Kegiatan melamun sambil menulis lagu sore hari di pinggir sungai buat Djabrik ternyata mengungkap sebuah kejadian ganjil. Nuansa, sahabat yang dirindunya, muncul tiba-tiba dari rumpun bambu. Ia membawa pesan peringatan bahwa makhluk-makhluk dari alam gaib akan terlepas dari kurungan dan membawa malapetakan bagi desa.
Suatu malam, saat Djabrik manggung, kerumunan penonton joget gila-gilaan dengan tawa kesetanan membuyar. Mata mereka putih, pupil hitamnya tersembunyi di balik rongga mata. Auman-auman macan serta lolongan hewan merobek atmosfer malam. Kesurupan massal terjadi di depan Djabrik.
Djabrik menengok ke pohon dekat panggung. Di sana ada sepasang mata pipih bercahaya dengan taring panjang melayang. Djabrik nggeblak!
Haditha M. adalah penulis novel, skenario, yang kini juga tengah belajar membuat ilustrasi. Kegemarannya terhadap genre fantasi dengan napas klenik selalu tertuang di setiap karyanya. Dia pun tak ragu memasukkan unsur-unsur binal bilamana dirasa pas menguatkan nuansa cerita. Karya-karyanya yang pernah terbit sebelumnya adalah Karung Nyawa (Bukune), Dalam Kurung (Bukune), dan Tapak Setan (Elexmedia). Dia bisa disapa di media sosial dengan handle @hahahaditha
Judul : Dalam Kurung Penulis : Haditha Penerbit : Bukune Tebal buku : 250 hal Tahun terbit : 2019
Blurb
Kegiatan melamun sambil menulis lagu di pinggir sungai ternyata mengungkap sebuah kejadian ganjil buat Djabrik. Nuansa, sahabat yang dirindunya, muncul tiba-tiba dari rumpun bambu. Ia membawa pesan peringatan bahwa makhluk-makhluk dari alam gaib akan terlepas dari kurungan dan membawa malapetaka bagi desa.
Suatu malam, saat Djabrik manggung, kerumunan penonton joget gila-gilaan dengan tawa kesetanan membuyar. Mata mereka putih, pupil hitamnya tersembunyi di balik rongga mata. Auman-auman macan serta lolongan hewan merobek atmosfer malam. Kesurupan massal terjadi di depan Djabrik.
Djabrik menengok ke pohon di dekat panggung. Di sana ada sepasang sepasang mata pipih bercahaya dengan taring panjang melayang. Djabrik nggeblak.
Peringatan Nuansa menjadi kenyataan.
[Review]
Buku ini mengisahkan tentang sepasang sahabat bernama Djabrik dan Nuansa yang mendadak terpisah oleh jarak dan waktu.
Suatu hari, Djabrik bertemu kembali dengan Nuansa dengan cara yang aneh dengan pesan yang tak kalah anehnya. Nuansa berusaha memperingati Djabrik.
Dalam Kurung juga mengisahkan tentang pertualangan Nuansa dan juga Tri Darma yang begitu memukau dan misterius. Pertualangan Nuansa mungkin tidak seseram milik Tri Darma dimana tubuhnya berkali-kali dirasuki oleh mahkluk jahat. Namun, berkat bantuan Abah, Tri Darma mampu melewati itu.
Ini juga kisah romansa antara Djabrik dan Nuansa, meski pada akhirnya Djabrik menjatuhkan hatinya kepada sosok gadis bernama Elsa yang mengalami kejadian mistis sejak dirinya memutuskan bekerja.
Buku dengan genre horror kental yang dibubuhi romansa dan persahabatan ini membuatku merinding dan merasakan apa yang sedang dialami para tokoh.
Mungkin karena efek membaca buku di malam hari di tengah keheningan ditemani buku horor lokal karya kak Haditha.
Kalau ditanya, apa bagian favoritku dari buku Dalam Kurung ini?
Bagian favoritku itu terletak di halaman 86. Bagi yang memiliki bukunya bisa kalian buka. Bagi yang tidak, aku sedikit akan bekisah mengenai ada apa di halaman 86. "Bawa aku pergi dari sini! Bawa aku ke Meikarta! "
Well, kalimat yang terlontar dari mulut Tri Darma yang tengah dimasuki jin usil kiriman orang.
Kenapa harus Meikarta? 😂 Harusnya tadi aku begitu serius membaca, ketika beralih kebagian itu, aku sedikit merasa lucu dan tertawa (?)
Lalu, di halaman 153 ketika khodam sang macan putih berubah menjadi laki-laki tampan yang membuat Tri Darma malu karena tersipu. Ihiy wkwk. "Tidak perlu malu. Aku bukanlah manusia. Aku hanya menuruti maumu supaya aku mewujud seperti manusia agar kau nyaman. Aku tetaplah macan. Tidak memiliki hasrat atau hal-hal lain selayaknya manusia. "
Asliii ketika baca kalimat yang diucapkan macan berwujud lelaki tampan yang memberi kehangatan kepada Tri Darma membuatku merasa tersipu malu kayak Tri 😂✌. Apalah aku.
