Jump to ratings and reviews
Rate this book

Arsitektur yang Lain, Sebuah Kritik Arsitektur

Rate this book

342 pages, Paperback

First published July 1, 2011

45 people are currently reading
510 people want to read

About the author

Avianti Armand

23 books167 followers
Avianti Armand adalah seorang penulis, dosen, dan arsitek. Kumpulan puisinya, Perempuan yang Dihapus Namanya (2011), memenangkan Khatulistiwa Literary Award untuk kategori puisi. Buku tersebut merupakan reinterpretasi atas tokoh-tokoh perempuan dalam kitab suci. Avianti telah menulis dua kumpulan cerpen: Negeri Para Peri (2009) dan Kereta Tidur (2011). Cerpennya, "Pada Suatu hari, Ada Ibu dan Radian," terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 2009.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
164 (45%)
4 stars
152 (42%)
3 stars
33 (9%)
2 stars
3 (<1%)
1 star
7 (1%)
Displaying 1 - 30 of 45 reviews
Profile Image for rully.
35 reviews3 followers
November 21, 2011
Jika saja buku ini terbit di awal 2000-an mungkin saya tidak akan di cap sebagai orang aneh atau orang yang berpikiran rumit oleh beberapa teman - teman, yang sebagian mereka bahkan adalah mahasiswa arsitektur.
Saya sempat mengkritik Palembang dengan mengatakan palembang sedang melakukan pembangunan yang tidak berkepribadian menjelang PON XVI tahun 2004, di buku ini Avianti menulis essai dengan judul "sembarang kota". Avianti mengkritik pembangunan di beberapa kota seperti Bandung, Cirebon dan Palembang dengan mengatakan kota - kota tersebut berlomba menjadi "Jakarta yang Lain".

Atau tentang kegenitan orang - orang dengan uang berlebihan untuk membangun rumah dengan ornamen mediteranian yang asal tempel. Avianti menuliskannya dengan bahasa yang lebih ngena "kitsch"

tentang pagar, tentang arsitektur untuk orang miskin, avianti juga menulis tentang romo mangun yang membangun daerah pinggiran jogja menjadi layak huni, hal ini pernah menjadi obrolan di kalangan aktivis kampus awal 2000-an.

Membaca buku ini seperti menemukan kembali teman berdiskusi yang sekarang sudah menghilang dengan kesibukan masing - masing.
Profile Image for Johan Radzi.
138 reviews197 followers
April 21, 2013
Fuhh, baru saja selesai tamatkan buku ini sampai diiringi kopi O dan bayu malam yang sedikit dingin. Ini adalah buku yang ditulis oleh seorang arsitek Indonesia, tentang bagaimana dia cuba mencamtumkan titik-titik Arsitektur dengan hal-hal substans yang mendalam.

Dalam bab "Rumah Tuhan", Avianti menceritakan bagaimana tukang bina memperhalusi Cahaya supaya ia terang diatas dan mewakili 'Tuhan' dirumah ibadat. "Arsitektur Yang Lain" pula memperihalkan seorang arsitek yang cuba dengan upaya membangunkan rumah untuk orang-orang tidak mampu. Tapi barangkali bab "Pagar" lah yang paling memikat, kerana disini beliau cuba terangkan dengan ringkas bagaimana tembok-tembok yang angkuh dan tinggi memperkotak-katikkan kemanusiaan seluruhnya.

Memandangkan aku bukan pelajar Aristektur, masih banyak lagi yang belum aku fahami. Tapi apapun, ia adalah sebuah buku yang berbaloi untuk dibaca.
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
April 20, 2020
Suatu hari saya pernah bercita-cita menjadi arsitek. Namun, karena satu dan lain hal, cita-cita itu terpaksa saya simpan kembali. Saya pikir, lambat laun cita-cita masa kecil itu akan terlupakan dengan kesibukan dan realita yang ada di masa sekarang. Nyatanya, secara tidak sadar, saya terus menyiraminya dengan sering menonton tayangan televisi yang berkaitan dengan desain rumah. Jika orang-orang senang bermain game di ponsel tentang perang dan strategi, saya justru main "Design Home" dan membangun kota di "Township".

