Bukunya tipis. Hanya 120 halaman, itupun sudah termasuk lampiran. Isi pokoknya sendiri hanya terdiri dari tiga bab, barangkali tidak sampai 60 halaman. Bab I membahas lada sebagai tanaman dan barang dagangan. Bab II membahas lada dalam angka. Bab III membahas lada, perdagangan, dan pemerintahan.
Biasanya kalau orang mendengar kata rempah, dia akan membayangkan Kepulauan Maluku dan Banda. Juga jika ditanya rempah-rempah yang berasal dari Kepulauan Maluku dan Banda, maka akan dijawab lada. Padahal tempat tumbuh tanaman lada yang paling baik terletak di sebelah barat Nusantara. Penghasil lada terbesar di Indonesia dari dulu hingga sekarang adalah Lampung.
Kalau sedang butuh bacaan singkat demi mengejar Goodreads challenge, boleh lah membaca buku ini. Informasi yang ada di dalam buku singkat, padat, dan jelas, tetapi tidak rinci. Hanya sekadar cukup memberitahu kita. Barangkali setelah membaca buku ini justru pembaca akan penasaran dengan lada dari sebelah timur Nusantara karena ini yang kurang dibahas di dalam buku. Sudah sedari awal Swantoro terfokus pada premis "penghasil lada utama itu sebenarnya dari sebelah barat Nusantara". Jika setelah membaca buku ini kalian menjadi penasaran, bolehlah untuk melanjutkan bacaan ke buku-buku sejarah lainnya terkait lada di Nusantara.
Buku kecil yang menyenangkan. Sangat memberikan gambaran tentang perdagangan lada dan dinamika ekonomi abad ke 17 silam.
Lada, atau kita sering menyebutnya sebagai merica, punya sejarah yang panjang sekali. Sampai saat ini pun, Indonesia masih termasuk menjadi salah satu produsen lada terbesar di dunia. Kondisi yang kurang lebih tidak banyak berbeda sejak abad ke-17 silam, fokus utama buku ini.
Walaupun buku ini banyak berkutat ke data-data penjualan dan juga catatan-catatan rekap dagang dari VOC, tapi narasi yang dibangun tidak lantas membuatnya jadi jenuh. Malah, dari buku ini, aku belajar betapa kontrol Kompeni Belanda sudah begitu mencengkram baik para pedagang maupun penguasa lokal di masa itu. Begitupun juga para penguasa lokal yang juga memanfaatkan kehadiran VOC untuk mengukuhkan kekuasaannya.
Ambil contoh bagaimana Sultan Banten sampai begitu rela memberikan hak monopoli perdagangan kepada Kompeni demi mendapatkan bantuan pasukan untuk menghancurkan pemberontakan di Banten.
Jangan dikira urusan monopoli adalah hal sepele. Ia mematikan kuasa negara untuk bebas berdagang dan mencari peluang keuntungan ekonomi baru dan menyerahkan kuasa itu sepenuhnya kepada pihak VOC. Secara efektif, mematikan kemandirian negara tersebut.
Begitu besarnya pengaruh lada sampai-sampai ia menentukan tumbuh kembangnya suatu negeri di masa silam. Lewat buku ini, data-data kuantitas perdagangan, harga-harga, dan laporan catatan perdagangan, diubah menjadi satu narasi cerita yang menarik.
Perdagangan rempah-rempah, khususnya lada, tidak akan bisa dilepaskan dari sejarah Nusantara. Bukankah lada adalah salah satu alasan bangsa Eropa melakukan ekspedisi hingga akhirnya sampai ke Nusantara?
Di buku ini P. Swantoro memaparkan tentang bagaimana lada menjadi komoditas utama perdagangan saat itu. Bagaimana VOC berebut kuasa perdagangan dengan para raja di Nusantara.
Dari data dan interpretasi kuat yang disajikan di buku ini, setidaknya kita jadi dapat memahami sejarah perdagangan rempah-rempah yang dilakukan para pedagang Eropa dan pedagang di Nusantara. Dan betapa sangat besarnya keuntungan yang didapat oleh VOC dari perdagangan lada ini.
Untuk ukuran buku yang tipis, sudah cukup informatif (meski kurang detail dan lengkap). Fakta bahwa lada yang merupakan komoditi dari rempah yang banyak dicari-cari menimbulkan adanya ketimpangan perjanjian antara pihak Eropa (VOC) dengan pedagang Nusantara di masa itu (yang tentunya merugikan pedagang). Sedikit membosankan karena nonfiksi, makanya memerlukan waktu yang agak lama menyelesaikan buku ini.
Walaupun buku ini tipis tetapi memberikan informasi perdagangan lada jaman kolonial Belanda dan di bagian lampiran terdapat surat perjanjian antara kerajaan yang di Indonesia dengan VOC yang sangat berat sebelah
Bagus, tapi nanggung, tentang detail penjelasannya, dan beberapa infonya terasa kurang tergali. Keterangan footnote yang diletakkan di belakang buku sedikit menyulitkan bagi yang membacanya via digital.
Buku yang memberikan gambaran umum terkait perdagangan lada di nusantara hingga eropa. Sayangnya, pemberian sudut pandang yang kurang dan terasa berat sebelah.