Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rotasi & Revolusi

Rate this book
Matahari bertanya kepada Komet, “Jika aku meledak, apa kau akan hancur?”
“Iya.”
“Aku tak ingin kau hancur.”
“Aku juga tak ingin kau menghancurkan dirimu sendiri.”

***

Arraf Abizard Rauf adalah raja tanpa mahkota Universitas Sapta Husada. Semua orang sering menyebut-nyebut namanya bagai dewa, mengikuti segala ucapannya, serta tunduk pada perintahnya. Keberhasilan berprestasi bagi Arraf adalah sesuatu yang normal layaknya bernapas. Dia adalah wujud sempurna mahasiswa yang tetap dikenang orang-orang seantero kampus meski sudah lulus.
Sementara itu, Trivia Ganggarespati—Riv—hanya bisa mendelik ketika mengetahui bahwa orang yang harus dia hubungi untuk kelancaran skripsinya adalah Arraf, si ketua organisasi yang dulu sempat membuatnya ilfeel. Riv pikir, urusannya cukup sampai di awal penelitian skripsi saja. Namun, kenyataan tak sesuai harapan Riv ketika Arraf justru tertarik mendekati perempuan yang berhasil membuat Arraf mengacaukan SOP pedekate-nya sendiri.

448 pages, Paperback

First published March 25, 2019

68 people are currently reading
549 people want to read

About the author

Crowdstroia

11 books651 followers
Author of eight books. I share my first draft in Wattpad.

For more stories' aesthetics and information:
Instagram: @crowdstroia

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
253 (35%)
4 stars
288 (40%)
3 stars
126 (17%)
2 stars
28 (3%)
1 star
14 (1%)
Displaying 1 - 30 of 152 reviews
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews854 followers
June 21, 2020
Crowdstroia
Rotasi & Revolusi
Elex Media Komputindo
448 halaman
4.5

Unnecessarily long and very dialogue driven, Crowdstroia's Rotasi & Revolusi is probably my biggest letdown so far this year.

I've heard nothing but praise for Crowdstroia's oeuvres, mostly from the glowing reviews on Goodreads or from some casual recommendation on Twitter's literary base account. They say that her works, to quote them, make them smarter, like they're encyclopedia or something. But, that reason alone looks intriguing. So I'm picking Rotasi & Revolusi based on such assumption, in addition to that gorgeous cover, courtesy of Garisinau, and being the only book available on Gramedia Digital, hoping to get at least a witty and entertaining young adult book.

In some way, these people are not wrong. Crowdstroia is indeed a smart writer, managing to incorporate some biological elements to her characters' conversation with such fluency and naturalness. She also possesses good knowledge about current events and her stance on feminism and LGBT (a nice surprise that I've never expected to be featured in the book, but sadly it's just only a trinket) is at least agreeable. But reading Rotasi & Revolusi is an exhausting experience because of several reasons.

First, this is a very dialogue driven book. Rotasi & Revolusi seems to emulate Richard Linklater's Before trilogy which is also heavy in dialogue. This is the rare case where I admit it's a "it's not you, it's me" thing. I rarely like dialogue driven media (thus I haven't even bothered to watch Before trilogy. I know, I know, how can you judge it before watching it? I promise I'll watch it later), but this kind of serve will work better in movie medium. In movies, despite consisting of lengthy conversations, viewers are still given some room to breathe from the transition scene, for example, as opposed to book where you can't even take a breath for a minute. Although, it's helpful that the dialogues between Arraf and Riv are not cliche enough. I mean they didn't only discuss about trivial--or should I say, Trivial--stuffs, but they also talk about social issues, how to improve their relationship and personality, and conforming with the society's norm. But despite being a feminist, it's a sad thing that the dialogues between two female characters in the book still revolve around guy.

Another thing about dialogue driven book is that sometimes its plot and conflict are brushed aside. Even if there are some conflicts, their resolution feels a bit rushed to accommodate the quote-worthy dialogues between Arraf and Riv. I don't mind if this conversation only lasts for 100 pages, but after reaching 200 pages, it's a bit hard to focus on the book and their relationship. I don't mind slow-burner, but after expecting for more than hundred of pages, I still can't find the oomph of this book. This is exacerbated by my inability to sympathize with the two main characters. Arraf, the male protagonist, is a typical perfect alpha male whose hubris and pride are stacked as high as Empire State Building, but juxtaposed with his insecurity, while Riv, is a smart, witty, critical young woman. They are an okay-ish character, with Riv being the more interesting one because Arraf is a bit one-dimensional. But, that's it. Their background is bit blurry. Sure, we know about their family's condition or their past, but this information is just... for our information. No significant plot change that involves this background. And it's impressive, dare I say, to think that a 400-page book, a thick one, fails to put some more side conflict. I actually expect much from the gay revelation about one of the characters because it will change the whole dynamics of the characters, but Crowdstroia doesn't grasp this opportunity.

Rotasi & Revolusi has potential. I really love its wittiness and positive portrayal on healthy relationship where communication is always the key. I think it's just my high expectation that kills my enjoyment. Despite so, I don't think it will be my last Crowdstroia's work that I read, I will wait for what she will come up with next.
Profile Image for Crowdstroia Crowdstroia.
Author 11 books651 followers
March 26, 2019
Setelah menulis kata "tamat", gue memutuskan untuk menulis prolog pendek tentang siapa Riv-Arraf dalam buku ini sebagai pembuka. I decided that they aren't human being because they are such an enigma; too 'much' to be human, yet too 'little' to be god and goddess. Tentu kita bisa menemukan sifat-sifat dalam diri Arraf maupun Riv terefleksi dalam sifat-sifat manusia di sekitar kita; ambisius, malas, kritis, rapi, berantakan, blak-blakan, dsb. But, IMO, they are too inhuman to be human.

Poin gue dalam menyampaikan paragraf di atas adalah sebagai penjelasan seandainya ada dari kalian yang melihat potensi-potensi toxic relationship dalam hubungan Riv-Arraf sebagaimana gue juga melihatnya. Riv-Arraf nggak gue anggap 'manusia normal' , jadi apa yang gue anggap sebagai relasi antarmanusia normal pada umumnya (entah itu healthy atau toxic relationship) nggak bisa benar-benar gue aplikasikan ke Riv-Arraf. I understand that some writers tend to leave this kind of interpretations up to the readers, but as a writer I also like to elaborate my thoughts on my works.

In addition:
"Rotasi dan Revolusi" adalah salah satu cerita dari trilogi reinkarnasi Riv-Arraf. Pada buku ini, Riv-Arraf hidup di dunia masa kini, dunia yang sama seperti yang kita tinggali. Gue nggak menjelaskan tentang reinkarnasi tersebut secara gamblang dalam Rotasi dan Revolusi supaya pembaca bisa memahami cerita tanpa harus membaca dua cerita Riv-Arraf lainnya (yang berkisah tentang reinkarnasi mereka di dimensi lain). Sebab Rotasi dan Revolusi memang bukan kisah tentang dua manusia yang bereinkarnasi untuk memenuhi "panggilan takdir" atau semacamnya. Ini hanya kisah tentang dua manusia (tidak biasa) yang beradaptasi dengan satu sama lain.
Profile Image for Emilya Kusnaidi.
Author 3 books40 followers
Read
January 30, 2020
Actually DNF.

