Politik adalah sesuatu yang rumit. Penuh kejutan seperti cerita misteri yang tak berujung. Dan, tidak pernah sesederhana seperti yang terlihat.
Keterikatan Pandji dengan dunia politik berawal dari banyak hal yang membuatnya gelisah. Ia pun menuangkannya lewat lagu, buku, hingga stand up comedy. Namun, ketika akhirnya Pandji terseret lebih dalam lagi dan terlibat sebagai tim kampanye, ada banyak hal mengejutkan yang tidak ia duga sebelumnya.
Pengalaman Pandji nyemplung ke politik dibahas secara mendalam di buku ini. Mulai dari ketertarikan pertama, keterlibatannya dalam kampanye, hingga pandangannya terhadap politik pada masa depan. Tak hanya itu, ia juga memberikan starter kit demokrasi dan politik untuk kita semua, terutama bagi pemilih muda yang masih kebingungan dalam meletakkan aspirasinya.
Bagi Pandji, nyemplung ke kolam politik sama saja seperti nyemplung ke septictank. Temukan alasannya di buku ini.
Ini buku Pandji pertama yang saya baca dan temanya mengenai politik, menceritakan pengalamannya dari kecil sampai saat ini nyamplung ke kolam politik yang dianggap banyak orang sebagai dunia kotor dan busuk, sehingga mungkin karena alasan ini buku ini diberi judul Septictank.
Pembahasan politik biasanya rumit, panjang, dan sulit dimengerti sehingga biasanya lebih banyak waktu untuk menyelesaikan suatu buku mengenai politik. Sedangkan buku ini walaupun bertema politik namun termasuk mudah dimengerti, ditambah menggunakan bahasa asyik dengan ciri khas Pandji sehingga lebih mudah dimengerti.
Kalau dibandingkan monolog Pandji mengenai politik di Youtube yang rata-rata berdurasi 30 menit, buku ini tentu jauh lebih mudah dimengerti. Saya sendiri cenderung banyak lewat dan bosan ketika menonton video monolog Pandji tentang politik (kecuali video dialog), pembahasannya bertele-tele, muter-muter, dan ngabisin banyak waktu. Sedangkan buku ini sangat menarik isinya dan mudah dimengerti, seolah-olah apa yang dibicarakan selama ini di Youtube terangkum dengan baik dalam buku ini. Saking menarik dan mudah dimengerti, buku ini dapat diselesaikan dengan cepat meskipun baca santai. Salut sekali dengan cara penulisan dan pengaturan tata letak buku ini sehingga menghasilkan karya yang sangat baik.
Seru sekali membaca pengalaman Pandji mengenai politik, dan terkadang beliau sisipkan pendapatnya mengenai politik yang tentu saja sebagai pembaca kita berhak setuju ataupun tidak setuju. Pada akhirnya buku ini termasuk buku tema politik yang tidak membosankan untuk dibaca, dan saya rekomendasikan untuk orang-orang yang ingin mengetahui pengalaman Pandji mengenai politik, terutama "teman-teman" Pandji.
Karena kalah bersaing dalam perebutan tiket nonton show Septictank, saya yg penasaran akhirnya membeli bukunya saja. Saya rasa sih, apa yg disampaiin di buku bukan apa yg dibawain di show, karena isi buku ini sama sekali bukan jokes. Haha Posisi bang Pandji yang unik (pernah ada di dua kubu besar yg sedang berkontestasi politik saat itu) menjadikan sudut pandangnya cukup fair. Kalo kata temen yang nonton langsung shownya, dua-duanya kena roasting lah. haha
Di buku ini bang Pandji menceritakan pengalaman berpolitik dari mulai kecil nikmatin uang dari politikus, berinteraksi dengan politikus, bikin acara TV bertema politik sampai nyemplung sendiri di kolam politik sebagai juru bicara. Kalau ngikutin channel dan baca tulisan Pandji di webnya mungkin akan ketemu beberapa hal yang ga baru. Saya paling seneng tulisan tentang Provocative Proactive, dan cerita soal Pak Anies (baik ketika mau maju capres dari demokrat dan tentang pilgub DKI). Tapi refleksi pengalaman politiknya juga tidak kalah menarik, di mana setelah nyemplung learning apa yg didapat.
