Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tango & Sadimin

Rate this book
Apakah nasib itu?
Sebuah keputusan yang engkau ambil demi memperpanjang umur, yang saat kau lupakan, ia telah berubah menjadi kalung besi yang menggantungi sisa hidupmu.
*
Sungai Cimanduy selalu lembap, diselimuti kabut gelap dan rerimbunan pohon besar di tepiannya. Arus yang tenang, menyimpan pasir yang tak habis dikeduk penduduk sekitar. Namun, siapa yang menyangka selain alam yang berkabut, Sungai Cimanduy menyimpan pula beragam kisah misterius, ganjil, juga ajaib.

Pun dengan orang-orang yang hidup di sekitar Sungai Cimanduy. Kehidupan rumah tangga Tango dan Sadimin menyimpan banyak prahara. Sejarah keluarga masing-masing tokoh penuh kejutan dan sedikit di luar nalar. Pembangunan bendungan, kepergian Cainah yang serba mendadak, bilik-bilik milik Nini Randa, serta keriut keresahan penghuninya tak kalah menyimpan kelindan nasib yang misterius.

280 pages, Paperback

First published March 25, 2019

11 people are currently reading
97 people want to read

About the author

Ramayda Akmal

12 books15 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (9%)
4 stars
47 (55%)
3 stars
24 (28%)
2 stars
4 (4%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 30 of 32 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
March 27, 2019
Kisahnya memang tidak biasa. Alur berkisahnya adalah lipatan-lipatan misterius, penuh keajaiban, penuh rimbun semak yang menyimbolkan betapa rimbunnya jiwa manusia untuk dibuka satu demi satu. Tokoh-tokoh dalam novel ini hidup dengan seyogianya manusia, yakni menyimpan dua hal dalam dirinya: kebaikan dan kebengisan. Tak ada yang mutlak satu di antara kedua itu dalam jiwa manusia. Dan mungkin tersebab itulah, setiap bab dalam buku ini selalu menggunakan '&'. Maksudnya memang saya tafsirkan sendiri, tapi pilihan menghidupkan tokoh seperti dalam novel ini adalah bukti yang entah disadari atau tidak oleh penulisnya.

Dan entah mengapa Cimanduy mengingatkanku pada Makondo yang ajaib, misterius, dan menyimpan kelindan silisah keluarga yang gaib. Kemudian sosok Nini Randa adalah pertempuran banyak tokoh perempuan kuat yang hidup dalam kepala saya, Rara Mendut dan Dewi Ayu.

Tapi, novel ini adalah milik Ramayda Akmal. Ditulis dengan perpaduan gaya labirin (saya nyebut sendiri ya), banyak lapisan kisah yang harus dibuka satu demi satu agar bisa menikmati.
Superb! Semoga bisa masuk KSK tahun ini.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
April 10, 2019
Tango & Sadimin adalah kisah lima pasangan dengan problematikanya masing-masing. Kelima kisah tersebut beririsan satu sama lain dan diikat oleh satu tema: bagaimana manusia bertahan hidup?

Setelah Jatisaba yang sangat saya suka, ini adalah novel kedua Ramayda Akmal yang sangat saya nantikan. Maksud hati ingin memberikan bintang lima, tapi sayang, ada beberapa hal yang mengganggu dan tidak dapat diabaikan di dalamnya:

1. Penulisan kata "Anda" tanpa diawali huruf besar terdapat di beberapa bagian. Saya temukan di halaman 35 dan 246.
2. Ketidaklogisan cerita. Cainah lahir lebih dahulu ketimbang Sadimin, tetapi Tango, istri Sadimin, bilang bahwa Nah adalah adik suaminya. Hal tersebut ada di halaman 177.
3. Typo fatal. Dalam sub judul "Hutan Hujan Madu", terdapat kesalahan penulisan menjadi Hujan Hujan Madu (Halaman 227). Di bagian lain, kata "kail" tertulis "kain" di halaman 247. Ini cukup merusak imajinasi saya karena tidak dapat merelasikan.
4. Pencetakan huruf yang tidak konsisten. Dalam penuturan saksi yang melihat Nah saat hilang ditulis dengan huruf italic, namun ketika set sudah kembali ke dialog antar tokoh, penulisan tetap menggunakan huruf miring (Halaman 250).
5. Nomor halaman. Kadang tertulis, kadang tidak. Entah ini memang semacam style saja atau memang keluputan penerbit.