Because. I. Just. Can’t.

Ulasan ini murni bersifat subjektif, nggak ada niatan apa-apa. Maybe this book just not my cup of tea.

Saya nggak bisa lanjut karena entah kenapa nggak bisa simpatik dengan Riv dan Arraf. Dan mohon maaf sebesar-besarnya, Riv itu sangat cringe. Menurut saya, menjelaskan kepribadian seseorang seperti yang Riv lakukan ke Arraf (apalagi mengingat mereka baru kenalan like... nggak terlalu lama) sangat-sangat nggak sopan. I would never do that, even when I have the competencies to do so. Dan Arraf, yang digambarkan oh-so-mighty entah kenapa seperti kerbau dicocok hidungnya saat mendengarkan penjelasan Riv.

So sorry, dari ulasan dan komentar2 di wattpad tentang buku ini tentang betapa “pintar” dan “smart”-nya Riv dan Arraf, saya malah merasa digurui oleh Riv. Saya tidak mendapat chemistry kenapa Arraf bisa suka dengan Riv, meskipun hal itu dideskripsikan secara detail oleh penulis. Hanya ada logika. Logika. Logika. Tapi rasanya nggak sampai menyentil perasaan. Something is missing.


So, yeah....
Profile Image for Jeon Dani.
132 reviews64 followers
November 20, 2019
Ini adalah OPINI SAYA.

description
yah seperti itulah ekpresi gue setelah baca ini.

2.7 buletin ajalah jadi 3
Awalnya gue suka sama novel ini. Itu awalnya, tapi setelah itu, entah kenapa gue langsung drop aja gitu. Itulah kenapa novel ini sering keselip dan sering gue tinggalkan untuk membaca novel lain. Sori.

Mungkin cuma gue yang ngasih rating dikit dan berkomentar agak gak bagus disini, padahal hampir semua review berisikan komentar bagus. (Bahkan gue minder mau ngasih komentar yang beda dari yang lain).

Gue adalah tipe orang Sarkas dan Frontal. Gue akuin itu. Gue blak-blakan dan mungkin bagi kebanyakan orang gue agak ngeselin. Dan gue enggak bisa buat keluar dari zona yang satu ini (udah bawaan orok gue kek begini).

Udah lama punya novel ini, belinya barengan sama Sweatheart in Your Ear—yang mana waktu itu ada diskon buku-buku Elex dan Grasindo, ini pun gue di beliin. Awalnya gue penasaran setelah liat review di goodreads yang ratingnya tinggi banget denganreview yang bagus-bagus.

Serius gue suka sama ceritanya. Namun gue enggak suka sama karakternya. Terutama sama Arraf, dia annoying menurut gue. Tipe cowok yang mungkin bakal gue block list dalam kehidupan gue.

Disini diceritain si Arraf tuh Almost Perfect. Alumnus, mantan Pres BEM, digemari banyak orang, banyak koneksi, pinter dan lain-lain, semua kenal Arraf, semua suka sama Arraf.

Dan Riv adalah tipe karakter yang awalnya gue sukaaaa banget. Karena; 1. Dia logis banget (itu poin yang bikin gue suka sama dia) 2. Dia agak dingin dan sarkas dan 3. Dia bisa menjatuhkan Arraf hanya dengan kata-kata. Dan Riv cocok banget buat manusia macem Arraf begini. Ditambah lagi dengan fakta bahwa Riv itu sebel dan enggak suka sama Arraf.

Keduanya enggak sengaja bisa kenal karena masalah skripsi, sama-sama anak FMIPA, si Riv kebetulan dapet dosen yang sama seperti dosbing Arraf dulu, Riv di saranin sama Pak Hugo (Dosennya) buat minjem Polidopamin sebagai bahan skripsi ke Arraf. Dan semua berawal dari sana. Berawal dari Riv yang berhasil 'menohok dan menampar' Arraf dengan kata-katanya yang membuat Arraf mendadak penasaran sama dia.

Oke, disini gue mulai merasa jengah. Dari awal baca blurb-nya, gue udah dibikin sebel dan enggak suka sama sosok Arraf, hingga Riv dan Arraf ketemu gue semakin gak suka sama sosok Arraf, dan semua itu tambah membabi buta (astaga bahasa gue!) waktu Arraf makin annoying dengan maksa Riv buat ketemuan bahkan sampek jemput di kampus padahal udah di tolak secara terang-terangan sama Riv dan sialnya si Riv yang awalnya nolak akhirnya pasrah dan luluh juga. Ini nih yang bikin gue gak suka.

Sejak awal karakter Riv itu Sarkas, Logis, dan Dingin. Tapi mendadak jungkir balik gitu waktu ketemu Arraf, dan yang paling penting, Riv enggak suka sama Arraf dan mendadak pasrah dan luluh juga sama Arraf.

Kenapa gak dibikin jatuh bangun dulu si Arraf biar gue gak kesel-kesel amat gitu sama karakter Arraf disini. Kenapa Riv seakan-akan enggak bisa nolak padahal dari awal udah dijelasin kalo Riv enggak suka sama Arraf?! that eughhrr!!

description

Oke, mungkin selera gue beda sama yang lain, tapi ayolah, masa enggak ada yang sepemikiran sama gue, gak ada yang sebel sama karakter Arraf? gak ada yang mendadak jatoh ekspektasi dengan Riv?

Gue suka sama novel ini (gue gak akan jingkrak-jingkrak kesenengan waktu novel ini ada di tangan gue, kalo gue gak suka dan pengen baca) ceritanya pun bagus, pembawaannya apalagi, keren parah! (persetan sama temanya yang agak klise). Yang bikin gue kesel cuma karakter keduanya.

Gue betah-betahin biar gue enggak DNF disini.

Kayaknya gue harus bikin cerita sendiri kali yah biar gue bisa buat sesuatu yang sesuai dengan keinginan gue. Karena sumpah, gue jaraaaaang banget bisa nemun cerita yang klop banget sama gue.

Gue pikir cerita ini bakal sesuai sama gue. Gue pikir selera gue sama kayak orang-orang yang ngasih bintang lima, Tapi ternyata enggak. Maaf...
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
June 27, 2020
Seperti kata penulisnya, Raf dan Riv are too inhuman to be human. Seakan-akan keduanya ditakdirkan hadir dan bertemu untuk memberikan pandangan-pandangan tentang hubungan antar manusia, secara khusus antara laki-laki dan perempuan.

Arraf dipertemukan dengan Riv karena sama-sama meneliti tentang biomaterial. Raf adalah sosok pria sempurna di mata sebagian besar orang, tapi di mata Riv, Raf seorang control freak, konformitas sejati. Raf berjuang menjadikan Riv sebagai pacarnya hanya karena Riv bisa menjelaskan analisis kepribadian Raf.

Membaca novel ini mungkin akan membosankan bagi yang terbiasa dengan romansa mainstream. Dialog-dialog antara Raf dan Riv seakan mengajari pembaca memahami esensi mencintai. Bukan hanya itu,lebih jauh tentang saling menerima bahwa dunia tidak hanya berputar di sekitar kita. Analogi matahari dan komet yang melakukan rotasi dan revolusi pas sekali menggambarkan tentang Raf dan Riv. Tapi saya yang tidak begitu menyukai buku tentang self-help serasa terhipnotis menghabiskan novel 400an halaman ini.
Profile Image for Autmn Reader.
890 reviews93 followers
July 11, 2024
Update Juli 20224

The book is ok until the author try to drag down another author. Your behaviour is not acceptable, Ma'am.

