Minoru es una mujer inteligente y orgullosa. Está casada con Toshio, un escritor poco talentoso que descarga la frustración de su infelicidad contra su esposa.
Sus temores los restringen: Minoru teme dejar a su marido, mientras Toshio teme que el talento de su mujer resulte alejándola de él. La falta de reconocimiento mutuo los llevará a situaciones de tensión que cambiarán cómo perciben la relación y, más importante aún, cómo se perciben a sí mismos.
Saya baru tahu baru-baru ini bahwa dalam sastra Jepang ada genre I-novel (Shishousetsu, Watakushi Shousetsu) yang sifatnya semi-autobiografi dan dimaksudkan untuk menggambarkan situasi sosial kehidupan di penulis.* 'Gincu Sang Mumi' (Mira no kuchibeni) adalah salah satunya. Ditulis oleh Tamura Toshiko penulis feminis yang setelah kematiannya, seluruh royaltinya digunakan untuk anugerah sastra khusus perempuan.
Dalam konteks I-novel, memahami latar belakang penulis adalah sebagian dari memahami karyanya. 'Gincu Sang Mumi' bercerita tentang Minoru, seorang perempuan yang bersuamikan penulis yang kurang sukses. Keduanya hidup dalam keadaan miskin dan bersedih. Minoru sendiri memiliki penghargaan dan idealisme terhadap seni khususnya dunia sastra dan seni peran, namun situasi sosial membuatnya segala cita-citanya diremehkan dan pencapaiannya diobjektifikasi.
Dalam 111 halaman kita diajak menyelami perasaan dan ketidak berdayaan Minoru sebagai perempuan yang harus selalu menunggu validasi laki-laki. Karya ini kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan indah oleh Asri Pratiwi Wulandari.
Menurut saya, 'Gincu Sang Mumi' edisi Indonesia ini bukan hanya sekadar terjemahan karya sastra. Ada dua tulisan singkat dalam rubrik 'Ruang Teh' oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dan sang penerjemah sendiri tentang bagaimana setelah jarak satu abad, perempuan di dunia sastra masih termarjinalkan. Semua ini diwujudkan dalam buku dengan cover yang sangat keren dan penuh makna. Saya kagum sekali!
Minoru no sentía el más mínimo afecto por la vida que llevaba con su marido. En cambio, Yoshio no sabía lo que era sentir aprecio por el arte de su esposa.
[ 4 / 5 ☆ ]
Una interesante lectura de algo que yo he denominado cariñosamente: ¿qué pasa cuando quieres escribir una historia de amor sobre una pareja que no se ama? Minoru quiere abandonar a Yoshio, Yoshio quiere abandonar a Minoru, pero ninguno de los dos da el paso para ello. Entre tanto, a pesar de una relación donde no parece crecer ni un pequeño brote de cariño por el tiempo y por las circunstancias que los rodean, siguen manteniéndose juntos, navegando a la deriva sin preocuparse del destino porque en el fondo, acompañado del otro, no van a estar solos.
Sedih nggak sih kalau orang yang paling kita sayangi tidak bisa mengapresiasi sesuatu yang paling kita hargai?
Minoru dan Yoshio adalah sepasang suami-istri yang hidup dalam kemiskinan. Pakaiannya hanya itu-itu saja meski harus menerjang 4 musim berbeda. Yoshio kerap pergi ke kota, menawarkan tulisannya untuk diterbitkan. Minoru menunggunya di rumah bersama seekor anak anjing bernama Mei. Kalau sedang tidak beruntung, Minoru menggadaikan harta yang mereka miliki untuk sekadar menyambung hidup esok hari.
Yoshio tahu kalau Minoru memiliki bakat menulis. Tapi bagi Minoru, tulisan atau hal yang dipandangnya sebagai seni, tidak bisa dilakukan begitu saja hanya karena butuh uang. Bagi Minoru, seni harus dipandang sebagai entitas yang tinggi. Yang tidak bisa dilakukan karena keadaan kepepet. Perasaannya sebal karena Yoshio hanya melihat seni sebagai sebuah alat untuk mendapatkan uang. Bagi Minoru, Yoshio sengaja membuatnya serba terbatas agar tidak mengejar kemurnian seni agar suaminya tidak malu terhadap parasnya.
Gincu Sang Mumi adalah sebuah karya dari penulis bernama pena Tamura Toshiko--penulis perempuan dari Jepang. Permasalahan yang dihadapi Minoru barangkali masih dihadapi perempuan zaman sekarang: dikerdilkan karena mengejar sesuatu yang bagi laki-laki hanya sebatas obyek untuk mendapatkan uang semata. Kalau Minoru terobsesi dengan seni, mungkin perempuan lain ada yang ingin berpendidikan setinggi mungkin. Mereka sama-sama dianggap, "buat apa?" demi melindungi ego laki-laki yang khawatir dilangkahi.
