Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mei Merah 1998 Kala Arwah Berkisah

Rate this book
Dalam kobaran api Tragedi Mei 1998 di Jakarta yang bersimbah darah.
Martabat keperempuannya dijarah para lelaki bedebah.
Masuk ke liang lahat berkafan hitam-kelamnya sejarah.
Ia menunggu keadilan dalam membusuk jasad
Yang berarwah gentayangan resah

222 pages, Paperback

Published October 10, 2018

Loading...
Loading...

About the author

Naning Pranoto

17 books6 followers
lahir di Yogyakarta, 6 Desember 1956. Beliau sudah menulis lebih dari 50 judul buku anak-anak meliputi jenis fiksi, ilmiah populer, dan teknologi terapan. Ia juga menulis cerpen. skenario film dokumenter, sandiwara radio, dan puluhan cerita yang dikasetkan. Penulis yang pernah menjadi wartawati Mutiara serta redaktur majalah anak-anak ini, di samping menjabar redaktur pelaksana majalah remaja, juga sedang giat mempelajari kebudayaan Jepang. Ia mulai mempelajari kebudayaan Jepang. Ia mulai menulis tahun 1976.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (9%)
4 stars
27 (23%)
3 stars
49 (42%)
2 stars
24 (21%)
1 star
3 (2%)
Displaying 1 - 30 of 43 reviews
Profile Image for svrhld.
107 reviews7 followers
May 17, 2021
Terlepas dari topik dan jalan cerita dalam buku ini, there is just so many things to point out about this book. Rating dan reviewnya masih terlalu sedikit, so let me add some.

Pertama, diksi. For some people, mungkin memang terasa asik. Tapi menurutku justru jadi terlihat inkonsisten. Penulis mencampurkan bahasa jawa, sunda, dan bahasa Indonesia secara acak. Amat disayangkan, bahasa daerah yang digunakan tidak disertai foot note. Karena jujur, saya banyak kebingungan since i don't really speak and understand bahasa jawa.

Kedua, there's too many typos to the point it irritates me. Kesalahan letak titik dan koma, yang banyak tidak diberi spasi. Typo dalam satu kata juga banyak banget. Setiap chapter tidak luput dari typo.

Ketiga, inconsistency (again). Ada part di mana penulis menuliskan "mahasiswa Trisaksi" tapi di part lain malah menulis "mahasiswa Trisakti".

Keempat, plotnya ngalur ngidul. Aneh. Terutama ketika hampir semua tokoh ditemukan di restoran hotel. Apalagi ketika Lexy malah jadi bunuh diri tanpa ada alasan yang jelas.

Maaf kalau saya terkesan insensitive. Terlepas dari hal hal di atas, jujur saya suka dengan cara penulis membuat tokoh utamanya menceritakan segalanya sebagai sosok arwah. It's new to me.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Chels.
205 reviews3 followers
June 1, 2024
Konflik sejarah yang diangkat menarik: kasus pemerkosaan perempuan Cina pada Mei 1998. Sayangnya, aku menemukan banyak kesalahan teknis berbahasa yang sangat menggangguku. Beberapa scene juga terasa kurang masuk akal dan absurd.
Profile Image for Ira Nadhirah.
630 reviews
January 25, 2026
Mei Merah 1998 Kala Arwah Berkisah, Naning Pranoto.

Satu lagi buku yang dibeli semasa pergi ke Jakarta International Book Fair 2025. Dan satu lagi buku yang menceritakan tentang krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1998 yang menyebabkan demonstrasi dan pemerkosaan terhadap wanita.

Buku ini dibahagikan kepada 12 bab yang setiap bab nya dari POV wanita yang terkesan dari pemerkosaan tersebut. Watak utamanya Humaira, seorang anak luar nikah perempuan Tionghua dan tidak diakui anak. Humaira kemudiannya dibesarkan oleh seorang ibu pemijat bayi yang beragama Islam. Humaira menbesar dengan baik, ajaran agama yang baik.

Konflik berlaku apabila Humaira ke Jakarta selepas diajak temannya yang baik hati, Shintya. Bekerja di restoran cina dan bertemu Miss Lin. Semuanya baik baik. Hasil dari terbunuhnya 3 pelajar di universiti Trisakti menyebabkan demonstrasi dan akhirnha Humairah diperkosa dengan kejam di restoran tempat dia bekerja.

Humairah lari sehingga gila dan jatuh sakit. Ibu angkat nya di kampung meninggal dunia sebab strok selepas tahu tentang Humaira. Dan akhirnya Humaira mengandung anak perempuan yang dinamakan Luk Luk. Yang paling sedih, she killed herself selepas bersalin.

Luk luk kemudiannya diadopsi oleh sepasang suami isteri yang tak boleh mempunyai anak. But both of them juga sangat baik, terutamanya the husband. Masa pemilihan kanak kanak tu, he refuse to see the kids untuk pilih apa dia nak. He ask the suster to explain about the kids je. And when the suster explained about Luk Luk yang hasil pemerkosaan, dia terus i want that girl. Baik giler.

After that bermula la perjalanan Luk Luk mencari dirinya dan ibunya. Halfway this plot nampak agak mudah dan akhirnya Luk Luk putus asa dan kembali ke ibu angkatnya.

