Jump to ratings and reviews
Rate this book

Lelaki di Tengah Hujan

Rate this book
Reformasi 98 sungguh bukan hadiah yang jatuh dari langit. Bukan semata faktor krisis ekonomi regional dan jenuhnya rakyat atas rezim yang terlalu lama berkuasa. Tidak juga karena kerja satu dua orang yang tiba-tiba mendapat sebutan “Tokoh Reformasi”.

Jauh sebelum itu, ada gerakan senyap yang dimulai awal tahun 90-an. Selapis kecil para “pemberontak” menyiapkan bara bagi terbakarnya api reformasi 98. Bukan hanya di Jawa sebagai lokus utama, tapi menyiapkan jejaring sekam di titik dan organ penting republik. Represi dan pemberangusan adalah resiko gerakan yang setiap saat ditelan.

Novel ini berkisah tentang mereka yang bergerak dalam senyap itu. Mereka yang tidak tercatat dalam narasi besar sejarah 98. Mereka yang terus hening hingga hari ini dan tak hendak mengeklaim diri sebagai yang paling berjasa. Karena demikianlah kehidupan, bagian terpenting sering kali bukan yang tersurat di permukaan, tapi yang tersirat di baliknya, bahkan juga yang tersuruk jauh di kedalamannya.

Bujang Parewa, seorang mahasiswa UNS yang kesadaran akan ketertindasannya mulai terbuka saat ia mengikuti kegiatan pers mahasiswa. Melalui berbagai gerakan mahasiswa yang ia pimpin, dan berbagai usaha untuk menghindari tentara rezim, Bujang Parewa dan ribuan mahasiswa lainnya berhasil menumbangkan rezim Orde Baru. Perjalanannya dari Solo ke Jakarta bukan hal yang mudah. Pendidikan, keluarga, sahabat, dan cinta adalah hal yang harus ia korbankan sebagai seorang aktivis sekaligus mahasiswa.

364 pages, Paperback

Published February 1, 2019

16 people are currently reading
171 people want to read

About the author

Wenri Wanhar

3 books5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
17 (47%)
4 stars
10 (27%)
3 stars
7 (19%)
2 stars
1 (2%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Diamonda Putra.
25 reviews1 follower
August 6, 2022
Jika kamu ingin membaca novel yang serupa dengan Laut Bercerita, novel ini bisa jadi rekomendasi bacaanmu berikutnya.