====

Aku bingung mau kasih rating berapa karena aku ngerasa suka sama ceritanya tapi aku juga bosen sama ceritanya. Jadi mari nulis dulu apa yang aku rasain soal buku ini, baru seudah nulis, aku nentuin ratingnya berapa, wkwk.

Jujur, aku lega banget seabis baca ini karena setengah terakhir buku ini bosenin banget.

Hal yang bener-bener kusuka tentang buku ini itu gimana male sama female chara-nya itu dua2nya kuat. Maksudnya kuat tuh, bukan tipe yg damsel in distress. Pinter gitu lho dua2nya. Mereka ini, Riv sama Arraf, beda tapi sama. Gitu kurang lebihnya.

Setengah buku ini bikin aku tersihir karena aku ngerasa susah banget buat put down bukunya. Sangat page turning. Obrolan-obrolan mereka itu pintar dan nambahin insight baru.

Yang aku suka juga, aku suka sama Character's arc-nya Arraf. Arraf di awal totally terrifying banget. Strateginya pinter parah sumpah. Walaupun carnya salah, tapi tujuannya baik dan gimana dia tuh nggak hanya mencari satu tujuan dengan satu cara. Tapi satu cara bisa teraih banyak tujuannya. He as a human is terrifying, but as a character he is solid. Nah, dia ini kan kliatan gtu lho gimana pemikiran-pemikiran dia berubah sampe akhirnya dia "punya hati" dan terasa lebih bersikap layaknya manusia yg bukan ngandelin otak aja, tapi hatinya dipake. So, as a character, he has a good arc.

Sayangnyaaaa, ini timpang bnget sama Riv. Agenda Riv di sini cuman buat ngasih tahu ke pembaca si Arraf ini gimana. Dia nggak punya karakter. Nggak ada yang berubah dari dia karena dia stagnan. Karena tugas dia hanya membuat Arraf jadi Arraf yang di akhir vuku. Jadi, Riv ini super duper two dimensional character.

Percaya atau enggak. Isi buku ini totally cuman isi percakapam Riv sama Arraf tentang Arraf.

Kalau aku ringkas nih plot-nya kayak gini kurang lebih:

Ketemu di cafe, Riv ngeanalisis Arraf. Pindah tempat ke taman, Riv analisis lagi Arraf gimana, pindah tempat lagi, mereka ngobrolon obsesi Arraf. Pindah lagi ngobrolin tentang Arraf lagi. This book is about Arraf that showed through conversation. No plot. Ini bukunya dialog driven. Enggak ada apa2 di buku ini selain percakapan. Di chapter 34 ada konflik. 36 sampai 38 balik lagi ngobrol. Iya gitu aja. Nggak ada apa2 lagi.

Okelah isu2 di cerita oke parah. Penulis itu mnurutku salah satu penulis yang secara gamblang point out dia lagi ngobrolin topik apa. Nunjukin secara eksplisit.

Jadi bisa diambil kesimpulan. She doesn't good at showing the story to me, but great at telling the story to me. To me nya garis bawahi ya. Berlaku buatku blom tentu berlaku buat orang lain. Jadi aku nggak bisa terikat juga sama bukunya. Aku bukan Arraf dan Riv yang berlogika full, aku masih perlu merasakan hal yang emosional buat terikat sama bukunya. Hal yg nggak akan dipahami Riv sama Arraf.

So yup, her story telling doesn't really fit me.

Jujur, ini buku terbaik yg kubaca dari penulis. Setelah 4 buku sebelumnya yg sangat mengecewakan.

So 3,5 🌟 aja deh ya. A good book, but not for me.
Profile Image for Afy Zia.
Author 1 book116 followers
February 10, 2020
3 bintang.

[BERISI PENDAPAT PRIBADI DAN SPOILER MINI!]

Baca Rotasi dan Revolusi (RnR) tuh nano-nano. Agak mixed feeling juga sama buku ini.

Rotasi dan Revolusi nyeritain tentang Riv dan Arraf yang―awalnya―ketemu karena masalah skripsi Riv. Pertemuan ini justru jadi batu loncatan dalam hubungan mereka. Namun, karakter keduanya somehow bertolak belakang banget. Arraf control freak sejati, sedangkan Riv tipe yang nggak suka dikekang.

Sebenernya RnR adalah cerita romance, tapi penulis membuatnya berbeda dengan menyisipkan berbagai pembahasan padat dalam diskusi Riv dan Arraf. Ini bukan pertama kali saya baca tulisan Crowdstroia. Waktu masih aktif baca Wattpad, saya termasuk penyuka tulisan Crowdstroia. Emang nggak ngikutin semua tulisannya di Wattpad sih, tapi saya inget pernah baca "Nona Teh dan Tuan Kopi" serta "Konstruksi" (kalo nggak salah judulnya yang itu. Pokoknya buku pertama di seri Disiden(?) yang kedua tokoh utamanya menggeluti dunia arsitektur). Dan saya ingat suka dengan kedua tulisan Troia.

Seperti dua cerita sebelumnya, saya menemukan satu ciri khas dalam tulisan-tulisan Troia: karakterisasi tokoh utama yang 'kuat'. Kuat dalam artian, mereka mandiri, cerdas, dsb. Saya pun menemukan hal yang sama dalam kisah RnR.

Sebenernya saya suka dengan tokoh fiksi kayak gitu. Hanya aja, dalam cerita R&R ini.... Riv dan Arraf agak 'too much'. Jujur, Arraf ini karakternya agak toksik (menurut saya). Selama 3/4 bagian cerita, susah bagi saya buat simpatik ke Arraf. Iya sih, karakter 'toksik' dia ini justru bikin dia keliatan manusiawi, tapi saya yakin saya nggak bakal nyaman sama orang kayak gitu seandainya ada Arraf dalam realitas saya. Meskipun nunjukin perkembangan karakter di akhir cerita, saya tetap merasa karakter toksik Arraf berpotensi besar menimbulkan situasi toksik 'lagi' di masa depan. Tipe alpha male yang bakal saya hindari.

Sedangkan buat Riv, sebenernya saya suka sama kepribadian dia yang tegas. Hanya aja, pas awal-awal pedekate sama Arraf (selanjutnya dipanggil Raf aja ya), dia terkesan menggurui banget. Like, literally. Saya sampai merasa kurang nyaman dengan hal ini.

Lalu, ini mungkin terdengar sepele, tapi saya menyayangkan latar belakang pekerjaan Raf yang kurang dieksplor lebih dalam. Asli, saya masih agak bingung dan penasaran awal mula dia bisa jadi bos kayak 'sekarang'. Padahal, hal itu bisa banget diselipkan dalam percakapan Riv dan Raf mengingat novel ini lumayan tebel.

