merah. Malang bagi Soeraja, keterlibatannya dengan PKI justru membuatnya harus menghilang dan meninggalkan Dasiyah.

Buku setebal 284 halaman ini sangat padat, berbobot dan penuh dengan konflik. Walaupun demikian, saya banyak belajar khususnya tentang sejarah rokok kretek di Indonesia ketika membacanya. Seperti awal mula terciptanya rokok kretek yang diceritakan di dalam novel ini. Pada tahun 1880-an hiduplah seorang lelaki bernama Jamari. Suatu ketika Jamari mengalami sesak napas, dan dia mencari cara untuk memasukkan cengkeh ke dalam paru-parunya. Jamhari kemudian merajang cengkeh dan mencampurkannya dengan tembakau kemudian dilinting dengan klobot. Ketika api mulai menyulut dan menghabiskan lintingan itu, terdengar suara kretek-kretek akibat pembakaran cengkeh. Itulah asal mula rokok kretek. Kalau tidak membaca buku ini, mungkin saya tidak akan pernah tahu tentang sejarahnya.

Hal yang menarik lainnya adalah peran perempuan dalam politik dagang rokok kretek seperti diceritakan di dalam buku ini. Jika tidak ada Roemaisa, mungkin Idroes dan Soedjagad tidak akan berlomba-lomba menciptakan rokok kretek terbaik mereka. Jika tidak ada Dasiyah, tidak akan ada formula kretek yang mempunyai cita rasa tinggi. Mengutip endorsement dari Djenar Maesa Ayu pada buku ini,

"novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala menunjukkan kekuatan perempuan atas dunia yang dipikir hanya dikuasai oleh laki-laki; dalam hal ini dunia bisnis dan kretek itu sendiri"


Seorang teman yang juga membaca buku ini mengatakan bahwa buku ini sangat Indonesia. Saya setuju. Sebuah karya sastra seharusnya tidak hanya menampilkan konflik semata tetapi juga mengangkat sejarah dan memasukkannya sebagai nafas dalam sebuah cerita. Membaca buku ini tidak lantas membuat saya ingin mencicipi sebatang rokok kretek, tetapi kalimat demi kalimat di dalamnya telah mampu membangkitkan imajinasi saya akan kenikmatan rokok kretek asli Indonesia. Tidak heran rokok kretek dari Indonesia menjadi terkenal di luar negeri.

Satu hal yang agak mengganggu dalam kisah ini adalah sebutan Kota M. Di saat kota lainnya dituliskan secara jelas (Kudus, Madiun, Magelang, Jogjakarta, Jakarta), Kota M tetap menjadi misteri sampai akhir cerita. Meskipun tertulis di dalam buku ini deskripsi tentang letak Kota M diantara Magelang dan Jogjakarta, hanya memiliki satu jalan utama, dan ada beberapa toko wajik terkenal di kota itu. Saya dengan yakin mengartikan Kota M itu sebagai kota Muntilan.
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
January 8, 2017
Daripada dikatakan sebagai buku yg membahas sejarah kretek di Indonesia, buku ini lebih bisa dikatakan sebagai novel dengan sentuhan sejarah kretek di dalamnya. Mirip dengan salah satu novel favorit gw, Canting karya Arswendo, hanya saja drama keluarga yg ini bukan berbalut perbatikan, namun usaha pembuatan rokok.

Dengan plot yg maju-mundur, kisah Gadis Kretek ini diawali dengan pak Raja, yg seorang juragan kretek, sakit keras hingga disinyalir hendak tutup usia. Saat beliau sekarat, satu nama disebutnya yaitu Jeng Yah. Ketiga anak pak Raja, Tegar, Karim dan Lebas mulai mencari tahu siapakah Jeng Yah itu dan perlahan kisah masa lalu pak Raja, bahkan satu generasi di atasnya mulai terkuak.

Gw menikmati kisah di dalamnya. Meskipun ada sedikit cinta-cintaanya, namun kisah dramanya juga menarik. Belum lagi sisipan kegiatan seorang pengusaha rokok, dari mulai membeli tembakau kualitas baik, cara mengenalinya hingga kisah pembuatan saus sebagai citarasa khas suatu produk rokok kretek. Gw pribadi bukan perokok, tapi lumayan menikmati sisipan kegiatan-kegiatan tersebut. Belum lagi perkembangan jatuh bangun sebuah usaha rokok Idroes Moeria dan Soedjagad yg (dengan baik hatinya) diceritakan dari dua sisi oleh Ratih Kumala, dimana sejatinya adalah musuh bebuyutan. Twistnya juga bagus. Gw pribadi cukup puas dengan buku ini meskipun kisahnya tidak semembekas Canting.

Btw, covernya tjakep pake banget.
Profile Image for ikram.
241 reviews642 followers
June 12, 2020
2/15 buku yang dibaca untuk #BacaLokalkuRC2020

Ekspetasi berbanding terbalik dari realita. Yang saya harapkan begitu mengetahui buku ini memiliki alur maju mundur adalah sebuah perjuangan wanita hebat yang membangun usaha kretek, tapi yang saya dapatkan adalah drama antar keluarga yang ternyata turun menurun. Sedikit kecewa sebenarnya, melihat cover buku yang seolah-olah berkata, "Perempuan bisa juga ngerokok kretek!" dan judul dari buku ini sendiri—tapi karena buku ini memiliki banyak referensi terhadap peristiwa bersejarah, aku berikan bintang tiga. Ceritanya pun mengalir seperti air; sekali baca, susah berhenti.

----

English Review

Cigarette Girl by Ratih Kumala is one of those books that did not meet my expectation. In Indonesia, it's kind of taboo for women to smoke, especially back in the 40s to 80s. So when I discovered this book, I expected it would be more about Jeng Yah and her struggle in building a clove cigarette brand, yet what I got is generational family drama that feels like a soap opera for me. The premise looks promising, but I just can't hide my disappointment.

Therefore, despite my issue with the book, Cigarette Girl is a humorous historical fiction! The story flows in a fun way and I appreciate Ratih for creating such a story!
Profile Image for Wanderbook.
126 reviews41 followers
July 14, 2022
Baca buku ini tanpa ekspektasi apapun tapi ternyata ga bisa berhenti baca sampai selesai. Sebagai penikmat buku misteri, aku suka narasi yang ditawarkan di awal cerita oleh penulis. Pembaca dibuat penasaran dan ingin tahu kisah Pak Raja dan Jeng Yah.