Novel ini mengisahkan tentang seorang aktivis pergerakan pada zaman Orde Baru yang bernama Bujang Parewa. Novel ini diangkat dari kisah nyata. Dari profil penulis, aku tahu bahwa buku ini sebenarnya bermula dari catatan-catatan pribadi di dalam buku tulisnya. Ia mendapatkannya dari kisah-kisah yang dia dapat dari pergaulan di jalanan. Pada 2006, ia jadikan skripsi dengan seizin orang yang mempunyai kisah ini (Bujang Parewa??). Dan novel ini dibentuk tahun 2006-2009 ketika penulis dalam peralihan masa kerja di Monitor Depok dan Bisnis Indonesia. Judul buku ini merupakan kata-kata pertama penulis dalam buku tulisnya saat kuliah.
Peristiwa-peristiwa penting sebelum puncak kerusuhan pada Mei 1998 dijelaskan dalam buku ini. Peristiwa Kedung Ombo, Peristiwa Belangguan, Peristiwa Ngrambe & Boyolali, dan juga Peristiwa Sabtu Kelabu/Kudatuli. Dalam buku ini juga menyebut tokoh-tokoh penting pada zaman tersebut dan juga memiliki hubungan dengan Bujang Parewa. Seperti Budiman Sudjatmiko, Widji Thukul, dan Munir. Juga terakhir ada Ratna Sarumpaet yang menjenguk Bujang Parewa di penjara. Hidup Bujang Parewa—juga para aktivis pergerakan lainnya—diliputi konflik dan dikejar-kejar aparat. Tidur berpindah-pindah dan kabur dari satu kota ke kota lainnya sudah menjadi hal yang wajar saat itu. Mungkin disebabkan novel ini diangkat dari skripsi, jadi buku ini lebih banyak narasi dan seperti reportase sejarah. Namun, buku ini tidak terlalu sulit untuk dinikmati. Ada part yang mengingatkanku dengan Laut Bercerita. Seperti pada peristiwa Belangguan, yang mana tidak jadinya aksi tanam jagung membuat para mahasiswa mengubahnya dengan aksi di Kantor DPRD Surabaya. Saat ingin kembali ke Yogyakarta, sembari menunggu bus di terminal Bungurasih, beberapa mahasiswa diringkus; termasuk Budiman Sudjatmiko. Dan beberapa berhasil melarikan diri (mengingatkanku pada Laut), termasuk Joni Trotoar (baca buku ini untuk mengenalnya). Banyak yang bisa diceritakan dari buku ini sebab saking padatnya isi buku ini—dan aku tidak mau spoiler hehe. Diceritakan juga bagaimana pergolakan hidup yang dialami Widji Thukul, hingga dia menghilang begitu saja. Buku ini—selayaknya novel yang berlatarkan sejarah 98—akan membuatmu bergidik ngeri membayangkan bagaimana para mahasiswa pergerakan yang dianiaya, ditendang, dipukul, disetrum dan beragam bentuk penganiayaan lainnya. Buku ini juga menjelaskan bagaimana pembentukan SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi), lalu bagaimana perjuangan panjang PRD (Partai Rakyat Demokratik) terbentuk, yang juga dituduh menjadi dalang dibalik peristiwa 27 Juli 1996. Diceritakan juga bagaimana sangat pentingnya peranan dari lembaga-lembaga pers mahasiswa. Banyak produk-produk Orba yang hingga saat ini masih melekat: sinisme terhadap rambut gondrong dan pelabelan PKI atau komunis kepada yang bersebrangan dengan pemerintah. O ya, buku ini juga dilengkapi ilustrasi-ilustrasi cantik yang beraura perlawanan dan pemberontakan. Membuat cerita menjadi lebih hidup. Aku juga berpikir: betapa banyaknya dosa-dosa terhadap sesama manusia yang terjadi di Orde Baru.

Ada satu kutipan:
"Anda tahu, Tuan Kapolda? Dulu negeri ini didirikan dengan cita-cita untuk menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Namun, rezim Soeharto membalikkan tujuan luhur itu. Jangankan kesejahteraan, bahkan hak untuk hidup bebas dan berpendapat sesuai fitrah luhur manusia yang dibekali akal budi sudah diberangusnya demi kepentingan diri dan kroni-kroni." Parewa berkata lantang.
"Benarlah kiranya apa yang diramalkan Soekarno tempo dulu. Perjuangan kami di tahun-tahun kemerdekaan akan lebih berat. Bukan karena persenjataan musuh yang kian canggih, tapi karena kini yang harus dihadapi adalah bangsa sendiri. Dan sekarang, kami harus berhadapan dengan anda dan pasukan. Institusi yang seharusnya mengamankan rakyat, bukan memenangkan penguasa." Tutur Parewa tajam sambil terus menatap mata sang Kapolda. (Halaman 48)

Sekian review buku dengan tebal 395 halaman ini. Buku ini recommended untuk dibaca!
Profile Image for Juinita Senduk.
120 reviews3 followers
May 18, 2025
Jika berharap Lelaki Di Tengah Hujan akan menyajikan fiksi sejarah reformasi 98 yang sarat dengan romantisme, buang saja harapan itu.

Diawali dengan peristiwa Peledakan Bom Tanah Tinggi di hari Minggu, 18 Januari 1998, penangkapan Bujang Parewa, tentang Suyat dan Jati yang tidak mampu menyelamatkan Bujang Parewa serta penyiksaan demi penyiksaan yang dialami Bujang Parewa. Interogasi dengan Hamimi Nata, Kapolda Jakarta, kisah pun kemudian bergulir bergerak mundur ke awal pergerakan mahasiswa dimulai.

