Što bi bilo kada bismo svoje razumijevanje dječjeg razvoja proširili sagledavajući ga s naglaskom na samoizražavanje i zajedničko provođenje kvalitetnog vremena? Danas previše vremena i energije ulažemo u obrazovne temelje dječjeg razvoja umjesto da djeci dopustimo da istražuju sebe i svoju okolinu. Bezbrižno nestrukturirano slobodno igranje nije gubitak vremena. Upravo suprotno, igra je dragocjeno iskustvo isprobavanja koje djeci nudi neograničene mogućnosti stvaranja i izražavanja beskonačnosti njihove mašte. Ova se knjiga bavi pitanjem zašto je igra ključan element dječjeg razvoja i nudi uvid u važnost igre u odgoju otporne i zdrave djece. Praktičan je savjetnik za roditelje i odgojitelje o tome kako učiniti igru dijelom svakidašnjice.
Iben Sandahl is the author of The Danish Way of Parenting: What the Happiest People in the World Know About Raising Confident, Capable Kids. She is a professional parenting expert, narrative psychotherapist MPF, family counselor, teacher and speaker. She has more than 20 years of experienced insight into child psychology and education, which in a most natural way anchor the Danish way of practicing parenthood.
Dok čitaš knjigu Igra na danski način ne možeš se oteti dojmu da sve to već znaš i da se to oduvijek tako radi u nas, a opet se pitaš zašto se to tako ne radi u nas. Poznato, a nepoznato, sažetu u malu privlačnu knjižicu. Poznato u smislu da su se tako u nas djeca odgajala 80ih i 90ih, a nepoznato u smislu da Danci znaju dublje značenje takvog odgoja i da su zbog njega odlučili i dalje nastaviti i poboljšati ga kako bi svojoj djeci i budućim odraslima usadili vrijednosti koje će im trebati za cijeli život, kako za pojedinca tako i za zajednicu, jer veliki je naglasak stavljen na zajednicu koja je nama gotovo nepoznat pojam. Knjiga za cjelovito roditeljstvo i odgoj, ali i za one koji rade s djecom i na njihovom odgoju - vrtići, škole, knjižnice.
Sebagai seseorang yang setuju dengan prinsip-prinsip psikologi bermain, saya banyak setuju dengan apa yang tertulis dalam buku ini. Bermain itu penting, namun ada hal baru yang saya dapatkan, bahwa bermain bebas itu penting. Seringkali kita khawatir bahwa bermain sama dengan buang-buang waktu. Kita ingin anak-anak terus belajar sesuatu. Benar bahwa belajar bisa saja dilakukan dengan bermain secara terstruktur, namun kita bicara mengenai bermain bebas! Bermain bebas itu penting, jangan khawatir setiap anak akan menguasai sesuatu pada waktunya.
Éreztem én, hogy a két könyv közül ez lesz a hasznosabb! Tök jól fogyaztható falatokban van körüljárva benne, hogy mit jelent a játék, miért fontos, hogyan fejleszt, hogyan nem fejleszt.
Siapa yang tak kenal dengan permainan Lego? Berasal dari kata Leg Godt (bermain dengan baik), permainan bongkar pasang ini digandrungi segala macam usia. Permainan ini berasal dari Denmark yang dikenal sebagai negara yang mempunyai indeks kebahagiaan tertinggi. Menariknya, salah satu sumber kebahagiaan diyakini oleh orang Denmark dari kegiatan bermain. Bagaimana bisa? Buku Play The Danish Way menjadi narasi untuk penjelasan di atas.
Iben, sang penulis mengemukakan bahwa dasar orang Denmark menekankan pentingnya bermain sudah terjadi sejak abad 19. Ditandai dengan adanya teori pendidikan yang mengedepankan konsep bermain yang dicetuskan oleh Niels dan Erna Juel Hansen. Keduanya terinsipirasi dari teori Friederich Frobel, pendidik asal Jerman yang melihat bermain mempunyai dampak hebat terhadap tumbuh kembang anak. Penulis berpendapat bahwa state of nature dari anak-anak adalah bermain yang dianggap sebagai bentuk ekspresi kultural sehingga di belahan bumi manapun, anak-anak pasti menyenangi kegiatan tersebut.
