Andira adalah seorang gadis remaja polos yang pikirannya bisa sangat kritis. Sehari-hari, dia mengurusi ibunya yang sakit-sakitan dan menulis surat pada seseorang yang dia kenal lewat rubrik majalah.
Melalui surat-surat itu, dia bercerita tentang hidupnya. Mulai dari kebingungannya atas silsilah dan wajah keluarga yang beragam, cemoohan orang-orang kepada mereka, dan yang paling membingungkan adalah bangkitnya sang ibu dari kematian setelah dinyatakan meninggal.
Nyatanya, surat-surat itu membawa Andira menemukan sesuatu yang dia cari. Sesuatu yang dia tunggu… sesuatu yang tidak pernah ia siap
——————
Buku ini ditulis oleh Dimasta dan Risa Saraswati, sebagai sebuah persembahan atas pernikahan mereka. Sama-sama punya latar belakang sebagai penulis cerita misteri, keduanya mengemas drama fiksi ini dengan penuh teka-teki.
awalnya aku pikir ah ini mungkin kisah perjalanan cinta teh risa sama a dimas. setelah beberapa halaman aku baca mulai bosan sih, karena sudah ada persepsi diatas tadi. tapi ternyata semakin dalam aku baca ceritanya semakin menarik. tenung disini ternyata menyangkut hal mistis - tenung/teluh/guna-guna yang sedari awal aku pikir tenung itu menenung atau merajut. hmm.. . lanjut, ok ini cerita horor lanjutkan bacanya. dan ternyata bukan ini. ini kisah cinta berbalut konflik keluarga dan sedikit sentuhan mistis dengan cara menulis yang unik.
A Late Review (Mengandung Klise) #RHREVIEW ------------------------------- Tenung, sebuah karya dari kolaborasi dua penulis kisah misteri. Yang satu diterbitkan, yang satu disiarkan tiap malam Jum'at. Mereka ialah Risa Dimasta, yang menggarap buku ini sebagai persembahan pernikahan mereka tempo Februari. Dengan Risa yang bercerita dengan sudut pandang seorang gadis bernama Andira Kusumadewi, dan Dimas dengan sudut pandang seorang pria bernama Rahandi Syafial. . Ira, atau Andira, seorang gadis remaja bungsu memiliki tiga orang kakak, Ara, Ari, Aru, yang masing-masing dari mereka memiliki wajah yang berbeda, tidak mirip. Setiap hari Ira harus mengurusi ibunya yang sakit-sakitan. Entah siapa ayah mereka, entah di mana, entah seperti apa wajahnya. Sang ibunda kerap digunjingkan sebagai lonte. Nenek dan kakeknya yang kononlah merawat dan membiayai mereka. . 8 Januari 1994, Ira mengirimkan sebuah surat, berisikan keluh kesah hidupnya yang pelik. Ia dapatkan alamat itu dari sebuah majalah yang didapat dari tukang loak dekat SMAnya. . 12 Januari 1994, Fial—yang Ira kirimi surat membalasnya. Fial adalah anak bungsu, kakaknya hanya satu, perempuan. Tuturnya, ia dahulu bukan anak yang diinginkan—lahir saat kondisi ekonomi sedang terpuruk. Fial bilang, mungkin saja ibunya Ira terkena 'tenung'. . Surat demi surat mengalir, mereka saling berbalas surat, saling berbagi seluk beluk hidup, hingga tanpa disadari ada seutas benang merah yang mengikat kisah mereka berdua. Berhubungan, layaknya sebuah dua kutub magnet yang berbeda, tarik-menarik. Perspektif buruk dan segala tetek bengek terhadap keluarganya kian berhamburan. Surat-surat itu bagaikan sepaket riddle, kian ditelaah kian timbul, bermunculan satu persatu makna dan artinya. . Hingga berada di penghujung kisah, terdapat plot twist yang super mindblowing—tepatnya bagi saya. Kalau ternyata... . Tenung, coba buka KBBI, artinya ilmu hitam untuk mencelakakan orang. Lantas siapa yang ditenung, siapa yang menenung? Kalian akan tahu setelah membacanya :)).
Hasil pinjam perpus yang dibaca mulai saat istirahat hingga tamat. Duh, maafken, suasana yang mulai menuju hari libur panjang membuat kantor terasa berbeda.
