Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dari Jokowi ke Harari: Kumpulan Esai tentang Politik, Ilmu, dan Masa Depan

Rate this book
DARI JOKOWI KE HARARI mengajak kita untuk memahami pelbagai persoalan politik, ekonomi, sains, sejarah, hingga peradaban dengan cakrawala yang lebih luas. Ditulis secara populer, penulis bukan saja menyajikan kepada kita argumentasi dan gagasan yang segar, melainkan juga sebuah renungan: Benarkah selama ini kita telah coba mencari solusi atas pelbagai persoalan hidup dengan nalar yang jernih?

Paperback

First published February 1, 2019

3 people are currently reading
18 people want to read

About the author

Rizal Mallarangeng

5 books4 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (12%)
4 stars
17 (68%)
3 stars
4 (16%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (4%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Faisal Chairul.
272 reviews18 followers
August 10, 2021
Buku ini merupakan kumpulan esai yang terdiri dari tiga bagian secara garis besar, yaitu tentang tokoh politik, tentang keilmuan dan tentang demokrasi Indonesia. Di bagian penutup juga disisipkan satu esai tentang sedikit kepingan kehidupan penulis dan kenangannya dengan salah satu 'guru kehidupan' beliau. Sedikit informasi tentang latar belakang penulis, Rizal Mallarangeng, beliau memperoleh gelar PhD bidang ilmu politik dari The Ohio State University, AS.
.
Bagian pertama: Tokoh-tokoh politik dunia yang menyebabkan tremblement de terre politique
.
Bagian pertama ini terdiri dari 6 esai, membahas mulai dari Joko Widodo, Emmanuel Macron (Presiden Prancis), Xi Jinping (Presiden Republik Rakyat Tiongkok), Donald Trump (Presiden AS 2017-2021) dan Hillary Clinton (calon presiden AS pemilu 2017).
.
Esai tentang Jokowi ada dua, yang pertama mengkaji ulang hipotesis seorang jurnalis Australia yang mengatakan bahwa "Indonesia's Widodo, maverick no longer", yang terinspirasi dari teori salah seorang ilmuwan politik Australia, Eve Warburton. Hipotesisnya adalah saat masa-masa tulisan ini dimuat (2016), telah terjadi pergeseran pola kepemimpinan Jokowi. Dikatakan, Jokowi telah menjadi politisi normal, bukan lagi politisi yang melakukan gebrakan sana-sini, atau istilahnya maverick no longer. Sementara itu, esai kedua tentang Jokowi membahas tentang masukan terhadap pola isi pidato yang sebaiknya disampaikan. Hal ini berkaitan dengan "keistimewaan" podium sebagai medium penyampaian pidato, yang kuasanya berada sepenuhnya di kehendak orang yang menyampaikan.
.
Esai berikutnya menyoroti posisi Presiden Republik Rakyat Tiongkok saat ini, Xi Jinping, yang berada di persilangan antara partai, birokrasi dan militer dan hubungannya dengan kemampuannya mempertahankan pertumbuhan pesat RRT sejak era Deng Xiaoping. Pak Celli, sapaan akrab penulis, juga mengangkat soal harapannya terhadap kepemimpinan presiden termuda Prancis, Emmanuel Macron, yang saat terpilih berusia 39 tahun, dalam menghadapi tantangan-tantangan berat yang dihadapi Prancis.
.
Selain itu, penulis juga turut berkontribusi dalam menyumbangkan gagasannya terkait the Trump phenomenon, alasan mengapa seorang Donald Trump yang gagal di dua pemilu sebelumnya bisa terpilih menjadi Presiden di pemilu 2017. Hipotesis penulis diangkat mengacu pada ungkapan seorang mantan penulis naskah pidato Presiden Ronald Reagan: publik AS sedang so in play; berubah, bergerak, membingungkan sekaligus menggairahkan, sering menjengkelkan, tetapi mungkin juga membuka sebuah celah baru. Esai terakhir di bagian pertama ini ditutup dengan alasan-alasan mengapa Hillary Clinton, pesaing Donald Trump di pemilu 2017, hampir bisa dipastikan mengungguli perolehan suara. Tulisan ini tetap dimuat, aku penulis, sebagai pembelajaran bahwa politik itu tidak pasti dan penuh kejutan.
