Nonversation, sebuah novel yang menerjemahkan kata kehilangan dari perspektif seorang sahabat, pengagum, anak, dan orangtua. Bercerita tentang mereka yang sederhana namun berarti segalanya, tentang mereka yang punya kesempatan namun tak punya keberanian, dan tentang mereka yang dibutuhkan namun diam-diam juga membutuhkan.
Nonversation adalah cerita sederhana. Sederhana yang menjadi segalanya.
Selesaiiiii! Novel ini mungkin bukan salah satu favoritku. Tapi aku cukup suka cara berceritanya, lucu, manis, hangat, nyesek dan yang pasti banyak kutipan-kutipan bagus yang nggak pernah ketinggalan 🥰. Ada beberapa hal yang aku dapatkan dari novel ini yaitu, Mungkin itu kali pertama gue belajar, kalau nggak semua orang yang gue lihat dengan mata sama persis dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Gue belajar untuk nggak merasa mengenal seseorang hanya karena apa dia, tapi siapa dia (Hal 28). . Tentang mereka yang mengucapkan jalanin aja. Mereka nggak punya pilihan lain selain hidup dengan apa yang mereka pilih. Mungkin mereka pernah punya pilihan lain, tapi mereka gagal dalam memilih. Itu hukumannya. (Hal 324). . “Tempat ini bikin gue ngerasa damai, bukan karena sepi dan nggak ada siapa-siapa. Tapi tempat ini bikin gue sadar kalau Tuhan emang adil.”— “Langit itu indah, tapi dia kesepian dan nggak seramai bumi. Sebaliknya. Bumi itu nggak pernah kesepian dan selalu ramai. Tapi dia nggak seindah langit.” (Hal 316). . “When somenone love you, they don’t have to say it. You can tell by the way they treat you.” (Hal 196). . Entah ini apa perasaanku aja kali yaa.. aku merasa Theala ini sedikit mirip Claire dibeberapa bagian. Dan aku kurang begitu suka 😣. Yang paling aku suka disini tu Ardan 😍. Semoga kalau ada cerita Ardan nanti sesuai ekspektasiku. Pokoknya baca deh novel ini banyak yang bisa kita dapatin dari novel ini seperti kutipan-kutipan yang ada di atas 🤩. Jangan lupa bahagia hari ini seperti kata Theala. Akhir kata mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan 🙏🏼😊.
Sejujurnya gw juga ga tau kenapa gw beli buku ini... Karena gw nggak tinggal di Indo, jadi tiap kali pulang kampung gw selalu borong buku di Gramedia dan bisa berjam-jam di toko buku ngeliatin buku-buku menarik yg bisa dibawa ke Belanda. Buku ini terlihat menarik karena judulnya dan covernya. Masalah besar yang ada di publishing industry di Indonesia adalah buku-buku mereka hampir nggak pernah ada sinopsis di belakang, kebanyakan cuma ada satu atau dua kalimat yang lyrical dan super duper vague. Mungkin karena itu, orang jadi beli tanpa tau apa2 tentang bukunya karena mungkin kalo ada sinopsisnya orang gak akan beli... karena sejujurnya premise dari buku ini udah nggak menarik banget bagi gw yg jarang banget suka buku romance.
Tahun ini gw udh baca 3 buku Indo romance dan semuanya gw rate 1-2 bintang... dan kayaknya udah saatnya gw menyadari bahwa ini beneran bukan genre gw dan semoga di masa depan, kalo lagi liat2 Gramed, jangan coba lagi beli buku hanya dari covernya.
Pertama-tama, writing style. Sebenernya gw suka gaya tulis si Valerie ini. Lebih puitis dan bagus daripada beberapa buku contemporary Indonesia yang lain, yang kadang lebih kerasa casual.
Premise nya adalah romance cinta segitiga dengan seorang cowok yang temenan deket sama cewek, dia sayang sama dia tapi nggak mau menyatakan cintanya karena dia tau si cewek ini udah cinta sama cowok lain yang juga temen dia. Kalo emang menurut kalian itu plot yang menarik buat kalian, please go ahead and read this book, but it just was soooo cheesy and boring and tedious for me!
Gw ga suka banget trope-trope typical friendzone, friends to lovers, yang awalnya sebenernya lumayan cute tapi lama-lama jadi boring dan terlalu long-drawn.
Hal lain yang bikin gw kesel banget dan ini juga banyak muncul di buku Indo lain adalah kadang sang penulis suka masukin phrase-phrase bahasa Inggirs. Sebenernya gw ga masalah, kalo emang membuat nuansa dan perasaan di ceritanya lebih kerasa, tp masalah besarnya adalah grammar dari kalimat-kalimatnya salah?? Apa gak ada editor di seluruh Gramedia yang bisa bahasa Inggris yang bener? Karena kalo gak ada gw mau deh bantuin mereka biar orang Indonesia bisa at least belajar bahasa Inggris yang lebih bagus. Sori banget, tp itu ngeselin...
Contoh kalimat yang salah: 1) Guys are like birds. They are making a nest to stay, then immigrate to create another nest if they are bored with the previous one. Technically gak salah, tp penggunaan -ing di sini gak cocok dan bikin kalimatnya kedengeran aneh. Mending diubah jadi: Guys are like birds. They make a nest to stay, then immigrate to make another nest once they get bored with the previous one. Karena itu fakta dan bukan sesuatu yang sedang mereka lakuin. 2) "Don't you think he actually cares?" Sometimes, I think he does. But most of times, I think he doesn't. Lagi lagi ga enak banget kedengerannya karena nobody says this in real life. Kalo mau dibenerin, bisa dijadikan: Sometimes, I think he does care. But most of hte time, I don't think he does.
Hal yang gw suka dari buku ini adalah tema-tema seperti keluarga, dan rasanya jatuh cinta, perasaan sayang sama seseorang not just romantically but also platonically and being there for someone. But everything else was just too boring, too cheesy, and the English annoyed me so much.
Tidak bermaksud membandingkan, hanya ingin memberi gambaran tentang Nonversation.
Pernah baca novelnya Winna Efendi? Ini adalah novel pertama saya dari Valerie Patkar dan saya langsung sadar bahwa gaya menulis mereka mirip.
Pernah baca Melbourne: Rewind-nya Winna Efendi? Diksinya paling mirip sama yang itu. Enak dibaca. Ga terlalu kaku, tapi ga terlalu santai. Pas.
Pernah baca Refrain-nya Winna Efendi? Nah, Nonversation ini versi lebih dalemnya, ditambah konflik kekeluargaan ala... Jingga Series-nya Esti Kinasih kali, ya, meskipun ga sama persis.
Pernah baca Antologi Rasa-nya Ika Natassa? Transisi antar POV-nya kurang lebih kaya gitu.
Pernah baca novelnya Prisca Primasari? Meskipun dalam konteks yang berbeda, nuansa senduny sama.
Pernah baca novelnya Stephanie Zen yang genre Christian Romance? Monolog sama value-nya kurang lebih seperti itu.
Intinya, novel ini adalah kombinasi dari apa yang saya suka dari beberapa penulis Indonesia favorit saya. 4,5 of 5 stars. Sederhana, tapi sebenernya nggak sesederhana itu. Mungkin saya ngerasa relate makanya bisa suka bgt. Kadang aja sampe bingung, ini beneran POV Theala? Ini Dirga beneran ngedeskripsiin Theala? Bukan saya?
