Buku puisi yang berisikan tentang bucin hehe. Kata-katanya bagus, puitis banget. Tentang seorang lelaki yang menggambarkan sosok perempuan miliknya, hingga puisi tentang perselingkuhan. Sejauh ini, aku selesai baca hanya dengan sekali duduk aja, karena satu halaman itu gak full tulisan semua, ada ilustrasi dan gambarnya ciamik.
"Buku adalah kamu, kamu adalah buku. Kuhanyut di dalam huruf-hurufmu. Di jutaan pori-pori tubuhmu. Perempuan buku hidupku, antar aku aku hingga titik terakhirmu. Di halaman paling akhir buku hidupmu." -petikan puisi halaman 12.
Kalau menurutku, membaca puisi Kang Maman pada buku ini seolah kita melihat perjalanan seorang pasangan dari awal hingga akhirnya menemui akhir cerita keduanya.
Diksinya sederhana, tetap tersampaikan rasanya. Terdapat juga ilustrasi yang menambah nilai estetika buku ini.
Perjalanan laki-laki yang mengagumi dan mencintai sosok perempuan ini tertulis dalam 5 bab: - Lelakimu - Perempuanmu - Cinta - Selingkuh - Pertobatan
Terima cinta Apa adanya Mencari sempurna di muka dunia Hanya tenggelamkanmu ke ruang hampa (h. 71)
🙍🏻♀️👱🏻♀️PEREMPUAN JIKA ITULAH NAMAMU🌹 ✍🏻 Penulis: Kang Maman @kangmaman1965 🎨 Ilustrator: Dyndha 📕 Penerbit: Grasindo @grasindo_id 📆 Tahun Terbit: 2018 (Cet. ke-4, Nov 2021) 📑 Halaman: 187 🔖 Genre: Puisi (17+)
Buku ini berisi puisi-puisi karya Kang Maman yang dibagi ke dalam beberapa bagian. Dimulai dari "Lelakimu" dan "Perempuanku". Lantas dilanjutkan dengan "Cinta", "Selingkuh", dan "Pertobatan". Lalu ditutup dengan selembar "Epilog".
Bagiku jelas sudah bahwa buku ini berkisah tentang fase memahami perempuan melalui proses mencinta dan dicinta. Setiap kata yang tertulis begitu elok dan sarat makna. Tak jarang puisi-puisi ini membuatku terbayang dengan kisah dan rasaku sendiri 🙃 Tidak sekedar manis, namun juga terselip pahit. Tak jarang juga menimbulkan tanya.
Sebagaimana puisi pada lazimnya, orang lain yang membacanya mungkin mampu menangkap makna dan rasa yang berbeda. Jadi langsung saja, baca dan resapi sendiri puisi ini!!! Atau, kau juga dapat membacanya bersama dengan dia yang kau cinta 😌
Satu lagi yang kusuka dari buku ini adalah ilustrasinya yang menarik! Sangat menawan dengan perpaduan tinta hitam dan warna biru sederhana.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebagai perempuan, baca buku ini bikin salting. Isinya puisi tentang laki-laki yang sedang jatuh cinta pada perempuan. Walaupun si laki-laki sempat mengkhianati si perempuan, tapi si perempuan tempat kembalinya.
13.12.21 Perempuan, Jika Itulah Namamu... • Kang Maman • Grasindo • Cetakan ketiga, 2020 • 186 hlm.
"Cinta tak butuh alasan Ia alasan Sekaligus tujuan" - Hlm. 50
Buku puisi ini berkisah soal sebuah perjalanan hubungan lelaki dan perempuan yang terbagi ke dalam lima bab: Lelakimu, Perempuanku, Cinta, Selingkuh, dan Pertobatan--tentu saja dua bagian yang terakhir tidak pernah diharapkan hadir dalam kehidupan kita.
Dua bab pertama seolah menceritakan sebuah perkenalan antara dua sosok manusia: lelaki dan perempuan. Selanjutnya, kita akan diajak menikmati asmara yang senantiasa bergelora. Kita akan terhanyut ke dalam barisan kata penuh cinta yang diselingi lenguhan, desahan, dan erangan.
Setelah tenggelam dalam kolam madu di bab "Cinta", hatiku memanas membaca soal perselingkuhan. Sungguh, saya tidak suka mengakui bahwa Kang Maman berhasil membuatku kesal karena membaca dua bab terakhir buku ini. Kenapa harus ada "Perselingkuhan"? Kenapa buku ini tidak cukup ditutup dengan kisah cinta yang panas dan senantiasa bergelora? Namun, kini kusadari, cinta yang nyata sering kali seperti itu: tidak melulu hangat, terkadang dingin--hingga mencari sumber kehangatan baru. Kedua bab ini justru mengingatkan pembaca akan kehancuran yang bakal terjadi seandainya perselingkuhan hadir di tengah kisah cinta dua insan.