Semoga di cetakan kedua hal-hal tersebut dapat diperbaiki.
Profile Image for ifan.
47 reviews15 followers
March 26, 2019
Membaca Tango dan Sadimin adalah membaca siluet-siluet, ia menarik dan indah buat disimak satu per satu kisah di dalamnya, hanya saja ada bagian tidak kentara, tentu menyisakan tanya bagian tersebut, hanya saja menyenangkan untuk dinikmati pelan-pelan.
Tokoh-tokoh unik nan rumit serta narasi latar yang sangat menggugah imaji-imaji kecil, terkadang ada ledakan kecil, terkadang pula membuat saya berhenti sejenak, dan terdiam.
Ah, iya, saya mengira-ira, bagaimana jadinya jika Nini Randa bertemu Dewi Ayu?
Profile Image for Sadam Faisal.
125 reviews19 followers
May 31, 2021
Walaupun judulnya Tango & Sadimin tapi novel ini menceritakan 5 pasangan dengan konfliknya masing-masing, tetapi saling berkaitan satu sama lain.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
October 7, 2019
Kenapa ya judulnya Tango & Sadimin? Padahal kan ceritanya berpangkal dari Nini Randa dan meluas ke 4 pasangan di sekelilingnya. Kenapa yg dipilih untuk ditengahkan justru si juragan Sadimin?

Aku cukup suka karakter-karakter di novel ini, tapi kurang suka saat bagian karakter itu diselesaikan. Rasanya seperti... belum selesai. Terutama bagian Nah dan Dana. Trus itu Nah kemanaaaa??

#GD
Profile Image for Ipeh Alena.
543 reviews21 followers
September 26, 2019
Tango Dan Sadimin ini seperti bentuk cerita Romeo dan Juliet dengan kearifan lokal. Meski, kehidupan keduanya tidak akan dianggap romantis bagi sebagian orang. Tapi, kalau ditelusuri dan direnungi kembali, ada sisi romansa yang terasa ngilu dan tragis. Kesetiaan keduanya yang menghadirkan duka hingga masa lalu yang terlalu rumit. Namun, tak kuasa juga kalau hanya untuk dijustifikasi secara moral.

Tak hanya sepasang manusia itu saja. Kisah berkelindan antara masing-masing tokoh yang memiliki hubungan dengan Tango dan Sadimin. Selayaknya keadaan di perkampungan, semua rumah yang ada di sana terikat persaudaraan. Entah itu saudara jauh, saudara kandung atau saudara tiri. Saking eratnya ikatan tersebut, sampai-sampai tak ada rahasia di antara para penduduknya.

Ada lima bagian kisah dalam buku ini. Kalau meminjam judul film akan menjadi, Drama Lima Babak Yang Bisa Bikin Belur. Tak hanya kisah sedih, sindiran, kepiluan, kemiskinan dan rasa jijik saja. Tapi, ada banyak hal logis yang tampaknya diangkat penulis dari kehidupan orang-orang di dunia nyata. Pengalaman kehidupan dilukiskan melalui masyarakat di pinggir sungai Cimanduy.
Profile Image for rasya swarnasta.
104 reviews21 followers
September 1, 2020
Sampai akhir, Nah nggak ketemu, kan? Bagus. Biarkan saya pada headcanon yang berpikir bahwa Nah adalah seseorang yang bunuh diri digilas kereta. XD Dan ngomong-ngomong soal anak dari Ozog dan Sipon, saya sudah mengira kalau itu Dana (awalnya saya tebak Tango? Habis, keluarga itu melintasi hutan dan kayaknya awal-awal kehidupan Tango bermuara di sana). Perkiraan itu pupus ketika Ozog dan Sipon ketemu anak kandung mereka di terminal. Saya jadi berpikir, "Oh, jadi bukan dari tokoh yang sudah ada." Tapi terus ketika keluarga Ozog ketemu Dana di rumah Haji Misbah, terungkaplah kalau Dana beneran anak mereka. Saya jadi bingung.