Untuk sebagian orang, menghadapi orang yang sulit berkomunikasi itu annoying, makanya mungkin ada yang nggak cocok sama novel ini. Tapi, sebagai orang yang agak sulit mengekspresikan diri dan berkomunikasi, saya jadi banyak berpikir setelah membaca novel ini, makanya novel ini punya kesan yang cukup dalam untuk saya. Saya bahkan smp capek sendiri setelah menamatkan novel ini. Berkali-kali ambil jeda dulu, sekedar untuk tarik napas, karena saya merasa... ditelanjangi?
Pada akhirnya, semua review akan bersifat subyektif, karena tergantung selera masing-masing. Tapi serius, Nonversation adalah salah satu novel terfavorit yang saya baca di tahun 2020. Well done, Vale!
Sebenernya saya suka-suka aja sama novel ini, cuma saya suka dibuat bingung sama alurnya. Mungkin karna ada tiga sudut pandang kali ya jadinya perpindahan scene-nya kurang mulus dan paragrafnya jadi rada berantakan. Terus juga, alurnya kan sedikit beda dari versi wattpad dan kadang tuh versi novelnya jadi bikin bingung.
Kayak contohnya di halaman 122 itu Trian ngajak Theala buat makan Soto Tangkar lagi. Berarti dia udah pernah makan soto itu bareng Thea kan? Tapi di halaman awalnya nggak ada adegan di mana mereka makan soto bareng dan di halaman 141 mereka baru banget makan soto tangkar itu buat pertama kalinya. Sedangkan di versi wattpadnya itu nggak gitu alurnya dan malah lebih bisa dimengerti.
Terus juga ending-nya kayak open ending gitu cuma ya dengan quote dari penulisnya saya udah bisa menyimpulkan gimana akhirnya hubungan mereka. Terlepas dari itu semua, saya suka karakter-karakternya dan chemistry mereka. Terus saya juga suka penggambaran dunia perkuliahannya dan kisah friendzone mereka.
Mungkin efek habis makan permen jahe tuh lebih pas habis baca buku ini. Levelnya lebih tinggi dari GO dan indeed bikin kepala panas.
Kisah dari hubungan rumit antara Dirga dan Theala. Dirga suka dengan Theala, tapi sayangnya bagi Thea, kesungguhan Dirga sebagai seorang lelaki (bukan sahabat) nggak cukup bikin dia mau menerimanya atau menaikkan levelnya lebih dari sahabat. Dirga hanya sebatas kesayangan, teman yang selalu ada di saat duka maupun suka. Hubungan ini terus berlanjut sampai Theala akhirnya menjadi milik seseorang dan lagi-lagi Dirga nggak bisa melakukan apa pun. Selama Theala bahagia, Dirga juga bahagia.
Menurutku? Dirga bodoh. Yes, nggak perlu ditutupi lagi, Dirga emang pengecut karena nggak bisa bilang suka sama Theala. Memang, nggak mudah bilang suka tanpa merusak hubungan mereka sebelumnya, tapi ... ah, kalau diingat lagi bikin emosi. Sebenernya alasan Thea hati-hati banget masalah perasaan tuh bisa dipahami. Dia terluka, kan, jadi ya wajar dia kayak was-was gitu.
Cerita ini semacam mengejar ekor sendiri alias kapan kelarnya ini lingkaran? Gemes banget kepengin temuin mereka berdua terus bilang "KALIAN PACARAN DEH CEPETAN!" Pembaca dibikin rusuh sendiri, padahal yang lagi ngalamin kan Dirga sama Thea, hiks.
Ada bagian yang bikin aku nangis sampe malu banget karena tempatnya agak terbuka. Dan itu gara-gara Dirga. Aku benci banget sama dia. Alasanku nangis bukan karena kasihan, lebih ke marah sama Dirga. Yes, dia pantes dapet itu. I hate you, Dirga! Sama karakter satunya lagi (nggak bakal kusebut namanya karena level nyebelinnya bertubi-tubi.
Habis baca ini habis energi dan emosiku. Ini nggak mengungkapkan semua kesan yang aku baca karena emang udah nggak sanggup. Next, mau ambil jeda sebelum lanjut lihat adegan kepala ngejar ekor lagi.
Setiap halamannya seakan-akan penuh renungan. Setiap karakter selalu punya life lessons quotable yang sebenarnya bagus, ngena, dan nampar. Cuman, sayangnya, renungan-renungan life lessons itu muncul beruntun. Belum sempat saya mencerna yang dipikirkan Dirga, POV berubah dan giliran Thea yang curhat. Perpindahan multiple POV-nya terasa terlalu cepat, sampai-sampai saya sendiri ngos-ngosan bacanya. Nggak ada ruang untuk bernapas dulu dan semua renungan itu nggak sempat mengendap di kepala saya saking banyak dan berturut-turutnya mereka muncul. Mestinya dikasih selingan dulu, paragraf yang super panjang kek yang hanya menceritakan sesuatu tanpa ada perasaan di dalamnya. Tapi buku setebal 348 halaman ini setiap halamannya bener-bener berisi perasaan doang. So much feelings yang kompleks dan intens. Kalo nggak siap menerima itu semua, nggak akan mampu baca.
Di sisi lain, perpindahan multiple POV di novel ini juga jadi sesuatu yang menarik. Setiap karakter punya kegelisahan dan renungannya sendiri. "Suara" mereka mungkin nggak terlalu jelas berbeda (saat saya coba ngintip blog penulisnya, ternyata "suara" mereka adalah suara si penulis) tapi hal-hal yang mereka pikirkan, sukai, benci, dan khawatirkan sangat sangat berbeda sehingga memberikan kesan yang distinct untuk masing-masing tokoh.
Nama-nama karakternya tipikal Wattpad banget, ya? Mana sering banget disebut nama panjangnya gitu, padahal ujung-ujungnya panggilannya Theala ya Ela doang ahaha 😅 Tapi saya udah puas dengan adanya konstruksi yang jelas, yang membuat cerita ini punya awal, tengah, dan akhir lengkap dengan klimaks dan resolusi untuk setiap konflik besarnya. Daaan ending-nya bikin lega. Agak maksa sih memunculkan tokoh baru secara tiba-tiba di akhir cerita, tapi yaudahlah yang penting Dirga nggak bego lagi aja.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sigh. Just a bunch of people with low communication skill. Well, kalau saya deskripsiin buku ini dalam satu kalimat. Karena memang baca Nonversation kayak baca Claires dengan 3 karakter mirip Claire, yang nggak mampu mengomunikasikan perasaannya. Baca Claires aja bikin narik napas berkali-kali. Apalagi Nonversation. And it's not a good thing for me. Pertama itu. Kedua, karena mungkin temanya friendzone (cukup pasaran), dan gaya penulisannya yang seakan kekeuh banget pengen bikin pembaca baper, Nonversation kayak kehilangan sparks. Kehilangan keseruan. Nggak ada perasaan excited buat saya waktu baca. Ketiga, penulis lagi-lagi terlalu kekeuh buat ngasih tau pembaca kalau "Dirga itu cinta Theala", meskipun saya yakin pembaca juga tau dan yakin kalau Dirga cinta Theala. Kayaknya dari awal sampai akhir itu aja intinya, dan diulang-ulang. Saya pun akhirnya bosan. Dan sempat berhenti baca selama beberapa hari. Mungkin itu poin-poin yang membuat saya cuma ngasih 2 bintang. 2 bintang untuk cover manis dan cerita yang mengalir.