Alurnya maju mundur tapi ga bikin bingung. Jadi tahu banyak tentang sejarah kretek juga. Jujur yg aku suka dr buku ini adalah dua perspektif berbeda dalam memandang satu cerita. Cerita yg kita dapat dari orang A dan orang B, bisa jadi jauh berbeda. Seperti perspektif perselisihan Djagat dan Idries.

Agak ngeri juga gimana rasa iri dan keinginan untuk menang bisa jadi pembakar semangat buat keduanya. Tapi ya overall, aku suka banget buku ini karena ngasih gambaran sempurna kalau hati manusia tuh gak bisa sepenuhnya bersih. Dari masing-masing tokoh utama disini kita jadi tahu kalau dalam diri manusia selalu ada ambisi dan ego.

Seru sekali bacanya!
Profile Image for Katherine 黄爱芬.
2,423 reviews291 followers
April 1, 2021
Hei yo hei yo abis kelar baca buku ini. Antara gregetan plus kesian dgn si Romo dajjal ini hahahaha 😂😂😂😂✌

Historical fiction genre di Indonesia itu jarang banget dibuat, apalagi yg bagus, dan saya gak merasa rugi meluangkan wkt utk membaca buku ini.

Ceritanya dimulai si Romo yg sekarat krn sakit stroke yg sdh bertahun-tahun, dan mengigau memanggil "Jeng Yah" dlm igauannya. Lebas, si anak bontot yg super santuy dan pecicilan berinisiatif utk mencari Jeng Yah ini. Tapi tau² kakak sulungnya jg mau ikutan mencari wanita misterius ini. Dan krn kedua abang adik ini sering berantem mulut, maka Karim, si anak tengah diutus (tepatnya diperintah) Tegar utk ikut dlm perjalanan mrk.

Author pun mulai menceritakan sejarah panjang kretek di Jawa Tengah ini dari masa penjajahan Jepang, ttg perseteruan dua pemuda memperebutkan seorang gadis, Idroes Moeria dan Soedjagat. Dua²nya pemuda ambisius dan ulet dlm mencari inovasi terbaru kretek yg sblmnya pd masa itu yg msh populer adalah klobot. Persaingan mrk terus berlanjut hingga mengisahkan Jeng Yah beranjak remaja dan dewasa, mencintai pemuda kere bernama Soeraja. Sebenarnya aku sdh mencium/menduga gelagat gak beres dari awal, dan sesuai perkiraanku sih jd aku gak terkejut dgn endingnya.

Soeraja itu tipikal bajingan beruntung, walau ulet tapi dia lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Jeng Yah alias si Gadis Kretek jg agak naif dlm hubungannya dgn Soeraja, untung tertolong oleh karakternya yg mandiri. Sayangnya krn novel ini pendek ceritanya, tokoh² sidekick kurang diulas karakter²nya. Walau gaya penceritaan agak avant garde, tapi saya melihat author msh "cari aman" dlm penulisannya, hingga terkesan kurang berani dlm menjabarkan sarkastik dlm politik di thn 1965 itu. Tapi lumayan menohok juga, bhw politik di thn tsb beneran konyol, krn hanya dgn papier warna merah saja sudah dituding PKI.

Dan saya kaget jg ternyata author adalah istri dari Eka Kurniawan, sama² penulis. Tapi saya lebih suka tulisan mbak ini, yg lebih realistis drpd suaminya yg terlalu satir dan magical dlm penulisannya. Selera juga sih, aku gak gitu demen membaca buku yg hrs menduga-duga apa mksd sbnrnya inti ceritanya.
Profile Image for Liliyana Halim.
310 reviews240 followers
August 23, 2021
Selesaiiiii! 🤩🤩🤩 kisah sederhana tapi bermakna. Suka Dasiyah 🤩🤩🤩.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,964 followers
August 22, 2022
Pelajaran sejarah yang menyenangkan malah nggak aku dapatkan di dalam kelas. Melainkan melalui kunjungan ke museum bersama ayah dan novel.

Salah satunya Gadis Kretek.

Semasa kecil, ayah sering mengajak kami pulang ke Kediri--kota kecil tempatnya dibesarkan. Tahu sendiri, kota itu hidup berkat rokok dengan inisial GG. Sejak masuk gerbang kota, semerbak tembakau sudah tercium. Tapi karena di rumah nggak ada perokok, maka bagaimana evolusi rokok bukan hal yg sudah ku ketahui dari kecil.

Ketertarikanku dengan Gadis Kretek bisa dibilang sama dengan banyak orang: novelnya akan dialihwahanakan menjadi tayangan audio visual. Aktornya pun papan atas: Dian Sastro dan Putri Marino. Maka dengan paham, "baca dulu, nonton kemudian" aku memberanikan diri membaca novel ini.

Aku sudah ancang-ancang jika ternyata butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Nyatanya nggak. 50 halaman pertama novel ini benar-benar mengalir. Mengajakku mencari siapa itu Jeng Yah & apa hubungannya dengan Pak Raja. Melalui alur maju-mundur, aku diajak berkenalan dengan evolusi kretek yang sekadar "tingwe"--linting dhewe--hingga seperti saat ini.

Bagiku, Gadis Kretek malah penuh dengan suasana eksperimen yg didorong oleh keingintahuan & semangat pantang menyerah alih-alih berisi kisah cinta. Aku suka bagaimana Jeng Yah begitu berani beropini & "memimpin" pabrik. Bisa dibayangkan, pada tahun 50-60an, perempuan Jawa masih sering nggak didengar.

Gadis Kretek berhasil aku selesaikan dalam 2 hari saja saking serunya kisah industri rokok dari masa ke masa.
Profile Image for RaLav.
89 reviews21 followers
July 15, 2022
Aku lumayan jarang baca historical fiction. Kali ini aku beruntung dapet persediaan buku di ipusnas bertemakan kretek atau rokok kretek di Indonesia. Cover buku ini gak asing bagiku, jujur udah minat banget untuk baca buku yang satu ini sejak lama. Blurb yang ada di bagian belakang buku ini berhasil ngebuat aku penasaran tentang siapa Jeng Yah itu sebenarnya. Kini terjawab sudah sebenernya Jeng Yah itu siapa sih?

Di sisi lain, sebelum aku ngebahas buku ini. Fakta yang mengejutkan aku adalah penulis buku ini: Ratih Kumala adalah istri dari penulis terkenal Indonesia, Eka Kurniawan! Aku sendiri belum pernah baca buku beliau, mungkin suatu saat kali ya aku akan coba baca.