Puisi dalam buku ini tidak hanya terdiri dari puisi panjang yang aksaranya memenuhi satu halaman penuh, tetapi juga ada yang diisi dengan beberapa kata saja. Saya justru menikmati puisi pendek--yang lebih terasa mirip dengan quote--karena saya lebih mudah menangkap pesan penulis yang lugas dalam perwujudan kalimat singkat.
Dari segi tampilan, saya menyukai desain sampul yang dihiasi ilustrasi minimalis serta efek emboss pada gambar dan tulisannya. Ilustrasi berupa gambar yang ditorehkan tinta hitam dan bercak noda tinta kebiruan, mampu mempercantik tampilan halaman buku--yang membuatku betah membaca buku ini. Nah, bagi kamu yang tertarik membaca buku ini, bersiaplah menghadapi gambaran aktivitas berbagi liur dan peluh, atau desahan dan erangan saat menyatu, ya!
Nah, bicara soal perempuan, saya terpaku pada puisi di bawah ini:
𝗣𝗲𝗿𝗲𝗺𝗽𝘂𝗮𝗻, 𝗝𝗶𝗸𝗮 𝗜𝘁𝘂𝗹𝗮𝗵 𝗡𝗮𝗺𝗮𝗺𝘂...
Pernah kau katakan Jangan distorsikan nilai sakral perempuan dan perkawinan Sebatas vagina dan keperawanan
Tapi aku juga, katamu berulang-ulang mengingatkan Tak mau diajak berdebat kusir soal keperawanan Tak ingin kumencari mencuri perhatian
Sebagaimana pakaian yang kukenakan Jika kau nilai semata fesyen Maknanya telah kaudangkalkan
Segala yang kulalui dan telah kulalui Adalah wilayah privasi Kedaulatan diri yang mesti kau hormati
Mulia pribadi tak kuharap dari cap pemberian orang-orang Aku bukan pejuang juga tak hendak jadi pecundang Garisku tegas: diriku wilayah pribadiku seorang
Tak seorang pun boleh masuk tanpa mauku Meski sebatas kata apalagi laku Ini aku, mauku, bukan ikuti maumu
Kau terima sikapku Atau langkah menjauhlah dariku Di dalam cinta, ada tawaran, ada kesepakatan, inilah aku!
--
Jujur saja, membaca puisi ini mengingatkanku akan pesan yang kerap didengungkan di telinga anak gadis: "Kehilangan kegadisan (tanpa ikatan pernikahan) adalah sebuah aib." Aku kerap mempertanyakan soal: 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘳𝘫𝘢𝘬𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬𝘢𝘯--𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘱𝘳𝘦𝘴𝘵𝘢𝘴𝘪?
Melalui puisi ini, saya menangkap pesan penulis bahwa menjadi seorang perempuan itu harus mampu memberi batasan atas apa yang boleh/tidak dilakukan oleh orang lain pada dirinya. Tak seorang pun berhak mendikte apa yang harus dilakukan seorang perempuan atas dirinya sendiri. Hanya dialah satu-satunya orang yang bisa memastikan mau atau lakunya--tidak disetir orang lain.
Melalui puisi ini, saya berharap perempuan di luar sana tahu betul batasan yang perlu dibuat bagi dirinya, sekaligus cara mempertahankannya. Melalui puisi ini, saya juga berharap perempuan-perempuan yang tengah terjebak dalam 𝘵𝘰𝘹𝘪𝘤 𝘳𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯𝘴𝘩𝘪𝘱 dapat segera menyadari situasi yang sedang terjadi dan memiliki kekuatan untuk melepaskan diri.
Kalau bukan kita (perempuan), lalu siapa lagi yang akan menjaga diri ini?
--
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini membuatku terkesan karena isinya sangat memukau, menghadirkan suasana yang sedun sedan sekaligus menyenangkan.
Buku berisi kumpulan puisi ringan ini dibagi menjadi lima bagian dengan epilog dibagian akhirnya. Setiap bagian ditulis secara berkesinambungan dengan mengangkat cerita cinta yang dialami oleh kebanyakan orang.
Puisi-puisi di dalamnya ditulis dengan amat menawan. Rangkaian kata pada setiap baitnya ditulis dengan indah sehingga pembaca dibuat jatuh cinta ketika menikmatinya. Pemilihan kata yang tidak berlebihan menciptakan diksi yang mengesankan. Sederhana namun memuaskan. Selain itu, hadirnya karikatur pada setiap lembar puisi mampu menambahkan kesan dramatis yang menggambarkan isi dari setiap puisi yang ada.
Buku ini mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya. Bukan sekedar kisah cinta antara pria dan wanita, tapi lebih dari itu. Sebagai insan manusia, kita layak merasakan cinta dan kita harus mampu menciptakan rasa cinta itu sendiri. Dalam buku ini pun aku belajar bahwa cinta bukanlah sebuah rasa yang terus menorehkan rasa bahagia tapi cinta mengajarkan kita juga perihnya luka. Karena itu adalah arti cinta yang sesungguhnya.