Pergerakan mahasiswa yang dimulai dari kepedulian mereka terhadap penderitaan rakyat akibat peraturan-peraturan pemerintah Orde Baru, jauh sebelum Peristiwa Mei 1998 meletup.

Saya seperti membaca kembali kilas balik berita-berita yang saya baca dulu, seperti Kedung Ombo, Peristiwa Kuda Tuli, Pembentukan PRD, namun kali ini dengan pengertian yang lebih mendalam tentang peristiwa-peristiwa tersebut dari sudut pandang gerakan mahasiswa.

Bagaimana mereka berusaha menjaga Wiji Thukul agar tetap selamat dalam pelariannya, saat Wiji Thukul kemudian hilang ditelan bumi. Rasanya seperti membaca berita dari tangan pertama.

Gerakan bawah tanah mahasiswa, pergerakan mereka bersatu bersama buruh agar bisa menyelami penderitaan para buruh, membuat saya merenung.

Tertangkapnya para tokoh, penderitaan psikologis akibat siksaan yang dilakukan aparat selama mereka ditahan, pendampingan yang dilakukan terhadap mahasiswa-mahasiswa sebelum peristiwa Mei'98 meletup.

Dari tiga fiksi sejarah Reformasi '98, baru kali inilah saya menemukan fiksi yang menggambarkan Gerakan Mahasiswa bergerak bersama rakyat menumpas ketidakadilan lewat peristiwa-peristiwa yang selama ini luput dari berita, tentang tindakan represi yang melebihi batas kemanusiaan, dampak psikis yang dialami mereka, bukan saja mereka yang diculik, tetapi mereka yang sudah berdemonstrasi sebelum Peristiwa '98 itu terjadi.

Pertanyaan selanjutnya, siapakah Bujang Parewa yang disampaikan Wenri Wanhar, yang masih setia pada jalurnya.

Fiksi Sejarah ini menurut saya patut dibaca oleh siapa pun, terutama bagi mereka yang tidak mengalami Peristiwa '98.
Profile Image for Kido.
2 reviews1 follower
November 13, 2024
this book is also about reform of 98. Kinda heavy words but still good if you want to know about the regime. Complex with a plot that goes back and forth, that's why don't read it too fast to make sure you understand about the story. The background of this story is mostly in Jakarta. Central Jakarta.
Profile Image for Chels.
188 reviews3 followers
September 14, 2025
Novel ini membahas gejolak politik pada 1990-an. Bermula masuknya Parewa ke UNS, ia membawa pembaca ke ruang lingkup organisasi. Dari organisasi kecil, Parewa bergabung ke organisasi yang lebih besar. Dari SMID menjadi PRD. Sebagian besar novel ini mengusung isu aktivisme mahasiswa dan urgensi berorganisasi. Banyak peristiwa yang disampaikan, sebelum meletusnya puncak 1998, seperti isu penggusuran Benteng Vastenburg di Solo, isu Kedung Ombo, Peristiwa Belangguan, Peristiwa Ngrambe & Boyolali, dan sebagainya. Peran Parewa di sini sebagai pemantik puncak amarah masyarakat. Ia berniat meledakkan bom sebagai tanda amukan masyarakat atas kebijakan pemerintah. Namun, bom itu meledak sebelum waktunya sehingga Parewa ditahan. Jadi, puncak demo 1998 tidak dikisahkan di novel ini, tetapi kisah di balik penjara pada periode itulah yang disampaikan penulis.