Terus di halaman 202 yang membawa-bawa Narnia di dalam percakapan Nuansa dan Tri Darma. Ah hampir kelupaan! Aku paling suka ketika membaca pertualangan Nuansa di Riau dan bagaimana Nuansa berusaha memperingati Djabrik.
Juga pengalaman Tri Darma yang membuatku bergidik ngeri di tengah malam yang sunyi. Merinding banget, deh!
Apa yang aku harapkan dari buku ini?
Aku berharap, karakter di buku ini Iebih kuat lagi. Karena emang ketika baca, aku kurang tau gimana karakter Nuansa ✌. Kayak blurrr gitu. Atau sengaja di buat misterius?
Terus, aku berharap bukunya ada bookmark. LOL. Karena aku terpaksa menggunakan printilan sticky notes untuk menandai kapan terakhir baca yang biasanya aku gunakan untuk scene favoritku.
Terus penggunaan font diperbaiki wkwk. Terutama di bagian Djabrik yang membaca surat Nuansa. Astaga wkwk! Itu bikin mata berkunang-kunang dan terlalu rapat wkwk. Belum lagi paragraf yang super panjang, seenggaknya bisa jadi 2-3 paragraf biar mata gak parno duluan.
Masih masalah font, ada di halaman 95. Penggunaan font disana membuatku bingung. LOL.
Sebelum-sebelumnya, ketika Djabrik membaca cerita Nuansa yang dituliskannya di buku menggunakan font yang di italic, lalu tiba-tiba saja satu kalimat dimana font tidak di italic dan masih satu paragraf dengan cerita Nuansa. Lalu kalimat berikutnya di italic lagi. Jadi, aku berharap mendapatkan kejelasan wkwk.
Itu buat aku bingung ✌. Apakah kalimat itu bagian dari cerita Nuansa? Atau bukan? Atau ini kesalahan? Hm
Aku berharap pendapatanku mengenai itu benar dan sesuai yang ingin disampaikan penulis 👌.
Terakhir, aku berharap buku ini lebih tebal lagi haha. Bukan bermaksud apa-apa. Cuman aku gak rela deh berpisah sana buku ini. Ihiy!
Aku masih butuh penjelasan mengenai kemana macan putih dan macan loreng, serta siapa yang menjadi pemenang? Macan putih? Atau loreng? Atau bakal ada sekuelnya? 😜
Lalu, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan ke penulis. I mean, kenapa nama karakter bukunya Djabrik? Biasanya para penulis berusaha membuat nama karakter terlihat keren. Bukan bermaksud Djabrik gak keren loh, ya 😌. Dan ini indonesia bangett.
Unik sih, Djabrik. Mungkin ini adalah buku pertama yang menggunakan nama 'Djabrik' sebagai karakter bukunya sejauh yang aku baca.
Lalu, Djabrik kan punya band, nih. Nah, salah satu teman band-nya bernama Bowo. Iniii buku ini di tulis setelah Bowo viral atau gimana nih, kak Haditha?
Terus nih, aku penasaran dari mana sih kisah ini bisa muncul sehingga bisa sampai ke tanganku dalam versi cetak? Terinspirasi dari mana?
Karena aku akui, ide kak Haditha ini antimainstream, dan langka banget. Sampai ketika membaca, kok bisa sih kepikiran buat cerita ini?
Lalu, kenapa cover bukunya merah? 😂 Ini ada alasan tertentu atau gimana sih, kak? 😂😂😂
Eh, btw pertanyaanku udah dijawab melalui youtube, lho!
Kisah Djabrik, Nuansa, Elsa, dan Tri Darma ini luar biasa. Satu buku dengan kisah bergenre horor, romansa, persahabatan dan sedikit misteri yang membuat dugaan dan prasangka di benakku.
Aku suka dengan gaya bahasa kak Haditha. Enggak terlalu baku, dan gampang dipahami. Menggunakan sudut pandang ketiga serba tahu. Dekskripsi setting ceritanya luar biasa detail.
Aku sarankan jangan membaca buku ini malam hari jika kamu tidak memiliki nyali, tapi silakan membaca di tengah malam jum'at jika kamu uji nyali.
Feel buku ini bener-bener sampe ke aku. Aku ngerasain banget yang namanya merinding, sedikit kikuk dengan suara disekitar, dan sedikit parno setelah membaca buku ini.
Dalam Kurung merupakan buku pertama karya Kak Haditha yang aku baca, namun tanpa segan aku merekomendasikan buku ini kepada kalian pecinta horor!