Hal lain yang terasa agak mengganjal adalah gaya penulisan. Di awal, tulisannya agak kurang enak dibaca. Beberapa kali nemu kata repetitif dalam satu kalimat/paragraf, juga kalimat kurang efektif sehingga mengurangi kenyamanan saya saat membaca. Tapi menjelang akhir, hal itu udah lumayan berkurang.

Meski demikian, buku ini berhasil bikin saya ngakak di beberapa bagian. Isinya ternyata lumayan receh (seenggaknya di awal-awal). Saya juga suka sama dongeng bikinan Riv. Bukunya pun page-turner buat saya. Dan pas nulis ulasan ini, saya baru sadar kalo singkatan judul bukunya "RnR" sama kayak nama panggilan Riv dan Raf (RnR juga).

Intinya, saya menikmati RnR meskipun rada berkendala sama karakter Riv dan Raf (terutama Raf sih). Eksekusi konfliknya menyelamatkan buku ini yang tadinya kepengin saya kasih 2,8 bintang. 😂
Profile Image for Oda Ayu.
Author 6 books167 followers
March 23, 2019
Wow.

Novel romansa yang satu ini menceritakan kisah asmara dari sisi yang berbeda. Terlihat luar biasa tapi penuh kesederhanaan yang lekat dan dekat.

Lebih dari itu, novel ini dengan kedua karakternya yang "seimbang" tanpa hitam atau putih, berkembang dengan sangat baik di setiap halamannya. Membaca cerita Rotasi & Revolusi seperti membaca buku self-development yang memberi banyak pelajaran hidup.

Isu-isu sentimental dan berat disentuh dengan berbagai cara penyelesaian yang "hangat". Saya sebut hangat karena seperti nasi matang yang hangat disantap. Penyelesaiannya matang, memberi perspektif yang bisa menambah kesadaran akan adanya berbagai pilihan lain (entah lebih baik atau tidak) di dunia ini.

MUST READ NOVEL 2019! Asli.


ps; as a conclusion after finished reading the novel, i decided that i have a love-hate mixed feelings for Paduka Arraf. he is understandable, admiring, but somehow i know that our approach in life is so different. on the other hand, i may be not someone as logical as Riv, but she is much more relatable to me.
Profile Image for Reina Tan.
292 reviews143 followers
Read
March 3, 2020
DNF

i'm sorry. may be i'm too dumb to read this kind of book. i can't relate with the characters. i only knew that they are super genius and open minded, but hell...

for me, a good story consists a great character building which can make a bond between me with the mcs. sadly, both of these super open minded people can't enter my heart and soul.

i don't get the reasons why arraf fell in love with riv. i know, logic is cool. but too much logic it wasn't good. for me, riv wasn't such a slay character, more like an insanely annoying and... arrogant as fuck

truthfully, i don't like the chatting form in all over the book. i kind of like the topic, but i guess it wasn't effective to talk something like that in chat room.

but, it just my preference. no offense. k?

i was sad.

i thought i can finish it after convinced by my friend who was saying it wasn't that bad.

it is sad to say this is the first book i dnf-ed after for such a long time.

i might consider to give this book another chance.

not now.

definitely not now.
Profile Image for Lala.
128 reviews46 followers
May 3, 2019
Ini tentang Trivia dan Arraf, sama-sama mahasiswa FMIPA meski beda angkatan. Keduanya terhubung nggak sengaja karena urusan skripsi. Harusnya sebatas profesional, tapi karena satu pertanyaan "menusuk" yang dilontarkan Riv, Arraf yang pongah mulai penasaran dengan sosok cewek "berbeda" itu. Note: Plotnya mungkin klise, tapi isi dan pembawaan ceritanya? ✨

Mulai dari tokohnya. Trivia (Riv) dan Arraf itu... sama-sama kuat. Strong personality. Berprinsip. Bedanya, Arraf itu selain berprestasi dalam segala bidang, termasuk dalam bidang kepemimpinan yang tercermin dari status mantan ketua BEM-nya, jeleknya dia adalah seorang control freak, bossy, dan seakan nggak bisa menerima penolakan.

Riv? I love her character. Dia punya prinsip kuat seperti Arraf. Pandai menilai kepribadian orang. Pintar menahan dirinya untuk tidak terlalu tenggelam dalam sebuah perasaan. Kritis! That’s the best thing from Riv.

Yang kusuka dari novel ini? Banyak. Dialog-nya yang berbobot. Kamu bisa melihat PDKT Riv-Arraf bukan sekadar mereka flirting terus gombal-gombalan lalu si cewek jatuh dalam pesona si cowok. Oh tidaaak, tidak secepat itu! Proses PDKT mereka tuh kayak proses siswa belajar, benar-benar penuh usaha, analisis, kritisi, tes, trial and error, dan lain-lain. Setiap interaksi mereka, ada saja obrolan yang mengupas berbagai hal-hal yang penting bagi hubungan mereka berdua.

Misalnya mengenai self-love seseorang yang penting sebelum menjalin sebuah hubungan, mengenai apakah Arraf memang dapat 'kompatibel' dengan Riv dalam pandangan mereka atas berbagai hal (apakah si laki-laki berotak partiarkal, melihat perempuan sebagai sosok inferior, sulit menerima bahwa si perempuan lebih pintar darinya.) begitu juga sebaliknya. Mereka berdua, lebih tepatnya Riv, berusaha memperhitungkan segalanya dengan cermat. Tidak melulu impulsif dan secepat itu mengikuti kata hati. Dia mematahkan stereotip cewek yang katanya lebih mengedepankan perasaan dibandingkan akal.

Sekali lagi, I like Riv! Dari sekian banyak novel yang kubaca, penulis sedikit banyak menyisipkan pandangan mereka tentang suatu isu, misalnya relasi suami-istri dalam pernikahan, yang seringnya nggak sejalan dengan pemikiranku, yang ujung-ujungnya mengurangi penilaianku terhadap buku itu. Rotasi dan Revolusi justru berbeda. Ini yang kusuka. Banyak (meski nggak semua) pendapat tokoh-tokoh, khususnya Riv, yang cocok denganku. Terutama "penolakan" Riv terhadap cara pandang konvensional, membuat aku lebih menikmati membacanya. Seakan-akan sedang berdiskusi, mendengarkan argumen dari teman yang sepemikiran.

Yang kusuka lagi adalah penggambaran kehidupan kampusnya. Dibuka dari adegan bimbingan skripsi Riv yang kalau aku baperan banget aku nggak bakalan jadi baca buku ini. Terus sosok ketua BEM yang populer dan berprestasi. Duh, pasti ada banget orang kayak Riv di kampusku dan kampus kita semua. Pekan olahraga yang jadi ajang "pamer" kekuaran antarfakultas. Status sebagai mahasiswa non fakultas Teknik yang payah dalam lomba non-akademik, dan selalu Teknik yang jadi juara. Senggol-senggolan sebagai rival mulai dari bercanda sampai beneran pun nggak luput dari hubungan antarfakultas. Huh, kalau udah lulus kujamin aku dan semua mahasiswa akan kangen dengan hal tersebut. Makanya aku sangat menikmati penjabaran penulis mengenai kehidupan kampus.

Tokoh-tokoh lain yang berlalu lalang dalam cerita ini juga punya perannya masing-masing, punya pengaruhnya tersendiri. Salah satu yang kusuka adalah kemunculan Icak dan cerita laki-laki itu dengan Arraf.