Aku nggak mau bilang Nonversation ini bagus banget, tapi aku bisa bilang buku ini berkesan karena buku ini ngingetin aku sama masa-masa kejayaan genre teenlit/young adult Indonesia jaman Windry Ramadhina dan Orizuka.
Aku nggak mau banding-bandingin sama karya-karya penulis yang udah veteran tadi karena jamannya udah beda dan jatuhnya bakalan biased banget, tapi aku suka sama gimana ceritanya Dirga, Theala, dan Trian ini kerasa rapi. Konstruksinya jelas, nggak terlalu banyak dialog yang nggak perlu (mengingat ini buku mayan dialog-driven), dan aku memang suka cerita yang feelings-driven alias bergerak berdasarkan perasaan karakter-karakternya. Jadi aku terima aja diterpa feelings tiga orang yang kuat banget nyampur jadi satu kayak badai topan ini. Terima. Tapi sambil setengah nangis dan setengah ketawa.
Hal lain yang aku suka adalah, aku merasa authornya kayaknya pengen semua eventnya tuh menceritakan dan mengajarkan sesuatu. Paling nggak bikin yang baca mikir atau merenung deh. Kepikiran aja beliau semua event ada lesson-nya, semedi berapa lama coba? :))) Cuman mungkin karena event-nya buanyak banget lesson-nya juga jadi banyak, dan dengan perpindahan antar point of view karakter yang cepet banget banyak lesson itu kelewat karena aku lebih fokus mau tau apa yang kejadian selanjutnya.
Soal tiga karakter utama... they do not immediately popped up into my mind when I think about "strong characters", tapi aku cukup thankful dengan drive dan goal mereka yang masih bisa dibedain satu sama lain. Beberapa karakter lain masih suka agak nyaru satu sama lain, dan beberapa dari mereka punya atribut yang masih kerasa kayak hanya "tempelan" yang terlalu bikin "hah??? Sejak kapan dia begitu???? Gak ada latar belakangnya?????". Kayak Keira, contohnya.
All in all, yang aku suka dari Nonversation adalah it gave me hope. Karena dengan segala kekurangannya, Nonversation buatku udah lumayan bikin aku mengurangi keskeptisanku sama tulisan jebolan Wattpad. Aku jadi punya harapan baru kalau nggak semua tulisan dengan embel-embel dibaca jutaan kali yang terbit nggak semuanya terbit prematur. Aku bisa liat adek-adek di Wattpad baca buku ini dan mulai ngerasa pengen belajar nulis dan punya standar kayak Valerie Patkar, dan itu bikin aku senang.
3.5/5 stars, tapi 0.5 aku kasih bonus buat editornya yang aku yakin juga keren!
Saya setuju dengan salah satu review yang menyebutkan bahwa penulis trying hard menggurui pembaca. Maksud saya sah-sah saja jika ingin pembaca mendapatkan lesson dari buku yang kita tulis. Toh pembaca juga menginginkan itu. Hanya saja, di buku ini "lesson" yang ditebar di buku ini terlalu banyak dan rasanya hanya tempelan. Untuk dapat merasakan dan menerima lesson dari sebuah buku itu perlu yang namanya development, konfliknya harus di-build sedemikian rupa agar tidak terkesan tempelan. Nah di buku ini, saya tidak merasakan itu. Banyak terjadi scene, tiba-tiba ada selipan lesson, terus tiba-tiba alurnya pindah lagi, dan pola tersebut diulang lagi. Mungkin itu yang membuat paragrafnya jadi berantakan. Lesson yang bisa saya rasakan cuma satu. Yaitu: harus jujur mengutarakan isi hati pada orang yang kita sayang sebelum terlambat. Dan lesson seperti itu sudah pasaran, sudah sering ditemui di novel-novel dari beberapa tahun sebelumnya.
Saya lebih menikmati Claires daripada Nonversation. Masalah dan lessonnya jauh lebih fokus. Alurnya juga lebih mulus.
seneng bgt nemu buku ini karena udah lama ngga baca trope bestfriend to lovers (?) TAPI makin dibaca ternyata this is way more than that trope.
kak Valerie selalu berhasil menulis sesuatu yang enak dibaca, WELL WRITTEN, turning page, dan complicated tp NGGA BIKIN PUSING KEPALA.
semua karakter di buku kak Valerie tuh 🔛🔝 apalagi karakter female leadnya yg THOUGH GIRL kayak theala ini.
aku banyak rasain beragam emosi waktu baca. dua kali nangis juga hehe tapi overall aku suka bacanya krn semuanya terasa PAS. ngga ada yang bikin cringe, boring, ick or something like that cuma kesel ke trian aja 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻 walaupun dirga jg a walking red flag GRRRRR ya semua punya porsi kekurangan masing masing dan aku ngga sabar untuk lanjut baca Loversation.
* * *
”Semua orang akan pandai saat berbicara tentang yang terbaik untuk orang lain tapi bodoh untuk membuang apa yang terburuk dari mereka sendiri.”
”Getting hurt is not a choice. It's a random street you need to pass by before arriving to your goal. So just find the right person you want to go with, that you don't have to get hurt alone.”
”At the end, we live in our own path. We don't live to satisfy people. We only live to satisfy ourselves.”
Nonversation merupakan buku kedua yang ditulis oleh Valerie Patkar. Hmm dibanding para penerusnya, ini cukup jauh sih:") yah bs diartikan jg bahwa setiap tulisan Valerie tuh berkembang jadi semakin bagus. 👏👏 overall ⭐ 3.5
Trope friends to lover, triangle love. Ttg Theala dan Dirga yg "sahabatan" dan lika-liku persahabatan mereka.
Tapi yg gue suka sih ceritanya gak seklasik itu ya (imo). Valerie jg ada masukin unsur keluarga, bagaimana memahami & mendengarkan orang lain, bagaimana mengenali keinginan diri sendiri dan mencoba memperjuangkannya.
Yang gue kurang suka hmmm antar babnya, agak... hehe kaya gabungan 2 kata yg menceritakan bab itu tp kaya gak ada meaningnya. Mis egone, egoism and gone. Menurut gue malah jadi membingungkan 😭🙏 sama penuturan bahasanya kayanya masih bs diimprove.
Mungkin krn sebelumnya udh baca karya lain ya jd rasanya agak jomplang. Saran, kl mau baca brrti berurutan aja dr yg paling awal ke paling baru biar berasa improvenya🙈💕
yg paling berkesan buat aku di buku ini bagian dinamika dlm tiap keluarganya. walaupun bukan jd fokus utama ya tp aku sukaa. trs jg jalan cerita yg cukup realistis dan relate di kehidupan nyata. tp jujur dirga nih red flag bgt wkwkwk gue kesel. gmn dia memperlakukan cewe2 di sekitarnya dan gmn kata2 dia ke theala pas mereka mau pisah tuh gila jahat bgt lo dirga. yg cukup mengganggu buat aku di buku ini adalah jengjengjeng.... bagian 2 kata yg disatuin buat jd judul tiap babnya. itu kek hah apaan dah.... wkwkwk maaf
Haaah, baca Nonversation tuh kayak tarik napas, tahan, lepasin. Tahan napasnya lama banget bikin sesak tapi nggak apa apa karena akhirnya bisa lepasin juga.
