Saya baca dalam bahasa inggris namun akan memberi review dalam bahasa indonesia.
Buku the city at eye level adalah salah satu buku yang disarankan oleh dosen saya. Secara sekilas saja buku ini sudah menarik karena menggunakan judul yang menggugah, namun ternyata setelah dibaca pun isinya ternyata lebih asyik.
The city at Eye Level mencoba untuk menggali perhatian pembaca terhadap apa yang disebut sebagai plinth. Teori plinth ini sudah dirangkum secara menyeluruh berdasarkan teori-teori yang sudah berdiri sebelumnya seperti teori Jan Gehl, Jane Jacobs, Allan Jacobs, dan lain lain.
Saya suka bagaimana penuturan dan segmentasi penulis dalam buku ini.
Buku ini tidak membahas teori secara menutut namun menyampaikannya dengan studi kasus sehingga teori yang didapatkan bisa langsung relevan dan terasa lebih dekat dan tervisualisasikan lebih jelas. Harus dikemukakan bahwa studi kasus yang dilampirkan oleh penulis cukup banyak dan terpolarisasi khususnya hanya di Eropa saja, atau bahkan, hanya di Belanda saja. Namun, hal ini masih bisa dimaafkan karena pembahasan yang optimis dan justru menambah referensi kasus untuk saya sebagai pelajar dan pembaca.
The city at eye level tidak hanya membahas kota dari segi desain, tapi juga mengajak beragam tokoh untuk ambil andil untuk menciptakan kota yang lebih baik. Hal ini berulang-ulang dia sampaikan bahwasannya hasil yang baik dan menyenangkan banyak pihak dapat kok diraih kalau sama sama mau usaha. Dan itu dibuktikan dengan kasus kasus yang penulis lampirkan.
Pada akhirnya buku ini adalah bacaan wajib untuk anak tata kota (menurut saya) karena sungguh, bukan hanya pola tata kota saja yang harus diperhatikan, namun pengalaman berada di kota juga merupakan sesuatu yang tidak dapat diabaikan.
Mengutip kata penulis, it's not about making a city, it's about being a city