What i love most about this book adalah, how the author potrays wanita membantu wanita yang lainnya meski berbeza agama dan kepercayaan. Misalnya miss lin yang berbangsa tionghua tapi sangat sayang akan humaira. Even she left the country and duduk di australia dia tetap kembali cari humaira. And also suster jo seorang beragama kristian yang menyelamatkan humaira, sebab humaira to used to be her student dulu. Padahal dia lama tak jumpa humaira.
Profile Image for Cikal Annisa.
62 reviews
September 5, 2025
buku ini menceritakan kisah yang sungguh pilu, dosa negara terhadap rakyatnya yang hingga saat ini belum diusut tuntas. membaca buku ini bikin emosi bergejolak nangis, takut namun yang paling kuat adalah marah. bagaimana negara tidak mampu (atau belum mampu, api harapan untuk penuntasan kasus itu semoga tidak pernah padam) untuk melondungi warganya?

Mengambil sudut pandang yang cukup menarik. Dimana arwah berkisah tentang hidupnya semasa hidup dan hidupnya setelah mati dan setiap babnya mengambil sudut pandang yang berbeda dari tokoh-tokoh sekitar arwah semasa hidup. bahasa yang digunakan penulis cukup mudah dan mengalir.
Profile Image for Nia potterr.
251 reviews7 followers
June 3, 2026
baguss bangett. Sakit banget jadi Humaira yang harusnya dia kerja untuk ibu angkatnya bangga ternyata malah dapet kejadian menyakitkan yang membuat trauma mental dan psikis begitupun dengan Shinta dan Cik Lin. Semoga Luk-Luk mendapat masa depan yang cerah dengan pendidikan di Australi✨
Profile Image for Novena Adelweis.
26 reviews
November 8, 2025
Awalnya saya membaca buku ini karena ingin mendapat insight tentang Tragedi Mei 1998 jika dikisahkan dalam bentuk novel, apalagi penulisnya pun sesama perempuan.

Menarik melihat bagaimana Penulis menceritakan kisah memilukan yang dialami tokoh Humaira lewat berbagai sudut pandang. Mulai dari anak, orang tua angkat anak, suster yang merawat, mantan atasan, sahabat, sampai sosok pria yang meneror si anak tentang masa lalunya.

Hanya saja, saya terganggu dengan salah tik yang sangat banyak. Beberapa informasi pun seperti tidak diperiksa ulang sebelum diterbitkan, seperti frasa "Samson di hadapan Goliat." Bukankah seharusnya "Daud" ya? Lalu tokoh Cik Lin ketika dijadikan judul bab jadi Miss Lin? Ta-tapi tokoh yang bersangkutan masih dipanggil "Cik". Sungguh saya bingung. ☹️

Lalu ada pula penggunaan istilah kekinian seperti "cabe-cabean plus-plus" yang tidak dielaborasi lebih lanjut. Mengingat Penulis mengangkat topik yang jarang dibahas dalam novel dan (mungkin) harapannya novel ini bisa menjadi rujukan, bukankah akan lebih baik jika istilah khas anak muda zaman now diminimalisir? Frasa "suka sama suka" saya rasa sudah cukup menggambarkan kok.

By the way, saya membaca buku ini versi terbitan tahun 2018. Saat review ini ditulis (tanggal 8 November 2025), sudah ada terbitan baru dengan cover yang lebih bagus. Saya tidak tahu apakah terbitan baru sudah hadir lebih baik dengan editan lebih proper.
Profile Image for Bella Anggun.
21 reviews
July 31, 2026
Dalam peristiwa berdarah, korban acap kali direduksi jadi sekedar berita statistik, dan 'angka' itu jadi lebih mudah masuk ke hati ketika diberi identitas. Penderitaan korban jadi terasa nyata ketika ia diberi nama.

Pada kisah garapan Ibu Naning ini, korban itu bernama Humaira.

Dalam rumpun fiksi sejarah, beberapa novel--yang pernah kubaca--yang berlatar di jaman orde baru biasanya melihat dari sudut pandang aktivis atau tapol, menjadikan buku ini sebagai buku bacaan pertamaku yang mengambil sudut pandang korban kerusuhan.

Novel Mei Merah 1998 mengisahkan tentang seorang remaja perempuan bernama Luk-Luk yang tinggal bersama ibu angkatnya. Ia hendak mencari keberadaan ibu kandungnya setelah mengetahui fakta bahwa dirinya adalah anak hasil pemerkosaan seorang perempuan keturunan Tionghoa saat kerusuhan 1998 meledak. Dari sana, kita diperkenalkan dengan seorang (atau sebuah?) arwah bernama Humaira, ibu dari Luk-Luk, yang berkisah tentang kehidupannya sejak ia lahir, menjadi korban, hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya setelah melahirkan.

Bayangkan, ditengah badai krisis moneter dan digencet rezim otoriter, hal yang dilakukan malah melanggengkan konflik horizontal dan kebencian rasial.

Pada dasarnya setiap kejahatan memang tak boleh dibenarkan, tapi ditengah huru-hara menuju reformasi, diantara semua kekerasan, penjarahan, dan pembakaran, hal yang paling aku tak mengerti adalah pemerkosaan. Mengapa seseorang memutuskan untuk menginvasi tubuh seseorang? Apa urgensinya? Hal itu tidak akan mengobati kelaparanmu, mengurangi kemiskinanmu, atau melindungi keluargamu, murni hanya untuk menunjukan dominasi secara berkelompok terhadap kaum rentan yang sendirian dan tak bisa melawan. Mengerikan.

Di situasi keos, sisi tergelap dari spesies yang katanya paling berakal bisa terhampar gamblang. Ada satu adegan yang sangat menyentil, yakni ketika mereka hendak memperkosa seorang perempuan, tapi berhenti karena perempuan itu dianggap "najis" atau "babi", bukan karena mereka punya nurani.