Cerita yang ditampilkan pendek-pendek memberi kesan berjarak. Berjarak dengan tokoh-tokohnya, spesifiknya. Sebenarnya itu bukan masalah kalau saja setingnya jelas, tapi sayangnya nggak demikian. Makin ke sini saya jadi susah menikmati karya yang nggak bisa saya bayangkan latarnya di mana di suatu tempat di Indonesia. Dia jelas-jelas kadang pakai bahasa Jawa, lalu tahu-tahu membicarakan perjalanan menjangkau Jakarta, tapi di daerah yang wajar gelaran wayang, lalu di tepi sungai ketika banyak pengeruk-pengeruk pasir ... di mana, sekiranya?

(Teman saya ada yang ambil objek kajian ini sebagai skripsinya, semoga dia bisa menjawab rasa penasaran saya.) Simpati-simpati saya justru jatuh pada dua hal yang nggak diulas banyak dalam novel, di antara banyaknya hal yang nggak diulas lainnya. Dua hal itu adalah:

1. Mono dan Uwa. Saya suka saat deskripsi bahwa hidup mereka bukan untuk mencari, tapi untuk menikmati. Bahwa mereka hanya mengamankan sedikit tempat untuk hidup, lalu sisanya menikmati dunia di sekitar mereka. Tentu saja yang dilakukan Mono pada Tango itu bangsat betul, dan alih-alih marah, saya justru kecewa. Mono seperti keluar dari karakternya yang hidup tanpa ambisi dan jauh dari hal-hal duniawi. Lah, sudah dipuji sedemikian rupa oleh penulisnya yang menyebutkan terang-terangan bahwa Mono semacam stoik, eh, dia malah begitu?! >:(

2. Bayan dan Kapo. :( Dua tokoh numpang lewat padahal berkesan betul. Kalau saya adalah Bayan, saya akan mengutuki Kapo dalam mati saya. Atau kalau saya adalah Kapo, saya nggak sungguh-sungguh kabur, dan saya akan balik lagi untuk ngecek keadaan Bayan. Ah, tapi mereka hanya diceritakan satu bagian.

Saya nggak nangkap sih apa yang hendak disampaikan penulis dengan memberi senggolan-senggolan sedikit soal "cerminan masyarakat" di luar tokoh-tokohnya dia: siswi tindikan, guru main judi, penyanyi dangdut dan suami-suami orang yang mengitarinya, begal yang ditusuk. Kayak cuma lewat. Kalau kayak sekolahnya Dana dan Nah yang teman-teman sekolahnya putus sekolah untuk nikah, itu masih nggak papa karena setidaknya Dana dan Nah terlibat di sana. Tapi kalau yang lain-lain di bagian akhir cerita, karena cuma lewat, jadinya kurang berkesan. (Saya bilang begini, tapi nyatanya Bayan begitu meninggalkan kesan bagi saya T_T)

Ini buku Ramayda Akmal yang pertama saya baca. Dulu saya sempat baca Jatisaba, tapi nggak selesai. Baca ini jadi pengin memulai baca Jatisaba lagi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Sri.
897 reviews38 followers
December 23, 2020
Penulis pandai membuat karakter-karakter manusia yang ganjil. Klo mau dibilang ga waras tapi otak bisnisnya jalan. Yang mau dibilang alim, eh ternyata ga waras. Satu-satunya yang menerbitkan simpati adalah keluarga Dana-Nah-Karim. Apakah salah melarikan diri dari ibu yang berniat menjadikannya pelacur? Dan apakah salah melarikan diri dari orang tua yang memaksanya meneruskan bisnis keluarga? Mungkin tak terlalu salah jika bisnis keluarga itu bukanlah bisnis mencari berkah. Pekerjaan yang mulia menurut mereka yakni mengemis.
Ada kurang-kurang rapi dikit penulisan buku ini. Tapi aku berbaik sangka aja. Misal sewaktu Tango yang nama aslinya entah siapa (karena Salsa adalah Salisilah) menyebut kakak iparnya sebagai adik suaminya. Itu kuanggap salahnya Tango dan bukan salahnya penulis-editor. Ya saking ganjilnya karakter-karakter mereka sehingga kadar permaklumanku jadi tinggi :D.
Profile Image for Akrom Alfathih.
16 reviews1 follower
July 6, 2019
Menarik bila melihat sudut pandang yang disajikan oleh penulis yang sangat "urban" tingkat menengah ke bawah (bahkan terkadang dianggap sangat di bawah oleh masyarakat pada umumya). Permasalahan yang terjadi pun menjadikan kehidupan yang terjadi dalam kisah tersebut menjadi terhubung dengan apa yang mereka lakukan sehari-hari dalam konteks profesi yang amoral.
Profile Image for Dian Hartati.
Author 37 books35 followers
April 20, 2019
Jalin-menjalin menjadi tokoh-tokoh yang berusaha memenangkan kehidupan bagi diri sendiri.