Kurangnya apa ya, hm, kayaknya beberapa kali penulis menciptakan julukan yang cheesy banget terhadap Arraf. Udah gitu, deskripsi hebat tentang Arraf terkesan repetitif. Agak capek aja gitu baca berulang kali.

Daaan... Ada dua alternatif ending yang bisa dipilih Rotasi & Revolusi. Satu, Rotasi & Revolusi bisa jadi contoh yang bagus bagi orang-orang yang mau menciptakan hubungan dengan orang yang dia cinta. Seakan-akan, ini semacam guide book sebelum kamu memutuskan untuk menjatuhkan dirimu pada seseorang dan jadi ‘bucin’ orang itu. Dua, buku ini bisa jadi cerita yang mematahkan hati para pembacanya, sambil mengutuk keras tokohnya, tapi di sisi lain juga mengambil pelajaran tentang kesalahan yang tidak seharusnya kita lakukan dalam menjalin suatu hubungan. Keduanya sama-sama akan membuat buku ini membekas di kepalaku. Nah, Rotasi & Revolusi memilih jalan yang mana? Baca sendiri, ya!

Akhirnya aku bisa mengerti juga apa maksud dari judul Rotasi dan Revolusi. Nggak mau komen banyak tentang penjelasan ini. Lagi-lagi... baca sendiri aja. :p
Profile Image for Cindy Jessica.
Author 2 books5 followers
July 2, 2022
12-2022

Kesan yang aku dapat setelah membaca setengah dari buku ini adalah suka, dan rasanya pengin terus baca karena memang sesuka itu. Arraf ngeselinnya to the bond dan pengin banget aku julidin, tapi udah diwakili oleh Riv, jadi aku masih bisa menikmati baca (7 bab awal aku lumayan suka sama karakter Riv).

Tema yang diangkat dan isu-isu dalam buku ini bagus banget. Namun, lama-lama aku ngerasa jenuh dan berat banget buat lanjutin. Sebagian besar dari buku ini menjelaskan soal Arraf, dan karakter Riv sendiri kurang dieksplor. Yang bikin aku jenuh adalah dialog-dialog panjang, dan sebagian besar cuma tentang Arraf.

Mungkin karena sifat Riv yang bodo amatan, dan awalnya dia nggak suka sama Arraf karena beberapa alasan, jadi dia terang-terangan aja menganalisis sifat Arraf sejak pertemuan kedua. Dari analisis-analisis Riv, aku merasa bahwa dia terlalu menggurui. Tapi, Arraf nerima-nerima aja karena bagi dia itu adalah alasan logis, dan baru kali ini ada cewek yang bisa seperti itu ke dia. (Aku kurang suka sama analisis Riv soal Arraf yang selalu tepat, kesannya dia bisa baca Arraf dengan sangat mudah).

Aku kesel sekesel-keselnya sama karakter Arraf yang menyebalkannya konsisten banget. Tapi, karakter dia lumayan berkembang jadi lebih baik. Namun, kayaknya karakter Riv ya gitu-gitu aja. Dan sayangnya, aku malah nggak bisa simpatik sama mereka.

Terakhir, aku suka sama penyelesaian konflik dan endingnya.

Oh ya... Mohon maaf banget banget banget, sejak awal aku cukup terganggu sama editannya.

3,1 ⭐
Profile Image for Leila Rumeila.
1,006 reviews28 followers
April 8, 2023
Not a bad book tho, i just feel like i want to give this 3-stars only!
Kayanya Riv ini cocoknya jadi psikolognya Arraf alih2 pacarnya deh.
Di sini konsep karakter Arraf kuat banget, dengan segala sifat dan wataknya yg jelas, sementara karakter Riv di sini kaya sebagai pendukung karakternya Arraf aja.

Gue akui, di buku ini banyak banget insight2 seputar relationship yg menurut gue ok.
Akan tetapi, di sisi lain gue juga merasa insight2 tersebut terlalu konseptual, padahal menurut gue pribadi relationship juga butuh aspek "let it flow". Bcuz kita engga tau kita akan menghadapi masalah apa di masa depan yg amat sangat memungkinkan bisa merubah sifat, karakter, bahkan prinsip kukuh kita sendiri.

Dari segala percakapan dan proses tukar pikiran antara Riv-Arraf di sini, gue juga merasa mereka hanya fokus menjadi sosok ideal untuk satu sama lain, tapi kurang concern dengan bagaimana cara membahagiakan satu sama lain. Engga tau ya, tapi gue menyiratkan pasangan ini agak kaku.

Di awal2 gue merasa insight2 antara percakapan keduanya cukup menarik dan applicable. Tapi gue engga ekspek, cara narasi dari sepanjang 400 lebih halamannya mostly konsisten a/ dialog, dan gue bosen banget bahkan nyaris DNF.
Karna kebanyakan dikasih momen mereka kaya pasien dan psikolog, atau teman cewek yg lagi nasehatin teman ceweknya yg lain, alih2 pasangan. Their sweet momentsnya engga worked out di gue, jujur. Panggilan "Sayang" dan "Paduka" berulang kali, dunno penempatan2nya kaya kurang pas aja, hmm.
Profile Image for Shanya Putri.
353 reviews164 followers
June 17, 2021
Nambah lagi nih buku yang aku baca karena rame dibicarain di Twitter @literarybase 😀👍🏼

Sebenarnya dulu udah baca dikit di Gramedia Digital, tapi bosen. Karena masih penasaran tapi subscriptionnya habis, akhirnya aku beli buku fisiknya deh. Covernya cantik banget. Pas udah mulai baca, eh ketagihan... Seru banget sih, baca interaksi dua tokoh fiksi yang pinter banget, walau bukunya nggak dilahap langsung sampai habis. Reading progress aku kayak gini nih: 📈📉📉📉📈📉📉📉📈 (bacanya nggak tiap hari, makanya lama kelarnya HAHA).

Yang aku suka banget dari buku ini: dua karakter utamanya. Keduanya punya prinsip, kelebihan, dan kekurangan masing-masing. And both of them are so SMART in their own way. Bahasannya berbobot banget, tipe-tipe pasangan yang suka deep talk, lah. Pokoknya kalau dua tokoh ini ketemu, itu ngobrolnya bisa panjang banget. I wish I could steal their personalities (and brain), tbh. Agak lucu karena Arraf would hate me to the core karena aku anaknya suka males-malesan HAHA.

Sebenarnya aku enjoy banget sih baca buku ini. Tapi ada beberapa bagian yang bikin aku agak cringe, apalagi ada pakai panggilan gitu-gitu heheheh 😬. ANYWAY THE CHARACTER DEVELOPMENT 💯
Profile Image for Roem Widianto.
83 reviews3 followers
April 26, 2023
Aku baca ini gara-gara banyak banget review bagus untuk novel ini. Katanya WARBIASA, menginspirasi, memberikan insight tentang relationship yang wowwww, dan lain sebagainya.

Tapi sayang sekali, aku angkat tangan di halaman 234. Capek banget rasanya baca novel ini.

Oke, di awal-awal aku memang masih bisa enjoy baca. Apalagi paragraf akhir di setiap babnya mancing banget, bikin kepo dan baca bab selanjutnya. Tapi lama-lama capek banget baca ini (Ya Allah, sampe udah dua kali loh aku bilang capek banget. Wkwkwk).