Seketika muncul pertanyaan di benak saya. Apa yang membedakan konsep bermain orang Denmark dengan yang lain? Apakah negara lain masyarakatnya tidak sebahagia orang Denmark? Apakah tidak ada orang yang tidak bahagia di Denmark? Penulis tidak menyatakan bahwa orang terbahagia ada di Denmark atau tidak ada orang yang tidak bahagia di negaranya. Dia berargumen bahwa orang Denmark mempunyai kesadaran lebih tentang bermain yang mampu menciptakan kebahagiaan. Dia menjelaskan bahwa bermain bukan kegiatan bermalas-malasan, melainkan momentum membentuk kreativitas dan memupuk kecerdasan emosional serta mengasah hubungan sosial. Konsep bermain yang ditawarkan orang Denmark adalah bermain bebas dan tidak terstruktur. Konsep bermain tersebut memberikan kebebasan anak-anak untuk bereksplorasi dengan mainannya dan proses bermain.
Bermain bebas dan tidak terstruktur tidak ditujukan untuk peningkatan kecerdasan anak sebagai hasil akhir. Bukan pula untuk mengarahkan anak belajar melainkan menikmati proses bermain dan kesenangannya.
Berdasarkan penelitian, tanpa adanya paksaan dan arahan, secara otomatis anak akan belajar sesuatu dari proses bermain tersebut. Tumbuh kembang anak pun menjadi baik dan ketika dewasa menjadi sosok yang cerdas secara IQ dan EQ. Dari situ dapat disimpulkan konsep bermain bebas dan tidak terstruktur sebagai konsep nothing to lose. Poin menarik yang juga dituliskan dalam buku ini tentang diferensiasi dan setara gender dalam pendidikan. Penulis menjelaskan bahwa di setiap sekolah di Denmark, pengajar harus membimbing murid-muridnya sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Inilah yang disebut diferensiasi sehingga keunikan setiap anak mampu terfasilitasi. Selain itu, dalam kegiatan aktivitas bermain baik di sekolah maupun di rumah, tidak ada pembedaan dalam pretend play dan jenis mainan. Artinya anak laki-laki diperkenankan untuk bermain boneka , sebaliknya anak perempuan boleh bermain mobil-mobilan. Pada dasarnya anak tidak mengetahui tentang gender kecuali lingkungan yang membentuknya kepada satu gender tertentu. Pemahaman anak terkait gender bersifat netral sehingga orang tua dan lingkungan yang bertugas untuk menyajikan pengetahuan tersebut secara clear. Pada faktanya, tidak salah apabila anak perempuan menjadi teknisi dan anak laki-laki menjadi koki. Dalam konsep setara gender di sini, saya sedikit sangsi terhadap konsep orang Denmark. Based on my personal view and as a Moslem, pemahaman tentang kodrat laki-laki dan perempuan sudah jelas menurut ajaran Islam. Hal tersebut penting dijelaskan sedini mungkin dengan penjelasan yang disesuaikan dengan usia anak. Bagi saya kadang sedikit rancu antara kesetaraan gender dengan batasan kodrat. Untuk poin tidak mengkategorikan mainan kepada gender tertentu, saya sepakat selama ada pendampingan. Saya juga setuju dengan fakta bahwa kelak anak akan menjalankan profesi tanpa harus dibatasi gender.(It's still debatable ☺️🙏)
“Bagaimanapun, tiap individu memang lain-lain dari segi kepribadian, watak, kemampuan fisik, gaya belajar, keluarga, dan pengalaman hidup. Tiap anak memiliki kekuatan, bakat, dan minat yang unik. Semua ini sangat penting untuk dicamkan.” Hal. 25⠀⠀
Bermain bebas tidak terstruktur adl wajib. Memberi ruang untuk imajinasi tanpa batas, dalam rangka membesarkan anak-anak yang tangguh, sehat & berkepribadian seimbang.⠀⠀
Bermain bebas mengembangkan aspek dalam diri. Kreativitas, berpikir secara kritis, kondisi fisik dan mental yang lebih sehat, pengendalian diri dan bersosialisasi sang anak.⠀⠀