Semoga cetakan kedua menjadi lebih baik dari segi editing. Sungguh mengganggu.
Profile Image for fara.
280 reviews43 followers
December 31, 2024
Novel ini berkisah mengenai lima pasangan dengan kronik kehidupan mereka masing-masing. Jalan hidup mereka saling beririsan, ditulis dengan begitu sabar sebab saya merasa untuk membangun imaji satu tokoh saja perlu narasi yang kuat. Tango & Sadimin mengemas kehidupan desa dengan baik seperti misalnya kepercayaan pada hal yang gaib, rumah bordil yang berdiri di tepian Sungai Cimanduy, penambangan pasir, proyek pembangunan bendungan, euforia orkes dangdut, penjelajahan manusia akan birahi dan seks, juga hierarki dalam masyarakat mulai dari agamawan seperti Haji Misbah yang dihormati tetapi memiliki jejak kelam berkaitan dengan Nini Randa hingga keluarga Ozog yang berprofesi sebagai peminta-minta. Kelak keturunan mereka saling berhubungan dalam untaian benang merah takdir dan nasib.

Hal-hal amoral seperti prostitusi, kemiskinan, akses pendidikan yang hanya menyentuh sedikit individu, perasaan iri dengki, perebutan kekuasaan dan perseteruan harta warisan yang identik dengan kehidupan rural juga tertulis dengan apik. Saya pikir Tango & Sadimin memiliki sedikit sentuhan Marquez (karena karakter-karakternya masih saling berkaitan dalam hubungan darah dan kesemuanya memiliki sifat dan pengalaman-pengalaman yang ganjil), juga deskripsi yang sangat detail soal perdesaan ala Ahmad Tohari. Adapun dalam beberapa paragraf saya juga seperti menemukan Eka Kurniawan. Namun, melalui beragam style dari penulis-penulis yang tercampur, ramuan tulisan Ramayda Akmal adalah sesuatu yang final dan nggak bisa disama-samakan.

Dibandingkan dengan novel Ramayda Akmal sebelumnya, Jatisaba, novel ini lebih berani karena formatnya acak, dengan subjudul (yang saya pribadi asumsikan sebagai 'peta' untuk menulis), alur plot nggak menentu, dan segala prasangka terhadap suatu tokoh maupun cerita diserahkan sepenuhnya kepada pembaca secara suka-suka. Inilah yang kemudian membuat segala keanehan dalam Tango & Sadimin lebih dapat 'dimaklumi' sebab penulis memberikan pembaca hak untuk berimajinasi liar sehingga nggak ada praduga tokoh mana yang perlu disalahkan maupun dibenarkan. Keseluruhan cerita juga dipungkasi dengan kejadian mengejutkan yang mengganjal dalam pikiran (bukan plot twist, tetapi lebih ke arah weird ending). Rumpang, tetapi tetap rampung.

Masalah paling krusial menurut saya adalah judulnya, mengapa Tango & Sadimin? Padahal pasangan lainnya juga memiliki problematika tersendiri yang porsinya juga nggak lebih sedikit dari Tango & Sadimin, bahkan premis Nini Randa di awal cerita merupakan kekuatan yang membawa cerita ke arah yang lebih jelas. Entah antara Nini Randa dengan Satun Sadat atau Nini Randa dengan Haji Misbah. Seperti pondasi yang membuat cerita-cerita selanjutnya berdiri dengan kokoh. Seperti pusat dari cerita-cerita lain yang mengelilinginya. Seperti cerita soal Dana & Nah yang bergulir hingga akhir, juga keluarga Ozog & Sipon yang seperti nggak tuntas dituangkan. Mengapa justru segalanya dititikberatkan pada Juragan Sadimin?

Kelogisan cerita pada beberapa bagian perlu dipertanyakan karena nggak konsisten, tetapi yang paling bikin sebal adalah salah ketik yang bertebaran di mana-mana (yang saya pegang memang cetakan pertama, tapi tetap saja sekelas penerbit besar kekeliruannya kelewat fatal hingga mengganggu kenikmatan membaca). Dan, karena terlalu banyak menggunakan personifikasi yang repetitif, kadang saya sendiri bosan dibuatnya.