.
Bagian kedua: Harari, Pinker dan Sillicon Valley
.
Bagian kedua buku ini dibuka dengan ungkapan kekaguman terhadap karya Yuval Noah Harari, seorang profesor sejarah Hebrew University, Sapiens. Kekaguman penulis dilatarbelakangi oleh keberanian Harari yang mengedepankan penyampaian sejarah secara garis besar dan kreativitasnya meramu penulisan karya tersebut. Penulis juga meletakkan harapan tinggi akan karya-karya Harari selanjutnya sehingga patut disejajarkan dengan kontribusi Francis Fukuyama, seorang ilmuwan politik kelahiran AS, yang terkenal akan karyanya The End of History and the Last Man.
.
Kekaguman penulis akan Harari mungkin tidak cukup terlukiskan hanya dengan satu esai. Penulis juga menulis satu esai lain yang mengomentari karya lain Harari, "Homo Deus". Penulis pun juga mengutip komentar Daniel Kahneman, seorang peraih Nobel Ekonomi, terhadap Harari sebagai "penulis yang sanggup menghibur, mengejutkan, memberi cara pandang yang belum terpikirkan sebelumnya". Namun terkait komentar terhadap karya kedua Harari ini, penulis agaknya sedikit kecewa dengan pendekatan Harari, yang seperti Fukuyama, menutup cerita the end of history dengan muram dan kelam.
.
Berbanding terbalik dengan suasana muram dan kelam ala distopia di buku Harari "Homo Deus", penulis juga menulis esai ulasan buku tentang dunia yang sudah berada di fase utopia, pencerahan. Buku yang diulas ditulis oleh Steven Pinker, seorang doktor di bidang psikologi, berjudul "Enlightenment Now". Melalui data dan grafik, yang mengingatkan gw sama bukunya Hans Rosling "Factfulness", Pinker menepis pesimisme banyak orang bahwa dunia saat ini kembali masuk ke jurang kemunduran. Sebaliknya, sebagai contoh, dalam argumennya menepis hipotesis seorang ahli ekonomi bernama Thomas Piketty, kaum kelas bawah pun are far richer dibanding kelompok yang sama seratus tahun yang lalu.
.
Esai paling menarik ketika penulis memaparkan tentang sejarah Silicon Valley dan Universitas Stanford yang terletak di jantung kota Palo Alto, AS. Penulis memaparkan bagaimana menariknya sejarah awal terbentuknya Universitas Stanford, yang memiliki filosofi dasar berbeda dengan universitas besar di AS dan Eropa pada umumnya, yaitu dengan dasar sekuler: perguruan tinggi yang tidak terkait dengan kepentingan gereja atau agama apa pun.
.
Diceritakan, pada awalnya hingga menginjak tahun 1930, Universitas Stanford masih merupakan institusi pedesaan terpencil dan tak dikenal. Perubahan terjadi dipicu oleh satu perkembangan situasi yang membuka peluang baru. Sejarah ini mengingatkan gw akan uraian Jared Diamond dalam bukunya "Collapse". Di dalamnya, Diamond menyampaikan bahwa perkembangan atau keruntuhan suatu peradaban salah satunya dipengaruhi oleh faktor yang juga membuat Universitas Stanford berkembang hingga melahirkan Silicon Valley yang kita kenal sekarang.
.
Guru Kehidupan
.
Buku ditutup dengan cerita penulis mengenang 'guru kehidupan' penulis, Ashadi Siregar, sebagai bentuk a token of appreciation. Bang Hadi, begitu sapa penulis, merupakan inspirator, mentor, dosen sekaligus sahabat. Penulis menceritakan bagaimana Bang Hadi menginspirasi penulisan skripsi penulis yang mengangkat tema jurnalisme Orde Baru. Selain itu, bagaimana Bang Hadi memperkenalkan masalah-masalah etis dalam komunikasi publik dalam pers dan jurnalisme saat mengajar penulis. Penulis pun mengenang Bang Hadi sebagai seorang yang memotivasi penulis agar tidak patah semangat ketika gagal diangkat menjadi dosen di almamaternya, Universitas Gajah Mada, saat itu karena masalah politis.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rheza Ardi.
32 reviews1 follower
May 8, 2021
Gramedia Padjadjaran Bogor sudah almarhum. Bagi mereka yang tumbuh dewasa di kota hujan, tempat ini legendaris.

