Membahas psikologi pernikahan suami-istri, tahapan dan periode dalam pernikahan, peran dan tanggung jawab suami-istri, masalah-masalah seputar psikologi rumah tangga, dan sebagainya.
Buku ini saya putuskan membelinya saat membaca rekomendasi dari salah seorang teman instagram, yang lumayan saya percayai mengenai review. Selain memang covernya yang kece ya. . Awalnya, saya mengira buku ini akan banyak membahas tentang dunia psikologi pernikahan yang mendalam seperti karya Ustadz Fauzil Adzim, Cahyadi Takariawan dll. . Tapi ternyata ekspektasi saya salah. Buku ini, lebih banyak membahas hal-hal yang perlu dipersiapkan menjelang pernikahan yang ringan dan dasar. Lebih cocok dibaca untuk para singlelillah yang sedang 'hijrah'. . Eh tapi ~ bukan berarti buku ini tidak bagus ya. Tetap kok, segudang manfaat bisa diserap dari membacanya.
Seperti pentingnya pendidikan pra nikah, mengenai memilih pasangan lewat media social, faktor ketahanan keluarga, dan materi lainnya, yang lagi-lagi saya sampaikan, semua dikemas dengan penjelasan yang sangat-sangat dasar.
Beberapa poin penting yang dibahas dalam buku ini :
- Perencanaan dan Pernikahan dalam keluarga - Pentingkah pendidikan pra nikah? - Memilih jodoh era milenial - Cinta dalam pernikahan - Mengelola konflik dalam pernikahan dan keluarga - Selingkuh di era digital
Dll ..
Pada intinya, dari buku ini bisa disimpulkan, bahwa pernikahan itu tak semudah dan melulu indah seperti yang ditampilkan akun akun pembawa badai baper di sosmed, sang istri berlari, sang suami mengejar, sambil saling tertawa, diiringi sound ‘Ana uhibbuka fillah’. Tidak pemirsah, tidak 🤭
Nikah itu ibadah penuh pahala, maka ujian dan cobaannya juga pastilah besar, perlu memiliki jiwa yang tangguh, mental yang kuat, serta ilmu yang mumpuni, agar bisa mengarunginya dengan baik, hingga sampai pada pelabuhan Ridhanya Allah.
Sejauh ini saya tetap lanjut membaca buku ini karena desainnya meriah 😍 didominasi warna hijau serta di selingi kartun suami dan istri di beberapa halaman.
HiHi malu nih ketahuan baca buku tentang pernikahan. Kesannya lebay ya? Tidak keren? Atau terlalu konvensional? Hmm kalo menurut aku nih yang lebih lebay, tidak keren dan konvensional itu yang pergi ke suatu tempat tanpa tahu rute yang bakal dilewatinya seperti apa. Selamat! Kamu akan tersesat. Kalo sampe pun pasti di perjalanan tadi sangat melelahkan kan? Ya ampun jahat banget yaa tulisannku. Maaf maaf bukan begitu. Buat kamu yang ternyata sudah menikah dan belum sempat belajar, selalu tidak ada kata terlambat untuk belajar kok. Ayo belajar terus. Hoho sumpah ya. Malu banget nih, soalnya temen temen tuh tau aku join seminar pra-nikah aja pada ngecie-cie in coba. Padahalkan itu tandanya sedang bersiap, mengumpulkan bekal dan cari jodoh juga. kali aja ada yang cakep di seminar. Hihi Intinya sih gini, aku melihat pernikahan itu adalah salah satu hal yang besar, complek dan seumur hidup- mati. Harus berfikir dari banyak sudut pandang. Ga bisa tuh memiliki ekspektasi bahwa setelah menikah tuh hidup akan berubah seperti fairy tale Disney. Heiii kamu bukan Princess. All fairy tales’ happily ever ending is doesn’t exist lads. Be conscious this is journey. Lanjut ke ulasan buku ya. Sebetulnya dalam memilih buku untuk persiapan pernikahan init uh maju mundur terus. Karena ingin membeli buku penulis luar yang banyak direkomendasikan tapi sayangnya di Indonesia tidak diterbitkan. Menimbang penulisnya dan daftar isi bukunya. Aku mantap membeli dan membaca buku “psikologi penikahan”. Tentu saja tidak keliru. Hal hal terkait penikahan dibahas, dari perencanaan pernikahan, keluarga hingga mempertahankan ketahanan keluarga. Ada lima ilmu yang harus dipelajari untuk menghadapi pernikahan: 1. Ilmu agama Ini sangat penting sekali. Agama yang baik serta mempraktikan agama yang baik akan menentramkan dan memberikan ketenangan pada keluarga kelak. Ibadah, ahlak, fiqih pernikahan dan hukum pernikahan sangat diperlukan oleh suami dan istri. 2. Ilmu psikologi Penyesuaian diri, komunikasi, manajemen konflik, pengambilan keputusan, dan pengasuhan anak. Stabil secara mental dulu agar nanti hidup dengan orang lain tidak akan merepotkan. Contoh nih. Dalam komunikasi harus asertif. Asertif berarti kemampuan untuk menyampaikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain tanpa bermaksud menyerang orang lain. Ngomong tuh harus jelas. Semisal ada konflik tuh dibicarakan, dinegosiasikan dan dicari solusinya. Jangan hanya sampai ngomong dan diem dieman. Masalah ga bakal selesai sendiri. 3. Ilmu kesehatan Ini nih. Kesehtan reproduksi, kebugaran tubuh dan gizi keluarga.