Well, secara pribadi sih aku cukup menyukai tulisan Kak Valerie. Aku udah baca Nonversation di wattpad, lalu karena versi wattpad lumayan bikin aku suka sampe sempet nangis juga--lupa sih pas bagian mana--jadi aku memutuskan untuk berburu novelnya ke toko buku.
Sayangnya, buat ngelarin novelnya ternyata gak se-enjoy pas aku baca kisah Dirga-Theala-Trian ini di wattpad. Karena aku kerja, aku pikir saat liburan bisa menikmati membaca novel ini sambil santai, ternyata enggak. Aku berkali-kali mengalami stuck di beberapa bagian, lalu dengan sangat terpaksa aku nunda baca dan bakalan balik lagi buka novelnya hanya karena aku kepengin cepet-cepet ketemu sama ending-nya. Tapi sampai hari ini, ketika aku menulis review ini, aku sama sekali belum nyentuh ke bagian akhir. Hadeh.
Jujur, ekspektasiku tinggi banget sama novel ini. Aku nggak bilang novel ini jelek, tapi kalau disuruh milih, kayaknya aku lebih suka yang versi wattpad. And sorry, aku juga gak bisa ngerasain emosi apa-apa saat tau masalah Theala sama papanya, atau ketika Theala diselingkuhin Trian, bahkan saat mamanya Theala meninggal #plak (gapunya hati banget dah gue-_-)
Bagian yang aku suka dari novelnya cuma ... apa ya? Puisi yang menjadi pembuka tiap pergantian bab, mungkin?
Tapi yang paling aku suka yang ini:
Sahabatku bilang jangan jatuh cinta Aku bilang iya Iya maksudnya Jangan jatuh cinta Karena aku sudah merasa Tak enak rasanya
Huaaaa :v
Terakhir, 2.5 bintang aku kasih buat Nonversation. Dua bintang karena aku tetep suka sama gaya tulisan Kak Val. Daaan setengah bintang(?) lagi karena aku suka sama puisi di atas. Hehe. Keep writing, Kak Valerie!
Ini kedua kalinya aku baca karya kak Valerie, aku udah jatuh cinta sama gaya berceritanya. Ya gaya bercerita yang sangat menarik ini membuat aku bisa hanyut sama kisah Theala, Dirga dan Trian. Kisah cinta yang begitu rumit, karena terhalang oleh persahabatan. Ya inilah pembatas yang berada di Dirga dan Theala. Kisah ini tuh bisa dibilang paket komplit, ya ada lucuk, sedih dan baper bikin misuh-misuh banget. Apalagi tiap babnya selalu bikin penasaran akut. Aku suka sama tokohnya, loveable dan realistis. Tapi kesel juga sih sama Dirga! Serasa pengen uyel-uyel dia. Sama Trian juga sama, kesel. Jadi aku mau pelukin Theala aja huhu. Karakternya kuat dan konsisten. Memakai POV 1 dengan bergantian tokoh, aku diajak ngikutin perasaan mereka yang rollercoaster banget. Penulis pinter banget menceritakan tokohnya dengan baik. Bahasanya asik dan mengalir, suka sama background kuliahannya ini. Anak teknik banget 😍. Chemistrynya kusukaa banget, berasa banget feelnya. Konfliknya bukan hanya tentang romansa cinta, tapi ada konflik keluarga yang bikin mewek juga. Aku suka cara penulis mengeksekusi konfliknya, rapi dan apik. Endingnya, ini bikin aku cengo tapi puasss kok endingnya. Overall, aku sukaa banget ❤. Dalam novel ini kita bisa belajar tentang kejujuran dan nggak egois. Meskipun nanti berakhir gimana, yang penting jujur aja dulu. Dan juga hubungan sama orangtua, ya semarah-marahnya mereka sama kita. Mereka tetep sayang sama kita, mungkin emang itulah cara mereka ngasih tau rasa sayangnya.
Novel yang menceritakan tentang kisah dari Theala dan Dirga yang bersahabat tapi memiliki hubungan yang cukup rumit. Rumitnya hubungan mereka mirip dengan pernyataan orang-orang bahwa laki-laki dan perempuan tidak akan pernah bisa murni bersahabat tanpa ada rasa. Yaaa, disini salah satu dari mereka beneran jatuh cinta tapi tentunya memilih menjadi pengecut dan pecundang. Bedanya di novel ini bukan seperti kisah klise friendzone pada umumnya, tapi disini juga menceritakan tentang kerumitan yang timbul dari ulah mereka sendiri. Theala dan Dirga memperlihatkan bahwa mereka bahagia karena satu sama lain tetapi nggak ada yang sadar bahwa mereka juga bisa saling menyakiti. Udah gitu aja wkwk takut spoiler.
Intinya aku masih sangat enjoy membaca ini. Walaupun di novel ini memang gantung karena dilanjut ke Loversation yaa.
Aww aku minjem buku ini dari teman, saking leletnya baca sampai ditagih Mulu wkwk. Akhirnya bisa menyelesaikan reviewnya juga 😭
Nonversation menceritakan tentang Thea, Dirga, dan Trian tiga orang yang terikat oleh persahabatan tapi hati mereka mulai berbisik dengan cara yang rumit. Dirga si cowok supel, ramah, tapi suka menyembunyikan perasaannya sendiri. Dia jatuh hati sama Thea, tapi takut merusak persahabatan mereka. Thea si perempuan cuek, kadang dingin, karena luka batin masa lalu. Dia sulit mengekspresikan perasaannya, dan tanpa sadar mulai dekat dengan Trian. Terus ada trian si sosok yang hangat dan perhatian, hadir sebagai teman sekaligus orang yang Thea mulai punya rasa padanya.
Konflik muncul dari friendzone, perasaan yang tak tersampaikan, dan luka emosional yang masing-masing bawa. Ceritanya tentang momen kecil, pilihan sulit, dan bagaimana cinta bisa tiba tanpa diundang.
🌸 Perkembangan Karakter
Dirga awalnya diam dan ragu, tapi perlahan belajar bahwa kadang mengambil risiko untuk hati sendiri itu penting.
Thea dari perempuan yang menutup diri, mulai belajar membuka hati, menerima perasaan, dan memahami arti cinta dan persahabatan.
Trian meski perannya kadang terlihat “penyeimbang”, dia menunjukkan bahwa perhatian tulus bisa bikin orang berubah dan merasa aman.
Perkembangan karakter terasa realistik dan emosional, bikin aku bisa ikut merasakan dilema tiap tokohnya.