Beberapa teman saya, sedih lihat pengumuman ini. Ada yang sering pake Gramedia Padjadjaran buat janjian--entah sama pacar, atau sama nonpacar. Haha. Ada juga yang baca gratis disana--jangan-jangan gara-gara kebiasaan ini pengelolanya susah balikin modal usaha.

Saya nggak sempet nanya alasan pastinya, tapi saya sempat tanya satu pertanyaan: ada cuci gudang nggak. Haha. Jawabannya ternyata nggak ada. Artinya nggak ada diskon khusus sebagai tanda perpisahan.

Surprisingly, buku yang saya beli ini, tetep didiskon. Karena ternyata, dibeli dalam periode "promo gedebuk" yang berlaku di semua Gramedia saat itu. Lumayan.

Dari Jokowi ke Harari isinya kumpulan esai buatan Rizal Mallarangeng atau akrab disapa Celli. Dia dikenal sebagai ilmuwan politik lulusan AS. Mantan wapemred Metro TV--yang kini jadi pemred Lampung Post--Abdul Kohar pernah menulis bahwa Celli inilah yang turut berkontribusi dalam tren penghitungan suara quick count di televisi--yang dipelopori Metro TV tahun 2004.

Dalam buku setebal dua ratusan halaman ini, kita bisa mengenal Pak Celli sebagai ilmuwan politik tadi. Dalam sebuah esai yang ditulis untuk Bill Lidle, ia mengisahkan pengalaman akademisnya sejak menempuh strata sarjana di UGM Yogyakarta hingga lulus dari OSU Columbus, Amerika Serikat.

Tulisan itu terasa personal sekaligus bergizi. Ada nukilan tentang pengalaman uniknya batal jadi dosen UGM akibat aktif di kegiatan kemahasiswaan. Ditulisnya bahwa momen itu: penanda zaman. Sebagai akademisi, Dalam judul yang sama, Pak Celli juga menyisipkan gagasan dari buku yang ia baca. Di situlah gizi yang saya maksud--yang dengan berlimpah kita temui pula dalam artikel lain dalam buku ini.

Judul terakhir memang berkisah tentang Bill Lidle--selain tentang Ashadi Siregar di bab yang sama. Meski begitu, Pak Celli menulis topik lain juga. Tentu saja, seperti yang tertulis di judul: dari analisa pidato presiden Jokowi, pembahasan fenomena presiden Trump, hingga resensi dua buku Yuval Noah Harari.

Bahasan-bahasan dalam buku terbitan 2019 ini sebenarnya banyak yang juga bisa dibaca di internet. Saya pernah baca artikel tentang Silicon Valley di situs Qureta. Rasanya ternyata beda. Ketika simak lagi tulisan yang sama di atas kertas, ada semacam ingatan yang terasa lebih melekat. Barangkali itulah keajaiban buku fisik yang nggak bisa digantikan piranti digital.

Menurutku, tulisan Pak Celli tentang Golkar dan Airlangga Hartarto terasa bias. Kakak mantan menpora Rizal Mallarangeng ini memang punya jabatan di Golkar, sehingga tulisan yang saya maksud terasa kurang introspektif.

Ada sih, sisi introspeksi soal prahara Setya Novanto dan Idrus Marham, tapi nggak kritisi penyakit korupsi itu sendiri. Airlangga Hartarto, juga terlalu disanjung sebagai technopol untuk konteks pemilihan calon wapres Jokowi di Pilpres 2019. Mungkin karena saya sekarang terganggu dengan gaya "technopol" menko perekonomian itu yang "kok lulusan sekolah yang sama dengan Donald Trump gaya bicara dan kelakuannya begitu?".