Contoh buat istri, harus tau makanan yang sehat dan tidak sehat untuk diberikan pada keluarga. Jangan samapi suami ataupun anggota keluarga lain sering sakit karena dikasih makanan tidak sehat. Dokter jaman sekarang tuh mahal loh bund. 4. Ilmu manajemen keuangan Ini sih kepala dari segala kepala. Ilmu tentang finansial serta pengelolaannya. Siapa yang akan mengelola keuangan, apakah uang disimpa oleh istri atau oleh suami. Pembagian untuk biaya makan, ongkos, internet, biaya sekolah, nabung, investasi, dan dana darurat itu harus dipetakan dengan bijak. Bila tidak masalah keuangan akan menjadi bom kerusakan rumah tangga. Terbuka dan jujur tentang keuangan pada pasangan. 5. Social budaya Ini berkaitan dengan adat istiadat dan penyesuain diri dengan lingkungan sosial. Kebiasaan yang dianggap wajar dan tidak wajar di lingkungan pasangan harus kamu ketahui loh. Dia orang sunda, yaa sambal dan lalapan itu hidangan wajib. Tentu saja bukan hanya 5 ilmu di atas. Masih buanyaak banget hal hal soal pernikahan dijelaskan dalam buku ini. Penulisnya merupakan salah satu dosen universitas di Jakarta jadi baca buku ini berasa baca karya ilmiah. Banyak kutipannya dan studi kasusnya. Which is good. Namun saya menemukan beberapa repetisi. Contohnya dalam tahapan dan perkembangan pernikahan. Penulis menyisipkan 2 dari ahli dan 1 dari dirinya. Akan lebih baik bila yang disampaikan itu dari penulis saja namun merupaka hasil review dari para ahli. Sehingga tidak ada penumpukan infromasi yang repetitive. Recommended to read for you who preparing for marriage.
✏️ Hai hai, ada yang suka baca buku psikologi? Aku sih sebenarnya kurang suka, tapi gimana lagi? Ini tentang "pernikahan", sebuah hal ihwal yang selalu terkait dengan setiap kita. Maksudku, kita semua punya keluarga bukan?
✏️ Buku ini menceritakan tentang romantika kehidupan pernikahan. Tentang pentingnya mempersiapkan diri, bagaimana memilih pasangan, berbagai masalah dalam tahap pernikahan, hingga solusi membangun ketahanan dalam keluarga. Semuanya ditulis berdasarkan riset dan pengalaman.
✏️ Sejak awal, aku merasa kurang relate sama buku ini. Mungkin karena minatku pada "pernikahan" belum terlalu tinggi. Tapi sejak di bagian tengah, aku mulai merasakan masalah yang diusung sangat dekat dengan kehidupanku, mungkin juga dengan kehidupan kalian.
✏️ Perceraian karena mental belum siap atau ekonomi yang krisis, kenakalan remaja sebab ketidakharmonisan orang tua, atau perselingkuhan lewat media sosial kurasa menjadi masalah yang sangat nyata dan tidak bisa dibiarkan. Setiap orang harus bahu membahu dalam mempersiapkan diri & terus belajar dalam menjaga keluarganya dari berbagai masalah tersebut.
✏️ Salah satu catatan yang nempel di benakku adalah : "Kriteria yang tak boleh dilupakan dalam memilih pasangan adalah mereka yang baik akhlaknya, jelas visi hidupnya, dan merupakan pribadi yang bertanggung jawab serta sayang pada keluarganya." (Hal. 269)
✏️ Bahasan yang paling kusuka adalah saat menjelaskan pentingnya figur ayah dalam kehidupan seorang anak. Ini sangat berbeda dengan yang biasa kubaca tentang peran seorang ibu. Dengan membacanya, aku jadi berfikir, "menjadi ayah mungkin memang mudah, tapi menjadi ayah yang baik ternyata amat tidak mudah."
✏️" Janganlah berfikir menikah untuk mencari orang yang sempurna, tetapi berfikirlah bahwa dengan menikah, kita menjadi sempurna. " (Hal. 51)
"Tidak ada rumah tangga yang sempurna. Tentu ada saja permasalahan yang terjadi dalam sebuah rumah tangga, misal masalah penyesuaian diri, komunikasi, ekonomi, psikologis, kesehatan, dan lain² sehingga untuk sebuah pernikahan yang langgeng diperlukan pasangan yang tangguh, tahan banting, mampu menyelesaikan masalah, serta memiliki kemampuan dan komunikasi dan adaptasi yang baik."
Bukunya mudah dipahami karena memuat teori psikologi terkait dengan pernikahan yang diperkaya dengan contoh-contoh yang penulis peroleh dari kliennya saat melakukan konseling rumah tangga. Bisa menjadi referensi bagi yang belum maupun sudah menikah.
banyak aspek yang membangun pernikahan. aspek ketahanan kuarga menentukan ketahanan individu dan kontribusinya dalam masyarakat. bukunya bagus untuk dibaca. ada banyak topik yang bisa dibicarakan untuk pasangan yang akan menikah.
Bukunya teoritis sekali hehe, banyak definisi para ahli. Tapi disisi lain, banyak dimasukan contoh kasus yang dialami oleh klien² penulis jadi bagus juga untuk pembelajaran. Saya suka tampilan bukunya menarik sekali.
Buku ini kayaknya berasa saintifik, karena banyak merangkum hasil-hasil penelitian gitu. Pas lihat halaman belakang, wadu referensinya banyak. Isinya cukup & untuk buku kelahiran tahun 2018 masih tergolong update sama kondisi saat ini