Gincu Sang Mumi adalah terbitan kelima dari @penerbitmai. Diterjemahkan oleh @velosheraptor dengan apik dan luwes, ilustrasi sampul oleh @risangdaru dan penata letak sampul oleh @sukutangan 👍✨
Minggu pagi ini saya terbangun dengan keinginan menggebu-gebu untuk ambil satu buku baru/segel/belum dibaca untuk diselesaikan pada hari yang sama. Sungguhpun nominasinya ada banyak, tapi saya putuskan untuk mengambil buku ini karena lumayan tipis (cuma 120-an halaman). Selain itu, saya memang sudah menanti-nanti untuk baca karya salah satu penerjemah favorit saya, Ulan.
Saya senang saya memilih buku yang tepat.
Adalah pasangan bernama Minoru dan Yoshio yang menjadi tokoh utama pada buku ini. Mereka berdua orang seni banget dan ingin terus hidup dari seni-senian. Sayangnya, mereka miskin. Konflik di antara keduanya pun tak terelakkan. Hubungan pernikahan mereka di ujung tanduk, tapi mereka tetap ingin bertahan. Ingin sekali membangkitkan ekonomi bersama, Minoru melakukan apa saja untuk mendapatkan cuan ... tapi tetap dalam koridor seni-senian.
Rasanya cerita macam pasangan Minoru-Yoshio di atas tidak asing didengar. Sepengamatan saya, sebagian pelaku seni yang masih merintis nama dan terutama lagi seni literatur (izinkan saya menyebutkan literatur sebagai seni) memiliki side hustle atau malah main job. Menulis, menerjemahkan, mengedit hanya menjadi profesi lepas. Ini mengindikasikan bahwa seni tidak bisa membuat mereka kaya. Boro-boro kaya, hidup layak pun sepertinya susah.
Perlu diketahui bahwa buku ini merupakan karya klasik yang terbit pertama kali pada 1914. Pertanyaannya: Bagaimana reaksi penulis ketika mengetahui bahwa di masa kini sebagian orang juga tidak bisa hidup hanya melalui seni?! Bagian tersebut saja sudah membuat saya tercengang dengan karya klasik Jepang satu ini.
Minoru tahu bahwa ia pun harus ikut andil mencari uang demi keutuhan rumah tangganya. Ia menuruti Yoshio dengan terpaksa untuk menulis karya sehingga bisa diikutsertakan dalam sayembara berhadiah. Pada waktu berikutnya, Minoru yang begitu gandrung dengan seni teater tapi punya wajah pas-pasan terpilih menjadi tokoh utama dalam sebuah seni pertunjukan teater. Sayang beribu sayang, meski ada yang mengapresiasi, lebih banyak yang menghujat Minoru karena tampang tak sedap dipandangnya.
Apa yang menimpa Minoru membuat saya teringat pada perbincangan saya dan kolega kantor yang juga seorang penulis sastra tentang para calon penulis perempuan yang disemena-menakan oleh mentor penulis mereka yang, tentu saja, adalah laki-laki. Menurut saya Minoru dan para calon penulis perempuan ini memiliki persamaan sehingga menimbulkan ketercengangan saya berikutnya. Bagaimana mungkin relasi laki-laki dan perempuan dalam lingkup seni-senian semacam ini masih juga eksis seabad berikutnya?!
Kalau kata Ziggy (iya, Ziggy penulis Indonesia itu) dalam esai di akhir buku, para perempuan ini "terjebak di antara". Bagi kacamata saya, mereka "terjebak di antara" keinginan untuk berkarya seni dan perilaku abang-abangan para sastrawan laki-laki.
Karya ini disebut-sebut semi-autobiografi yang sudah pasti sedikit-banyak mengandung cuplikan kisah hidup pengarang yang sebenarnya dalam tokoh Minoru. Saya bertanya-tanya bagaimana reaksi publik semasa itu kala karya seorang perempuan ini tersebarluaskan. Tapi, sebagaimana para perempuan pada umumnya ditekan/direpresi, karya para penulis perempuan pun dicoba untuk disingkirkan/dilupakan. Hal itu juga sepertinya yang terjadi pada karya-karya Toshiko Tamura yang, mengutip kata-kata dari esai Ziggy, "... betapa jarang namanya ditemukan ...."
Meski rada susah di awal karena paragraf-paragrafnya tipikal karya klasik yang deskriptif, hasil terjemahan Ulan yang kemudian diedit oleh Ibu Ribeka Ota dan Mbak Gita Romadhona ini tetap enak untuk diikuti. Apalagi kalau sudah sampai di tengah cerita kala perilaku-perilaku red flag Yoshio terkuak.
Akhir kata, buku ini sangat menarik untuk dibaca kemudian didiskusikan bersama-sama.
Saya membaca buku ini dalam versi Bahasa Indonesia, diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Mai. Sepanjang 116 halaman, ini adalah kisah semi autobiografi yang singkat. Bukan semacam buku autobiografi yang terkesan kaku, dipaparkan seperti gaya penulisan jurnalistik, buku ini malah cocok dianggap sebagai novel fiksi.
Tentang kehidupan suami istri Yoshio (suami) dan Minoru (istri) yang hidup dalam kemiskinan parah. Minoru bahkan tidak memiliki baju yang layak untuk dipakai ke acara pemakaman. Suaminya, Yoshio, adalah karakter pria yang memiliki gengsi sangat tinggi, dengan kemampuan yang minimal sebagai pencari nafkah.
Minoru, sosok perempuan yang sebenarnya pernah terlatih dalam bidang seni. Di sini diceritakan ia mampu menjadi pengarang dan aktris di panggung teater. Tapi masalahnya, ia tak memiliki kekuasaan di dalam rumah tangganya.
Ketika Yoshio mulai menyerah atas segala usaha kepengarangannya, ia cenderung melampiaskan kekesalannya pada Minoru. Dan Minoru, bukan juga perempuan yang tidak memiliki emosi. Ia yakin dirinya sebenarnya memiliki cita rasa seni yang tinggi, hanya saja ia tidak berambisi.
Namun, itu masih kisah awal mula dan masih penggambaran dangkal saya. Penulis akan mengajak pembaca merasakan pergulatan emosi antar tokohnya, bergantian. Semacam bermain bola lempar antara dua orang. Bola yang dipegang akan dilemparkan ke pemain lainnya, begitu pun sebaliknya. Emosi yang hingga ketika keduanya bersilang pendapat sangat menarik disimak.
Kisah yang dituliskan lebih dari 100 tahun yang lalu ini, ternyata masih menarik diangkat saat ini. Saya menyukai bagaimana penulis menggambarkan situasinya dengan sangat halus. Mulai deskripsi suasana latar yang membuat pembaca teringat atmosfer kisah-kisah Jepang klasik, hingga bagaimana penulis memindah-mindahkan (bola) emosi antar tokohnya. Semua perpindahan adegannya halus, ditambah kualitas penerjemahannya yang bagus, membuat pembaca terlempar pada situasi dalam buku.
Terakhir, terkait judul. "Gincu Sang Mumi". Hal ini berhubungan dengan mimpi yang diterima Minoru pada suatu malam. Saya berusaha mencerna arti mimpinya ini, dan menghubungkannya dengan cerita di awal. Akhirnya, membuat saya menilai penulis berhasil mengakhiri kisah ini dengan menarik karena keterhubungan ini.
Buku ini rencana akan diterbitkan Maret 2022 ini. Untuk kawan-kawan yang belum pernah membaca karya penulis Tamura Toshiko, patut dicoba. Sungguh menyenangkan bertemu nama penulis baru yang belum pernah saya baca karyanya.
Baru saya sadari ternyata pengetahuan saya akan penulis perempuan klasik jepang bisa dikatakan tidak ada. Nama-nama penulis klasik jepang yang karyanya kerap kali kita baca kesemuanya adalah laki-laki: yasunari kawabata, osamu dazai, akutagawa ryunosuke, natsume soseki, yukio mishima, dan masih banyak lagi. Itu sebabnya buku ini cukup mengejutkan bagi saya. Selain karena nama penulisnya yang blum pernah saya dengar, juga karena fakta bahwa pada awal abad ke-20 telah ada penulis perempuan feminis di Jepang yang menghasilkan karya sastra yang mengangkat isu perempuan.
Pilihan Asri Pratiwi Wulandari untuk menerjemahkan karya Tamura Toshiko, atau bahkan keberhasilannya menemukan karya ini pun sangat patut diacungi jempol. Tamura Toshiko menulis dengan sangat baik dan tajam tanpa kehilangan ciri khas kejepangannya. Karya-karya sastra klasik Jepang yang saya baca selama ini kesemuanya menampilkan ciri kejepangan yang kental, tapi semua karya-karya luar biasa itu terasa lembut, dan emosi yang biasanya tampil adalah kesedihan dan putus asa. Sedangkan Gincu Sang Mumi adalah karya yang sarat emosi. Amarah, kebencian, keegoisan, kecemburuan, kelemahan, dan ketakutan campur aduk dalam diri Minoru dan Yoshio.
Mungkin karena ini karya semi otobiografi maka terasa sangat emosional dan realistis. Kita tidak akan bertemu dengan tokoh yang baik, apalagi yang sempurna, yang ada adalah manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Toshiko juga berhasil menampilkan rasa "terjebak" yang dirasakan oleh sebagian besar perempuan di seluruh dunia seperti yang disampaikan Ziggy dalam Ruang Teh di akhir buku ini. Wanita seringkali "terjebak di antara" rantai yang menahannya dalam rumah dan keinginannya mencicipi profesi di luar rumah, atau mengejar pendidikan dan karir yang melampaui suami.