Pertama-tama, aku agak gak srek ketika Riv ujug-ujug langsung menanyakan apa motivasi Arraf untuk mencapai prestasi-prestasinya selama ini? Untuk kepuasan sendiri ataukah untuk menyenangkan orang lain? Menurutku kurang sopan menanyakan hal kayak gini di pertemuan pertama sama seseorang. Nanyanya gini sama orang yang lebih tua pula 😅. Dan anehnya si Arraf muncul rasa ke Riv gara-gara pertanyaan ini.

Selanjutnya, kisah mereka berdua dipenuhi oleh analisis Riv akan sikap Arraf yang control freak, yang berusaha memenuhi ekspektasi ideal masyarakat, dan lain sebagainya. Dan topik ini panjang banget dan berasa diulang-ulang. Menurutku ini cukup membosankan. Sorry to say loh yah 😢

Dan yang terakhir, aku gak bisa merasakan romantisnya di mana novel ini. Bahkan pas bagian terakhir yang aku baca, yang Riv akhirnya jadian sama Arraf, aku masih lempeng aja bacanya. Kayak gak ada apa-apa gitu. Gak ada sensasi kupu-kupu beterbangan di dalam perut.

Akhir kata. Kalau berdasarkan mayoritas review yang bertebaran di internet, novel ini brilian dan luar biasa. Mungkin seleraku dan kapasitas otakku aja yang cetek jadi gak bisa menikmati buku ini. Sekian.
Profile Image for Boo Boo.
361 reviews12 followers
March 1, 2022
Aku suka gaya penulisan mbaknya. Waktu disodorin nona teh dan tuan kopi, jujur, aku belum ada niat baca. Tapi sama buku ini, lewat blurb aja udah tertarik banget.

Buku ini emang lebih banyak dialog daripada narasi. Mungkin ini yang bikin aku suka banget. Jadi bisa memahami tokoh masing-masing lebih dalam dan dekat. Yang mereka bahas dan diskusikan riil banget. Bisa nih dijadikan bahan refleksi diri buat orang-orang yang suka ngekang.

Plotnya ngalir gitu aja. Konfliknya juga gak seberapa. Gak ada yang bikin ngetwist. Udah bisa nebak bakal ada badai. Dan menurutku wajar. Justru aneh kalau gak ada kejadian apapun, menilik sifat cowoknya yang ngambis kayak gitu😂 Bagus malah penulis memubuhkan sedikit masalah diantara mereka.

Arraf, sumpah. Diawal aku rada ngeri sama doi. Orangnya terlalu perencana, ngambis dan sok banget. Si Riv nih yang malah bikin aku terkagum-kagum.

Buku ini gak berat kok. Santai, ringan namun padat makna👍 Disaat kebanyakan tokoh cewek diluar sana kebanyakan annoooooy banget dan tokoh cowoknya selalu terlihat sempurna, di buku ini justru si Arrafnya yang annoying banget sumpah😂 Busuk banget. Aku sebagai cewek juga gak yakin mau temenan sama doi di kehidupan nyata euy. No.
1 review3 followers
July 6, 2019
Capek2 signup di sini buat nulis review.
Pertama, this is a pleasant surprise. Buku karangan anak tanah air yg ga bikin ngantuk dan engaging dari awal sampai akhir. I finished the book in one seating. Terima kasih utk mengurangi kepesimisan saya tentang buku2 yg akhir2 ini bikin kecewa dan ga menarik ketika sudah dibeli.

1. Tentang Riv. Apakah Trivia karena trivia adalah hal2 yg menarik dan gak semua orang tahu kecuali mereka mau mengulik lebih dalam? Riv adalah karakter wanita yang, jelas sekali sudah dapat pertimbangan masak2 dari authornya yah. Tidak jatoh ke stereotype cewek2 drama yang langsung baper ketika diseret paksa sama bad boy yang naksir dia, tapi bukan stereotype cewek logis yang terlalu bergantung pada buku dan sains sampai2 mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dan butuh bantuan hero utk nunjukin bahwa kesenangan dalam hidup itu beyond buku dan logika (lengkap dengan kawat gigi dan kacamata tebal). Nggak sama sekali! Riv ini tipe yang rajin kerjain tugas kuliah, mempertimbangkan semuanya berdasarkan logika, always know what to say or do (gua udah gatau berapa kali gua manggut2 ketika dia mengemukakan pandangannya di setiap pembicaraan sama Raf), tapi juga malesan, suka ga mikir kalo lagi ngelakuin sesuatu, bisa disawer pake beng-beng (ngakak) dan her sassy remarks yang kadang suka unexpected, seperti ketika dia minta maaf sehabis kejadian di pernikahan itu. Gua pikir alasan dia mengirim cerita Matahari dan Meteor adalah untuk menegaskan kalau mereka sebenarnya sama sekali ga cocok dan disudahi saja, tapi ternyata karena dia ngerasa menghambat Raf dan meski begitu tetap mau menemani dia sampai akhir hayat... *hiks*. Sejujurnya, emang Riv ini pacarable bgt. Gua yg cewek malah lebib pengen si Riv buat gua aja drpada dikasih ke Raf. Seperti kata Raf, anjir banget kalo gajadi calon pasangan hidup. Hihihi.

2. Dan Raf. Sekali lagi, si author kayaknya udah alergi banget yah sama karakter2 cowok "bad boy" slash jerkface yang bisa seret cewek yang dia suka seenak udel dan ngebuli2 dia atas nama cinta dan posesif. Raf has some of all those traits but with a little twist; he's able to tone it down at some point, sehingga bisa dipercaya jadi leader dimana2 ketika kuliah dan jadi senior legenda. Dari statement Riv di rumahnya (yang gua berani taruhan dia pasti ngegumam aja ga mikir hehehe) dan berusaha mendekati Riv dengan berkompromi mati2an dan mengorbankan semua nilai2 yang dia anut. Selalu kagum dengan visi2 Riv (ga cuma kamu Raf aku juga terseponah). Typical alphamale to the core yang terluka harga dirinya kalau dishot down sama cewek. Control freak, charming dan manipulative, power-hungry kind, a rigorous planner, perfectionist (which is all traits you can find in a psychopath or serial killer makanya plis Riv plissss sama gue aja HAHAHAHA). Kelihatan banget dia benar2 sayang sama Riv sampai dia mau tone down semua sifat jeleknya banget banget banget at first karena takut he'll scare Riv away. Which is ketika dia merasa lebih butuh Riv daripada Riv butuh dia, semua controlling trait itu langsung keluar (which is in tandem dengan alpha personalitynya yg ogah banget kelihatan lemah, good job author! Typical bapak2 kolot jaman dulu yg bisa kamu temukan di dunia nyata). Dia bilang ke semua orang kalau dia suka Riv karena Riv embrace busuk2nya dia, gak berusaha mengubah dia dll, tapi in the end dia sadar bahwa kalau dia mau terus sama Riv, he has to change. Pesan yang bagus sekali sih, tanpa ada dialog gak jelas kayak 'kamu harus berubah Raf buat aku dll' Riv mengubah dia dan menjinakkan Raf habis2an bahkan tanpa dia sadari. She literally had Raf on a leash, his body and soul.