Novel ini mengisahkan pencarian 3 bersaudara, anak dari Pak Raja yang mencari sosok bernama
Jeng Yah yang terus-terusan diigaukan oleh sang ayah. Bukunya menurutku cukup page turner, aku sampe relain nyelesain buku ini tengah malem. Padahal kamarku udah gelep tanda mau tidur, tapi saking penasaran endingnya akhirnya buku ini pun aku selesaikan. Selain ceritanya yang menarik, alur buku ini juga maju mundur. Jadi ada kalanya kita dibawa ke masa lalu yang menceritakan hidup Jeng Yah dan di masa depan yakni perjalanan 3 bersaudara yang kadang tidak akur ini mencari Jeng Yah.

Ending dari buku ini menyajikan sedikit plot twist yang mungkin akan membuat kalian terkejut. Sedikit cerita, sebenernya aku udah tahu plot twist buku ini. Bukan karena nebak tapi karena review salah satu orang di ipusnas yang gak pake warning tiba-tiba langsung ngasih tahu plot twistnya. Jujur kesel banget tapi yah mau gimana lagi. Pelajaran buat yang mau nulis review, tolong kalau mau nulis spoiler dikasih warning dulu yaa! Untungnya plot twist yang udah aku ketahui ini tetap memberikan kesan tersendiri saat dibaca langsung.

Di buku ini aku juga belajar beberapa hal tentang rokok kretek, mulai dari bahan hingga cara pembuatannya yang menurutku cukup detail. Salut untuk Mbak Ratih Kumala yang sudah melakukan penelitian untuk buku ini.

Karakter favoritku di buku ini tentunya Jeng Yah. Kerja keras, kemandirian serta kecerdasan wanita yang satu ini bisa banget dicontoh, inilah yang ngebuat aku suka dengan tokoh ini. Apalagi perbuatan Jeng Yah yang cukup savage pada hari pernikahan Soeraja berhasil memunculkan gelak tawa bagiku.

Terakhir, untuk kekurangan buku ini sebenernya lebih ke typo yang kadang bermunculan dan penerjemahan bahasa jawa yang ditaruh di akhir bab (harusnya di setiap halaman aja, karena aku gak ngerti bahasa jawa😭😭).



Terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini recommended banget buat yang mau baca historical fiction Indonesia. Rate-ku buat buku ini 4.4/5⭐
Profile Image for Missy J.
629 reviews107 followers
April 2, 2022
I've seen this book cover so many times but I didn't know that the writer Ratih Kumala is Eka Kurniawan's wife! I knew that Eka was married to a writer but I didn’t know it was her. Anyway, I really enjoyed this book. It’s suspenseful and funny. Half of the book is set in contemporary Indonesia, while the other half takes the reader through colonial times, Japanese occupation and the 1965 anti-communist massacre. Ratih Kumala said that this book was inspired by her Javanese family's history. While reading this book, I could easily imagine such a story happening in real life.

We meet Lebas, a spoiled, rich kid from Jakarta. His family's wealth comes from selling one of the most popular "kretek" (clove cigarette) brands in the country. Lebas was sent to study in California, where he was first enrolled in film-making and then switched to music. He has two older brothers - Tegar, the eldest is viewed as the responsible one who will take over the business, and Karim, the middle child and mediator between Tegar and Lebas, who cannot agree on anything.

Right at the beginning of the book, their father Romo is dying. He already had several strokes and nobody is expecting him to get better. What is most distressing for the family is that Romo keeps repeating a name over and over again - Jeng Yah. The brothers don’t understand. The mother breaks down in tears and will not tolerate talking about Jeng Yah. It becomes clear to everybody that Jeng Yah must have been Romo's ex-lover. Why is the father calling another woman's name in his dying moments? The brothers decide to investigate this, which takes them to a tiny village in Central Java.

That's when we go back in time. We meet Idroes Moeira and Soedjagad, arch enemies who compete against each other in the cigarette market and try to win the heart of the same woman. As a non-smoker, it was eye-opening to read how cigarettes developed into kreteks. I didn't know that part of the marketing of kreteks was in the false assumption that cloves inside cigarettes makes smoking "healthier" and can even help against asthma (this is completely false of course!).

Two gruesome parts of history have a radical influence on these two men's destiny - the Japanese era and the 1965 massacre. Kumala writes about these times without being too heavy. It feels like family history. Very personal and sometimes very different from official accounts. I enjoyed reading this part of the book the most. It made me think of how important it is to listen to oral history while the people who experienced it are still alive. Unfortunately, history gets rewritten by those in power. But if we piece the different parts together, we can have a better understanding where we come from and how we can avoid repeating the same serious mistakes. This book was definitely written with the Indonesian audience in mind. I hope that it gets read by a lot of young people.
Profile Image for Tirani Membaca.
126 reviews2 followers
October 12, 2023
Intuisiku bener, ini tentang perempuan hebat yang jatuh cinta sama laki-laki pengecut dan pengkhianat. Hadeh, Soeraja, you really didn’t deserve Jeng Yah.

Aku suka banget sama alurnya yang mengalir aja, maju-mundur tapi rapi. Cara Kak Ratih cerita juga asyik banget. Aku juga suka gimana keluarga Pak Juru Tulis hingga Jeng Yah digambarkan sebagai keluarga yang… apa ya, kurasa mereka tuh orang-orang “benar” aja.

Ending dari novel ini tuh ya Allah, bikin kesel banget. Ganyang dan enyahkan kapitalisme! ✊

Sampe sekarang aku masih kagum setengah mati sama Dasiyah ini, edan. By the way, kalo pada tertarik untuk baca-baca soal kretek lainnya, bisa tuh baca Sang Raja - Iksaka Banu. Bakal seru banget kalo sebelum atau sehabjs baca Gadis Kretek, baca Sang Raja deh 😁
Profile Image for melmarian.
400 reviews135 followers
November 17, 2023
Gadis Kretek / Cigarette Girl 🚬 oleh Ratih Koemala

Toean dan Njonja, akhirnja saya membatja boekoenya dan kemoedian menonton Gadis Kretek di Netflix.
Oentoek fiksi sedjarah, boekoenya termasoek ringan, boektinja saya bisa menamatkan dalam empat hari sadja. Baik boekoe maoepoen adaptasinja mempoenyai kekoeatan sendiri-sendiri.