Membaca buku ini membangkitkan kembali kenangan tentang cita-cita yang terpendam itu. Terlebih, informasi yang ada dalam buku ini membuka pemahaman saya tentang dunia arsitektur yang tidak hanya berkutat soal struktur dan fisik bangunan, tetapi bagaimana meniupkan nyawa dan menitipkan rasa di dalamnya. Avianti Armand adalah penutur cerita yang andal. Buku ini dimulai dengan kisah paling tua di muka bumi yang mewujud dalam kebutuhan manusia akan tempat tinggal, kisah Adam dan Hawa beserta keturunannya. Analogi Kain dan Habil, sang Homo Faber vs Homo Ludens, pembangun dan petualang, menjadi analogi menarik.

"Tapi Habil mati. Dan Kain, si arsitek, dikutuk menjadi anti-arsitek. Lalu apa arti 'rumah'?"

Ada pembahasan yang menarik bagiku di buku ini, ketika berbicara tentang rumah Tuhan. Saya tidak pernah memikirkan tentang konsep arsitektur pada rumah Tuhan yang memberikan sumbangsih besar pada kesan kemahaesaan Tuhan berdasarkan ukuran, pencahayaan, dan sirkulasi udara. Juga tentang pelabelan "rumah Tuhan" yang harus memenuhi kriteria tertentu sehingga baru bisa dianggap sebagai rumah Tuhan. Ada aturan yang entah dari mana menyebutkan bahwa masjid haruslah memiliki kubah, berornamen kaligrafi, dan menganggap bahwa jika tidak sesuai kriteria maka bangunan itu tidaklah bisa disebut "masjid". Lantas, timbul pertanyaan:

"Jika masjid berakar kata sa-ja-do yang artinya bersujud, bukankah hanya itu yang penting? Tempat bersujud—memuliakan nama-Nya?"

Buku ini merupakan kumpulan esai bertema arsitektur, mengungkapkan perasaan, ide, gagasan, dan kegelisahan penulis tentang dunia arsitektur. Beberapa tema mengangkat tentang realitas kehidupan yang memiliki keterkaitan erat dengan dunia arsitektur, beberapa lainnya mengkritisi tentang arsitektur masa kini. Ide mengelaborasikan banyak lini kehidupan dengan arsitektur membuat saya banyak berpikir. Terlebih lagi, penulis sangat lihai memainkan kata-kata yang membuat pembaca merasa terhubung dengan pemaparan yang disampaikannya. Meskipun, jika tema yang diangkat adalah mengkritisi tentang para arsitek dan dunia yang notabene jauh dari ranah akademisi yang saya geluti, tentu banyak bagian yang saya tidak pahami. Namun secara keseluruhan, buku ini adalah sajian dan kajian yang sangat menarik tentang dunia arsitektur masa kini. Saya beruntung dapat menikmati buku ini perlahan-lahan, dan ikut larut dengan perenungan di dalamnya.

Jika esai dalam buku ini dibuka dengan analogi Kain dan Habil, dua sisi arsitek dan anti-arsitek yang menjadi pola pikir dan related dengan kehidupan manusia masa kini, maka buku ini ditutup dengan doa dari tukang, orang-orang yang tak tersebut namanya tapi memiliki peran yang vital dalam membangun sebuah bangunan, membangun kehidupan dan peradaban.

Keinginan menjadi arsitek dalam diri saya mungkin sudah terlambat untuk diwujudkan. Namun, saya akan terus menumbuhkannya dan menyiraminya dengan tetap menjadi seorang desain interior di "Design Home" dan menjadi perancang kota di kota saya sendiri, di "Township".
Profile Image for Heireina.
80 reviews40 followers
January 5, 2023
Bukan mendapat trivia, tapi serasa diajar di kelas-kelas bebas yang profan. Puitis namun kritis. Membaca ulang Arsitektur yang Lain seperti sebuah keniscayaan di awal tahun ini. Hanya berbekal keingintahuan yang tekun, persoalan seputar tata kelola ruang yang seabrek di dalam buku, justru terasa menyenangkan dijunjung–tanpa kehilangan esensinya yang padat. Dan mungkin disitu kualitas tulisan Avianti Armand berada. Ia bermain-main dengan kecakapan membaca kita sambil menggoda, 'Bagaimana? Sudah capek apa masih mau lanjut?' Tentu saja bukan tipe capek yang menjemukan tapi capek karena lewah pikir apakah kita berhasil menangkap inti dari tulisan atau belum.