Buku ini merupakan souvenir pernikahan dari kedua penulis. Menarik sekali. Bagaimana seorang gadis berusia 18 tahun bernama Andira Kusumadewi-Ira berkorespondensi dengan seorang pria yang bernama Rahandi Syafial-Fial. Ia merupakan pengasuh rubrik majalah. Bisa kita simpulkan Fial adalah nama pena.
Keduanya saling berkirim surat. Ira mengisahkan kehidupan yang ia jalani. Bagaimana sang ibu mendadak seakan menjadi gila. Ira tak tega melihat ibunya sakit, bahkan hingga muntah darah. Ia sampai berucap agar ibunya mati saja, karena ia tak tega melihat ibu menderita. Berbagai hal menakutkan terus terjadi, hingga sang Ibu bangkit dari kematian. Bayangkan saja, jasad yang sudah dikafani mendadak bergerak bangun! Bagaimana paniknya warga.
Akhir kisah yang tak terduga. Bukan Risa namanya jika tidak menyelipkan unsur mistis. Begitulah, pada akhirnya kasih ibu akan mengalahkan segalanya, bahkan merekalan jiwa bagi kebahagian anaknya.
Kenapa covernya gambar anak perempuan dengan baju putih dan dasi merah ya? Seakan anak SD. Padahal dalam kisah ini, tokoh utamanya jelas bukan anak SD. Saya asumsikan dua sosok tersebut adalah Andira Kusumadewi dan Rahandi Syafial. Apakah sosok keponakan Ira?
Buku sebanyak 202 halaman ini habis dibaca dalam 3 jam saja! Rekor! Seseru itu ceritanya. Tapi karena sudah nonton filmnya duluan, aku jadi membandingkan cerita di novel dengan di film. Yang di film hanya mengambil sekitar 30% saja dari buku ini. Menurutku cerita di novel lebih seru karena tentu saja lebih detail. Kadar seramnya, lebih seram yang di film karena ada efek suara-suara. Kalau di buku, cukup seram juga. Yang kata orang ceritanya kayak sinetron, tapi nggak jugalah.
Seperti biasa buku Teh Risa selalu diselesaikan dalam sekali duduk, jadi kita nggak perlu 2 atau 3 hari untuk namatinnya . Walaupun isinya tipis yang berjumlah kurang lebih 200 halaman, tetapi ketegangan dan misteri yang penuh tanda tanya sangat mendominasi disetiap halamannya, dan ini pertama kalinya aku merasakan ketegangan pada buku Teh Risa.
Jadi ada dua sudut pandang orang ketiga pada buku ini yaitu sudut pandang Andria dan Syafial, aku bisa berasumsi kalau yang nulis bagian Andria itu Risa dan untuk Syafial itu Dimas karena udah keliatan banget sih dari gaya penulisan mereka yang membuat nyaman para pembaca.
Salah satu buku Risa Saraswati favorit saya. Ide cerita unik, setting waktu 90an, dua sahabat pena yang saling berbalas surat tapi pembahasan suratnya cukup ganjil dan mistis. Ada sedikit kesalahan penulisan tahun di tanggal salah satu surat, sehingga membuat saya agak sedikit bingung karena timeline cerita jadi agak mengganjal. Overall, i like it.
Konsep bukunya unik, isinya adalah surat-surat dari dua orang yang ga saling kenal dan saling surat menyurat. Suka banget gimana akhirnya surat-surat ini perlahan-lahan mulai menjawab satu persatu pertanyaan dari tanda tanya besar tentang kehidupan kedua orang ini. Agak klise sih, tapi alurnya dibangun dengan baik, jadi ga kerasa tau tau udah halaman terakhir.
Risa is more than an author, she is a story teller. I love how she and her husband wrote a mystery and horror story without losing the sense of humanity, in such a way. This book is only about letters. But it is well writen!
Ringan, bisa dibaca sekali duduk, alurnya lumayan cepet. Plot twist sihh, tapi aku masih bisa nebak hehe :D Gaya penulisannya unik -dari 2 orang yang saling surat menyurat. Ceritanya juga keren 😀👍
bagus sih bukunya bisa kasi vibe horor gitu di pertengahan apalagi berhubungan dengan roh dan koma behh... ga expect juga diakhir bakal ad plot twist yang tak terpikirkan overall bagus si , novel horor pertama gwe
Tidak sesuai dengan ekspektasiku. Kukira ini kisah romantis yang berakhir manis. Ternyata diakhir cerita malah membuatku ternganga. Ahahah, keren! tidak terduga. Tapi cara penulisannya romantis sekali. Semoga kelak aku juga bisa menulis bersama pasanganku.