Di boekoe lebih banjak ditjeritakan tentang kisah tjinta orang tua Jeng Yah: Idroes Moeria dan Roemaisa, dan awal persaingan Idroes Moeria dan Soedjagad. Bahwa Soedjagad mentjoeri ari-ari Dasiyah tidak ditjeritakan di dalam adaptasinja; itoelah jang mendjadi tanda bahwa soeatu hari nanti Soedjagad akan mengalahkan Idroes Moeria. Tidak djoega ditjeritakan bahwa Jeng Yah diseboet sebagai titisan Rara Mendhoet; idhu-ne legi (air loedahnya manis) sehingga tingwe (linting dhewe) boeatannya soenggoeh nikmat rasanja. Hoeboengan Tegar-Karim-Lebas djoega lebih banyak dieksplor di dalam boekoenja: di adaptasinja diganti dengan adegan-adegan Lebas bersama Aroem mengorek masa laloe menoeroeti keinginan Soeraja agar mereka mentjari Jeng Yah.

Namoen, menoeroet saya boekoe dan adaptasinja sama-sama bagoes. Semoea pemain berakting dengan loear biasa dan penggarapannya poen tjantik. Ditoenjang poela dengan remake lagoe lama milik Chrisye Kala Sang Soerya Tenggelam. Boekoenya lebih terasa djenaka dibandingkan dengan adaptasi jang djauh lebih emosional dan sedih. Oentoek ending alias adegan penoetoepnya, saya lebih menyoekai versi boekoe. Namoen setjara keseloeroehan bagoes.Karena itoe, toean dan njonja, saya bisa bilang bahwa saya menikmati kedoeanya. Semoga toean dan njonja djoega demikian!
Profile Image for Lembusora.
60 reviews3 followers
March 7, 2017
Two first chapter disappointed me a lot. Afterward, I can feel that Eka Kurniawan (her husband) play a big part on Ratih Kumala's writing. Pretty sure about it. And so glad as well.

Ratih told the story very well, better than most so called best selling writers, but still behind her spouse.

Understandable why this book deserve a place in Indonesian literacy history, since cigarette plays a great part of Indonesia history (and economy)
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
May 3, 2012
"Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin"

Demikian kalimat label peringatan itu kerap kita baca di kemasan rokok atau iklan-iklan rokok, namun jangan kaget kalau ternyata label peringatan itu tertera di sebuah novell Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Mengapa? Apakah dengan membaca novel ini maka kita akan ketagihan untuk merokok?

Novel dengan cover sangat menarik sekaligus provokatif berupa ilustrasi etiket rokok bergambar seorang gadis berkebaya yang sedang memegang rokok ini memang kaya dengan wangi tembakau, bukan karena kertasnya beraroma tembakau namun karena kisahnya berlatar belakang keluarga pengusaha pabrik rokok kretek.

Kisah Gadis Kretek dimulai saat Soeraja, pemilik pabrik kretek Djagad Raja, kretek nomor satu di Indonesia sedang sekarat. Dalam menanti ajalnya, ia menggigau-ngigau sebuah nama wanita “Jeng Yah” nama wanita yang seharusnya tak lagi boleh diucapkan dari mulut Soeraja yang telah beristri dan memiliki tiga orang anak yang telah dewasa. Nama itu kontan membangunkan hantu masa lalu yang selama ini dikubur rapat-rapat oleh Soeraja dan istrinya dan hal ini tentu saja membuat kegundahan di keluarga Soeraja.

Tegar, Karim, dan Lebas, tiga putra Seoraja sekaligus pewaris kerajaan Kretek Djagad Raja berusaha mencoba mencari tahu siapa Jeng Yah yang diigaukan oleh ayah mereka. Ketika akhirnya diketahui bahwa ayah mereka ingin bertemu dengan Jeng Yah mereka segera berangkat pergi ke pelosok Jawa, berlomba dengan malikat maut untuk mencari Jeng Yah sebelum ajal menjemput sang Ayah

Pencarian ini akhirnya membuat mereka menyelusuri sejarah Kretek Djagad Raja, perjuangan sang ayah mendirikan kerajaaan kreteknya dan kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, si Gadis Kretek yang yang menemukan ramuan istimewa rokok kretek dari sari cengkeh yang menempel di tangannya dan ludah manisnya saat ia melinting rokok khusus untuk ayahnya

Tak hanya itu, dalam novel ini juga dikisahkan bagaimana ketatnya persaingan antara Idroes Moeria, ayah Jeng Yah dengan Soejagad, teman masa kecilnya yang bermula dari persaingan memperebutkan seorang gadis hingga terus berlanjut ke persaingan bisnis kretek dengan intrik-intrik yang tak terduga.

Persaingan antara Seodjagad dengan Idroes Moeria terus berlangsung, namun usaha Idroes Moeria dengan merek dagang Kretek Gadis tetap berjaya apalagi setelah Jeng Yah dan Soeraja ikut mengelola pabrik Kretek Gadis. Kedekatan Jeng Yah dengan Soeraja dalam mengelola Kretek Gadis menumbuhkan cinta diantara mereka sayangnya ketika mereka hendak menikah, peristiwa G30S memporak-porandakan cita-cita mereka.

Seperti diungkapkan di awal review ini, buku ini sarat dengan aroma tembakau. Dari awal hingga akhir cita rasa tembakau, cengkeh, rokok kretek, mewarnai novel ini. Tampaknya novel ini dipersiapkan dengan riset yang cukup matang. Dengan lancar penulis mengurai segala sesuatu tentang kretek, sejarah kretek, cara membuat kretek mulai dari penggunaan daun jagung yang dikeringkan/kolobot lalu diisi tembakau plus cengkeh, klobot klembak menyan, hingga akhirnya menggunakan papier (kertas pembungkus campuran tembakau).

Dengan fasih, penulis juga mengisahkan tahap-tahap pembuatan rokok kretek secara manual dari masa ke masa, mulai dari penggunaan tembakau dan cengkeh hingga akhirnya ditambah dengan saus (tobacco flavor) yang menjadikan rokok kretek semakin beraroma dan nikmat. Di novel ini juga kita akan mengetahui kalau dahulu kala rokok kretek juga dijual di toko obat karena cengkeh yang terkandung dalam rokok dipercaya dapat menyembuhkan penyakit asma.