Religion over humanity. Gimana seseorang punya pikiran untuk memperkosa--sebuah kejahatan yang sangat destruktif--tapi berhentinya "hanya" karena takut terkontaminasi babi?

Secara umum, penulis telah berhasil menyediakan media bagi orang yang ingin 'merasakan sejarah', bukan hanya tahu secara kronologis di buku pelajaran.  Bahasa yang digunakan tergolong ringan, tidak perlu penafsiran mendalam untuk diproses. Alur dan karakterisasinya pun sederhana dan kalau boleh jujur, kurang berdimensi, tapi justru inilah yang membuat buku ini tidak terasa melelahkan. Ini adalah buku dengan tema 'kelam' yang dibungkus narasi dan plot ala fiksi remaja. 

Dengan demikian, buku ini cocok sekali menjadi jembatan antara pembaca romance ringan atau fiksi remaja yang ingin menyelami genre fiksi sejarah, untuk membiasakan adanya selipan fakta dalam sebuah cerita karangan, merasakan sejarah sekaligus pemantik rasa ingin tau tentang tragedi masa lalu, tanpa terkendala diksi dan atmosfer yang terlalu 'berat'.

Buku ini menggambarkan peristiwa dengan *past tense*, sehingga setiap fakta sejarah bisa disajikan secara ekplisit. Kondisi cerita yang 'sudah terjadi di masa lalu' membuat para tokoh yang menceritakan sudah mengerti apa yang telah terjadi, sudah bisa memproses emosi, tidak ada bias keos, timelinenya jelas dan peristiwa itu sudah dilabeli, misal "Peristiwa Kerusuhan pada 13-14 Mei 1998" atau "Penembakan Mahasiswa Trisakti", berikut dengan bagaimana detail kejadiannya. Ketika kita ingin mencari tahu lebih dalam, akan jauh lebih mudah karena kata kuncinya sudah dituliskan begitu saja.

Sementara di beberapa buku fiksi sejarah lain, karena diceritakan pada saat peristiwa sedang terjadi, in the middle of chaos, justru perlu analisis dan riset untuk tahu peristiwa apa yang sedang kita baca karena si tokoh pun belum mengerti apa yang sedang mereka alami. Semuanya disajikan secara implisit. Buat pembaca sejarah baru, buku ini pas sekali untuk dapat edukasi sejarah dan hiburan secara sekaligus. Menurutku, kemudahan melahap buku ini memang disengaja oleh penulis, agar bisa jadi stepping stone sebelum menapak lebih banyak cerita genre ini.

Buku ini akan melakukan tugasnya dengan baik, terutama jika sampai pada target audiencenya.
Profile Image for afa.
97 reviews2 followers
May 30, 2026
"Kupastikan, air mataku merah warnanya. Karena begitu dalamnya dukaku darahlah yang mengucur dari sudut mataku. Luka raga bisa diobati. Tapi, begitu sulit mengobati luka batin. Aku tak mampu."


Tragedi Mei 1998 akan selalu meninggalkan bekas luka mendalam bagi Indonesia. Berbagai literatur membahas tragedi Mei 1998 ditujukan agar kita harus selalu mengingat sejarah kelam yang terjadi dahulu kala agar tidak terulang kembali. Salah satunya buku ini. Mengangkat tema pemerkosaan yang terjadi saat kerusuhan Mei 1998. Humaira, seorang wanita keturunan Tionghoa yang merantau ke Jakarta berharap memiliki kehidupan yang baik malah berakhir tragis tepat 2 minggu setelah ia menginjakkan kakinya di tanah Jakarta.

Aku suka bagaimana penulis menuturkan ceritanya lewat Humaira yang arwahnya terkatung-katung di alam sana. Keputusannya untuk bunuh diri setelah melahirkan Luk-Luk, putri cantiknya hasil dari perbuatan keji oleh orang yang biadab, membuatnya tidak bisa tenang di alam sana. Luk-Luk sendiri syok mengetahui sejarah kelamnya, lalu ia memilih mencari ibu kandungnya.

Sejujurnya topiknya bagus banget, tetapi mungkin eksekusi ceritanya yang kadang terasa berlebihan hingga terkesan lebay. Terlebih di bagian Luk-Luk mengetahui asal-usulnya dari seorang anak pimpinan klinik tempat dilahirkannya. Entahlah menurutku konflik itu terkesan berlebihan, ending dari anak pimpinannya pun juga begitu. Tetapi sepanjang baca aku sangat miris sekali membaca pengalaman yang dialami Humaira. Ikut sesak dengan apa yang dirasakan Shinta dan Miss Lin.

Tokoh dalam buku ini penuh dengan perempuan kuat. Perempuan yang berbeda latar belakangnya tetapi saling merangkul dan menguatkan. Dari Miss Lin yang walaupun baru kenal Humaira tetapi sudah sayang kepadanya. Sampai Suster Jo yang membantu sesama tanpa memandang latar belakang agamanya.

Hal yang membuatku suka dengan alurnya tuh bagaimana di tiap bab-nya disajikan berbagai sudut pandang. Terkadang bercerita dari kacamata Humaira, lalu di lain waktu lewat Luk-Luk, ada juga Bu Yayuk sang ibu angkat Luk-Luk. Banyak sudut pandang tetapi tidak membuatku bingung membacanya.