Prinsip Dasar pembentukan anak seutuhnya dalam bermain:⠀⠀ 1. Hygge: Suasana senang, nyaman, dan tentram dimana menjadikan kita merasa diterima, aman damai & bersemangat. Orangtua berada disekitar anak dan mengoberserve membiarkan anak berimajinasi dan berkreativitas maksimal.⠀⠀ 2. Kesetaraan: Bersama-sama bermain yang memungkinkan anak eksplorasi minat tanpa dikekang oleh stereotype gender. Semua anak mendapat kesempatan yang sama tanpa perbedaan gender seperti anak perempuan boleh bermain mobil-mobilan dan boneka & anak laki-laki juga boleh bermain mobil-mobilan dan boneka. No genderisasi.⠀⠀ 3. Hubungan: Bagaimana bermain juga bersosialisasi memampukan anak untuk belajar bersahabat, akrab, kedekatan, rasa percaya, dan aspek emosional ⠀⠀ 4. Penopang: bisa dianggap sebagai jaring pengaman, ibaratnya berjalan sebelum berlari. Penting untuk menghargai batasan tidak memaksa anak keluar dari jauh dari zona nyamannya.⠀⠀
Walaupun bermain bebas tetap ada batasan dimana kita dituntut konsisten dalam mengasuh dan mengetahui norma. Tetap mengawasi anak tidak terlalu bebas melakukan apapun sesuai kehendaknya dan memperhatikan lingkungan sekitar karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. ⠀⠀
Terdapat contoh permainan edukatif yang dapat dicoba dengan anak. Menarik, diingatkan & belajar kembali dari bermain segudang positive impact dihasilkan.⠀⠀
Diberikan teman & covernya menarik, belum bisa dipraktekin jadi tabungan ilmu dulu.
Membesarkan anak dengan bermain. Proposal yang menarik banget nggak sih?
“Dewasa ini hampir segalanya disangkutpautkan dengan pembelajaran, tetapi bagaimana jika kita mengesampingkan elemen edukasi dan berkonsentrasi saja pada aspek “kesenangan”-nya.”
Sebenernya agak ironi sih. Main aja harus belajar dari buku. Hahaha. Tapi mungkin ini fungsi buku-buku pengasuhan. Ya sebetulnya sudah tahu dasarnya mah, kan. Bermain dengan bebas akan bikin anak bahagia lalu banyak belajar dan jadi dewasa yang bahagia juga. Tapi tetap butuh validasi dan excuse-excuse yang terasa scientific agar tenang dan terasa berdasar dalam membesarkan anak.
Kalau belum bisa diaplikasikan ke Saga, buat diri sendiri juga banyak manfaatnya sih. Mengingatkan diri kalau hidup itu ga selalu harus belajar ini itu dan boleh saja bermain bebas yang mungkin malah bisa dapat hal yang lebih banyak--walau pun dalam kenyataan belum tentu bisa, ya.
Awalnya cukup hopeful sama buku ini, tapi setelah dibaca, ya... ternyata menurutku nggak ada sama sekali hal yang baru. Bagus, sebagai reminder aja betapa pentingnya bermain untuk anak, dan juga orang dewasa. Kupikir karena dia profesional juga bisa lebih banyak menyajikan data-data ilmiah, tapi lagi-lagi itu juga nggak saya temukan di buku ini.
Terjemahan bahasa Indonesianya juga aneh menurut saya, ada beberapa kata yang nggak ada subjeknya, penggunaan diksi yang agak membingungkan (sampai harus kembali baca kalimatnya agar paham), salah satu hal yang agak bikin frustrasi ketika membacanya.
Tentu saja ada hal-hal yang tidak bisa 100% dipraktekan di Indonesia secara negara ini memiliki keragaman etnis, budaya dan lingkungan yang menyebabkan ada perbedaan gaya dan cara hidup.
Namun, hal yang saya sukai mengenai buku ini adalah mengingatkan saya sebagai seorang Ibu agar tidak berekspektasi tinggi terhadap anak. Biarlah mereka tumbuh dan berkembang menjadi dirinya yang bahagia.
Sebagai orang tua, hanya mampu membimbing mereka. Anak-anak akan memiliki pikiran sendiri. Kita pun begitu.
Easy to read, very simple but yet very hard to implement all of the stuff in your parenting and life. But this book is a good reminder to think about some stuff and try to implement it even more. Can't see the reason someone shouldn't read it.
Jako zanimljiva i intrigantna knjiga, pogotovo jer je iz nekog drugog gledišta, točnije danskog. Izrazito kvalitetna knjiga puna savjeta, preporučila bih je svakom odgojitelju i/ili (budućem) roditelju.