Bagian paling mencuri perhatian saya adalah soal prinsip hidup Uwa dan Mono yang dipaparkan dengan begitu indah: Ada sebagian orang yang hidup tidak untuk mencari sesuatu, tetapi menikmati. Mereka berpikir dan mengamati banyak hal. Sementara orang bergerak, mereka tetap pada titik yang sama. Begitulah Uwa dan Mono. Mereka hanya mengamankan sedikit tempat untuk hidup, menikmati dunia di sekitar mereka, dan tidak membudakkan diri pada cerita-cerita atau perubahan. (halaman 120). Dari segala intrik antartokohnya, kekuatan dari paragraf tersebut mampu membuat saya berani memberikan bintang 4 (nyaris sempurna).
Profile Image for Cep Subhan KM.
343 reviews26 followers
June 4, 2020
A good second novel from Ramayda Akmal but not as good as "Jatisaba". I like the way Ramayda tells the story (I always like it) but, to compare it with "Jatisaba", the language used in this novel is not as "straightforward" as Jatisaba's and maybe because Jatisaba has Mae as one main focus of the story from the beginning to the ending, the characterization of Tango & Sadimin's characters is not as deep as Jatisaba. At the same time, the story is changing its focus in line with its five chapters and even if the story of Nah is implicitly completed (and so we could call this story as a complete story with the linear plot consists of five mini-stories containing its own mini-plots) but the way the story closed distracts it a little.

I am not so sure about it but I feel that the last chapter is composed not with the same certainty as the others. Its composition doesn't has the same strength in relation to the logic of the story and the plot building. If I find Ramayda as a pure storyteller in four earlier chapters, I find her as a tendentious storyteller in the last one and surely I like her earlier position more.

Unfortunately the book I have has a little disturbing wrong sequence number from page 154 to 184. Its wrong sequence is unique since it is classified into three group containing 8 pages per group. After page 154 I have page 167, 168, 165, 166, 163, 164 , 161, 162; after these eight pages, i have page 175, 176, 173, 174 until page 170, and then the same pattern 183, 184, 181, 182 and so on until page 178 and the uniqueness is ended since the page after that is composed in an ordinary sequence until the end of the book.

Whatever, I appreciate the book as a good novel from one of my favorite Indonesian novelists. I don't really feel disturbed by the fault in the sequence of its number page (ah, it gives me a unique reading experience, thank you to the publisher, 🤣) or what will be called by pretentiously important people as "a violance of writing Indonesian language in a right way" such as the writing of "Anda with a lowercase a" (c'mon men, it is not as important to be protested as the fact that we couldn't find explanation about word's etymology in KBBI, 🙊). Despite my unsignificant notes about my impression above I enjoy the novel and empty three glasses of coffee during my journey through its pages.
Profile Image for Aya Canina.
Author 2 books44 followers
December 24, 2019
Bukan Tango & Sadimin, semua bermula dari misteriusnya Nini Randa. Sementara pasangan tokoh lain menampilkan dinamika yang warnanya serupa: konflik suami-istri, Satun Sadat, bahkan setelah babnya bersama Nini Randa selesai, hampir tidak pernah berkelindan dengan tokoh manapun dan nyaris saya lupakan kalau saya tidak berhenti dan iseng merunut silsilah keluarga para tokoh ajaib ini. Labirin yang dibuat Ramayda rapi, terstruktur, dan tentu saja, menyimpan banyak kejutan di setiap belokannya. Kita tidak punya peta, itu sebabnya cara paling baik menemukan ujungnya adalah merangkak perlahan dan menikmati ornamen-ornamen kecil di sekelilingnya: penuturan yang lugas dan tidak membosankan, kadangkala puitik namun tidak menyulitkan, juga kelihaian Ramayda memaparkan realita sosial.