Tentu kita tidak harus 'memakan' 100% apa yg dibaca dari pemikrian Pandji di sini. Apalagi di salah satu videonya dia negasin kalau dia bukan politikus, tapi komedian. Jangan telan mentah-mentah semua yang dia sampaiin. Kalau cocok ya telan, kalau ga cocok ya muntahin lagi. Atau kalau ada yang cocok dan terlanjur ketelan, ya biarin aja. Nanti juga jadi tai dan masuk septictank. haha
Tapi hal yg sangat keren yang gw liat adalah, bang Pandji cukup bisa jadi jembatan buat ngebuka mata orang-orang dari berbagai kubu. Mungkin kedepan mesti lebih banyak orang yang jadi jembatan biar di tiap kubu ga makin banyak orang yang mabok dengan pikiran-pikirannya sendiri. Goks!
Awalnya beli buku ini karena saya adalah salah salah satu orang yg "tertarik" dengan pola pikir Pandji Pragiwaksono. Cukup banyak kanal pribadi Pandji yang saya ikuti. Cara pandangnya dalam melihat situasi atau masalah, sedikit-banyak memberi saya wawasan baru.
Sebelumnya saya lebih mengikuti kiprah komedian lain seperti Raditya Dika atau Ernest Prakasa. Sudah hal lumrah untuk seorang stand up comedy untuk menerbitkan buku.
Jadi begitu saya mengetahui Pandji meluncurkan buku yang bertajuk sama dengan stand up tour nya yaitu "Septictank" saya langsung tertarik untuk membaca.
Saya berasumsi, buku yang akan dikeluarkan Pandji sama halnya dengan stand up comedy-an yg lain. Yaitu sudut pandang pribadinya mengenai suatu isu sehari-hari dari sudut pandang komedi yang a'la Pandji banget. Kalau dalam konteks buku ini, berarti sudut pandang komedi Pandji dalam hal Politik dan pengalamannya "nyemplung" di dunia Politik.
Tapi, ternyata saya salah kaprah. Pandji bercerita mengenai cara pandangnya mengenai politik, berpolitik, dan pengetahuan mengenai politik dengan cara yg cukup serius dan sangat "raw". Meski menggunakan bahasa yang ringan dan cukup mudah dipahami. Tapi buku ini tetap saja bernuansa "serius". Jauh berbeda dengan buku komedian-komedian lain yang sejauh ini sudah saya baca.
Saya tidak kecewa dengan buku ini, hanya saja saya terlanjur berpikiran bahwa buku ini merupakan buku komedi.
ini buku Pandji pertama yang saya baca. Di dalam buku ini mengulas tentang proses panjang Pandji hingga mulai peduli dengan dunia politik Indonesia.
Diawali dari acaranya yang ditayangkan di Provocative Proactive, Pandji mulai kenal dengan tokoh-tokoh politik dan gagasan-gagasannya. Selanjutnya Pandji mulai terjun beneran ke dunia politik dengan menjadi tim beberapa calon pemimpin, sebut saja Faisal Basri dan Anies Baswedan.
yang membuat menarik buku ini adalah penjelasan Pandji tentang pengalamannya yang tidak mengawang-awang. Ia menuliskan setiap peristiwa dengan jelas dan jujur.
Karena sempat menjadi bagian dari tim kampanye, Pandji dengan baik menjelaskan cara kampanye calon yang ia dukung dan lawannya sehingga pembaca diberi pemahaman baru tentang cara kampanye dan kesepakatan-kesepakatan politik.
buku ini baik untuk dibaca berulang untuk orang yang mau terjun ke dunia politik
beberapa cerita yang ditampilin Bang Pandji di buku ini beberapa pernah ditulis di blog atau vlognya beliau, seingat saya. Tapi isi bukunya tetap menarik untuk disimak meski sudah pernah dengar sebelumnya.
layout nya sangat bagus, beberapa hal penting di highlight dengan coretan seperti stabilo. Tapi dibeberapa halaman, tampilannya agak sedikit berlebihan menurut saya.
Ekspetasi saya untuk buku ini, Bang Pandji menceritakan banyak hal rahasia dan menarik di dunia politik yang belum pernah kita ketahui. Namun cerita dibuku ini masih belum terlalu tebal jika dibandingkan dengan pengalaman Bang Pandji nyemplung di Politik.
Gaya penulisan Bang Pandji bagus dan khas seperti di blog.