Jujur berasa sesak dan loyo banget pas baca karena membayangkan betapa ngerinya Mei 1998. Banyak perempuan yang mengalami nasib seperti Humaira. Menjadi korban dari kebejatan lelaki yang memanfaatkan keadaan. Semoga mereka semua tidak pernah tenang selama hidupnya di dunia.

Sangat aku rekomendasikan sebagai bacaan awal jika ingin membaca tentang secuil sejarah Indonesia. Bukunya bisa menjadi pemantik agar kita bisa mengulik lebih jauh tentang topik ini dengan membaca buku nonfiksi-nya. Personal rate dariku 3,75☆.
Profile Image for Akilah.
13 reviews
November 22, 2024
"Dalam kobaran api Tragedi Mei 1998 di Jakarta yang bersimbah darah. Martabat keperempuanannya dijarah para lelaki bedebah."
Kalau kisah Marsinah abadi sebagai teori konspirasi, lalu bagaimana dengan kisah para perempuan korban penjarahan kesucian Mei '98? Itu yang terbesit di benakku saat menemukan buku perpustakaan ini.

Buku 'Mei Merah 1998: Kala Arwah Berkisah' karya Naning Pranoto yang terbit pada tahun 208 oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia ini berisi 12 bab ditambah prolog dan epilog. Menceritakan kisah pencarian seorang anak perempuan hasil huru-hara Mei '98. Kenyataan bahwa ia anak dari seorang korban perampokan kesucian yang keji dan tak berperikemanusiaan menggoncang jiwa Luk-Luk. Dikemas dengan menyajikan sudut pandang tokoh yang di setiap bab-nya, bab satu menceritakan kisah Humaira (Ibu Luk-Luk) dari dimensi lain, bab kedua dari sisi Sri Rahayu (Ibu angkat Luk-Luk), dst.

Buku ini memadukan berbagai topik dan isu, mulai dari keadilan hingga teror sosial media. Naning Pranoto mengisi lubang-lubang sejarah yang tak terisi dengan sebuah kreasi. Humaira yang tetap memantau anaknya meski kematian dipilihnya beberapa hari setelah melahirkan Luk-Luk, dibantu oleh Kamboja. Menarik ketika membaca sudut pandang setiap tokoh dalam cerita ini. Tetapi sayangnya, kalimat yang tersusun sedemikian rupa menurun rasa estetikanya karena banyak ditemukan salah eja, salah penggunaan tanda baca, dan salah ketik lainnya.

Dengan tujuannya mengisi sejarah yang kosong, buku ini menggambarkan ngerinya tragedi '98 bagi para perempuan. Lalu apakah korban sendirian? Tidak. Digambarkan pula bagaimana warga Indonesia yang aneka ragam agama, ras, suku, dan budayanya dapat saling membantu, mendukung, dan melindungi. Aku bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan dalam buku ini meskipun sebagai mahasiswa sastra Indonesia sedikit terganggu melihat kurangnya perhatian tim penulis dalam ejaan dan tanda baca.

Ide cemerlang seperti memadukan sejarah dengan imajinasi mistis ini perlu dikembangkan. Buku ini memberikan saya motivasi untuk selalu memperhatikan EYD dalam menulis karena hal itu memengaruhi keindahan suatu karya. Terima kasih, terus berkarya ya!

~ Akilah Sekar
Profile Image for Day Nella.
320 reviews6 followers
December 23, 2025
Salah satu buku yang memadukan unsur sejarah dan mistis di dalamnya. Tentang tragedi kerusuhan 1998. Dan novel ini terinspirasi dari kejadian paling menyakitkan bagi kaum perempuan terutama tionghoa. Humaira adalah korban pemerkosaan yang memilih bunuh diri setelah melahirkan. Ketakutan, trauma mendalam dan tidak sanggup melihat wajah putrinya jadi pemicunya. Berharap anaknya kelak lebih beruntung hidupnya. Luk-luk, nama yang diberikan Humaira untuk putrinya kini mencari keberadaannya setelah mengetahui kalau orang tuanya saat ini bukanlah orang tua kandungnya. Dan dalam perjalanannya. Luk-luk mengetahui fakta-fakta kelam yang mengelayuti kehidupan Ibunya.
-
Lika liku perjalanan Humaira cukup pelik dan pilu. Mengangkat isu sosial, kaum minoritas, martabat perempuan yang dijarah pada tragedi mengerikan tersebut. Humaira, arwahnya yang terkatung-katung menceritakan ulang semua kejadian dalam hidupnya.
Ada banyak sudut pandang para tokoh-tokoh dalam cerita. Semua yang pernah bersinggungan dengan Humaira. Termasuk yang melemparkan teror pada Luk-luk.
-
Gaya ceritanya lumayan nyentrik dan cukup nyeleneh. Ucapan slank, bahasa gaul zaman kini turut disisipkan dalam cerita. Tetapi, sejauh ini aku cukup menikmati kisah Luk-luk dan Humaira. Karena lebih kepada pencarian jati diri dan konflik batin keduanya meskipun sudah beda alam. Untuk yang suka genre sejarah dengan campuran mistis, buku ini bisa jadi pilihan baca di kala senggang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Day Nella.
320 reviews6 followers
December 24, 2025
Salah satu buku yang memadukan unsur sejarah dan mistis di dalamnya. Tentang tragedi kerusuhan 1998. Dan novel ini terinspirasi dari kejadian paling menyakitkan bagi kaum perempuan terutama tionghoa. Humaira adalah korban pemerkosaan yang memilih bunuh diri setelah melahirkan. Ketakutan, trauma mendalam dan tidak sanggup melihat wajah putrinya jadi pemicunya. Berharap anaknya kelak lebih beruntung hidupnya. Luk-luk, nama yang diberikan Humaira untuk putrinya kini mencari keberadaannya setelah mengetahui kalau orang tuanya saat ini bukanlah orang tua kandungnya. Dan dalam perjalanannya. Luk-luk mengetahui fakta-fakta kelam yang mengelayuti kehidupan Ibunya.
-
Lika liku perjalanan Humaira cukup pelik dan pilu. Mengangkat isu sosial politik, kekerasan seksual, kaum minoritas, martabat perempuan yang dijarah pada tragedi mengerikan yang tak pernah tuntas. Humaira, arwahnya yang terkatung-katung menceritakan ulang semua kejadian dalam hidupnya.
Ada banyak sudut pandang menarik dari para tokoh-tokoh dalam cerita. Semua yang pernah bersinggungan dengan Humaira. Termasuk yang melemparkan teror pada Luk-luk.
-
Gaya ceritanya lumayan nyentrik dan cukup nyeleneh. Ucapan slank, bahasa gaul zaman kini turut disisipkan dalam cerita. Tetapi, sejauh ini aku cukup menikmati kisah Luk-luk dan Humaira. Karena lebih kepada pencarian jati diri dan konflik batin keduanya meskipun sudah beda alam. Untuk yang suka genre sejarah dengan campuran mistis, buku ini bisa jadi pilihan baca di kala senggang.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Sheeta.
223 reviews18 followers
May 14, 2022
Buku ini memadukan antara kenyataan dengan hal magis — ada sudut pandang dari orang yang telah tiada, komunikasi dan pikirannya masih melayang dalam cerita.