Selain tentang kretek yang melatari kisah cinta Gadis Kretek dan persaingan antar pengusaha kretek, novel ini juga dilatari oleh peristiwa paska G30S. Saat dimana partai komunis dan semua yang tersangkut di dalamnya ditangkap, ditembaki, dan dibuang ke sebuah kali.

Lewat tokoh Soeraja kita akan melihat bagaimana Soeraja yang buta politik akhirnya menjadi korban keganasan penduduk dan aparat yang marah terhadap PKI. Saat Soeraja membutuhkan modal untuk mendirikan pabrik kretek ternyata Partai Komunis di kotanya bersedia memberikan modalnya. Naluri bisnisnya menggerakkannya untuk membuat kretek cap Arit Merah dengan pemikiran rokok itu akan banyak diminati orang khususnya pendukung Partai Komunis yang saat itu merupakan partai besar dan resmi yang tentunya memiliki massa yang sangat banyak.

Soeraja tidak berpolitik ia hanya menjalankan bisnisnya, namun ia tak luput dari kejaran aparat dan warga yang menuduhnya antek komunis untungnya ia dapat melarikan diri, tak hanya dirinya, Idroes moria dan si Gadis Kretek ikut ditangkap dengan alasan pernah mempekerjakan Soeraja . Dan yang lucu, salah satu alasan ditangkapnya Idroes Moeria adalah karena rokok Kretek Merdeka produksinya menggunakan kertas papier berwarna merah,warna PKI, padahal Indoes membuatnya jauh sebelum peristiwa G30S dan warna merah ia pakai untuk mengingatkan perokoknya akan bendera merah putih.

Yang membuat novel ini menarik adalah bagaimana penulis menggabungkan berbagai latar dan kisah seperti sejarah kretek, kisah cinta, intrik persaingan bisnis, pertarungan harga diri, plus sisi budaya dan historis yang melatarinya dengan porsi yang tepat dalam rangkaian kalimat-kalimat yang sederhana sehingga semua unsur tersebut menyatu menjadi sebuah rangkaian kisah yang membuat kita betah untuk terus membacanya hingga akhir.

Namun sayangnya, ada beberapa hal yang menjadi kekurangan dalam novel ini. Kisah Gadis Kretek sendiri dan eksplorasi karakter Gadis Kretek yang menjadi judul novel ini saya rasa kurang tergali dan kurang mendominasi, masih kalah porsinya dibanding kisah Idroes Moeria (ayah Gadis Kretek) dan Soeraja (kekasih Gadis Kretek) sehingga dibanding sang Gadis Kretek kita akan lebih banyak melihat kisah kegigihan Idroes Moeria dan Soeraja dalam meraih cinta dan menjalankan pabrik kreteknya. Andai saja porsi kisah dan karakter Gadis Kretek lebih ditonjolkan tentunya novel ini akan semakin menarik.

Selain itu novel ini juga sangat lemah dalam hal editing, beberapa typo masih ditemui di sana sini. Ada penulisan nama tokoh yang tertukar, kejanggalan logika cerita , ketidak konsistenan penggunaan ejaan lama dan sebagainya. Saya tidak akan mengungkapkannya secara detail di sini karena kejanggalan atau kesalahan-kesalahan yang saya temui hampir sama dengan apa yang ditemukan oleh Fajar S Pramono yang dengan sangat teliti telah menemukan berbagai kejanggalan dalam novel ini di reviewnya ( http://www.facebook.com/notes/fajar-s... )

Terlepas dari berbagai kekurangan dan kejanggalan tersebut, walau tak sempurna novel ini tetap memberikan kesan tersendiri bagi saya dan patut mendapat perhatian bagi pembaca tanah air. Novel ini bukan hanya soal kasih tak sampai, kuatnya cinta, cemburu buta, kejamnya intrik bisnis, dan soal harga diri yang terungkap lewat kisah dan karakter tokoh-tokohnya, melainkan sebuah novel yang dalam kapasitasnya berusaha merekam sejarah perkembangan rokok kretek lengkap dengan sisi historis dan budayanya.

@htanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com

@htanzil

Profile Image for Shaimaa شيماء.
572 reviews364 followers
September 6, 2023
رواية من أندونيسيا.... جميلة الحقيقة بغض النظر عن موضوع السجائر الذي هو العامل الرئيسي الذي تدور حوله الأحداث والكلام في حب التبغ ورائحته.. حتى أن المرء يود لو أنه يجرب هذا
الإحساس😀😀😀

لغة الرواية سلسة وحبكتها قوية ومشوقة وتعاقب الأجيال المار بمراحل معينة في تاريخ أندونيسيا ينقل الإنسان إلى أجواء بعيدة ومختلفة.

قصص الحب والغدر يرويها الأبطال بوجهات نظر مختلفة مما يجعلك تعيد النظر وتفكر أيهم الأصدق، ولكن النهاية كانت جميلة ومبهجة للغاية.

لفت نظري اختلاط الإسلام في هذه البقاع البعيدة بالكثير من الموروثات الوثنية.
Profile Image for Abdullah Hussaini.
Author 23 books80 followers
January 8, 2024
Saya habiskan buku ini dalam masa dua hari. Barangkali kerana penceritaannya lancar dan mudah. Buku ini membuatkan kita hendak bergegas mencari kretek dan menyedutnya dalam-dalam diselang-seli dengan teh poci.
Profile Image for Op.
375 reviews125 followers
January 5, 2024
Karena cukup suka dengan seriesnya (ehm oke dengan Lebas tepatnya), ekspektasiku agak naik untuk novelnya. Tapi efek akhirnya adalah aku malah gak paham kenapa seriesnya dibikin selebay itu padahal novelnya lugas dan sederhana. Benar-benar seperti dua karya yang berbeda (klo gak mau dibilang si series kayak fanfictionnya novel ini aja).

Ide ceritanya menarik dengan penjelasan kretek yg beragam. Alurnya benar-benar cepat dan semacam deskripsi saja. Rating 2.5 sih tp hatiku (cailah) memilih mundur ke belakang aja.
Profile Image for Qayiem Razali.
891 reviews85 followers
December 18, 2023
36 - 2023

Gadis Kretek - Ratih Kumala

Pertama tama, saya tidak menonton lagi episod episod yang disiarkan di Netflix. Sebabnya akaun tiada. Haha. Salah satu sebab membaca karya ini adalah kerana sedang 'trending' katanya.