Seminggu setelah saya beli di Gramedia Padjadjaran dengan korting setengah harga, buku ini tandas saya baca. Soalnya memang se-nggak bisa berhenti dibaca itu. Gaya bahasanya terasa berrima. Ada kalimat panjang, disambung kata atau kalimat pendek berbahasa inggris. Pak Celli mungkin ingin makna dari gagasannya tidak terdistorsi oleh translasi.

Selanjutnya, mungkin saya akan beli lagi kalau ada buku kumpulan esai lain yang diterbitkan Pak Celli. Mending baca lewat buku fisik, dibanding baca artikel di website. Dunia digital terlalu bising. []
Profile Image for lilgirl 💕.
138 reviews9 followers
June 11, 2019
Setelah hiatus membaca buku2 non-fiksi berbulan-bulan lamanya dikarenakan penat setelah menghabiskan skripsi kemarin, finally I’ve found another great book, all thanks to teman saya, hikmah, yg telah meracuni saya utk membeli buku ini.. This is such a great book (saya baru membaca sampai hal 113 and already decided that this is a great book😅) Ini adalah kumpulan esai yang memberikan ilmu baru serta informasi dengan begitu deskriptif tanpa embel2 menggurui.. It’s feel more like you’re in the conversation with the author and he’s like your favourite professor giving you some lecture on your favourite subject.. He’s giving you the chance to digest all the information first and then continue to another chapter.. Did u ever feel like your head gonna explode when you’re eating something you don’t expect gonna be really delicious? This is exactly how I feel every time I turn the pages of this book.. Definitely gonna read this more than twice 😌👌🏻
Profile Image for Muhammad Rizatha.
4 reviews
June 14, 2019
Seperti biasa penulis ( Rizal Mallarangeng) selalu menyajikan esai dengan perspektif yang menarik dan argumen-argumen yang bergairah.

Kebetulan banget sebelum baca buku ini, saya memang memiliki curiosity yang cukup tinggi tentang pemimpin RRT yang sekarang Xin Jin Ping & tentang Stanford University berserta Sillicon Valley-nya. Ga nyangka penulis menyajikan esai ttg 2 topik ini dengan perspektif yang sangat menarik.

Dan tentunya ada esai mengenai Sejarahwan asal Israel Yuval Noah Harari yang buku nya sedang menjadi topik pembicaraan kaum intelek di dunia sekarang ini.

Top 👍
Recommended Book
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Agoes.
518 reviews37 followers
February 25, 2019
Esainya bagus meskipun penulisnya agak bias ketika membahas Golkar. Khususnya dalam tulisan yang menjelaskan mengapa Ketum Golkar pada saat itu (Airlangga) adalah kandidat cawapres terbaik bagi presiden Jokowi. Tapi secara keseluruhan tulisannya bagus banget.

Nanti dilengkapi reviewnya kalau sudah sempat.
Profile Image for Visil.
21 reviews
September 12, 2019
Buku saku yang baik bagi generasi muda yang mulai tertarik pada dunia politik. Pemikiran elit Golkar satu ini bisa jadi contoh bagaimana politisi tetap bisa jadi permata di kubangan lumpur. Jangan pikir soal kubunya, tapi lihat pemikirannya. Buat anak muda yang hobi baca dan pengen belajar/mengasah kemampuan mengulas buku, tulisan Om Cheli di bab-bab awal sangat bagus dijadikan contoh.
Profile Image for Steven S.
710 reviews66 followers
March 29, 2019
Tulisan dari akademisi terdepan Indonesia.
Profile Image for Ilham Rusdiana.
158 reviews1 follower
January 6, 2020
Buku ini memuat kumpulan tulisan Rizal Mallarangeng di berbagai media cetak maupun daring pada 2015 hingga 2018.

Bernas, mendalam, dan membuka wawasan.
4 reviews
January 2, 2021
Clear and insightful. Would highly recommend anyone who’s looking for a good read about politics.
24 reviews
October 29, 2021
The author really shows his capability and knowledge in his writings, he also gives us his optimistic views of what's happening, but for me, he's less objective.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews