Tata tahu, menjadi perempuan tak semudah itu. Tata tahu, menjalin sebuah hubungan yang tak melibatkan rasa, bagi kaum hawa seperti hal yang mustahil. Sebab, pada akhirnya ia kalah. Cinta datang tanpa himbauan. Rasa datang memenuhi sudut-sudut kosong. Dan, logika ... seakan menghilang tanpa sisa.
Seharusnya tak menjadi masalah. Seharusnya Tata bangga telah menemukan rasa cintanya untuk pria yang (ia anggap) tepat. Namun, inilah kelirunya. Ia jatuh cinta pada lelaki yang sudah bersumpah untuk menjaga, menghidupi dan menyayangi seorang perempuan di depan ayahnya. Ya, Tata jatuh cinta pada Agra, lelaki beristri, yang semula hanya menganggapnya teman berbagi cerita.
Tata jelas tahu, cinta hadir tak pernah salah. Namun, yang ia tanyakan, apakah merebut kebahagiaan orang lain demi cintanya, itu dilakukan seorang perempuan? Di tengah perang batinnya itu, Tata juga tak boleh melupakan kehadiran Bhadra, sosok yang merasa bahwa dirinya pun perlu diperhatikan.
Sementara, Bhadra adalah sosok yang sangat dekat dengan Agra.