Tidak ada jawaban pasti. Di ujung, tanda tanya itu masih menggantung dan dibiarkan begitu saja. Yang mati akan mati, yang hilang akan hilang. Sekarang mari kita bernyanyi untuk merayakan prosa yang masuk jajaran short list Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 ini:

Di dasar kerat-kerat bir
yang kutenggak dalam kafir
di ujung ceracau malam yang lingsir
di detik lamban takdir yang terus bergulir
di dengung hambar aspal yang terus bergulir
di lubang-lubang nyinyir gubuk matrimoni
kupanggil panggil namamu, Nini
oh, Nini

meski beritamu kini sedang tak pasti
yakinlah pelacur dan mucikari kan hidup abadi


Sang Pelanggan (Silampukau)
nb: dengan sedikit modifikasi
Profile Image for Limya.
97 reviews6 followers
March 30, 2020
Alur sangat membosankan di awal, tetapi sangat seru dari klimaks hingga akhir. Akhirnya ternyata gantung, meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan. Nah ke mana? Apa ketemu? Apa yang menyebabkan Nah hilang? Mengapa novel ini judulnya Tango & Sadimin, padahal itu tidak begitu disorot? Kadang, aku berpikir, justru letak pusat novel ini berada pada kisah Nah dan Dana.

Penokohan Nini Randa begitu kuat, mungkin seperti Nyai Ontosoroh di Bumi Manusia. Tapi, lebih cocok disandingkan dengan Dewi Ayu di Cantik Itu Luka.

Aku suka bagian Ozog dan Sipon. Satu bagian ini penuh dengan satir yang getir. Kita bisa tertawa, tetapi juga merasa bersalah dan sedih secara bersamaan. Setelah Ozog dan Sipon, Nah dan Dana memiliki kisah yang sangat manis dan romantis meski sedikit drama.

Entah mengapa, gaya penceritaan Ramayda Akmal menurutku sangat similar dengan gaya penceritaan Ekur. Membaca bagian Nini Randa membuatku teringat pada Dewi Ayu di Cantik Itu Luka. Membaca bagian dari Nah dan Dana juga Ozog dan Sipon membuatku teringat pada novel O.

Novel ini akan kubaca ulang. Mudah-mudahan aku tidak tergoda oleh novel lain dan istiqomah pada novel ini untuk menjadikannya objek skripsi. Mohon doa dari setiap yang membaca ketikan saya ini.🙏

NB: Aku cukup kecewa dengan salah ketik yang cukup banyak dan mengganggu. Rasa-rasanya tidak perlu dijelaskan di sini, tetapi mudah-mudahan diperbaiki di cetakan kedua.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Novellina A..
Author 2 books17 followers
January 26, 2020
Novel bahasa Indonesia yang terakhir saya baca adalah karya Leila S Choiduri sekitar beberapa tahun yg lalu. Sejak tinggal di Korea, saya semakin jarang membaca novel berbahasa Indonesia.

Saya menemukan buku ini di Uranus saat pulang sejenak ke Indonesia, covernya mengingatkan saya pada buku2 Ayu Utami.

Tertarik, saya membaca selama di pesawat dan sehari kemudian saya menyelesaikannya.

Ini buku pertama yg saya baca dari tangan Ramayda Akmal dan saya sama sekali tidak tahu gaya penulisannya.

Buku ini adalah pemenang kedua sayembara menulis novel tentang kearifan lokal. Tema itu juga sumbu utama novel ini, berawal dari kisah tentang bayi yang secara ajaib bertahan hidup di alam liar hingga dia menjadi kekuatan setan utama di pinggir sungai Cimaduy. Selanjutnya kisah-kisah ia bertautan dengan Haji Misbah, orang terpandang di desa itu dan pasangan dewa pengemis yang hidup di sekitar mereka. Keturunan2 mereka saling berkaitan dan menggambarkan betapa kerasnya hidup di pinggiran sungai, kemiskinan, moral, ketamakan sebagai bekal utama mereka bertahan hidup.

It is refreshing story, sangat nyata dan dijahit dengan sangat bagus. Penulis banyak menggunakam personifikasi untuk menjabarkan detail sesuatu - sayangnya bukan selera saya.

Tulisan ini sangat indah dan baru, salah satu alasan yang membuat kita mencintai sastra Indonesia.
Profile Image for Mandewi.
574 reviews10 followers
January 18, 2020
Tango & Sadimin dibuka dengan #kalimatpertama yang dahsyat.

“Saat Nini Randa sedang merebus diri, ia melihat seekor jangkrik nangkring di salah satu kayu bakar tungku raksasanya.”

Selanjutnya, jalinan kalimat nan indah dan penuh misteri mulai mengalir. Alur cerita masa kini sangat pendek sehingga isi novel banyak menceritakan masa lalu. Masa lalu yang kelam dan somehow magis.

