Novel romance dengan setting perkotaan sudah ditulis oleh banyak penulis. Di mana karakter, setting, dan unsur romance-nya itu sendiri harus ditonjolkan dengan baik oleh penulis. Dan kali ini Titi Sanaria kembali mencoba mengeksekusi kisah cinta masyarakat urban lewat Love, Lost, & Found. Sampul bukunya sendiri sudah menunjukkan sang tokoh utama dengan ekspresi wajahnya yang datar bahkan sulit dibaca. Pas sekali dengan karakter Kara yang digambarkan dalam ceritanya. Latar warna sampul yang terlihat ringan, tapi tidak mencolok mengindikasikan cerita cinta yang sederhana. Perpaduan ilustrasi gambar, penempatan judul buku dan nama penulis, hingga latar dengan tone warna yang kalem menjadikan sampul buku yang sederhana, tapi menarik manik mata.
Sama seperti lini City Lite lainnya, novel ini memiliki tema tentang kisah percintaan masyarakat perkotaan. Namun, ada satu unsur yang menarik di dalamnya, yaitu tentang perundungan. Di mana perundungan yang dialami oleh tokoh utamanya, Kara, di masa lalu terbawa dalam kehidupannya di masa sekarang. Ejekan dan hinaan yang diterima oleh Kara pada saat remaja membayang-bayangi kehidupannya saat ini. Kara merasa tidak percaya diri akan bentuk tubuhnya akibat hinaan di masa lalunya tersebut. Kurangnya rasa percaya diri ini memengaruhi karakter Kara yang sulit untuk mengemukakan isi pikirannya secara verbal, khususnya pada orang yang baru dia kenal. Walaupun tidak ada sesuatu yang baru dalam kisah cinta yang ditulis oleh Titi Sanaria, tetapi isu perundungan yang dimasukan menjadi daya tarik yang relate dengan kehidupan pembaca. Saya yakin hampir semua orang pernah mengalami perundungan. Isu yang dekat dengan pembaca ini menjadi elemen pembeda dengan novel-novel City Lite lainnya.
Terdapat tokoh Kara yang memiliki sifat kaku, datar, dan kurang percaya diri. Perundungan yang diterima oleh Kara pada saat remaja merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kepercayaan dirinya hilang. Sikap overprotektif mamanya pun membentuk pribadi Kara yang sekarang. Selanjutnya ada tokoh Pretty yang merupakan sepupu Kara. Pretty memiliki penampilan fisik yang cantik dan menarik. Namun sayangnya, sikap Pretty terhadap Kara tidak secantik fisiknya. Padahal dulu sewaktu kecil mereka berdua pernah sangat dekat. Selanjutnya ada tokoh Atharwa yang tenang, sopan, dan berkarisma. Atharwa juga sempat menjadi cinta monyet Kara pada saat SMA. Kemudian ada tokoh Genta sosok kakak yang paling perhatian dan sangat menyayangi Kara. Genta memiliki sifat yang usil, tapi juga dewasa dan bertanggung jawab. Terakhir mungkin tokoh yang menarik untuk dibahas adalah Jingga. Jingga ini merupakan sahabat satu kantor Kara yang bisa dibilang menyebalkan, kepo, dan sering ceplas-ceplos. Jingga ini adalah sosok pemanis yang cukup menghidupkan cerita. Bisa dibilang semua tokoh yang ada memiliki karakter yang kuat dan terbangun dengan baik. Apalagi tokoh Kara ini sangat mirip dengan karakter saya. Sikapnya yang kaku dan kikuk sangat tergambarkan dengan baik. Trauma yang Kara rasakan akibat perundungan juga bisa dimaklumi dan dimengerti karena jujur sampai sekarang saya pun masih mengingat ejekan yang diberikan teman satu sekolah saya dulu.
Latar perkotaan yang digambarkan penulis sudah cukup terasa. Kebanyakan setting cerita terjadi di kantor, apartemen, dan restoran. Deskripsi gedung kantor yang dijelaskan juga menambah kesan urban yang kuat dalam ceritanya. Menggunakan sudut pandang orang pertama melalui tokoh Kara berhasil mengirimkan emosi-emosi yang dia rasakan terhadap pembaca. Apalagi saat Kara merasa tidak percaya diri akan bentuk tubuhnya, saya ikut merasakan ketakutan akan pandangan orang lain terhadap dirinya. Gaya bahasa yang digunakan penulis pun ringan, mengalir, dan mudah dimengerti. Alur ceritanya berjalan maju-mundur lewat beberapa kenangan yang Kara ceritakan. Kenangan-kenangan di masa lalu ini semakin membangun kerangka cerita dengan kuat.
Di awal-awal cerita kita akan diberikan konflik tentang Kara dan Pretty yang berdampak traumatis bagi Kara. Perundungan yang dilakukan oleh Pretty di masa lalu menyebabkan kekhawatiran tersendiri bagi Kara saat dia harus satu kantor dengan Pretty. Menurut saya alasan di balik perundungan yang dilakukan oleh Pretty ini masih kurang begitu kuat. Saya merasa jika alasan Pretty ini cenderung dipaksakan. Mungkin sindrom menjadi bintang masih bisa sedikit saya terima, tapi sisanya terlalu memaksa. Selain konflik dengan Pretty, Kara pun memiliki konflik tersendiri dengan Atharwa yang di mana melibatkan masa lalu mereka saat SMA. Meskipun terpisah kedua konflik ini bisa mengisi bagian ceritanya masing-masing membentuk sebuah masalah yang tergolong menarik untuk diikuti. Jika boleh memilih saya lebih menyukai konflik Kara dan Pretty karena masalah dan isu yang mereka hadapi sangat dekat dengan masyarakat.
Isu perundungan yang dimasukan oleh penulis memberikan nuansa yang cukup berbeda pada lini City Lite. Di mana yang biasanya hanya kisah cinta yang diekspos, tapi kali ini dampak dari sebuah perundungan bisa digambarkan dengan baik lewat tokoh Kara. Trauma dan kurangnya rasa percaya diri yang dirasakan oleh Kara tidak lah berlebihan. Saya sendiri pun terkadang masih bisa ingat hinaan dan ejekan yang saya terima pada saat masih sekolah, terutama hinaan tentang fisik. Porsi romance-nya masih mendominasi sebagian besar cerita, tapi penulis dengan cerdas mengembangkannya dengan masa lalu Kara. Semua tokoh yang ada sangat hidup dan mudah dibedakan. Ini membuktikan bahwa penulis bisa membangun karakter semua tokohnya dengan sangat baik. Kekurangan dalam novel ini menurut saya hanya terletak pada alasan Pretty untuk memusuhi Kara dan mungkin chemistry Kara dan Atharwa yang terjalin terlalu cepat. Secara keseluruhan Love, Lost, & Found berhasil mengemas kisah romansa kaum urban dengan isu perundungan yang dekat dengan masyarakat.