Katanya kisah utama dari buku ini adalah bagaimana Luk-luk mencari tahu tentang ibunya. Tapi, aku menyadari bahwa hal tersebut hanya disoroti sedikit saja. Bahkan tertutup oleh percakapan-percakapan Humaira dengan dua kawannya di liang kubur. Ketiganya memiliki peran seperti narrator, menurutku. Apa yang tak diceritakan dari sudut pandang Luk-luk maupun orang-orang di sekitarnya, maka akan diceritakan dari sudut pandang Humaira yang telah tiada.

Selain itu, ada perasaan horror ketika membaca bagian sudut pandang Humaira ketika peristiwa 98 terjadi dan bagaimana ia diperkosa. Tidak terlalu detail tapi cukup bisa membuat kita membayangkan dan ikut merasakan kepahitan yang sama.

Sangat disayangkan, bahwa buku ini lebih banyak mengandung percakapan-percakapan yang menurutku tidak terlalu perlu. Justru bagaimana kondisi Humaira di tahun tersebut, bagaimana kacau pikirannya setelah ia diperkosa, bagaimana ia tetap bertahan hidup dan melahirkan Luk-luk tidak menjadi highlight buku ini. Pencarian Luk-luk juga tidak menjadi cerita yang bisa dinikmati karena menurutku hampir tidak ada cerita bagian itu yang bisa dibaca.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Faizah Andi.
20 reviews
May 8, 2023
Terinspirasi dari tragedi Mei 1998, ketika perempuan Tionghoa mengalami kekerasan seksual dan trauma mendalam, Pranoto menuliskan kisah fiksi berjudul “Mei Merah 1998: Kala Arwah Berkisah”. Novel ini berkisah tentang seorang perempuan Tionghoa bernama Humaira yang telah menjadi arwah karena bunuh diri. Tindakan bunuh diri tersebut ia lakukan sebab Humaira adalah korban pemerkosaan tragedi Mei 1998 dan dirinya mengalami depresi berat akibat mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Humaira meninggalkan seorang bayi sebelum dirinya meninggal dunia dan anaknya dinamai Lukluk. Beranjak dewasa, Lukluk yang tidak mengenal ibu kandungnya tersebut mencoba untuk mencari tahu siapa ibunya yang sesungguhnya. Dalam pencariannya tersebut, Lukluk menemui berbagai fakta dan pengalaman mengejutkan.

Novel ini menggunakan dua sudut pandang, yakni Humaira sebagai arwah dan Lukluk sebagai anak yang mencari ibu kandungnya. Narasi arwah yang berkisah ini menyiratkan sejarah tragedi Mei 1998, khususnya pada perempuan Tionghoa yang mengalami kekerasan seksual, kebrutalan yang dilakukan secara sistematis, dan politik tubuh perempuan. Membaca novel ini dapat menambah wawasan pembaca mengenai sejarah kelam Indonesia, pemerkosaan perempuan Tionghoa.
Profile Image for naabilaputri.
36 reviews68 followers
July 23, 2025
aku membaca cetakan keduanya, sayang belum ada di goodreads.

buat kalian yang ingin tahu apa yang terjadi pada Mei'98 dengan pendekatan tidak terlalu ekstrem, blak2an, atau ekplisit mungkin buku ini cocok untukmu. menariknya lagi cerita ini dilengkapi oleh beragam POV dari setiap tokoh yang muncul di ceritanya, yang porsinya dibagi berdasarkan 12 babnya.

sayangnya bagiku cerita ini belum cukup inklusif karena banyak bahasa jawa yang digunakan tanpa dilengkapi catatan kaki, sehingga rawan mengakibatkan pembaca di luar jawa atau tidak begitu mengerti bahasa jawa utamanya slank word-nya akan rancu memahami konteks pada beberapa kalimat di cerita ini.