Ramayda Akmal dengan pandai menggunakan isu penambangan pasir, pembangunan bendungan, bisnis prostitusi, dan mabuk kekuasaan untuk menceritakan kisah yang dialami kelima pasangan dalam novel ini. Meski cukup banyak karakter, semua mendapat porsi yang adil. Saking adilnya, saya sampai nggak bisa menemukan alasan ‘Tango & Sadimin’ yang diangkat jadi judul buku. Terlebih lagi, permasalahan utama yang hendak dipecahkan adalah milik Nah & Dana

Mengenai persoalan utama yang hendak dipecahkan yang menurut saya sengaja digantung, mungkin kutipan dari halaman 160 ini jawabannya, “Kalau benda itu hilang, berarti bukan milikmu. Takdirnya tidak bersamamu. Kau diam saja. Tugas kita itu menunggu. Segala sesuatu yang berjodoh dengan kita akan datang dengan sendirinya.”
Profile Image for Asmin Kurniati.
22 reviews5 followers
October 13, 2019
Novel ini bercerita tentang beberapa tokoh di sekitaran Delta Sungai Cimanduy. Seorang bayi yang terhanyut lalu tersangkut, yang kemudian tumbuh dan menjadi sosok penting dalam novel ini. Juga seorang Haji dengan pesantren dan ambisi duniawinya. Serta keluarga pengemis yang kaya dengan pundi-pundi uangnya.

Tokoh-tokoh yang diceritakan dalam novel ini memiliki karakter yang sangat kuat. Masing-masing berdiri teguh dengan nasib mereka.

Ramayda Akmal menulis dengan lincah dan indah. Novel ini menampakkan kedewasaannya dalam bahasa dan cerita. Hampir sulit menemukan kesalahan dalam ejakan maupun penulisan.
Saya rasa novel ini pantas mendapat bintang 4 atas alur dan ide ceritanya. Semoga novel-novel Ramayda Akmal selanjutnya makin berwarna.
Profile Image for Hadiwinata.
49 reviews1 follower
November 2, 2020
Dalam hidup, kita memang membutuhkan dan lebih menyukai kisah indah / bahagia / menyenangkan. Sehingga kerap kali kita membeli buku atau menonton film percintaan. Tidak masalah. Itu kebutuhan. Namun, bagaimanapun, kita juga perlu membaca atau menonton film anti mainstream. Seperti novel Tango & Sadimin, pemenang Sayembara Novel Unnes 2017 ini, berkisah tentang mereka yang terpinggirkan, yang dijatuhi nasib buruk.

Novel ini ditulis dengan lancar dan rapi. Kisah-kisahnya masuk akal dan mengajak pembaca untuk melihat bagaimana kehidupan mereka yang terpinggirkan.

