Awalnya, Fresha tidak menyangka jika hari itu akan menjadi hari paling sial dalam hidupnya. Berkat insiden tawuran yang melibatkannya sebagai saksi, dia harus berhadapan dengan dua risiko berat. Dihukum Pak Haris—guru paling killer, atau berakhir menjadi bulan-bulanan Seven Gerrard—geng yang diketuai oleh Fero, siswa paling berandal.
Fresha kira, dia akan bebas. Namun, tindakannya itu justru membuat dia terjebak dalam lingkaran Seven Gerrard. Satu hal yang membuat Fresha bertahan adalah Althaf, cowok yang dia sukai dan tergabung dalam Seven Gerrard.
Namun tetap saja, semesta selalu punya cara untuk menunjukkan siapa yang lebih hebat perihal rasa. Dan pada saat itu, Fresha sadar, jika kebetulan-kebetulan yang terjadi sejak dia menjadi bagian Seven Gerrard, bukan hanya kebetulan biasa.
Melainkan cara seseorang mengungkapkan perasaannya.
Novel ini kental sama kisah persahabatan, khususnya Seven Gerrard. Geng anak bandel sekolah yang kerjanya ngebandel. Ya mereka ini khas anak bandel yang solid gitu. Saya nggak setuju ama kebandelan mereka, tapi soal solid, harus diakui jempol. 👍 Sayangnya karena mereka berdelapan, tidak semua karakter tereksplor dengan baik. Terus juga teman Fresha, di karakter utama ini, banyak. Ada teman dekat, teman sekolah, teman OSIS. Saking banyak karakternya, beberapa terasa flat dan dua dimensi. Konflik Fresha dan sahabatnya juga terasa dipaksakan karena kurang banyak terlihat seberaba Fresha dekat dengan mereka. Novel ini terlalu fokus pada Fresha, telebih dengan penggunaan sudut pandang orang pertama. Untuk konflik utama, sebenarnya menarik dan seru. Cuma ada bagian yang kurang masuk diakal (sayangnya kalo diceritain nanti spoiler 😹). Secara keseluruhan sih, seperti yang saya bilang sebelumnya: novel ini ringan, ditulis dengan asik, dan mengundang tawa (meski menjelang akhir rada drama). Cocok buatmu yang mau mengenang rasa SMA, karena kental aura SMA.
[Ulasan ini bersifat subjektif. You've been warned.]
Saya menyukai premis yang ditawarkan penulis. Kovernya juga menggambarkan anak sekolahan banget. Gaya menulisnya asik dan ngalir. DIALOG ANTARTOKOHNYA PUN KETERLALUAN RECEHNYA! :))) tolong ya, saya ini manusia dengan tingkat kerecehan tak tertolong. Makin amblas aja ini humor gara-gara baca F&F.
Saya juga menyukai Fresha sebagai tokoh cewek yang pemberani. Dan plot twistnya... sungguh di luar ekspektasi!
Namun, saya menyayangkan beberapa hal:
1. Alur di awal-awal terlalu lambat. Saya baru bisa "masuk" ke cerita di halaman 80-an. Dan setelah itu, saya merasa alurnya kayak naik turun(?). Di tengah cerita, alurnya kembali lambat dan longgar sehingga jatuhnya jadi membosankan.
2. Masih berkaitan sama poin pertama, banyak adegan yang sebenarnya bisa dipangkas untuk membuat cerita ini lebih ringkas sekaligus padat. Maaf, tapi kalo boleh jujur... ada beberapa narasi yang saya skip karena agak bertele-tele.
3. Sempat disinggung kalo Fresha ini ketua OSIS, tapi saya nggak merasakan aura itu sama sekali. Titel ketua OSIS-nya terasa tenggelam begitu saja, padahal saya kira jabatannya bakal punya pengaruh besar pada cerita.
4. Saya kira kondisi kesehatan mama Althaf bakal diceritakan lebih lanjut, tapi ternyata cuma sekali lewat saja. Padahal saya cukup tertarik lho sama kisah mamanya *salfok*.
5. Beberapa kali nemu peristiwa/tokoh yang kurang dieksplorasi lebih dalam sehingga membuat saya bertanya-tanya. Contohnya seperti kasus mama Althaf di poin nomor 4.
6. Saya juga menyayangkan absennya penjelasan mantan sahabat-sahabat Fresha di akhir cerita. Nggak diceritakan lebih lanjut mereka endingnya gimana sehingga saya jadi kembali bertanya-tanya. Mereka kayak hilang secara tiba-tiba.
7. Beberapa dialog dan candaannya rada keterlaluan menurut saya hehe.
Overall, saya cukup menikmati kisah Fresha & Fero. Apalagi, dialog-dialognya sangat kekinian dan bikin saya ngakak kuadrat (meskipun ada beberapa dialog yang kurang nyaman dibaca). Kalo kalian butuh bacaan ringan dan receh, boleh coba baca Fre & Fer. 🙂