🌷Konflik & Klimaks
Konflik utamanya tuh perasaan cinta yang terpendam di tengah persahabatan, ditambah trauma masa lalu dan ketakutan akan kehilangan teman. Untuk Sub-konflik, hubungan keluarga, dinamika sosial, dan ketidakmampuan karakter untuk jujur sama diri sendiri. Terakhir Klimaks, pas Thea harus menghadapi perasaannya, dan Dirga juga harus memutuskan apakah dia akan mengungkapkan cinta atau menerima kenyataan friendzone. Momen ini bikin hati deg-degan dan gemas, karena setiap pilihan terasa nyata dan sulit.
🥀 Gaya Bahasa & Suasana Bahasa kak Valerie natural, ringan, tapi emosional. Dialognya terasa seperti percakapan nyata antara teman, bikin aku gampang relate. Humor ringan hadir pas yang dibutuhkan, jadi cerita gak berat terus tapi ada napasnya. Suasana novel ini hangat tapi getir, kadang manis, kadang nyesek karena “apa jadinya kalau cinta gak sesuai rencana?”😭
🕵🏻♂️Tema Besar
1. Friendzone & cinta tak terungkap, kadang persahabatan bisa jadi labirin perasaan yang rumit. 2. Kejujuran pada diri sendiri, harus berani menghadapi perasaan sendiri sebelum berarap orang lain mengerti. 3. Memaafkan dan melepaskan luka masa lalu mempengaruhi hubungan sekarang, dan belajar melepaskan itu penting.
💖 Kesan Pribadiku
Gemas sama Dirga yang gak berani ngomong. Kesal sama Thea yang kadang terlalu menutup diri. Tapi juga tersentuh sama momen-momen kecil, kayak obrolan random, kebiasaan unik mereka, atau perhatian Trian yang subtle tapi meaningful.
Nonversation itu rasanya kayak ngintip hati seseorang secara diam-diam, tapi kita ikut merasakan tiap emosi yang mereka sembunyikan. Dari awal, aku langsung terbawa sama vibe Theala, Dirga, dan Trian tiga orang yang seperti sahabat dekat aku sendiri, tapi tiap senyum, tatap, dan kata-kata mereka punya arti lebih dalam daripada yang terlihat.
Aku suka banget bagaimana kak Valerie Patkar bikin karakter-karakternya terasa hidup dan nyata. Ini buku kedua kak Valerie yg aku baca 😭
Dirga itu cowok yang ramah dan gampang akrab, tapi di balik senyumnya ada perasaan yang tersembunyi dan takut kehilangan teman. Thea, di sisi lain, dingin dan cuek, tapi hatinya penuh luka dan kerentanan, yang perlahan-lahan terlihat ketika dia mulai menghadapi perasaannya sendiri. Trian hadir sebagai penyeimbang hangat, perhatian, dan kadang bikin kita tersenyum karena cara dia menunjukkan kasih sayang yang subtle tapi meaningful.
Konfliknya terasa relatable banget, bukan cuma tentang cinta segitiga atau friendzone, tapi soal perasaan yang tak terucap, ketakutan untuk jujur, dan bagaimana kita bisa menyakiti orang yang kita sayangi tanpa sadar. Aku beberapa kali ngerasa deg-degan dan gemas karena karakter2 ini tahu perasaan mereka sendiri tapi takut mengungkapkannya, dan itu bikin ceritanya terasa hidup dan emosional.
Gaya bahasanya sederhana tapi menusuk hati dialognya natural, percakapan ringan terasa nyata, dan narasinya kadang bikin kita berhenti sejenak untuk merenung tentang pengalaman pribadi kita sendiri. Momen-momen kecil, kayak cara mereka bercanda, tatapan, atau kebiasaan sehari-hari, bikin aku merasa dekat dengan karakter-karakternya.
Yang paling bikin aku baper adalah ketegangan emosional yang konstan, setiap keputusan, setiap kata yang tak diucapkan, rasanya punya bobot. Aku ikut merasa senang, kecewa, gemas, dan sedih secara bersamaan. Endingnya gak cuma manis, tapi menyisakan rasa hangat dan refleksi, bikin aku berpikir tentang persahabatan, cinta yang tak terucap, dan keberanian untuk menghadapi perasaan sendiri
3.5 bintang. This one is surprisingly good, terlebih setelah saya DNF Claires karena baru bab pertama saja sudah head-hopping yang membuat saya jadi sulit melanjutkannya. Mungkin belajar dari novel pertamanya itu (?) Nonversation dikisahkan lewat tiga sudut pandang bergantian dengan gaya bahasa yang lebih luwes. Meski informal (menggunakan gue sebagai kata ganti pertama) saya enak saja mengikutinya, bahkan bisa terasa pas dengan kalimat-kalimat quotable-nya.
Saya nggak mempertanyakan semua fakta dan karakter-karakternya, itu sebabnya saya bisa cepat menghabiskannya. Semua unsur-unsur ceritanya terasa menyatu. Miskinnya kemampuan berkomunikasi Dirga dan Theala juga saya maklumi saja karena mereka masih kuliah, haha. Padahal sebetulnya greget juga karena seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat dan clean. Apalagi waktu Trian sudah terlibat.
Saya suka penulis membangun kenangan-kenangan tiap tokoh dan membuatnya menjadi sangat personal. Detail seperti arti kata 'maaf' bagi Trian juga berperan baik di alur cerita. Biasanya saya suka cringe sama adegan-adegan romantis, tapi di sini rasanya pas-pas saja. Mungkin karena para tokohnya benar-benar berinteraksi alih-alih 'mendikte' pembaca kalau ini harusnya begini, itu harusnya begitu, dan sebagainya.
Oh ya, saya mendapati ceritanya punya vibe gabungan atmosfer a la Winna Effendi dan Antologi Rasa-nya Ika Natassa. Apa Claires juga begini? Nanti saya coba baca ulang, deh. Barangkali habis ini bakalan dapet mood-nya.
Ending-nya, sampai 'puisi' ciptaan penulisnya (yang sebetulnya nggak usah ditulis karena, ya memang penulisnya yang nulis, kan?) saja, sebetulnya sudah cukup. Saya suka tipe ending yang gantung-tapi-nggak-gantung, biar kita sendiri yang mendefinisikannya. Tebakan saya bagian paling terakhirnya itu semacam 'bonus chapter' yang nggak ada di Wattpad. Nggak salah sih, lebih ke selera aja.
Satu yang nggak sreg di saya adalah watak Dirga yang bucin tapi pengecut. Saya heran, ada apa sih dengan cowok yang segitu relanya melepaskan cewek yang dia suka ke cowok lain? Saya pernah menemukannya di Jarak Antarbintang dan itu membuat saya tidak bersimpati dengan tokohnya. Dirga juga nyaris membuat saya seperti itu padanya. Meski ada alasannya (tidak ingin merusak hubungan persahabatan yang sudah erat) tetap saja kelihatannya cinta Dirga yang kurang besar untuk Theala, makanya dia jadi kurang berjuang. Mungkin kalau alasannya lebih kuat lagi, misalnya menyangkut keluarga dan status sosial atau keadaan yang lebih genting, saya bisa lebih menerimanya.
Terus, Keira yang katanya Trian punya penyakit juga rasanya kayak yang tempelan agar lebih drama. Padahal tidak pakai sebab itu juga tidak apa-apa, atau memang ada lanjutannya di cerita dalam universe yang sama (meski pasangan Trian sesungguhnya adalah Alaska--sudah dijabarkan di halaman awal-awal novelnya).