PS. Saya tidak tahu mesti memberi komentar buruk apa untuk novel ini (biasanya saya cerewet) . Saya rasa ceritanya cukup dan memang demikianlah seharusnya ditulis.
Profile Image for tata.
111 reviews5 followers
May 16, 2023
Aku agak kurang sreg dengan judulnya sebab Nini Randa justru menurutku tokoh paling ikonis dibandingkan Tango ataupun Sadimin. Jarak penulisan dari Jatisaba
dengan novel ini menurutku sangat jauh. Aku baca Jatisaba dengan sangat cepat, tapi baca ini benar-benar bikin kening mengkerut. Nggak ada transisi antaralur, antartokoh, dan pusat ceritanya. Jadi pas baca aku dilempar ke sana kemari. Jalan ceritanya sama sekali nggak bisa kutebak. Aku nggak ngerti ketika berada di halaman sekian, halaman selanjutnya akan membicarakan apa. Namun, dengan menulis yang “ngawur” ini malah bikin pembaca ingin segera mengetahui kisah selanjutnya. Ending-nya seperti ending kesukaan Mbak Ayda yang pernah kudengar di kelas: nggantung, nyungsruk, dan bikin syok.
Profile Image for Tyas.
Author 38 books87 followers
June 3, 2024
I came across this book one day at a bookstore, and something piqued my interest that I bought it despite never having heard of it before. More surprisingly, I finished it only a few days later, so fascinating the writing style is. I think it's one of those books that are under the influence of Latin American works (cmiiw) like Hundred Years of Solitude - a story about an imaginary town (where people speak Indonesian like nobody in real life does) full of problematic families and weird characters. Too bad the ending feels a bit anti-climactic - something that I think often happens to books that get too convoluted and kind of collapse under their own weight. Still, I love the smooth way the story is delivered.
Profile Image for Wahid Kurniawan.
206 reviews3 followers
May 25, 2020
Sejak menamatkan Jatisaba, novel keduanya ini langsung jadi incaranku. Aku berharap mendapatkan rasa tercengang yang sama, seperti yang kualami ketika usai membaca Jatisaba. Namun, sayang, di novel ini ada beberapa hal yang mengganggu. Yang paling kentara ya, PEUBI yang ditrabas itu. Panggilan "Anda" nggak dikapital, lalu ada salah pula di dialog tag, "apa pun" yang disambung, ini yang paling sering dan diulang-ulang mulu. Untungnya, ceritanya masih enak untuk dinikmati. Aku suka cara penulis mengisahkan dengan gaya yang macam labirin ini. Cerdas, tentu saja. Terlebih, dengan latar belakang tokoh-tokohnya yang saling berhubungan itu. Dan yah, sosok Nini Randa seketika mengingatkanku sama Dewi Ayu, cukup memorable ketika selesai membacanya.
Profile Image for Sandy.
13 reviews
February 21, 2023
Nasib, takdir dan ketidakpastian tentang hidup jadi tema besar dari novel Ayda dengan lima cerita yang saling berkelindan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya. Dari perbincangan singkat dengan penulisnya, novel ini memang proyek yang susah dan ditulisnya selama 5 tahun (dari note di akhir cerita 'Indonesia-Jerman, 2012-2017'). Ceritanya yang kupikir susah karna riset kesana kemari tetapi kata Ayda tidak semuanya riset, semua dari cerita pengalaman pribadi nenek, tetangga dan saudara-saudaranya...
Profile Image for nilajanari.
38 reviews
May 30, 2020
Sebenarnya saya menikmati novel ini. Hanya saja ada beberapa hal yang membuat saya canggung ketika membacanya. Jika mengingat dan mengaitkan keseluruhan isi novel, judul tidak merepresentasikan itu semua. Kemudian, bahasa percakapan yang terlalui puitis untuk menceritakan masyarakat miskin dan kurang berpendidikan membuat saya susah membayangkan orang miskin dan kurang berpendidikan seperti apa yang coba diceritakan penulis.
Profile Image for s t.
7 reviews3 followers
January 16, 2021
Baru saja menyelesaikan novel ini.

Bingung. Sebenarnya Nah ke mana, dan apa alasannya pergi.

Seperti review sebelumnya, saya juga menanyakan kenapa novel ini berjudul Tango & Sadimin, sedangkan beberapa karakter (Ozog dan Sipon) bahkan tidak pernah dijelaskan bersinggungan dengan mereka.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah saya melewatkan hal penting yang berujung pada kebingungan?





This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Tuna Gandum.
146 reviews1 follower
September 17, 2024
Tango & Sadimin tidak bercerita tentang Tango & Sadimin saja, tapi ada empat pasang lainnya. Cerita mereka beririsan, beradu, dan berhubungan menjadi sesuatu yang misterius dan ajaib. Karakter dalam novel ini sanga manusiawi, dengan kebaikan dan keburukannya masing-masing.

Kekurangan novel ini cuma dua: kurang panjang dan masih ada masalah di editing seperti salah tulis dan cetak hutuf miring yang tidak konsisten.
Profile Image for raafi.
929 reviews451 followers
August 8, 2025
Hal-hal yang mengakar dalam masyarakat beserta detailnya kerap menjadi faktor utama dalam karya sastra Indonesia. Dalam buku ini, semua itu terkuak. Menarik untuk mengikuti kisah seorang wanita yang katanya "sarang dosa". Menarik juga untuk mengikuti kisah keluarga pengemis yang sungguh taktikal. Pengin banget buat ulasan yang lebih panjang.
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
May 19, 2019
Seperti Jatisaba, aku pun menyukai novel ini. Dan kami -Komunlis akan membahasnya tanggal 15 Juni nanti. Datang ya!
Profile Image for Satria.
20 reviews4 followers
March 8, 2022
Ini buku asik, penuh konflik juga kompleksitas suatu masalah. Tapi kli ini Ramayda Akmal kurang asik dalam menarasikan cerita. Berbeda dengan Jatisaba novel sebelum nya.
Displaying 1 - 30 of 32 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.