Yang kurang, dibuku ini wikipedia.id dijadikan sebagai rujukan. Gak salah mungkin, tapi yaa gimana gitu.
dua pertiga awak buku ini berisi tentang menjadi manusia (warga negara) demokratis yang ideal. cocok dibaca oleh anak SMA hingga mahasiswa tahun awal. mereka masih mempunyai pemikiran yang idealis, positif dan punya nenergi yang banyak untuk berdiskusi. layout buku dan ilustrasi yang terkesan meriah ini juga makin membuat buku ini cocok dibaca oleh anak-anak muda. . jadi yang nyari pembukaan konspirasi-konspirasi politik, mungkin akan mendapatinya di satu pertiga selanjutnya isi buku ini. meski ya nggak yang kontroversial banget, tapi cukup membuatmu berpikir ulang dalam menilai seorang tokoh. . ada bagian-bagian yang membuat tertawa karena kena prank bersama. ada bagian yang terlalu dini untuk diasumsikan. ada bagian-bagian yang membuat mengernyitkan alis. . satu kalimat yang aku tangkap setelah membaca buku ini; poros ketiga adalah manusia.
buku ini membahasa pengalaman Pandji nyemplung ke dalam dunia politik. Mulai dari ketertarikan pertama, keterlibatannya dalam kampanye, hingga pandangan terhadap politik masa depan.
Jujur, aku kira buku ii akan mengungkapkan suatu hal paling buruk yang berada dalam politik Indonesia. Karena memang dari judulnya, atau bahkan penekanan di buku ini yaitu "nyemplung ke kolam politik" atau istilah "septictank" yang gak usah dijelaskan lah ya, pasti berbau hal-hal kotor-busuk. Tetapi justru lebih seperti Memoar perjalanan politik penulis, mulai dari awal mengenal politik, memilih keberpihakan politik, bahkan aspirasi penulis sendiri. Bagus, tapi agk gak sesuai ekspektasi aku.
Insight-insight baru yang aku dapat tentang dunia politik juga banyak. Dan untuk aku yang masih muda ini cukup bermanfaat.
kesan pertama setelah membaca : seperti membaca blog nya Pandji. Terlepas dari beberapa hal yang menjadi pertanyaan namun tidak terjawab di buku ini, buku ini memberikan insight (dari sudut pandang (pengalaman) Pandji) tentang dunia perpolitikan yang ia masuki. Bagaimana ia memulai memasuki dunia perpolitikan hingga preferensi politiknya. Mungkin karena tulisannya berisi pemikiran-pemikiran, jadi di tengah-tengah agak bikin ngantuk dan bosan.
Edukasi politik yang baik untuk anak muda/seseorang yang belum pernah nyemplung langsung ke politik.Hanya saja buku ini ada unsur kontroversi yang menurut saya agar isinya jauh lebih menjadi netral dan tidak bias untuk semua orang,disediakan kontoversi dan kelebihan dari masing masing timses,meskipun saat itu kondisi penulis menjadi salah satu timses paslon. Overall isi bukunya bagus,membuat pikiran kita lebih jernih dalam melihat sesuatu terutama dalam hal politik.
Paruh kedua buku ini lumayan semacam jadi plot twist karena walaupun Pandji pernah dalam satu payung dengan Jkw, tapi dia sudah sadar ada yang salah dengan pemerintahan Jkw, bahkan di akhir periode pertama.
Pandji juga menawarkan "ramalan" yang ia tulis, yang ketika dibaca di tahun 2025 jadi lucu, karena - (ia menulis masyarakat Indonesia akan semakin pintar, sehingga peran influencer dan buzzer akan semakin irrelevant) nyatanya, kita belum sejauh itu. Sayang sekali.
Bacaan menarik selama penerbangan Makassar ke Jakarta sore ini. Sekali lagi membuktikan bahwa keahlian komunikasi itu penting. Cara Pandji menjabarkan opininya dari pengalaman dan pengamatan sangat baik. Another good read from Pandji... Semakin ingin berusaha untuk terus belajar, termasuk tentang politik.
Berisi pengalaman Pandji yang bersentuhan dengan dunia politik. Buku ini sangat ringan untuk dibaca meskipun berisi pemikiran-pemikiran Pandji yang ingin ia perdengarkan kepada kita. Pengalaman membaca buku ini seperti berbicara langsung dengan Pandji, dikemas dengan cerita yang mengalir, halaman yang penuh quotes dan berwarna, serta komedi yang menghibur.