35 esai, 35 perjalanan memaknai bangunan sebagai benda mati yang melingkupi si hidup (atau justru sebaliknya?). Beberapa esai favorit selama membaca:
1. Rumah Tuhan, tentang rumah beribadah yang bukan hanya sekadar tempat melakukan ritual, juga penting karena kita meletakkan nilai-nilai keintiman, peletakan replika kondisi bahwa kuasa Tuhan itu ada, terasa, dan mewujud dalam ruang. Aku pribadi dikagetkan dengan elemen cahaya dalam rumah ibdaha yang juga menjadi penyumbang 'mood' beribadah yang khidmat.

2. Jendela, berisi penjabaran filosofis dari obsesi manusia terhadap jendela yang dipaparkan melalui perspektif arsitektur.

3. Arsitektur dan Iklim, membahas 'desain yang gagal' dalam menjawab kebutuhan dan kebermanfaatan gaya arsitektur. Contoh yang diambil berupa masalah-masalah yang dihadapi Salihara dengan berbagai desain bangunannya. Juga mengenai konteks relasi arstiek dengan klien x patron.

Esai-esai lain yang meninggalkan banyak catatan dalam notes-ku diantaranya; Air, Dapur, Wajah, Babel, Sekali Lagi, Pagar, dst. Sebenarnya sulit untuk menentukan esai mana yang paling membuatku merasa seperti balita. Digugah rasa penasaran, didorong rasa ingin belajar, dan terus 'bermain' selama proses membaca.

5/5🌟
Profile Image for eti.
230 reviews107 followers
January 6, 2014
#2 - 2014

membaca ini, saya menemukan pemahaman bahwa ketika kita merancang atau membangun sesuatu (rumah atau apapun), hendaknya bersinergi dengan alam sekitar kita. saya jadi teringat dengan dosen arsitektur Unika Semarang, dia mempunyai rumah di daerah Simongan, yang kontur tanahnya bertebing sehingga rawan longsor. Dengan kemampuan arsitektur yang dia miliki, dia mempraktekkan apa yang dia pahami dalam membangun rumahnya itu. rumahnya benar-benar ramah lingkungan, materi yang digunakan kebanyakan barang sisa, seperti pecahan keramik, kayu, juga material lainnya. rumahnya menyejukkan. sirkulasi udara yang baik, sinar matahari yang masuk dengan bebas, pemanfaatan halaman untuk otarki, sistem pembuangan yang bisa diolah kembali, dan penghuni yang ramah.
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
April 5, 2013
Kita telah lama jadi penghuni "waktu".
Sementara rumah telah menjelma menjadi sekadar "ruang transit".


Arsitektur itu bicara ruang, bukan sekadar bangunan. Ruang yang berfungsi sebagai tempat berkegiatan manusia dan ruang yang (sayangnya) hanya untuk dipamerkan. Pertama ia menyinggung soal rumah, yang tak lagi sebagai ruang bertinggal, namun hanya sebagai tempat singgah di malam hari. Membuatku bertanya-tanya, jadi mana yang bisa kita sebut sebagai tempat bertinggal itu apabila lebih dari 50% hari dihabiskan untuk tidak berada di situ? Penduduk manakah aku bila 15 jam hidupku berada di Jakarta, dan sisanya berada di Depok, itu pun dalam keadaan tidak sadar alias tidur. Tidak ada kontribusi apa pun untuk ruang bertinggalku selain sebagai tempat domisili belaka sebagai syarat administratif seorang warga negara. Mungkin pada akhirnya yang kita tempati adalah ruang waktu, dan alamat pasti di mana kita adalah alamat e-mail.

Sebulan kemudian, si ibu akhirnya menyerah dan berhenti memasak. Dapur bersih itu tinggal sebagai tempat sarapan dan minum kopi atau the saja. Sejak itu, kembali “dapur kotor” yang sehari dua kali beroperasi menyuplai makanan untuk seluruh penghuni rumah.


Arsitektur adalah fungsi, yang menciptakan ruang tempat berkegiatan, bukan sekadar ruang untuk dipamerkan. Manusia dengan banyak keinginan, sering menciptakan ruang-ruang permanen untuk memenuhi keinginannya yang (sayangnya) hanya sementara. Ingin dapur yang lega mewah dan nyaman, sementara si empunya tidak suka memasak. Ingin ruang fitness tak pernah berolah raga. Ingin kolam renang namun tak juga dicemplungi. Ingin taman yang luas namun tak juga disambangi (mungkin terkadang untuk dipandangi). Semua hanya demi hasrat berpamer belaka demi gengsi.

