Minggu pagi ini saya terbangun dengan keinginan menggebu-gebu untuk ambil satu buku baru/segel/belum dibaca untuk diselesaikan pada hari yang sama. Sungguhpun nominasinya ada banyak, tapi saya putuskan untuk mengambil buku ini karena lumayan tipis (cuma 120-an halaman). Selain itu, saya memang sudah menanti-nanti untuk baca karya salah satu penerjemah favorit saya, Ulan.
Saya senang saya memilih buku yang tepat.
Adalah pasangan bernama Minoru dan Yoshio yang menjadi tokoh utama pada buku ini. Mereka berdua orang seni banget dan ingin terus hidup dari seni-senian. Sayangnya, mereka miskin. Konflik di antara keduanya pun tak terelakkan. Hubungan pernikahan mereka di ujung tanduk, tapi mereka tetap ingin bertahan. Ingin sekali membangkitkan ekonomi bersama, Minoru melakukan apa saja untuk mendapatkan cuan ... tapi tetap dalam koridor seni-senian.
Rasanya cerita macam pasangan Minoru-Yoshio di atas tidak asing didengar. Sepengamatan saya, sebagian pelaku seni yang masih merintis nama dan terutama lagi seni literatur (izinkan saya menyebutkan literatur sebagai seni) memiliki side hustle atau malah main job. Menulis, menerjemahkan, mengedit hanya menjadi profesi lepas. Ini mengindikasikan bahwa seni tidak bisa membuat mereka kaya. Boro-boro kaya, hidup layak pun sepertinya susah.
Perlu diketahui bahwa buku ini merupakan karya klasik yang terbit pertama kali pada 1914. Pertanyaannya: Bagaimana reaksi penulis ketika mengetahui bahwa di masa kini sebagian orang juga tidak bisa hidup hanya melalui seni?! Bagian tersebut saja sudah membuat saya tercengang dengan karya klasik Jepang satu ini.
Minoru tahu bahwa ia pun harus ikut andil mencari uang demi keutuhan rumah tangganya. Ia menuruti Yoshio dengan terpaksa untuk menulis karya sehingga bisa diikutsertakan dalam sayembara berhadiah. Pada waktu berikutnya, Minoru yang begitu gandrung dengan seni teater tapi punya wajah pas-pasan terpilih menjadi tokoh utama dalam sebuah seni pertunjukan teater. Sayang beribu sayang, meski ada yang mengapresiasi, lebih banyak yang menghujat Minoru karena tampang tak sedap dipandangnya.
Apa yang menimpa Minoru membuat saya teringat pada perbincangan saya dan kolega kantor yang juga seorang penulis sastra tentang para calon penulis perempuan yang disemena-menakan oleh mentor penulis mereka yang, tentu saja, adalah laki-laki. Menurut saya Minoru dan para calon penulis perempuan ini memiliki persamaan sehingga menimbulkan ketercengangan saya berikutnya. Bagaimana mungkin relasi laki-laki dan perempuan dalam lingkup seni-senian semacam ini masih juga eksis seabad berikutnya?!
Kalau kata Ziggy (iya, Ziggy penulis Indonesia itu) dalam esai di akhir buku, para perempuan ini "terjebak di antara". Bagi kacamata saya, mereka "terjebak di antara" keinginan untuk berkarya seni dan perilaku abang-abangan para sastrawan laki-laki.
Karya ini disebut-sebut semi-autobiografi yang sudah pasti sedikit-banyak mengandung cuplikan kisah hidup pengarang yang sebenarnya dalam tokoh Minoru. Saya bertanya-tanya bagaimana reaksi publik semasa itu kala karya seorang perempuan ini tersebarluaskan. Tapi, sebagaimana para perempuan pada umumnya ditekan/direpresi, karya para penulis perempuan pun dicoba untuk disingkirkan/dilupakan. Hal itu juga sepertinya yang terjadi pada karya-karya Toshiko Tamura yang, mengutip kata-kata dari esai Ziggy, "... betapa jarang namanya ditemukan ...."
Meski rada susah di awal karena paragraf-paragrafnya tipikal karya klasik yang deskriptif, hasil terjemahan Ulan yang kemudian diedit oleh Ibu Ribeka Ota dan Mbak Gita Romadhona ini tetap enak untuk diikuti. Apalagi kalau sudah sampai di tengah cerita kala perilaku-perilaku red flag Yoshio terkuak.
Akhir kata, buku ini sangat menarik untuk dibaca kemudian didiskusikan bersama-sama.