Aku memiliki ekspektasi yang tinggi untuk novel ini. Sayangnya, eksekusinya sangat kurang bagiku. Parewa digambarkan sebagai individu yang sempurna, superpower, dielu-elukan oleh banyak orang. Kesannya terasa palsu sehingga membosankan. Selain itu, penulis belum mampu menciptakan emosi tokoh dan ketegangan konflik dengan baik. Bagian yang menurutku potensial menjadi konflik justru dipadatkan menjadi narasi sehingga—tentu saja—membosankan. Dialog yang dihadirkan hanyalah obrolan tanpa makna atau terlalu teoritis sehingga cerita tidak terbangun dengan baik. Tak hanya itu, informasi yang disampaikan pun sangat padat, too much tanpa jeda, sehingga membuat pusing dan lelah. Aku pun bingung alasan penulis menyajikan informasi yang sangat banyak itu untuk apa sebab aku tak menangkap korelasinya dengan sikap dan/atau pemikiran yang akan dilakukan tokoh.

Nilai plusnya, penulis benar-benar membawa realitas masa lalu dalam novel ini. Nama aktivis, polisi, bahkan pengacara yang asli dimasukkan sebagai tokoh. Bahkan, laku Widji Thukul dijabarkan. Sebelumnya, tak pernah terbayang olehku bahwa Widji Thukul akan memiliki dialog dalam novel. Namun, ternyata novel ini memberinya porsi sebesar itu. Hal ini mungkin bisa menjadi kelebihan, tetapi juga kekurangan. Aku sebagai pembaca menjadi tidak bisa membedakan isinya: apakah bagian ini fiktif atau nyata? Aku jadi mempertanyakan keaslian banyak hal, padahal seharusnya aku hanya cukup menikmati alur saja kan jika membaca novel. Terakhir, ada hal yang luput dikoreksi editor, seperti tanda baca dan huruf kapital.
Profile Image for Kartika Kariono.
17 reviews3 followers
February 10, 2021
Sebuah novel sejarah peristiwa gerakan mahasiswa menentang orba di tahun 90-an. Dimulai dari pers kampus di Kota Solo. Kota yang sesungguhnya begitu luar biasa.

Kisah ini berdasarkan kisah nyata, yang tentu dibumbui fiksi yang didramatisir. Tokoh dalam novel ini nyata, dengan penyebutan nama secara gamblang, ataupun nama alias bahkan penggantian nama, seperti terjadi pada tokoh utama,Bujang Parewa.

Cerita ini berdasar skripsi dan reportase yang memperkenalkan kita pada kisah-kisah aktifis pergerakan dengan upaya detail locus sebagai latar. Dari kedung ombo, SDSB, lembaga-lembaga bentukan orba, hingga peristiwa kudatuli dan ledakan rusun Tanah Tinggi, dan rentetan kisah yang saling terkait.

Sehingga saat membacanya terkadang saya gagap pada alur kisahnya, apalagi efek penjelasan tokoh.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for ninis.
48 reviews2 followers
February 10, 2022
Novel sejarah yang pertama kali aku bacaa dan berhasil aku selesai, fyuhhh. Kerenn karna based on true story walaupunn yaa banyak ketambahan bumbu2 fiksinya.. overall baguss lah, aku suka. Baca ini tu jadi bener bener ngerasainn perjuangannya para aktivis kala ituu. Suka duka nyaa lahh, dann kapan dan dimana aja tu kita bisa jadi buronan, sereemm lahh pokoknyaa kalau dibayangin. Nama tokoh2 dalam buku ini juga digamblangin sangat smaa penuliss, so berasaa banget feel bacanyaa. Jujurr, aku kurang ga ngerti alurnyaa, jadi bacanya di situasi atau keadaan yang emang harus fokus. Di akhiran ceritaa ini menurutku aga ngebosenin si, pokoknya setelah Joni Trotoar ga balik lagii, disitu akuu udah ga minat baca sebenarnyaa... Tapiii ohh tapi akhirnya tetep kutamatinn jugaa ini bukunyaa. Yey!!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Martinus Danang.
9 reviews3 followers
October 25, 2019
Melihat sejarah pergerakan mahasiswa yang dituturkan dengan sastra. Novel yang tetap relevan hingga saat ini untuk membangun gerakan mahasiswa.
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.