Kembali ke meja kerja kita, di studio yang sejuk dan lengang. Kita, para arsitek, biasanya lebih disibukkan dengan urusan luasan ruang, anggaran biaya, akrobatik geometris, tema desain yang seksi, material, style, dan sudut-sudut asyik untuk keperluan publikasi nanti. Air biasanya hadir dalam arsitektur sebagai sampiran; utilitas pendukung arsitektur atau unsur estetis yang ditambahkan kemudian. Kita sering tak peduli bila bangunan tak menyisakan area untuk resapan, limbah rumah itu langsung dibuang ke saluran kota, atau bahkan bila sumber air bersih untuk satu rumah yang kita desain itu berasal dari penggalian sumur artesis yang tak legal.


Sering lupa bahwa tugas arsitek bukan hanya mewujudkan ruang-ruang sesuai kebutuhan, namun juga menjaga keseimbangan alam sehingga walau bangunan ini berdiri, kondisi alam seminimal mungkin diubah karena kepentingan bangunan. Ruang hijau diciptakan bukan hanya penghias pandang, namun untuk meresapkan air. Bukan artifisial hijau dengan basement di bawahnya. Paving block dengan pasir yang menyerap air, bukan baseplate beton yang tidak tembus air. Karena, arsiteklah yang dituduh sebagai penutup bumi nomor satu, yang mengubah alam menjadi lingkungan buatan yang mereka mau, dari berlebihan air, sampai menjadi kekurangan air.

Kita tak lagi mendambakan sesuatu karena kita membutuhkannya, melainkan karena keinginan-keinginan yang terus menerus didefinisi oleh imaji-imaji yang dikomersialkan, yang pada akhirnya membuat kita berjarak dengan diri kita sendiri.

Kumpulan tulisan ini sangat menarik untuk direnungi sebagai eksplorasi ruang arsitektur. Dari proses berpikir sampai penganalisaan suatu karya di mana arsitektur itu hidup sebagai penanda masa di mana manusia pernah berkarya.
Profile Image for Cepi Sabre.
Author 1 book15 followers
August 15, 2012
arsitektur yang lain; sebuah kritik arsitektur


"mari kembali ke zaman ketika hanya ada tuhan dan empat manusia: adam, hawa, kain, dan habil."

percaya atau tidak, kalimat di atas adalah kalimat pembuka dari sebuah buku arsitektur, judulnya: 'arsitektur yang lain; sebuah kritik arsitektur', penulisnya: avianti armand. kalimat yang saya kutip itu bukan satu-satunya kalimat yang terdengar puitis-filosofis di dalam buku tersebut, akan lebih banyak lagi. bahkan saya ingin bilang bahwa buku ini sangat puitis. filosofis juga.

membaca buku ini lebih lanjut, ada --setidaknya-- dua hal yang ingin saya bagikan kepada anda. pertama: avianti armand.

konon, ketika menghadapi sebuah tulisan, buku, kita seharusnya mengabaikan biografi penulisnya demi mempertahankan obyektivitas kita. tapi sederhana saja, saya hanya ingin memberitahu kepada anda bahwa selain dikenal sebagai arsitek dan mendapat berbagai penghargaan, avianti armand juga menulis. artikel arsitektur tentu saja. cerpen dan puisi juga. dengan beberapa penghargaan juga.

begitu kata halaman terakhir buku ini.

dari sini kita bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi avianti armand yang puitis. mungkin juga sedikit filosofis. seperti puisi. begitulah kemudian buku ini tampil dengan, menurut saya, bahasa yang merdu. saya berusaha obyektif. sungguh.

hal kedua yang ingin saya katakan adalah: minim gambar.

ya, buku ini tidak memuat banyak gambar atau foto atau sketsa sebagaimana layaknya sebuah buku arsitektur yang seringkali tampil seperti album foto. hanya ada beberapa foto hitam putih yang buram. beberapa malah seperti tidak fokus. nyleneh. nyeni.

apa jadinya sebuah buku arsitektur tanpa --atau minim-- gambar? gampang. arsitektur yang lain. tapi yang lebih penting daripada itu adalah pertanyaan, 'apa sebenarnya tujuan avianti tidak memuat banyak gambar di dalam bukunya?' tidak gampang ternyata. avianti sedang ingin mengatakan bahwa arsitektur bukan hanya 'melihat', tapi 'merasakan'. demikianlah zhumtor.