Setakat ini karya negara seberang yang saya baca cumalah daripada penulis TL, AH, dan HES. Ini kali pertama membaca naskhah dari penulis lain. Apa yang boleh saya simpulkan, naskhah ini mudah dihadam jalan ceritanya. Bermaksud, penggunaan katanya tidak terlalu membuatkan kita berfikir. Barangkali disebabkan alih bahasa mungkin.

Separuh buku yang pertama, novel ini bercerita tentang kisah perjuangan dan cinta Idris dan Roemaisa, ibu dan bapaknya Dasiyah, Jeng Yah. Separuh buku kedua menyambung kisah Dasiyah dan cinta hatinya, Soeraja. Bagi saya ceritanya menarik. Iyalah, bagaimana penghasilan seputung rokok terjadi. Ditambah lagi menggunakan latar zaman perang. Membuatkan naskhah ini terasa begitu asyik dibaca.

Kesimpulannya, novel Gadis Kretek, nukilan Ratih Kumala dan diterjemah bawah penerbitan Biblio Press merupakan sebuah karya historikal yang boleh dihadam oleh semua.
Profile Image for Desti Astiani.
123 reviews13 followers
April 28, 2021
Buku ini keren banget. Bukan cuma menceritakan cara membuat klobot, tingwe, dan sigaret kretek. Tetapi juga bahan utama, racikan isinya yang disebut saus, berbagai jenis pengemasan, iklan, sampai akhirnya dipasarkan.

𝙺𝚁𝙴𝚃𝙴𝙺 𝙶𝙰𝙳𝙸𝚂
𝚂𝚎𝚔𝚊𝚕𝚒 𝚒𝚜𝚎𝚙, 𝚐𝚊𝚍𝚒𝚜 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚃𝚘𝚎𝚊𝚗 𝚒𝚖𝚙𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚞𝚗𝚝𝚓𝚞𝚕 𝚍𝚒 𝚑𝚊𝚍𝚊𝚙𝚊𝚗 𝚃𝚘𝚎𝚊𝚗. (𝙿.151)

Saat aku membaca buku yang bergenre historical fiction ini aku sempat Googling karena penasaran dengan bentuk klobot, merek kretek yang agak aneh karena menurut cerita banyak sekali nama merek rokok kretek asal-asalan comot & gambling di pasaran. Begitu juga dengan gambar pada kemasannya aku pun penasaran. Apakah benar sama dengan yang tergambarkan pada setiap bab cerita ini? Lagi-lagi aku lupa kalau ini hanya fiksi.

Kemudian, aku pun jadi teralihkan baca secara singkat cerita tentang Rara Mendut yang sering kali dikaitkan dengan Jeng Yah. Gadis cantik yang dapat membuat kretek tingwe sendiri kemudian dijilat pakai air ludahnya & dapat membuat rasa kretek menjadi lebih enak. Hingga menghadirkan nuansa romance yang tak kalah menarik.

Pesan yang kudapat dari cerita ini adalah tentang kegigihan & persaingan usaha yang seharusnya tidak dilakukan secara curang seperti mengambil ide & pencurian formula produk orang lain.
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
July 16, 2020
Setelah membaca Gadis Kretek, saya merasa seperti inilah buku Indonesia yang saya suka. Apalagi buku ini merupakan historical fiction yang merupakan jenis buku kesukaanku. Ternyata sebelumnya aku sudah punya buku Ratih Kumala Tabula Rasa yang belum dibaca. Membaca buku ini membuatku bergairah untuk membacanya. Sebenarnya buku ini aku baca karena termasuk ke dalam long list Khatulistiwa Literary Award 2012. Menurutku Gadis Kretek memang layak berada disitu.

Diceritakan secara sederhana namun mengena. Sejarah kretek dan kisah percintaan yang ada didalamnya benar-benar menarik. Tentu saja untuk menulis seperti ini membutuhkan riset yang pasti sudah dilakukan oleh Ratih Kumala.

Tidak heran jika buku ini bisa jadi peraih KLA 2012.
Profile Image for Vioo.
121 reviews12 followers
March 26, 2022
it was ok. fun, light and simple.
menurut gue pemaparan sejarah kreteknya kurang berasa. ya emang dijelasin dari klobot, tapi penyampaian ceritanya jadi lebih terkesan drama romansa dan intrik bisnis keluarga yg settingnya produsen kretek.
over all, it was such a nice tale
roemaisah best girl!!!
jeng yah best girl!!!
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
April 29, 2023
Sejarah rokok kretek dikisahkan dengan drama percintaan, babakan sejarah nasional, juga konflik keluarga yang khas. Ditulis dengan begitu mengalir, penuh aroma kretek serta memunculkan rasa tenang dalam pikiran sebagaimana suasana kota M, tempat muasal Kretek Gadis yang sempat jaya.

Profile Image for t s a r.
374 reviews17 followers
December 18, 2023
“Kita semua pernah di titik terendah. Kalau orang menyebutnya luka, saya menyebutnya pelajaran.”


Gadis Kretek ★★★★

Trigger warnings: assault, communism, drug use (mentioned), miscarriage, mild sexism.

Sejatinya, Gadis Kretek bukanlah sebuah novel yang berkutat pada romansa, tetapi merupakan novel fiksi sejarah yang menceritakan tentang dua keluarga perintis kretek yang lahir pada masa-masa mendekati kemerdekaan, di mana eksistensi mereka saling berhubungan dalam hal asmara, dendam, harga diri yang tinggi, dan rasa ingin melakukan pembuktian diri.

Dibuka oleh rasa ingin tahu anak bungsu atas nama asing "Jeng Yah" yang diutarakan oleh Romo Soeraja, Lebas melakukan pencarian sosok tersebut secara impulsif, ditemani oleh kakak-kakaknya Tegar dan Karim yang awalnya ragu-ragu. Kumala kemudian menggunakan struktur road trip sebagai pembuka cerita kilas balik ke puluhan tahun sebelumnya, di mana sudut pandang beralih ke pasang surutnya perjalanan bisnis kretek keluarga pasangan Idroes Moeria dan Roemaisa, serta persaingan sengitnya dengan mantan sahabat bernama Soedjagad, yang pengaruhnya turun hingga anak-cucu, termasuk kakak beradik Djagad Raya ini.