Berisi tetang pengalaman pandji masuk dalam kolam politik. Mulai sejak SD, dari temannya waktu sd yg berhubungan dengan pengusaha ternama di Indonesia, sampai cerita saat beliau menjadi pendukung salah satu gubernur di ibu kota
Saya selama ini (cenderung) menghindari politik praktis. Tapi... buku Pandji ini mengingatkan saya untuk selalu aware pada politik sebab semua kebijakan yang kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari berasal dari sana. Thank's, Pandji!
Baru tau Pandji se-insightful ini. Buatku yang nggak terlalu paham politik, ini lumayan mencerahkan sih. Sedikit banyak ngerti kenapa politik itu penting, gimana pilih caleg, apa yang harus dipertimbangkan.
Kisah di balik layar tim sukses Pak Anies di Pilkada 2017. Seru. Informatif. Semacam refleksi Bang Pandji setelah ikut mentas di pemilihan umum negeri kita. Wajib dibaca.
Buku ini menguak kenapa stand up berjudul sama di Jogja tidak dipublikasikan. Jangan baca kalau kamu die hard politisi, mau Ahok, Anies, this book kills you softly.
Buku yang ditulis oleh Pandji Pragiwaksono berisi cerita pengalaman mulai masuk ke dunia politik, pelajaran yang dia dapat selama berpolitik, dan pandangannya tentang bagaimana seharusnya berdemokrasi. Sebenarnya ini adalah judul stand up special oleh penulis sendiri. Selain dijual dalam bentuk digital download, materi juga disampaikan dalam bentuk buku. Tinggal kita lebih suka membaca atau melihat. Keduanya menurut saya sama-sama bisa dinikmati. Karena bahasanya ditulis dengan ringan dan mengalir.
Pertama seperti biasa saya akan mengulas tentang 'penampilan'. Penuh warna. Berisi tidak hanya tulisan tapi diberikan juga ilustrasi yang menarik. Beberapa halaman hanya berisi tulisan, beberapa halaman menggunakan background sketsa kota jakarta, beberapa halaman menampilkan highlight dari bahasan saat itu. Selain kalimat penting yang ditampilkan terpisah, juga terdapat kalimat yang seperti di-stabilo untuk menunjukkan bahwa kalimat tersebut perlu diingat. Review lebih panjangnya sila ditengok di https://bukureviewbuku.wordpress.com/... ;)
Septictank: Pengalaman Nyemplung ke Kolam Politik by Pandji Pragiwaksono is a candid, insightful, and often humorous account of the author’s foray into the turbulent world of politics. Known for his bold and unfiltered voice, Pandji uses this book to share his experiences and lessons learned during his time navigating the political landscape, offering readers a behind-the-scenes look at the often murky waters of Indonesian politics.
Pandji’s writing is engaging and direct, reflecting his characteristic blend of humor and sharp social commentary. He doesn’t shy away from discussing the challenges and frustrations he encountered, and his honesty adds a refreshing authenticity to the narrative. The book is filled with personal anecdotes and reflections that make the complex and sometimes overwhelming world of politics more accessible to the average reader.
One of the key strengths of Septictank is its ability to demystify politics without oversimplifying it. Pandji breaks down the realities of political life in a way that is both informative and entertaining, making it clear why politics can be such a difficult arena to navigate. His observations are often sharp and incisive, providing valuable insights into the workings of power, influence, and public perception.
While the book offers a wealth of knowledge and plenty of laughs, there are moments where the narrative feels slightly repetitive, especially when Pandji revisits certain themes or experiences. However, this is a minor drawback in an otherwise compelling and thought-provoking read.
Septictank: Pengalaman Nyemplung ke Kolam Politik is more than just a memoir—it’s a reflection on the broader political environment in Indonesia and a call to readers to be more informed and engaged citizens. Pandji Pragiwaksono’s unique perspective and relatable storytelling make this book a valuable resource for anyone interested in politics, whether you’re an aspiring politician, a curious observer, or simply someone who wants to understand more about how the political system works.
Overall, this book is a must-read for those who appreciate a mix of humor, insight, and real-world experience, delivered by one of Indonesia’s most outspoken and thoughtful public figures.
Double P, Pandji and, Politics explained in this book, how Pandji receives his first money from his friend whom his father of his friend was a big name in politics. And there's a much more intriguing story between Pandji and Politics, definitely worth your time.