ada dua puluh enam [26] artikel di dalam buku ini. avianti armand menceritakan sekaligus menyampaikan kritik tentang segala sesuatu yang dirasakannya dalam arsitektur. tentang jendela, tentang pagar, tentang dapur, tentang rumah, tentang monumen, tentang kota, tentang ruang, tentang lingkungan, tentang bangunan, tentang arsitek, tentang gaya arsitektur. tentang arsitektur.

ada satu kesan yang tidak bisa saya elakkan ketika selesai membaca buku ini: suram. ada pesimisme yang sedang ditiupkan oleh avianti armand dalam bukunya. jakarta, atau kota secara umum, digambarkan dengan suram dalam "3 am. 4 am" dan "gelora". atau lihatlah bagaimana perkembangan arsitektur itu sendiri yang begitu pesimis dalam "kitsch". puncaknya: "2046". sebuah bayangan avianti atas masa depan.

begitupun, ada jalan lain --arsitektur yang lain-- yang ditawarkan, atau dicatat, oleh avianti. "sandy dari bukit duri" yang menggambarkan perlawanan dari sebuah titik kecil di jakarta. atau "arsitek indonesia = arsitek dunia" yang membuat telinga saya berdenging, teringat pada 'garuda di dadaku' dari netral.

tapi kesan bahwa arsitektur itu suram dan membuat kota, juga kemanusiaan kita ikut suram, tetap tidak mau pergi. begitu kuat melekat.

dan avianti sendiri mengutip seneca: "believe me, that was a happy age, before the days of architects, before the days of builders."
Profile Image for Tubagus Gleamen.
39 reviews
March 11, 2021
Arsitektur Yang Lain oleh Avianti Arnand.

Well, aku suka dengan gaya tata bahasa Teh Arnand, she is surely insightful and knows how to use words.

Aku semacam seorang asing yang mengunjungi suatu negara dengan mindset dan pemahaman berbeda--

Aku mengerti beberapa kata, namun tidak memahami esensi dan arti sesungguhnya. Tapi, aku suka dengan kultur dan bahasa negeri asing ini. Dan, negeri asing itu adalah Arsitektur dalam buku ini.


Kumpulan essay yang sifatnya semi-jurnal mengenai aspek-aspek arsitektur dimata penulis--

yang menurutku tidak asing dan asing sekaligus, karena arsitektur pun tanpa orang awam sadari menjadi bagian dari diri kita semua--

Dan melihat hal tersebut dari aspek para individu yang membuat ruang untuk banyak orang.

Para arsitek bukan hanya membuat "ruang",

namun juga membuat jembatan antara emosi dengan ruang tersebut, serta jangan lupakan fungsionalitas.

Pada akhirnya, insights dari buku ini membuatku sedikit paham mengenai arah pikir ranah arsitektur yang, menurut banyak orang awam, "aesthetique", dan kadang pretentious.

Namun, sebuah fresh insights karena, sebagai diri pribadi, architecture is a big part of one's life.

Because, we live in a space, a house, a home, and architects provide the bridge, between said place, to our soul.
Profile Image for Nourman Yafet Goro.
99 reviews7 followers
January 21, 2022
Melalui 35 esai dalam buku ini, para pembaca diajak oleh penulis untuk membaca sebuah kritik arsitektur yang ditulis dengan sangat indah. Diawali dengan esai berjudul Rumah, yang mana penulis memperkenalkan konsep-konsep seperti nomad, settler, dan lain-lain; hingga diakhiri esai berjudul Tukang yang membahas peran seorang tukang yang seringkali dilupakan dari sebuah proses pembuatan bangunan.
Sebagai seseorang yang latar belakang pendidikannya bukan arsitektur, yang hanya bisa mengagumi karya arsitektur tanpa mengetahui banyak hal seperti simetri, proporsi, dan sebagainya, buku ini tetap bisa dipahami dengan baik. Saya kagum dengan gaya penulisan Avianti Armand yang mampu membuat saya betah membaca buku nonfiksi ini. Bagian favorit saya dalam buku ini jelas banyak, namun yang paling membekas adalah Gaudi dan juga Tukang.
Profile Image for Adek.
195 reviews4 followers
January 25, 2017
Dalam bukunya, To Have or to Be, psikoanalis Erich Fromm, mempertanyakan kesejatian manusia modern. Manusia berhenti menjadi manusia ketika dia dikuasai oleh keinginan untuk memiliki dan menguasai benda-benda, yang pada akhirnya berbalik memperbudaknya. Begitu akutnya kondisi tersebut sehingga ia menyatakan bahwa di abad ke-20, manusia telah mati. (Hal. 221)