belum lagi saya masih menemui banyak saltik (salah ketik) yang cukup mengganggu, ada beberapa bagian penceritaan yang menurut saya bisa dipersingkat atau tidak perlu diceritakan sama sekali karena membuat cerita terkesan bertele-tele, dan poin yang menurut saya masih menggunakan prespektif yang konservatif.

tapi, sekali lagi dalam hal kreatifitas dan pendekatan sejarah Mei'98 buku ini pas buat kamu yang baru mulai mencari tahu tanpa ingin ada hal yang mentrigger kamu.
Profile Image for Dhifa ☾.
71 reviews17 followers
May 12, 2021
2/5⭐

Penasaran karena judulnya, dan berekspektasi kalau tragedi mei 1998 bakal diceritain secara detail, lengkap dan memuaskan. Ternyata?

1. Penggambaran tragedi lumayan...
2. Ceritanya kemana-mana. Mau menjelaskan 1 hal malah melebar kesana kemari. Sampai saya skip ke bagian yg penting.
3. Banyak typo yg mengganggu.
4. Bukan hanya salah penulisan, tapi salah istilah juga. Seperti ketika asupan cairan di tubuh Humaira hanya 20% itu disebut sebagai hidrasi yg amat parah. Padahal seharusnya dehidrasi.
5. Gaya penulisannya not my cup of ☕
6. Kenapa tiba2 Bambang Priyambodo gantung diri dengan ikat pinggang? Kenapa? Takut ditangkap polisi? Mentalnya se tempe itu? Menurut saya masalah yg ditimbulkan si Bambang ga sampai membuat org berpikir untuk bunuh diri begitu loh.

Selebihnya saya prihatin dan menaruh simpati yg sedalam-dalamnya terhadap korban pemerkosaan tragedi mei 1998. Saya minta maaf karena mereka mengalami hal tidak manusiawi tersebut. Semoga korban dan keturunannya selalu diberi perlindungan dan rahmat dari Tuhan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for sesamesyrup.
58 reviews
June 1, 2025
⭐3,5/5

Sesuai judulnya, novel ini berkisah mengenai tragedi pasca reformasi '98 yang diceritakan dari POV sang arwah korban pemerkosaan dan beberapa orang yang berkaitan dengan si arwah. Fokus permasalahan pada novel ini ada pada pencarian identitas dan keberadaan si arwah oleh anak perempuan yang dilahirkannya 16 tahun lalu yang akhirnya menuntun pada latar belakang dan kisah pahit masa lalu yang dialami si arwah.

Berdasarkan pengalaman membaca novel ini dan ulasan-ulasan dari pembaca lain, gaya kepenulisan dalam novel ini memang terbilang nyentrik atau nyeleneh yang bagi sebagian pembaca cukup mengganggu. Selain itu, masih banyak kesalahan penulisan (typo) yang bertebaran dan beberapa plot yang terasa kurang masuk akal. Akan tetapi di luar hal itu, topik yang ingin disampaikan oleh penulis benar-benar menarik seakan mengajak para pembaca untuk memanggil kembali ingatan mengenai kejadian berdarah tersebut yang benar-benar pernah terjadi di Indonesia kala itu dan menjadi luka yang tidak akan pernah sembuh bagi para korban dan keluarga korban dari Peristiwa 98.
3 reviews
May 1, 2026
Pertama-tama, saya mau mengapresiasi kepada Bu Naning Pranoto atas keberaniannya membahas Tragedi Pemerkosaan Mei '98 ini ke dalam bentuk cerita fiksi.

Dalam buku ini, secara garis besar menceritakan kisah yang dialami Humaira, baik semasa dia hidup sampai menjadi Arwah. Oh ya di dalamnya tak hanya mengambil satu sudut pandang saja, tetapi saya rasa semua karakter dalam buku ini diberikan sudut pandang versinya sendiri.

Secara plot lumayanlah ya, cukup mengalir. Tapi entahlah, ku masih belum merasa puas saja dan masi memunculkan pertanyaan (maaf sedikit spoiler) terutama mengenai si Lexy ini yang tiba-tiba ditemuin bunuh diri? hah? kok bisa?... tp secara plot, penyelesaiannya cukup baik. Cuma, ada beberapa typo yg ku temuin dan peletakan tanda baca jg yang ga sesuai/kurang. Ada pula, kata bahasa asing dan bahasa daerah (Jawa sepertinya) yang ditulis begitu saja tanpa arti atau pun makna/maksud dari pernyataan itu, mengingat ga semua pembaca mengerti maksudnya. Udh ku ulas lebih lengkap di feed ig hehew
52 reviews7 followers
October 15, 2022
Cerita kelam dikemas dengan kalimat indah serta penuh puji syukur kepada Tuhan. Diantara penderitaan, manusia, bahkan arwah selalu saja memanjatkan syukur atas kemurahan hati Sang Pencipta. Betapa buku ini sarat akan duka, namun mampu menghangatkan hati.

Luk-Luk berproses menjadi perempuan tegas namun menjunjung adab, dibersarkan oleh didikan dengan kasih sayang meski bukan dari ibu kandungnya. Benang merah masih mengikat jiwa nya dan sang ibu, bahkan meski terlahir dari suatu kejadian tidak baik, wajah Luk-Luk hanya mengikuti ibunya.