Jujur, saya nggak menyangka ternyata bisa menikmati novel yang, walau cinta-cintaan begini, tapi tetap terasa kehidupan kampus dan young adult-nya. Kalau memang cerita dalam Dunia Loversation yang lain juga semenjanjikan ini, saya mau-mau saja mengikutinya lagi. Oh, BTW kenapa blurb di Goodreads sama di bukunya beda? Di The Cursed Hand juga begitu. Ini siapa yang masukkin dah? Haha bisa beda begini...
Buku ini sangat direkomendasikan untuk para pembaca yang pernah mengalami perubahan iklim perasaan ditengah persahabatan.
non.ver.sa.ti.on n when nothing becomes everything
Buku ini berasal dari cerita di platform Wattpad yang diangkat untuk kemudian dibukukan. Didalamnya menceritakan tentang persahabatan yang terjadi diantara lelaki dan perempuan dan juga perasaan yang tumbuh diantara mereka, Dirga dan Thea.
Ehm, sejujurnya ini sudah empat atau lima tahun sejak terakhir kali saya membaca cerita yang berasal dari platform Wattpad. Entahlah, cerita-cerita yang ada di Wattpad rasanya terlalu indah dan jauh dari realita sehingga tidak lagi sesuai dengan jiwa yang ikut menua seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, saya nggak menaruh ekspektasi apa-apa terhadap cerita didalam buku ini. Tapi ternyata, tidak buruk sama sekali, ya meskipun masih ada beberapa kekurangan yang harus diperbaiki.
Pertama, saya sangat menyukai penokohan dari tokoh Dirga dan Thea didalam buku ini. Meskipun ada banyak tokoh yang disebutkan, dan juga ceritanya diangkat dari sudut pandang tiga tokoh: Dirga, Thea dan Trian, karakter Dirga dan Thea tetap kuat dan menjadi sorotan dalam buku ini. Namun sangat disayangkan, karena menggunakan sudut pandang tiga tokoh dengan perpindahan yang tidak jelas, saya mengalami kerancuan dan kebingungan. Alangkah lebih baik kalau perpindahan POV nya diberi batas yang jelas.
Kedua, saya sangat menyukai penggalan-penggalan sajak disetiap permulaan bab, sederhana tapi mewakili isi cerita didalam bab itu dan saling berkaitan antara bab yang satu dengan yang lain. Dan juga penggalan-penggalan kalimat yang menggunakan bahasa inggris, karena seperti bumbu, kalimat-kalimatnya menambah rasa dari cerita itu sendiri.
Terus, saya juga suka bahasa penulisannya yang santai, sehingga ceritanya mengalir dengan sangat baik, tahu-tahu sudah berada di halaman terakhir. Tapi.. Kalau bisa lebih dirapikan lagi, saya merasa buku ini bisa jauh lebih baik dan bisa menyampaikan kesan dan perasaan terdalam untuk para pembaca. Meskipun demikian, saat baca buku ini reaksi saya mirip seperti saat saya nonton film "Love, Rosie" buku ini berhasil bikin saya gregetan dan gemes sendiri sama Dirga dan Thea, terus mendekati bagian-bagian terakhir saya berhasil dibuat nangis bawang.
Secara keseluruhan saya menyukai alur cerita yang ada di dalam buku ini, sederhana, cukup ringan tapi bisa dikatakan cukup problematik juga, dan yang paling penting adalah karena sebagai orang yang pernah berada di posisi ini meskipun tidak 100% terhubung, rasanya seperti perasaan saya terwakili dengan cukup baik melalui buku ini.
"Disayangi punya tanggung jawab lebih besar daripada menyayangi. Bertemu dengan seseorang yang begitu menyayangi lo kadang menakutkan, sebab lo takut nggak bisa menyayanginya sebesar itu juga." -Hal. 208
This entire review has been hidden because of spoilers.
Mulai baca nonversation setelah deadline peminjamannya tinggal 2 hari dengan alasan sengaja supaya bisa keluar dari reading slump👀 dan... BERHASIL DONG! 🥹🙌
***
Kali ini fokus ceritanya ada di Dirga x Theala. Kisah mereka sebetulnya bermula dari friendzone, dan Dirga jadi pihak yang "in love" di sini. Persahabatan mereka cukup unik, dimana Thea cewe super cuek, ngga muluk2, dan terkesan jutek. Sedangkan Dirga tipe cowo red flag (kerjaannya gonta ganti cewe), supel dan lebih ekspresif. Meski begitu, hubungan akrab mereka as best friend tetap berjalan mulus sampai Thea mulai dekat dengan cinta pertamanya pas SMA dan persahabatan keduanya pun kian retak setelah Thea mengambil jalan buat pacaran sama Trian (her first love)
***
Baca buku ini dengan tempo cepat bikin emosiku ikutan naik turun ngga berhenti2. Gregetan, gemas, kesel diaduk jadi satu 'adonan'. Dirga dgn segala gengsi dan kehati-hatiannya dan Thea dengan segala rasa sakit yang dia punya sampai dibuat mati rasa sama sekitarnya. Hubungan mereka beneran se-complicated itu!
Terutama di sisi Dirga yang.... ANDAIKAN aja ni orang jujur dan ngomong apa adanya ke Thea, udah deh kelar masalah dan ngga akan ada yang tersakiti sampai berlarut2 kayak endingnya :")
Meskipun Thea ngga sepenuhnya 'bersih'ㅡyang mana dia ketika Dirga udah ngasih kode keras pun tetap ditampik tetap ngelakㅡtapi masalah utama itu ada di ketidakjujuran Dirga dgn perasaannya sendiri dan tentunya atas dasar "demi menjaga hubungan persahabatan mereka"🤷🏻♀️
Tarik ulur hubungan Dirga-Thea bagiku seru sih (meskipun jengkelin). Bahkan di saat Dirga justru menyodorkan orang lain (Trian) alih-alih dia buat jadian sama Thea, di saat Dirga ngga meng-iya-kan prasangka temen2nya kalo doi punya rasa ke Thea sampai yang paling parah ketika Dirga dengan lantang ngomong ke Thea "You're NOTHING!" pun, aku masih bisa menganggap ini SERUUU KOK!🗿
✢ Konflik yang ada di sini kerasa banget vibe wattpad-nya🙂↕️ hanya saja ini dikemas lebih serius + bawaannya pengen gigit jari muluk! (~.~)
✢ Butuh main lead cowo yang "mencintai secara ugal-ugalan" tapi ditakdirkan punya cewe lempeng, ini rekomendasi yang tepat sasaran untuk kalian!👍
This entire review has been hidden because of spoilers.