Terima kasih, Mbak Avianti, buku ini mengenalkan saya pada sosok-sosok yang luar biasa-Romo Mangun dan Kang Achmad Tardiyana, sekaligus memberikan beberapa nutrisi untuk kejiwaan saya.
1 review
Read
October 19, 2021
In my opinion this just doesn't cut it (I know I'm late to the game and maybe the author has outgrown her own writings) - but what exactly is being criticized here? What is the object of criticism here? Obviously it is not Architecture. As the title suggests, it opens up the search for "another (form of?) architecture": a clear indication of the attempt to seek, indefinitely, deeper into the discipline of architecture, rather than to understand its relation to the material condition in which architecture resides.
Profile Image for Syifa Kamilia.
2 reviews3 followers
December 14, 2017
Sekumpulan abstraksi dari hasil observasi yang tentu tidak hanya menggunakan visual, namun seluruh indera yang manusia miliki. Narasi kritik arsitektur yang dipaparkan membuat pembaca memanggil kembali sisi humanis dari dalam diri. Yang mungkin telah tertutup oleh kesibukan dalam hal pragmatis. Bahasa yang begitu puitis, walau bukan hal yang biasa saya nikmati, namun tetap dapat diresapi kontennya menjadi bahan kontemplasi.
Profile Image for An Nasaie.
31 reviews27 followers
March 6, 2018
Seperti membaca kumpulan cerpen Negeri para peri, seperti itu jugalah membaca buku ini, sederhana. Cara bercerita dan pandangannya yang sederhana terutama dalam berbicara tentang rumah tuhan dan simbolik-simbolik yang wujud, tentang pengalaman ruang, Jakarta yang sibuk. Esei yang bersifat bercerita begini senang untuk dihadam seolah-olah saya dan Avianti ada di sebuah ruang yang sensorik sentuhan Zumthor sambik menikmati kopi panas yang menyegarkan.
Profile Image for Husein Hamzah.
15 reviews2 followers
December 19, 2018
In this book Avianti Armand are generally spoke about the "forgotten aspect" that have a major influence in contemporary architecture. It's an easy to read book, most of the part are short, but it has very deep and personal meaning. Something that I personally, working as professional architect, could relate. This book is highly recommended for architects that need to re-positioning themselves in this ultra-hectic world.
Profile Image for Bhumi  Ayu.
23 reviews
December 31, 2022
Avianti armand benar membawa ku melihat ruang dari sisi yang lain. caranya mengajak ku menyentuh tembok-tembok bertekstur begitu cantik.

Avianti banyak mengajarkan dan menyadarkan hanya dalam 1 buku. bahwa ruang dan waktu bergerak bersama. tempat kita semua tumbuh. tidak bisa hanya dilihat sebagai objek saja. ruang dan bentuk juga bagian dari subjek cerita hidup kita, yang menjadi variable pilihan dan takdir.