Hal-hal di atas menjadikan karya ini luar biasa mengingat kemunculannya di awal abad 20 di Jepang di mana patriarki jauh lebih kental dirasakan wanita dibandingkan saat ini.
Es una obra maestra. La lectura te atrapa y no puedes parar hasta terninar. Como lector, logras sentir a cada personaje, te cuestionas como ellos y lloras con ellos. Con muy pocos personajes, la autora retratar toda una cultura.
Meski kesel sama lakon lakon utamanya, tapi saya harus beri jempol untuk penerjemah dan editornya. Bahasanya enak untuk diikuti meski saya banyak googling kata kata asing dalam bahasa Jepang. X)
¿Qué debe pasar para que una mujer pueda encontrar su propia voz? En medio de una vida de casada que aparece ante ella como una necesidad, Minoru logra desafiar aquella idea de dependencia y de subyugación anímica de su marido y de aquellas ideas que ella misma tenía de sí misma.
Me gustó mucho, me agradó leerlo y ante todo conocer esta historia, aunque ficcionada, de Toshiko Tamura, esta escritora japonesa quien en su vida real también tuvo que romper ciertos estereotipos culturales y vivir su vida sin tapujos sociales.
Es mi primera vez leyendo literatura japonesa y fue una grata experiencia. Si bien no me encantó el final abierto, entendí perfectamente el pq y no hay necesidad de cuestionarlo. Me encantó que Minoru finalmente se hiciera valer y no escuche al estupido de su marido maltratador. Que siguiera su camino y sus sueños, dejándolo a él, con sus celos y envidia, como un sonido de fondo. Gurl power ✊🏻
Sejak halaman pertama, aku sudah disuguhi oleh kegetiran Minoru dan suaminya Yoshio yang hidup dalam kemiskinan sampai mereka harus memakai kimono yang sama dari musim ke musim. Yoshio yang adalah seorang penulis tidak bisa menafkahi istrinya dengan layak karena pekerjaannya mandek dan banyak orang mengatakan bahwa tulisannya terasa basi. Sementara itu Minoru memiliki bakat serta idealisme dalam seni tapi terhambat oleh satu hal, dia adalah perempuan. Di buku ini nampak jelas bahwa Yoshio sering merendahkan Minoru dengan mengatakan bahwa Minoru tidak berbakat dan tidak memiliki peluang. Tapi karena kondisi keuangan mereka yang semakin carut marut, akhirnya Yoshio pun memaksa Minoru menulis untuk mendapatkan uang. Minoru yang idealis tentu menolak memegang pena untuk sesuatu yang ia sebut sebagai "berjudi". Ia merasa bahwa karyanya akan ternoda jika ada motif uang dibaliknya. Meski begitu, akhirnya ia tetap menulis yang ternyata membuahkan hasil yang baik. Dari tulisan yang menurutnya tidak bernyawa itu, Minoru mulai dikenal oleh kritikus sastra yang menganggap bahwa karyanya itu lain dan memiliki nilai seni yang tinggi. Minoru yang pada dasarnya berbakat pun langsung merasa optimis. Selama ini ternyata ia hanya butuh sedikit pujian yang bisa menjadi bahan bakarnya untuk berkarya.
Buku ini ditulis oleh penulis perempuan Jepang, Toshiko Tamura, lebih dari 100 tahun yang lalu, era di mana wanita masih dianggap rendah dalam segala hal termasuk dalam kaitannya dengan seni dan sastra. Aku sempat mengikuti diskusi buku ini beberapa kali bersama dengan penerbit, penerjemah, dan juga pembaca yang lain. Dan karena diskusi-diskusi itulah aku bisa lebih memahami topik yang ingin disampaikan penulis dari karya yang merupakan semi biografi ini. Di belakang buku, ada tulisan yang disampaikan oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dan penerjemahnya, Asri Wulandari. Ziggy mengatakan bahwa karya ini adalah karya yang mengemas cerita tentang ironi yang dihadapi oleh perempuan dalam dunia seni dan sastra. Ziggy dan Kak Ulan pun mengatakan bahwa penulis Toshiko Tamura adalah penulis perempuan yang cukup terkenal pada tahun 1900an tetapi saat ini karyanya sulit sekali untuk ditemukan sementara karya dari penulis laki-laki seangkatan Beliau mudah sekali ditemukan. Dan meski ditulis lebih dari 100 tahun lalu, potret kesenjangan gender dalam seni dan sastra masih ditemukan sampai saat ini. Aku setuju dengan penerbit, penerjemah, dan juga kawan-kawan pembaca yang mengatakan bahwa salah satu cara untuk mengenang dan melestarikan karya-karya perempuan serta mempersempit kesenjangan gender dalam sastra adalah dengan membaca dan membicarakannya.
