“Penistaan! Pelecehan! Tidak bisa kita biarkan wabah ganas terjadi di ultah proklamasi ke-73. Aku akan laporkan pelecehan perempuan dan penghinaan pada rakyat jelata ini kepada Komnas HAM. Penistaan berbasis kesenjangan ekonomi ini harus disikat, diberantas, dimusnahkan, dimutilasi di negeri yang beradab ini! Awaaasss!!! (Ketawa) Takut ya! (Ketawa) Ha-ha-ha!” * Cerpen-cerpen Putu Wijaya dalam buku ini sebagian besar belum pernah dipublikasikan. Semuanya tergolong cerpen yang baru ia tulis di usia tua. Meskipun demikian, seperti biasa, dalam cerpennya, Putu tak pernah absen dan tak pernah lelah mengekspos persoalan-persoalan di negeri ini. Ia juga masih kerap menyentil keganjilan yang terjadi pada tahun 65. Agaknya, Putu memang berkarya untuk melawan.
Putu Wijaya, whose real name is I Gusti Ngurah Putu Wijaya, is an Indonesian author who was born in Bali on 11 April 1944. He was the youngest of eight siblings (three of them from a different father). He lived in a large housing complex with around 200 people who were all members of the same extended family, and were accustomed to reading. His father, I Gusti Ngurah Raka, was hoping for Putu to become a doctor, but Puti was weak in the natural sciences. He liked history, language and geography.
Putu Wijaya has already written around 30 novels, 40 dramas, about a hundred short stories, and thousands of essays, free articles and drama criticisms. He has also produced film and soap-opera scripts. He led the Teater Mandiri theatre since 1971, and has received numerous prices for literary works and soap-opera scripts.
He's short stories often appear in the columns of the daily newspapers Kompas and Sinar Harapan. His novels are often published in the magazines Kartini, Femina and Horison. As a script writer, he has two times won the Citra prize at the Indonesian Film Festival, for the movies Perawan Desa (1980) and Kembang Kertas (1985).
Cerpen-cerpen dalam buku ini kebanyakan membuatku mengerutkan dahi. "Maksudnya apa?" "Hah, gimana?" "Lho, kok bisa gitu?" Bukan karya Putu Wijaya yang kufavoritkan.
Fragmen favoritku adalah "Jprut", memperlihatkan bagaimana orang Indonesia, walaupun katanya sudah merdeka, tetaplah bermental inlander. Harus menjadi bayangan dari kaum kulit putih dahulu, baru deh bisa dianggap benar. Apapun kata bule tentu lebih sahih daripada kata pribumi, maka dari itu kita perlu mengutipnya agar apa yang kita sebut dapat dianggap valid. "Jangankan yang penting, tetek bengek yang kempes pun, kalau sudah ditumpangkan di mulut bule... kalau sudah ngojek mulut orang asing, kita bukan hanya percaya, tapi memberhalakannya... diomongkan sendiri, lewat mulut pribumi, dianggap kentut!" (hal. 170).
Bersyukurlah siapapun yang mampu menjalankan disiplin verifikasi yang ketat terhadap argumen-argumen para bule. Apalagi yang terkait bangsa kita sendiri. Karakter Pak Amat, yang kulihat tepat menggambarkan wong cilik pun sudah melakukannya! Ya, walaupun harus mengambil jalan berputar melalui Ami, anaknya.
Buku Ha Ha Ha adalah buku kumpulan cerpen karya Putu Wijaya. Berisi sembilan judul cerpen. Berjumlah 344 halaman. Diterbitkan oleh penerbit Basabasi.
Cerpen-cerpen Putu Wijaya dalam buku ini sebagian besar belum pernah dipublikasikan. Semuanya tergolong cerpen yang baru beliau tulis di usia tua. Meskipun demikian, seperti biasa, dalam cerpennya, Putu tak pernah absen dan tak pernah lelah mengekspos persoalan-persoalan di negeri ini, juga masih kerap menyentil keganjilan yang terjadi pada tahun 65.
Dari kesembilan cerpen yang ada di buku ini, semua tokoh utama dibuat sama: Pak Amat dan Bu Amat. Mereka tinggal di sebuah komplek perumahan dengan beragam permasalahan yang ada, dari mulai urusan politik, tentang ketidakadilan, kehidupan rakyat kecil dan pejabat, memberhalakan segala apa yang diucap oleh orang bule, tentang sudut pandang prestasi dalam negeri, juga tentang kebebasan dan kemerdekaan.
Cerpen yang paling berkesan bagi saya adalah Eng Ing Eng, bahkan dari kalimat pembuka cerpen ini saja sudah membuat saya tertarik, "Manusia boleh bertekad untuk mempertahankan apa yang diyakininya baik. Namun, waktu dapat merecoki, mengubah segala sesuatu yang semula pas menjadi bermasalah." Cerpen yang membahas tentang kebebasan dan kemerdekaan dibalut dengan situasi dan kondisi para tokoh utama yang memasuki usia senja. Gejolak dan konflik yang muncul di masa tua. Bagaimana cara mereka menyeimbangkan diri untuk tetap menjaga hubungan yang baik sebagai suami istri.
Secara keseluruhan saya suka buku ini walau ada beberapa bagian baik dari segi alur cerita maupun gaya tulisan yang kadang bikin saya bingung dan harus mengulang bacaan. Namun terlepas dari itu, saya senang dipertemukan dengan buku ini, sepertinya saya akan merindukan Pak Amat dan Bu Amat, keluarga yang lucu, realistis, dan penuh dengan filosofi.
Terima kasih Bapak Putu Wijaya atas karyanya, telah menulis buku yang bagus ini, juga kepada penerbit Basabasi. Semoga kelak saya berkesempatan bertemu kembali dengan karya lainnya.
Kumpulan cerpen tentang keluarga pak amat yang kocak, dengan seluruh warganya, wakil rakyat, calon bupati, prof. Bule, pengacara, tukan bakso semuanya.. pokoknya njeprut.. ah.. semua itu cuma ada di negara wakanda. Wkwkwk
Ha Ha Ha karya Putu Wijaya merupakan sekumpulan kisah fiksi yang menyoroti tingkah pongah dari politikus yang serakah dan menempuh banyak cara supaya segala urusannya lancar dan menguntungkan pribadinya. Selain itu, cerita-cerita pada buku ini sepertinya juga wujud dari protes penulis kepada penguasa yang dengan sewenang-wenang selalu mengecilkan rakyat kecil.
Buat saya, novel ini berhasil menyampaikan gambaran dari bobroknya sistem kenegaraan yang sungguh memperlihatkan ketidak adilan. Namun, mirisnya rakyat kecil justru tidak diberikan ruang yang mumpuni untuk menyampaikan ketidaknyamanannya.