“Aku masih ingat ada sebuah detak yang tidak rela. Meneriakkan permohonan untuk tetap tinggal. Namun, hanya mampu disampaikan dalam sebuah doa yang paling rahasia.”
“Sayang, biarkan aku tenang.
Tak ingin lagi ada yang aku kenang.
Kau, silakan pergi.
Melangkahlah tanpa henti,
Jangan sekali-kali kau berhenti,
Hanya untuk memastikan, aku tak mati
Meski hati ini retak,
Kupastikan tak akan pernah berhenti berdetak
Hanya karena gara-gara janji yang kau rusak.”
Bagi saya buku ini sempurna. Terlalu sempurna. Begitu sempurna untuk memanjakan seluruh luka yang tengah menganga dalam tubuh ini. Setiap bagiannya bagaikan perjalanan hidup mulai dari angan yang terbentuk hingga menjadi luka yang menusuk.
Saya sengaja membaca buku ini berlama-lama karena terlalu menikmati setiap lariknya. Rasanya seperti sedang menikmati obat penenang. Kalau kamu sedang patah hati, mungkin buku ini adalah buku pertama yang harus kamu baca.
Baca, renungkan, dan lepaskan luka-luka itu.