Yoshio adalah pengarang gagal, sementara Minoru adalah pegiat seni teater yang sebenarnya berbakat menulis. Pasangan suami-istri ini selalu bertengkar karena kesulitan ekonomi, membuat mereka terus mengucapkan kata pisah.
Di otak Yoshio hanya ada uang dan uang, alat bagi keluarganya untuk bertahan hidup. Namun bagi Minoru, uang hanya akan merusak gairah kemurnian seninya. Gak ada nikmat-nikmatnya, begitu rasanya.
Menarik untuk mengikuti pergolakan hubungan mereka. Saat keduanya begitu pandai saling serang emosi, saat suami merasa lebih berkuasa dan istri gak punya daya, saat satu harus bergantung dengan yang lain karena keterikatan, dsb.
Di catatanku, ada beberapa pembelajaran dari #GincuSangMumi, karya semi auto-biografi #TamuraToshiko ini.
Mungkin kamu sering dengar kalau perempuan gak perlu sekolah tinggi-tinggi, atau mungkin gak boleh kerja setelah menikah. Kita mesti apa? Ketika gak dapet dukungan dari orang sekitar (termasuk pasangan) untuk melakukan yang kita mau/suka, why don’t we just stand up for what we believe in?
Ego Yoshio terluka. Ia iri karena Minoru bekerja tanpa beban, bahkan bisa punya penghasilan sendiri. Minoru sampai kesal terhadap pemikiran dangkal Yoshio. Menurutmu, apa yang bisa kita pelajari di masa sekarang?
❌ 𝗝𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗽𝘂𝘁𝘂𝘀𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗮𝘁 𝗸𝗮𝗿𝘂𝘁-𝗺𝗮𝗿𝘂𝘁
Keputusan di tengah situasi emosional yang kurang baik = (seringnya) keputusan buruk. Coba cari waktu ngobrol berdua saat kepala sama-sama dingin. Ketika ingin didengarkan, belajarlah juga untuk mendengarkan.
Meski novel ini tipis, inti ceritanya begitu mengena. Akhir cerita pun justru gak mengisyaratkan sebuah akhir, tetapi permulaan baru, terutama bagi Minoru. Dan pembaca akan paham apa hubungan judul Gincu Sang Mumi dengan cerita Yoshio-Minoru.
Pada akhirnya, kita merasa lega tahu bahwa perjuangan perempuan berbuah hasil, dan semoga perjuangan itu masih menggelora hingga kini.
setelah sekian lama reading slump akhirnya sedikit demi sedikit bisa lanjutin aktivitas membaca lagi yey!
diawali dengan yg tipis-tipis, sekaligus dalam rangka perayaan #WomanInTranslation, aku baca buku terbitan baru dari penerbit mai yang menyoroti perempuan pada era klasik jepang waktu itu.
selama membaca bukunya aku ngerasain hal-hal yang emang banyak ditemuin di buku-buku klasik jepang lainnya, dan emosi dan perasaan dari si tokoh utamanya dapet bgt sih. kek kerasa aja gitu. banyak hal dalam bukunya yg emg relate sm perempuan di indonesia aku rasa. terus aku apresiasi jg buat kak wulan karena terjemahannya enakkk bgtt beneran. gasalah sih milih penerjemahnya.
Berkisah tentang sepasang suami-istri yang hidup dalam kemiskinan. Sepanjang cerita yang saya tangkap adalah Yoshiho, sang suami yang merasa sudah tidak sanggup lagi untuk menghidupi sang istri mulai insecure dengan keadaannya sehingga membuatnya terus-menerus kesal dan mengejek sang istri, Minoru yang sebenarnya mempunyai passion di bidang seni. Minoru sendiri sebenarnya tahu potensi dirinya, namun satu hal, dia tidak berdaya menghadapi sang suami dan selalu menunggu validasi lelaki. Bagi seorang perempuan, kehidupan seperti itu ibarat dalam penjara, tidak ada kebebasan. Siapa yang ingin hidup seperti itu? Tidak ada, bukan? Namun, sepertinya memang sulit bagi tokoh perempuan dalam kisah ini untuk mendapat kebebasannya.
Jujur saya merasa jenuh di tengah cerita, ditambah Yoshiho yang selalu mengkerdilkan Minoru membuat saya jengkel, tapi satu hal yang buat saya menikmati buku ini, yaitu terjemahannya yang benar-benar enak banget untuk dibaca. Salut buat penerjemah dan editornya.
