Laurensia-istri saya pernah bergumam, "kamu percaya ngga, karya arsitek ataupun pemiliknya akan terlihat dari rumah yang didesainnya. Rumah ini terlihat introvert, dindingnya seperti benteng, pintu masuknya dari samping, taman besar yang ada di sisi selatan termasuk bentuk-bentuk lingkaran yang membingkai taman tidak terlihat dari luar." Laurensia meneruskan. "Kamu adalah orang yang tertutup, orang yang baru kenal tidak akan mengetahui dan tidak akan bisa menebak isi hati, isi pemikiranmu yang selalu dinamis dan berubah-ubah. Namun kalau sudah kenal dekat, diterima, dan bisa masuk ke dalam, perlahan-lahan orang akan diterima dan mengetahui keindahannya, seperti rumah ini." - Realrich Sjarief
Saya perlu berterima kasih atas terbitnya buku ini ke Anas Hidayat, karena darinya saya beroleh kompas dimana saya berada. Yang saya suka dari Anas Hidayat adalah rasa humornya yang tinggi di dalam menulis. Ia tanpa rasa takut menohok, dan tertawa dan saya menginterpretasikan apa yang ia tulis sebagai sebuah pertunjukkan dalang. The Guild ia ibaratkan sebagai sebuah kumpulan memori, cikal bakal munculnya terminologi Sontoloyo (pengangon bebek), ataupun tulisannya yang merupakan tafsir akan cerita akan atensi akan detail yang dibuat oleh Carlo Scarpa dan arsitek - arsitek lain yang kemudian mempengaruhi saya di dalam berkarya. Hal ini ditujukan untuk merefleksikan diri bahwa tidak ada yang baru di dunia ini, kita adalah rajutan dari identitas - identitas yang ada.
Saya menganggap proses desain memang begitu, kita berkembang, dari satu cerita ke cerita yang lain. Di dalam kekuatan berproses di dalam ketiga tahapan, memahami konteks, metodologi desain, dan implementasi kekuatan orisionalitas proses akan muncul. Disitulah ada 3 buah lanjutan setelah The Guild yaitu, Alfa Omega dan Piyandeling. Hal ini kemudian ditutup oleh tulisan Bangkit Mandela supaya arsitek tidak lupa diri untuk ingat terbang dengan bijaksana menjaga sayapnya supaya tidak terbakar matahari.