3. Beberapa masalah sosial yang jarang dibahas di dunia nyata, seperti:
- papa Riv yang coming out of the closet tapi masih mau tetap dengan mamanya. For real though, banyak yang seperti itu; cowok yang suka cosplay cewek tapi tetap suka cewek, cowok macho yang gak masuk stereotype homo yang kemayu dll, in the end it all came down to people and their decision to what they would like to be labeled as.
- Kampanye Love Yourself yang lagi ngetren skrg. Seperti kamu harus tahu cara bikin kamu bahagia sendiri supaya gak bergantung sama orang lain, kalau cowok yang sudah berkeluarga biasa dipandang lebih reliable drpada yang belum. Banyak yang eye-opening.
- konflik Raf vs Icak yang abu2. Kamu gak bisa bela siapa2 karena ini tektok yang lazim terjadi pada dinamika antara atasan dan bawahan di sebuah organisasi atau perusahaan.
- Riv:'Gua juga suka cewek cantik. Buat dilihatin aja. We all like to see beautiful creatures.' gitu sodara2 apakah jika cewel suka girlband atau cowo suka boyband berarti otomatis dia gay atau lesbi? BELUM TENTU KAN? SO PLIS JANGAN SMBARANGAN NGELABEL2IN ORG----maaf ngegas. Ehem.
- sentilan terhadap pandangan yang mengagung2kan budaya pernikahan dan jadinya malah mengerdilkan mereka yg memilih tidak menikah.

4. Supporting character yang semuanya bisa bikin cerita jalan dengan efektif, whatsappan antara pasangan kita yang bikin ngikik dan merinding karena si Raf yang kejunya minta tolong kalo lagi ngeflirt, Raf yang suka speechless dan jadi soft ketika Riv always struck a chord to every problems and worries he had, Riv yang suka malu2 tapi tiba2 keju parah di saat2 gak terduga, dan percakapan mereka suka gak terduga. Biasanya dalam cerita romance, the best moment itu selalu proses ketika mereka falling in love, pedekate dan ketika uda pacaran, distop. Ini adalah novel dimana progress nya malah lebih menarik lagi setelah mereka pacaran. Meski mereka sudah klop banget aku tetap gak bisa nebak apakah mereka balal endgame di akhir cerita karena Riv yang jarang kita lihat point of viewnya dibanding Raf sepanjang cerita.

Overall, layak dibaca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nurul.
312 reviews38 followers
September 10, 2021
Cukup lama buku ini selalu masuk ke urutan atas tbr saya dari beberapa tahun lalu dan baru ada mood sekarang dong bacanya. Kak Saras itu salah satu auto-buy author saya karna I love her writings since 2017. Topik yang diangkat di buku-bukunya menurut saya juga unik dan lumayan berani (mostly tentang masalah sosial di sekitar kita) jadi nggak selalu di comfort zone dia atau istilahnya main aman.

Pertama-tama mari kita bahas hal-hal yang saya suka di buku ini. Walaupun premisnya romance yang klasik banget, tapi cara penceritaannya itu nggak biasa dan cara mereka falling in love juga anti mainstream makanya saya betah banget bacanya dan nggak berasa tiba-tiba tamat. Padahal saya tipe pembaca yang nggak suka buku dialogue-driven atau juga slow-burn romance gini, tapi ngikutin percakapan mereka yang berbobot saya jadi pengin terus-terusan baca.

Lalu buat karakternya. Riv, saya suka karakter dia yang smart, independen dan dengan pemikiran dia yang dewasa. Walaupun emang saya sempet nggak terbiasa di awal cerita sama sifat dia yang blak-blakan. Kalo Arraf, well he really smart though tapi emang rada nyeremin sih jujur sama pemikiran dia dan ambisinya, cuma saya paham kenapa Riv masih mau sama Arraf karna mereka sama-sama penasaran yang akhirnya yah ngerasa cocok. Dan untungnya perkembangan karakter Arraf berasa banget sih di bukunya walaupun harus pelan-pelan.

Gaya penulisan kak Saras kelihatan improve dari cerita-cerita dia yang sebelumnya apalagi pasci seri Disiden tapi ciri khasnya nggak berubah, gaya penulisannya masih rapi dan pesan moralnya jangan ditanya lah ya udah pasti dapet. Analogi dan dongeng yang berhubungan sama astronomi juga masuk akal, saya suka.

Tapi, ada beberapa hal juga yang saya kurang suka di buku ini. Pertama itu buat konfliknya, konfliknya oke sih, relate juga sama permasalahan pasangan pada umumnya dan penyelesaiannya bagus, tapi klimaksnya tuh kayak nanggung, dan ini berhubungan sama poin kedua yaitu plot. Mungkin karna fokus ke dialog antar tokoh dan pesan yang mau disampaikan, plot di buku ini jadi apa ya kayak flat aja gitu.

Dan saya setuju sama pendapat beberapa orang kalo background keluarga mereka kurang dijelasin aecara detail terutama untuk keluarga Arraf, padahal ada konflik keluarganya juga di sini. Dan terakhir, to be honest, ada beberapa adegan yang bikin saya meringis karna cringe abis apalagi sama kelakuan Arraf, mungkin karna dari awal kedua tokohnya selalu gunain logika dan realistis, jadinya pas mereka bucin malah aneh dan ngerasa nggak sesuai aja gitu.

Wow, review saya cukup panjang padahal tadi sempat lupa mau ulas apa aja. Semoga yang baca nggak bosen deh haha. Sekian dan terima kasih.

Rate: 3.6/5
Profile Image for Nadhira.
198 reviews8 followers
January 12, 2020
Buku ini menceritakan tentang Riv, perempuan yang bebas, tidak mau dikekang, dan impulsif. Tentang Arraf, laki-laki yang control freak, a planner, dan ambisius. Riv itu mahasiswa biasa aja. Gk suka jadi sorotan. Berkebalikan dengan Arraf yang merupakan seorang mahasiswa terkenal. Punya banyak prestasi. Suka menjadi sorotan.

Arraf tertarik dengan Riv karena perempuan itu paham sekali tentang dirinya. Bisa tau isi otak Arraf secara detail. Tentu saja masuk kriteria perempuan yang katanya Arraf sih setara. Arraf suka ngikutin standar masyarakat. Sedangkan Riv nggak.

Menurut saya sendiri buku ini memberikan perspektif lain tentang cinta, hidup, orang lain. Saya suka dengan karakter Riv di buku ini. Bagaimana Riv sangat realistis terhadap apapun. Bagaimana Riv bisa memahami orang serinci itu. Bagaimana Riv gk asal judge apa yang dilakuin Arraf. Tetapi saya sedikit nggak suka dengan Arraf. Terlalu ambisius. Memaksakan kehendak. Apa yang dia mau harus terlaksana. Gara-gara Arraf saya baca buku ini kurang menikmati. Tetapi di akhir-akhir saya bisa sepenuhnya suka sama Arraf.

