Apakah Anda merasa lelah dan tidak bergairah? Apakah emosi Anda meluap-luap dan sangat gampang sekali marah? Apakah Anda merasa takut menghadapi masa depan Anda yang misterius itu? Apakah Anda termasuk tipe orang yang berpikiran terbuka? Apakah Anda sering berpikir Andalah yang paling benar sehingga menyalah-nyalahkan orang lain?
Sejujurnya semua pertanyaan di atas bermuara ke satu hal, yakni bagaimana Anda melatih emosi Anda. Seni menerima diri apa adanya adalah sebuah sikap mindfulness. Tidak menjadikan hidup Anda menjadi serba lamban, namun banyak hal yang dapat dirasakan dengan mencoba gaya hidup mindful ini. Sampai-sampai perusahaan sekelas Google dan perusahaan-perusahaan lainnya di Silicon Valley mewajibkan karyawannya untuk mengikuti kelas mindfulness wajib.
Sony Adams, penulis buku “30 Days Pursuit of Happiness”, secara personal memang empat tahun belakangan ini banyak berhubungan dengan meditasi dan praktik aplikasinya. Menurutnya, meditasi adalah momen paling pribadinya untuk memberi jeda terhadap semua ingar-bingar keramaian dunia luar tak semakin hari akan semakin tidak terkendali. Meditasi adalah sejenak hening namun tetap sadar bahwa sejatinya dunia ini hanyalah sehimpun proses sederhana di mana kita bergantung pada kesadaran dan faktor-faktor mental kita yang beradu dengan panca indra kita ini. Ia mulai mendalami meditasi setelah perkenalannya dengan beberapa momentum yang mengajaknya melangkah ke dalam diri sendiri beberapa tahun yang lalu. Walau pada awalnya memang berat, namun kini ia sudah bisa merasakan manfaatnya secara langsung. Berdamai dengan diri sendiri adalah sebuah misinya yang ingin disampaikan kepada sebanyak-banyak orang di luar sana dan menulis buku-buku yang berhubungan dengan hal itu adalah sebuah langkah perwujudannya. Ke depan, ia akan terus berkarya menulis buku-buku pencerahan spiritual agar semua orang sadar apa sebenarnya misinya lahir ke bumi ini sembari tetap rajin melakukan meditasi di sela-sela kesibukannya menulis dan bekerja.