El título "Un lápiz labial para una momia" despertó mi curiosidad y me llevó a investigar de qué se trataba el libro. Cuando leí la reseña, me decidí a descargarlo. Anticipaba que el eje del relato se encontraba en una relación de pareja poco sana, codependiente. Lo que no supe entonces era que su autora, la japonesa Toshiko Tamura, lo publicó en 1913. Tantos años de por medio, tanta distancia cultural, y de todas maneras podemos conectar con lo que en él sucede.
Básicamente, describe una serie de episodios de la vida conyugal de Minoru y Yoshio, un matrimonio dedicado al arte, y especialmente a la escritura, pero que enfrenta graves dificultades económicas al intentar sustentarse de ello. Se suceden maltratos, frustraciones, prejuicios, y si bien es una lectura corta, son muchos los momentos en los que genera impotencia. Es la historia sobre una mujer talentosa que vive a la sombra de su marido y las decisiones que debe tomar para ser protagonista de su propia vida.
Sin planificarlo, este fue el libro que leí después de "Kim Ji-young, nacida en 1982", de Cho Nam-joo, y me encontré con una obra en la misma línea, a pesar de que fueron escritas con gran diferencia de tiempo. Si leyeron el best seller coreano y buscan nuevas lecturas con perspectiva de género, fuerte crítica al statu quo, en las que las protagonistas luchan contra el sometimiento que sufren por su condición de mujeres, aquí tienen otra recomendación.
Fue una lectura amena. No me esperaba que así fuera el final (a lo mejor sea abierto y hay que darle cabeza) pero no deja de ser una novela que te hace reflexionar sobre la vida en pareja, los sueños propios, las decisiones y la determinación.
La narración discurre de una forma muy suave e imperceptible en la cual somos testigos de la vida diaria de esta pareja presa de las preocupaciones y de la esperanza.
Pernah ngerasa sebal dan kecewa berat gak sih ketika passion kita ke suatu hal tidak mendapatkan tempat yang layak dan bahkan tidak dihargai oleh orang lain? kalo iya berarti kita relate banget dengan keadaan yang digambarkan sama novel feminis ini. Dimana suara perempuan dan ambisi untuk sebuah karya seni dan banyak hal lain dalam kehidupan kasar keseharian menjadi terbelakang dalam banyak hal. Kenapa mesti perempuan lagi yang jadi sasaran ketidakadilan ya? Salah satunya hal itulah yang membuat saya tertarik membeli buku ini dan kemudian membacanya.
Novel terjemahan karya sastra Jepang setebal 128 halaman ini merupakan sebuah cerita semi-otobiografi feminisme, karya Toshiko Tamura ini menurut saya tipis tapi menusuk, novel ini menggambarkan keterkungkungan perempuan dan minimnya penghargaan atas karya sastra, ekspresi seni, yang tadinya merupakan gairah pribadi seorang perempuan, karena dihasilkan oleh seorang perempuan yang acap kali dinilai kurang relevan dan dipandang sebelah mata pada masa itu karena perbedaan gender. Perempuan kerap kali dianggap tidak mampu dan dianggap tidak bisa apa, dan hanya bisa menjadi objek pelengkap penderita keadaan.
Miris dan gemesin karena ekspolorasi dan pemarjinalan bagi kaum perempuan dalam cerita ini, dan kenapa juga ceritanya menggantung sih.. Tiba-tiba udah abis aja sekali duduk. Meskipun begitu saya merasa cukup terhibur dengan karya ini, plus dengan diskusi ruang teh terbuka pada akhir novel ini, yang dibahas oleh penulis Ziggy Z dan penerjemah Asri Pratiwi Wulandari secara lugas.
Memang sangat dibutuhkan keterbukaan pola pikir, kematangan hati dan pemahaman, serta mendengarkan pendapat dari orang lain menyangkut karya sastra ataupun karya seni. Saya merasa beruntung ada penerbit lokal, Penerbit Mai yang mau menerjemahkan karya sastra Jepang feminis yang lumayan langka seperti ini, jadi bisa kenal dan menikmati karya sastra luar, dan sekali lagi juga merasa bersyukur bisa hidup di jaman tanpa batas ini dimana segala hal dapat diakses dengan mudah tanpa memperdulikan masalah gender. Rating 4/5.
seperti biasa karya sastra selalu kasih banyak pelajaran meski halamannya sedikit.
aku menangkap dua tema besar di buku ini: pernikahan dan perempuan.
sisi pernikahan: buku ini menampilkan pasangan suami istri yang toxic karena super melarat tapi tidak menemukan jalan keluar.
sang istri tipe yang idealis tapi juga plin plan, sementara si suami tipe laki-laki lemah tapi menutupi rasa rendah dirinya dengan merendahkan si istri. diceritakan keduanya sering berdebat, bahkan pukul-pukulan, sampai beberapa kali ingin pisah; tapi gak cerai-cerai dan di beberapa bagian malah mereka mesra lagi.