Penulis dapat memberikan pelajaran kepada pembaca tanpa menggurui. Penulisannya gak terlalu berat disesuaikan dengan pasar mungkin ya. Walau sebenarnya buku ini apa yang mau disampaikan hal yang berat tetapi penulis bisa menyampaikan dengan cara ringan. Konfliknya sebenarnya berputar di Arraf. Padahal saya ingin Riv juga diperkuat konfliknya. Tetapi saya suka dengan kehidupan percintaan mereka yang terbuka. Straight to the point. Saling berproses buat jadi lebih baik.

Saya bingung nulis reviewnya gimana. Memang gak ahli dalam menulis review ini😂😂😂😂
Profile Image for naga.
450 reviews96 followers
September 9, 2020
actual rating: 3.5 stars

Aduh, serem banget buku ini.

Bikin mikir.

Roman yang menarik. Si cowok adalah gambaran Gary Stu pemilik segalanya (kepintaran, tampang, keahlian, harta), hanya aja yang lebih banyak dibahas di sini adalah semua kekurangannya yang pada akhirnya membuat dia bisa jadi makhluk sempurna itu. He's a human and I think it's beautiful. I don't like Arraf though.

Riv adalah cewek yang I'm-not-like-other-girls secara sekilas, tapi dia sebetulnya ya sama aja dengan semua cewek. Hanya dia lebih banyak menggunakan logika. Yang sebenarnya, tokoh kayak gini banyak juga dijadiin female heroine dalam buku-buku. A (y/n)

It wasn't exactly an enjoyable read for me (beberapa percakapan mereka kayak percakapan antara aku dan diriku sendiri di masa lalu so I hate it). But it's a great story. Crowdstroia emang ajaib.
Profile Image for Juwita.
335 reviews5 followers
December 19, 2020
1. Kata dan topik diulang-ulang
2. Karakter Riv terasa kurang di bangun, dia terlalu mudah setuju sama Arraf.
3. Worldbuilding nya juga kurang meyakinkan. Kisah Arraf minta dibuat doping tidak terasa nyata. Pencapayan Arraf luar biasa, tapi gak tau kerja di mana, at least nama perusahan deh. Hal-hal kecil namun detail yang terasa kurang mendukung.
4. Topik yang diangkat cukup berat karna membahas hal-hal tabu. Tapi gak ada effect smart conversation antara Riv dan Arraf
5. Meski banyak kekurangan tapi ada beberapa fakta dan konsep yang real, ada quote yang dapat dipetik, makanya saya kasih 2 🌟
Profile Image for Hasita Visakha.
147 reviews
July 7, 2024
Setelah re-read buku ini, gw sadar kalau pemikiran gw udah berubah banget. Waktu baca pertama kali, gw suka sama nih buku. Kayak bodo amat dah ama kurang2nya. Tapi setelah w baca ulang, gw ga sesuka itu.

Arraf adalah tipe manusia toxic. Serius dah! Nih orang aneh banget dan bisa-bisa Riv mau nurutin kemauan nih manusia sampai .... nikah?

Hah?

Bingung ga lu? Riv kan dijabarin keren gitu yak lewat pemikirannya tapi ngapa kalo sama Arraf jadi agak bloon?

Tapi gw tetep suka cerpennya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for h.
375 reviews148 followers
July 9, 2024
Enabler.
Profile Image for Neysa.
126 reviews1 follower
January 29, 2024
I got reading slump for almost 3 weeks while reading this book. Yes. I rarely feel reading slump but this book did it. 😅

It is either me who didnt get used to read romance book or indeed this book indeed have slow-paced.

Yet here is my opinion: This book is too slow paced and too boring. There is no "big conflict" nor climax inside the book that makes the reader "lazy" to finish the book. Including the fact that the page contained more than 400 pages. The characters also too much realistic to be exist. The book is not suitable for anyone who tried to find a sweet love story though. Since the characters way of thinking are too logical and too realistic to be true. Including the fact that this book contained several of narratives that doesnt need to be added like the detail expression of the characters, the details of the surrounding, the details of the situation, rather than focus to the dialog between the characters.

Another point of review from me, this book more like a non fiction book but wrapped in the fiction form, while the main topics are about life, relationship and how to know and love your partner better (based on: 90 % logic and 10% emotional). Rated 2,75 for this book as the book is too thick, slow-paced, there is no climax or problem to make the reader eager to read it until the final page, too much detailed narratives that basically not needed to support the storyline.

Nevertheless, this book has several lines that quite strikes me:
1. Self love ini juga tujuannya biar kita ga bergantung ke pasangan untuk merasa dicintai. Biar kita juga bisa memprioritaskan diri sendiri dalam sebagian besar masalah. Maksudnya, kebahagiaan itu kan tanggung jawab kita sendiri, bukan tanggung jawab orang lain apalagi tanggung jawab pasangan. Kalau kita merasa orang lain bertanggung jawab buat membahagiakan kita, nanti kita malah selalu bergantung sama orang biar kita bisa bahagia. Seandainya orang tersebut mau pergi dari kehidupan kita, kan sama aja kita merasa sumber kebahagiaan kita juga pergi, jadi kita merasa kita ngga bahagua. Itu bisa jadi toxic sih. Karena manusia yang ga bahagia bisa berakhir depresif dan negatif banget pikirannya

2. Terus fokus aja ke hal hal yang membahagiakan. Fokus ke tujuan hidup. Yakin bahwa semelelahkan dan sebusuk apapun dunia ini, apa yang kuperjuangkan itu worth it. Walau apa yang kulakukan buat membantu orang lain mungkin cuma dinilai sebagian kecil sama dunia. I had done my best. And I keep trying my best. Seenggaknya aku konsisten sampai sekarang.

3. Kita adalah pemegang kendali atas hidup kita. Gue sih gamau ngelakuin sesuatu demi ngebahagiain orang lain tapi guenya ga bahagia dan malah berakhir nyalah2in orang itu. Padahal gue sendiri yg punya kendali atas hidup yg gue inginkan. Gue bisa aja nolak utk melakukan hal yg dituntut org lain dr gue
Profile Image for Vio Reads.
146 reviews
June 10, 2019
Aku jatuh cinta sama buku ini 😂😂 udah itu aja
Profile Image for mey.
40 reviews4 followers
July 23, 2019
My God! suka banget gaya pacarannya mereka!! so simple, honest dan terbuka banget buat satu sama lain. i love their relationship gaaahhh!
i love Paduka Raja Arraf so much even though i know that i’ll never be able to keep up with him. he’s too complicated and so full of flaws. yet those flaws makes him human. i love how despite everything that he believes in, he’s still willing to open up to everyone elses perspectives. that is a true leader right there.
Riv is another thing for me. i still cant grasp the idea of her but somewhat i relate to her on so many levels. i love how realistic and logical they way she thinks. it makes her smart and she’s not afraid to share her opinions to other people. and i love how she knows what she wants.
overall, this couple is a whole another level of how i want my relationship to go.
Profile Image for Vioo.
121 reviews12 followers
March 19, 2022
gatau kenapa tapi gue ngerasa karakter riv kurang rebel (atau ini emg bentuk kompromi)
sebenernya banyak pelajaran yg diambil tapi jujur ngebosenin😭 im so sorry😭😭 but i might like this book when i were teenager. idk mungkin ekspetasi gue yg terlalu tinggi makanya pas baca kaya oh ya oke. it was nice tapi yaudah gitu.
Displaying 1 - 30 of 152 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.