Manusia tidak akan terbentuk tanpa ruang-ruang hidup yang membentuk nya.
15 reviews
December 18, 2022
Boring. Stylistic buku ini kerasa mirip buku “Alam Terkembang Hilang Berganti,” tapi gagal di aspek kontemplasi yg terasa monoton. Dia berusaha merefleksikan kehidupan melalui arsitektur, dan beberapa hal memang menarik. Tapi sisanya kerasa slow, at times, too edgy in the wrong places (?). Boring. I stopped at 75.
Profile Image for Hadi Iswanto.
46 reviews1 follower
February 3, 2019
Sangat cocok dibaca oleh mahasiswa Arsitektur. Buku ini bisa jadi sebuah pengantar untuk memahami ruang dan fungsi arsitektur sebagai shelter bagi manusia. Sangat menarik dan enak dibaca di kala waktu senggang sambil ditemani dengan secangkir teh hangat :)
Profile Image for trimardiars.
12 reviews
June 29, 2021
Buku yang membahas ttg sisi lain arsitektur, juga hal hal yang membuat arsitektur menjadi bergeser dari maknanya. meskipun sudah terbitan yang cukup lama, tapi untuk saya menambah pengetahuan saya. Terutama untuk nama nama tokoh arsitek yang saya sebelumnya tidak tahu (karna kurang update) hehe
Profile Image for Muhammad Rajab Al-mukarrom.
Author 1 book28 followers
June 19, 2018
Salah satu yang membuat senang membaca karya penulis satu ini adalah gaya menulisnya. Selain itu kepiawaiannya mengusung sebuah tema untuk disampaikan pada pembaca juga patut diapresiasi.
4 reviews
February 15, 2023
buku ini memberikan sudut pandang lain yang awalnya belum kepikiran atau terlihat. banyak hal yang akhirnya diratapi dari setiap sudut bangunan yang kutempati, datangi, dan lihat.
Profile Image for Bimana Novantara.
278 reviews28 followers
May 1, 2023
Ketertarikan saya pada buku ini bermula dari perkiraan bahwa sepertinya isinya akan banyak membicarakan hal-hal tentang Jakarta yang luput dari perhatian sehari-hari yang dibahas melalui sudut pandang arsitektur. Saya membayangkannya seperti kumpulan esai Affair: Obrolan Tentang Jakarta karya Seno Gumira Ajidarma yang memang khusus membahas segala macam hal tentang Jakarta. Perkiraan saya tidak sepenuhnya salah. Ada nuansa Jakarta yang kuat di esai-esai dalam buku ini. Selain lewat nama-nama tempat dan kawasan di Jakarta yang beberapa kali disebut, nuansa itu bisa kita tangkap dari cuplikan pembicaraan penulisnya dengan klien-kliennya, atau lewat cerita-cerita soal teman-temannya, baik yang sesama arsitek atau bukan.

Saya sangat menikmati membaca tulisan-tulisan di buku ini. Penulis membahas arsitektur dengan membawanya menjadi persoalan filosofis lewat kalimat-kalimat yang sugestif dan enak dibaca. Ia memasukkan referensi dari film dan sastra, serta sesekali memasukkan pemikiran beberapa filsuf. Yang bisa saya rasakan ketika membacanya adalah gaya menulisnya yang mengingatkan saya pada gaya menulis Goenawan Mohamad di esai-esai Catatan Pinggir. Sepertinya si penulis memang cukup akrab dengan esais senior majalah Tempo tersebut. Namanya disebut beberapa kali dalam tulisannya dan juga terpampang sebagai pemberi endorsement di sampul belakang buku.

Yang saya rasa kurang adalah tidak adanya sumber dan riwayat tulisan. Ini penting untuk memahami konteks waktu saat tulisan-tulisan ini dibuat. Selain itu penambahan indeks rasanya akan membantu untuk mencari nama-nama dan istilah-istilah, karena memang ada banyak nama arsitek dan istilah arsitektur yang disebut dalam buku ini. Hal lain yang mengganggu adalah masih banyak ditemukan salah ketik. Dengan desain buku yang terkesan memperhatikan penataan letak paragraf, kutipan, foto, dan gradasi hitam-putih, rasanya sangat mengganggu ketika masih ditemukan salah ketik di sana-sini.
Profile Image for Nonna.
137 reviews2 followers
September 8, 2012
Ini adalah benar-benar buku tentang sebuah kritik terhadap arsitektur. Lewat bukunya, Avianty berusaha mengajak saya untuk kembali ke jaman sebelum masehi, tentang sebuah definisi rumah sebagai space of staying bukan stay of going. Saya suka istilah itu. Karena pada dasarnya, arsitektur adalah sebuah keseimbangan. Keseimbangan antara kepala, badan, dan kaki.

Pada bab Rumah Tuhan, Avianty mengkritisi tentang sebuah religious architecture, dimana sebagian orang mengidentifikasikan mesjid hanya sebatas kubah. Padahal fenomena kubah mesjid baru ada jauh sesudah Rasulullah mendirikan mesjid. Bahkan, tak jauh dari Jakarta, Mesjid Agung di Yogya dan Demak tidak memiliki kubah.