"Jantungku berdebar-debar melihat sosok anakku yang memang mirip sekali denganku. Sosok dan wajahnya plek denganku. Kami layak disebut anak kembar? Atau anakku itu adalah fotokopi sosok dan wajahku? Darah para — pun tak seguratpun terekspresi pada wajah anakku."
Profile Image for R!Ri.
6 reviews
October 16, 2025
Langsung tertarik buat baca buku ini karena judul dan cover nya. Awalan baca, masih ngerasa oke sama alurnya.Cuma sayangnya cara pengemasan ceritanya masih kurang. Makin banyak halaman yang di baca, makin bingungin. Plot nya berantakan, terlalu banyak kejadian yang penyajiannya menurut aku gak pas, gak masuk akal terlalu absurd. Nasib setiap tokoh nya terkesan template. Konflik cerita nya juga enggak tersampaikan dengan tepat. Harusnya kejadian kelam yang menimpa Humaira bisa bikin nangis kalo pemilihan diksinya tepat dan gak terkesan sat set sat set. Konflik yang dihadepin sama Lukluk juga kurang cara penyelesaiannya (lagi-lagi terkesan buru-buru). Terus aku ngerasa setiap tokoh yang ada, kaya gak punya pendirian T_____T huft ada banyak kata atau peneletakan tanda baca yang salah juga alias typo, jadi bikin agak kurang enak pas baca.
2 reviews
June 30, 2026
Buku ini memiliki permainan bahasa yang kaya, mungkin juga menjadi ciri khas darinya. Tak ayal, mereka membuat saya sering mengernyitkan dahi karena benar-benar baru dengan beberapa rangkaian katanya. Namun, alurnya sepertinya cukup singkat, hal ini karena pendalaman setiap karakternya, bahkan untuk karakter pendukungnya yang sebenarnya tidak begitu diperlukan.

Saya mengharapkan perjalanan alur yang lebih panjang. Apalagi setelah membaca sinopsis tentang pencarian Ibu kandung, yang saya pikir akan lebih kompleks.

Adapun beberapa alur yang kurang dijelaskan lebih lanjut, padahal sebenarnya diperlukan. Seperti adegan seorang karakter yang jatuh cinta. Dasar atau alasan yang melandasi perasaan sang karakter kurang begitu dalam, seolah tiba-tiba tanpa eksplorasi lebih dalam, sang karakter tiba-tiba saja langsung jatuh cinta.
Profile Image for Ikbal  Fakula.
299 reviews4 followers
May 22, 2026
Setelah membaca 3 bab pertama dalam buku ini, saya memutuskan untuk dnf aja. Beberapa alasannya:

1. Gaya berbahasa yang terasa ga pada tempatnya. Terlalu gen z banget padahal tema yang diangkat 1998. Sebenarnya ga masalah sama sekali, tapi agak aneh bacanya menurut saya.
2. Beberaa plot hole dan scene cerita yang terlalu dipaksakan.
3. Arwah yang baru meninggal ketemu arwah senior dan respon arwah baru ini ya udah lempem menerima aja. Maksud saya, ga kaget gitu? Minimal takut di awal ga si?
4. Perjalanan Luk Luk yang menurut saya terlalu mudah.
5. Luk Luk yang terlalu cengeng (personally si)

Tapi cover dan blurb nya bagus banget. Ekspektasi tinggi saya jujur aja tinggi setelah baca blurb nya. Ya mau gimana lagi.
Profile Image for Delasyahma.
242 reviews122 followers
April 26, 2019
Apa yang kalian pikirkan pertama kali setelah melihat judul dan cover buku ini?
Horor dan juga menarik. Itu kira-kira dua kata yang ada dipikiran saya ketika melihat buku ini untuk pertama kali. Blurb buku ini pun sangat menarik dan membuatku merinding ketika membacanya.
itulah hal yang membuat saya yakin untuk membaca buku ini.

Buku ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Humaira, yang merupakan gadis desa yang ingin mencoba peruntungan nasibnya dengan bekerja di Ibu Kota Jakarta yang ternyata diberikan jalan yang baik melalui sahabatnya yang sudah lebih dulu bekerja di Jakarta. Saat itu tahun 1998, tahun yang nahas bagi Humaira dan teman-teman perempuannya yang lain. Tempat dia bekerja diserang segerombolan orang yang mengamuk dan menjarah barang-barang tempat dia bekerja. Humaira merupakan salah satu dari beberapa temannya yang diperkosa. Luk-Luk anak yang lahir dari hasil pemerkosaan itu tumbuh menjadi anak yang baik dan pintar, tapi, ketika dia mengetahui jatidirinya, hatinya hancur, dan dia pergi dari rumahnya, mencari Humaira;Ibu kandungnya.

Menurutku buku ini cukup adil menceritakan bagian masalalu tokoh dan menghasilkan emosional yang rumit di masa depan. Terutama tentang bagaimana tokoh Luk-Luk menerima masalalunya sebagai anak hasil perkosaan. Saya sebagai pembaca dibuat merinding dan juga takut karena cerita dalam buku ini.

Walaupun, ada bagian yang bisa dibilang agak aneh, aneh karena cara bercerita penulis yang cukup nyeleneh, dan gaya bahasa yang bikin saya malas lanjut baca di awal-awal, entah tujuannya apa, entah membuat karakter hantu itu tidak menjadi seram atau ingin mencairkan suasana cerita yang dirasa cukup kelam. Tapi menurutku itu tidak berhasil dan malah membuat POV tokoh hantu tsb terasa aneh dan agak menyebalkan untuk dibaca. Dan itu hal mengganggu buat saya.