Penulisan masa sejarah dalam fiksi bukan merupakan sesuatu hal yang mudah, adanya kebenaran sesuai dengan sejarah sebetulnya tetap diperlukan, walaupun tidak ada ekspektasi bahwa seluruh unsur harus serupa. Hal ini mendorong penulis untuk melakukan riset yang mumpuni sebelum menyisipkan ke dalam karyanya, seperti yang dilakukan Kumala dalam menggambarkan situasi Indonesia dari tahun-tahun mendekati kemerdekaan hingga memasuki masa pengganyangan komunisme pada era 60an. Apiknya penulisan Kumala dalam menggambarkan periode-periode tersebut mampu mengaitkan kondisi para karakter dengan masing-masing periode secara wajar dan tidak dipaksakan. Sehingga, cerita yang disuguhkan seolah seperti biografi yang dituliskan oleh salah satu karakter pada masa itu, yang kemudian disampaikan kepada tokoh-tokoh modern seperti Lebas, Karim, dan Tegar.

Tidak hanya itu, riset serupa juga terdapat pada penggambaran Kumala atas unsur-unsur maupun proses produksi kretek. Istilah-istilah seperti "saus", "sari kretek", dan "etiket" menyebar di berbagai paragraf, dengan masing-masing memiliki penjelasan atas kegunaannya dalam membuat sebuah kretek yang berkualitas, dengan bahasa yang lugas dan masih dapat dipahami oleh pembaca. Riset tersebut juga diperluas dalam diversifikasi kretek-kretek yang disebut, sampai adanya ilustrasi pendamping, yang membentuk persepsi seolah produk ini nyata adanya dan bukan sebuah nama merk yang fiksional.

Banyaknya karakter yang disuguhkan jelas akan memiliki dampak yang domplang dalam pengembangan karakterisasinya—artinya, tidak semua karakter akan diberikan porsi perkembangan yang sama. Dalam halnya Gadis Kretek, Kumala hanya menitikberatkan pengembangan personalitas pada karakter-karakter kunci, seperti Idroes Moeria, Roemaisa, Dasiyah, Soeraja, dan tiga kakak beradik Djagad Raya.

Idroes Moeria dan Soeraja, contohnya, menampakkan ciri khas tabiat laki-laki yang dijunjung di bawah tempa patriarki, dengan adanya paralelisme yang lekat, yaitu latar belakang mereka yang datang dari kelas bawah dan "nekatnya" mereka untuk menjalin asmara dengan perempuan yang memiliki status sosial-ekonomi atas; perbedaan yang dominan terletak pada pandangan mereka atas wanita-wanita yang menjadi pasangannya—Roemaisa menjadi partner hidup dan bisnis yang setara bagi Idroes Moeria, sedangkan Soeraja tidak pernah lepas dari pandangannya sebagai manusia inferior di bawah Dasiyah yang justru berpengaruh kepada sisi tamak dan obsesinya untuk membuktikan diri sebagai laki-laki.

Karakterisasi Dasiyah sendiri dapat dianggap sebagai "perpanjangan" dari potensi karakter Roemaisa (ibunya) yang lebih matang, dikarenakan memiliki lebih banyak adegan yang memperlihatkan kelihaiannya. Keduanya sesama jelmaan feminitas yang utuh, khas perempuan-perempuan Indonesia pada zaman itu, tetapi, mereka memiliki mentalitas dan kecerdikan yang luar biasa tinggi.

Kumala tidak memberikan kesempatan sedikit pun untuk Dasiyah dan Roemaisa direndahkan dalam konteks cerita, adanya pertentangan secara tersirat namun menusuk yang membela eksistensi mereka, baik dari kedua karakter itu sendiri, maupun karakter lain atau lewat narasi. Hal ini membentuk sebuah anomali yang unik dan patut diapresiasi, terutama menimbang latar tempat dan waktu yang digunakan oleh Kumala, di mana independensi dan autonomi perempuan belum se-progresif masa sekarang.

Walaupun memiliki porsi skenario yang lebih sedikit dari karakter-karakter masa lampau, hal ini tidak membuat pengembangan pada karakter-karakter modern. Tegar, Karim, dan Lebas sesama memiliki stereotipe yang sesuai dengan posisi mereka dalam sebuah hubungan saudara; Tegar sebagai anak sulung yang menjadi panutan untuk meneruskan bisnis dari sisi pabrik hingga korporasi, Karim sang anak tengah yang menjadi penengah konflik dan pengekor anak sulung, lalu Lebas sebagai si bungsu yang ingin bebas dari ekspektasi bisnis keluarga. Perjalanan road trip untuk mencari keberadaan Jeng Yah membuka banyak curahan dan pengakuan yang masing-masing pendam, yang Kumala gunakan untuk memperbaiki hubungan mereka dan meluruskan kesalahpahaman yang sekian lama menetap. Adanya momen-momen manis disuguhkan yang menggambarkan keharmonisan mereka, serta bagaimana sebetulnya pribadi mereka tidak jauh berbeda dari satu sama lain.

Sayangnya, untuk ukuran alur cerita yang memiliki kompleksitas cukup tinggi, resolusi yang disampaikan oleh Kumala terbilang terlalu sederhana dan meremehkan, seolah hanya dengan pemberian materiil, sudah cukup menuntaskan sejarah panjang dan luka lama yang ada. Sehingga, beberapa benang merah cerita tidak mampu ditutup dengan baik, atau meninggalkan kepuasan bagi pembaca. Secara struktur penulisan sendiri, kalimat terakhir pada novel dituliskan canggung, menggantung akhir cerita sehingga terlihat seperti belum selesai. Resolusi yang simpel tersebut mungkin seharusnya dapat diimbangi oleh kalimat penutup yang betul-betul menutup cerita dan meninggalkan kesan berarti.

Akhir kata, Gadis Kretek merupakan novel yang cukup impresif, baik dalam tema yang diangkat, maupun dengan alur cerita yang disuguhkan, meskipun sedikit banyaknya kekurangan yang dirasa dalam beberapa bagian cerita. Hadirnya novel karya Ratih Kumala ini menunjukkan kekuatan sastra Indonesia yang puitis dan juga berani dalam bertema. Bagi pembaca yang gemar genre fiksi sejarah dengan paduan romansa, novel ini cocok direkomendasikan.
Profile Image for sissi tommo.
57 reviews1 follower
July 1, 2023
Sarat akan bahasa dan kebudayaan Jawa. Tapi meskipun saya sendiri bukan keturunan Jawa, saya masih bisa mengerti karena ada penjelasan arti dan footnotenya, meskipun saya kira footnotenya sangat tidak efisien karena terletak di halaman belakang setiap chapter. Awalnya saya berekspektasi tinggi terhadap buku ini karena buku ini digadang-gadang memiliki alur cerita yang bagus dan juga buku ini cukup populer di booktweet terlebih buku ini diangkat menjadi serial di salah satu media online berbayar. Tetapi, saya tidak merasa ada sesuatu yang wow banget dari buku ini. Alurnya maju mundur dan mudah ditebak. Latar yang berpindah pindah juga membuat saya tidak mengerti ke arah mana sebenarnya buku ini berjalan.