Keadaan urban Jakarta juga menjadi kritik penulis yang juga arsitek ini. Di samping kehidupan yang sangat modern, ada sisi yang kata orang kumuh. Padahal kehidupan yang seperti itulah yang sesungguhnya. Ada interaksi sosial yang indah terjadi gang senggol. Dan karena itulah seorang Romo Mangun mendapatkan penghargaan atas karya Rumah Kali Code –nya. Dan arsitek-arsitek Indonesia lain –pun memperoleh penghargaan Internasional karena rancangannya yang seimbang tadi. Jadi, mengapa harus bangga dengan cluster dengan taman yang ada replika eifel dan si miring pisa serta mall-mall yang dirancang oleh arsitek luar negri? Hebatnya, dari arsitektur hijau sampai pura-pura hijau pun tak luput dari kritikan Avianty.

Tulisan tentang air –nya pun mengingatkan saya pada kebutuhan manusia yang paling dasar. Betapa sering kita membuang-buang air, entah dari kran yang kendor atau mencuci baju dengan mesin cuci. Lalu ketika sampai dengan bab Gelora, betapa komersialisme sudah mengubah suatu fungsi kawasan.
Lalu kitsch dan simulacra. Tidak bisa dipungkiri, kegiatan “copy” banyak dilakukan oleh arsitek-arsitek. Berusaha menghadirkan sesuatu di sesuatu yang lainnya. Saya, arsitek, pun melakukan copy.

Dan oiya, saya suka bab Jendela? Mengapa jendela? Mungkin juga tanyakan kepada Fira Basuki.
Profile Image for Yura Lasari.
79 reviews2 followers
April 26, 2023
Well, I'm an architecture student, trapped in a standard form of architecture for almost 4 years. No, I didn't say I'm in a wrong study or system (because in the study of architecture, we really need to push ourselves to learn about everything technical, for sure) but sometimes in my architecture journey, I asked myself about those essential questions; like what really is architecture, how big is the scope of architecture, can't we talk architecture in a simpler and subtler way? Then I got this book and I felt like I found a friend of mine to talked about architecture in that way.

This is my first read of Avianti Armand's really-a-book. I'd read some of her articles and poems previously and found that she was one of a kind of beautiful soul that majoring architecture. I don't know if maybe there are many people like here outside but I love her writings anyway.

But really, if you are a freshman of architecture study, or likely to study about architecture, and you can't really sure whether you can syncretizing between the standard form of architecture and the other kind of architecture; you better keep this book in distance.
Profile Image for Roliandi Bagas.
3 reviews3 followers
September 11, 2013
bagi saya pribadi, Arsi Yang Lain termasuk bacaan yang mempengaruhi identitas serta tujuan desain saya dalam proses. dari buku ini saya mengenal arsitek seperti Zumthor, dan kerap mempertanyakan substansi dan definisi utuh dari desain bergaya modern, urban, dan isu recycle sebagai alat branding desainer perseorangan. standarnya kasat.

darinya Arsi-Interior bukan sekedar dinding identitas dan entitas dalam ruang, namun lebih. publik berhak bicara banyak, sementara praktisi wajib mengerti.
Profile Image for helmymuhammad.
47 reviews3 followers
September 24, 2013
Satu ulasan menarik mengenai arsitektur..Membincangkan perihal reka bentuk masjid,bangunan,rumah ibadat,dan juga kamar mandi..Avianti Armand sangat melankolik,terutamanya bila dia menceritakan perihal kubah yang sering menghantui orang islam yang mengkehendaki bahawa cuma masjid sahaja yang wajib ada kubah..

Mengenai ruang dan waktu,bagi aku,itu ulasan yang mendatar sahaja kerana kita sebagai manusia tahu bahawa 'rumah' sebenar bukannya rumah yang kita duduki,tetapi,waktu..
Profile Image for calsie.
140 reviews2 followers
November 23, 2023
Buku yang menarik dan menggelitik karena menjadikan pembaca berpikir kembali mengenai hal-hal yang banal atau hal kecil yang sebelumnya tidak pernah menjadi sorotan kita serta membuka perspektif lain tentang hal yang sebelumnya sudah pernah dinilai. Aku sangat menikmati membaca narasi kritik arsitektur dan buku ini sangat menarik bagi saya.
Profile Image for Dian Nafi.
Author 121 books116 followers
August 4, 2016
keren bangets. avianti mengkritik arsitektur dengan kacamatanya dengan cara yang sangat nyastra dan indah
Profile Image for Robin Hartanto.
39 reviews4 followers
December 29, 2011
Fragmented as a book, but brilliantly written. I really like the author's style of writing.
Displaying 1 - 30 of 45 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.