Reno memang cowok paling nggak peka di sekolah. Semua orang tahu dia bersahabat dengan Nia si cewek tangguh supersupel. Keduanya membentuk duo akustik, RUN, yang penampilannya selalu dinanti-nanti. Saking solidnya hubungan mereka, banyak yang mengira mereka berpacaran.
Lalu, tiba-tiba, muncul Bara di antara mereka. Cowok itu adik kelas mereka dan hobi basket, seperti Nia. Entah kenapa, Reno mulai terusik dengan kedekatan mereka dan jadi gampang marah pada Nia.
Nia jadi pusing. Duo RUN sedang berkompetisi di ajang menyanyi nasional. Tetapi, bagaimana mereka bisa tetap solid kalau sikap Reno begitu? Ada apa sih dengan cowok itu? Kenapa dia jadi sensi kalau Nia membahas Bara? Masa sih Reno naksir Nia?
Balik baca teenlit lagi karena kangen, pengin habisin bacaan yang ringan, dan lagi dalam masa balik baca manga/nonton anime berlatar sekolah jadi rasanya pas aja waktu lihat kover buku ini di iPusnas. Baru tahu juga ini jebolan GWP yang ternyata logonya ada di sampul belakang. Desain kovernya sendiri memang ada khas manga-manga-nya, ya.
Dari blurb-nya, sudah kelihatan jelas alur persahabatan/cinta dari dua tokoh utamanya. Dilema-dilema friendzone lah hehe. Di sini cowoknya—Reno—duluan yang merasa kayaknya ada yang bakal berubah di antara dia dan Nia. Mereka berdua juga digambarkan populer, tapi yang satu nggak peka (Dinda, teman Nia, suka Reno) dan satu lagi memang nggak mau (Galang si ketos sempat nembak Nia). Ada bumbu iri dengki dari murid lain yang jadi ancang-ancang buat konflik utama nanti.
Headhopping yang lumayan banyak di permulaan sempat bikin kecepatan baca saya melambat. Syukurlah dibantu dengan ceritanya yang sesuai blurb, kepribadian tokoh-tokohnya yang kuat, dan gaya bahasa santai dengan tektokan dialog yang seru. Lepas dari sepertiga awal, headhopping jauh berkurang bahkan menghilang, begitu juga fokus cerita berdasarkan blurb. Di sini menurut saya selera sangat menentukan. Kalau kamu tipe pembaca yang komitmen sama blurb mungkin lebih pengin cari tahu akhirnya mereka jadian atau nggak. Kalau kamu pembaca yang suka kejutan, senang mendapati hal yang ternyata lebih dalam dari kelihatannya, dan nggak keberatan kalau ke-protagonis-an tokoh utamanya mengabur diganti fokus ke tokoh lain, mungkin kamu akan menikmati cerita ini.
Satu yang saya agak skip bacanya adalah bagian kilas balik yang cukup menyita sepertiga akhir. Bukan karena nggak menarik, tapi karena sudah jelas diceritakan sebelumnya meski tidak detail. Dugaan saya (?) dulu bagian ini diletakkan di awal, tapi biar ceritanya dapat dimulai lebih cepat akhirnya kilas balik ini jadi alasan beberapa perbuatan sebelumnya. Di ending saya masih penasaran sama nasib hubungan Nia dan Reno, tapi lalu saya ingat ini teenlit bukan Metropop romance yang jaminan HEA-nya lebih—ehem—tinggi hehe.
Membaca buku ini cukup memuaskan dahaga saya akan bacaan ringan yang bikin nostalgia sekaligus mengenal Nia dan Reno yang memang asyik banget sebagai sahabat. Jalan mereka sebagai RUN boleh berliku-liku, tapi mereka bertahan, karena nggak ada yang lebih kuat daripada persahabatan yang sudah diuji (dengan skandal nasional wkwk).
Setelah sekian lama nggak baca teenlit, aku coba baca buku ini. Premis awalnya menarik, duo akustik SMA yg sobatan akrab: Reno dan Nia, mereka udah sering dipanggil gig di acara-acara kecil.
Sepanjang cerita kita disuguhkan dengan Reno yg dibilang manusia paling nggak peka sejagat tapi aslinya naksir Nia, meski dia sendiri nggak sadar akan itu.
Lalu ada anak baru, adik kelas, namanya Bara yg bikin Reno cemburu tipis-tipis. Bagian favoritku sebenernya di adegan meet cute Bara-Nia pas Nia yg terlambat masuk sekolah bilang ke anak baru di depan pagar samping, "Sini, gue ajarin cara manjat pagar ini. Gue ahli,"
Tapi setelah ini kisahnya jadi flat, kompetisi nasional yg disiarkan di televisi The Shining Star, kasus gosip bullying heboh nasional yg penyelesaiannya cuma via IG live, sampe turnamen basketnya kurang greget..
Apalagi adegan flashbacknya yg tulisan italic-nya sampai beberapa bab, aku pribadi ngerasa ini agak ngeganggu reading experience aja, mungkin lebih enak dibaca kalau tetap pakai font normal tapi tetep dikasi keterangan di awal bab kalau ini masih flashback adegan 1 taun yg lalu, gitu..