penting untuk menemukan pasangan yang memiliki tujuan yang sama dalam rumah tangga, saling support juga saling terbuka untuk mencari solusi dari masalah bersama. dibanding hidup seatap tapi sibuku dengan pikiran-pikiran sendiri.
sisi perempuan: diceritakan Minoru punya ketertarikan di kepenulisan dan seni peran, tapi ambisinya selalu diremehkan sang suami. tapi saat mereka makin melarat, si suami malah memaksanya kerja. menyebalkan bahwa di tengah ketidakmampuannya jadi kepala keluarga pun dia tetap sok memperlihatkan kekuasaannya. lalu saat berhasil dia pula yang merasa berjasa akan keberhasilan tsb.
hal ini juga menyebabkan Minoru jadi gak percaya diri karena nilai dirinya hanya ditentukan oleh suami. dia tidak punya support system lain yang menegaskan kalau dia bisa sendiri.
ketidakberdayaan ini juga terlihat dari berapa pun dia ingin berpisah, dia selalu mengurungkan niatnya karena merasa hanya suaminyalah satu-satunya tempat bersandar.
miris melihat bagaimana perempuan berbakat seperti Minoru termanipulasi oleh sikap suaminya, dan hal ini masih sering kita temukan di zaman sekarang.
Buku ini menarik karena merupakan sebuah karya semi-autobiografi sehingga kisah yang dijabarkan dapat diikuti dengan natural tanpa harus berpikir keras. Penggambaran suasana dalam buku ini dibungkus dengan indah sehingga saya bahkan hampir tidak ingat kalau buku ini adalah buku terjemahan. Buku ini membawa tema yang cukup menarik: feminisme dan seni. Buku ini mungkin ditulis lebih dari setengah abad yang lalu, tetapi permasalahan yang diceritakan masih terasa hingga zaman sekarang.
Sayangnya, mungkin karena realistisitas dari ceritanya yang semi autobiografi, tokoh-tokoh yang ada digambarkan dengan sangat tidak stabil. Yoshiko misalnya, kadang dia memiliki sentimen yang sangat tinggi (bahkan pernah menyakiti Minoru), tetapi kadang juga dia menjadi sangat perhatian. Terlihat realistis, tetapi saya jadi terdayung-dayung di dalam emosi karakternya yang begitu mudahnya berubah. Beberapa kali juga saya harus mencari istilah asing (furoshiki, dll.) karena tidak ada penjelasan apa pun di catatan kaki.
Secara keseluruhan, saya mengapresiasi pihak penerjemah dan penerbit yang sudah berani untuk memproduksi buku ini ke dalam bahasa Indonesia (yang sangat mulus!) karena buku ini bukan hanya memperkaya khazanah literatur klasik Jepang terjemahan, tetapi juga menambah referensi bacaan terkait feminisme dan seni.
Satu hal yg paling pertama ogut rasakan adalah gaya tulisan Tamura Toshiko di buku ini entah kenapa agak familiar. Penuh penggambaran dan majas. Saat dia mendeskripsikan suasana sekitar, ogut keinget sama gaya Hemingway bercerita. Yaitu menggunakan pengandaian yg indah.
Kata pengantar dari Ziggy yang berjudul "Terjebak di Antara" di buku ini meng-highlight hal yg penting dari novel ini, yaitu posisi Minoru (tokoh utama) yg terjebak di antara beberapa pasang apitan.
Yg paling kentara adalah keterjebakan Minoru di antara kebebasan dan ketidakberdayaan. Di satu sisi Minoru bebas dari suaminya yg ngeselin, di sisi lain ia tidak memiliki penghasilan untuk menopang hidupnya sendiri. Kondisi tsb cukup reflektif bahkan di era modern sekarang ini.
Keterjebakan Minoru antara kesombongan dan kemalasan juga hal yg cukup menarik dari novel ini. "I know I'm good at this, but I'm too lazy for that" Wkwkwk
Buku ini merupakan refleksi sekaligus kritik terhadap posisi perempuan di dunia sastra Jepang pada zaman buku ini diterbitkan pertama kali, namun kita bisa melihat relevansinya hingga sekarang ini, dan tidak hanya terbatas di Jepang, tapi juga setidaknya di Indonesia.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kalau ngeliat sinopsisnya, maka banyanganku kan: Ada istri yang hobinya tuh berke-seni-an terus gtu. Nah, tapi kemudian dia harus nahan obsesi itu, jadi ibu rumah tangga, ala-ala Jepang era modern.
Ternyata tuh engga.
Sepanjang baca, Minoru tuh seperti mengingatkan pada diri sendiri. Orang yang punya punya pemikiran (yang menurut pendapat pribadinya) pemikiran itu luar biasa. Tetapi malas sekali buat memulai. Begitu kena masalah dikit, masalah itu dijadikan alasan buat berhenti, lalu menyalahkan keadaan. Intinya, semacam orang yang cuma bisa punya ide, eksekusi tidak sampai 100%. Disepanjang cerita seperi dibuat mengutuk dua tokoh utama ini, yang kurang eksekusi, tapi pas sampai akhir buku, semuanya itu seperti mengambarkan diri (saya) sendiri.