CERITA PALING GONGGG sih menurut aku. Dulu baca ini waktu masih akhir SMP kayaknya…? Itu pun pertama kali aku rekor menyelesaikan buku ini hanya dalam 2 jam lebih, berakhir dengan melongo karena aku nggak menyangkal dengan endingnya yang membuat 'shock' berat. Anyway, aku bisa menghabiskan cuma beberapa jam karena memang sedikit untuk halaman di buku ini. Tidak pernah gagal untuk membuatku penasaran terus dengan apa yang akan terjadi di skenario berikutnya, jadi aku terus menerus membaca sampai habis di akhir halaman. Jujur baru kali ini dugaanku sama sekali tidak bisa menebak apa yang akan terjadi di halaman berikutnya, selanjutnya, dan akhirnya. Aku pikir ini cerita tentang romansa yang sedikit dibumbui oleh kesan horror, tapi aku SALAH BESAR. Inti pokok dari cerita ini hanya ada PLOT TWIST saja dari awal sampai akhir cerita, bahkan aku nggak kepikiran akan hal itu dengan ending yang ternyata berhasil membuatku sampai melongo 😬. Keren sih…. Gong banget banget…. Top…. Deh….
damn... suka banget sama teknik menulis Risa dan Dimasta di sini, yang saling surat-menyurat tanpa tau balasan satu sama lain. Imo, konsep surat-menyurat bisa bikin semua kekurangan buku ini bisa 'dimaklumi'. Seperti deskripsi tokoh yang seadanya bisa dimaklumi dengan "namanya juga surat, mana mungkin deskripsi visual tokoh diperlukan". Atau saat ceritanya terlalu kebetulan, bisa dimaklumi dengan "namanya juga surat, siapa yang tau isi surat atau isi kepala orang lain di surat selanjutnya?". Ketika inti ceritanya terlalu lama dan muluk-muluk, bisa dimaklumi dengan "namanya juga surat, pasti aneh kalau baru kenal langsung cerita hal-hal personal".
Buku kedua dari Kak Risa yang aku baca setelah Danur hehe. Jadi buku ini berisi surat curhatan anak remaja kepada sosok yang belum pernah dia temui. Dia cerita segalanya sama sosok ini, mereka jadi sering bertukar surat gitu.
Nah, pas baca bab-bab awal aku masih bisa yang biasa aja, terus lanjut ke bab pertengahan kayak bikin aku syok gitu. Dannn puncaknya saat ending, kayak "What?! Apaan nih?" gituu, bener-bener dibuat menganga nggak nyangka, antara kesel, greget dan apa yaa...Intinya nggak expect lah bakal dibuat kayak gitu hehe.
*Kata-katanya emang aku buat gitu, karena keluarnya langsung dari hati..#eakkk
Buku ini memiliki konsep yang berbeda dari buku biasanya. Jika kebanyakan buku memiliki narasi dan sudut pandang hanya dari satu orang, maka buku Tenung ini memiliki dua sudut pandang. Di mana buku tersebut diawali oleh sudut pandang dari seorang gadis yang mengirimkan surat kepada seseorang yang ia kenal lewat koran, lantas surat tersebut dibalas oleh orang tersebut.
Penulisannya bagus, apalagi konsep berbalas pesan di era 90-annya sangat terasa. Namun, entah kenapa saya merasa untuk buku dari Risa Saraswati yang ini unsur mistisnya tidak sekompleks buku yang lain. Tapi masih nyaman untuk dibaca.
Agak kaget juga saat di akhir ternyata buku ini mengandung plot twist. Hahaha.
This entire review has been hidden because of spoilers.
sediiiiiiiih marah jugak. mau nyumpahin abangnya andira yang seenak jidat jadiin ibunya sendiri tumbal??? sick oh sick. terus jahat banget neneknya parah ngejadiin ibu andira seolah seolah antagonis
This entire review has been hidden because of spoilers.