Buku kali ini merupakan bacaan psychological thriller yang memang dark dan meresahkan. Cukup membuat saya agak bergidik membaca bagian-bagian yang 'psycho' dan penjelasan keadaan korban pembunuhan yang begitu gamblang.
Tapi, saya kurang menyukai buku ini. Banyak sekali yang membuat saya bertanya-tanya, dan membacanya tidak membuat saya dapat menikmati ceritanya.
Selagi saya kupas, saya mau kasih disclaimer kalau review ini mungkin mengandung spoiler.
Pertama, cerita di sini menggunakan sudut pandang orang pertama. Berarti, dijelaskan dari sudut pandang 'aku'. Nah, ternyata ada 2 'aku' di sini, dan pembagiannya lompat-lompat tidak teratur. Terkadang, chapter ini menceritakan tokoh 'aku' yang ini, chapter berikutnya bisa menceritakan tokoh 'aku' yang lain. Saya jadi harus menebak-nebak, ini 'aku' yang mana? Ya, walau, setelah membaca 1-2 paragraf kita bisa tahu, sih, 'aku' mana yang dimaksud. Tapi, otak saya lelah membacanya.
Kedua, alur cerita lompat-lompat. Sebenarnya saya tidak masalah, tapi ketidaklinear-an cerita ini membuat otak saya penat. Banyak kejadian yang terjadi dan hanya dinarasikan saja dalam 1-2 kalimat, padahal menurut saya kalau kejadian itu ditunjukkan dalam cerita akan sangat menarik. Contohnya, penyiksaan Alfons - kenapa cuma ditunjukkan lewat dialog Ello saja? Atau di surat Alfons? Akan sangat menarik kalau penulis bisa menunjukkan dialog Alfons dan Ello, contohnya mungkin reaksi Alfons ketika tahu Ello - pasiennya - adalah si pembunuh berantai. Lalu, bagaimana Tara mengalahkan Ello, juga menggantung begitu saja. Atau, bagaimana Tara mengenalkan Ello pada Alfons? Kenapa cuma dijelaskan lewat 1-2 kalimat narasi saja? Saya mengerti konsep yang ingin ditanamkan penulis adalah psychological thriller, atau mystery, tapi tidak usah terlalu 'tertutup' seperti ini. Karena kurangnya adegan yang nyata, hanya dialog-dialog semu, terlalu banyak narasi....saya jadi kurang berempati pada Tara, Alfons, atau karakter lainnya.
Ketiga, saya sudah sempat sebutkan dengan singkat di atas, novel ini 80% narasi deskriptif 20% dialog. Belum lagi ditambah pilihan kata-kata yang agak berat, membuat saya menguap dan mengedipkan mata berkali-kali saat membaca ini. Sudah ceritanya bikin tidak nyaman, secara redaksional juga saya tidak nyaman dan cepat-cepat ingin menamatkan buku ini. Seandainya saja penulis lebih mau 'aktif' dalam menggambarkan ceritanya lewat dialog, lebih sedikit narasi, mungkin akan lebih menarik. Saya mengerti, sih, mungkin dibuat lebih banyak narasi deskriptif agar kita mengerti penyakit Tara dan Ello yang mendekati psikopat/sosiopat ini. Tapi, jadinya...saya malah tidak merasakan karakter-karakternya hidup.
Keempat, penokohan juga tidak jelas. Kenapa Tara bisa jadi sosiopat? Kenapa Ello bisa jadi psikopat? Kenapa Tara bisa tiba-tiba sembuh? Lalu, monster yang dilihat Tara itu siapa? Apakah sisi gelap dirinya, sisi psikopatnya, yang selalu mengganggunya saat dia sembuh? Bagaimana Tara, dari yang super sosiopat, bisa tiba-tiba sembuh mendekati orang normal hingga merasakan jatuh cinta? Sangat kontradiktif, dan menimbulkan begitu banyak pertanyaan. Padahal, penokohan itu penting. Walau masa lalu Tara diceritakan, tapi tidak jelas mengapa Tara dan Ello bisa tumbuh seperti itu. Untuk Ello, apakah karena ayahnya adalah psikopat juga? Entahlah. Seperti yang saya bilang, terlalu banyak pertanyaan.
Kelima, mungkin membaca buku ini separuh pertama kita akan dijemukan dengan narasi deskriptif yang membosankan. Kita gak tau penulis mau bawa ke mana cerita ini. Tapi saya boleh akui, 50 halaman terakhir memang cukup seru, sih. Tapi ya, jangan kecewa kalau endingnya begitu saja.
Saya benar-benar tidak merasakan apapun saat membaca ini. Perkembangan karakter Ello menjadi seorang psikopat cuma ditunjukkan saat ada perempuan yang mengajaknya ke apartemen. Seandainya saja korban-korban pembunuhan berantai itu lebih didekatkan ceritanya ke pembaca, ditambah kengerian Tara akan teror-teror terhadapnya, pasti kita bisa lebih bersimpati pada Tara dan merasakan kekejian Ello. Buku ini seperti setengah-setengah. Setengah-setengah dalam menjadikan Ello psikopat, dan Tara sebagai karakter utama yang memiliki riwayat sosiopat + korban.
Saya juga tidak paham, sampai sekarang, kenapa Ello begitu terobsesi dengan Tara? Bagi saya agak tidak masuk akal, seseorang bisa mengingat dengan jelas seseorang yg diketemuinya saat berumur kurang dari 10 tahun. Bertemu lho, tidak sampai 10 menit interaksinya, tapi bisa ingat hingga bertahun-tahun! Sampai bisa terobsesi, lagi. Saya mengerti sih Ello dan Tara itu tidak seperti orang kebanyakan...tapi menurut saya elemen ini tidak cukup layak dijadikan motivasi dan latar belakang obsesi Ello terhadap Tara...
Dialog juga terasa kaku. Padahal latar belakang tahun 2011-an. Tidak masuk akal masih ada yang menggunakan 'kau' dan frasa-frasa baku lainnya.
Sebenarnya, masalah yang dijelaskan di blurb novel bukanlah masalah utama di novel ini. Malah, jadinya gantung begitu saja tanpa penyelesaian yang berarti. Masalah lainnya justru bukan itu, dan karakter yang terlibat justru juga bukan yang kita kira. Blurb yang menyesatkan.
Mohon maaf kalau review ini agak menyudutkan dan terkesan berlebihan, tapi saya benar-benar kesal saat membacanya. Jujur, saya berekspetasi lebih.....Maaf, ya, mbak Anastasia Aemilia.