"falling in love with her always have been this fun, but nowadays, it makes me a little sick."
another books from valerie patkar. 📚Nonversation By Valerie Patkar 📖 348 halaman
"memangnya laki-laki dan perempuan bisa murni berteman?" mungkin cuma kita sendiri yang bisa menjawabnya. ada yang bisa, ada yang enggak. mungkin salah satu dari mereka menyimpan rasa, sedangkan yang lain masih meraba tentang perasaannya sendiri.
yap! novel ini bercerita tentang persahabatan antara Theala dan Dirga. sahabatan rasa pacaran menurutku. because both of them need each other when they felt broken. juga bercerita tentang kehilangan. kehilangan orang-orang tersayang sampai rasanya hancur dan mencoba hidup kembali.
kayaknya udah lama banget gak menitikkan air mata sewaktu baca novel apalagi romance. kan fiktif. tapi, kali ini... entah kenapa berasa banget ya sakitnya. aku yang terlalu sensitif atau... aku yang sedang membaca kisah hidupku sendiri? hahaha
setelah baca ini, jadi tahu bahwa gak semua orang mampu mengutarakan perasaannya. meskipun agak gregetan sama tokoh yang bernama dirga. apa salahnya jujur sama perasaan sendiri sewaktu ditanyain? kenapa pake nyakitin segala sih kalau beneran sayang? dirga bukan hanya menyakiti orang lain, tapi juga dirinya sendiri. coba aja keberanian itu muncul sedikit aja, mungkin bahagia bisa berpihak pada mereka. hahaha gemes.
juga gak semua orang bisa menerima rasa sakit. jadi... jangan paksa mereka untuk segera melupakannya. bukan karena udah dewasa kita berhak menyuruh mereka melakukan hal hal yang mereka benci. mereka cuma butuh di dengerin tanpa harus dicela. kenapa orang dewasa selalu menggampangkan semuanya sih?! apa karena orang dewasa lebih berpengalaman makanya bisa bilang ini itu dengan mudah? aneh. seterbiasanya seseorang dengan kehilangan bukan berarti mereka tidak menyimpan rasa sakit di hatinya. bukan berarti mereka bisa dengan gampang melupakannya dan melanjutkan hidup seperti biasa.
pas di ending mikir lagi... yah butuh waktu yang lama untuk perasaannya sampai :) iya, butuh waktu yang lama.
Nonversation (non.ver.sa.tion), sekadar yang menjadi segalanya. Kalimat pendek yang tertulis di halaman sebelum prolog. buku ini menjadi gerbang utama ketika masuk dunia loversation, dunianya sang penulis dan karakter-karakternya yang ia ciptakan dengan magis.
Pertama kali kenal Loversation lewat podcast yang usernamenya sama persis dengan dunia ciptaannya. ini buku keduanya, yg pertama belum baca, kalau yang ke 4 dan 5 sudah tamat dengan ceritanya, kalau yang ketiga hampir selesai, tapi bukunya hilang. novel keduanya ini banyak menyentil soal perasaan-perasaan dalam diam, perasaan-persaan yang tak pernah jujur, bahkan dengan dirinya sendiri.
-- Bukan karena takut ditolak, tapi karena gue takut berakhir menyedihkan. "I am happy enough to love her alone by myself." ngga ada yang namanya bahagia kalau hanya jatuh cinta sendirian. kebohongan itu ternyata juga tertanam dalam diri gue, yang sampai saat ini gue gatau bagaimana cara menyeretnya keluar, karena dia sudah terlanjur jauh masuk ke dalam bersamaan dengan harapannya. ya, raganya masuk terlalu jauh tapi hatinya untuk orang lain. Sama seperti yang dirasakan Dirga, Theala sudah erat di pelukannya, tapi hanya sebatas teman ketika mereka sama-sama kesepian.
"Gue ga pernah bikin dia berharap, karena dia ngga pernah punya perasaan yg sama." Hampir semua lembar dalam buku ini aku tandai, sebagai pengingat kalau kita juga harus kasih batas, kepada siapa yang boleh masuk dan hanya sampai di garis itu untuk kemudian dibiarkan pergi. Kalau sudah terlanjur, biarkan dia diam disana sampai bosan, atau biarkan raganya usang, biarkan ia rindu akan hatinya yang melanglang buana sendirian. yang tanpa kasihan itu. ya, terkadang tidak ada jawaban memang adalah jawaban itu benar adanya. Mungkin nanti, seperti dalam akhir cerita ini, entah nanti itu kapan, "selama nanti yang dia beri untuk gue."
Jujurly, aku ngerasa hampa banget pas baca chapter 28, wkwkwk. Kek ah elaaaaaah malesiiiiin ah endingnya. Dan harus aku akui, chapter 28 itu terlalu draggy, sih.
Trus ada buku keduanya Ela-Dirga, terus halamannya 452 halaman, teruuus aku mikir, ini mereka mau disiksa gimana lagiiiii kenapa itu bukunya tebel tolong, wkwkwk.
Let's talk about the book. Warning dulu, aku nggak suka trope triangle friendzone atau aku nggak tahulah nama tropenya tpi yang begini, bukan karena ceritanya suka kentang atau apa. Tapi karena aku lelaaaaaah. Lelah dengan kebucinan dan kebutaan tokoh-tokohnya. So no, I don't like this trope so that's why I don't really enjoy reading this one coz it's torturing me. Maksudnya tuh kek bikin greget gitu lho sama tokoh-tokohnya. It turns out that the book has a good characterization for every characters.
Walaupun transisi POV nya kek loncat-loncat dengan sembarangan dan dibawakan dengan tone yang sama, tiap karakternya punya latar belakang yang mempengaruhi keputusan-keputusan yang mereka ambil dan bikin tokohnya sekonsisten itu. Nggak ada satu tokoh pun yang out of chara.
Semua tokohnya nggak cuman hitam dan putih, dan alasan-alasan itu yang bikin aku nggak bisa benci atau suka sepenuhnya sama mereka. Aku kesel sih, tapi aku paham jadinya aku nggak bisa kesel tapi kesel. Pusing? Sama aku pun, wkkw.
Yah aku nggak bisa dibilang suka banget juga sih, tapi bukunya worth my time to read kok, walaupin aku pengen cepet terlepas dari bukunya karena bikin gregetan. Wkkwwk.
Over all, aku harus nyiapin hati lagi buat baca Loversation dan berusaha menahan sabar menghadapi tokoh-tokohnya. Wkwkwk..
Judul: Nonversation Penulis: Valerie Patkar Penerbit: Bhuana Sastra Dimensi: 344 hal, cetakan pertama 2019 (edisi gramedia digital/ipusnas) ISBN: 9786024832933
Dari yang sekadarnya menjadi segalanya. When nothing becomes everything.
Buat kamu yang pernah berada di hubungan tanpa status, teman tapi mesra, atau friendzone, cocok baca buku ini!
Novel romantis karya kesekian penulis ini mampu banget ngaduk emosi dan recalling masa-masa jahiliyah haha. Meski secara urutan, saya salah baca. Lebih dulu baca "Loversation" dengan tokoh utama yang sama, padahal harusnya buku ini dulu baru itu. Jadi sempat underestimate di awal pas baca nama tokohnya "Kok Dirga dan Theala lagi, sih?" lalu riset apa bedanya kedua novel ini. Khawatir hanya recover atau ganti judul aja. Eh ternyata gak.
Well, di buku ini lebih ke pendalaman karakter dan sudut pandang Dirga-Theala-Trian dan kehidupan semasa di kampus. Jadi lebih utuh mengenal mereka bertiga, terutama Trian yang di Loversation terkesan jelek tanpa dijelaskan detail. Juga rumitnya perasaan yang tak terkatakan hanya karena takut hubungan saling membutuhkan ini rusak, lalu bersembunyi di balik kata "sahabat".
