Jump to ratings and reviews
Rate this book

Saddha

Rate this book
Istirahatlah luka-luka.
Terima, dan berhenti berusaha melupakan.

272 pages, Paperback

First published February 5, 2019

25 people are currently reading
255 people want to read

About the author

Syahid Muhammad

10 books304 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
53 (42%)
4 stars
40 (32%)
3 stars
26 (20%)
2 stars
4 (3%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Siraa.
260 reviews3 followers
December 6, 2021
Saya tidak tahu ini buku tentang apa awalnya. Saya sempat berpikir buku ini bercerita tentang munir dari "solo, solitude", Istirahatlah kata-kata karena pengantarnya terasa mirip, "Istirahatlah luka-luka". Cuma itu saja. Tidak ada clue, sinopsis, rekomendasi. Tidak ada.

Ternyata Saddha masuk dalam kategori buku puisi dan prosa satu genre dengan penulis melankolis lain seperti Boy candra, Bernard Batubara dan idola anak remaja kebanyakan, Fierza Besari. seperti layaknya buku tentang healing, buku ini juga menentramkan, menasehati serta menemani segala duka lara gundah gulana sepi senyap sedih dan semua diantaranya. Sudah jelas buku ini bercerita dan menyerang perasaan tapi disanalah saya kehilangan rasa pada narasinya. Susah rasanya melibatkan lagi hati membaca buku penuh diksi lembut semacam ini dibandingkan beberapa tahun lalu. Saya tidak tahu apakah ini adalah bentuk kedewasaan atau hanya mood sementara. Mungkin akan saya baca lagi di kesempatan berbeda
Profile Image for Indri Octa Safitry.
Author 1 book18 followers
October 22, 2019
Istirahatlah luka-luka

Terima, dan berhenti berusaha melupakan.

Baca buku ini cukup lama, biasanya buku bang iid lahap habis cepat. Tapi, bukan karena nggak bagus. Hanya, buku ini mengajarkan keikhlasan. Mungkin juga karena itu aku sendiri sulit ikhlas jadi susah selesaikan bacaan ini wkwk

Yah, buku ini tentang kesepian, kedatangan, kepergian dan keikhlasan. Bukan hanya beberapa penggal bait puisi atau sajak saja. Ada beberapa kisah yang juga yang memang menggunakan sudut pandang orang pertama.

Gaya bahasa seperti biasa menggunakan kalimat puitis. Bahkan kali ini sunggu harus di hayati biar tau maknanya

Bacaan ini seperti menghipnotis untuk belajar ikhlas. Merelakan. Dan move on dari hal yang nggak seharusnya kita renungkan. Kurang lebih seperti itu

Overall, bagus dan cukup bikin hati tertohok dengan pemikiran bang iid yang selalu benar dan sering kita rasakan hehe

Tapi, aku masih lebih suka karya2 bang iid yang sebelumnya. Mungkin karena ini bukan menceritakan sebuah kisah. Sukses selalu bang iid. Di tunggu karya selanjutnya
Profile Image for Aliflanya A. Maghfirah.
49 reviews9 followers
November 19, 2020
“Aku masih ingat ada sebuah detak yang tidak rela. Meneriakkan permohonan untuk tetap tinggal. Namun, hanya mampu disampaikan dalam sebuah doa yang paling rahasia.”

“Sayang, biarkan aku tenang.
Tak ingin lagi ada yang aku kenang.

Kau, silakan pergi.
Melangkahlah tanpa henti,
Jangan sekali-kali kau berhenti,
Hanya untuk memastikan, aku tak mati

Meski hati ini retak,
Kupastikan tak akan pernah berhenti berdetak
Hanya karena gara-gara janji yang kau rusak.”

Bagi saya buku ini sempurna. Terlalu sempurna. Begitu sempurna untuk memanjakan seluruh luka yang tengah menganga dalam tubuh ini. Setiap bagiannya bagaikan perjalanan hidup mulai dari angan yang terbentuk hingga menjadi luka yang menusuk.

Saya sengaja membaca buku ini berlama-lama karena terlalu menikmati setiap lariknya. Rasanya seperti sedang menikmati obat penenang. Kalau kamu sedang patah hati, mungkin buku ini adalah buku pertama yang harus kamu baca.

Baca, renungkan, dan lepaskan luka-luka itu.
Profile Image for Hanaan  Haseen .
9 reviews1 follower
August 20, 2021
Saddha. Bait-bait yang sedang menasehati saya untuk tidak larut-larut dalam luka. Saddha ini kaya bantal cocok banget jadi temen menggalau. Soalnya waktu pertama membaca di mood yang happy dan engga ada apa-apa ngantuk rasanya. Thanks saddha, luka ini akan kurawat entah berbekas atau tidak kuserahkan Yang Maha Esa.
Profile Image for Bellin Manullang.
3 reviews
July 7, 2019
Saddha ini merupakan kumpulan kata-kata yang mewakili patahan hati setiap individu dan dirangkum sedemikian indahnya. Blurp belakang bukunya saja tertulis; “Terima, dan berhenti berusaha melupakan.” mas Iid mungkin ingin para pembacanya berproses menuju kemampuan untuk mensyukuri luka-luka yang terlanjur ada.
Sebenarnya, ini diluar ekspetasi saya sih, karena pada awalnya saya kira mas Iid ini akan melanjutkan novel yang berlatar belakang psikologi lagi. agak sedikit kecewa sih.. but overall bukunya bagus kok
Profile Image for Amel.
209 reviews4 followers
August 2, 2023
Jarang ada buku puisi (yang tiap puisinya panjang), tapi bikin aku into ke puisinya. Kebanyakan buku puisi yang kubaca adalah mereka yang bikin aku lebih fokus cari makna tersiratnya daripada mendalami apa yang coba disampaikan puisi itu.
Tapi ini berbeda, kata kiasannya enggak berlebihan jadi bikin lebih mendalami makna apa yang ingin disampaikan penulis lewat puisi-puisinya. Kurasa tiap penggal kalimatnya memang minta banget buat dihayati, jadi baca puisi-puisi di sini nggak bisa dengan tergesa-gesa, harus pelan dan menghayati.
Good for it! 4.5/5!
Profile Image for July Artania.
5 reviews1 follower
January 31, 2024
Buku ini sangat saya rekomendasikkan bagi kalian yang benar-benar menyukai dunia kesastraan. Dengan ciri khas gaya tulisan mas Iid dalam mengeluarkan kata-kata dan isi pikirannya.
Profile Image for Eva Novia Fitri.
165 reviews1 follower
March 23, 2023
Di bagian pertama, indah meriahnya romansa cinta di masa masa awal disastrakan dengan pas. Puisi puisi indah penuh janji, penuh optimisme dan kekuatan besar dituangkan dalam baris baris indah yang orang tak pernah jatuh cinta pun mampu merasakan indahnya. Puitis sangat.

Bagian kedua buku ini: Penghujung Musim Ramai
Diawali dengan "Perdebatan", inilah puisi puisi yang melukiskan romansa cinta yang lebih dalam. Karena setelah menikmati keindahan cinta di bab pertama, kita akan belajar bertahan dan mempertahankan seperti dalam puisi "Ruang Juang", atau belajar diam seperti dalam "Tengkar".

Sayangnya, memasuki babak cinta yang telah usai, daya cengkramnya terasa melonggar. Seperti antiklimaks (walaupun puisi2 ini tidak harus dinikmati sebagai 1 jalinan satu sama lain).
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.