Buku genre horor lokal gak kalah keren dengan terjemahan, kok! Buku ini adalah salah satu buktinya.
Buku ini bisa dibaca umur 13+ karena so far aman-amannya, dengan sedikit efek membuatmu ketakutan dan merasa lebih peka karena takut ada yang mengawasi 😂😂.
Dalam Kurung adalah sebuah novel klenik yang unik. Tidak hanya judulnya yang terkesan ambigu, kisahnya pun teramat fantastis. Betapa tidak, meskipun kental oleh nuansa horor dan kerap mencekat, tokoh-tokohnya memiliki karakter penuh warna: optimis, pemberani, gigih, romantis, bahkan juga sedikit konyol dan humoris
Tidak seperti novel horor pada umumnya, dunia dalam kisah ini begitu luas dan dalam. Sangat terasa penulisnya benar-benar matang ketika menyajikannya ke hadapan pembaca. Aku tak menyangka kalau ide mengenai Semesta Watukayu dan Anak Pohon ternyata bersumber dari Yggdrasil, sang Pohon Kehidupan dalam Mitologi Norwegia. WOW!!!
Satu hal juga yang kusukai dari novel ini adalah nama-nama tokoh dan berbagai istilah yang sanagat Nusantara. Belum lagi adegan pertempuran antara makhluk gaib juga begitu detil deskripsinya dan membuatku bernostalgia kembali dengan beberapa komik silat tanah air tempo dulu.
Kalau kamu penyuka kisah-kisah klenik, horor, misteri dan bahkan fantasi, maka buku ini sangatlah kurekomendasikan untuk kamu baca! Dijamin kamu bakalan terpesona dan penasaran dengan novel-novel penulisnya yang lain.
3.8/5 Buku yang bercerita tentang horor mistis klenik, terdapat beberapa cerita diawal yang mulai saling berkaitan di tengah cerita. Lumayan seru buat diikuti buat yang suka cerita mistis klenik.
the build up was so good & every chapter ended in a way that made me eager to read the next, sadly the climax wasn't done well and had an unsatisfying ending.
the A and B plot were both interesting with a twinge of horror-thriller mixed into it, yet the way the 2 plots finally intersect felt rushed and seemed like a last ditch effort by the writer. the supernatural occurences weren't really well explained (even though multiple attempts were made, yet at a point starts to feel repetitive and doesn't really give a conclusive answer to any questions the readers might be having).
overall a genre that feels like a breath of fresh air in modern indonesian literature that leaves readers wanting for more in the future.
Selesai sebagai teman perjalananku pulang pergi ke Yogya. Awalnya kukira ini bergenre horor, tapi makin ke belakang menurutku genre fantasi lebih cocok buat cerita ini. Fantasi supranatural gitu kali ya. Hmm, kalo Harry Potter itu fantasi tentang dunia sihir. Novel ini fantasi tentang dunia klenik dan demit. Fantasi dengan kearifan lokal.
Konsep tentang watukayu dan pohon piramida ini rumit banget. Jujur aja aku agak sulit memahami, tapi nggak tahu kenapa seru aja gitu diikutinya.
Tokohnya lumayan banyak. Sepanjang baca aku penasaran apa keterkaitan tokoh Djabrik dan Nuansa, Elsa, lalu Tri Darma. Eh, ternyata semuanya memang berperan (padahal awalnya kukira Elsa nih cuma gebetannya Djabrik setelah ditinggal Nuansa). Alurnya cepat, dan sempat agak bingung di tengah karena ternyata pake alur flasback. Tapi pas udah paham langsung nyatu gas pol sih. Gaya bahasa dan peceritaannya luwes dari satu tokoh ke tokoh yang lain. Dan sebagai side topic, aku suka pergolakan perasaan Djabrik soal Nuansa dan Elsa.
Kalo pengin coba baca buku lokal dengan genre yang nggak biasa, Dalam Kurung ini bisa jadi pilihan menarik.
Honestly, I didn’t expect the story to be this interesting — but OH, IT IS! It’s my very first horror (?) novel, and it’s incredibly engaging.
The character descriptions are clear and straight to the point, which makes it easy to stay focused and keep reading. The way the author writes about spirituality really brings vivid daydreams to life.
Lagi serius2 baca nih ya, malah ada bagian: "Bawa aku ke Meikarta!" Seketika ilang fokus dan ngguyu ngekel rak uwes2 😂😂😂 Itu jin apa tukang promosi sih? Lol. Gajelas banget. Wkwkwk. Aku ingin tinggal di MimiKarta 😂😂😂
Untuk genre horror ini memang menarik😭🥲. Dibaca siang bolong pun masih kerasa🥲. Cuma ada 2 bagian yang menurut aku serasa kepotong walau mungkin memang cara nulisnya gitu. Tapi harusnya dikasi penjelasan lebih lanjut. Anyway ini seru