Sudut pandang Lebas juga menurut saya kurang menarik, lebih bagus melalui sudut pandang Karim. Pada awal chapter, saya tertarik dengan tentang kisah cinta Idroes dan Roemaisa. Dan menurut saya kisah mereka lebih kuat dari pada kisah Jeng Yah dan Soeraja yang seharusnya jadi TOPIK UTAMA dalam buku ini. Padahal sejak awal saya sudah penasaran dengan kisah Jeng Yah. Tetapi sampai akhir buku sama sekali tidak memuaskan rasa penasaran saya terhadap sosok Jeng Yah. Tapi overall, buku ini masih layak dibaca sebagai bagian dari sejarah kretek.

-sissi
Profile Image for Femmy.
Author 34 books539 followers
February 12, 2013
Kalau berbicara soal rokok kretek, aku selalu teringat pada cerita ayahku tentang pengalamannya yang unik tentang rokok ini. Waktu itu dia sedang di Amerika, duduk-duduk di sebuah kafe atau klub jaz, menikmati sebatang kretek. Lalu, tahu-tahu seorang bule menghampiri dan berlutut di sampingnya, melebarkan tangan seolah memohon. Orang bule itu bertanya, "Apakah Anda dari Indonesia? Apakah itu rokok kretek?" Rupanya demikianlah enaknya kretek Indonesia.

Itulah gambaran tentang kretek yang tersimpan di benakku saat aku pertama melihat novel ini, yang kemudian kubeli karena masuk 5 besar Khatulistiwa Literary Award 2012. Dan ternyata, tidak mengecewakan. Ada banyak sekali unsur yang kusukai dalam novel ini.

Cerita ini memuat berbagai detail tentang rokok kretek yang dikisahkan dari sudut pandang orang-orang yang berkecimpung di bidang itu, sehingga membuatku, yang tidak pernah merokok, merasa seperti memasuki dunia baru dan ikut menyelami perasaan orang yang menyukai kretek. Perkembangan kretek ini juga ditautkan secara apik dengan sejarah Indonesia, mulai dari zaman Belanda, Jepang, kemerdekaan, PKI, hingga masa kini. Inilah jenis novel sejarah yang kusukai. Unsur sejarah dan informasi dianyamkan ke dalam cerita dengan mulus, tidak membosankan.

Aku juga selalu suka membaca tentang tokoh seperti Idroes Moeria, yang berjuang untuk meraih sukses dalam bidang yang disukainya. Impiannya, rencananya yang disusun rapi, kemauannya merintis dari bawah, kerja kerasnya, upayanya untuk terus berinovasi.

Hubungan antara tokohnya pun menarik untuk dibaca. Senang rasanya membaca hubungan suami-istri seperti yang mewujudkan cintanya dengan saling membela pasangan. Misalnya, . Menyenangkan pula membaca hubungan ayah-anak seperti Idroes dan Dasiyah yang penuh kasih sayang.

Dari segi alur, cerita ini juga membuatku sedikit penasaran tentang Jeng Yah. Mula-mula penasaran kapan tokoh ini muncul, lalu penasaran soal apa yang terjadi antara Jeng Yah dan Soeraja. Kemudian, menurutku akhir ceritanya pun pas. Penyelesaian yang layak untuk konflik yang disajikan.

Aku senang bisa menemukan satu lagi penulis Indonesia yang kusukai. Kapan-kapan aku akan membaca karyanya yang lain.
Profile Image for Sharulnizam Yusof.
Author 1 book95 followers
January 29, 2020
1.
Saya baru tahu, kretek adalah sejenis rokok dalam kumpulan yang berlainan dengan rokok yang sering kita lihat. Saya dulu menyebutnya rokok saja. Antara kretek yang terkenal (bagi saya) ialah Semporna A dan Gudang Garam.

2.
Kretek asalnya hasil "ciptaan" orang Indonesia sendiri yang pada asalnya mahu mengubat penyakit asma.

3.
Nama "kretek" itu pula berasal dari bunyi cengkih (antara bahan kretek) meletus yang dibakar api ketika mahu menghidupkannya.

4.
Buku ini menceritakan tentang 3 generasi daripada 2 keluarga yang berseteru turun-temurun. Kedua-dua keluarga ini terlibat dalam bidang pembuatan kretek, cinta tiga segi, ikhtiar mahu meneruskan kehidupan melingkari Kota M, Kudus dan Mangelang.

5.
Cerita dimulakan dengan permintaan akhir sang bapa, yang mahu anaknya mencari seorang perempuan yang bernama Jeng Yah. Permintaan yang menimbulkan rasa cemburu sang isteri, dan tanda tanya kepada 3 orang anak.

6.
Demi menunaikan hasrat ayah yang bakal dijemput ajal; Tegar, Karim dan Lebas berpetualang mencari Jeng Yah yang misteri.

7.
Walaupun penggunaan bahasa Jawa yang "pekat" dan perkataan Indonesia yang agak janggal pada pembacaan saya, Gadis Kretek menyajikan jalan cerita yang membuatkan kita leka untuk membaca muka surat seterusnya. Plot twistnya, unsangkarable!

8.
Penulis Ratih Kumala, yang juga merupakan isteri kepada penulis terkenal Eka Kurniawan, bukan penulis biasa-biasa. Beliau seorang yang sangat bertanggungjawab dalam penulisannya, sehinggakan proses pembikinan kretek dan omblot (rokok daun kita) diterangkan dengan jelas. Tabik!

9.
Gadis Kretek menyentuh banyak perkara. Tentang hubungan keluarga, kegigihan, kecekalan dan kesetiaan wanita, ego dan azam seorang lelaki, serta keberanian merebut peluang memperbaiki diri. Mantap!

10.
Plot ceritanya cantik, tidak meleweh dan tidak pula terlalu ringkas. Sedang elok.

Buku yang sangat sedap untuk dibaca!
Displaying 1 - 30 of 1,505 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.