Pasti gemas banget sama para tokohnya, mengapa begitu rumit? Tapi namanya manusia dengan segala luka dan latar belakangnya, ya gak semudah itu akui perasaan. Justru di sini sih kelebihannya penulis. Ngaduk emosi, dan bikin capek pas bacanya. Terlarut sama tokoh!
Dan lagi-lagi, endingnya belum selesai, guys! Kudu tetap baca loversation hoho.
Jujur waktu awal baca Nonversation, aku ngerasanya biasa aja. Ga kayak Luka Cita aku langsung suka. Tapi lama kelamaan di baca ternyata aku butuh tisu🧻. Kok jadi sedih ya perasaan awalnya aku senyam senyum tanpa sadar banyak juga air mata yang tumpah 🤧. Perasaanku di buat campur aduk waktu baca dan muncul aja banyak pertanyaan. Aku mulai mencari kesalahan karakternya yang kurang berani, kurang peka dan lain sebagainya. Sampai akhirnya aku ga bisa mutusin siapa yang salah karena bersimpati dengan semua dan nyalahin TIMING. Mungkin sebenarnya ga ada yg perlu disalahain cuma biar hatiku ini lega aja 😆.
Oh ya buku ini di ceritakan dari 3 sudut pandang yang awalnya aku kira cuma 2 yaitu Dirga dan Theala,tapi ternyata muncul sudut pandang Trian yg menurut ku perlu di cerita ini, jadi aku bisa lebih tau pandangan orang lain terhadap hubungan persahabatan mereka.
Baca buku ini buat aku jadi lebih bisa mengerti hubungan keluarga dari masing" karakter sangat berpengaruh pada sikap dan pemikiran mereka sehari". Banyak kutipan yang bagus" juga dari buku ini, aku suka 🥰.
"Langit tuh indah, tapi dia kesepian dan ngak seramai bumi. Sebaliknya, Bumi itu ngak pernah kesepian dan selalu ramai. Tapi dia ngak seindah langit. Tuhan tuh adil. Lo ngak akan sedih terus-menerus, tapi lo juga ngak akan senang terus menerus. Dan meskipun begitu, lo tetap harus menjalani keduanya" ~ Theala
"I don't know it would hurt like this" ~ Dirga
"Dirga, see you again, in a better us. When no body hurts Including us" ~ Theala
"There is no happy ending in life, Only endless chances exist" ~ Valerie Patkar
1000000/10🤍🤍 Aku udah nggak bisa lagi ngejabarin apapun tentang karya-karya kak Valerie, seakan sudah keluh. Seolah ini tuh sudah tidak bisa dijabarkan dengan hanya satu atau dua kata. Tapi lebih, kalau bisa menulis 100 halamanpun akan aku jabarkan. Apa yang kalian harapkan dari friendzone? Saling suka, memendam setiap perasaan kalian terus dengan tiba-tiba saling mengungkapkan dan berakhir dengan sangat happy ending. Begitu bukan harapan yang akan tergambarkan?
Berbeda dengan kisah Dirga dan Thea, Dirga yang begitu jatuh hingga tersungkur karna seorang Thea yang begitu sederhana tapi segalanya menurut Dirga. Tapi semua hal itu hanya dianggap candaan belaka oleh seorang Thea. Dirga yang harus merelakan orang yang menurutnya segalanya demi kebahagiaan orang tersebut. Thea, mengidolakan seseorang dengan tersimpan sangat rapi. Thea mengagumi seorang Trian yang terlihat begitu berantakan tapi benar-benar menginspirasi karna kepintarannya dan perhatiannya terhadap orang yang dia sayang. Thea begitu sederhana, tapi begitu sulit untuk dia menjabarkan apa yang dia inginkan. Hingga yang keluar dari bibir mungilnya hanya perkataan 'maaf' 'terima kasih' yang terdengar begitu tulus. Trian, laki-laki yang begitu diidolakan oleh seorang Thea. Trian yang begitu perhatian dengan orang-orang yang dia sayang. Trian yang hanya dapat digenggam sementara dan harus dilepaskan selamanya. _______________________________________________ BACA INI TUH BENAR-BENAR CAMPUR ADUK BANGETTTT!!!!! DARI YANG SENANG, HAPPY BANGET TERUS DIBIKIN KESAL BERKEPANJANGAN DAN MEMBUAT AKU SEBAGAI READERS HARUS NGEBANTING ATAU BERHENTI SEJENAK UNTUK MENENANGKAN HATI SEJENAK DARI AMARAH!!!! Seolah aku harus turut andil dalam cerita ini dan bilang ke Dirga 'tinggal dibicarain, tinggal kamu terus terang, tinggal to the point nggak usah belibet kamu nya Dirga!!!' Terus buat kamu Thea 'apa yang kamu mau sebenarnya sih? Kamu mau nya gimana?' Bicara the, bicara!! Jangan diam doang, kita nggak akan paham apa yang kamu rasain👊🏻😩 Untuk kamu Trian, SUMPAH SPEECHLESS BANGETTTT!!! KOK KAMU BISA GITU SIH WOEEE??!! KAMU JAHAT BANGET SIH!! AKU KIRA KAMU TUH SEIJO ITU TAPI ARGHHHHH!!!
DARI MEREKA BERTIGA BELAJAR BUAT MENCINTAI DIRI SENDIRI BANGETTTT!!!! Belajar menerima kehilangan jugaaa, terus apapun tuh perlu dibicarakan jangan jadi pengecut. Kamu harus menghadapi apapun jangan jadi PENGECUT!!!!
Rasanya greget banget baca cerita ini. Penulisannya ringan banget, saya bisa skimming tanpa kelewatan apa-apa, tapi trope miskomunikasi bertebaran dari awal sampai akhir cerita. Dengan skill menulis yang penulis ini miliki, andai saja diarahkan ke trope yang lebih berbobot.
Nonversation ini sepertinya hanya menceritakan kehidupan percintaan Dirga, Theala, dan Trian saja. Tidak ada hal lain yang terjadi selain kerumitan kisah cinta dan konflik keluarga mereka. Padahal, penulis bisa membahas lebih dalam mengapa Theala mengambil jurusan teknik dan kehidupannya di fakultas yang umumnya jumlah perempuan lebih sedikit. Di awal, penulis sempat membahas tentang program kerja sama antar universitas, dan menurut saya itu seharusnya bisa dibahas lebih dalam juga daripada menjadi tempelan.
Kemudian, saya tidak suka Dirga yang berlindung di balik kata pengecut. Memang tidak semua orang punya keberanian untuk menyatakan perasaan, tapi itu bukan jadi alasan untuk main-main dengan perempuan. Red flag banget. Trian pun sama. Dia memang ingin merasa dibutuhkan, tapi mbok ya ngomong langsung mas, jangan lari ke mantan.
Untuk Theala, no comment, sih. Karakter dia ditulis dengan pas.
Saya kurang paham sama akhir cerita, sih. Mungkin maksud penulis adalah supaya Dirga dan Theala sama-sama bisa menutup masa lalu, tetapi bisa juga dimaknai sebagai open ending. Theala deserves better, though.