Tapi, setelah saya mulai berusaha masuk kedalam cerita, dan saya mulai menemukan POV-POV lain yang lebih menarik, saya seakan menemukan feel ceritanya sendiri dan membuat saya ingin membaca buku ini hingga selesai. Semua tokoh bahkan terasa penting dalam buku.

Saya cukup suka cerita dalam buku ini, walaupun tidak sesuai dengan ekspetasi saya ketika pertama kali melihat judul,cover dan blurb buku ini. Tapi buku ini cukup kelam dan mampu membangun kengerian dihati para pembaca.

Rate :3/5 bintang

Profile Image for d(´・(oo)・`)b.
49 reviews1 follower
May 28, 2022
Baca ini krn dari judulnya menarik. Dari plotnya sih lumayan, tentang tragedi pemerkosaan dan kerusuhan tahun 1998. Diceritakan dari bbrp POV yg berbeda dan salah satunya adlh arwah yg bercerita dari dlm kuburnya. Tapi gaya penulisannya aku kurang suka, emosinya gak terlalu dapet walaupun ceritanya sedih. Terus banyak typo yg lumayan mengganggu krn saking banyaknya.

Kukira kejadian 1998 akan diceritakan secara detail, tapi ternyata hanya seputar tragedi pemerk0saan dan puncak kerusuhannya aja, yaitu tgl 13 Mei ketika terjadi penjarahan besar2an di Jakarta.

Rating: 3/5
Profile Image for Dee.
28 reviews1 follower
May 5, 2023
Aku suka sama ide cerita ini yg mana membahas secuil peristiwa mei 1998 dari POV korban. Tapi, ada beberapa hal dalam buku ini yg ga aku suka.
Pertama, too much penggunaan bahasa "gaul" di pov si arwah. Kayak, jadi kurang serius aja gitu. Dan banyak typo bertebaran sampai aku beneran kesel😭
Trs, makin ke belakang, alur ceritanya makin ga jelas. Dibuku ini ga cuma dari pov humaira tapi ada jg pov dari beberapa karakter. Dan menurutku kayak harusnya cukup di POV humaira, luk luk sama bundanya luk luk aja udh cukup.
Profile Image for nal.
17 reviews
January 23, 2025
Suka sekali dengan gaya penulisannya yang memadukan sudut pandang berbagai pihak. Meskipun aku juga menyayangkan kenapa kejadian dari sudut pandang Humaira tidak terlalu diceritakan dengan detail, tetapi apabila direfleksikan, mungkin Humaira sendiri belum bisa mencernanya, pikirku semua traumanya terjadi in a hurry and blurry.
Sewaktu membacanya, sedih dan sulit sekali membayangkan bahwa kejadian yang dialami Humaira tidak hanya terjadi pada Humaira. Tetapi pada ratusan atau bahkan ribuan perempuan lainnya kala itu.
Profile Image for Aprianto Nugraha.
100 reviews2 followers
November 12, 2019
Gimana yah, banyak typo di buku nya...

Karna gaya penulisan nya kaya anak muda; pake nyokap dan helloouw, jadi nya kaya ringan aja bacanya. Walaupun mayoritas bagian emang berat, tapi rasanya kok ga cocok kalo pake kata2 begitu. Atau mungkin ini preferensi pribadi aja sih.

Tapi, Luk Luk jadi anak gw aja dah, gw juga mau punya anak kaya gitu. Hahahaha...
Profile Image for dilla.
68 reviews
September 16, 2022
Diceritakan dengan banyak sudut pandang setiap tokoh. Buku ini tidak terlalu menceritakan tentang kejadian '98. Kejadian '98 cuma ada di tanggal 13-14 Mei saja yang berfokus di kejadian penjarahan dan pemerkosaan.

Cerita ini berfokus pada kisah masalalu Humaira sebagian besar. Keseluruhan ceritanya menarik.
Profile Image for dennisaden28.
51 reviews
March 23, 2026
Tiap pov pemain utamanya diceritain detailnya. Lalu latar belakangnya jg oke sih.

Tapi sayang bgt, kyknya editor bukunya kurang detail deh. Byk typo penulisan nama Ibu Inten jadi Ibu Intan, lalu seharusnya alur pembahasan lg bahas Luk Luk, di situ ada salah sebut nama jd Humaira. Pembahasan plot dari bab ke bab jg agak lgsg loncat-loncat, ga halus alurnya. Dan, byk bahasa yg digunakan di sini.
15 reviews
December 7, 2020
Awalnya penasaran dengan bagaimana penulis menggambarkan arwah bercerita mengenai ketidakadilan yang dialami. Sehingga, aku menaruh sedikit espektasi terhadap buku ini. Hanya saja, aku kurang menikmati dengan cara bercerita penulis yang nyeleneh. Hal itu membuatku sulit merasakan emosi pov arwah
Profile Image for Luz.
1,027 reviews13 followers
December 5, 2021
Di sini diceritakan Humaira di alam kubur menceritakan siapa dirinya dan amarahnya kepada para lelaki terkutuk yang memerkosanya di tengah kerusuhan. Tempat curhatnya adalah pohon bunga Kamboja yang tumbuh di atas kuburannya. Sebenarnya novel ini menarik.Sayang aku kurang nyaman membacanya karena pengarang mencampur aduk bahasa Jawa Sunda dan Indonesia dan banyaknya typo dalam novel ini. 2,5/5 ⭐
Displaying 1 - 30 of 43 reviews