Mungkin karena seliwer dalam ingatan, pernah baca bagaimana wanita Jepang zaman dulu tuh susah sekali untuk keluar dari konsep "ryosaikenbo" (Good Wives and Wise Mother), nah terlihat sekali bahwa mau segetol apa pun Minoru berjuang mengejar seni, ujung2nya dia akan menjadi "Good Wive". Yang "wise mother" belum bisa dilihat karena ga ada anaknya di sini.
Untuk masalah "seni" yang dikejar Minoru, karena memang terbentur sama "Good Wives"nya ini, maka si Suami masih menilai apapun yang dikerjakan Minoru adalah bentuk dari "Good Wives". Dan itu seakan "kewajiban" seorang istri Jepang pada masa itu.
“Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang tak mendapatkan apresiasi dari pasangan?”
Cerita pendek yang mampu membuka luka dan realita bagaimana kehidupan perempuan bersama pasangannya. Minoru adalah gambaran perempuan yang selalu mengusahakan banyak hal termasuk menerima apapun keadaan suaminya tanpa merendahkan dirinya di depan orang terdekatnya. Hanya saja sang suami sama sekali tak melihat ketulusan itu melainkan justru membandingkannya dengan seorang perempuan penghibur. Minoru tak pernah bahagia apapun yang diusahakannya tak pernah mendapatkan apresiasi dan selalu kurang di mata suaminya. Dia bahkan dipaksa untuk bisa mengatasi segala masalah sementara suaminya hanya bisa marah-marah dan memukulinya. Keduanya adalah pekerja seni namun memiliki pandangan yang berbeda terhadap seni. Bukankah manusia juga begitu? Ada yang enggan menerima kritik dan berkembang kemudian ada juga yang hanya diam kemudian menyalahkan keadaan?
Yoshio dan Minoru adalah sepasang suami istri. Mereka hidup dengan mengandalkan penghasilan Yoshio sebagai penulis. Tetapi setelah setahun menikah, kini mereka hidup dalam kesulitan ekonomi. karya Yoshio tidak laku, sementara Minoru menggadaikan barang-barangnya untuk menyambung hidup. Yoshio ingin Minoru membantunya mengatasi kesulitan ekonomi keluarga, atay mereka berpisah saja. Yoshio mendesak Minoru untuk menulis, tapi Minoru tidak mau kemampuannya dalam seni dipandang murah. Keduanya terus saja bertengkar memperdebatkan soal seni.
Jujur saja, membaca novella ini membuat saya kesal baik pada Yoshio ataupun Minoru. Yoshio yang ringan tangan, sementara Minoru gengsinya tinggi. Tapi terjemahannya mudah dipahami, meski bahasanya seperti berbunga-bunga...hehe. Mungin karena novella ini termasuk karya klasik ya.
Bayangin kalau kamu punya pasangan tapi pasanganmu nggak mendukung mimpimu, selalu meremehkan mimpimu, tapi saat kamu berhasil pasanganmu akan iri atas pencapaianmuu 🥲
Kejadian diatas merupakan hal yang dialami oleh Minoru, istri dari Yoshio. Mereka merupakan pekerja seni yang jatuh miskin, mereka tidak bisa menghidupi dirinya melalui seni. Minoru merupakan penulis wanita yang selalu berusaha menjual tulisannya ke penerbit, tapi selalu gagal. Yoshio sang suami juga tidak pernah mendukung sang istri, mereka selalu bertengkar dan sering kali mereka mengucapkan kata berpisah.
Pernah sekali Minoru berhasil memenangkan hadiah dari tulisannya dan mendapatkan uang, tetapi Yoshio menganggap keberhasilan sang istri gara² dirinya. Dann di lingkungannya pun penulis perempuan masih sering kali dianggap kecil, dianggap tidak mampu diatas laki² (kyaknyaa ini masih relate sampai sekarang sihh). ........................ Novel ini merupakan terjemahan dari bahasa Jepang yang diterjemahkan oleh Penerbit Mai & Asri Pratiwi Wulandari. Gincu sang mumi karya Tamura Toshiko ini diterbitkan pada tahun 1914 (woww udah lama bangett), dan novel ini merupakan novel semi-otobiografi yang berarti cerita didalam novel ini berisi kisah nyata dari penulis.
Novel ini bisa dibaca sekali duduk karena tergolong tipis dengan130 halaman. Oiya halaman belakang juga ada tulisan dari Ziggy yang mengomentari masalah penulis perempuan.
This entire review has been hidden because of spoilers.